Titip Uang Kepada Allah swt Seribu Dinar Untuk Bayar Hutang Kepada Seseorang Dari Bani Israil


Titip Uang Kepada Allah swt Seribu Dinar Untuk Bayar Hutang Kepada Seseorang Dari Bani Israil

بسم الله الرحمن الرحيم

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja‘far bin Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata: ayahku (Ahmad bin Hanbal) menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Laits bin Sa‘d, dari Ja‘far bin Rabi‘ah, dari Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ:
Bahwa beliau menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta kepada orang lain dari Bani Israil agar meminjamkan kepadanya seribu dinar.

Orang itu berkata:
“Datangkanlah saksi-saksi agar aku menjadikan mereka sebagai saksi.”

Ia menjawab:
“Cukuplah Allah sebagai saksi.”

Orang itu berkata lagi:
“Datangkanlah seorang penjamin.”

Ia menjawab:
“Cukuplah Allah sebagai penjamin.”

Orang itu berkata: “Engkau benar.”

Lalu ia memberikan seribu dinar tersebut kepadanya dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Kemudian orang yang berutang itu berlayar ke laut untuk menunaikan keperluannya. Setelah selesai urusannya, ia mencari sebuah kapal agar dapat kembali sebelum waktu yang telah ditentukan untuk melunasi utangnya, tetapi ia tidak menemukan kapal.

Lalu ia mengambil sepotong kayu, kemudian melubanginya. Ia memasukkan seribu dinar ke dalamnya, serta selembar surat untuk pemilik uang itu. Setelah itu ia menutup rapat lubang tersebut, kemudian membawanya ke laut.

Kemudian ia berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam dari si Fulan seribu dinar. Ia meminta kepadaku seorang penjamin, lalu aku berkata: Cukuplah Allah sebagai penjamin, dan ia pun ridha dengan itu.

Ia juga meminta kepadaku seorang saksi, lalu aku berkata: Cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun ridha dengan itu.

Sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh mencari sebuah kapal untuk mengirimkan kepadanya haknya (uangnya), tetapi aku tidak menemukan kapal. Maka sekarang aku menitipkannya kepada-Mu.”

Lalu ia melemparkan kayu itu ke laut, hingga kayu tersebut masuk dan tenggelam ke dalam laut.

Kemudian ia pun pergi sambil terus menunggu, dan dalam waktu itu ia tetap mencari kapal agar dapat berangkat kembali ke negerinya.

Sementara itu, orang yang dahulu meminjamkan uang kepadanya keluar untuk melihat-lihat, barangkali ada kapal yang datang membawa uangnya. Tiba-tiba ia melihat sepotong kayu yang di dalamnya terdapat uang itu.

Lalu ia mengambil kayu tersebut untuk dibawa pulang kepada keluarganya sebagai kayu bakar. Ketika ia memecah kayu itu, ia menemukan uang dan surat di dalamnya.

Kemudian datanglah orang yang dahulu meminjam uang itu kepada orang yang meminjamkannya, lalu ia membawa seribu dinar dan berkata:
“Demi Allah, aku terus bersungguh-sungguh mencari kapal agar bisa datang kepadamu membawa uangmu, tetapi aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku datang dengan ini.”

Orang yang memberi pinjaman berkata:
“Apakah engkau pernah mengirim sesuatu kepadaku?”

Ia menjawab:
“Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku datang dengan ini?”

Orang itu berkata:
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menyampaikan darimu apa yang engkau kirimkan di dalam kayu itu. Maka pulanglah dengan seribu dinarmu dengan baik.”

Baca juga:

Sebab-sebab Samar Atau Sulitnya Memahami Makna


بسم الله الرحمن الرحيم

أسباب غموض المعانى
Sebab-sebab Samar Atau Sulitnya Memahami Makna

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي : وَهُوَ أَنْ يَكُونَ السَّبَبُ الْمَانِعُ مِنْ فَهْمِ السَّامِعِ لِعِلَّةٍ فِي الْمَعْنَى الْمُسْتَوْدَعِ فَلَا يَخْلُو حَالُ الْمَعْنَى مِنْ ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ : إمَّا أَنْ يَكُونَ مُسْتَقِلًّا بِنَفْسِهِ ، أَوْ يَكُونَ مُقَدِّمَةً لِغَيْرِهِ ، أَوْ يَكُونَ نَتِيجَةً مِنْ غَيْرِهِ .
Bagian yang kedua, yaitu ketika sebab yang menghalangi pemahaman pendengar berasal dari suatu ‘illat pada makna yang terkandung dalam ucapan itu, maka keadaan makna itu tidak lepas dari tiga macam:
  1. Adakalanya makna itu berdiri sendiri (mandiri).
  2. Atau makna itu menjadi pendahuluan bagi makna yang lain.
  3. Atau makna itu merupakan hasil (kesimpulan) dari makna yang lain.

فَأَمَّا الْمُسْتَقِلُّ بِنَفْسِهِ فَضَرْبَانِ : جَلِيٌّ وَخَفِيٌّ .
Adapun makna yang berdiri sendiri, maka terbagi menjadi dua macam: jelas dan tersembunyi (samar).

فَأَمَّا الْجَلِيُّ فَهُوَ يَسْبِقُ إلَى فَهْمِ مُتَصَوِّرِهِ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ ، وَلَيْسَ هُوَ مِنْ أَقْسَامِ مَا يُشْكِلُ عَلَى مَنْ تَصَوَّرَهُ .
Adapun makna yang jelas (الجلي), yaitu makna yang langsung terlintas dalam pemahaman orang yang membayangkannya sejak pertama kali, dan bukan termasuk jenis makna yang sulit bagi orang yang telah memahaminya.

وَأَمَّا الْخَفِيُّ فَيَحْتَاجُ فِي إدْرَاكِهِ إلَى زِيَادَةِ تَأَمُّلٍ وَفَضْلِ مُعَانَاةٍ لِيَنْجَلِيَ عَمَّا أَخْفَى وَيَنْكَشِفَ عَمَّا أُغْمِضَ ، وَبِاسْتِعْمَالِ الْفِكْرِ فِيهِ يَكُونُ الِارْتِيَاضُ بِهِ وَبِالِارْتِيَاضِ بِهِ يَسْهُلُ مِنْهُ مَا اُسْتُصْعِبَ وَيَقْرَبُ مِنْهُ مَا بَعُدَ ، فَإِنَّ لِلرِّيَاضَةِ جَرَاءَةً وَلِلدِّرَايَةِ تَأْثِيرًا .
Adapun sesuatu yang tersembunyi (samar) maka untuk memahaminya diperlukan tambahan perenungan yang mendalam dan usaha yang lebih, agar menjadi jelas apa yang sebelumnya tersembunyi, dan tersingkap apa yang masih samar.
Dengan menggunakan pemikiran terhadapnya, seseorang akan terbiasa (terlatih) dengannya. Dan dengan latihan itu, hal yang tadinya sulit menjadi mudah, dan yang tadinya jauh menjadi dekat (mudah dipahami).
Karena latihan (pembiasaan) menumbuhkan keberanian, dan pengetahuan yang mendalam memberikan pengaruh (kekuatan dalam memahami).

