Langsung ke konten utama

Siapa Sajakah Orang-orang Yang Pernah Menguasai Dunia Sepenuhnya?

 

Ad-Dahhak Salah Satu Dari Empat Orang  Yang Pernah Menguasai Dunia Sepenuhnya


Telah menceritakan kepada kami Abu al-Hasan ‘Ali bin Ibrahim bin Hammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa bin Hammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Abi al-Sarri al-Azdi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisham bin Muhammad bin al-Sa’ib bin Bashir Abu al-Sa’ib al-Kalbi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Abu al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibn Abbas, radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Seluruh dunia tidak pernah dikuasai sepenuhnya kecuali oleh empat orang: dua orang yang beriman dan dua orang yang kafir.

Dua orang yang beriman adalah: Dzul-Qarnain dan Sulaiman bin Dawud ‘alaihimassalam.

Dua orang yang kafir adalah: Namrud bin Kan’an, yang membangun benteng (al-Majdal) di tanah Babil, dan Ad-Dhahhak bin ‘Adnan.

Orang-orang Azd berkata: dia termasuk dari mereka, dan dia adalah Ad-Dhahhak bin Nadhar bin Al-Azd.

Dia berada di bawah pengawasan ibn Himar bin Malik bin Nasr bin Al-Azd, yang dijadikan peribahasa oleh orang Arab dalam ungkapan mereka: ‘lebih kafir dari Himar, lebih keras dari Himar’.

Orang-orang asing (ajam) berkata: dia termasuk dari mereka, dan dialah yang mereka sebut Ad-Durwasf, dan dia berada di Dibawand.

Pada awal masa pemerintahannya, dia termasuk raja terbaik, paling adil, dan paling baik di antara mereka. Mereka hidup harmonis, tidak saling menindas, dan tidak ada yang menginginkan hak orang lain.

Tidak ada kediaman orang yang mulia yang lebih tinggi dari yang lainnya; semua rumah mereka saling berdekatan, dekat satu sama lain, dan rata serta sejajar.

Dan ketika sore tiba, mereka meninggalkan dagangan dan harta mereka di pasar, dibiarkan di tempatnya, tanpa kunci atau pintu pengaman. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang melakukan pencurian, pengkhianatan, atau penggelapan.

Mereka tidak memakan daging dari hewan sembelihan atau ternak; makanan mereka hanya dari lemak tumbuh-tumbuhan yang ditanam di bumi. Karena itu, mereka tidak pernah sakit dan tidak terserang penyakit.

Allah telah memberi mereka umur yang panjang dan berkah, maka Iblis mengirimkan pasukannya, yaitu syaitan-syaitan durhaka, untuk menjauhkan mereka dari kondisi mereka yang mulia itu.

Namun, para syaitan itu tidak mampu menyesatkan mereka atau menggoyahkan keadaan mereka.

Maka Iblis berkata: “Aku adalah ayah bagi umat manusia, aku berhak atas mereka sebagaimana aku berhak atas bapak mereka sebelumnya.’

Kemudian ia menjadikan dirinya dalam wujud seorang pemuda tampan.”

Lalu ia mendatangi pemilik pengurus makanan Dhahhak, dan bergabung dengan keluarga kerajaan tempat mereka berada, dan di sana ada juga orang lain dari Al-Ahqaf yang mengalami kehancuran, rumah-rumah mereka musnah, hanya nama dan kenangan mereka yang tersisa.

Ia berkata kepadanya:

“Aku ingin bergabung denganmu, menjadi pelayanmu, dan penghidupanku akan sederhana. Jika beban itu berat, aku akan menanggungnya untukmu. Lihatlah tempat-tempat yang ada di tanganku, pilihlah yang paling engkau sukai.”

Kemudian pengurus dapur menugaskan dan mempercayakan urusan itu kepadanya.

Dan dia berkata: “Tidak boleh ada seorang pun dari orang-orang sebelummu menjadi pilihan di sisimu dalam segala keadaan, dan jangan memberinya pekerjaan lebih dari yang mampu ia lakukan. Karena mereka adalah anak-anak raja, tidak terbiasa bekerja keras.”

