Khawarij Ajaridah: Sejarah, Keyakinan, dan Munculnya Kelompok Khazimiyah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Pembahasan kelompok Ajaridah dan Khazimiyah dari golongan Khawarij menurut kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn beserta terjemahannya

Pendahuluan

Dalam pembahasan tentang berbagai sekte Khawarij, Imam Ṭāhir bin Muḥammad al-Isfarāyinī menjelaskan munculnya kelompok Ajaridah (Al-'Ajāridah), yaitu pengikut Abdul Karim bin Ajrad. Kelompok ini memiliki sejumlah pandangan yang berbeda dari Khawarij sebelumnya, khususnya mengenai status anak-anak, hukum terhadap harta lawan, serta persoalan takdir (qadar). Dari kelompok ini kemudian lahir beberapa cabang, salah satunya adalah Khazimiyah, yang memiliki pandangan tersendiri dalam masalah akidah.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn

Penulis

Imam Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad bin Muḥammad al-Isfarāyinī (w. 471 H)

Tema

Pembahasan mengenai kelompok Ajaridah dan cabang Khazimiyah dalam sekte Khawarij beserta pokok-pokok keyakinan mereka menurut literatur klasik Ahlus Sunnah.

Terjemahan Lengkap

Kelompok kelima

Al-Ajaridah

Al-Ajaridah termasuk golongan Khawarij. Mereka adalah para pengikut Abdul Karim bin Ajrad. Ia sebelumnya merupakan pengikut 'Athiyyah bin al-Aswad al-Hanafi.

Di antara ajaran yang mereka sepakati ialah bahwa setiap anak yang telah mencapai usia baligh wajib diajak mengakui agama Islam. Adapun sebelum baligh, mereka berlepas diri darinya dan tidak menetapkan baginya hukum sebagai seorang Muslim selama masih dalam masa kanak-kanak.

Di antara kekhususan mazhab mereka ialah bahwa berbeda dengan Azariqah yang menghalalkan harta orang yang mereka tentang hanya setelah pemiliknya dibunuh terlebih dahulu, kelompok Ajaridah memiliki pandangan yang berbeda mengenai masalah tersebut.

Kelompok yang menganut paham ini kemudian terpecah menjadi beberapa golongan.

Di antaranya adalah Khazimiyah, yang merupakan kelompok terbesar di antara mereka. Dalam persoalan takdir (qadar), kemampuan (istiṭā'ah), dan kehendak Allah (masyī'ah), mereka sejalan dengan Ahlus Sunnah. Mereka berpendapat bahwa tidak ada pencipta selain Allah, tidak terjadi sesuatu pun kecuali atas kehendak-Nya, dan kemampuan manusia menyertai perbuatannya.

Mereka juga menganggap kaum Qadariyah kafir karena persoalan-persoalan akidah tersebut. Akan tetapi, mereka tetap mengafirkan Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, serta kedua juru damai (al-ḥakamain) dalam peristiwa tahkim.

Artikel Pengembangan

Pembahasan ini menunjukkan bahwa kelompok Ajaridah bukanlah satu kelompok yang benar-benar seragam. Setelah berdiri, mereka mengalami perpecahan internal yang melahirkan beberapa cabang baru. Salah satu cabang yang paling besar ialah Khazimiyah.

Menariknya, menurut penulis kitab, Khazimiyah memiliki beberapa pandangan yang justru selaras dengan akidah Ahlus Sunnah, khususnya dalam masalah bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, dan kemampuan manusia berkaitan dengan pelaksanaan perbuatannya. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kelompok dapat memiliki kesesuaian pada sebagian masalah akidah, namun tetap berbeda secara mendasar pada persoalan lain.

Di sisi lain, penulis menegaskan bahwa Khazimiyah tetap mempertahankan ciri khas Khawarij, yaitu mengafirkan sejumlah sahabat Nabi ﷺ, terutama Sayyidina Utsman, Sayyidina Ali, dan pihak-pihak yang menerima tahkim dalam konflik politik saat itu. Dalam pandangan ulama Ahlus Sunnah, sikap berlebihan dalam mengkafirkan kaum Muslimin merupakan salah satu karakter utama Khawarij yang banyak diperingatkan dalam hadis-hadis Nabi ﷺ.

