Pendahuluan
Manusia mengenal banyak bentuk
cinta. Ada cinta kepada Allah, cinta kepada orang tua, cinta kepada anak, cinta
kepada sahabat, dan cinta kepada pasangan. Sekilas semua itu tampak berbeda,
bahkan seolah-olah berasal dari sumber yang berlainan.
Namun Imam Ibnu Hazm mengemukakan
pandangan yang sangat menarik. Menurut beliau, semua cinta pada dasarnya
berasal dari satu hakikat yang sama. Yang membedakan hanyalah tujuan, harapan,
serta pengaruh lingkungan dan keyakinan yang membentuk arah cinta tersebut.
Nasihat ini membuka pemahaman
mendalam tentang psikologi manusia dan menunjukkan bagaimana agama serta
kebiasaan dapat memengaruhi kecenderungan hati.
Sumber Nasihat
Kitab: الأخلاق
والسير في مداواة النفوس
Penulis : Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi
(384–456 H)
Tema : Hakikat Cinta yang Satu dan Pengaruh Tujuan, Kebiasaan,
serta Keyakinan terhadap Bentuk-Bentuknya
Terjemahan dan Makna
"Dengan demikian, tampak jelas
apa yang telah kami jelaskan, yaitu bahwa cinta seluruhnya merupakan satu jenis
yang sama. Akan tetapi, macam-macamnya berbeda sesuai dengan perbedaan tujuan
yang terdapat di dalamnya.
Jika tidak demikian, maka tabiat
seluruh manusia pada dasarnya sama. Hanya saja kebiasaan dan keyakinan agama
memiliki pengaruh yang nyata."
Pengembangan
Semua Cinta Berasal dari Satu Hakikat
Ibnu Hazm menegaskan bahwa cinta
bukanlah kumpulan perasaan yang berbeda-beda secara hakikat. Semua cinta
memiliki akar yang sama, yaitu kecenderungan hati kepada sesuatu yang dianggap
baik, dicintai, dan diinginkan.
Karena itu, cinta seorang ibu kepada
anaknya, cinta seorang sahabat kepada sahabatnya, dan cinta seorang mukmin
kepada Allah berasal dari unsur dasar yang sama, yaitu keterikatan dan
kecenderungan hati.
Yang berbeda hanyalah bentuk,
tingkat, tujuan, dan arah dari kecenderungan tersebut.
Mengapa Bentuk Cinta Berbeda-Beda?
Menurut Ibnu Hazm, perbedaan itu
muncul karena perbedaan tujuan yang diharapkan dari hubungan tersebut.
Sebagai contoh:
- Cinta kepada Allah bertujuan mencari ridha dan
kedekatan dengan-Nya.
- Cinta kepada orang tua lahir dari hubungan darah,
penghormatan, dan kasih sayang.
- Cinta kepada sahabat lahir dari kesamaan nilai dan
kebersamaan.
- Cinta kepada pasangan mengandung unsur ketertarikan,
kebersamaan hidup, dan hubungan suami istri.
Meskipun bentuknya berbeda, semuanya
tetap termasuk dalam satu hakikat cinta.
Tabiat Dasar Manusia Sama
Salah satu poin penting dalam
nasihat ini adalah pernyataan bahwa tabiat dasar manusia pada hakikatnya sama.
Manusia memiliki:
- Keinginan untuk dicintai.
- Kebutuhan akan kasih sayang.
- Kecenderungan kepada keindahan.
- Harapan untuk memperoleh kebahagiaan.
Perbedaan yang tampak di antara
manusia sering kali bukan karena perbedaan fitrah, melainkan karena faktor-faktor
yang memengaruhi perkembangan fitrah tersebut.
Pengaruh Kebiasaan terhadap Hati
Kebiasaan memiliki kekuatan besar
dalam membentuk cara berpikir dan merasakan sesuatu.
Seseorang yang sejak kecil
dibesarkan dalam lingkungan penuh kasih sayang akan memandang hubungan sosial
secara berbeda dibandingkan orang yang tumbuh dalam lingkungan keras.
