Memperbaiki Hubungan Sesama Muslim, Mendamaikan Perselisihan dan Pentingnya Memaafkan (02/05/83)

Memperbaiki hubungan sesama Muslim adalah amal utama. Imam al-Ghazali menjelaskan keutamaan mendamaikan perselisihan dan pentingnya memaafkan

Pendahuluan

Salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam adalah ishlah dzatil-bain, yaitu memperbaiki hubungan di antara orang-orang yang sedang berselisih. Perselisihan dapat merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan, bahkan menghapus kebaikan dan memutus hubungan antarsesama Muslim.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki hubungan antara sesama Muslim selama ia menemukan jalan untuk melakukannya. Bahkan, berdasarkan hadis-hadis yang dikutip dalam pembahasan ini, mendamaikan dua pihak yang berselisih memiliki keutamaan yang sangat besar.

Lebih jauh, al-Ghazali menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, menyampaikan perkataan yang bertujuan mendamaikan dua orang yang berselisih tidak termasuk kedustaan yang tercela. Hal ini menunjukkan besarnya perhatian syariat terhadap terjaganya persaudaraan dan hilangnya permusuhan.

Sumber

Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din
Bab: Adab Pergaulan dan Persaudaraan
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi (w. 505 H)

Teks Arab

ومنها أن يصلح ذات البين بين المسلمين مهما وجد
إليه سبيلا .

قال صلى الله عليه وسلم : ألا أخبركم بأفضل من درجة الصلاة والصيام والصدقة قالوا : بلى
قال : إصلاح ذات البين وفساد ذات البين هي الحالقة .

وقال صلى الله عليه وسلم : أفضل الصدقة إصلاح ذات البين .

وعن النبي صلى الله عليه وسلم فيما رواه أنس رضي الله عنه قال : بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس إذ ضحك حتى بدت ثناياه فقال عمر رضي الله عنه يا رسول الله بأبي أنت وأمي ما الذي أضحك ؟ قال : رجلان من أمتي جثيا بين يدي رب العزة فقال أحدهما يا رب خذ لي مظلمتي من هذا ، فقال الله تعالى : رد على أخيك مظلمته .

فقال :يا رب لم يبق لي من حسناتي شيء ، فقال الله تعالى للطالب : كيف تصنع بأخيك ولم يبق له من حسناته شيء ، فقال : يا رب فليحمل عني من أوزاري .

ثم فاضت عينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بالبكاء فقال : إن ذلك ليوم عظيم يوم يحتاج الناس فيه إلى أن يحمل عنهم من أوزارهم قال فيقول الله تعالى أي للمتظلم ارفع بصرك فانظر في الجنان فقال : يا رب أرى مدائن من فضة وقصورا من ذهب مكللة باللؤلؤ ، لأي نبي هذا ؟ أو لأي صديق ؟ أو لأي شهيد قال ؟ الله تعالى : هذا لمن أعطى الثمن قال :يا رب ومن يملك ذلك ؟ قال : أنت تملكه ، قال : بماذا يا رب ؟ قال : بعفوك عن أخيك ، قال : يا رب قد عفوت عنه ، فيقول الله تعالى : خذ بيد أخيك فأدخله الجنة .

ثم قال صلى الله عليه وسلم : اتقوا وأصلحوا ذات بينكم ؛ فإن الله تعالى يصلح بين المؤمنين
يوم القيامة .

وقد قال صلى الله عليه وسلم : ليس بكذاب من أصلح بين اثنين فقال خيرا .

وهذا يدل على وجوب الإصلاح بين الناس ؛ لأن ترك الكذب واجب ، ولا يسقط الواجب إلا بواجب
آكد منه قال صلى الله عليه وسلم : كل الكذب مكتوب إلا أن يكذب الرجل في الحرب .

فإن الحرب خدعة أو يكذب بين اثنين فيصلح بينهما أو يكذب لامرأته ليرضيها .

Terjemahan Lengkap

Di antaranya adalah hendaknya ia memperbaiki hubungan antara sesama Muslim kapan pun ia menemukan jalan untuk melakukannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang lebih utama daripada derajat salat, puasa, dan sedekah?”

Para sahabat menjawab, “Tentu.”

Beliau bersabda:

“Memperbaiki hubungan antara sesama, sedangkan rusaknya hubungan antara sesama adalah pencukur.”

Beliau ﷺ juga bersabda:

“Sedekah yang paling utama adalah memperbaiki hubungan antara sesama.”

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ melalui Anas رضي الله عنه, ia berkata:

Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa hingga tampak gigi serinya. Umar رضي الله عنه kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu, apa yang membuatmu tertawa?”

