Pendahuluan
Islam memberikan perhatian besar
terhadap akhlak dalam hubungan antarmanusia. Salah satu bentuk akhlak yang
sangat penting adalah menepati janji dan memperlakukan orang lain dengan
adil.
Janji bukan sekadar ucapan yang
keluar dari lisan. Ketika seseorang berjanji kepada orang lain, janji tersebut
menimbulkan tanggung jawab moral yang harus dipenuhi. Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap
kebiasaan mengingkari janji dan menjadikannya sebagai salah satu sifat yang
tercela.
Imam al-Ghazali رحمه الله juga menjelaskan bahwa seorang Muslim hendaknya
berlaku adil terhadap manusia dari dirinya sendiri. Maksudnya, ia tidak
hanya menuntut haknya dari orang lain, tetapi juga memberikan kepada mereka hak
yang ia sendiri ingin mendapatkannya.
Prinsip ini sangat dekat dengan
ajaran untuk mencintai bagi orang lain apa yang dicintai bagi diri sendiri.
Seorang Muslim tidak sepatutnya menghendaki perlakuan baik untuk dirinya,
tetapi memberikan perlakuan buruk kepada orang lain.
Dalam pembahasan ini, al-Ghazali
mengutip sejumlah sabda Rasulullah ﷺ
dan perkataan para salaf yang menunjukkan bahwa menepati janji, berlaku
adil, menjaga hak tetangga, menebarkan salam, dan memperlakukan manusia
sebagaimana kita ingin diperlakukan merupakan bagian penting dari
kesempurnaan iman dan Islam.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi
Wafat: 505 H
Pembahasan: Adab pergaulan seorang Muslim dengan sesama manusia.
Pengarang
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali al-Tusi رحمه الله,
wafat pada tahun 505 H.
Dalam bagian ini, beliau membahas
dua prinsip besar dalam hubungan sosial, yaitu menepati janji dan bersikap
adil terhadap manusia. Keduanya merupakan bagian penting dari akhlak
seorang Muslim dan memiliki hubungan erat dengan kesempurnaan iman.
Teks Arab
ومن آداب
معاشرة المسلمين
ومنها أن لا يعد مسلما بوعد إلا ويفي
به، قال صلى الله عليه وسلم:
العدة عطية.
وقال:
العدة دين.
وقال:
ثلاث في المنافق إذا حدث كذب وإذا وعد
أخلف وإذا ائتمن خان.
وقال:
ثلاث من كن فيه فهو منافق وإن صام
وصلى.
وذكر ذلك.
ومنها أن ينصف الناس من نفسه، ولا
يأتي إليهم إلا بما يحب أن يؤتى إليه، قال صلى الله عليه وسلم: لا يستكمل العبد الإيمان حتى يكون فيه ثلاث خصال: الإنفاق من
الإقتار والإنصاف من نفسه وبذل السلام.
وقال عليه السلام: من سره أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يشهد
أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وليؤت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه.
وقال صلى الله عليه وسلم: يا أبا الدرداء أحسن مجاورة من جاورك تكن مؤمنا، وأحب للناس ما
تحب لنفسك تكن مسلما.
قال الحسن: أوحى الله تعالى إلى آدم
صلى الله عليه وسلم بأربع خصال، وقال فيهن: جماع الأمر لك ولولدك، واحدة لي،
وواحدة لك، وواحدة بيني وبينك، وواحدة بينك وبين الخلق.
فأما التي لي: تعبدني ولا تشرك بي
شيئا.
وأما التي لك: فعملك أجزيك به أفقر ما
تكون إليه.
وأما التي بيني وبينك: فعليك الدعاء
وعلي الإجابة.
وأما التي بينك وبين الناس: فتصحبهم
بالذي تحب أن يصحبوك به.
وسأل موسى عليه السلام الله تعالى
فقال: أي رب، أي عبادك أعدل؟ قال:
من أنصف من نفسه.
