Pendahuluan
Salah satu akhlak mulia yang sangat
ditekankan dalam Islam adalah ishlah dzatil-bain, yaitu memperbaiki
hubungan di antara orang-orang yang sedang berselisih. Perselisihan dapat
merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan, bahkan menghapus kebaikan dan
memutus hubungan antarsesama Muslim.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki hubungan antara sesama Muslim selama
ia menemukan jalan untuk melakukannya. Bahkan, berdasarkan hadis-hadis yang
dikutip dalam pembahasan ini, mendamaikan dua pihak yang berselisih memiliki
keutamaan yang sangat besar.
Lebih jauh, al-Ghazali menjelaskan
bahwa dalam kondisi tertentu, menyampaikan perkataan yang bertujuan mendamaikan
dua orang yang berselisih tidak termasuk kedustaan yang tercela. Hal ini
menunjukkan besarnya perhatian syariat terhadap terjaganya persaudaraan dan
hilangnya permusuhan.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din
Bab: Adab Pergaulan dan Persaudaraan
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi (w.
505 H)
Teks Arab
ومنها أن يصلح ذات البين بين المسلمين
مهما وجد
إليه سبيلا
.
قال صلى الله عليه وسلم : ألا أخبركم
بأفضل من درجة الصلاة والصيام والصدقة قالوا : بلى
قال : إصلاح ذات البين وفساد ذات
البين هي الحالقة .
وقال صلى الله عليه وسلم : أفضل الصدقة
إصلاح ذات البين .
وعن النبي صلى الله عليه وسلم فيما
رواه أنس رضي الله عنه قال : بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس إذ ضحك حتى
بدت ثناياه فقال عمر رضي الله عنه يا رسول الله بأبي أنت وأمي ما الذي أضحك ؟ قال
: رجلان من أمتي جثيا بين يدي رب العزة فقال أحدهما يا رب خذ لي مظلمتي من هذا ،
فقال الله تعالى : رد على أخيك مظلمته
.
فقال
:يا رب لم يبق لي من حسناتي شيء ، فقال
الله تعالى للطالب : كيف تصنع بأخيك ولم يبق له من حسناته شيء ، فقال : يا رب
فليحمل عني من أوزاري
.
ثم فاضت عينا رسول الله صلى الله عليه
وسلم بالبكاء فقال : إن ذلك ليوم عظيم يوم يحتاج الناس فيه إلى أن يحمل عنهم من
أوزارهم قال فيقول الله تعالى أي للمتظلم ارفع بصرك فانظر في الجنان فقال : يا رب
أرى مدائن من فضة وقصورا من ذهب مكللة باللؤلؤ ، لأي نبي هذا ؟ أو لأي صديق ؟ أو
لأي شهيد قال ؟ الله تعالى : هذا لمن أعطى الثمن قال
:يا رب ومن يملك ذلك ؟ قال : أنت تملكه
، قال : بماذا يا رب ؟ قال : بعفوك عن أخيك ، قال : يا رب قد عفوت عنه ، فيقول
الله تعالى : خذ بيد أخيك فأدخله الجنة
.
ثم قال صلى الله عليه وسلم : اتقوا
وأصلحوا ذات بينكم ؛ فإن الله تعالى يصلح بين المؤمنين
يوم القيامة
.
وقد قال صلى الله عليه وسلم : ليس
بكذاب من أصلح بين اثنين فقال خيرا
.
وهذا يدل على وجوب الإصلاح بين الناس
؛ لأن ترك الكذب واجب ، ولا يسقط الواجب إلا بواجب
آكد منه قال صلى الله عليه وسلم : كل
الكذب مكتوب إلا أن يكذب الرجل في الحرب
.
فإن الحرب خدعة أو يكذب بين اثنين
فيصلح بينهما أو يكذب لامرأته ليرضيها
.
Terjemahan Lengkap
Di antaranya adalah hendaknya ia
memperbaiki hubungan antara sesama Muslim kapan pun ia menemukan jalan untuk
melakukannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada
kalian sesuatu yang lebih utama daripada derajat salat, puasa, dan sedekah?”
Para sahabat menjawab, “Tentu.”
Beliau bersabda:
“Memperbaiki hubungan antara sesama,
sedangkan rusaknya hubungan antara sesama adalah pencukur.”
Beliau ﷺ
juga bersabda:
“Sedekah yang paling utama adalah
memperbaiki hubungan antara sesama.”
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui Anas رضي
الله عنه, ia berkata:
Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga tampak gigi
serinya. Umar رضي الله عنه kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu, apa yang
membuatmu tertawa?”
