Pendahuluan
Di antara seluruh bentuk perpisahan
yang dialami manusia, kematian adalah yang paling berat. Jika perpisahan biasa
masih menyisakan harapan untuk bertemu kembali, maka kematian memutus segala
kemungkinan itu di dunia. Karena itulah para pecinta sepanjang zaman menganggap
kematian sebagai puncak musibah yang dapat menimpa hati.
Dalam bagian ini, Imam Ibnu Hazm
berbicara bukan sekadar sebagai pengamat cinta, melainkan sebagai orang yang
pernah merasakan sendiri kehilangan orang yang paling dicintainya. Uraian
beliau menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam Thauqul Hamamah,
karena lahir dari pengalaman nyata yang membekas sepanjang hidupnya.
Sumber : Kitab Thauqul Hamamah fi al-Ulfah wa al-Ullaf
Penulis : Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (384–456 H)
Tema : Perpisahan Karena Kematian: Musibah Terbesar dalam Cinta dan
Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Waktu
Terjemahan Lengkap
Perpisahan
Karena Kematian
Kemudian ada perpisahan karena
kematian, yaitu kehilangan yang sesungguhnya.
Inilah perpisahan yang tidak lagi
diharapkan adanya kepulangan.
Inilah musibah yang nyata.
Inilah pematah punggung kehidupan
dan bencana zaman.
Ia adalah kesedihan besar yang
menutupi kegelapan malam.
Ia memutus seluruh harapan,
menghapus semua angan-angan, dan membuat manusia putus asa untuk bertemu
kembali.
Di sinilah lidah menjadi kelu.
Segala jalan pengobatan terputus.
Tidak ada cara selain bersabar, baik
dengan kerelaan maupun dengan keterpaksaan.
Inilah ujian terbesar yang menimpa
para pecinta.
Siapa yang tertimpa musibah ini
tidak memiliki jalan lain selain menangis dan meratap hingga hatinya hancur
atau sampai waktu membuatnya lelah menangis.
Ia adalah luka yang tidak pernah
sembuh.
Rasa sakit yang tidak pernah
benar-benar hilang.
Kesedihan yang terus diperbarui
setiap kali teringat orang yang telah berbaring di bawah tanah.
Aku pernah berkata:
Syair
Setiap perpisahan masih menyisakan
harapan.
Selama yang pergi belum mati,
janganlah cepat berputus asa.
Namun bila kematian telah datang,
Maka harapan itu benar-benar telah
berakhir.
Pengalaman
Pribadi Ibnu Hazm
Aku sendiri termasuk orang yang
pernah ditimpa musibah besar ini.
Aku pernah memiliki seorang budak
perempuan yang sangat kucintai bernama Na‘m.
Ia adalah dambaan setiap orang yang
menginginkan keindahan.
Akhlaknya mulia.
Wajahnya indah.
Perasaannya sangat sesuai denganku.
Aku adalah orang pertama yang
memilikinya.
Cinta kami saling berbalas.
Namun takdir merenggutnya dariku.
Hari-hari berlalu dan kematian
membawanya pergi.
Ia menjadi penghuni tanah dan batu
nisan.
Saat ia wafat, usiaku belum mencapai
dua puluh tahun.
Sedangkan usianya lebih muda dariku.
Selama tujuh bulan setelah
kematiannya aku hampir tidak pernah melepas pakaianku karena duka yang
mendalam.
Air mataku terus mengalir.
Sampai hari ini, demi Allah, aku
tidak pernah benar-benar melupakannya.
Seandainya kematian menerima
tebusan, niscaya akan kutebus dirinya dengan seluruh hartaku.
Bahkan dengan sebagian anggota
tubuhku yang paling berharga bagiku.
Sejak kepergiannya hidupku tidak
lagi terasa indah.
Aku tidak pernah melupakannya.
Aku tidak menemukan pengganti yang
dapat menghapus kenangannya.
