Pendahuluan
Nasihat kepada penguasa dalam
tradisi ulama salaf tidak selalu disampaikan dengan kata-kata yang panjang.
Terkadang beberapa kalimat yang tegas justru mampu menggugah hati seorang
pemimpin.
Dalam bagian ini, Imam al-Ghazali
mengutip kisah Malik bin Dinar ketika memasuki kediaman penguasa Basrah.
Ia mengingatkan penguasa tentang bahaya ketamakan terhadap harta rakyat serta
buruknya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Malik bin Dinar menggambarkan rakyat
sebagai amanah yang diserahkan kepada seorang pemimpin seperti kawanan domba
kepada seorang penggembala. Penguasa seharusnya menjaga, bukan mengambil
manfaat secara zalim hingga rakyat kehilangan hak-haknya.
Bagian berikutnya menampilkan Umar
bin Abdul Aziz bersama Sulaiman bin Abdul Malik. Suara guruh menjadi
pengingat tentang rahmat Allah sekaligus kedahsyatan azab-Nya. Ketika Sulaiman
melihat banyaknya manusia, Umar mengingatkannya bahwa mereka pada akhirnya
dapat menjadi pihak yang menuntut pertanggungjawaban seorang penguasa.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din (إحياء
علوم الدين), Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين
الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم
Penulis
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H
Teks Arab
ودخل مالك بن دينار على أمير البصرة
فقال أيها الأمير قرأت في بعض الكتب إن الله تعالى يقول ما أحمق من سلطان وما أجهل
ممن عصاني ومن اعز ممن اعتز بي أيها الراعي السوء دفعت إليك غنماً سماناً صحاحاً
فأكلت اللحم ولبست الصوف وتركها عظاماً تتقعقع فقال له والي البصرة أندري ما الذي
يجرئك علينا ويجنبنا عنك قال لا قال قلة الطمع فينا وترك الإمساك لما في أيدينا
وكان عمر بن عبد العزيز واقفاً مع
سليمان ابن عبد الملك فسمع سليمان صوت الرعد فجزع ووضع صدره على مقدمة لرحل فقال
له عمر هذا صوت رحمته فكيف إذا سمعت صوت عذابه ثم نظر سليمان إلى الناس فقال ما
أكثر الناس فقال عمر خصماؤك يا أمير المؤمنين فقال له سليمان ابتلاك الله بهم
Terjemahan Lengkap
Malik bin Dinar memasuki tempat Amir
Basrah. Ia berkata:
“Wahai Amir, aku membaca dalam
sebagian kitab bahwa Allah Ta'ala berfirman:
‘Tidak ada yang lebih bodoh daripada
seorang penguasa, tidak ada yang lebih tidak berpengetahuan daripada orang yang
durhaka kepada-Ku, dan tidak ada yang lebih mulia daripada orang yang
memuliakan dirinya dengan bersandar kepada-Ku.’
Wahai penggembala yang buruk!
Diserahkan kepadamu domba-domba yang gemuk dan sehat. Namun engkau memakan
dagingnya, mengenakan bulunya, lalu meninggalkannya dalam keadaan hanya tersisa
tulang-belulang yang bergemeretak.”
Penguasa Basrah itu kemudian berkata
kepada Malik bin Dinar:
“Apakah engkau tahu apa yang
membuatmu berani berbicara kepada kami dan membuat kami menjauhkanmu dari
kami?”
Malik menjawab, “Tidak.”
Ia berkata:
“Karena sedikitnya ketamakanmu
terhadap apa yang ada pada kami dan karena engkau tidak berusaha mengambil apa
yang berada di tangan kami.”
Kemudian Umar bin Abdul Aziz
sedang berdiri bersama Sulaiman bin Abdul Malik. Sulaiman mendengar
suara guruh. Ia merasa takut dan meletakkan dadanya di bagian depan pelana.
Umar berkata kepadanya:
“Ini adalah suara rahmat-Nya. Lalu
bagaimana jika engkau mendengar suara azab-Nya?”
Kemudian Sulaiman memandang
orang-orang dan berkata:
“Betapa banyaknya manusia!”
Umar menjawab:
“Mereka adalah orang-orang yang akan
menjadi pihak yang menuntutmu, wahai Amirul Mukminin.”