Beliau menjawab:
“Ada dua orang dari umatku yang
berlutut di hadapan Tuhan Yang Mahamulia. Salah seorang dari keduanya berkata,
‘Wahai Tuhanku, ambillah hakku yang dizalimi oleh orang ini.’
Maka Allah Ta'ala berfirman,
‘Kembalikan kepada saudaramu hak yang telah engkau zalimi.’
Orang itu berkata, ‘Wahai Tuhanku,
tidak tersisa sedikit pun kebaikanku.’
Allah Ta'ala kemudian berfirman
kepada orang yang menuntut haknya, ‘Apa yang akan engkau lakukan terhadap
saudaramu, sementara tidak tersisa sedikit pun dari kebaikannya?’
Ia menjawab, ‘Wahai Tuhanku, biarlah
ia memikul sebagian dosa-dosaku.’”
Kemudian kedua mata Rasulullah ﷺ mengalirkan air mata karena menangis. Beliau
bersabda:
“Sesungguhnya itu adalah hari yang
sangat besar, yaitu hari ketika manusia membutuhkan agar dosa-dosa mereka
dipikul oleh orang lain.”
Beliau melanjutkan bahwa Allah
Ta'ala berfirman kepada orang yang menuntut haknya:
“Angkatlah pandanganmu dan lihatlah
taman-taman surga.”
Orang itu berkata:
“Wahai Tuhanku, aku melihat
kota-kota dari perak dan istana-istana dari emas yang dihiasi mutiara. Untuk
nabi siapakah ini? Atau untuk orang yang sangat benar? Atau untuk seorang
syahid?”
Allah Ta'ala berfirman:
“Ini adalah bagi orang yang
memberikan harganya.”
Ia berkata:
“Wahai Tuhanku, siapa yang mampu
memiliki itu?”
Allah berfirman:
“Engkau memilikinya.”
Ia berkata:
“Dengan apa, wahai Tuhanku?”
Allah berfirman:
“Dengan engkau memaafkan saudaramu.”
Ia berkata:
“Wahai Tuhanku, aku telah
memaafkannya.”
Maka Allah Ta'ala berfirman:
“Peganglah tangan saudaramu, lalu
masuklah bersamanya ke dalam surga.”
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bertakwalah dan perbaikilah
hubungan di antara kalian, karena sesungguhnya Allah Ta'ala akan memperbaiki
hubungan di antara orang-orang beriman pada hari kiamat.”
Beliau ﷺ
juga bersabda:
“Bukanlah seorang pendusta orang
yang mendamaikan dua orang, lalu ia menyampaikan perkataan yang baik.”
Hal ini menunjukkan kewajiban
melakukan ishlah di antara manusia, karena meninggalkan kedustaan pada dasarnya
adalah wajib. Dan suatu kewajiban tidak gugur kecuali karena adanya kewajiban
lain yang lebih kuat darinya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Setiap kedustaan dicatat sebagai
dosa, kecuali seseorang berdusta dalam peperangan.”
Sebab, perang adalah tipu
muslihat, atau seseorang berdusta di antara dua orang untuk mendamaikan
keduanya, atau seseorang berdusta kepada istrinya untuk membuatnya merasa
senang.
Artikel Pengembangan: Pentingnya
Mendamaikan Orang yang Berselisih
Perselisihan merupakan bagian dari
kehidupan manusia. Perbedaan kepentingan, kesalahpahaman, perkataan yang tidak
tepat, persoalan harta, maupun persoalan keluarga dapat menyebabkan hubungan
menjadi renggang.
Islam tidak hanya mengajarkan
seseorang untuk menjaga dirinya dari permusuhan, tetapi juga mendorongnya
menjadi pihak yang aktif memperbaiki hubungan orang lain.
Inilah yang disebut إصلاح ذات البين (ishlah dzatil-bain).
Secara sederhana, istilah tersebut
berarti memperbaiki keadaan hubungan di antara dua pihak yang sedang mengalami
keretakan. Tujuannya bukan memenangkan salah satu pihak, melainkan
menghilangkan permusuhan, mengembalikan hak, mempertemukan hati, dan
mengembalikan hubungan kepada keadaan yang baik.
Al-Ghazali bahkan menempatkan ishlah
ini sebagai salah satu bentuk amal yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Hal
tersebut menunjukkan bahwa ibadah sosial memiliki hubungan erat dengan
kesempurnaan akhlak seorang Muslim.
Penjelasan
1.
Apa yang dimaksud dengan إصلاح ذات البين?
Ungkapan إصلاح ذات البين terdiri
dari:
- إصلاح: memperbaiki.
- ذات البين: keadaan hubungan di antara dua
pihak.
