Pandangan Imam Al-Isfarayini tentang Rafidhah: Terjemahan dan Analisis Kritik terhadap Klaim-Klaim Imamiyah

Terjemahan dan penjelasan pandangan Imam Al-Isfarayini mengenai Rafidhah dalam Kitab At-Tabshir fi ad-Din beserta analisis isinya

Pendahuluan

Kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah klasik sering memuat kritik terhadap berbagai kelompok yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam menurut perspektif penulisnya. Salah satunya adalah pembahasan mengenai kelompok Rafidhah yang terdapat dalam At-Tabṣīr fi ad-Dīn. Dalam bagian ini, Imam Ṭāhir al-Isfarayini menyampaikan penilaiannya terhadap dasar-dasar argumentasi yang menurutnya digunakan oleh sebagian kelompok Rafidhah, sekaligus menukil beberapa kisah dan perkataan ulama yang berkaitan dengan pembahasan tersebut.

Tulisan ini merupakan terjemahan dan penjelasan isi teks tersebut sebagai bagian dari kajian sejarah pemikiran Islam. Isi pembahasan mencerminkan pandangan penulis kitab dan perlu dipahami dalam konteks polemik teologis pada masanya.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fi ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis

Ṭāhir bin Muḥammad bin Aḥmad bin Muḥammad al-Isfarāyinī (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)

Tema

Kritik Imam Al-Isfarayini terhadap Klaim-Klaim Rafidhah dan Penyandaran Pendapat kepada Ja'far ash-Shadiq

Terjemahan Lengkap

Ketahuilah bahwa pendapat-pendapat yang telah kami riwayatkan dari kelompok Rafidhah itu sebenarnya termasuk perkara yang kerusakannya tidak memerlukan dalil untuk membantahnya. Sebab, orang yang berakal sehat dengan akal yang lurus sudah dapat mengetahui rusaknya pendapat-pendapat tersebut dan mengingkarinya.

Tidak mungkin pendapat-pendapat itu muncul dari mereka kecuali karena mereka memang bermaksud menampakkan apa yang selama ini mereka sembunyikan berupa ilhad (penyimpangan dari agama) dan keburukan, dengan berlindung di balik kecintaan kepada sebagian tokoh Ahlul Bait. Selain itu, mereka tidak memiliki dalil yang dapat dijadikan sandaran bagi berbagai keyakinan mereka, sementara pendapat-pendapat mereka hanyalah cerita-cerita khayalan yang tidak memiliki dasar.

Bahkan, ketika mereka melihat Al-Jahizh sangat produktif menulis kitab untuk berbagai kelompok, mereka meminta kepadanya agar menulis sebuah kitab khusus untuk mereka.

Al-Jahizh berkata kepada mereka,

"Aku tidak mengetahui alasan atau hujah apa yang kalian miliki sehingga aku dapat menyusunnya dan mengembangkannya."

Mereka menjawab,

"Kalau begitu, tunjukkan kepada kami sesuatu yang dapat kami jadikan pegangan."

Al-Jahizh berkata,

"Aku tidak melihat kalian memiliki landasan apa pun. Jika kalian ingin mengatakan sesuatu yang kalian anggap sebagai pendapat Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, aku tidak mengetahui alasan apa yang dapat kalian jadikan sandaran selain sekadar ucapan itu sendiri."

Maka mereka tetap berpegang pada kebodohan dan kedunguan mereka dengan menjadikan hal itu sebagai pegangan. Setiap kali mereka ingin menciptakan suatu bid'ah atau mengada-adakan suatu kebohongan, mereka menisbahkannya kepada tokoh mulia, Ja'far ash-Shadiq, padahal beliau suci dari semua tuduhan tersebut dan berlepas diri dari semua pendapat mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Bahkan dinukil dari Ja'far ash-Shadiq bahwa beliau pernah berkata:

"Hampir saja kaum Rafidhah hendak menolong Ali, tetapi mereka justru menisbahkan kelemahan kepadanya. Hampir saja kaum Mu'tazilah hendak mengesakan Tuhan mereka, namun mereka justru mempersekutukan-Nya. Mereka ingin menyatakan bahwa Tuhan mereka Mahaadil, tetapi akhirnya mereka malah menisbahkan kezaliman kepada-Nya."

Atau kurang lebih dengan makna seperti itu.

Artikel Pengembangan

Kutipan ini memperlihatkan metode polemik yang banyak ditemukan dalam karya-karya ilmu kalam abad pertengahan. Imam al-Isfarayini berusaha menunjukkan bahwa menurut pandangannya, berbagai keyakinan yang ia nisbatkan kepada Rafidhah tidak memiliki landasan argumentasi yang kuat. Oleh karena itu, beliau menilai bahwa pendapat-pendapat tersebut lahir bukan dari dalil syariat maupun akal, melainkan dari keyakinan yang telah dibangun sebelumnya.

Menariknya, penulis juga mengisahkan dialog dengan Al-Jahizh. Kisah ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, menurut penulis, kelompok tersebut kesulitan memberikan dasar ilmiah bagi keyakinan mereka. Dalam kisah tersebut, Al-Jahizh digambarkan tidak menemukan argumentasi yang dapat dijadikan kerangka penulisan bagi mazhab tersebut.

