Dalam bagian ini, Imam al-Ghazali
melanjutkan pembahasan mengenai cara ulama memasuki dan berhadapan dengan
penguasa zalim.
Beliau menghadirkan beberapa kisah
yang menunjukkan bahwa para ulama akhirat tidak mendatangi penguasa untuk
mencari kedudukan, harta, atau popularitas. Mereka datang apabila ada kebutuhan
syar'i, terutama untuk menyampaikan nasihat, mencegah kezaliman, dan
mengingatkan penguasa terhadap pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kisah seorang Arab Badui yang
menasihati Sulaiman bin Abdul Malik dan nasihat Abu Bakrah kepada Muawiyah
menggambarkan keberanian tersebut. Setelah itu, al-Ghazali membedakan antara ulama
akhirat dan ulama dunia, khususnya dalam hal motif ketika
berhubungan dengan penguasa.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (إحياء
علوم الدين), Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين
الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم
Pembahasan: Adab memasuki majelis penguasa, nasihat kepada penguasa,
perbedaan ulama akhirat dan ulama dunia, serta bahaya mencari kedudukan melalui
kekuasaan.
Penulis
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali al-Tusi
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي، ت 505 هـ)
Teks Arab
ودخل أعرابي على سليمان بن عبد الملك
فقال تكلم يا أعرابي فقال يا أمير المؤمنين إني مكلمك بكلام فاحتمله وإن كرهته فإن
وراءه ما تحب إن قبلته فقال يا أعرابي إنا لنجود بسعة الاحتمال على من لا نرجو
نصحه ولا تأمن غشه فكيف بمن نأمن غشه ونرجو نصحه فقال الأعرابي يا أمير المؤمنين
إنه قد تكنفك رجال اساءوا الاختيار لأنفسهم وابتاعوا دنياهم بدينهم ورضاك بسخط
ربهم خافوك في الله تعالى ولم يخافوا الله فيك حرب الآخرة سلم الدنيا فلا تأتمنهم
على ما ائتمنك الله تعالى عليه فإنهم لم يألوا في الأمانة تضييعاً وفي الأمة خسفاً
وعسفاً وأنت مسؤل عما اجترحوا وليسوا بمسؤولين عما اجترحت فلا تصلح دنياهم بفساد
آخرتك فإن أعظم الناس غبناً من باع آخرته بدنيا غيره فقال له سليمان يا أعرابي أما
إنك قد سللت لسانك وهو أقطع سيفيك قال أجل يا أمير المؤمنين ولكن لك لا عليك
وحكي أن أبا بكرة دخل على معاوية فقال
اتق الله يا معاوية واعلم أنك في كل يوم يخرج عنك وفي كل ليلة تأتي عليك لا تزداد
من الدنيا إلا بعداً ومن الآخرة إلا قرباً وعلى أثرك طالب لا تفوته وقد نصب لك
علماً لا تجوزه فما أسرع ما تبلغ العلم وما أوشك ما يلحق بك الطالب وإنا وما نحن
فيه زائل وفي الذي نحن إليه صائرون باق إن خيراً فخير وإن شراً فشر
فهكذا كان دخول أهل العلم على السلاطين
أعني علماء الآخرة فأما علماء الدنيا فيدخلون ليتقربوا إلى قلوبهم فيدلونهم على
الرخص ويستنبطون لهم بدقائق الحيل طرق السعة فيما يوافق أغراضهم
وإن تكلموا بمثل ما ذكرناه في معرض
الوعظ لم يكن قصدهم الإصلاح بل اكتساب الجاه والقبول عندهم
وفي هذا غروران يغتر بهم الحمقى
أحدهما أن يظهر أن قصدي في الدخول عليهم إصلاحهم بالوعظ
وربما يلبسون على أنفسهم بذلك وإنما
الباعث لهم شهوة خفية للشهرة وتحصيل المعرفة عندهم وعلامة الصدق في طلب الإصلاح
أنه لو تولى ذلك الوعظ غيره ممن هو من أقرانه في العلم ووقع موقع القبول وظهر به أثر
الصلاح فينبغي أن يفرح به ويشكر الله تعالى على كفايته هذا المهم كمن وجب عليه أن
يعالج مريضاً ضائعاً فقام بمعاجلته غيره فإنه يعظم به فرحه
فإن كان يصادف في قلبه ترجيحاً لكلامه
على كلام غيره فهو مغرور الثاني أن يزعم أني أقصد الشفاعة لمسلم في دفع ظلامة
وهذا أيضاً مظنة الغرور ومعياره ما
تقدم ذكره
وإذا ظهر طريق الدخول عليهم فلنرسم في
الأحوال العارضة في مخالطة السلاطين ومباشرة أموالهم مسائل
Terjemahan Lengkap
Seorang Arab Badui datang menghadap Sulaiman
bin Abdul Malik. Sulaiman berkata:
“Bicaralah, wahai Arab Badui.”