Terjemahan Lengkap
Di antara adab tersebut adalah janganlah
seseorang menjanjikan sesuatu kepada seorang Muslim kecuali ia menepatinya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Janji adalah pemberian.”
Beliau juga bersabda:
“Janji adalah tanggungan.”
Beliau bersabda:
“Ada tiga tanda pada orang munafik:
apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila
dipercaya, ia berkhianat.”
Beliau juga bersabda:
“Ada tiga perkara yang apabila
terdapat pada seseorang, maka ia adalah seorang munafik, meskipun ia berpuasa
dan mengerjakan salat.”
Al-Ghazali kemudian menyebutkan hal
tersebut.
Di antara adab tersebut adalah hendaknya
seseorang berlaku adil terhadap manusia dalam urusan dirinya sendiri, dan tidak
memperlakukan mereka kecuali dengan sesuatu yang ia sendiri senang jika
diperlakukan dengannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Seorang hamba belum menyempurnakan
iman sampai terdapat dalam dirinya tiga sifat: berinfak dalam keadaan sempit,
berlaku adil terhadap dirinya sendiri, dan menebarkan salam.”
Beliau ﷺ
juga bersabda:
“Barang siapa merasa senang
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya kematiannya
datang kepadanya dalam keadaan ia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah
dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta hendaknya ia memperlakukan
manusia dengan sesuatu yang ia senang jika diperlakukan dengannya.”
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Wahai Abu Darda, perlakukanlah
dengan baik orang yang menjadi tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang
Mukmin. Dan cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu
sendiri, niscaya engkau menjadi seorang Muslim.”
Al-Hasan berkata:
“Allah Ta'ala mewahyukan kepada Adam
عليه السلام empat perkara, dan Dia berfirman tentang
perkara-perkara tersebut: ‘Pokok seluruh urusan bagimu dan bagi anak
keturunanmu adalah empat hal: satu untuk-Ku, satu untukmu, satu antara Aku dan
kamu, dan satu antara kamu dan makhluk.’
Adapun yang menjadi hak-Ku adalah:
‘Engkau menyembah-Ku dan tidak
mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku.’
Adapun yang menjadi hakmu adalah:
‘Amalmu akan Aku beri balasan ketika
engkau menjadi orang yang paling membutuhkan balasan tersebut.’
Adapun yang antara Aku dan kamu
adalah:
‘Kamu berdoa, sedangkan Aku yang
mengabulkan.’
Adapun yang antara kamu dan manusia
adalah:
‘Engkau mempergauli mereka dengan
sesuatu yang engkau senang jika mereka mempergaulimu dengannya.’”
Musa عليه
السلام bertanya kepada Allah Ta'ala:
“Wahai Tuhanku, siapakah hamba-Mu yang
paling adil?”
Allah berfirman:
“Orang yang berlaku adil terhadap
dirinya sendiri.”
Artikel Pengembangan
Janji
adalah Tanggung Jawab
Janji merupakan bentuk komitmen
seseorang terhadap orang lain.
Ketika seseorang mengatakan, “Saya
akan datang,” “Saya akan mengembalikan barang ini,” atau “Saya akan membantu
Anda,” maka ucapan tersebut tidak semestinya dianggap sebagai perkataan ringan.
Karena itu, Imam al-Ghazali
menempatkan menepati janji sebagai bagian dari adab pergaulan seorang
Muslim.
Janji yang diucapkan dengan sengaja
harus dipandang sebagai tanggung jawab yang perlu dipenuhi selama tidak
bertentangan dengan syariat.
Mengingkari
Janji adalah Akhlak yang Tercela
Rasulullah ﷺ
menyebutkan mengingkari janji sebagai salah satu sifat orang munafik.
Hal ini menunjukkan betapa seriusnya
masalah janji dalam Islam.