Selain itu, penulis menyoroti praktik menisbahkan berbagai pendapat kepada Imam Ja'far ash-Shadiq. Dalam pandangannya, banyak ajaran yang kemudian dikaitkan kepada beliau padahal beliau sendiri tidak pernah mengajarkannya. Oleh karena itu, penulis menegaskan bahwa Ja'far ash-Shadiq berlepas diri dari berbagai keyakinan tersebut.

Perlu dipahami bahwa seluruh uraian di atas merupakan bagian dari karya polemik akidah yang ditulis dari perspektif Ahlus Sunnah pada masa klasik. Dalam kajian sejarah pemikiran Islam modern, berbagai kelompok Islam juga memiliki literatur dan penjelasan masing-masing mengenai keyakinan mereka. Karena itu, pembaca sebaiknya memahami teks ini sebagai representasi pandangan penulis kitab dalam konteks sejarah dan perdebatan teologis pada zamannya.

Hikmah

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah:

  • Kajian akidah klasik banyak diwarnai dialog dan bantahan antarkelompok yang berkembang pada masa itu.
  • Menisbahkan suatu pendapat kepada seorang ulama memerlukan bukti yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Kejujuran ilmiah menuntut agar setiap pendapat disandarkan kepada sumber yang benar, bukan sekadar klaim.
  • Membaca kitab-kitab klasik perlu disertai pemahaman terhadap konteks sejarah, tujuan penulisan, dan metode yang digunakan oleh penulisnya.

Penutup

Pembahasan Imam Ṭāhir al-Isfarayini dalam At-Tabṣīr fi ad-Dīn menggambarkan kritik tajam terhadap kelompok Rafidhah sebagaimana dipahami dalam tradisi akidah Ahlus Sunnah klasik. Melalui uraian, kisah, dan kutipan yang beliau bawakan, penulis berusaha menjelaskan alasan mengapa ia menolak berbagai keyakinan yang dinisbatkan kepada kelompok tersebut. Bagi pembaca masa kini, teks ini penting dipahami sebagai bagian dari sejarah intelektual Islam sekaligus sebagai dokumentasi perdebatan teologis yang berkembang pada masa-masa awal perkembangan ilmu kalam.

Teks Arab :

وَاعْلَم أَن هَذِه الْمقَالة الَّتِي رويناها عَن الروافض لَيست مِمَّا يسْتَدلّ على فَسَادهَا فَإِن الْعَاقِل ببديهة الْعقل يعلم فَسَادهَا وينكر عَلَيْهَا فَلَا يُمكن أَن تحمل مِنْهُم هَذِه المقالات إِلَّا على أَنهم قصدُوا بهَا إِظْهَار مَا كَانُوا يضمرونه من الْإِلْحَاد وَالشَّر بموالاة قوم من أَشْرَاف أهل الْبَيْت وَإِلَّا فَلَيْسَ لَهُم دَلِيل يعتمدون عَلَيْهِ ويجعلون خرافات مقالاتهم إِلَيْهِ حَتَّى أَنهم لما رَأَوْا الجاحظ يتوسع فِي التصانيف ويصنف لكل فريق قَالَت لَهُ الروافض صنف لنا كتابا فَقَالَ لَهُم لست أَدْرِي لكم شُبْهَة حَتَّى أرتبها واتصرف فِيهَا فَقَالُوا لَهُ إِذا دللتنا على شَيْء نتمسك بِهِ فَقَالَ لَا أرى لكم وَجها أَلا أَنكُمْ إِذا أردتم أَن تقولواشيئا مِمَّا تزعمونه أَنه قَول جَعْفَر بن مُحَمَّد الصَّادِق لَا اعرف لكم سَببا تستندون إِلَيْهِ غير هَذَا الْكَلَام فَتمسكُوا بحمقهم وغباوتهم بِهَذِهِ السوءة الَّتِي دلهم عَلَيْهَا وَكلما أَرَادوا أَن يختلقوا بِدعَة أَو يخترعوا كذبة نسبوها إِلَى ذَلِك السَّيِّد الصَّادِق وَهُوَ عَنْهَا منزه وَعَن مقالتهم فِي الدَّاريْنِ بَرِيء حَتَّى حكى عَنهُ إِنَّه قَالَ كَادَت الروافض أَن تنصر عليا فنسبته إِلَى الْعَجز وكادت الْمُعْتَزلَة أَن توَحد رَبهَا فشركته وأرادت أَن تعدل رَبهَا فجورته أَو لفظ هَذَا مَعْنَاهُ

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Hadis tentang Rafidhah di Akhir Zaman: Terjemahan,Penjelasan, dan Kajian Riwayat dalam Kitab At-Tabshir fi ad-Din

Kelompok Hasyamiyah Menurut Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn:Kritik terhadap Paham Tasybih dan Sikap terhadap Sahabat Nabi

Khawarij dalam Sejarah Islam: Dua Pokok Keyakinan danAwal Munculnya 20 Golongan Menurut Kitab At-Tabshir fi ad-Din

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Al-Muhakkimah Al-Ula: Awal Munculnya Khawarij dan Sejarah Kelompok Haruriyah Menurut At-Tabshir fi ad-Din

Pendahuluan Setelah menjelaskan pokok-pokok keyakinan Khawarij, penulis At-Tabshir fi ad-Din mulai menguraikan satu per satu cabang kel...