Pendahuluan
Di antara cabang-cabang kelompok
Ajaridah dalam Khawarij terdapat golongan Syu'aibiyah, yang
kemunculannya berawal dari sebuah perdebatan mengenai hubungan antara kehendak
Allah (masyi'ah) dan perbuatan manusia. Perselisihan tersebut kemudian
berkembang menjadi perpecahan internal yang melahirkan kelompok-kelompok baru.
Imam Ṭāhir al-Isfarāyinī mencatat kisah ini sebagai salah satu contoh bagaimana
perbedaan dalam persoalan teologis dapat memecah sebuah aliran menjadi beberapa
sekte.
Sumber
Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an
al-Firaq al-Hālikīn
Penulis
Imam Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad
bin Muḥammad al-Isfarāyinī (w. 471
H)
Tema
Sejarah munculnya kelompok
Syu'aibiyah dan perpecahan Ajaridah dalam persoalan kehendak Allah (masyi'ah)
menurut kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.
Terjemahan Lengkap
Di antara mereka terdapat kelompok Syu'aibiyah.
Sebab munculnya kelompok ini adalah karena pemimpinnya pernah berselisih dengan
seorang Khawarij bernama Maimun.
Maimun memiliki piutang kepada
Syu'aib. Ketika ia menagihnya, Syu'aib menjawab, "Aku akan membayarnya,
insya Allah."
Maimun berkata, "Sekarang Allah
sudah menghendaki hal itu. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah telah
memerintahkannya?"
Syu'aib menjawab, "Seandainya
Allah benar-benar menghendakinya, tentu aku tidak akan mampu menentang
kehendak-Nya."
Karena peristiwa itulah terjadi
perselisihan di kalangan Ajaridah mengenai persoalan kehendak Allah (masyi'ah).
Mereka kemudian mengirimkan kisah
tersebut kepada Abdul Karim bin Ajrad, yang ketika itu sedang dipenjara
oleh penguasa.
Dalam balasannya ia menulis:
"Kami berpendapat bahwa apa
yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan
terjadi. Kami tidak menisbatkan keburukan kepada Allah."
Maimun berkata, "Barang siapa
mengatakan bahwa Allah tidak menghendaki agar aku menerima hakku, berarti ia
telah menisbatkan keburukan kepada Allah."
Syu'aib berkata, "Justru
jawaban itu sesuai dengan pendapatku. Bukankah ia mengatakan, 'Apa yang tidak
Allah kehendaki tidak akan terjadi'?"
Akhirnya kelompok Khazimiyah
mengikuti pendapat Syu'aib, sedangkan kelompok Hamziyah mengikuti
pendapat Maimun yang berpaham Qadariyah.
Penulis juga menyebutkan bahwa
Maimun membolehkan pernikahan dengan anak perempuan dari cucu laki-laki maupun
cucu perempuan. Menurut penulis, pendapat tersebut bertentangan dengan ijmak
kaum Muslimin dan merupakan tambahan kekufuran di samping pandangannya tentang
Qadariyah.
Artikel Pengembangan
Kisah ini memperlihatkan bahwa
perpecahan dalam sejarah aliran Islam terkadang berawal dari persoalan yang
tampak sederhana, tetapi berkembang menjadi perdebatan teologis yang luas.
Dalam hal ini, persoalan mengenai hubungan antara kehendak Allah dan perbuatan
manusia menjadi titik awal lahirnya kelompok Syu'aibiyah.
Perdebatan antara Syu'aib dan Maimun
berpusat pada bagaimana memahami kalimat insya Allah serta hubungan
antara perintah Allah, kehendak-Nya, dan tindakan manusia. Dari perdebatan
tersebut kemudian muncul dua kecenderungan pemikiran yang berbeda sehingga
memecah kelompok Ajaridah menjadi beberapa cabang.
Menurut penulis kitab, Khazimiyah
menerima penjelasan Syu'aib yang dianggap selaras dengan jawaban Abdul Karim
bin Ajrad. Sementara itu, Hamziyah memilih mengikuti pandangan Maimun yang
dikaitkan dengan paham Qadariyah mengenai kehendak dan perbuatan manusia.