Bahkan cintaku kepadanya mengalahkan
seluruh cinta yang pernah ada sebelumnya dan menghalangi cinta yang datang
sesudahnya.
Tentang dirinya aku berkata:
Syair
Putih berseri dan anggun laksana
matahari ketika muncul.
Sedangkan seluruh wanita lain
hanyalah bintang-bintang di sekitarnya.
Cintanya menerbangkan hatiku dari
tempatnya.
Sehingga setelah jatuh pun ia masih
terus berputar di angkasa kerinduan.
Dalam ratapanku untuknya aku
berkata:
Syair
Seakan aku belum pernah mendengar
kata-katamu.
Yang dahulu memikat akal dan mengikat
hati.
Seakan aku belum pernah bermain
dengan angan-angan.
Padahal aku dahulu tenggelam di
dalamnya.
Dan aku berkata kepada sepupuku Abu
al-Mughirah:
Syair
Berhentilah dan tanyakan kepada
bekas-bekas rumah itu, ke mana para penghuninya pergi.
Aku melewati tempat-tempat yang
telah hancur dimakan waktu.
Bangunan-bangunan yang telah kosong
dan sunyi.
Seakan tempat tinggal itu telah
berubah menjadi sekadar kenangan.
Mana
yang Lebih Berat: Perpisahan atau Pengabaian?
Manusia berbeda pendapat mengenai
mana yang lebih menyakitkan: perpisahan atau pengabaian.
Keduanya adalah ujian yang berat.
Keduanya seperti kematian yang
berwarna merah dan bencana yang hitam kelam.
Namun setiap orang menilai sesuai
dengan tabiatnya.
Orang yang setia, teguh memegang
janji, dan berhati lembut biasanya menganggap perpisahan lebih berat.
Karena perpisahan datang secara
nyata dan tidak dapat dihindari.
Segala sesuatu yang dilihatnya akan
mengingatkannya kepada orang yang dicintainya.
Setiap kenangan menjadi bahan bakar
kerinduan.
Setiap tempat menjadi sumber
kesedihan.
Sedangkan pengabaian terkadang
justru menjadi jalan menuju lupa.
Sebaliknya, orang yang mudah berubah
dan gelisah menganggap pengabaian lebih menyakitkan.
Karena selama masih ada harapan
bertemu, ia tetap tersiksa oleh sikap dingin dan penolakan.
Adapun jarak dan perpisahan dapat
menjadi pelipur lara yang perlahan menghapus kenangan.
Sedangkan aku sendiri, kata Ibnu
Hazm, menganggap kematian lebih ringan daripada perpisahan.
Karena pengabaian yang
berkepanjangan hanya akan mendatangkan kesedihan demi kesedihan.
Aku berkata:
Syair
Mereka berkata: Pergilah, mungkin
engkau akan melupakan.
Dan mungkin engkau akan menyukai
kelupaan itu.
Aku menjawab: Kematian lebih ringan
bagiku daripada melupakan.
Siapakah yang rela meminum racun
hanya untuk mencobanya?
Dan aku berkata:
Syair
Cintanya telah menawan jiwaku.
Dan perpisahannya menghancurkannya.
Seakan cinta adalah seorang tamu.
Sedangkan ruhku menjadi jamuan
baginya.
Artikel Pengembangan
Kematian Adalah Perpisahan yang Paling Mutlak
Semua bentuk perpisahan masih
menyisakan kemungkinan untuk bertemu kembali.
Namun kematian memutus seluruh
harapan duniawi.
Karena itu manusia sering lebih
mudah menerima jarak daripada menerima kematian.
Jarak masih memungkinkan surat,
pesan, dan pertemuan.
Kematian hanya menyisakan kenangan
dan doa.
Mengapa Kenangan Orang Tercinta Sulit Hilang?
Secara psikologis, kehilangan
seseorang yang dicintai meninggalkan jejak emosional yang sangat dalam.