وَأَمَّا مَا كَانَ مُقَدِّمَةً لِغَيْرِهِ فَضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : أَنْ تَقُومَ الْمُقَدِّمَةُ بِنَفْسِهَا وَإِنْ تَعَدَّتْ إلَى غَيْرِهَا ، فَتَكُونُ كَالْمُسْتَقِلِّ بِنَفْسِهِ فِي تَصَوُّرِهِ وَفَهْمِهِ مُسْتَدْعِيًا لِنَتِيجَتِهِ .
وَالثَّانِي : أَنْ يَكُونَ مُفْتَقِرًا إلَى نَتِيجَتِهِ فَيَتَعَذَّرُ فَهْمُ الْمُقَدِّمَةِ إلَّا بِمَا يَتْبَعُهَا مِنْ النَّتِيجَةِ ؛ لِأَنَّهَا تَكُونُ بَعْضًا وَتَبْعِيضُ الْمَعْنَى أَشْكَلُ لَهُ وَبَعْضُهُ لَا يُغْنِي عَنْ كُلِّهِ ، وَأَمَّا مَا كَانَ نَتِيجَةً لِغَيْرِهِ فَهُوَ لَا يُدْرَكُ إلَّا بِأَوَّلِهِ وَلَا يُتَصَوَّرُ عَلَى حَقِيقَتِهِ إلَّا بِمُقَدِّمَتِهِ وَالِاشْتِغَالُ بِهِ قَبْلَ الْمُقَدِّمَةِ عَنَاءٌ ، وَإِتْعَابُ الْفِكْرِ فِي اسْتِنْبَاطِهِ قَبْلَ قَاعِدَتِهِ إيذَاءٌ .
فَهَذَا يُوَضِّحُ تَعْلِيلَ مَا فِي الْمَعَانِي مِنْ الْأَسْبَابِ الْمَانِعَةِ مِنْ فَهْمِهَا .
Adapun sesuatu yang menjadi pendahuluan (mukadimah) bagi yang lain, maka ada dua macam:
  1. Pertama, mukadimah yang dapat berdiri sendiri, meskipun ia mengantarkan kepada sesuatu yang lain. Maka ia seperti sesuatu yang mandiri dalam gambaran dan pemahamannya, namun tetap mengantarkan kepada hasil (kesimpulan) yang dituju.
  2. Kedua, mukadimah yang memerlukan hasilnya, sehingga tidak dapat dipahami mukadimah itu kecuali dengan apa yang datang setelahnya berupa hasil (kesimpulan). Hal ini karena mukadimah itu hanya sebagian dari makna, sedangkan memahami makna secara sebagian lebih sulit, dan sebagian tidak dapat menggantikan keseluruhannya.
Adapun sesuatu yang menjadi hasil (kesimpulan) dari yang lain, maka tidak dapat dipahami kecuali dengan awalnya, dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya kecuali dengan mukadimahnya.
Menyibukkan diri dengan hasil itu sebelum mengetahui mukadimahnya adalah kesia-siaan, dan memaksakan pikiran untuk mengeluarkan kesimpulannya sebelum mengetahui kaidah dasarnya adalah menyiksa pikiran.
Maka hal ini menjelaskan alasan (sebab-sebab) yang terdapat dalam makna-makna itu yang dapat menghalangi pemahamannya.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّالِثُ : وَهُوَ أَنْ يَكُونَ السَّبَبُ الْمَانِعُ لِعِلَّةٍ فِي الْمُسْتَمِعِ فَذَلِكَ ضَرْبَانِ .
أَحَدُهُمَا : مِنْ ذَاتِهِ .
وَالثَّانِي : مِنْ طَارِئٍ عَلَيْهِ .
فَأَمَّا مَا كَانَ مِنْ ذَاتِهِ فَيَتَنَوَّعُ نَوْعَيْنِ : أَحَدَهُمَا : مَا كَانَ مَانِعًا مِنْ تَصَوُّرِ الْمَعْنَى ، وَالثَّانِيَ : مَا كَانَ مَانِعًا مِنْ حِفْظِهِ بَعْدَ تَصَوُّرِهِ وَفَهْمِهِ .
فَأَمَّا مَا كَانَ مَانِعًا مِنْ تَصَوُّرِ الْمَعْنَى وَفَهْمِهِ فَهُوَ الْبَلَادَةُ وَقِلَّةُ الْفِطْنَةِ وَهُوَ الدَّاءُ الْعَيَاءُ .

Adapun bagian ketiga, yaitu ketika sebab yang menghalangi pemahaman berasal dari suatu keadaan pada diri pendengar, maka hal itu ada dua macam:
  1. Yang berasal dari dirinya sendiri.
  2. Yang datang dari sesuatu yang muncul (faktor luar) pada dirinya.
Adapun yang berasal dari dirinya sendiri, maka terbagi menjadi dua macam:
  1. Sesuatu yang menghalangi seseorang untuk membayangkan atau memahami makna sejak awal.
  2. Sesuatu yang menghalangi seseorang untuk mengingat atau menyimpan makna tersebut setelah ia memahaminya.
Adapun sesuatu yang menghalangi seseorang dari membayangkan (menangkap) makna dan memahaminya, maka itu adalah kebodohan atau kedunguan dan kurangnya kecerdasan atau ketajaman pikiran, dan hal itu merupakan penyakit yang sangat sulit diobati.

وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : إذَا فَقَدَ الْعَالِمُ الذِّهْنَ قَلَّ عَلَى الْأَضْدَادِ احْتِجَاجُهُ ، وَكَثُرَ إلَى الْكُتُبِ احْتِيَاجُهُ .
Sebagian para hukama (orang-orang bijak) berkata:
“Apabila seorang alim kehilangan ketajaman pikirannya, maka lemah kemampuannya dalam berdebat atau berhujjah melawan lawan-lawannya, dan semakin banyak kebutuhannya kepada kitab-kitab.”

وَلَيْسَ لِمَنْ بُلِيَ بِهِ إلَّا الصَّبْرُ وَالْإِقْلَالُ ؛ لِأَنَّهُ عَلَى الْقَلِيلِ أَقْدَرُ ، وَبِالصَّبْرِ أَحْرَى أَنْ يَنَالَ وَيَظْفَرَ .
Dan tidak ada bagi orang yang ditimpa keadaan tersebut kecuali bersabar dan mengambil sedikit (ilmu secara terbatas).
Karena ia lebih mampu terhadap yang sedikit, dan dengan kesabaran ia lebih berpeluang untuk memperoleh dan meraih keberhasilan.

وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : قَدِّمْ لِحَاجَتِك بَعْضَ لَجَاجَتِك .
وَلَيْسَ يَقْدِرُ عَلَى الصَّبْرِ مَنْ هَذَا حَالُهُ إلَّا أَنْ يَكُونَ غَالِبَ الشَّهْوَةِ ، بَعِيدَ الْهِمَّةِ ، فَيُشْعِرُ قَلْبَهُ الصَّبْرَ ؛ لِقُوَّةِ شَهْوَتِهِ ، وَجَسَدَهُ احْتِمَالَ التَّعَبِ ؛ لِبُعْدِ هِمَّتِهِ .
Sebagian orang bijak berkata:
“Dahulukan untuk kebutuhanmu sebagian dari kerasnya kegigihanmu (keras kepala atau kegigihanmu).”
Dan orang yang keadaannya seperti ini tidak akan mampu bersabar, kecuali jika ia:
  • mampu mengalahkan hawa nafsunya, dan
  • memiliki tekad yang jauh (cita-cita yang tinggi).
Sehingga ia membiasakan hatinya untuk bersabar karena kuatnya pengendalian terhadap nafsunya, dan membiasakan tubuhnya menanggung kelelahan karena tingginya tekadnya.