Maka mereka menetapkannya untuk mencuci panci dan nampan, dan pekerjaannya cukup untuk menggantikan pekerjaan dua puluh pemuda dari mereka.”

Kemudian ia naik kedudukannya dari pekerjaan itu hingga ke bagian memasak, lalu ia memasak dalam satu hari sebanyak yang biasanya dimasak oleh satu kelompok dari mereka.

Ia mengerjakan semua pekerjaan, sampai akhirnya kedudukannya di antara mereka menjadi seperti seorang pemimpin, yang ditaati oleh mereka.

Maka mereka memberitahukan kepada pengurus makanan Dhahhak tentang keadaannya. Lalu ia memanggilnya, menanyainya, dan berbincang dengannya. Ia kagum dengan kecerdikan dan kepandaiannya berbicara.

Kemudian ia berpesan kepada wakilnya agar berbuat baik kepadanya, dan memperhatikannya dengan semua kebutuhan yang ia perlukan.

Ketika orang-orang telah percaya kepadanya dan merasa tenang terhadapnya, pada suatu hari ia berkata kepada pengurus makanan Dhahhak:

:

“Sesungguhnya kami menemukan dalam kitab-kitab orang-orang terdahulu dari generasi yang telah lampau keterangan tentang suatu jenis makanan yang biasa dimakan oleh para raja dan orang-orang pada masa-masa sebelum kita.

Makanan itu menumbuhkan daging (menguatkan tubuh), mengencangkannya, menambah lemak pada persendian, merampingkan perut, menguatkan punggung, menyenangkan jiwa, menguatkannya, dan menyegarkan hati.

Jika engkau menghendaki, aku akan menyiapkan makanan itu untuk raja. Jika ia menyukainya dan cocok baginya, maka diteruskan; tetapi jika tidak, aku akan meninggalkannya.”

Ia berkata: “Baiklah, lakukanlah.”

Lalu ia mengambil burung-burung kecil yang disebut an-nughrān (yaitu burung-burung kecil pematuk), kemudian mencabut bulu-bulunya, membelah perutnya, membuang isi perutnya, dan memotong kepala-kepalanya.

Kemudian ia meletakkannya dalam lesung, lalu menumbuknya hingga hancur, setelah itu memerasnya, lalu memasukkannya ke dalam kuali (panci) untuk dimasak.

Ketika raja memakannya, ia merasakan suatu rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dalam makanan apa pun yang pernah ia makan.

Maka ia berkata kepada pengurus hidangannya: “Celaka engkau! Aku belum pernah memakan makanan yang lebih lezat dan lebih nikmat daripada ini. Siapakah yang membuatnya?”

Ia menjawab: “Anak muda asing yang engkau lihat itu, yang mengaku bahwa ia berasal dari keluarga raja tertentu, ia mengatakan bahwa mereka menemukan sifat atau cara membuat makanan ini dalam kitab-kitab orang-orang terdahulu mereka.”

Raja berkata: “Katakan kepadanya agar ia menyiapkan seluruh makananku dengan cara seperti ini.”

Maka Abu Lubnī (yakni Iblis) kemudian mengambil berbagai jenis burung, baik yang besar maupun yang kecil, lalu ia memperlakukannya seperti cara sebelumnya.

Ia pun menghidangkannya kepada raja, lalu raja memakannya dan merasakan makanan yang belum pernah ia makan sebelumnya, bahkan lebih lezat dan lebih nikmat daripada yang pertama.

Maka Dhahhak memanggilnya dan berkata: “Celaka engkau! Makanan apa ini?”

Ia berkata:

“Wahai raja, sesungguhnya engkau selama ini hanya memakan air (kuah) dari makanan ini. Bagaimana kalau engkau memakan dagingnya?”

Raja berkata: “Berikanlah kepadaku.”

Maka ia pun memberinya berbagai macam daging dan lemak, dan penduduk kerajaannya pun mulai memakan daging dan lemak.

Ketika ia melihat hal itu, ia mengetahui bahwa ia telah berhasil menguasai dan mempengaruhi mereka.

Lalu ia datang kepada Dhahhak dan berkata:

“Wahai raja, sesungguhnya telah datang kepadaku seorang utusan dari keluargaku, yang memberitahukan kepadaku suatu urusan yang telah terjadi, sehingga aku harus pergi menemui mereka untuk mengurusnya.”