Ia berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, aku akan
berbicara kepadamu dengan beberapa perkataan. Tahanlah dirimu untuk
mendengarnya meskipun engkau tidak menyukainya, karena di baliknya terdapat
sesuatu yang engkau sukai apabila engkau menerimanya.”
Sulaiman berkata:
“Wahai Arab Badui, sesungguhnya kami
bersikap lapang dalam menerima perkataan terhadap orang yang tidak kami
harapkan nasihatnya dan tidak kami merasa aman dari tipu dayanya. Apalagi
terhadap orang yang kami merasa aman dari tipu dayanya dan kami mengharapkan
nasihatnya.”
Orang Arab Badui itu berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya
di sekelilingmu terdapat orang-orang yang telah salah memilih jalan bagi diri
mereka. Mereka membeli dunia mereka dengan agama mereka dan mencari keridhaanmu
dengan kemurkaan Tuhan mereka.
Mereka takut kepadamu dalam urusan
Allah, tetapi tidak takut kepada Allah dalam urusanmu.
Mereka telah menjadikan akhirat
sebagai sesuatu yang diperangi dan dunia sebagai sesuatu yang mereka
selamatkan.
Karena itu, janganlah engkau
mempercayakan kepada mereka amanah yang Allah percayakan kepadamu. Sebab mereka
tidak pernah lalai dalam menyia-nyiakan amanah dan menzalimi serta
memperlakukan umat dengan sewenang-wenang.
Engkau akan dimintai
pertanggungjawaban atas perbuatan yang mereka lakukan, sedangkan mereka tidak
akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang engkau lakukan.
Maka janganlah engkau memperbaiki
dunia mereka dengan merusak akhiratmu sendiri.
Sesungguhnya manusia yang paling
besar kerugiannya adalah orang yang menjual akhiratnya demi dunia orang lain.”
Sulaiman berkata kepadanya:
“Wahai Arab Badui, sungguh engkau
telah menghunus lidahmu, sedangkan lidah itu lebih tajam daripada kedua
pedangmu.”
Ia menjawab:
“Benar, wahai Amirul Mukminin. Akan
tetapi, ketajaman itu untuk kepentinganmu, bukan untuk mencelakakanmu.”
Dikisahkan pula bahwa Abu Bakrah
masuk menghadap Muawiyah. Ia berkata:
“Bertakwalah kepada Allah, wahai
Muawiyah. Ketahuilah bahwa setiap hari yang berlalu menjauhkanmu dari dunia,
dan setiap malam yang datang mendekatkanmu kepada akhirat.
Di belakangmu terdapat seorang
pengejar yang tidak akan pernah gagal mengejarmu. Telah dipasang bagimu sebuah
tanda yang tidak mungkin engkau lewati.
Betapa cepat engkau akan sampai
kepada tanda itu dan betapa dekat pengejar tersebut akan menyusulmu.
Sesungguhnya kita dan apa yang
sedang kita jalani ini akan lenyap. Sedangkan tempat yang akan kita tuju adalah
kekal.
Jika yang kita bawa adalah kebaikan,
maka balasannya adalah kebaikan. Jika yang kita bawa adalah keburukan, maka
balasannya adalah keburukan.”
Demikianlah cara ulama
memasuki dan berhadapan dengan para penguasa, yaitu para ulama akhirat.
Adapun ulama dunia, mereka
memasuki majelis para penguasa dengan tujuan mendekatkan diri kepada hati
mereka. Mereka menunjukkan berbagai keringanan kepada para penguasa dan mencari
berbagai celah melalui rincian tipu daya agar mereka dapat memperoleh
kelonggaran dalam perkara-perkara yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan
penguasa.
Jika mereka berbicara dengan nasihat
seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, tujuan mereka bukanlah memperbaiki
penguasa, melainkan memperoleh kedudukan dan penerimaan di sisi mereka.
Dalam perkara ini terdapat dua
bentuk penipuan terhadap diri sendiri yang dapat memperdaya orang-orang bodoh.
Pertama
Seseorang menampakkan bahwa
tujuannya memasuki majelis penguasa adalah untuk memperbaiki mereka melalui
nasihat.
Bahkan terkadang ia menipu dirinya
sendiri dengan alasan tersebut.