فَإِذَا تَلَوَّحَ لَهُ الْمَعْنَى بِمُسَاعَدَةِ الشَّهْوَةِ أَعْقَبَهُ ذَلِكَ إلْحَاحُ الْآمِلِينَ وَنَشَاطُ الْمُدْرِكِينَ فَقَلَّ عِنْدَهُ كُلُّ كَثِيرٍ ، وَسَهُلَ عَلَيْهِ كُلُّ عَسِيرٍ .
Apabila makna (ilmu) mulai tampak baginya dengan bantuan dorongan keinginan (semangat yang kuat), maka setelah itu akan muncul ketekunan orang-orang yang berharap, dan semangat orang-orang yang telah memahami.
Sehingga segala sesuatu yang banyak terasa sedikit baginya, dan segala sesuatu yang sulit menjadi mudah baginya.

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { لَا تَنَالُونَ مَا تُحِبُّونَ إلَّا بِالصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُونَ ، وَلَا تَبْلُغُونَ مَا تَهْوُونَ إلَّا بِتَرْكِ مَا تَشْتَهُونَ } .
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cintai kecuali dengan bersabar atas sesuatu yang kalian benci. Dan kalian tidak akan mencapai apa yang kalian inginkan kecuali dengan meninggalkan apa yang kalian sukai (dari hawa nafsu).”

وَقِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : أَتْعِبْ قَدَمَك ، فَإِنْ تَعِبَ قَدَّمَك .
Dan disebutkan dalam kata-kata hikmah:
“Letihkanlah kakimu (bersungguh-sungguhlah berjalan atau berusaha), karena jika ia lelah, maka ia akan mendahulukanmu (membawamu maju).”

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : إذَا اشْتَدَّ الْكَلَفُ ، هَانَتْ الْكُلَفُ ، وَأَنْشَدَ بَعْضُ أَهْلِ الْأَدَبِ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ - :
لَا تَعْجِزَنَّ وَلَا يَدْخُلْك مُضْجِرَةٌ  #فَالنُّجْحُ يَهْلِكُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالضَّجَرِ .
Sebagian ahli balaghah berkata:
“Apabila kecintaan atau kesungguhan sudah sangat kuat, maka berbagai kesulitan akan terasa ringan.”
Dan sebagian ahli sastra membacakan syair yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a.:
Janganlah engkau menjadi lemah, dan jangan pula rasa bosan masuk ke dalam dirimu, Karena keberhasilan sering hancur di antara kelemahan dan kebosanan

وَأَمَّا الْمَانِعُ مِنْ حِفْظِهِ بَعْدَ تَصَوُّرِهِ وَفَهْمِهِ فَهُوَ النِّسْيَانُ الْحَادِثُ عَنْ غَفْلَةِ التَّقْصِيرِ وَإِهْمَالِ التَّوَانِي .
فَيَنْبَغِي لِمَنْ بُلِيَ بِهِ أَنْ يَسْتَدْرِكَ تَقْصِيرَهُ بِكَثْرَةِ الدَّرْسِ وَيُوقِظَ غَفْلَتَهُ بِإِدَامَةِ النَّظَرِ .
Adapun yang menghalangi seseorang untuk mengingat (menjaga) ilmu setelah ia membayangkan dan memahaminya, maka itu adalah lupa yang timbul karena kelalaian akibat kurangnya kesungguhan dan karena mengabaikan serta bermalas-malasan.
Maka seharusnya orang yang ditimpa keadaan tersebut berusaha menutupi kekurangannya dengan banyak mengulang pelajaran, dan membangunkan kelalaiannya dengan terus-menerus membaca atau menelaah.

فَقَدْ قِيلَ لَا يُدْرِكُ الْعِلْمَ مَنْ لَا يُطِيلُ دَرْسَهُ ، وَيَكُدُّ نَفْسَهُ .
وَكَثْرَةُ الدَّرْسِ كَدُودٌ لَا يَصْبِرُ عَلَيْهِ إلَّا مَنْ يَرَى الْعِلْمَ مَغْنَمًا ، وَالْجَهَالَةَ مَغْرَمًا .
فَيَحْتَمِلُ تَعَبَ الدَّرْسِ لِيُدْرِكَ رَاحَةَ الْعِلْمِ وَيَنْفِي عَنْهُ مَعَرَّةَ الْجَهْلِ .
فَإِنَّ نَيْلَ الْعَظِيمِ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ ، وَعَلَى قَدْرِ الرَّغْبَةِ تَكُونُ الْمَطَالِبُ ، وَبِحَسَبِ الرَّاحَةِ يَكُونُ التَّعَبُ .
Telah dikatakan:
“Ilmu tidak akan diperoleh oleh orang yang tidak memperpanjang waktu belajarnya dan tidak bersungguh-sungguh membebani dirinya (dalam usaha).”
Banyak belajar adalah kesulitan yang berat, yang tidak akan sabar menjalaninya kecuali orang yang menganggap ilmu sebagai keuntungan besar dan kebodohan sebagai kerugian.
Karena itu ia menanggung kelelahan belajar agar mendapatkan kenyamanan ilmu, dan agar terhindar dari kehinaan kebodohan.
Sesungguhnya mendapatkan sesuatu yang besar harus dengan usaha yang besar, dan sebesar keinginan seseorang, sebesar itu pula tuntutan yang ingin dicapainya, serta sebanding dengan kenyamanan yang diinginkan, sebesar itu pula kelelahan yang harus ditanggung.

وَقَدْ قِيلَ : طَلَبُ الرَّاحَةِ قِلَّةُ الِاسْتِرَاحَةِ .
Telah dikatakan:
“Mencari kenyamanan (atau kesenangan) justru dengan sedikit istirahat.”

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : أَكْمَلُ الرَّاحَةِ مَا كَانَتْ عَنْ كَدِّ التَّعَبِ ، وَأَعَزُّ الْعِلْمِ مَا كَانَ عَنْ ذُلِّ الطَّلَبِ .
Sebagian orang bijak berkata:
“Kenyamanan yang paling sempurna adalah yang diperoleh dari hasil kerja keras. Dan ilmu yang paling mulia adalah yang diperoleh tanpa menghinakan diri (tidak karena memohon atau menjilat).”