Kajian sejarah aliran seperti ini penting dipahami sebagai bagian dari khazanah ilmu al-milal wa an-niḥal (ilmu tentang berbagai aliran dan sekte). Tujuannya bukan untuk menumbuhkan permusuhan, tetapi agar seorang penuntut ilmu mengetahui perkembangan sejarah pemikiran Islam, memahami latar belakang munculnya berbagai sekte, serta mampu membedakan antara ajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dan ajaran yang dinilai menyimpang oleh para ulama klasik.

Hikmah

  • Perbedaan pemikiran dapat berkembang menjadi banyak cabang meskipun berasal dari kelompok yang sama.
  • Sebuah kelompok bisa saja memiliki sebagian pendapat yang benar, tetapi tetap menyimpang pada pokok-pokok ajaran lainnya.
  • Sikap mudah mengafirkan sesama Muslim merupakan salah satu penyimpangan besar yang berulang dalam sejarah umat.
  • Mempelajari sejarah firqah membantu memahami perkembangan pemikiran Islam secara lebih utuh dan kritis.
  • Kajian kitab-kitab klasik hendaknya dibaca sesuai konteks sejarah dan metodologi ulama yang menulisnya.

Penutup

Kelompok Ajaridah merupakan salah satu cabang penting dalam sejarah Khawarij yang kemudian melahirkan berbagai subkelompok, termasuk Khazimiyah. Meskipun dalam beberapa persoalan mereka memiliki pandangan yang sejalan dengan Ahlus Sunnah, terutama dalam masalah qadar dan kehendak Allah, mereka tetap mempertahankan prinsip-prinsip khas Khawarij, terutama dalam sikap mengafirkan tokoh-tokoh besar dari kalangan sahabat. Oleh karena itu, pembahasan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam memahami akidah dan menghindari sikap ekstrem dalam menilai sesama kaum Muslimin.

Teks Arab :

الْفرْقَة الْخَامِسَة

العجاردة

مِنْهُم العجاردة وهم أَتبَاع عبد الْكَرِيم بن عجرد وَكَانَ من أَتبَاع عَطِيَّة بن أسود الْحَنَفِيّ وَمِمَّا اتّفق عَلَيْهِ العجاردة قَوْلهم إِن كل طِفْل بلغ فَإِنَّهُ يدعى إِلَى أَن يقر بدين الْإِسْلَام وَقبل أَن يبلغ يتبرؤون عَنهُ وَلَا يحكمون لَهُ بِحكم الْإِسْلَام فِي حَالَة طفوليته وخاصة مَذْهَبهم تأن الْأزَارِقَة كَانُوا يبيحون أَمْوَالهم مخالفيهم حَتَّى يقتل صَاحب المَال أَولا وَهَؤُلَاء الَّذين ينتحلون هَذَا الْمَذْهَب افْتَرَقُوا

فَمنهمْ الخازمية وهم الْأَكْثَرُونَ مِنْهُم وافقوا أهل السّنة فِي الْقدر والاستطاعة والمشيئة فَيَقُولُونَ لَا خَالق إِلَّا الله وَلَا يكون إِلَّا مَا يُرِيد والاستطاعة مَعَ الْفِعْل وَيَقُولُونَ بتكفير الْقَدَرِيَّة بِهَذِهِ الْمسَائِل الَّتِي ذَكرنَاهَا وَلَكِن يكفرون عُثْمَان وعليا والحكمين

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Kelompok Shufriyyah: Abu Bilal Mirdas, Imran bin Hittan,dan Sejarah Perkembangannya Menurut At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Kelompok Shufriyyah (Ash-Shufriyyah): Sejarah, Akidah,dan Pandangan Mereka tentang Pelaku Dosa Besar

Syu'aibiyah dalam Khawarij: Perpecahan Ajaridah Akibat Perdebatan tentang Kehendak Allah (Masyi'ah)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Syu'aibiyah dalam Khawarij: Perpecahan Ajaridah Akibat Perdebatan tentang Kehendak Allah (Masyi'ah)

Pendahuluan Di antara cabang-cabang kelompok Ajaridah dalam Khawarij terdapat golongan Syu'aibiyah , yang kemunculannya berawal dari...