Padahal yang mendorongnya adalah
keinginan tersembunyi untuk memperoleh popularitas dan mendapatkan kedudukan di
hadapan penguasa.
Tanda bahwa seseorang benar-benar
ikhlas menginginkan perbaikan adalah: jika orang lain yang setara dengannya
dalam ilmu menyampaikan nasihat tersebut, kemudian nasihat itu diterima dan menghasilkan
perbaikan, ia seharusnya merasa gembira dan bersyukur kepada Allah karena
urusan penting itu telah diselesaikan melalui orang lain.
Keadaannya seperti seseorang yang
berkewajiban mengobati seorang pasien yang sedang terlantar, kemudian orang lain
mengambil alih pengobatan tersebut. Orang pertama seharusnya sangat gembira
karena kewajiban itu telah terlaksana.
Jika ternyata di dalam hatinya
terdapat kecenderungan bahwa perkataannya lebih baik dan lebih utama daripada
perkataan orang lain, maka ia telah tertipu oleh dirinya sendiri.
Kedua
Seseorang mengaku bahwa tujuannya
memasuki majelis penguasa adalah untuk menjadi perantara bagi seorang Muslim
dalam menghilangkan suatu kezaliman.
Hal ini juga dapat menjadi tempat
munculnya tipu daya terhadap diri sendiri. Ukurannya sama dengan yang telah
disebutkan sebelumnya: apakah ia benar-benar menginginkan hilangnya
kezaliman, atau sebenarnya ingin memperoleh kedudukan melalui peran tersebut?
Setelah dijelaskan jalan masuk
kepada mereka, maka selanjutnya akan dipaparkan berbagai persoalan yang muncul
dalam hubungan dengan para penguasa dan dalam berinteraksi dengan harta mereka.
Artikel Pengembangan
1.
Nasihat yang benar tidak selalu menyenangkan
Orang Arab Badui tersebut membuka
nasihatnya dengan meminta Sulaiman untuk bersabar mendengarkan perkataan
yang mungkin tidak disukainya.
Ini menunjukkan karakter nasihat
yang tulus. Nasihat bukanlah sekadar perkataan yang menyenangkan pendengar,
melainkan perkataan yang diperlukan untuk memperbaiki keadaan.
Seorang penasihat yang hanya
mengatakan apa yang ingin didengar oleh penguasa dapat kehilangan fungsi
utamanya sebagai pemberi nasihat.
2.
Jangan menjual agama demi menyenangkan penguasa
Ungkapan:
وابتاعوا
دنياهم بدينهم
menggambarkan orang-orang yang
menukar agama dengan dunia.
Mereka memperoleh keuntungan duniawi
dengan cara mengorbankan prinsip agama. Bahkan lebih buruk lagi, mereka mencari
keridhaan manusia dengan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah.
Pelajaran ini tidak terbatas pada
hubungan ulama dengan penguasa. Prinsipnya berlaku kepada siapa saja yang
mempunyai posisi di mana ia dapat memilih antara kebenaran dan keuntungan
pribadi.
3.
Bahaya memperbaiki dunia orang lain dengan merusak akhirat sendiri
Kalimat:
فلا
تصلح دنياهم بفساد آخرتك
merupakan salah satu inti penting
bagian ini.
Seseorang tidak boleh membenarkan
perbuatan salah dengan alasan ingin membantu orang lain. Jika untuk mendapatkan
keuntungan bagi orang lain ia harus melakukan kemaksiatan, maka ia harus
mempertimbangkan kembali tindakannya.
Kebaikan tidak dibangun dengan
mengorbankan kewajiban kepada Allah.
4.
Ulama akhirat dan ulama dunia
Al-Ghazali memberikan perbedaan yang
sangat jelas.
Ulama akhirat mendatangi penguasa jika ada kebutuhan yang dibenarkan,
kemudian menyampaikan kebenaran dan nasihat.
Sedangkan ulama dunia
menjadikan hubungan tersebut sebagai sarana mendapatkan kedudukan. Mereka
cenderung mencari berbagai keringanan yang sesuai dengan keinginan penguasa.
Dengan demikian, pembeda utama bukan
sekadar datang atau tidak datang kepada penguasa, tetapi niat, sikap,
dan dampak dari kedatangan tersebut.
5.
Ukuran keikhlasan adalah ketika orang lain berhasil
Bagian ini memberikan sebuah ukuran
keikhlasan yang sangat menarik.
Jika seseorang benar-benar
menginginkan perbaikan, maka ia tidak akan merasa kecewa apabila orang lain
yang menyampaikan nasihat tersebut dan hasilnya justru lebih baik.
