Apakah Nama Allah Sama dengan Zat-Nya? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Asmaul Husna dan Musamma

Imam Al-Ghazali menjelaskan hubungan Asmaul Husna dengan Zat Allah serta mengulas perdebatan apakah isim sama dengan musamma

Pendahuluan

Perdebatan tentang hubungan antara isim (nama) dan musamma (yang dinamai) telah berlangsung sejak masa awal ilmu kalam. Sebagian ulama berpendapat bahwa nama sama dengan yang dinamai, sementara sebagian lainnya menegaskan bahwa keduanya berbeda. Masing-masing berusaha menguatkan pendapatnya dengan dalil Al-Qur'an dan hadis.

Dalam Al-Maqshad Al-Asna, Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan yang lebih seimbang. Beliau menerangkan bahwa dalam sebagian konteks, penyebutan "nama" dapat digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada yang dinamai, tetapi hal itu tidak mengubah hakikat bahwa secara asal isim tetap berbeda dengan musamma.

Sumber Nasihat

Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma' Allah Al-Husna

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali At-Tusi (450–505 H)

Tema

Hubungan Asmaul Husna dengan Zat Allah Menurut Imam Al-Ghazali dan Kritik terhadap Dalil-Dalil tentang Isim dan Musamma

Terjemahan Lengkap

Tidak mustahil bahwa nama digunakan sebagai kiasan untuk menunjuk kepada yang dinamai sebagai bentuk penghormatan kepada yang dinamai.

Sebagaimana seseorang menyebut seorang yang mulia dengan ungkapan:

"Yang Mulia,"
"Hadirat yang diberkahi," atau
"Majelis yang mulia."

Lalu dikatakan:

"Semoga keselamatan tercurah kepada hadirat beliau yang mulia."

Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah keselamatan bagi orang tersebut, bukan bagi tempat duduk atau majelisnya. Penyebutan sesuatu yang berkaitan dengannya hanyalah bentuk penghormatan.

Demikian pula nama. Walaupun nama berbeda dengan yang dinamai, nama memiliki hubungan erat dan menunjukkan kepada yang dinamai.

Hal ini semestinya tidak membingungkan orang yang memiliki pemahaman yang jernih mengenai hakikat bahasa.

Lebih jauh lagi, orang-orang yang berpendapat bahwa nama berbeda dengan yang dinamai juga berdalil dengan firman Allah:

"Dan milik Allah Asmaul Husna." (QS. Al-A'raf: 180)

Dan sabda Nabi ﷺ:

"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghitung dan menghayatinya, ia akan masuk surga."

Mereka berkata:

Seandainya nama benar-benar sama dengan yang dinamai, berarti yang dinamai berjumlah sembilan puluh sembilan. Padahal yang dinamai hanyalah satu, yaitu Allah. Hal itu jelas mustahil.

Karena itu, pihak yang mengatakan nama sama dengan yang dinamai terpaksa mengakui pada pembahasan ini bahwa nama berbeda dengan yang dinamai.

Mereka kemudian mengatakan bahwa kata "nama" dalam ayat dan hadis tersebut dimaksudkan sebagai penamaan (tasmiyah), bukan nama dalam arti yang dinamai.

Sebaliknya, kelompok lain juga mengakui bahwa kata "nama" terkadang dipakai dengan makna yang dinamai, meskipun pada asalnya nama memang berbeda dari yang dinamai. Atas dasar itulah mereka menafsirkan firman Allah:

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." (QS. Al-A'la: 1)

Namun menurut Imam Al-Ghazali, kedua kelompok tersebut sama-sama kurang tepat, baik dalam cara mereka berdalil maupun dalam menjawab argumentasi lawan.

Artikel Pengembangan

1. Nama Dapat Dipakai sebagai Pengganti yang Dinamai

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa bahasa Arab mengenal gaya ungkapan (majaz) yang menggunakan sesuatu yang berkaitan dengan seseorang untuk menunjukkan orang itu sendiri.