Seseorang yang terbiasa berjanji
tetapi tidak pernah berusaha menepatinya akan kehilangan kepercayaan dari orang
lain. Hubungan persahabatan, keluarga, perdagangan, dan kerja sama akan rusak
apabila janji tidak lagi memiliki nilai.
Berlaku
Adil Dimulai dari Diri Sendiri
Ungkapan:
أن
ينصف الناس من نفسه
mengandung makna yang sangat dalam.
Seseorang hendaknya memberikan
kepada orang lain hak yang ia sendiri ingin dapatkan.
Ia tidak boleh hanya melihat
kepentingannya sendiri. Ketika menjadi pembeli, ia menginginkan penjual
bersikap jujur. Maka ketika menjadi penjual, ia juga harus jujur.
Ketika ingin orang lain
menghormatinya, ia harus menghormati orang lain.
Ketika ingin kesalahannya dimaafkan,
ia juga harus belajar memaafkan.
Prinsip
Memperlakukan Orang Lain
Imam al-Ghazali mengutip prinsip:
ولا
يأتي إليهم إلا بما يحب أن يؤتى إليه
“Dan tidak memperlakukan mereka
kecuali dengan sesuatu yang ia senang jika diperlakukan dengannya.”
Ini merupakan prinsip besar dalam
akhlak sosial.
Sebelum melakukan sesuatu kepada
orang lain, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah saya senang jika
diperlakukan seperti ini?”
Jika jawabannya tidak, maka ia
seharusnya mempertimbangkan kembali tindakannya.
Iman
dan Akhlak Sosial
Teks ini menghubungkan iman dengan
beberapa perilaku sosial: berinfak dalam kesempitan, berlaku adil, dan
menebarkan salam.
Hal ini menunjukkan bahwa iman bukan
hanya keyakinan yang berada di dalam hati. Iman juga memiliki konsekuensi dalam
hubungan seseorang dengan manusia.
Semakin kuat iman seseorang,
seharusnya semakin baik pula akhlaknya.
Menjaga
Hak Tetangga
Wasiat kepada Abu Darda رضي الله عنه juga menekankan pentingnya memperlakukan
tetangga dengan baik.
Tetangga adalah orang yang paling
sering bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari seseorang. Karena itu, gangguan
kecil yang terus-menerus dapat menjadi sumber permusuhan yang besar.
Sebaliknya, sikap baik kepada
tetangga dapat menciptakan lingkungan yang penuh ketenteraman.
Adil
Tidak Berarti Selalu Menguntungkan Diri Sendiri
Orang yang adil tidak hanya mencari
apa yang menguntungkan dirinya.
Kadang-kadang keadilan mengharuskan
seseorang mengakui bahwa pihak lain memang memiliki hak.
Karena itu, keadilan yang sebenarnya
dimulai ketika seseorang mampu mengatakan:
“Dalam perkara ini, orang lain benar
dan saya yang harus memberikan haknya.”
Empat
Hubungan dalam Wasiat kepada Adam
Perkataan al-Hasan tentang empat
perkara memberikan kerangka yang menarik mengenai kehidupan manusia.
Pertama, hubungan manusia dengan
Allah, yaitu beribadah dan tidak mempersekutukan-Nya.
Kedua, amal manusia dan balasan
Allah, yaitu amal yang akan mendapatkan balasan ketika manusia sangat
membutuhkannya.
Ketiga, hubungan antara manusia
dengan Allah, yaitu doa dari hamba dan jawaban dari Allah.
Keempat, hubungan manusia dengan
sesama makhluk, yaitu memperlakukan mereka sebagaimana seseorang ingin
diperlakukan.
Dengan demikian, kehidupan seorang
Muslim mencakup hubungan vertikal dengan Allah sekaligus hubungan horizontal
dengan sesama manusia.
Penjelasan
1.
العدة
العدة berarti
janji atau sesuatu yang dijanjikan.
Dalam konteks pembahasan ini, yang
dimaksud adalah janji yang diberikan seseorang kepada orang lain.
