Menepati Janji dan Bersikap Adil kepada Sesama dan Memperlakukan Orang Lain Sebagaimana Kita Ingin Diperlakukan (02/05/81)

Imam al-Ghazali menjelaskan kewajiban menepati janji, berlaku adil kepada sesama, dan memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan

Pendahuluan

Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak dalam hubungan antarmanusia. Salah satu bentuk akhlak yang sangat penting adalah menepati janji dan memperlakukan orang lain dengan adil.

Janji bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Ketika seseorang berjanji kepada orang lain, janji tersebut menimbulkan tanggung jawab moral yang harus dipenuhi. Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan mengingkari janji dan menjadikannya sebagai salah satu sifat yang tercela.

Imam al-Ghazali رحمه الله juga menjelaskan bahwa seorang Muslim hendaknya berlaku adil terhadap manusia dari dirinya sendiri. Maksudnya, ia tidak hanya menuntut haknya dari orang lain, tetapi juga memberikan kepada mereka hak yang ia sendiri ingin mendapatkannya.

Prinsip ini sangat dekat dengan ajaran untuk mencintai bagi orang lain apa yang dicintai bagi diri sendiri. Seorang Muslim tidak sepatutnya menghendaki perlakuan baik untuk dirinya, tetapi memberikan perlakuan buruk kepada orang lain.

Dalam pembahasan ini, al-Ghazali mengutip sejumlah sabda Rasulullah ﷺ dan perkataan para salaf yang menunjukkan bahwa menepati janji, berlaku adil, menjaga hak tetangga, menebarkan salam, dan memperlakukan manusia sebagaimana kita ingin diperlakukan merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman dan Islam.

Sumber

Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi
Wafat: 505 H
Pembahasan: Adab pergaulan seorang Muslim dengan sesama manusia.

Pengarang

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi رحمه الله, wafat pada tahun 505 H.

Dalam bagian ini, beliau membahas dua prinsip besar dalam hubungan sosial, yaitu menepati janji dan bersikap adil terhadap manusia. Keduanya merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim dan memiliki hubungan erat dengan kesempurnaan iman.

Teks Arab

ومن آداب معاشرة المسلمين

ومنها أن لا يعد مسلما بوعد إلا ويفي به، قال صلى الله عليه وسلم: العدة عطية.

وقال: العدة دين.

وقال: ثلاث في المنافق إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان.

وقال: ثلاث من كن فيه فهو منافق وإن صام وصلى.

وذكر ذلك.

ومنها أن ينصف الناس من نفسه، ولا يأتي إليهم إلا بما يحب أن يؤتى إليه، قال صلى الله عليه وسلم: لا يستكمل العبد الإيمان حتى يكون فيه ثلاث خصال: الإنفاق من الإقتار والإنصاف من نفسه وبذل السلام.

وقال عليه السلام: من سره أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وليؤت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه.

وقال صلى الله عليه وسلم: يا أبا الدرداء أحسن مجاورة من جاورك تكن مؤمنا، وأحب للناس ما تحب لنفسك تكن مسلما.

قال الحسن: أوحى الله تعالى إلى آدم صلى الله عليه وسلم بأربع خصال، وقال فيهن: جماع الأمر لك ولولدك، واحدة لي، وواحدة لك، وواحدة بيني وبينك، وواحدة بينك وبين الخلق.

فأما التي لي: تعبدني ولا تشرك بي شيئا.

وأما التي لك: فعملك أجزيك به أفقر ما تكون إليه.

وأما التي بيني وبينك: فعليك الدعاء وعلي الإجابة.

وأما التي بينك وبين الناس: فتصحبهم بالذي تحب أن يصحبوك به.

وسأل موسى عليه السلام الله تعالى فقال: أي رب، أي عبادك أعدل؟ قال: من أنصف من نفسه.

Terjemahan Lengkap

Di antara adab tersebut adalah janganlah seseorang menjanjikan sesuatu kepada seorang Muslim kecuali ia menepatinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janji adalah pemberian.”

Beliau juga bersabda:

“Janji adalah tanggungan.”

Beliau bersabda:

“Ada tiga tanda pada orang munafik: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.”

Beliau juga bersabda:

“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, maka ia adalah seorang munafik, meskipun ia berpuasa dan mengerjakan salat.”

Al-Ghazali kemudian menyebutkan hal tersebut.

Di antara adab tersebut adalah hendaknya seseorang berlaku adil terhadap manusia dalam urusan dirinya sendiri, dan tidak memperlakukan mereka kecuali dengan sesuatu yang ia sendiri senang jika diperlakukan dengannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang hamba belum menyempurnakan iman sampai terdapat dalam dirinya tiga sifat: berinfak dalam keadaan sempit, berlaku adil terhadap dirinya sendiri, dan menebarkan salam.”

Beliau ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa merasa senang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya kematiannya datang kepadanya dalam keadaan ia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta hendaknya ia memperlakukan manusia dengan sesuatu yang ia senang jika diperlakukan dengannya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai Abu Darda, perlakukanlah dengan baik orang yang menjadi tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Mukmin. Dan cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang Muslim.”

Al-Hasan berkata:

“Allah Ta'ala mewahyukan kepada Adam عليه السلام empat perkara, dan Dia berfirman tentang perkara-perkara tersebut: ‘Pokok seluruh urusan bagimu dan bagi anak keturunanmu adalah empat hal: satu untuk-Ku, satu untukmu, satu antara Aku dan kamu, dan satu antara kamu dan makhluk.’

Adapun yang menjadi hak-Ku adalah:

‘Engkau menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku.’

Adapun yang menjadi hakmu adalah:

‘Amalmu akan Aku beri balasan ketika engkau menjadi orang yang paling membutuhkan balasan tersebut.’