وَرُبَّمَا اسْتَثْقَلَ الْمُتَعَلِّمُ الدَّرْسَ وَالْحِفْظَ وَاتَّكَلَ بَعْدَ فَهْمِ الْمَعَانِي عَلَى الرُّجُوعِ إلَى الْكُتُبِ وَالْمُطَالَعَةِ فِيهَا عِنْدَ الْحَاجَةِ فَلَا يَكُونُ إلَّا كَمَنْ أَطْلَقَ مَا صَادَهُ ثِقَةً بِالْقُدْرَةِ عَلَيْهِ بَعْدَ الِامْتِنَاعِ مِنْهُ فَلَا تُعْقِبُهُ الثِّقَةُ إلَّا خَجَلًا وَالتَّفْرِيطُ إلَّا نَدَمًا .
Sering terjadi bahwa seorang penuntut ilmu merasa berat dengan pelajaran dan menghafal, lalu setelah memahami makna-makna, ia mengandalkan kembali pada buku-buku dan bacaan saat diperlukan.
Hal ini tidak berbeda dengan orang yang melepaskan apa yang telah ia kuasai dengan percaya diri setelah sebelumnya menahan diri (tidak menggunakannya).
(Maksudnya: Jika seseorang hanya memahami makna tapi tidak menghafal atau berlatih, lalu hanya mengandalkan buku ketika butuh, maka ia seperti melepaskan apa yang sudah ia kuasai).
Akibatnya:
  • Kepercayaan diri itu hanya berakhir dengan rasa malu,
  • dan kelalaian itu hanya berakhir dengan penyesalan.

وَهَذِهِ حَالٌ قَدْ يَدْعُو إلَيْهَا أَحَدُ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءِ : إمَّا الضَّجَرُ مِنْ مُعَانَاةِ الْحِفْظِ وَمُرَاعَاتِهِ وَطُولِ الْأَمَلِ فِي التَّوَفُّرِ عَلَيْهِ عِنْدَ نَشَاطِهِ وَفَسَادِ الرَّأْيِ فِي عَزِيمَتِهِ .
وَلَيْسَ يَعْلَمُ أَنَّ الضَّجُورَ خَائِبٌ ، وَأَنَّ الطَّوِيلَ الْأَمَلِ مَغْرُورٌ ، وَأَنَّ الْفَاسِدَ الرَّأْيِ مُصَابٌ .
Dan inilah keadaan yang bisa menimpa seseorang karena tiga hal:
  1. Rasa bosan akibat susahnya menghafal, memperhatikan, dan menjaga ilmu.
  2. Panjang angan-angan dalam memperoleh ilmu pada saat semangatnya tinggi, tetapi kemampuan belum cukup.
  3. Rusaknya pendapat dalam tekad atau kemauan.
Ia tidak menyadari bahwa:
  • Rasa bosan itu akan gagal (tidak membawa manfaat)
  • Panjang angan-angan menipu (menimbulkan kesia-siaan)
  • Pendapat atau keputusan yang rusak akan membawa kesalahan atau musibah

وَالْعَرَبُ تَقُولُ فِي أَمْثَالِهَا : حَرْفٌ فِي قَلْبِك ، خَيْرٌ مِنْ أَلْفٍ فِي كُتُبِك .
وَقَالُوا : لَا خَيْرَ فِي عِلْمٍ لَا يَعْبُرُ مَعَك الْوَادِيَ ، وَلَا يُعَمِّرُ بِك النَّادِيَ ،
Orang Arab berkata dalam peribahasa mereka:
“Satu huruf (ilmu) di hatimu lebih baik daripada seribu huruf di bukumu.”
Dan mereka juga berkata:
“Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak bisa menyeberangi lembah (tidak bermanfaat dalam praktik), dan tidak bisa membangun dirimu di majelis (tidak bisa dipraktikkan atau diamalkan).”

وَأَنْشَدْت عَنْ الرَّبِيعِ لِلشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :
عِلْمِي مَعِي حَيْثُ مَا يَمَّمْتُ يَنْفَعُنِي  #قَلْبِي وِعَاءٌ لَهُ لَا بَطْنُ صُنْدُوقِي
إنْ كُنْت فِي الْبَيْتِ كَانَ الْعِلْمُ فِيهِ مَعِي  #أَوْ كُنْت فِي السُّوقِ كَانَ الْعِلْمُ فِي السُّوقِ
Diriwayatkan dari ar-Rabi‘ tentang asy-Syafi‘i r.a.:
Ilmuku bersamaku, ke mana pun aku pergi, ia bermanfaat bagiku, Hatiku adalah wadahnya, bukan perut kotakku
Jika aku berada di rumah, ilmu itu bersamaku di rumah, Dan jika aku berada di pasar, ilmu itu bersamaku di pasar

وَرُبَّمَا اعْتَنَى الْمُتَعَلِّمُ بِالْحِفْظِ مِنْ غَيْرِ تَصَوُّرٍ وَلَا فَهْمٍ حَتَّى يَصِيرَ حَافِظًا لِأَلْفَاظِ الْمَعَانِي قَيِّمًا بِتِلَاوَتِهَا .
وَهُوَ لَا يَتَصَوَّرُهَا وَلَا يَفْهَمُ مَا تَضَمَّنَهَا يَرْوِي بِغَيْرِ رَوِيَّةٍ ، وَيُخْبِرُ عَنْ غَيْرِ خِبْرَةٍ .
فَهُوَ كَالْكِتَابِ الَّذِي لَا يَدْفَعُ شُبْهَةً ، وَلَا يُؤَيِّدُ حُجَّةً .
Sering terjadi bahwa seorang penuntut ilmu hanya menekankan hafalan tanpa membayangkan atau memahami, sehingga ia menjadi penghafal kata-kata makna tanpa mengerti isinya.
Ia tidak membayangkan dan tidak memahami apa yang terkandung di dalamnya, sehingga ia menyampaikan (riwayat) tanpa metode yang baik dan memberitakan tanpa pengalaman atau kepakaran.
Akibatnya, ia seperti buku yang tidak mampu menolak keraguan dan tidak mendukung hujjah (argumentasi).

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { هِمَّةُ السُّفَهَاءِ الرِّوَايَةُ وَهِمَّةُ الْعُلَمَاءِ الرِّعَايَةُ } .
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Cita-cita atau perhatian orang-orang bodoh adalah sekadar meriwayatkan (mengulang tanpa memahami), sedangkan cita-cita orang-orang alim adalah menjaga, memelihara, dan mengamalkan ilmu.”

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : كُونُوا لِلْعِلْمِ رُعَاةً ، وَلَا تَكُونُوا لَهُ رُوَاةً ، فَقَدْ يَرْعَوِي مَنْ لَا يَرْوِي ، وَيَرْوِي مَنْ لَا يَرْعَوِي .
Dan berkata Ibnu Mas‘ud r.a.:
“Jadilah kalian penjaga ilmu, dan jangan menjadi sekadar perawi ilmu. Karena bisa jadi yang menjaga tidak meriwayatkan, dan yang meriwayatkan tidak menjaga.”

وَحَدَّثَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ بِحَدِيثٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا أَبَا سَعِيدٍ ، عَمَّنْ ؟ قَالَ : مَا تَصْنَعُ بِعَمَّنْ ، أَمَّا أَنْتَ فَقَدْ نَالَتْك عِظَتُهُ ، وَقَامَتْ عَلَيْك حُجَّتُهُ .
Al-Hasan al-Bashri menceritakan sebuah hadis. Seorang pria bertanya kepadanya:
“Wahai Abu Sa‘id, dari siapa (hadis ini)?”
Ia menjawab:
“Apa urusanmu dengan siapa? Adapun dirimu, sudah sampai kepadamu pelajaran dan ibrah-nya, dan dalil serta hujjahnya berdiri di hadapanmu.”