Misalnya seseorang berkata:

"Semoga keselamatan tercurah kepada hadirat beliau."

Yang dimaksud tentu bukan "hadirat" atau "majelis", melainkan orang yang dihormati.

Demikian pula, penyebutan "nama" kadang dimaksudkan untuk menunjuk kepada pemilik nama sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan.

2. Namun Secara Hakikat Isim Tetap Berbeda dari Musamma

Walaupun terkadang digunakan sebagai majas, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa secara asal:

  • isim adalah lafaz,
  • musamma adalah realitas yang ditunjuk oleh lafaz.

Hubungan keduanya sangat erat karena nama menjadi penunjuk kepada yang dinamai, tetapi keduanya bukanlah satu hakikat yang sama.

Inilah prinsip yang terus dipertahankan Al-Ghazali sepanjang pembahasan kitab ini.

3. Dalil dari Asmaul Husna

Kelompok yang mengatakan bahwa isim berbeda dengan musamma menggunakan dalil yang cukup kuat.

Allah berfirman:

"Dan milik Allah Asmaul Husna."

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama.

Logikanya sederhana.

Jika nama sama dengan Zat Allah, maka berarti Allah berjumlah sembilan puluh sembilan.

Padahal Allah Maha Esa.

Karena itu, penyebutan sembilan puluh sembilan nama menunjukkan bahwa nama merupakan sesuatu yang berbeda dari Zat yang dinamai.

4. Mengapa Terjadi Perbedaan Pendapat?

Menurut Imam Al-Ghazali, masing-masing kelompok sebenarnya mengakui bahwa kata isim kadang dipakai dengan makna yang berbeda sesuai konteks.

Ada yang memaknainya sebagai:

  • nama,
  • penamaan,
  • atau sebagai ungkapan yang menunjuk kepada pemilik nama.

Masalah muncul ketika penggunaan majazi tersebut dianggap sebagai makna hakiki.

Akibatnya, setiap kelompok memaksakan seluruh dalil agar sesuai dengan definisi yang mereka pilih.

5. Sikap Moderat Imam Al-Ghazali

Keunggulan metode Imam Al-Ghazali terlihat dari sikapnya yang tidak memihak secara membabi buta.

Beliau mengakui bahwa:

  • bahasa Arab memang memungkinkan penggunaan majas,
  • kata "isim" kadang dipakai untuk menunjuk pemilik nama,
  • tetapi penggunaan seperti itu tidak mengubah hakikat asal kata tersebut.

Karena itu, beliau mengkritik kedua kelompok yang menurutnya kurang tepat dalam menggunakan dalil maupun menjawab argumentasi lawan.

6. Pelajaran bagi Penuntut Ilmu

Pembahasan ini menunjukkan pentingnya membedakan antara:

  • makna hakiki,
  • makna majazi,
  • konteks penggunaan,
  • dan tujuan pembicaraan.

Kesalahan dalam membedakan keempat hal tersebut dapat melahirkan perdebatan panjang yang sebenarnya berakar pada persoalan istilah, bukan pada substansi akidah.

Hikmah

Beberapa pelajaran penting dari penjelasan Imam Al-Ghazali adalah:

  • Nama dapat digunakan sebagai ungkapan untuk menunjuk pemilik nama sebagai bentuk penghormatan.
  • Secara asal, isim tetap berbeda dengan musamma meskipun keduanya memiliki hubungan yang erat.
  • Dalil Al-Qur'an dan hadis harus dipahami sesuai konteks bahasa Arab, bukan hanya berdasarkan makna harfiahnya.
  • Perbedaan istilah sering kali menjadi penyebab utama perdebatan dalam ilmu kalam.
  • Sikap ilmiah menuntut keseimbangan dalam memahami dalil dan tidak memaksakan satu makna untuk semua konteks.