Semakin kuat keterikatan emosional,
semakin kuat pula ingatan yang tersimpan.
Karena itu tidak mengherankan jika
Ibnu Hazm mengaku tidak pernah melupakan kekasihnya meskipun waktu terus
berjalan.
Kesetiaan Setelah Kematian
Dalam pandangan Islam, cinta tidak
berakhir dengan kematian.
Doa, amal jariyah, dan kenangan baik
merupakan bentuk kesetiaan yang tetap hidup.
Karena itu para ulama mengajarkan
agar orang yang ditinggalkan memperbanyak doa dan amal kebaikan bagi orang yang
telah wafat.
Kesabaran sebagai Jalan Satu-Satunya
Ibnu Hazm menegaskan bahwa ketika kematian
datang, seluruh jalan selain kesabaran tertutup.
Kesedihan memang manusiawi.
Tangisan pun wajar.
Namun akhirnya hati harus kembali
kepada ketentuan Allah dan menerima bahwa setiap yang hidup pasti akan kembali
kepada-Nya.
Hikmah
- Kematian adalah bentuk perpisahan yang paling berat.
- Semua perpisahan masih menyisakan harapan kecuali
kematian.
- Cinta yang tulus tidak mudah hilang meskipun waktu
berlalu.
- Kenangan terhadap orang tercinta dapat bertahan
sepanjang hidup.
- Kesabaran adalah obat utama saat menghadapi kehilangan.
- Kesedihan karena kehilangan merupakan fitrah manusia.
- Kesetiaan sejati tetap hidup meskipun orang yang
dicintai telah wafat.
- Doa adalah hadiah terbaik bagi orang yang telah
meninggal.
- Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.
- Setiap pertemuan pada akhirnya akan menuju perpisahan.
Penutup
Dalam bagian yang sangat mengharukan
ini, Ibnu Hazm membuka lembaran terdalam kehidupannya. Ia tidak lagi berbicara
sebagai seorang ulama atau sastrawan, melainkan sebagai manusia yang pernah
kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Pengakuannya menunjukkan bahwa
cinta sejati meninggalkan bekas yang panjang dalam hati manusia.
Namun di balik seluruh kesedihan
itu, terdapat pelajaran besar bahwa kehidupan dunia memang dibangun di atas
pertemuan dan perpisahan. Tidak ada kebersamaan yang abadi kecuali di sisi
Allah. Karena itu, orang yang beriman menjadikan kehilangan sebagai jalan
menuju kesabaran, menjadikan kenangan sebagai doa, dan menjadikan cinta sebagai
alasan untuk berharap bertemu kembali di negeri yang tidak mengenal perpisahan
lagi.
Referensi:
٦ - ثم بين
الموت وهو الفوت، وهو الذي لا يرجى له إياب، وهو المصيبة الحالة، وهو قاصمة الظهر
وداهية الدهر، وهو الويل، وهو المغطي على ظلمة الليل، وهو قاطع كل رجاء وماحي كل
طمع والمؤيس من اللقاء.
وهنا حارت الألسن، وانجذم حبل
العلاج، فلا حيلة إلا الصبر طوعًا أو كرهًا.
وهو أجل ما يبتلى به المحبون،
فما لمن دهي به إلا النوح والبكاء إلى أن يتلف أو يمل؛ فهو القرحة التي لا تنكا،
والوجع الذي لا يفنى، وهو الغم الذي يتجدد على قدر بلاء من اغتمدته في الثرى وفيه
أقول: [من مشطور المديد] كل بين واقع ... فمرجى لم يفت لا تعجل قنطًا ... لم يفت
من لم يمت والذي قد مات فال ... يأس عنه قد ثبت وقد رأينا من عرض له هذا كثيرًا.
وعني أخبرك أني أحد من دهي
بهذه الفادحة وتعجلت له هذه المصيبة، وذلك أني كنت أشد الناس كلفًا وأعظمهم حبًا
بجارية لي، كانت فيما خلا اسمها نعم.