Kemudian ia kembali kepada raja. Maka raja memerintahkan agar diberikan kepadanya harta dan pakaian.

Ia berkata:

“Wahai raja, aku tidak membutuhkan sedikit pun dari semua ini. Sesungguhnya di negeri kami terdapat banyak harta seperti ini dan semisalnya, yang dahulu dimiliki oleh banyak raja, namun kini yang banyak itu menjadi sedikit bagi kami.

Aku tidak mempunyai kepentingan apa pun, karena telah sampai kepadaku kabar tentang negeriku bahwa ia berada dalam kekuatan, keamanan, dan keadaan yang baik.

Akan tetapi aku ingin raja memuliakanku dengan suatu kemuliaan, yang dengannya kedudukanku menjadi tinggi di seluruh kerajaanmu.’

Raja berkata: “Apakah itu?”

Ia berkata:

“Aku ingin mencium bagian di antara kedua bahumu, wahai raja.”

Pada waktu itu orang-orang belum mencium tangan para raja, melainkan mencium bagian di antara kedua bahu mereka sebagai bentuk penghormatan.

Maka ia pun mencium di antara kedua bahu raja, kemudian ia keluar dan pergi.

Sejak saat itu orang-orang menjadi terbiasa dan sangat gemar memakan daging.

Maka mereka mulai saling menzalimi, saling memutuskan hubungan, dan saling dengki.

Lalu terjadilah kejahatan di antara mereka, dan mereka pun terjerumus kepada pengkhianatan dan pencurian.

Penyakit dan kematian pun menyebar di tengah mereka.

Kemudian tumbuhlah seekor ular di antara kedua bahu raja, tepat di tempat yang sebelumnya dicium itu.

Ular itu menghalanginya dari makan, minum, tidur, dan ketenangan, karena ia terus berdesis di telinganya dan melilit di lehernya.

Ketika ia melihat hal itu, ia memerintahkan agar ular itu dipotong. Namun setelah dipotong, di tempatnya justru tumbuh dua ekor ular.

Maka ia pun mendapatkan seluruh penderitaan dari keduanya.

Karena itu ia tidak mau lagi memotong keduanya, sebab ia khawatir jika dipotong akan menjadi empat ekor.

Maka ketika Iblis telah berhasil menguasai mereka sebagaimana yang ia inginkan, dan ketika Allah Azza wa Jalla hendak memberi balasan kepada mereka, serta menimpa Dhahhak dengan musibah yang telah menimpanya,

Iblis datang lagi dalam rupa seorang lelaki tua yang sangat tua. Lalu ia berkeliling di berbagai negeri sebagai tabib.

Ia tidak mengobati seseorang pun kecuali orang itu sembuh dengan izin Allah.

Sampai akhirnya tersebarlah kabar tentang dirinya kepada Dhahhak.

Maka Dhahhak memanggilnya, lalu memperlihatkan kepadanya dua ekor ular itu.

Ia berkata:

“Ini adalah perbuatan pemuda yang dahulu mencium di antara kedua bahumu. Setiap kali kedua ular ini dipotong, justru menjadi semakin banyak dan semakin bertambah.”

Lalu raja berkata kepada kepala pasukan penjaganya:

“Kirimlah orang ke negerinya agar ia dibawa kepadaku.”

Orang itu menjawab:

“Jauh sekali, jauh sekali! Dia adalah seorang penyihir, dan tidak ada seorang pun di muka bumi yang lebih ahli sihir darinya.

Tempat tinggalnya hanyalah di lautan, padang pasir, gunung-gunung, dan lembah-lembah, sehingga tidak mungkin seseorang dapat menjangkaunya.”

Maka raja berkata:

“Apakah tidak ada cara untuk mengatasi dua ular ini?”

Ia berkata:

“Ada. Jadikan rezeki masing-masing dari kedua ular itu setiap hari adalah otak seorang manusia. Jika demikian, keduanya akan menjadi tenang dan diam, sehingga engkau dapat beristirahat dari gangguan mereka sampai keesokan harinya, yaitu pada waktu yang sama ketika makanan mereka diberikan.”