Beliau menjawab:

“Ada dua orang dari umatku yang berlutut di hadapan Tuhan Yang Mahamulia. Salah seorang dari keduanya berkata, ‘Wahai Tuhanku, ambillah hakku yang dizalimi oleh orang ini.’

Maka Allah Ta'ala berfirman, ‘Kembalikan kepada saudaramu hak yang telah engkau zalimi.’

Orang itu berkata, ‘Wahai Tuhanku, tidak tersisa sedikit pun kebaikanku.’

Allah Ta'ala kemudian berfirman kepada orang yang menuntut haknya, ‘Apa yang akan engkau lakukan terhadap saudaramu, sementara tidak tersisa sedikit pun dari kebaikannya?’

Ia menjawab, ‘Wahai Tuhanku, biarlah ia memikul sebagian dosa-dosaku.’”

Kemudian kedua mata Rasulullah ﷺ mengalirkan air mata karena menangis. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya itu adalah hari yang sangat besar, yaitu hari ketika manusia membutuhkan agar dosa-dosa mereka dipikul oleh orang lain.”

Beliau melanjutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada orang yang menuntut haknya:

“Angkatlah pandanganmu dan lihatlah taman-taman surga.”

Orang itu berkata:

“Wahai Tuhanku, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana dari emas yang dihiasi mutiara. Untuk nabi siapakah ini? Atau untuk orang yang sangat benar? Atau untuk seorang syahid?”

Allah Ta'ala berfirman:

“Ini adalah bagi orang yang memberikan harganya.”

Ia berkata:

“Wahai Tuhanku, siapa yang mampu memiliki itu?”

Allah berfirman:

“Engkau memilikinya.”

Ia berkata:

“Dengan apa, wahai Tuhanku?”

Allah berfirman:

“Dengan engkau memaafkan saudaramu.”

Ia berkata:

“Wahai Tuhanku, aku telah memaafkannya.”

Maka Allah Ta'ala berfirman:

“Peganglah tangan saudaramu, lalu masuklah bersamanya ke dalam surga.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bertakwalah dan perbaikilah hubungan di antara kalian, karena sesungguhnya Allah Ta'ala akan memperbaiki hubungan di antara orang-orang beriman pada hari kiamat.”

Beliau ﷺ juga bersabda:

“Bukanlah seorang pendusta orang yang mendamaikan dua orang, lalu ia menyampaikan perkataan yang baik.”

Hal ini menunjukkan kewajiban melakukan ishlah di antara manusia, karena meninggalkan kedustaan pada dasarnya adalah wajib. Dan suatu kewajiban tidak gugur kecuali karena adanya kewajiban lain yang lebih kuat darinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kedustaan dicatat sebagai dosa, kecuali seseorang berdusta dalam peperangan.”

Sebab, perang adalah tipu muslihat, atau seseorang berdusta di antara dua orang untuk mendamaikan keduanya, atau seseorang berdusta kepada istrinya untuk membuatnya merasa senang.

Artikel Pengembangan: Pentingnya Mendamaikan Orang yang Berselisih

Perselisihan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Perbedaan kepentingan, kesalahpahaman, perkataan yang tidak tepat, persoalan harta, maupun persoalan keluarga dapat menyebabkan hubungan menjadi renggang.

Islam tidak hanya mengajarkan seseorang untuk menjaga dirinya dari permusuhan, tetapi juga mendorongnya menjadi pihak yang aktif memperbaiki hubungan orang lain.

Inilah yang disebut إصلاح ذات البين (ishlah dzatil-bain).

Secara sederhana, istilah tersebut berarti memperbaiki keadaan hubungan di antara dua pihak yang sedang mengalami keretakan. Tujuannya bukan memenangkan salah satu pihak, melainkan menghilangkan permusuhan, mengembalikan hak, mempertemukan hati, dan mengembalikan hubungan kepada keadaan yang baik.

Al-Ghazali bahkan menempatkan ishlah ini sebagai salah satu bentuk amal yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ibadah sosial memiliki hubungan erat dengan kesempurnaan akhlak seorang Muslim.

Penjelasan

1. Apa yang dimaksud dengan إصلاح ذات البين?

Ungkapan إصلاح ذات البين terdiri dari:

  • إصلاح: memperbaiki.
  • ذات البين: keadaan hubungan di antara dua pihak.

Dengan demikian, maknanya adalah memperbaiki hubungan yang rusak di antara manusia, terutama di antara kaum Muslimin.