Sulaiman kemudian berkata kepada
Umar:
“Semoga Allah mengujimu dengan
mereka.”
Artikel Pengembangan
1.
Keberanian ulama lahir dari tidak tamak kepada penguasa
Salah satu pesan utama dari kisah
Malik bin Dinar adalah bahwa ketidakbergantungan kepada harta penguasa dapat
melahirkan keberanian untuk berbicara benar.
Ketika seseorang tidak mengharapkan
pemberian, jabatan, hadiah, atau keuntungan dari penguasa, ia lebih mudah
menyampaikan nasihat tanpa takut kehilangan kepentingan duniawi.
Sebaliknya, ketamakan dapat membuat
seseorang kehilangan kebebasan moral. Ia mungkin mengetahui kesalahan penguasa,
tetapi memilih diam karena khawatir pemberian atau kedudukannya terputus.
Karena itu, Malik bin Dinar
menjelaskan bahwa yang membuatnya berani adalah:
قلة
الطمع فينا
“Sedikitnya ketamakanmu terhadap apa
yang ada pada kami.”
2.
Penguasa sebagai penggembala
Perumpamaan Malik bin Dinar sangat
kuat:
أيها
الراعي السوء
“Wahai penggembala yang buruk!”
Rakyat diumpamakan seperti domba
yang diserahkan kepada seorang penggembala. Tugas penggembala adalah menjaga,
memberi makan, melindungi, dan mengurus kawanan yang dipercayakan kepadanya.
Apabila penggembala justru memakan dagingnya,
mengambil bulunya, dan membiarkannya sampai hanya tersisa tulang, maka ia telah
mengkhianati amanah.
Demikian pula seorang pemimpin.
Jabatan bukan izin untuk mengeksploitasi masyarakat. Kekuasaan adalah amanah
yang harus digunakan untuk menjaga kepentingan rakyat.
3.
Harta rakyat bukan milik pribadi penguasa
Kisah tersebut juga memberikan
peringatan tentang hubungan antara kekuasaan dan harta.
Seorang penguasa mungkin memiliki
akses yang luas terhadap kekayaan negara atau harta masyarakat. Namun akses
terhadap harta tidak otomatis menjadikannya sebagai pemilik mutlak.
Ia harus membedakan antara:
- harta pribadi;
- harta publik;
- hak masyarakat;
- harta yang dipercayakan kepadanya;
- dan harta yang harus disalurkan kepada pihak yang
berhak.
Penyalahgunaan kekuasaan untuk
mengambil harta yang bukan haknya merupakan bentuk pengkhianatan terhadap
amanah.
4.
Sedikit berharap kepada manusia memperkuat keteguhan hati
Kisah Malik bin Dinar mengajarkan
prinsip akhlak yang luas: semakin kecil ketergantungan seseorang kepada
pemberian manusia, semakin besar peluangnya untuk mempertahankan prinsip.
Orang yang menggantungkan hidupnya
kepada pujian, hadiah, jabatan, atau bantuan penguasa akan lebih mudah merasa
takut kehilangan semua itu.
Sebaliknya, orang yang mencukupkan
dirinya dengan apa yang halal dan tidak menjadikan penguasa sebagai sumber
utama kehormatan akan lebih bebas menyampaikan kebenaran.
5.
Suara guruh menjadi pengingat bagi penguasa
Kisah Umar bin Abdul Aziz memberikan
dimensi spiritual yang sangat kuat.
Ketika Sulaiman bin Abdul Malik
ketakutan mendengar suara guruh, Umar mengingatkannya:
هذا
صوت رحمته فكيف إذا سمعت صوت عذابه
“Ini adalah suara rahmat-Nya.
Bagaimana jika engkau mendengar suara azab-Nya?”
Guruh menjadi sarana untuk
mengingatkan manusia kepada kebesaran Allah. Bagi seorang penguasa, peristiwa
alam tersebut juga dapat menjadi momentum untuk mengingat bahwa kekuasaan
manusia sangat kecil dibandingkan kekuasaan Allah.
6.
Banyaknya rakyat berarti banyak pula tanggung jawab
Ketika Sulaiman melihat banyaknya
manusia dan mengatakan:
ما
أكثر الناس
“Betapa banyaknya manusia!”