وكانت أمنية المتمني وغاية
الحسن خلقًا وخلقًا وموافقة لي، وكنت أبا عذرها، وكنا قد تكافأنا المودة، ففجعتني
بها الأقدار، واخترمتها الليالي ومر النهار، وصارت ثالثة التراب والاحجار، وسني
حين وفاتها دون العشرين سنة، وكانت هي دوني في السن، فلقد أقمت بعدها سبعة أشهر لا
أتجرد عن ثيابي ولا تفتر لي دمعة على جمود عيني وقلة إسعادها؛ وعلى ذلك فو الله ما
سلوت حتى الآن، ولو قبل فداء لفديتها بكل ما أملك من تالد وطارف، وببعض أعضاء جسمي
العزيزة علي مسارعا طائعًا، وما طاب لي عيش بعدها، ولا نسيت ذكرها، ولا أنست
بسواها، ولقد عفى حبي لها على كل ما قبله، وحرم ما كان بعده؛ ومما قلت فيها: [من
الطويل] .
مهذبة بيضاء كالشمس إن بدت
... وسائر ربات الحجال نجوم أطار هواها القلب عن مستقره ... فبعد وقوع ظل وهو يحوم
ومن مراثي فيها قصيدة منها: [من الطويل] .
كأني لم آنس بألفاظك التي ...
على عقد الألباب هن نوافث ولم أتحكم في الأماني كأنني ... لإفراط ما حكمت فيهن
عابث ومنها: ويبدي إعراضًا وهن أوالف ... ويقسمن في هجري وهن حوانث وأقول أيضًا في
قصيدة أخاطب فيها ابن عمي أبا المغيرة عبد الوهاب بن أحمد بن عبد الرحمن بن حزم بن
غالب، وأقرضه فأقول: [من الطويل] .
قفا فاسألا الأطلال أين
قطينها ... أمرت عليها بالبلى الملون على دارسات مقفرات عواطل ... كأن المغاني في
الخفاء معاني واختلف الناس في أي الأمرين أشد: البين أم الهجر وكلاهما مرتقى صعب
وموت أحمر وبلية سوداء وسنة شهباء، وكل يستبشع من هذين ما ضاد طبعه: فأما ذو النفس
الأبية الأنوف، الحنانة الألوف الثابتة على العهد، فلا شيء يعدل عنده مصيبة البين،
لأنه أتى قصدًا، وتعمدته النوائب عمدًا، فلا يجد شيئًا يسلي نفسه؛ ولا يصرف فكرته
في معنى من المعاني إلا وجد باعثًا على صبابته ومحركًا لأشجانه، وعلة لألمه، وحجة
لوجده وحاضًا على البكاء على إلفه.
وأما الهجر فهو داعية السلو
ورائد الإقلاع.
وأما ذو النفس التواقة
الكثيرة النزوع والتطلع القلوق العزوف فالهجر داؤه وجالب حتفه، والبين له مسلاة
ومنساة.
وأما أنا فالموت عندي أسهل من
الفراق، وما الهجر إلا جالب للكمد فقط، ويوشك إن دام أن يحدث إيغارًا، وفي ذلك
أقول: [من المتقارب] .
وقالوا ارتحل فلعل السلو ...
يكون وترغب أن ترغبه فقلت الردى لي قبل السلو ... ومن يشرب السم عن تجربه وأقول
[المتقارب] سبى مهجتي هواه ... وأودت بها نواه كأن الغرام ضيف ... وروحي غدا قراه
Baca juga:
Perpisahan MengungkapRahasia Cinta: Ketika Hati yang Tersembunyi Akhirnya Berbicara
Hari Perpisahan: Saat Terberat dalam Cinta Menurut Ibnu Hazm Al-Andalusi
Mana Lebih Menyakitkan: Perpisahan atau Pengabaian? Jawaban Menyentuh
dari Ibnu Hazm


0 Komentar