وَرُبَّمَا اعْتَمَدَ عَلَى حِفْظِهِ وَتَصَوُّرِهِ ، وَأَغْفَلَ تَقْيِيدَ الْعِلْمِ فِي كُتُبِهِ ثِقَةً بِمَا اسْتَقَرَّ فِي ذِهْنِهِ وَهَذَا خَطَأٌ مِنْهُ ؛ طَارِقٌ لِأَنَّ الشَّكْلَ مُعْتَرِضٌ وَالنِّسْيَانَ طَارِقٌ.
Sering terjadi seseorang bergantung pada hafalannya dan pemahamannya, lalu mengabaikan mencatat ilmu dalam buku-bukunya, karena percaya dengan apa yang telah menetap di pikirannya.
Ini kesalahan dari dirinya, karena:
• Bentuk (tulisan atau catatan) bisa terganggu atau hilang, (buku atau catatan tidak selalu aman; bisa rusak, hilang, atau berubah sehingga ilmu yang hanya tergantung padanya terancam)
• dan lupa dapat datang secara tiba-tiba

وَقَدْ رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ } .
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya (catatlah ilmu).”

وَرُوِيَ أَنَّ { رَجُلًا شَكَا إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النِّسْيَانَ فَقَالَ لَهُ : اسْتَعْمِلْ يَدَك ، أَيْ اُكْتُبْ حَتَّى تَرْجِعَ إذَا نَسِيتَ إلَى مَا كَتَبْتَ } .
Diriwayatkan bahwa seorang pria mengadukan kepada Nabi ﷺ tentang lupa, lalu beliau bersabda kepadanya:
“Gunakan tanganmu,” maksudnya: “Tulislah (catatlah ilmu) sehingga jika kamu lupa, kamu bisa kembali kepada apa yang telah kamu tulis.”

وَقَالَ الْخَلِيلُ بْنُ أَحْمَدَ : اجْعَلْ مَا فِي الْكُتُبِ رَأْسَ الْمَالِ ، وَمَا فِي الْقَلْبِ النَّفَقَةَ .
Dan berkata al-Khalil bin Ahmad:
“Jadikan apa yang ada di buku-buku sebagai modal, dan apa yang ada di hati sebagai yang kamu infakkan (diberikan/diamalkan).”

وَقَالَ مَهْبُودٌ  :لَوْلَا مَا عَقَدَتْهُ الْكُتُبُ مِنْ تَجَارِبِ الْأَوَّلِينَ ، لَانْحَلَّ مَعَ النِّسْيَانِ عُقُودُ الْآخِرِينَ .
Dan berkata Mahbūd:
“Seandainya tidak terikat dalam buku-buku pengalaman para pendahulu, maka ikatan (ilmu) para generasi berikutnya akan lepas bersama lupa.”

وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : إنَّ هَذِهِ الْآدَابَ نَوَافِرُ تَنِدُّ عَنْ عَقْلِ الْأَذْهَانِ فَاجْعَلُوا الْكُتُبَ عَنْهَا حُمَاةً ، وَالْأَقْلَامَ لَهَا رُعَاةً .
Dan berkata sebagian orang bijak:
“Adab-adab ini adalah sumber-sumber yang melimpah dan menuntut akal pikiran. Maka jadikanlah buku sebagai penjaganya, dan pena sebagai pengasuhnya.”

وَأَمَّا الطَّوَارِئُ فَنَوْعَانِ : أَحَدُهُمَا : شُبْهَةٌ تَعْتَرِضُ الْمَعْنَى فَتَمْنَعُ عَنْ نَفَسِ تَصَوُّرِهِ وَتَدْفَعُ عَنْ إدْرَاكِ حَقِيقَتِهِ ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُزِيلَ تِلْكَ الشُّبْهَةَ عَنْ نَفْسِهِ بِالسُّؤَالِ وَالنَّظَرِ ؛ لِيَصِلَ إلَى تَصَوُّرِ الْمَعْنَى وَإِدْرَاكِ حَقِيقَتِهِ .
وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : لَا تُخْلِ قَلْبَك مِنْ الْمُذَاكَرَةِ فَتَعُدْ عَقِيمًا ، وَلَا تُعْفِ طَبْعَك مِنْ الْمُنَاظَرَةِ فَيَعُدْ سَقِيمًا .
Adapun hal-hal yang datang secara tiba-tiba (ṭawāri’) atau mengganggu) ada dua macam:
Salah satunya adalah: keraguan atau kebingungan yang muncul di pemahaman makna, sehingga menghalangi seseorang dari membayangkan makna itu sendiri dan menyulitkan untuk memahami hakikatnya.
Maka harus dihilangkan keraguan itu melalui bertanya dan meneliti agar bisa mencapai pemahaman makna dan hakikatnya.
Karena itu, sebagian ulama berkata:
“Jangan biarkan hatimu kosong dari pembelajaran/mudzākara, karena akan menjadi mandul.”
“Jangan tinggalkan kebiasaan berdebat dan menelaah (munāzhara), karena akan menjadi lemah.”

وَقَالَ بَشَّارُ بْنُ بُرْدٍ : شِفَاءُ الْعَمَى طُولُ السُّؤَالِ وَإِنَّمَا دَوَامُ الْعَمَى طُولُ السُّكُوتِ عَلَى الْجَهْلِ فَكُنْ سَائِلًا عَمَّا عَنَاك فَإِنَّمَا دُعِيتَ أَخَا عَقْلٍ لِتَبْحَثَ بِالْعَقْلِ
Dan berkata Bashshār bin Burd:
“Obat bagi kebutaan adalah panjangnya bertanya, dan kebutaan yang terus-menerus terjadi karena lama diam terhadap kebodohan. Maka jadilah penanya tentang apa yang membingungkanmu, karena sesungguhnya engkau dipanggil sebagai saudara akal karena menelaah dengan akal.

وَالثَّانِي : أَفْكَارٌ تُعَارِضُ الْخَاطِرِ فَيَذْهَلُ عَنْ تَصَوُّرِ الْمَعْنَى .
وَهَذَا سَبَبٌ قَلَّمَا يَعْرَى مِنْهُ أَحَدٌ لَا سِيَّمَا فِيمَنْ انْبَسَطَتْ آمَالُهُ وَاتَّسَعَتْ أَمَانِيهِ .
Dan yang kedua adalah: pikiran-pikiran yang bertentangan dengan hati, sehingga seseorang menjadi bingung dalam membayangkan makna.
Dan ini adalah penyebab yang jarang disadari orang, terutama bagi mereka yang harapannya meluas dan keinginannya besar.