Selain itu, penulis juga menambahkan
kritik terhadap salah satu pendapat fikih yang dinisbatkan kepada Maimun, yaitu
kebolehan menikahi keturunan tertentu yang menurut penulis bertentangan dengan
ijmak ulama. Dalam perspektif kitab ini, pandangan tersebut dipandang sebagai
penyimpangan tambahan di samping persoalan akidah yang telah lebih dahulu
diperdebatkan.
Secara historis, pembahasan seperti
ini memberikan gambaran bagaimana kitab-kitab klasik al-milal wa an-niḥal
mendokumentasikan lahirnya berbagai sekte beserta argumentasi dan kritik yang
berkembang pada zamannya.
Hikmah
- Perselisihan dalam persoalan akidah dapat melahirkan
perpecahan yang semakin luas apabila tidak diselesaikan dengan ilmu dan
kebijaksanaan.
- Memahami hubungan antara kehendak Allah dan ikhtiar
manusia memerlukan landasan ilmu yang kuat agar tidak terjerumus kepada
pemahaman yang menyimpang.
- Sejarah menunjukkan bahwa banyak sekte lahir dari
perbedaan penafsiran terhadap persoalan teologis yang mendasar.
- Kajian terhadap kitab-kitab klasik hendaknya dipahami
dalam konteks sejarah dan sebagai bagian dari studi sejarah pemikiran
Islam.
Penutup
Kelompok Syu'aibiyah
merupakan salah satu cabang Ajaridah yang lahir akibat perdebatan mengenai
konsep kehendak Allah (masyi'ah). Dari perselisihan tersebut muncul
cabang-cabang lain seperti Khazimiyah dan Hamziyah dengan
kecenderungan teologis yang berbeda. Catatan Imam Ṭāhir al-Isfarāyinī ini
menjadi salah satu dokumentasi penting mengenai dinamika perpecahan dalam
kelompok Khawarij serta perkembangan pemikiran teologi Islam pada masa awal.
Teks Arab :
وَمِنْهُم الشعيبية وَكَانَ سَبَب ظُهُورهمْ أَن زعيمهم
نَازع رجلا من الْخَوَارِج يُقَال لَهُ مَيْمُون وَكَانَ لَهُ على شُعَيْب مَال
فطالب بِهِ شعيبا فَقَالَ شُعَيْب أؤديه إِن شَاءَ الله تَعَالَى فَقَالَ مَيْمُون
الْآن شَاءَ الله ذَلِك أَلا ترَاهُ قد أَمر بِهِ فَقَالَ شُعَيْب لَو كَانَ الله
شَاءَ لم أقدر على مُخَالفَته فَظهر بِسَبَب ذَلِك الْخلاف بَين العجاردة فِي
مَسْأَلَة الْمَشِيئَة فَكَتَبُوا هَذِه الْقِصَّة إِلَى عبد الْكَرِيم بن عجرد
وَهُوَ مَحْبُوس فِي حبس السُّلْطَان فَكتب فِي جَوَابه نَحن نقُول مَا شَاءَ الله
كَانَ وَمَا لم يَشَأْ لم يكن وَلَا نلحق بِهِ سوءا وَقَالَ مَيْمُون من قَالَ
أَنه لم يرد أَن يُؤَدِّي إِلَى حَقي فقد الْحق بِهِ سوءا وَقَالَ شُعَيْب بل
وَافقنِي فِي الْجَواب أَلا ترَاهُ يَقُول وَمَا لم يَشَأْ لم يكن وَرجع الخازمية
إِلَى قَول شُعَيْب والحمزية مِنْهُم إِلَى قَول مَيْمُون القدري وَهُوَ الَّذِي
يجوز نِكَاح بَنَات الْبَنِينَ وَبَنَات الْبَنَات وَهَذَا خلاف إِجْمَاع
الْمُسلمين وَهَذَا مِنْهُ كفر زَاده على قَوْله بِالْقدرِ
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Al-Khalfiyyah: Kelompok Khawarij yang Kembali kepada
Ahlus Sunnah tetapi Tetap Meyakini Anak-anak Lawan Mereka Masuk Neraka

.jpg)
0 Komentar