Orang yang melakukan ishlah berusaha menghilangkan sebab pertengkaran, mendekatkan kembali pihak-pihak yang berselisih, serta mendorong mereka untuk saling memaafkan.

2. “Rusaknya hubungan adalah pencukur”

Dalam hadis disebutkan:

وفساد ذات البين هي الحالقة

“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah pencukur.”

Kata الحالقة secara harfiah berarti “yang mencukur”. Maksudnya bukan mencukur rambut secara fisik, tetapi sesuatu yang menghabiskan atau menghancurkan kebaikan agama.

Perselisihan yang berkepanjangan dapat menyebabkan seseorang saling mencela, memutus silaturahmi, menyimpan dendam, menzalimi, bahkan melakukan perbuatan yang lebih buruk.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak membiarkan pertikaian berkembang apabila masih ada jalan untuk mendamaikannya.

3. Mendamaikan manusia merupakan sedekah yang utama

Rasulullah ﷺ bersabda:

أفضل الصدقة إصلاح ذات البين

“Sedekah yang paling utama adalah memperbaiki hubungan antara sesama.”

Sedekah tidak selalu berupa uang. Ada sedekah yang berbentuk materi dan ada pula kebaikan yang dilakukan melalui perkataan, sikap, dan usaha memperbaiki keadaan.

Seseorang yang menggunakan waktunya untuk mempertemukan dua orang yang bertengkar, memberikan nasihat dengan bijaksana, dan menghilangkan kebencian di antara mereka telah melakukan suatu bentuk kebaikan yang besar.

4. Memaafkan dapat menjadi jalan menuju keselamatan

Kisah dua orang yang disebutkan dalam riwayat al-Ghazali menggambarkan betapa beratnya persoalan hak manusia pada hari kiamat.

Orang yang dizalimi menuntut haknya. Ketika orang yang zalim tidak memiliki lagi kebaikan untuk diberikan, persoalannya menjadi sangat berat.

Namun, ketika pihak yang dizalimi memilih untuk memaafkan, Allah memberikan balasan yang sangat besar kepadanya.

Pesan moral yang dapat diambil adalah bahwa kemampuan memaafkan bukanlah kelemahan. Dalam keadaan tertentu, memaafkan justru menjadi sebab seseorang memperoleh kemuliaan dan keselamatan.

5. Perkataan yang mendamaikan

Hadis:

ليس بكذاب من أصلح بين اثنين فقال خيرا

“Bukanlah seorang pendusta orang yang mendamaikan dua orang, lalu ia menyampaikan perkataan yang baik.”

Maksudnya bukan bahwa seseorang bebas berdusta sesuka hati. Kedustaan tetap merupakan perkara yang tercela. Namun, terdapat pengecualian dalam rangka mendamaikan pihak yang berselisih, selama perkataan tersebut benar-benar diarahkan untuk memperbaiki hubungan dan bukan untuk menimbulkan kerusakan baru.

Misalnya, seseorang menyampaikan kepada salah satu pihak bahwa pihak lainnya menginginkan perdamaian dan tidak ingin permusuhan berlanjut, padahal sebelumnya ia mungkin mengucapkan perkataan yang keras karena emosi.

Tujuan perkataan tersebut adalah menghilangkan permusuhan, bukan mengambil keuntungan pribadi.

6. Tidak semua “dusta demi perdamaian” dibenarkan

Prinsip ini harus dipahami dengan hati-hati.

Kebolehan menyampaikan perkataan yang tidak sesuai dengan fakta dalam konteks ishlah bukan izin untuk melakukan kebohongan secara bebas. Tujuannya harus benar-benar untuk memperbaiki hubungan.

Jika seseorang mengaku mendamaikan dua pihak, tetapi sebenarnya ia menyebarkan fitnah, mengadu domba, atau memutarbalikkan perkataan agar salah satu pihak membenci pihak lainnya, maka perbuatan tersebut justru bertentangan dengan ishlah.

Dengan demikian, ukuran utamanya adalah tujuan perbaikan dan tidak menimbulkan kezaliman atau kerusakan yang lebih besar.

Contoh

Contoh 1: Dua saudara berselisih

Dua orang saudara bertengkar karena persoalan pembagian harta. Masing-masing merasa dirinya dirugikan.

Seorang anggota keluarga yang dipercaya kemudian mempertemukan keduanya. Ia mendengarkan masing-masing pihak, menjelaskan kesalahpahaman, dan mendorong keduanya menyelesaikan persoalan dengan adil.

Tindakan tersebut termasuk bentuk ishlah.

Contoh 2: Dua teman yang saling menjauh

Dua sahabat berhenti berbicara karena salah memahami sebuah pesan.