Dengan demikian, maknanya adalah memperbaiki
hubungan yang rusak di antara manusia, terutama di antara kaum Muslimin.
Orang yang melakukan ishlah berusaha
menghilangkan sebab pertengkaran, mendekatkan kembali pihak-pihak yang
berselisih, serta mendorong mereka untuk saling memaafkan.
2.
“Rusaknya hubungan adalah pencukur”
Dalam hadis disebutkan:
وفساد
ذات البين هي الحالقة
“Rusaknya hubungan di antara sesama
adalah pencukur.”
Kata الحالقة secara harfiah berarti “yang mencukur”. Maksudnya
bukan mencukur rambut secara fisik, tetapi sesuatu yang menghabiskan atau
menghancurkan kebaikan agama.
Perselisihan yang berkepanjangan
dapat menyebabkan seseorang saling mencela, memutus silaturahmi, menyimpan
dendam, menzalimi, bahkan melakukan perbuatan yang lebih buruk.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya
tidak membiarkan pertikaian berkembang apabila masih ada jalan untuk
mendamaikannya.
3.
Mendamaikan manusia merupakan sedekah yang utama
Rasulullah ﷺ
bersabda:
أفضل
الصدقة إصلاح ذات البين
“Sedekah yang paling utama adalah
memperbaiki hubungan antara sesama.”
Sedekah tidak selalu berupa uang.
Ada sedekah yang berbentuk materi dan ada pula kebaikan yang dilakukan melalui
perkataan, sikap, dan usaha memperbaiki keadaan.
Seseorang yang menggunakan waktunya
untuk mempertemukan dua orang yang bertengkar, memberikan nasihat dengan
bijaksana, dan menghilangkan kebencian di antara mereka telah melakukan suatu
bentuk kebaikan yang besar.
4.
Memaafkan dapat menjadi jalan menuju keselamatan
Kisah dua orang yang disebutkan
dalam riwayat al-Ghazali menggambarkan betapa beratnya persoalan hak manusia
pada hari kiamat.
Orang yang dizalimi menuntut haknya.
Ketika orang yang zalim tidak memiliki lagi kebaikan untuk diberikan,
persoalannya menjadi sangat berat.
Namun, ketika pihak yang dizalimi
memilih untuk memaafkan, Allah memberikan balasan yang sangat besar
kepadanya.
Pesan moral yang dapat diambil
adalah bahwa kemampuan memaafkan bukanlah kelemahan. Dalam keadaan tertentu,
memaafkan justru menjadi sebab seseorang memperoleh kemuliaan dan keselamatan.
5.
Perkataan yang mendamaikan
Hadis:
ليس
بكذاب من أصلح بين اثنين فقال خيرا
“Bukanlah seorang pendusta orang
yang mendamaikan dua orang, lalu ia menyampaikan perkataan yang baik.”
Maksudnya bukan bahwa seseorang
bebas berdusta sesuka hati. Kedustaan tetap merupakan perkara yang tercela.
Namun, terdapat pengecualian dalam rangka mendamaikan pihak yang berselisih,
selama perkataan tersebut benar-benar diarahkan untuk memperbaiki hubungan dan
bukan untuk menimbulkan kerusakan baru.
Misalnya, seseorang menyampaikan
kepada salah satu pihak bahwa pihak lainnya menginginkan perdamaian dan tidak
ingin permusuhan berlanjut, padahal sebelumnya ia mungkin mengucapkan perkataan
yang keras karena emosi.
Tujuan perkataan tersebut adalah
menghilangkan permusuhan, bukan mengambil keuntungan pribadi.
6.
Tidak semua “dusta demi perdamaian” dibenarkan
Prinsip ini harus dipahami dengan
hati-hati.
Kebolehan menyampaikan perkataan
yang tidak sesuai dengan fakta dalam konteks ishlah bukan izin untuk
melakukan kebohongan secara bebas. Tujuannya harus benar-benar untuk memperbaiki
hubungan.
Jika seseorang mengaku mendamaikan
dua pihak, tetapi sebenarnya ia menyebarkan fitnah, mengadu domba, atau
memutarbalikkan perkataan agar salah satu pihak membenci pihak lainnya, maka
perbuatan tersebut justru bertentangan dengan ishlah.
Dengan demikian, ukuran utamanya
adalah tujuan perbaikan dan tidak menimbulkan kezaliman atau kerusakan yang
lebih besar.
Contoh
Contoh
1: Dua saudara berselisih
Dua orang saudara bertengkar karena
persoalan pembagian harta. Masing-masing merasa dirinya dirugikan.