وَقَدْ يَقِلُّ فِيمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي غَيْرِ الْعِلْمِ أَرَبٌ ، وَلَا فِيمَا سِوَاهُ هِمَّةٌ ، فَإِنْ طَرَأَتْ عَلَى الْإِنْسَانِ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى مُكَابَرَةِ نَفْسِهِ عَلَى الْفَهْمِ وَغَلَبَةِ قَلْبِهِ عَلَى التَّصَوُّرِ ؛ لِأَنَّ الْقَلْبَ مَعَ الْإِكْرَاهِ أَشَدُّ نُفُورًا ، وَأَبْعَدُ قَبُولًا .
Dan hal ini jarang terjadi pada orang yang tidak memiliki gairah selain ilmu, dan tidak ada tekad dalam hal selain itu.
Jika gangguan itu muncul pada orang seperti ini, ia tidak mampu melawan dirinya sendiri dalam memahami, dan hatinya sulit menaklukkan untuk membayangkan makna.
Karena hati, jika dipaksa (dengan paksaan), menjadi lebih menolak dan lebih sulit menerima.

وَقَدْ جَاءَ الْأَثَرُ بِأَنَّ الْقَلْبَ إذَا أُكْرِهَ عَمِيَ ، وَلَكِنْ يَعْمَلُ فِي دَفْعِ مَا طَرَأَ عَلَيْهِ مِنْ هَمٍّ مُذْهِلٍ أَوْ فِكْرٍ قَاطِعٍ لِيَسْتَجِيبَ لَهُ الْقَلْبُ مُطِيعًا .
Telah datang sebuah keterangan bahwa:
“Hati, jika dipaksa, akan menjadi buta; tetapi jika digunakan untuk menyingkirkan kegelisahan yang membingungkan atau pikiran yang memutus pemahaman, maka hati akan menanggapi dengan patuh.”

وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ :
وَلَيْسَ بِمُغْنٍ فِي الْمَوَدَّةِ شَافِعٌ  #إذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الضُّلُوعِ شَفِيعُ
Dan telah berkata seorang penyair:
Tidak ada yang bisa menjadi perantara dalam kasih sayang, jika tidak ada yang menjadi perantara di antara tulang-tulang (hati)
(artinya: Tidak cukup hanya dengan kata-kata atau tindakan luar, tapi harus dengan niat tulus yang ada di dalam hati, karena kasih sayang dan pengaruh hanya efektif jika datang dari ketulusan hati)

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : إنَّ لِهَذِهِ الْقُلُوبِ تَنَافُرَ كَتَنَافُرِ الْوَحْشِ فَتَأَلَّفُوهَا بِالِاقْتِصَادِ فِي التَّعْلِيمِ ، وَالتَّوَسُّطِ فِي التَّقْدِيمِ ؛ لِتَحْسُنَ طَاعَتُهَا ، وَيَدُومَ نَشَاطُهَا .
Dan berkata sebagian orang bijak:
“Hati-hati ini memiliki sifat menjauh seperti binatang buas; maka akrabkanlah mereka dengan kesederhanaan dalam pengajaran, dan tengah-tengah dalam penyampaian, agar ketaatan mereka baik dan aktivitas mereka tetap berlangsung.”

فَهَذَا تَعْلِيلُ مَا فِي الْمُسْتَمِعِ مِنْ الْأَسْبَابِ الْمَانِعَةِ مِنْ فَهْمِ الْمَعَانِي .
Inilah penjelasan tentang hal-hal yang ada dalam diri pendengar yang menjadi sebab-sebab penghalang dalam memahami makna.

وَهَهُنَا قِسْمٌ رَابِعٌ يَمْنَعُ مِنْ مَعْرِفَةِ الْكَلَامِ وَفَهْمِ مَعَانِيهِ .
وَلَكِنَّهُ قَدْ يُعَرَّى مِنْ بَعْضِ الْكَلَامِ ، فَلِذَلِكَ لَمْ يَدْخُلْ فِي جُمْلَةِ أَقْسَامِهِ ، وَلَمْ نَسْتَجِزْ الْإِخْلَالَ بِذِكْرِهِ ؛ لِأَنَّ مِنْ الْكَلَامِ مَا كَانَ مَسْمُوعًا لَا يَحْتَاجُ فِي فَهْمِهِ إلَى تَأَمُّلِ الْخَطِّ بِهِ .
Dan di sini ada bagian keempat yang menghalangi seseorang dari mengetahui perkataan dan memahami maknanya.
Namun, hal ini mungkin hanya terjadi pada sebagian ucapan, sehingga tidak termasuk dalam keseluruhan kategori penghalang, dan kami tidak merasa perlu menyebutkannya; karena ada bagian dari perkataan yang dapat dipahami saat didengar, tanpa perlu merenungkan tulisannya.

وَالْمَانِعُ مِنْ فَهْمِهِ هُوَ عَلَى مَا ذَكَرْنَا مِنْ أَقْسَامِهِ وَمِنْهُ مَا كَانَ مُسْتَوْدَعًا بِالْخَطِّ ، مَحْفُوظًا بِالْكِتَابَةِ ، مَأْخُوذًا بِالِاسْتِخْرَاجِ ، فَكَانَ الْخَطُّ حَافِظًا لَهُ وَمُعَبِّرًا عَنْهُ .
Dan penghalang dalam memahaminya adalah sesuai dengan apa yang telah kita sebutkan dari kategorinya.
Di antaranya adalah apa yang disimpan dalam bentuk tulisan, dijaga dengan pencatatan, dan diambil melalui penalaran atau penyingkapan; sehingga tulisan itu menjadi pelindungnya dan sekaligus penunjuk maknanya.

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْله تَعَالَى : { أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ } قَالَ : يَعْنِي الْخَطَّ .
Dan telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, mengenai firman Allah Ta’ālā: {أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ} (‘atau bekas ilmu’), beliau berkata: “Maksudnya adalah tulisan.”

وَرُوِيَ عَنْ مُجَاهِدٍ فِي قَوْله تَعَالَى : { يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ } يَعْنِي الْخَطَّ { وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا } يَعْنِي الْخَطَّ .
Dan telah diriwayatkan dari Mujahid, mengenai firman Allah Ta’ālā: {يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ} (‘Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki’), maksudnya adalah tulisan (الخط).
Dan {وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا} (‘Barang siapa diberikan hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak’), maksudnya juga tulisan (الخط).

وَالْعَرَبُ تَقُولُ : الْخَطُّ أَحَدُ اللِّسَانَيْنِ ، وَحُسْنُهُ أَحَدُ الْفَصَاحَتَيْنِ .
Dan orang Arab berkata: “Tulisan adalah salah satu dari dua jenis bahasa, dan keindahannya adalah salah satu dari dua jenis kefasihan.”

وَقَالَ جَعْفَرُ بْنُ يَحْيَى : الْخَطُّ سَمْطُ الْحِكْمَةِ بِهِ يُفْصَلُ شُذُورُهَا ، وَيُنَظَّمُ مَنْثُورُهَا .
Dan Ja‘far bin Yahya berkata: “Tulisan adalah sisa (intisari) dari hikmah; dengannya butir-butirnya dipisahkan dan yang tersebar diatur.”

وَقَالَ ابْنُ الْمُقَفَّعِ : اللِّسَانُ مَقْصُورٌ عَلَى الْقَرِيبِ الْحَاضِرِ وَالْقَلَمُ عَلَى الشَّاهِدِ وَالْغَائِبِ وَهُوَ لِلْغَابِرِ الْكَائِنِ مِثْلُهُ لِلْقَائِمِ الدَّائِمِ .
Dan Ibnu al-Muqaffa‘ berkata: “Lidah terbatas untuk yang dekat dan hadir, sedangkan pena (tulisan) untuk yang menyaksikan dan yang tidak hadir; ia bagi yang telah tiada sama seperti bagi yang tetap ada.”