Begitu pula kebiasaan sehari-hari
dapat membentuk arah kecenderungan hati.
Apa yang sering dilihat, didengar,
dan dilakukan akan perlahan memengaruhi cara seseorang mencintai dan menghargai
sesuatu.
Karena itu para ulama sangat
menekankan pentingnya lingkungan yang baik dan kebiasaan yang saleh.
Pengaruh Keyakinan Agama
Ibnu Hazm secara khusus menegaskan
bahwa keyakinan agama mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap cinta
manusia.
Agama menentukan:
- Apa yang boleh dicintai.
- Apa yang harus dijauhi.
- Apa yang dianggap mulia.
- Apa yang dianggap hina.
Seorang mukmin mencintai shalat
karena keyakinannya. Ia mencintai Al-Qur'an karena imannya. Ia mencintai
orang-orang saleh karena agama mengajarkannya demikian.
Sebaliknya, orang yang memiliki
keyakinan berbeda akan memiliki arah kecintaan yang berbeda pula.
Karena itu iman bukan hanya
memengaruhi perilaku, tetapi juga membentuk isi hati.
Pelajaran Besar dalam Pendidikan Jiwa
Nasihat ini memberikan pelajaran
penting bahwa hati manusia dapat diarahkan.
Jika seseorang membiasakan dirinya
mencintai kebaikan, maka hatinya akan semakin dekat kepada kebaikan.
Sebaliknya, jika ia membiasakan
dirinya mengikuti hawa nafsu, maka arah cintanya akan berubah mengikuti
keinginan tersebut.
Inilah sebabnya Islam memerintahkan:
- Memilih teman yang baik.
- Menjaga lingkungan.
- Memperbanyak ibadah.
- Mengingat Allah.
- Menuntut ilmu.
Semua itu bertujuan membentuk
kecenderungan hati yang benar.
Hikmah
- Semua bentuk cinta berasal dari satu hakikat yang sama.
- Perbedaan cinta muncul karena perbedaan tujuan dan
harapan.
- Tabiat dasar manusia pada umumnya sama.
- Kebiasaan memiliki pengaruh besar dalam membentuk
kecenderungan hati.
- Keyakinan agama sangat menentukan arah cinta seseorang.
- Hati dapat dididik dan diarahkan melalui lingkungan
yang baik dan amal saleh.
- Menjaga iman berarti menjaga arah kecintaan dalam
kehidupan.
Penutup
Imam Ibnu Hazm mengajarkan bahwa
cinta bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri tanpa sebab. Hakikatnya satu,
tetapi bentuknya berubah sesuai dengan tujuan, kebiasaan, dan keyakinan yang
memengaruhi manusia.
Karena itu, siapa yang ingin
memperbaiki cintanya, hendaknya memperbaiki keyakinannya, memperbaiki
lingkungannya, dan memperbaiki kebiasaan hidupnya. Sebab hati akan selalu
bergerak menuju apa yang paling sering ia lihat, ia pikirkan, dan ia yakini.
Semoga Allah menjadikan cinta kita
tertuju kepada segala sesuatu yang diridhai-Nya, serta menjaga hati kita dari
kecenderungan yang menjauhkan kita dari jalan kebenaran. Aamiin.
Teks Arab :
فلاح
بِهَذَا عيَانًا مَا ذكرنَا من أَن الْمحبَّة كلهَا جنس وَاحِد لَكِنَّهَا تخْتَلف
أَنْوَاعهَا على قدر اخْتِلَاف الْأَغْرَاض فِيهَا وَإِلَّا فطبائع الْبشر كلهم
وَاحِدَة إِلَّا أَن للْعَادَة والاعتقاد الديني تَأْثِيرا ظَاهرا
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Cinta, Harapan, dan Batas Syariat: Mengapa Hati Cenderungkepada yang Mungkin Diraih?
Ketamakan Adalah Sumber Kegelisahan: Renungan Mendalam
tentang Harta dan Ambisi Menurut Ibnu Hazm


0 Komentar