Umar menjawab:
خصماؤك
يا أمير المؤمنين
“Mereka adalah orang-orang yang akan
menjadi pihak yang menuntutmu, wahai Amirul Mukminin.”
Maksudnya, banyaknya rakyat di bawah
kekuasaan seorang pemimpin juga berarti semakin banyak amanah yang harus
dipertanggungjawabkan.
Jika hak mereka dijaga, banyaknya
rakyat menjadi ladang pahala. Namun jika mereka dizalimi, jumlah tersebut juga
menunjukkan besarnya potensi pertanggungjawaban.
7.
Kekuasaan harus dipandang sebagai amanah, bukan keistimewaan
Dua kisah dalam bagian ini memiliki
satu kesamaan.
Malik bin Dinar mengingatkan
penguasa tentang amanah rakyat dan bahaya mengambil harta mereka.
Umar bin Abdul Aziz mengingatkan
penguasa tentang pertanggungjawaban di akhirat atas manusia yang berada di
bawah kekuasaannya.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan
seorang pemimpin bukan hanya luasnya wilayah, banyaknya harta, atau banyaknya
rakyat yang berada di bawah perintahnya. Ukuran yang lebih penting adalah
apakah kekuasaan tersebut digunakan dengan adil dan amanah.
Contoh
Contoh
1: Pejabat yang tidak mengambil keuntungan dari jabatannya
Seorang pejabat mempunyai kewenangan
mengelola anggaran publik. Ia memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan
pribadi, tetapi menolak karena menyadari bahwa anggaran tersebut merupakan
amanah masyarakat.
Sikap ini sesuai dengan semangat
nasihat Malik bin Dinar: penguasa tidak boleh menjadikan rakyat sebagai
sumber keuntungan pribadi.
Contoh
2: Tidak takut kehilangan pemberian
Seorang ulama memperoleh bantuan
dari seorang pejabat. Namun ketika pejabat tersebut melakukan kesalahan, ulama
itu tetap menyampaikan nasihat dengan sopan.
Ia tidak mengubah kebenaran hanya
karena khawatir bantuan tersebut dihentikan.
Ini merupakan bentuk praktis dari قلة الطمع—tidak berlebihan dalam mengharapkan
pemberian manusia.
Contoh
3: Melihat jabatan sebagai amanah
Seorang kepala daerah memiliki
banyak masyarakat di bawah tanggung jawabnya. Ia tidak memandang mereka hanya
sebagai angka dalam laporan, tetapi sebagai manusia yang memiliki hak.
Ia memastikan pelayanan publik
berjalan, bantuan diberikan kepada yang berhak, dan kekuasaan tidak digunakan
untuk kepentingan pribadi.
Contoh
4: Mengingat pertanggungjawaban akhirat
Seorang pemimpin melihat jumlah
masyarakat yang berada di bawah tanggung jawabnya. Alih-alih merasa bangga
karena memiliki banyak pengikut, ia menjadikannya sebagai pengingat:
Semakin banyak orang yang berada di
bawah kepemimpinanku, semakin banyak pula amanah yang harus aku
pertanggungjawabkan.
Penutup
Kisah Malik bin Dinar dan Umar bin
Abdul Aziz memperlihatkan dua bentuk nasihat penting kepada penguasa: menjaga
amanah harta dan mengingat pertanggungjawaban akhirat.
Malik bin Dinar berani berbicara
karena ia tidak tamak terhadap harta penguasa. Ketidakbergantungan kepada
pemberian manusia membuat seseorang lebih kuat dalam menyampaikan kebenaran.
Sementara itu, Umar bin Abdul Aziz
mengajarkan bahwa banyaknya rakyat bukan sekadar simbol kebesaran seorang
pemimpin. Mereka adalah amanah yang kelak dapat menjadi pihak yang menuntut
pertanggungjawaban apabila hak-hak mereka diabaikan.
Pelajaran utamanya adalah bahwa kekuasaan
seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah, bukan semakin berani
berbuat zalim. Pemimpin yang memahami hakikat amanah akan melihat harta
publik sebagai tanggung jawab, rakyat sebagai amanah, dan jabatan sebagai
sesuatu yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Nasihat Thawus kepadaKhalifah Hisyam bin Abdul Malik: Keberanian Ulama di Hadapan Penguasa


0 Komentar