2.
العدة عطية
“Janji adalah pemberian.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa
ketika seseorang memberikan janji kepada orang lain, janji tersebut merupakan
sesuatu yang telah ia berikan melalui lisannya. Karena itu, ia tidak semestinya
meremehkannya.
3.
العدة دين
“Janji adalah tanggungan.”
Kata دين berarti sesuatu yang menjadi kewajiban atau
tanggungan.
Ungkapan ini memperkuat makna bahwa
janji bukan perkataan yang boleh diabaikan begitu saja.
4.
إذا وعد أخلف
أخلف berarti
tidak memenuhi atau mengingkari.
Maka:
إذا
وعد أخلف
berarti:
“Apabila berjanji, ia
mengingkarinya.”
5.
الإنصاف من النفس
الإنصاف
من النفس berarti berlaku adil terhadap diri sendiri dalam hubungannya
dengan orang lain.
Maksudnya, seseorang tidak hanya
menuntut haknya, tetapi juga mengakui dan memberikan hak orang lain meskipun
hal itu terkadang merugikan kepentingan dirinya.
6.
وليؤت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه
Maksudnya adalah:
“Hendaknya ia memperlakukan manusia
sebagaimana ia senang jika dirinya diperlakukan demikian.”
Ini merupakan prinsip timbal balik
dalam akhlak, bukan berarti setiap keadaan harus diperlakukan secara identik,
tetapi seseorang harus menjadikan hak dan kehormatan orang lain sebagai sesuatu
yang juga ia hormati bagi dirinya.
7.
أحسن مجاورة من جاورك
Ungkapan ini berarti:
“Berbuat baiklah dalam bertetangga
kepada orang yang menjadi tetanggamu.”
Kebaikan kepada tetangga mencakup
tidak menyakiti, menghormati, membantu ketika membutuhkan, dan menjaga hubungan
baik.
8.
وأحب للناس ما تحب لنفسك
Artinya:
“Cintailah untuk manusia apa yang
engkau cintai untuk dirimu sendiri.”
Ini merupakan salah satu kaidah
akhlak yang sangat luas penerapannya.
9.
من أنصف من نفسه
“Orang yang berlaku adil terhadap
dirinya sendiri.”
Maksudnya adalah orang yang bersedia
mengakui hak orang lain dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Keadilan yang sejati menuntut
seseorang untuk objektif bahkan ketika keputusan tersebut tidak menguntungkan
dirinya.
Contoh
Contoh
1: Menepati Janji
Seseorang berjanji kepada temannya
akan datang pada waktu tertentu. Ia mengatur waktunya agar dapat memenuhi janji
tersebut.
Jika terjadi halangan yang
benar-benar tidak dapat dihindari, ia segera memberi kabar dan meminta maaf.
Contoh
2: Janji Mengembalikan Utang
Seseorang berjanji mengembalikan
utang pada tanggal tertentu. Ia berusaha mempersiapkan pembayaran sebelum jatuh
tempo.
Ia tidak menganggap janji tersebut
sebagai ucapan yang boleh dilupakan.
Contoh
3: Berlaku Adil dalam Jual Beli
Seorang penjual menginginkan pembeli
memberikan pembayaran sesuai kesepakatan.
Maka ia pun harus memberikan barang
sesuai kualitas dan jumlah yang telah disepakati.
Contoh
4: Tidak Melakukan kepada Orang Lain Apa yang Tidak Disukai
Seseorang tidak senang apabila orang
lain membuka rahasia pribadinya.
Karena itu, ia juga tidak
menyebarkan rahasia orang lain.
Contoh
5: Menghormati Orang Lain
Seseorang ingin pendapatnya
didengarkan tanpa dipotong.
Maka ketika orang lain berbicara, ia
juga memberikan kesempatan kepadanya untuk menyelesaikan pembicaraan.
Contoh
6: Berlaku Adil dalam Perselisihan
Dua orang berselisih. Seseorang
diminta menjadi penengah.