Maka setiap hari raja memerintahkan untuk membunuh dua orang dari para tahanan di penjara. Mereka dikeluarkan lalu diberikan otaknya kepada kedua ular itu.

Akibatnya kematian pun dengan cepat menyebar di kalangan penduduk negeri-negeri Barat (Maghrib), Babil, dan Persia, serta di seluruh wilayah tersebut, baik di kalangan bangsa Arab maupun non-Arab (Ajam).

Suatu ketika seorang lelaki dari Rayy (kota Ray) pernah lewat sebagai seorang pedagang. Lalu ia berkata kepada raja:

“Wahai raja, sungguh engkau telah membinasakan penduduk kerajaanmu sendiri karena perkara ini. Padahal wilayah kerajaanmu masih luas ke arah timur, dan sebagian besar bumi Allah dipenuhi tengkorak-tengkorak manusia.

Seandainya engkau pergi ke Rayy, maka negeri pegunungan akan berada di belakangmu, sedangkan Khurasan berada di hadapanmu, dan bangsa Turki serta berbagai bangsa lainnya akan berada di depan dan di belakangmu.”

Maka raja Dhahhak memindahkan kekuasaannya ke wilayah itu (atas saran orang dari Rayy tersebut).

Lalu ia pun berangkat dan terus memerintahkan agar setiap hari dua orang dibunuh, hingga akhirnya ia sampai ke Rayy.

Kemudian ia menugaskan raja Dāmāwand (Damavand) untuk mengurus perkara itu.

Namun raja Damavand menyembelih seekor kambing dan membunuh satu orang saja, lalu mencampur otak keduanya dan memberikannya kepada kedua ular itu.

Adapun di bahu kanan raja terdapat seekor ular, dan di bahu kirinya juga terdapat seekor ular.

Maka apabila pagi hari tiba dan ia tidak segera memberikan makanan kepada kedua ular itu, keduanya akan menyerang wajahnya dan menggigitnya.

Ia biasanya duduk di majelisnya, dan majelisnya memiliki dua lengan baju yang panjang.

Kepala salah satu ular berada di salah satu lengan baju, dan kepala ular yang lainnya berada di lengan baju yang lain.

Karena itu setiap hari dua orang disembelih untuknya.

Kemudian otak masing-masing dari dua orang itu dihancurkan (diambil), lalu diberikan kepada kedua ular tersebut: yang satu kepada ular ini dan yang satu kepada ular yang itu.

Maka keduanya menjilat dan memakannya, dan setelah keduanya makan, mereka menjadi tenang.

Namun ketika pembunuhan terhadap manusia semakin banyak dan cepat, Allah Azza wa Jalla mengutus seorang nabi kepadanya.

Nabi itu datang menemuinya. Raja itu biasa duduk pada waktu menjelang petang, lalu berseru: “Siapa yang mempunyai keluhan atau kezaliman yang ingin diadukan?”

Maka nabi tersebut datang kepadanya, lalu berkata:

“Wahai orang yang paling zalim di antara orang-orang zalim! Engkau menzalimi manusia dan membunuh mereka, kemudian engkau berseru: ‘Siapa yang mempunyai keluhan karena kezaliman?

Aku datang mengajakmu kepada Allah dan iman kepada-Nya, dan aku akan menghilangkan apa yang sedang menimpamu.”

Raja menjawab: “Baik.”

Ketika tiba waktu memberi makan kedua ular itu, ia memerintahkan agar seekor kambing disembelih, dan memerintahkan pula membunuh seorang laki-laki yang memang telah wajib atasnya hukuman had dari Allah عز وجل.

Lalu diambil otak kambing dan otak manusia itu, kemudian dicampur keduanya, lalu dibagi menjadi dua bagian dan diberikan kepada kedua ular tersebut.

Maka kedua ular itu menjilat dan memakannya, dan setelah makan keduanya menjadi tenang.

Maka ketika hari berikutnya tiba, ia menyembelih dua ekor kambing, dan tidak membunuh seorang manusia pun.

Kemudian ia memberikan otak kedua kambing itu kepada kedua ular tersebut.

Lalu kedua ular itu menerimanya (memakannya), dan keduanya pun menjadi tenang.