Penutup

Dalam pembahasan ini, Imam Al-Ghazali menunjukkan keluasan ilmunya dalam mengurai persoalan yang tampak rumit dengan pendekatan bahasa, logika, dan akidah secara bersamaan. Beliau menjelaskan bahwa penyebutan isim terkadang dapat menjadi ungkapan penghormatan yang menunjuk kepada musamma, sebagaimana seseorang menyebut "hadirat" atau "majelis" untuk memuliakan orang yang dimaksud. Namun penggunaan majazi tersebut tidak menghapus hakikat bahwa isim dan musamma adalah dua konsep yang berbeda. Dengan pendekatan yang moderat, Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa banyak perdebatan teologis muncul karena kurangnya ketelitian dalam membedakan makna hakiki dan makna majazi suatu istilah. Inilah salah satu pelajaran penting dalam memahami Asmaul Husna dan ilmu akidah secara mendalam.

Teks Arab :

وَلَا يبعد أَن يكنى عَن الْمُسَمّى بِالِاسْمِ إجلالا للمسمى كَمَا يكنى عَن الشريف بالجناب والحضرة والمجلس فَيُقَال السَّلَام على حَضرته الْمُبَارَكَة ومجلسه الشريف وَالْمرَاد بِهِ السَّلَام عَلَيْهِ وَلَكِن يكنى عَنهُ بِمَا يتَعَلَّق بِهِ نوعا من التَّعَلُّق إجلالا وَكَذَلِكَ الِاسْم وَإِن كَانَ غير الْمُسَمّى فَهُوَ مُتَعَلق بِالْمُسَمّى ومطابق لَهُ وَهَذَا لَا يَنْبَغِي أَن يلتبس على الْبَصِير فِي أصل الْوَضع

كَيفَ وَقد اسْتدلَّ الْقَائِلُونَ بِأَن الِاسْم غير الْمُسَمّى بقوله عز وجل ﴿وَللَّه الْأَسْمَاء الْحسنى﴾ ٧ سُورَة الْأَعْرَاف الْآيَة ١٨٠ وَبِقَوْلِهِ ﷺ إِن لله تَعَالَى تِسْعَة وَتِسْعين اسْما مئة إِلَّا وَاحِدًا من أحصاها دخل الْجنَّة وَقَالُوا لَو كَانَ هُوَ الْمُسَمّى لَكَانَ الْمُسَمّى تسعا وَتِسْعين وَهُوَ محَال لِأَن الْمُسَمّى وَاحِد فاضطر أُولَئِكَ إِلَى الِاعْتِرَاف هَاهُنَا بِأَن الِاسْم غير الْمُسَمّى وَقَالُوا يجوز أَن يرد بِمَعْنى التَّسْمِيَة لَا بِمَعْنى الْمُسَمّى كَمَا سلم الْآخرُونَ بِأَن الِاسْم قد يرد بِمَعْنى الْمُسَمّى وَإِن كَانَ هُوَ غير الْمُسَمّى فِي الأَصْل وَعَلِيهِ نزلُوا قَوْله تَعَالَى ﴿سبح اسْم رَبك الْأَعْلَى﴾ ٨٧ سُورَة الْأَعْلَى الْآيَة ١ وَلم يحسن كل وَاحِد من الْفَرِيقَيْنِ فِي الِاسْتِدْلَال وَالْجَوَاب جَمِيعًا

Baca juga:

Makna "Sucikan Nama Tuhanmu" Menurut Imam Al-Ghazali: Tafsir QS Al-A'la Ayat 1 tentang Isim dan Musamma

Makna "Nama Tanpa Musamma" Menurut Imam Al-Ghazali: Tafsir QS Yusuf 40 tentang Hakikat Nama dalam Islam

Makna Asmaul Husna Menurut Imam Al-Ghazali: Mengapa Allah Memiliki 99 Nama tetapi Tetap Maha Esa?

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Hari Perpisahan: Saat Terberat dalam Cinta Menurut Ibnu Hazm Al-Andalusi

Pendahuluan Di antara seluruh pengalaman cinta, tidak ada yang lebih mengguncang hati selain saat perpisahan benar-benar terjadi. Jika k...