Pendahuluan
Apakah mungkin sebuah nama ada,
tetapi tidak memiliki hakikat yang dinamai? Pertanyaan ini tampak sederhana,
tetapi menjadi salah satu pembahasan penting dalam ilmu akidah dan filsafat
bahasa Islam. Dalam Al-Maqshad Al-Asna, Imam Al-Ghazali menjelaskan
bahwa ada kalanya sebuah nama hanya hidup di lisan manusia, sementara realitas
yang ditunjuk oleh nama tersebut sama sekali tidak ada.
Penjelasan ini digunakan Imam
Al-Ghazali untuk menafsirkan firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 40 mengenai
nama-nama berhala yang dibuat oleh kaum musyrikin. Dari sini beliau membuktikan
bahwa isim (nama) berbeda dengan musamma (sesuatu yang dinamai).
Sumber
Kitab: Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Ma'ani Asma' Allah Al-Husna
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali At-Tusi (450–505 H)
Tema
Konsep "Nama Tanpa
Musamma" sebagai Bukti Perbedaan Isim dan Musamma Menurut Imam Al-Ghazali
Terjemahan Lengkap
Kemudian dikatakan bahwa makna
firman Allah tersebut adalah:
Nama-nama ketuhanan yang mereka
berikan kepada berhala-berhala hanyalah nama tanpa musamma, karena
musamma adalah makna yang benar-benar tetap dalam kenyataan (di alam nyata)
sebagai sesuatu yang ditunjuk oleh lafaz.
Padahal sifat ketuhanan sama sekali
tidak ada dalam kenyataan dan tidak pula dikenal sebagai sesuatu yang benar
dalam pikiran. Yang ada hanyalah nama-nama itu di lisan mereka. Dengan
demikian, nama-nama tersebut hanyalah nama tanpa makna yang nyata.
Demikian pula seseorang yang diberi
nama "Al-Hakim" (orang bijaksana) padahal ia bukan orang yang
bijaksana, lalu ia bergembira dengan nama itu, maka dikatakan bahwa ia
bergembira hanya karena namanya, sebab di balik nama tersebut tidak ada hakikat
yang sesuai.
Inilah dalil bahwa isim berbeda
dengan musamma, karena Allah menyandarkan nama kepada proses penamaan dan
menyandarkan penamaan itu kepada mereka sebagai perbuatan mereka.
Allah berfirman:
"Itu hanyalah nama-nama yang kalian
dan nenek moyang kalian menamakannya."
(QS. Yusuf: 40)
Maksudnya adalah nama-nama yang
muncul karena penamaan dan perbuatan mereka sendiri. Adapun wujud
berhala-berhala itu bukanlah sesuatu yang mereka ciptakan hanya dengan memberi
nama kepadanya.
Artikel Pengembangan
1.
Apa yang Dimaksud "Nama Tanpa Musamma"?
Menurut Imam Al-Ghazali, suatu nama
idealnya menunjuk kepada sesuatu yang benar-benar ada.
Misalnya:
- kata "manusia" menunjuk manusia,
- kata "langit" menunjuk langit,
- kata "air" menunjuk air.
Namun ada kalanya manusia
menciptakan sebuah nama untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki hakikat
sebagaimana nama itu menunjukkan.
Contohnya adalah berhala yang
disebut sebagai "tuhan".
Nama "tuhan" memang
diucapkan, tetapi hakikat ketuhanan tidak terdapat pada berhala tersebut.
Karena itu, nama tersebut hanyalah isim
tanpa musamma.
2.
Berhala Tidak Memiliki Sifat Ketuhanan
Kaum musyrikin memberi berbagai nama
agung kepada berhala mereka.
Akan tetapi, pemberian nama tidak
dapat menciptakan kenyataan.
Berhala tetap:
- tidak mampu mencipta,
- tidak mampu memberi rezeki,
- tidak mampu menghidupkan,
- tidak mampu mematikan.
Semua sifat ketuhanan itu tidak
pernah ada pada berhala.
Oleh sebab itu, nama
"ilah" yang mereka sematkan hanyalah bunyi lafaz yang kosong dari hakikat.
3.
Nama Tidak Selalu Mencerminkan Realitas
Imam Al-Ghazali memberikan contoh
yang sangat sederhana.
Seseorang dinamai:
Al-Hakim (Yang Bijaksana).
Namun ternyata ia:
- bodoh,
- tidak memiliki hikmah,
- tidak mampu mengambil keputusan yang benar.
Dalam keadaan seperti ini, orang
tersebut hanya memiliki nama "Hakim", sedangkan sifat hikmah tidak
ada pada dirinya.
Artinya, nama belum tentu
menggambarkan kenyataan.
Pelajaran ini masih sangat relevan
hingga sekarang. Banyak gelar, jabatan, atau sebutan yang terdengar mulia,
tetapi tidak selalu mencerminkan kualitas pemiliknya.
4.
