Al-Muhakkimah Al-Ula: Awal Munculnya Khawarij dan Sejarah Kelompok Haruriyah Menurut At-Tabshir fi ad-Din

Mengenal Al-Muhakkimah Al-Ula, cikal bakal Khawarij, asal-usul Haruriyah, serta peristiwa tahkim dalam sejarah Islam menurut At-Tabshir fi ad-Din

Pendahuluan

Setelah menjelaskan pokok-pokok keyakinan Khawarij, penulis At-Tabshir fi ad-Din mulai menguraikan satu per satu cabang kelompok tersebut. Golongan pertama yang dibahas adalah Al-Muhakkimah Al-Ula, yaitu kelompok yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya Khawarij setelah peristiwa tahkim pada Perang Shiffin.

Dalam uraian ini dijelaskan bagaimana slogan "Lā Ḥukma Illā Lillāh" (Tidak ada hukum selain hukum Allah) pertama kali dikumandangkan, kemudian berkembang menjadi gerakan yang memisahkan diri dari pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه hingga akhirnya dikenal dengan nama Haruriyah.

Sumber Rujukan

Kitab: التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين (At-Tabshir fi ad-Din wa Tamyiz al-Firqah an-Najiyah 'an al-Firaq al-Halikin)

Penulis: Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini (أبو المظفر طاهر بن محمد الإسفراييني)

Tema

Sejarah Kemunculan Al-Muhakkimah Al-Ula sebagai Golongan Pertama Khawarij

Terjemahan Lengkap

Al-Muhakkimah Al-Ula

Golongan pertama dari Khawarij

Golongan pertama dari Khawarij adalah Al-Muhakkimah Al-Ula.

Orang pertama yang mengucapkan slogan "Tidak ada hukum selain hukum Allah" menurut sebagian riwayat adalah Urwah bin Hudair, saudara Mirdas Al-Khariji. Ada pula yang mengatakan bahwa orang pertama yang mengucapkannya adalah Yazid bin Ashim Al-Muharibi, sedangkan pendapat lain menyebutkan bahwa ia adalah seorang laki-laki dari Bani Yasykur yang ikut bersama Ali رضي الله عنه dalam Perang Shiffin.

Ketika kedua belah pihak sepakat melakukan tahkim (arbitrase), orang tersebut menunggang kudanya lalu menyerang pasukan Ali dan membunuh seorang di antara mereka. Setelah itu ia menyerang pasukan Muawiyah dan membunuh seorang dari pihak tersebut. Kemudian ia berseru di hadapan kedua pasukan bahwa dirinya berlepas diri dari Ali dan Muawiyah serta keluar dari keputusan mereka. Setelah itu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hamdan.

Sekelompok orang yang sebelumnya berada di pihak Ali dalam Perang Shiffin mendengar ucapan tersebut. Syubhat itu kemudian tertanam dalam hati mereka. Mereka kembali bersama Ali ke Kufah, namun setelah itu memisahkan diri dan pergi menuju Harura.

Jumlah mereka ketika itu mencapai sekitar dua belas ribu orang yang siap berperang. Dari sinilah Khawarij kemudian dikenal dengan sebutan Haruriyah, karena berkumpul di daerah Harura.

Pemimpin mereka pada waktu itu adalah Abdullah bin Al-Kawwa' dan Syabats bin Rib'i.

Ali رضي الله عنه kemudian mendatangi mereka dan berdialog dengan mereka. Dalam perdebatan tersebut, Ali berhasil mengalahkan hujah mereka. Setelah itu Abdullah bin Al-Kawwa' bersama sekitar seribu orang kembali bergabung dengan Ali, sedangkan sisanya tetap bertahan pada keyakinan mereka.

Mereka kemudian menuju Nahrawan dan mengangkat dua orang sebagai pemimpin mereka, salah satunya adalah Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi.

Artikel Pengembangan

Al-Muhakkimah Al-Ula dikenal dalam sejarah sebagai kelompok pertama yang memisahkan diri dari barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah terjadinya peristiwa tahkim pada tahun 37 H. Nama Al-Muhakkimah berasal dari slogan yang mereka gunakan, yaitu "Lā Ḥukma Illā Lillāh" yang secara harfiah berarti "Tidak ada hukum selain hukum Allah."

Menurut catatan sejarah, mereka menolak proses arbitrase antara kubu Ali dan Muawiyah karena menganggap penunjukan manusia sebagai hakim dalam perselisihan politik merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah. Dari penolakan tersebut lahirlah gerakan yang kemudian berkembang menjadi berbagai cabang Khawarij.

Penulis kitab menjelaskan bahwa sebagian pengikut Ali yang semula menerima tahkim kemudian berubah sikap setelah terpengaruh oleh propaganda tersebut. Mereka keluar menuju Harura, sebuah wilayah dekat Kufah, sehingga dikenal dengan nama Haruriyah.

Salah satu aspek penting dalam kisah ini adalah upaya Khalifah Ali untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog. Beliau mendatangi kelompok tersebut dan mengemukakan argumentasi yang menurut penulis berhasil melemahkan hujah mereka. Sebagian anggota kembali bergabung dengan pemerintahan Ali, sedangkan kelompok lainnya tetap bertahan hingga akhirnya berpindah ke Nahrawan.