Seorang anggota keluarga yang
dipercaya kemudian mempertemukan keduanya. Ia mendengarkan masing-masing pihak,
menjelaskan kesalahpahaman, dan mendorong keduanya menyelesaikan persoalan
dengan adil.
Tindakan tersebut termasuk bentuk
ishlah.
Contoh
2: Dua teman yang saling menjauh
Dua sahabat berhenti berbicara
karena salah memahami sebuah pesan.
Orang ketiga mengetahui bahwa
keduanya sebenarnya masih menyayangi satu sama lain. Ia kemudian berkata kepada
masing-masing:
“Dia sebenarnya tidak ingin hubungan
kalian berakhir. Sebaiknya kalian berbicara kembali dan menyelesaikan persoalan
ini.”
Perkataan tersebut dapat menjadi
sarana untuk mengembalikan persaudaraan.
Contoh
3: Menyampaikan perkataan yang menenangkan
Seseorang marah karena mendengar
bahwa temannya pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Orang yang menjadi penengah tidak
perlu mengulang semua perkataan buruk tersebut. Ia dapat menyampaikan sisi yang
mendamaikan dan mengajak keduanya berbicara secara langsung.
Ini lebih dekat dengan tujuan ishlah,
karena yang dicari adalah penyelesaian, bukan memperpanjang pertengkaran.
Contoh
4: Memaafkan ketika mampu menuntut
Seseorang benar-benar memiliki hak
atas orang lain. Namun, setelah mempertimbangkan keadaan saudaranya, ia memilih
memaafkan.
Dalam perspektif akhlak yang
dijelaskan dalam teks ini, sikap tersebut dapat menjadi sebab datangnya
kemuliaan dan pahala yang besar.
Kesimpulan
Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa
memperbaiki hubungan di antara kaum Muslimin merupakan salah satu akhlak yang sangat
mulia. Seorang Muslim hendaknya berusaha melakukan ishlah kapan pun ia
menemukan jalan untuk melakukannya.
Perselisihan yang dibiarkan dapat
menghancurkan persaudaraan, sedangkan perdamaian dapat mengembalikan kasih
sayang dan persatuan.
Teks ini juga menunjukkan besarnya
keutamaan memaafkan. Orang yang dizalimi memiliki hak untuk menuntut keadilan,
tetapi ketika ia memilih memaafkan demi Allah, ia dapat memperoleh balasan yang
jauh lebih besar.
Adapun perkataan yang tidak
sepenuhnya sesuai dengan fakta dalam rangka mendamaikan dua pihak merupakan
pengecualian yang disebutkan dalam hadis, bukan pembenaran terhadap kebiasaan
berdusta.
Hikmah
- Memperbaiki hubungan manusia merupakan amal yang sangat
utama.
- Perselisihan dapat menghancurkan kebaikan dan persaudaraan.
- Mendamaikan dua pihak termasuk bentuk sedekah.
- Memaafkan dapat menjadi sebab memperoleh kemuliaan dari
Allah.
- Seorang Muslim hendaknya menjadi pembawa perdamaian,
bukan pembawa pertikaian.
- Tidak semua perkataan harus disampaikan apabila
penyampaiannya justru memperbesar permusuhan.
- Tujuan ishlah adalah memperbaiki hubungan, bukan
memenangkan salah satu pihak.
- Kebolehan perkataan dalam rangka mendamaikan tidak
boleh dijadikan alasan untuk berdusta dan berbuat zalim.
- Hak manusia sangat penting sehingga harus diselesaikan
dengan adil.
- Memaafkan merupakan akhlak yang dapat memberikan
manfaat besar bagi seseorang di dunia dan akhirat.
Penutup
Persaudaraan tidak selalu rusak
karena kebencian yang besar. Terkadang ia hancur hanya karena kesalahpahaman
kecil yang dibiarkan terlalu lama. Karena itu, orang yang memiliki kesempatan
untuk mendamaikan dua pihak hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Ishlah dzatil-bain bukan sekadar menyelesaikan pertengkaran, tetapi merupakan
usaha menjaga persaudaraan, menghilangkan dendam, mengembalikan hak, dan
menghadirkan kembali kasih sayang di antara kaum Muslimin.
Maka, ketika menemukan dua orang
yang sedang berselisih, jangan menjadi orang yang menambah api permusuhan.
Jadilah orang yang membawa ketenangan, mempertemukan hati, dan membuka jalan
menuju saling memaafkan.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Menghormati Manusia Sesuai Kedudukan dan Haknya Menurut Imam al-Ghazali(02/05/82)
Menutup Aib Sesama Muslim dan Menjaga Kehormatan Menurut Imam al-Ghazali (02/05/84)

.png)
0 Komentar