Ia tidak langsung membela temannya.
Ia mendengarkan kedua pihak dan memberikan keputusan berdasarkan kebenaran.
Contoh
7: Berbuat Baik kepada Tetangga
Seseorang tidak ingin terganggu oleh
suara keras pada malam hari.
Karena itu, ia juga menjaga agar
aktivitasnya tidak mengganggu ketenangan tetangga.
Contoh
8: Memperlakukan Bawahan dengan Baik
Seorang pemimpin ingin bawahannya
berbicara dengan sopan kepadanya.
Maka ia juga berbicara dengan sopan
kepada bawahannya dan tidak merendahkan mereka.
Kesimpulan
Imam al-Ghazali menjelaskan dua
fondasi penting dalam adab pergaulan seorang Muslim: menepati janji dan
berlaku adil kepada sesama.
Janji tidak boleh dipandang sebagai
ucapan kosong. Ketika seseorang berjanji, ia harus berusaha memenuhi apa yang
telah dijanjikannya.
Adapun keadilan dimulai dari diri
sendiri. Seseorang hendaknya memberikan kepada orang lain hak yang ia sendiri
ingin dapatkan dan tidak memperlakukan mereka dengan sesuatu yang ia sendiri
tidak senang jika diperlakukan dengannya.
Prinsip ini mencakup hubungan dengan
tetangga, teman, keluarga, mitra kerja, pembeli, penjual, maupun masyarakat
secara umum.
Akhlak yang baik bukan hanya ketika
seseorang mendapatkan keuntungan. Akhlak yang sebenarnya terlihat ketika
seseorang mampu tetap adil meskipun keadilan tersebut menuntutnya mengalah
atau mengakui hak orang lain.
Hikmah
- Janji merupakan tanggung jawab yang harus dihormati.
- Mengingkari janji merupakan akhlak yang tercela.
- Kejujuran dalam janji membangun kepercayaan.
- Keadilan harus dimulai dari diri sendiri.
- Jangan hanya menuntut hak; berikan pula hak kepada
orang lain.
- Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin
diperlakukan.
- Jangan melakukan kepada orang lain sesuatu yang kita
sendiri tidak sukai.
- Hak tetangga harus dijaga.
- Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan
pribadi.
- Iman memiliki pengaruh nyata terhadap akhlak sosial.
- Menebarkan salam merupakan bagian dari hubungan baik
dengan sesama.
- Akhlak yang baik mencakup hubungan dengan Allah dan
hubungan dengan manusia.
Penutup
Menepati janji dan berlaku adil
merupakan dua akhlak yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Seseorang yang menjaga janjinya akan
mendapatkan kepercayaan. Seseorang yang berlaku adil akan menjaga hak manusia.
Sedangkan orang yang membiasakan dirinya memperlakukan manusia sebagaimana ia
ingin diperlakukan akan lebih mampu membangun hubungan yang sehat dan penuh
penghormatan.
Pesan Imam al-Ghazali dalam
pembahasan ini sangat sederhana tetapi luas: jangan menuntut dari orang lain
sesuatu yang tidak kita berikan kepada mereka.
Jika kita menginginkan kejujuran,
jadilah orang yang jujur. Jika ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika
ingin diperlakukan dengan lembut, perlakukanlah mereka dengan kelembutan. Jika
ingin hak kita diberikan, berikan pula hak orang lain.
Dengan demikian, keadilan tidak
hanya menjadi teori yang dibicarakan, tetapi menjadi akhlak yang hidup dalam
kehidupan sehari-hari.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Akhlak Ramah, Wajah Ceria, dan Perkataan Baik Menurut Imam al-Ghazali(02/05/80)
Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak MenurutImam al-Ghazali (02/05/79)
Menghormati Manusia Sesuai Kedudukan dan Haknya Menurut Imam al-Ghazali
(02/05/82)

.png)
0 Komentar