Peristiwa Nahrawan kemudian menjadi salah satu episode penting dalam sejarah Islam awal karena menandai konfrontasi antara pemerintahan Khalifah Ali dan kelompok Khawarij yang terus berkembang menjadi berbagai sekte.

Sebagai karya ilmu kalam klasik, uraian ini mencerminkan perspektif penulis dalam menjelaskan asal-usul Khawarij. Oleh karena itu, pembaca perlu memahaminya sebagai bagian dari khazanah sejarah pemikiran Islam yang menggambarkan cara para ulama terdahulu mendokumentasikan kemunculan berbagai aliran.

Hikmah

  • Perbedaan pendapat yang tidak disertai pemahaman yang utuh dapat berkembang menjadi perpecahan besar.
  • Dialog ilmiah merupakan cara yang ditempuh para ulama dan pemimpin untuk meluruskan kesalahpahaman sebelum menggunakan langkah lain.
  • Slogan yang tampak benar dapat dipahami secara keliru apabila dilepaskan dari konteks syariat secara menyeluruh.
  • Sejarah Khawarij menjadi pelajaran tentang bahaya sikap ekstrem dalam memahami dalil agama.
  • Mengkaji sejarah firqah hendaknya dilakukan secara objektif agar dapat memahami perkembangan pemikiran Islam tanpa kehilangan sikap adil terhadap perbedaan sejarah.

Penutup

Pembahasan mengenai Al-Muhakkimah Al-Ula menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah lahirnya Khawarij dalam literatur klasik Islam. Dari kelompok inilah kemudian muncul berbagai cabang Khawarij dengan karakteristik yang berbeda-beda. Memahami perjalanan sejarah mereka membantu pembaca mengenali akar munculnya berbagai perdebatan teologis dalam Islam sekaligus mengambil pelajaran tentang pentingnya ilmu, kebijaksanaan, dan persatuan dalam menghadapi perbedaan pendapat.

Teks Arab :

المحكمة الأولى

الْفرْقَة الأولى

مِنْهُم المحكمة الأولى وَأول من قَالَ مِنْهُم لَا حكم إِلَّا الله عُرْوَة بن حدير

أَخُو مرداس الْخَارِجِي وَقيل أَن أول من قَالَه يزِيد بن عَاصِم الْمحَاربي وَقيل أَنه رجل من بني يشْكر كَانَ مَعَ عَليّ رضي الله عنه بصفين وَلما اتّفق الْفَرِيقَانِ على التَّحْكِيم ركب وَحمل على أَصْحَاب عَليّ وَقتل مِنْهُم وَاحِدًا ثمَّ حمل على أَصْحَاب مُعَاوِيَة وَقتل مِنْهُم واحدأ ثمَّ نَادَى بَين العسكرين أَنه بَرِيء من عَليّ وَمُعَاوِيَة وَأَنه خرج من حكمهم فَقتله رجل من هَمدَان ثمَّ أَن جمَاعَة مِمَّن كَانُوا مَعَ عَليّ رضي الله عنه فِي حَرْب صفّين اسْتَمعُوا مِنْهُ ذَلِك الْكَلَام واستقرت فِي قُلُوبهم تِلْكَ الشُّبْهَة وَرَجَعُوا مَعَ عَليّ إِلَى الْكُوفَة ثمَّ فارقوه وَرَجَعُوا إِلَى حروراء وَكَانُوا أثنى عشر ألف رجل من الْمُقَاتلَة وَمن هُنَا سميت الْخَوَارِج حرورية وَكَانَ زعيمهم يَوْمئِذٍ عبد الله بن الْكواء وشبث بن ربعي وَخرج إِلَيْهِم عَليّ وناظرهم فَظهر بِالْحجَّةِ عَلَيْهِم فاستأمن إِلَيْهِ ابْن الْكواء فِي ألف مقَاتل وأستمر الْبَاقُونَ على ضلالهم وَخَرجُوا إِلَى النهروان وامروا عَلَيْهِم رجلَيْنِ مِنْهُم أَحدهمَا عبد الله بن وهب الراسي

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Khawarij dalam Sejarah Islam: Dua Pokok Keyakinan danAwal Munculnya 20 Golongan Menurut Kitab At-Tabshir fi ad-Din

Pandangan Imam Al-Isfarayini tentang Rafidhah: Terjemahandan Analisis Kritik terhadap Klaim-Klaim Imamiyah

Khawarij Nahrawan: Kisah Pembunuhan Abdullah bin Khabbab dan Awal Pertempuran Melawan Ali bin Abi Thalib

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Al-Muhakkimah Al-Ula: Awal Munculnya Khawarij dan Sejarah Kelompok Haruriyah Menurut At-Tabshir fi ad-Din

Pendahuluan Setelah menjelaskan pokok-pokok keyakinan Khawarij, penulis At-Tabshir fi ad-Din mulai menguraikan satu per satu cabang kel...