Orang ketiga mengetahui bahwa keduanya sebenarnya masih menyayangi satu sama lain. Ia kemudian berkata kepada masing-masing:

“Dia sebenarnya tidak ingin hubungan kalian berakhir. Sebaiknya kalian berbicara kembali dan menyelesaikan persoalan ini.”

Perkataan tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembalikan persaudaraan.

Contoh 3: Menyampaikan perkataan yang menenangkan

Seseorang marah karena mendengar bahwa temannya pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Orang yang menjadi penengah tidak perlu mengulang semua perkataan buruk tersebut. Ia dapat menyampaikan sisi yang mendamaikan dan mengajak keduanya berbicara secara langsung.

Ini lebih dekat dengan tujuan ishlah, karena yang dicari adalah penyelesaian, bukan memperpanjang pertengkaran.

Contoh 4: Memaafkan ketika mampu menuntut

Seseorang benar-benar memiliki hak atas orang lain. Namun, setelah mempertimbangkan keadaan saudaranya, ia memilih memaafkan.

Dalam perspektif akhlak yang dijelaskan dalam teks ini, sikap tersebut dapat menjadi sebab datangnya kemuliaan dan pahala yang besar.

Kesimpulan

Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa memperbaiki hubungan di antara kaum Muslimin merupakan salah satu akhlak yang sangat mulia. Seorang Muslim hendaknya berusaha melakukan ishlah kapan pun ia menemukan jalan untuk melakukannya.

Perselisihan yang dibiarkan dapat menghancurkan persaudaraan, sedangkan perdamaian dapat mengembalikan kasih sayang dan persatuan.

Teks ini juga menunjukkan besarnya keutamaan memaafkan. Orang yang dizalimi memiliki hak untuk menuntut keadilan, tetapi ketika ia memilih memaafkan demi Allah, ia dapat memperoleh balasan yang jauh lebih besar.

Adapun perkataan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta dalam rangka mendamaikan dua pihak merupakan pengecualian yang disebutkan dalam hadis, bukan pembenaran terhadap kebiasaan berdusta.

Hikmah

  1. Memperbaiki hubungan manusia merupakan amal yang sangat utama.
  2. Perselisihan dapat menghancurkan kebaikan dan persaudaraan.
  3. Mendamaikan dua pihak termasuk bentuk sedekah.
  4. Memaafkan dapat menjadi sebab memperoleh kemuliaan dari Allah.
  5. Seorang Muslim hendaknya menjadi pembawa perdamaian, bukan pembawa pertikaian.
  6. Tidak semua perkataan harus disampaikan apabila penyampaiannya justru memperbesar permusuhan.
  7. Tujuan ishlah adalah memperbaiki hubungan, bukan memenangkan salah satu pihak.
  8. Kebolehan perkataan dalam rangka mendamaikan tidak boleh dijadikan alasan untuk berdusta dan berbuat zalim.
  9. Hak manusia sangat penting sehingga harus diselesaikan dengan adil.
  10. Memaafkan merupakan akhlak yang dapat memberikan manfaat besar bagi seseorang di dunia dan akhirat.

Penutup

Persaudaraan tidak selalu rusak karena kebencian yang besar. Terkadang ia hancur hanya karena kesalahpahaman kecil yang dibiarkan terlalu lama. Karena itu, orang yang memiliki kesempatan untuk mendamaikan dua pihak hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Ishlah dzatil-bain bukan sekadar menyelesaikan pertengkaran, tetapi merupakan usaha menjaga persaudaraan, menghilangkan dendam, mengembalikan hak, dan menghadirkan kembali kasih sayang di antara kaum Muslimin.

Maka, ketika menemukan dua orang yang sedang berselisih, jangan menjadi orang yang menambah api permusuhan. Jadilah orang yang membawa ketenangan, mempertemukan hati, dan membuka jalan menuju saling memaafkan.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Menghormati Manusia Sesuai Kedudukan dan Haknya Menurut Imam al-Ghazali(02/05/82)

Menepati Janji dan Bersikap Adil kepada Sesama dan Memperlakukan OrangLain Sebagaimana Kita Ingin Diperlakukan (02/05/81)

Menutup Aib Sesama Muslim dan Menjaga Kehormatan Menurut Imam al-Ghazali (02/05/84)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Syu'aibiyah dalam Khawarij: Perpecahan Ajaridah Akibat Perdebatan tentang Kehendak Allah (Masyi'ah)

Pendahuluan Di antara cabang-cabang kelompok Ajaridah dalam Khawarij terdapat golongan Syu'aibiyah , yang kemunculannya berawal dari...