Maka nabi itu berkata kepadanya:

“Sungguh Allah telah menghilangkan darimu sebab yang dahulu membuatmu membunuh manusia-manusia itu. Sekarang engkau cukup memberi makan kedua ular itu dengan kambing saja, engkau tidak perlu lagi membunuh manusia.

Maka berimanlah kepada Allah عز وجل, sebagaimana engkau telah berjanji kepadaku.”

Namun raja itu mendurhakainya dan menolak.

Maka nabi tersebut mengikatnya dengan besi dengan ikatan yang sangat kuat, lalu memerintahkan gunung, maka gunung itu pun terbelah untuknya.

Kemudian raja itu digantung di dalamnya dalam keadaan terbalik, lalu gunung itu menutup kembali di atasnya.

Ia berkata:

“Maka penduduk daerah itu masih terus mendengar pada sebagian waktu suara rintihan (erangan) darinya, dan kadang-kadang mereka juga melihat asap keluar dari tempat itu.”


Abu al-Mundzir berkata:

“Orang-orang Persia mengklaim bahwa dia berasal dari golongan mereka, sedangkan orang-orang Arab juga mengklaim bahwa dia termasuk dari mereka.”

Abu Ja‘far Muhammad bin Abi as-Sari berkata:

Maka aku bertanya kepada Hisyam:

Orang yang menisbatkannya kepada bangsa Arab, bagaimana mereka menisbatkan nasabnya?”

Ia berkata: “Mereka mengatakan: adh-Dhahhak bin al-Ahyum bin al-Azd.”


Abu al-Mundzir berkata:

“Dan juga dikatakan bahwa ketika ia semakin cepat dan banyak membunuh manusia, maka Allah Azza wa Jalla mengutus kepadanya dua malaikat.”

Maka kedua malaikat itu mengikatnya dengan kuat menggunakan besi, lalu membawanya naik ke Gunung Dabāwand (Damavand).

Di sana ia diikat di puncak gunung itu.

Gunung tersebut mengeluarkan asap seperti asap api pada malam dan siang hari.

Dan tidak ada seorang manusia pun yang mampu naik ke puncak gunung itu, kecuali para tukang sihir.

Hal itu akan terus berlangsung hingga Allah Azza wa Jalla mengizinkan keluarnya dia, dan peristiwa itu termasuk tanda-tanda Hari Kiamat.

Maka dikatakan bahwa dua orang laki-laki naik ke puncak gunung itu, lalu mereka mendapatkan suatu harta, kemudian mereka berselisih tentang harta tersebut.

Lalu keduanya datang kepadanya (orang yang terikat di gunung itu) dan berkata:

“Putuskanlah perkara di antara kami.”

Maka ia berkata kepada keduanya:

‘Mintalah keputusan kepada dua orang yang telah mengikatku (yakni dua malaikat yang membelengguku).”

Keduanya berkata:

“Sesungguhnya keduanya hanyalah dua buah batu.”

Ketika ia mengetahui hal itu, maka ia bersandar pada besi yang mengikatnya, padahal besi itu sudah menipis dan melemah.

Lalu ia memutuskan (rantai besi) itu, dan yang pertama kali menyerang kedua orang laki-laki itu adalah kedua ular tersebut, kemudian keduanya memakan mereka berdua.

Kemudian ia turun ke bumi, lalu manusia mengalami penderitaan yang sangat berat darinya, hingga akhirnya Allah Azza wa Jalla membinasakannya.


Dia adalah raja pertama yang dipasang tirai (hijab) untuknya, serta dibuatkan baginya mahkota yang dihiasi mutiara, yakut, dan zamrud.

Dan dialah orang pertama yang ditenunkan untuknya kain dibāj (sutra mewah) dengan benang emas, dan orang pertama yang menetapkan perayaan Nairuz (Nowruz) dan مهرجان (Mehrjān).

Dia adalah seorang yang mandul dan tidak dapat mempunyai anak, sehingga tidak dilahirkan anak baginya.

Dan ia memiliki syair yang panjang tentang hal itu, yang di dalamnya ia menggambarkan dirinya dan kerajaannya.