وَقَالَ حَكِيمُ الرُّومِ : الْخَطُّ هَنْدَسَةٌ رُوحَانِيَّةٌ ، وَإِنْ ظَهَرَتْ بِآلَةٍ جُسْمَانِيَّةٍ .
Dan berkata seorang bijak Romawi: “Tulisan adalah sebuah geometri spiritual, meskipun ia tampak menggunakan alat fisik (tangan atau pena).”

وَقَالَ حَكِيمُ الْعَرَبِ : الْخَطُّ أَصْلٌ فِي الرُّوحِ وَإِنْ ظَهَرَ بِحَوَاسِّ الْجَسَدِ .
Dan berkata seorang bijak Arab: “Tulisan adalah sesuatu yang berakar dalam roh, meskipun tampak melalui pancaindra tubuh.”

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Untuk Pemula Bag. 08 al-Mu'robat Bilhuruf Lengakp + Contoh


بسم الله الرحمن الرحيم

وَالَّذِى يُعْرَبُ بِالْحُرُوْفِ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ: التَّثْنِيَةُ وَجَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ وَاْلأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ وَاْلأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ، وَهِيَ: يَفْعَلاَنِ وَتَفْعَلاَنِ وَيَفْعَلُوْنَ وَتَفْعَلُوْنَ وَتَفْعَلِيْنَ.

 

1-       كلمة مُعْرَب يڠ علامة إعراب پا دى تانداي دڠن حروف أدا بٓرافا؟ أدا آمفات.

2-       أفا ساجا؟

1)   إسم  تثنية.

2)   جمع مذكر سالم.

3)   أسماء الخمسة.

4)   أفعال الخمسة، ياإيتو لفظ يڠ بٓنتوء پا سفرتى: يَـفْـعَـلَانِ، تـفْـعَـلاَنِ، يَـفْـعَـلُوْنَ، تَـفْـعَـلُوْنَ دان تَـفْـعَـلِيْنَ.

سٓبوتكان نظم پا؟

Dan kalimat mu’rob dengan tanda huruf # (1)isim tatsniyah tanda i’robnya huruf

(2)Isim yang lima atau asma’ul khomsah # (3)jama’ mudzakkar salim, (4)af’alul khomsah

 

فَأَمَّا التَّثْنِيَةُ فَتُرْفَعُ بِاْلأَلِفِ وَتُنْصَبُ وَتُخْفَضُ بِالْيَاءِ.

 

3-  إســم تثنيـة كتيكا رفع دى تانداي دڠن أفا؟ ألف.

4-  كتيكا نصب دان جير، دى تانداي دڠن أفا؟ يا

        سٓبوتكان نظم پا؟

Isim tatsniyah tanda rofa’nya alif # nashob, jer dengan ya’, belajar yang aktif

 

وَأَمَّا جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمِ فَيُرْفَعُ بِالْوَاوِ وَيُنْصَبُ وَيُخْفَضُ بِالْيَاءِ

 

5-  جمع مذكـر سالـم كتيكا رفع دى تانداي دڠن أفا؟ دڠن واو.

6-  كتيكا نصب دان جير دى تانـدائى دڠن أفا؟ دڠن ياء.

سٓبوتكان نظم پا؟

Jama’ mudzakkar salim rofa’nya wawu # nashob, jer dengan ya’, yang rajin sinau

 

وَأَمَّا اْلأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ فَتُرْفَعُ بِالْوَاوِ وَتُنْصَبُ بِاْلأَلِفِ وَتُخْفَضُ بِاْليَاءِ.

 

7-  أسماء الخمسة كتيكا رفع دى تانداي دڠن أفا؟ دڠن واو.

8-  كتيكا نصب دى تانداي دڠن أفا؟ دڠن الـف.

9-  كتيكا جير دى تانداي دڠن أفا؟ دڠن ياء.

سٓبوتكان نظم پا؟

Wawu tandanya asma’ul khomsah rofa’ # nashobnya dengan alif khofadh dengan ya’

 

وَأَمَّا اْلأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ فَتُرْفَعُ بِالنُّوْنِ وَتُنْصَبُ وَتُجْزَمُ بِحَذْفِهَا.

 

10-   أفعـال الخمسـة كتيكا رفع دى تانداي دڠن أفا؟ دڠن تتاف پا نون.

11-   كتيكا نصب دان جزم دى تانداي دڠن أفا؟ دڠن م٘مبواڠ نون علامة رفع.

سٓبوتكان نظم پا؟

Dan af’alul khomsah rofa’ tetapnya nun # nashob dan jazem tandanya membuang nun

 

التمرين

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ، إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلا تَتَّقُونَ

 

1.    كَذَّبَتْ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

2.    فعل أفا؟ فعل ماضى.

3.    أفا تاندا فعل پا؟ أداپا تاء تاءنيث.

4.    كنافا دى بٓرى تاء تاءنيث؟ كرنا أونتوء منونجوء كن بهوا فاعل پا أداله مؤنث.

5.    فاعل پا مانا؟ فاعل پا بٓروفا لفظ ثَمُودُ.

6.    ثَمُودُ مؤنث أفا مذكر؟ لفظ پا مذكر تافى معنى پا مؤنث.

7.    ثَمُودُ بٓرمعنى أفا؟ بٓرمعنى قبيلة دان جماعة.

8.    ثَمُودُ معرب أفا مبنى؟ معرب.

9.    بٓر إعراب أفا؟ رفع.

10.   كنافا رفع؟ كرنا منجادى فاعل.

11.   يڠ مٓرفع كن أداله؟ فعل.

12.   تاندا رفع پا دڠن حركة أفا دڠن حروف؟ دڠن حركة.

13.   حركة أفا؟ ضمة.

14.   تانفاء أفا دى كيرا٢ كن؟ تانفاء.

15.   دى مانا؟ دى أخيرپا.

16.   كنافا دى تانفاء كن؟ كرنا بٓروفا إسم مفرد صحيح أخير.

17.   كنافا تانفا تنوين؟ كرنا بٓروفا إسم غير منصرف.

18.   كنافا غير منصرف؟ كرنا مٓمفوپاهي دوا علة فَرْعِيّة.

19.   أفا ساجا علة پا؟ عَلَمِيّة دان عَجَمِيّة.

20.   علة عَلَمِيّة چاباڠ دارى أفا؟ دارى نكرة.

21.   علة عَجَمِيّة چاباڠ دارى أفا؟ دارى لغة عرب.

22.   الْمُرْسَلِينَ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

23.   مفرد، تثنية أفا جمع؟ جمع.

24.   جمع أفا؟ جمع مذكر سالم.

25.   معرب أفا مبنى؟ معرب.

26.   بٓر إعراب أفا؟ نصب.

27.   كنافا نصب؟ كرنا منجادى مفعول به.

28.   تاندا نصب پا دڠن حركة أفا دڠن حروف؟ دڠن حروف.

29.   حروف أفا؟ ياء.

30.   كنافا دى تانداي دڠن ياء؟ كرنا بٓروفا جمع مذكر سالم.