Penamaan Adalah Perbuatan Manusia
Imam Al-Ghazali memperhatikan
susunan ayat:
"Asma'un sammaytumuha"
"Nama-nama yang kalian menamakannya."
Ungkapan ini menunjukkan bahwa:
- nama adalah hasil penamaan,
- penamaan adalah tindakan manusia,
- sedangkan benda yang dinamai bukanlah hasil dari proses
penamaan.
Seseorang dapat memberi nama apa
saja kepada suatu benda, tetapi nama itu tidak mengubah hakikat benda tersebut.
Karena itu, Allah menegaskan bahwa
nama-nama berhala hanyalah hasil rekayasa manusia, bukan bukti adanya ketuhanan
pada berhala itu.
5.
Bukti bahwa Isim Berbeda dengan Musamma
Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa
ayat ini menjadi salah satu dalil paling kuat bahwa isim tidak identik dengan
musamma.
Alasannya:
- nama dapat dibuat manusia,
- penamaan merupakan suatu perbuatan,
- musamma adalah hakikat yang ditunjuk oleh nama,
- hakikat tidak otomatis muncul hanya karena sebuah nama
diberikan.
Seandainya nama sama dengan musamma,
maka cukup memberi nama "tuhan" kepada sebuah batu untuk
menjadikannya benar-benar Tuhan. Hal ini jelas mustahil.
6.
Relevansi bagi Kehidupan Modern
Fenomena "nama tanpa
hakikat" tidak hanya terjadi pada masa penyembah berhala.
Dalam kehidupan sekarang, seseorang
bisa memiliki:
- gelar tanpa ilmu,
- jabatan tanpa amanah,
- sebutan pemimpin tanpa kepemimpinan,
- panggilan ustaz tanpa akhlak,
- label profesional tanpa kompetensi.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
nilai seseorang tidak ditentukan oleh nama atau gelarnya, tetapi oleh hakikat
yang ada pada dirinya.
Hikmah
Beberapa pelajaran penting dari
penjelasan Imam Al-Ghazali antara lain:
- Nama tidak selalu menunjukkan adanya hakikat yang
sesuai.
- Penamaan merupakan perbuatan manusia, sedangkan hakikat
suatu benda tidak berubah hanya karena namanya.
- QS. Yusuf ayat 40 menjadi dalil kuat bahwa isim berbeda
dengan musamma.
- Gelar dan sebutan hanya bernilai apabila didukung oleh
sifat yang nyata.
- Seorang Muslim hendaknya lebih memperhatikan isi dan
kenyataan daripada sekadar nama atau label.
Penutup
Melalui penafsiran yang mendalam
terhadap QS. Yusuf ayat 40, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada kalanya
sebuah nama hanya menjadi rangkaian lafaz tanpa memiliki hakikat yang sesuai.
Nama-nama ketuhanan yang disematkan kepada berhala merupakan contoh nyata "isim
tanpa musamma". Dari sini beliau menegaskan bahwa isim, musamma,
dan tasmiyah adalah tiga konsep yang berbeda. Penamaan hanyalah
perbuatan manusia, sedangkan hakikat tidak dapat diciptakan hanya dengan
memberi sebuah nama. Pemahaman ini menjadi fondasi penting dalam memahami
bahasa Arab, ilmu kalam, serta makna Asmaul Husna secara benar.
Teks Arab :
ثمَّ يُقَال مَعْنَاهُ أَن اسْم الْآلهَة الَّتِي أطلقوها
على الْأَصْنَام كَانَ اسْما بِلَا مُسَمّى لِأَن الْمُسَمّى هُوَ الْمَعْنى
الثَّابِت فِي الْأَعْيَان من حَيْثُ دلّ عَلَيْهِ بِاللَّفْظِ وَلم تكن الإلهية
ثَابِتَة فِي الْأَعْيَان وَلَا مَعْلُومَة فِي الأذهان بل كَانَت أساميها
مَوْجُودَة فِي اللِّسَان فَكَانَت أسامي بِلَا معَان وَمن سمي باسم الْحَكِيم
وَلم يكن حكيما وَفَرح بِهِ قيل فَرح بِالِاسْمِ إِذْ لَيْسَ وَرَاء الِاسْم معنى
وَهَذَا هُوَ الدَّلِيل على أَن الِاسْم غير الْمُسَمّى لِأَنَّهُ أضَاف الِاسْم
إِلَى التَّسْمِيَة وأضاف التَّسْمِيَة إِلَيْهِم وَجعلهَا
فعلا لَهُم فَقَالَ ﴿أَسمَاء سميتموها﴾ ١٢ سُورَة يُوسُف
الْآيَة ٤٠ يَعْنِي أَسمَاء حصلت بتسميتهم وفعلهم وأشخاص الْأَصْنَام لم تكن هِيَ
الْحَادِثَة بتسميتهم
Baca juga:
Makna "Sucikan Nama Tuhanmu" Menurut Imam
Al-Ghazali: Tafsir QS Al-A'la Ayat 1 tentang Isim dan Musamma


0 Komentar