Dan di dalamnya ia juga menyebutkan para raja yang akan datang setelahnya, hingga ia menyebut Nabi ﷺ, serta sifat-sifat beliau, kekuasaannya, kemunculannya, dan kemenangan (kejayaan) umat beliau atas seluruh raja dan sepanjang masa.

Dia juga menyebutkan sebab-sebab terjadinya berbagai fitnah (kekacauan) yang akan terjadi setelahnya.

Dan tidak ada yang dihafal (tersisa) dari syair itu kecuali beberapa bait ini, yang di dalamnya terdapat pembenaran bagi orang yang mengatakan bahwa dia adalah ad-Dahhāk bin ‘Adnān, dan bahwa ia bukan berasal dari bangsa ‘Ajam (non-Arab/Persia) dan bukan pula dari suku al-Azd.


أنا ابن عدنان المنتمي # صعدا إلى النبي الذي له الكتب

Aku adalah anak putra ‘Adnān yang memiliki nasab yang jelas, yang naik (tersambung nasabnya) sampai kepada nabi yang memiliki kitab-kitab (yang menerima wahyu)


سميت في المهد إذ تسميت # ضحاكا وكذا الأسماء يقتضب

Aku diberi nama ketika masih dalam buaian dengan nama ‘Dhahhāk’, dan begitulah nama-nama biasanya diberikan (ditetapkan)


لست بضحاكهم ولا غزل # صب ولا من قبائل اللعب

Aku bukanlah seperti orang yang banyak tertawa di antara mereka, bukan pula seorang pecinta yang dimabuk asmara, dan bukan termasuk golongan orang yang suka bermain-main


لكنني السيد القلمس # لم يخلق مثلي قبله ولم يكن عرب

Tetapi aku adalah tuan yang agung dan kuat; tidak pernah diciptakan sebelumnya orang seperti diriku, dan tidak pula ada di kalangan bangsa Arab


الملك الباذخ المعمر # لم يقصر قبلي على أمري حجب

Akulah raja yang sangat agung dan berumur panjang; sebelum aku, tidak pernah dipasang tirai-tirai penghalang terhadap perintahku (atau di hadapanku)


يضع قبل صيغتي التاج # بالياقوت فيه المرجان والذهب

Diletakkan di hadapanku mahkota, yang dihiasi dengan yakut, di dalamnya terdapat marjan dan emas


ولم يشب الديباج بالذهب # العقيان حتى يكاد يلتهب

Dan kain sutra belum pernah dicampuri dengan emas murni hingga hampir tampak menyala (karena kilauannya)


أملك ما بين خافقي بلد الله # فذلك من منه سبب

Aku menguasai seluruh negeri Allah yang berada di antara dua penjuru timur dan barat; dan itu terjadi karena suatu sebab dari karunia-Nya


يا ويح ملكي ملكا قهر # ت به الناس جميعا لو أن لي عقب

Aduhai kerajaanku! Suatu kerajaan yang dengan itu aku telah menundukkan seluruh manusia; seandainya aku mempunyai keturunan


Ia (perawi)  berkata: “Adh-Dhahhāk menguasai dunia sepenuhmya selama seribu tahun.”


Baca juga: 

Kisah Nabi Khidir Dan Seorang Pengemis

Suami Takut Istri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة Bahasa Jawa dan Indonesia

الا لا تنال العلم الا بستة TERJEMAH ALAA LAA TANULUL ILMA ILLA BISITTATIN (Bahasa Jawa dan Indonesia) SYARAT-SYARAT MENCARI ILMU  اَلاَ لاَتَنَــــالُ الْعِـــلْمَ اِلاَّ بِســــــِتَّةٍ ۞ سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ ELINGO DAK HASIL ILMU ANGING NEM PERKORO # BAKAL TAK CERITAKKE KUMPULE KANTI PERTELO  ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ ۞ وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ  RUPANE LIMPAT LUBO SOBAR ONO SANGUNE # LAN PIWULANGE GURU LAN SING SUWE MANGSANE Ingatlah..... kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan 6[enam] syarat, yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk ustadz dan lama waktunya. MENCARI TEMAN  عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـــــارِنِ يَقْتَــــــــــدِيْ JO TAKON SONGKO WONG SIJI TAKONO KANCANE # KRONO SAKTEMENE KONCO MANUT KANG NGANCANI فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـــــهُ سُــرْعَةً ۞ فَاِنْ كَانَ ذَاخَي...