31.   جمع مذكر سالم بيلا رفع أفا تاندا رفع پا؟ واو.

32.   بيلا نصب أفا تاندا نصب پا؟ ياء

33.   بيلا جير أفا تاندا جير پا؟ ياء.

سٓبوتكان نظم پا؟

Jama’ mudzakkar salim rofa’nya wawu # nashob, jer dengan ya’, yang rajin sinau

 

34.   أَخُوهُمْ؛ لفظ أَخُو كلمة أفا؟ كلمة إسم.

35.   معرب أفا مبنى؟ معرب.

36.   بٓر إعراب أفا؟ رفع.

37.   كنافا رفع؟ كرنا منجادى فاعل.

38.   فعل پا مانا؟ فعل پا بٓروفا لفظ قَالَ.

39.   تاندا رفع پا دڠن حركة أفا دڠن حروف؟ دڠن حروف.

40.   حروف أفا؟ واو.

41.   كنافا دى تانداي دڠن واو؟ كرنا بٓروفا أسماء الخمسة.

42.   أسماء الخمسة بيلا رفع أفا تاندا رفع پا؟ واو.

43.   بيلا نصب أفا تاندا نصب پا؟ ألف.

44.   بيلا جير أفا تاندا جير پا؟ ياء.

سٓبوتكان نظم پا؟

Wawu tandanya asma’ul khomsah rofa’ # nashobnya dengan alif khofadh dengan ya’

 

45.   هُمْ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

46.   إسم أفا؟ إسم ضمير.

47.   إسم ضمير معرب أفا مبنى؟ مبنى.

48.   محل إعراب پا أفا؟ جير.

49.   كنافا جير؟ كرنا منجادى مضاف إليه.

50.   مضاف إليه حكم پا أفا؟ جير.

51.   يڠ مٓڠٓجير كن أداله؟ مضاف.

52.   صَالِحٌ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

53.   مفرد، تثنية أفا جمع؟ مفرد.

54.   مشتق أفا جامد؟ مشتق.

55.   مشتق يڠ بروفا أفا؟ بروفا إسم فاعل.

56.   تَتَّقُونَ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

57.   فعل أفا؟ فعل مضارع.

58.   سٓتياف فعل هاروس أدا أفا؟ أدا فاعل.

59.   فاعل پا مانا؟ بٓروفا ضمير واو جمع.

60.   تَتَّقُونَ دى باچا أفا؟ رفع.

61.   كنافا رفع؟ كرنا تيداء كماسوكن عامل نصب دان عامل جزم.

62.   يڠ مٓرفع كن أداله؟ عامل معنوى تجَرُّد.

63.   تاندا رفع پا دڠن حركة أفا دڠن حروف؟ دڠن حروف.

64.   حروف أفا؟ تٓتاف پا نون.

65.   كنافا دى تانداي دڠن تٓتاف پا نون؟ كرنا بٓروفا أفعال الخمسة.

66.   أفعال الخمسة بيلا رفع أفا تاندا رفع پا؟ تٓتاف پا نون.

67.   بيلا نصب أفا تاندا نصب پا؟ مٓمبواڠ نون علامة رفع.

68.   بيلا جزم أفا تاندا جزم پا؟ مٓمبواڠ نون علامة رفع.

 سٓبوتكان نظم پا؟

Dan af’alul khomsah rofa’ tetapnya nun # nashob dan jazem tandanya membuang nun

 

وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ

 

1.    لفظ وَجَدَ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

2.    فعل أفا؟ فعل ماضى.

3.    سٓتياف فعل هاروس أدا أفا؟ أدا فاعل.

4.    فاعل پا مانا؟ تٓرسيمفان.

5.    مِن دُونِهِمْ؛ مِن كلمة أفا؟ كلمة حروف.

6.    حروف أفا؟ حروف جير.

7.    فٓڠملان پا أفا؟ مٓڠٓجيركن لفظ يڠ جاتوه ستلاه پا.

8.    لفظ أفا يڠ دى جير كن أوليه مِنْ؟ لفظ دُوْنِ.

9.    مِن دُونِهِمْ؛ كنافا دى باچا هِمْ؟ كرنا جاتوه ستله كسرة.

10.   هِمْ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

11.   إسم أفا؟ إسم ضمير.

12.   معرب أفا مبنى؟ مبنى.

13.   محل إعراب پا أفا؟ جير.

14.   كنافا محل جير؟ كرنا منجادى مضاف إليه.

15.   مضاف إليه حكم پا أفا؟ جير.

16.   يڠ مٓڠٓجير كن أداله؟ مضاف.

17.   مضاف پا بٓروفا لفظ أفا؟ لفظ دُوْنِ.

18.   امْرَأتَيْنِ كلمة أفا؟ كلمة إسم.

19.   معرب أفا مبنى؟ معرب.

20.   بٓر إعراب أفا؟ نصب.

21.   كنافا نصب؟ كرنا منجادى مفعول به.

22.   تاندا نصب پا دڠن حركة أفا دڠن حروف؟ دڠن حروف.

23.   حروف أفا؟ ياء.

24.   كنافا دى تانداي دڠن ياء؟ كرنا بٓروفا إسم تثنية.

25.   إسم تثنية بيلا رفع أفا تاندا رفع پا؟ ألف.

26.   بيلا نصب أفا تاندا نصب پا؟ ياء.

27.   بيلا جير أفا تاندا جير پا؟ ياء.

 سٓبوتكان نظم پا؟

Isim tatsniyah tanda rofa’nya alif # nashob, jer dengan ya’, belajar yang aktif

 

28.   لفظ تَذُودَانِ كلمة أفا؟ كلمة فعل.

29.   فعل أفا؟ فعل مضارع.

30.   سٓتياف فعل هاروس أدا أفا؟ أدا فاعل.

31.   فاعل پا مانا؟ بٓروفا ضمير الف تثنية.

32.   تَذُودَانِ دى باچا أفا؟ رفع.

33.   كنافا رفع؟ كرنا تيداء كماسوكن عامل نصب دان عامل جزم.

34.   يڠ مٓرفع كن أداله؟ عامل معنوى تجَرُّد.

35.   تاندا رفع پا دڠن حركة أفا دڠن حروف؟ دڠن حروف.

36.   حروف أفا؟ تٓتاف پا نون.

37.   كنافا دى تانداي دڠن تٓتاف پا نون؟ كرنا بٓروفا أفعال الخمسة.

38.   أفعال الخمسة إياله؟ فعل مضارع يڠ برتمو دڠن ألف تثنية، واو جمع دا ياء مؤنثة مخاطبة.

39.   أفعال الخمسة بيلا رفع أفا تاندا رفع پا؟ تٓتاف پا نون.

40.   بيلا نصب أفا تاندا نصب پا؟ مٓمبواڠ نون علامة رفع.

41.  بيلا جزم أفا تاندا جزم پا؟ مٓمبواڠ نون علامة رفع.

سٓبوتكان نظم پا؟

Dan af’alul khomsah rofa’ tetapnya nun # nashob dan jazem tandanya membuang nun


Baca juga:

Cara Mudah Baca Kitab Kuning Bag. 09 Bab Af'al Lengkap + Contoh


Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...