Sebaliknya, apabila ia merasa:
“Seharusnya saya yang menyampaikan.”
atau
“Nasihat saya lebih baik daripada
dia,”
maka mungkin terdapat kepentingan
pribadi yang tersembunyi di balik klaim ingin melakukan perbaikan.
Keikhlasan terlihat ketika tujuan
lebih penting daripada siapa yang mendapatkan pengakuan.
6.
Menjadi perantara bagi orang yang dizalimi
Membela orang yang dizalimi dapat
menjadi alasan yang dibenarkan untuk berhubungan dengan penguasa. Namun,
seseorang tetap harus memeriksa niatnya.
Ia harus bertanya kepada dirinya:
- Apakah benar ingin menghilangkan kezaliman?
- Apakah benar-benar membela hak orang tersebut?
- Ataukah ia menggunakan penderitaan orang lain sebagai
jalan memperoleh kedekatan dengan penguasa?
Inilah yang dimaksud al-Ghazali
dengan مظنة الغرور, yaitu tempat yang
rawan bagi seseorang untuk tertipu oleh dirinya sendiri.
7.
Kekuasaan dapat menjadi ujian bagi orang yang menasihati
Bukan hanya penguasa yang diuji oleh
kekuasaan. Orang yang berada di sekitar penguasa juga diuji.
Ia dapat diuji dengan:
- pujian,
- pemberian,
- kedudukan,
- popularitas,
- akses kepada pejabat,
- dan perasaan memiliki pengaruh.
Karena itu, seseorang yang masuk ke
lingkungan kekuasaan membutuhkan pengawasan terhadap hati dan niatnya
sendiri.
Contoh
Contoh
1: Nasihat kepada pejabat
Seorang pejabat membuat kebijakan
yang merugikan masyarakat. Seorang penasihat kemudian menyampaikan kritik
dengan sopan tetapi tegas, tanpa mencari keuntungan pribadi.
Ini lebih dekat dengan karakter
nasihat yang digambarkan dalam kisah orang Arab Badui kepada Sulaiman.
Contoh
2: Mencari pujian melalui nasihat
Seseorang sering mendatangi pejabat
dengan membawa nasihat agama. Namun ia kecewa ketika pejabat tersebut menerima
nasihat orang lain.
Jika tujuan utamanya benar-benar
perbaikan, keberhasilan tersebut semestinya tetap membuatnya bahagia.
Contoh
3: Membela orang yang dizalimi
Seorang rakyat dizalimi oleh aparat.
Seseorang kemudian menggunakan aksesnya kepada pejabat untuk membantu
mengembalikan hak orang tersebut.
Apabila tujuannya benar-benar
menghilangkan kezaliman, maka tindakan tersebut berbeda dengan menggunakan
kasus tersebut sebagai alasan untuk mendapatkan jabatan atau popularitas.
Contoh
4: Memberikan keringanan demi kepentingan penguasa
Seorang yang memiliki pengetahuan
agama terus-menerus mencari pendapat yang paling ringan agar setiap kebijakan
penguasa tampak benar.
Di sinilah seseorang perlu
berhati-hati agar ilmu tidak berubah menjadi alat untuk membenarkan
kepentingan kekuasaan.
Penutup
Bagian ini mengajarkan bahwa kedekatan
dengan kekuasaan bukan ukuran kemuliaan. Yang menjadi ukuran adalah
bagaimana seseorang menjaga agama, kejujuran, dan keikhlasannya ketika berada
di sekitar penguasa.
Nasihat orang Arab Badui kepada
Sulaiman bin Abdul Malik mengingatkan bahwa jangan sampai seseorang memperbaiki
kepentingan dunia orang lain dengan mengorbankan akhiratnya sendiri.
Nasihat Abu Bakrah kepada Muawiyah
juga mengingatkan bahwa kekuasaan, dunia, dan kehidupan manusia semuanya akan
berakhir, sedangkan pertanggungjawaban kepada Allah akan tetap ada.
Adapun bagi orang yang menyampaikan
nasihat, al-Ghazali memberikan ukuran keikhlasan yang sangat mendalam: jika
tujuanmu benar-benar memperbaiki keadaan, maka keberhasilan tidak harus datang
melalui dirimu sendiri.
Selama kebenaran diterima, kezaliman
berkurang, dan kemaslahatan tercapai, seorang penasihat yang ikhlas semestinya
bersyukur kepada Allah—siapa pun yang menjadi sebab terwujudnya perbaikan
tersebut.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Hukum Menerima Harta Sultan
untuk Dibagikan kepada Fakir Miskin: Tiga Bahaya yang Harus Dihindari Menurut
Imam Al-Ghazali


0 Komentar