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU FASAL 5 فصل فى الجد والمواظبة والهمة FASAL V Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur ثم لا بد من الجد والمواظبة والملازمة لطالب العلم، وإليه الإشارة فى القرآن بقوله تعالى: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا Kemudian bagi para pelajar harus bersungguh-sungguh, tekun dan gigih dalam belajar. Hal ini telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Ta’ala; “ Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sunggu h”. (Qs. Maryam; 12). Dan firman Allah Ta’ala; “ Dan Orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami ”. (Qs. Ankabut; 69). وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن قرع الباب ولج ولج. Dikatakan; Barangsiapa bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu ia pasti mendapatkan, dan barangsiapa yang mengetuk pintu dan maju pantang mundur, ia pasti dapat masuk. وقيل: بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى . Dan dikatakan;...

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu

KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU FASAL 4 فصل فى تعظيم العلم وأهله FASAL IV Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره . Ketahuilah bahwa seorang pelajar tidak akan mendapatpakan ilmu, kalau pun mendapatkan ia tidak akan dapat mengambil manfa’atnya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu (‘ulama’), memuliakan guru dan menghormatinya. قيل: ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة والتعظيم. وقيل: الحرمة خير من الطاعة، ألا ترى أن الإنسان لا يكفر بالمعصية، وإنما يكفر بترك الحرمة. ومن تعظيم العلم تعظيم الأستاذ. Dikatakan; Tidaklah berhasil orang yang berhasil itu melainkan karena ia menghormati ilmu dan ahli ilmu, dan tidaklah gagal orang yang gagal itu melainkan karena ia tidak menghormati dan tidak mengagungkan ilmu dan ahli ilmu. Dan dikatakan; Hormat itu lebih baik daripada ta’at. Apakah kamu tidak mengerti bahwa seorang manusia tidaklah menjadi kufur s...

Memulai Belajar, Ukuran Dan Urut-Urutannya

KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU FASAL 6 فصل فى بداية السبق وقدره وترتيبه FASAL VI Memulai Belajar, Ukuran Dan Urut-Urutannya كان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله يوقف بداية السبق على يوم الأربعاء، وكان يروى فى ذلك حديثا ويستدل به ويقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من شيئ بدئ يوم الأربعاء إلا وقد تم Guru kami Syaikhul Islam Burhanuddin rahimahullahu Ta’ala kebiasaannya memulai belajar pada hari Rabu. Beliau meriwayatkan hadits tentang hal itu dan menjadikan hadits tersebut sebagai landasannya; beliau berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Tiada sesuatu pun yang di mulai pada hari Rabu kecuali akan menjadi sempurna”. وهكذا كان يفعل أبى ابو حنيفة، وكان يروى هذا الحديث عن أستاذه الشيخ الإمام الأجل قوام الدين أحمد بن عبد الرشيد رحمه الله Demikian pula yang dikerjakan Abu Hanifah. Dan beliau meriwayatkan hadits ini dari gurunya Asy-Syaikh Al-Imam Al-Ajall Qawwamuddin Ahmad bin ‘Abdur Rasyid rahimahullahu Ta’ala. وسمعت مم...

KEUTAMAAN BULAN RAJAB YANG DI AGUNGKAN KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJIS 11

KEUTAMAAN BULAN RAJAB YANG DI AGUNGKAN KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJIS 11 Surat Ali ‘Imran 133 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (آل عمران ١٣٣) “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” .(Qs. Ali ‘Imran 133). وَسَارِعُوا “Dan bersegeralah kamu” , Bersegeralah dan menghadaplah. إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ “ kepada ampunan dari Tuhanmu” , Kepada ‘amal yang berhak mendapatkan ampunan seperti Islam, taubat dan ikhlash. وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ “ dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi” , Disebutkannya bumi karena faidah Mubalaghoh (untuk menunjukkan sesuatu yang berlebih-lebihan), didalam menyifati luas sorga sebagai perumpamaan, karena bumi lebih rendah dibawah panjang. Diriwayatkan dari Ibnu ‘A...