Adapun yang antara Aku dan kamu adalah:

‘Kamu berdoa, sedangkan Aku yang mengabulkan.’

Adapun yang antara kamu dan manusia adalah:

‘Engkau mempergauli mereka dengan sesuatu yang engkau senang jika mereka mempergaulimu dengannya.’”

Musa عليه السلام bertanya kepada Allah Ta'ala:

“Wahai Tuhanku, siapakah hamba-Mu yang paling adil?”

Allah berfirman:

“Orang yang berlaku adil terhadap dirinya sendiri.”

Artikel Pengembangan

Janji adalah Tanggung Jawab

Janji merupakan bentuk komitmen seseorang terhadap orang lain.

Ketika seseorang mengatakan, “Saya akan datang,” “Saya akan mengembalikan barang ini,” atau “Saya akan membantu Anda,” maka ucapan tersebut tidak semestinya dianggap sebagai perkataan ringan.

Karena itu, Imam al-Ghazali menempatkan menepati janji sebagai bagian dari adab pergaulan seorang Muslim.

Janji yang diucapkan dengan sengaja harus dipandang sebagai tanggung jawab yang perlu dipenuhi selama tidak bertentangan dengan syariat.

Mengingkari Janji adalah Akhlak yang Tercela

Rasulullah ﷺ menyebutkan mengingkari janji sebagai salah satu sifat orang munafik.

Hal ini menunjukkan betapa seriusnya masalah janji dalam Islam.

Seseorang yang terbiasa berjanji tetapi tidak pernah berusaha menepatinya akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Hubungan persahabatan, keluarga, perdagangan, dan kerja sama akan rusak apabila janji tidak lagi memiliki nilai.

Berlaku Adil Dimulai dari Diri Sendiri

Ungkapan:

أن ينصف الناس من نفسه

mengandung makna yang sangat dalam.

Seseorang hendaknya memberikan kepada orang lain hak yang ia sendiri ingin dapatkan.

Ia tidak boleh hanya melihat kepentingannya sendiri. Ketika menjadi pembeli, ia menginginkan penjual bersikap jujur. Maka ketika menjadi penjual, ia juga harus jujur.

Ketika ingin orang lain menghormatinya, ia harus menghormati orang lain.

Ketika ingin kesalahannya dimaafkan, ia juga harus belajar memaafkan.

Prinsip Memperlakukan Orang Lain

Imam al-Ghazali mengutip prinsip:

ولا يأتي إليهم إلا بما يحب أن يؤتى إليه

“Dan tidak memperlakukan mereka kecuali dengan sesuatu yang ia senang jika diperlakukan dengannya.”

Ini merupakan prinsip besar dalam akhlak sosial.

Sebelum melakukan sesuatu kepada orang lain, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah saya senang jika diperlakukan seperti ini?”

Jika jawabannya tidak, maka ia seharusnya mempertimbangkan kembali tindakannya.

Iman dan Akhlak Sosial

Teks ini menghubungkan iman dengan beberapa perilaku sosial: berinfak dalam kesempitan, berlaku adil, dan menebarkan salam.

Hal ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya keyakinan yang berada di dalam hati. Iman juga memiliki konsekuensi dalam hubungan seseorang dengan manusia.

Semakin kuat iman seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya.

Menjaga Hak Tetangga

Wasiat kepada Abu Darda رضي الله عنه juga menekankan pentingnya memperlakukan tetangga dengan baik.

Tetangga adalah orang yang paling sering bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari seseorang. Karena itu, gangguan kecil yang terus-menerus dapat menjadi sumber permusuhan yang besar.

Sebaliknya, sikap baik kepada tetangga dapat menciptakan lingkungan yang penuh ketenteraman.

Adil Tidak Berarti Selalu Menguntungkan Diri Sendiri

Orang yang adil tidak hanya mencari apa yang menguntungkan dirinya.

Kadang-kadang keadilan mengharuskan seseorang mengakui bahwa pihak lain memang memiliki hak.

Karena itu, keadilan yang sebenarnya dimulai ketika seseorang mampu mengatakan:

“Dalam perkara ini, orang lain benar dan saya yang harus memberikan haknya.”

Empat Hubungan dalam Wasiat kepada Adam

Perkataan al-Hasan tentang empat perkara memberikan kerangka yang menarik mengenai kehidupan manusia.

Pertama, hubungan manusia dengan Allah, yaitu beribadah dan tidak mempersekutukan-Nya.

Kedua, amal manusia dan balasan Allah, yaitu amal yang akan mendapatkan balasan ketika manusia sangat membutuhkannya.

Ketiga, hubungan antara manusia dengan Allah, yaitu doa dari hamba dan jawaban dari Allah.

Keempat, hubungan manusia dengan sesama makhluk, yaitu memperlakukan mereka sebagaimana seseorang ingin diperlakukan.

Dengan demikian, kehidupan seorang Muslim mencakup hubungan vertikal dengan Allah sekaligus hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Penjelasan

1. العدة

العدة berarti janji atau sesuatu yang dijanjikan.

Dalam konteks pembahasan ini, yang dimaksud adalah janji yang diberikan seseorang kepada orang lain.

2. العدة عطية

“Janji adalah pemberian.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa ketika seseorang memberikan janji kepada orang lain, janji tersebut merupakan sesuatu yang telah ia berikan melalui lisannya. Karena itu, ia tidak semestinya meremehkannya.

3. العدة دين

“Janji adalah tanggungan.”

Kata دين berarti sesuatu yang menjadi kewajiban atau tanggungan.

Ungkapan ini memperkuat makna bahwa janji bukan perkataan yang boleh diabaikan begitu saja.

4. إذا وعد أخلف

أخلف berarti tidak memenuhi atau mengingkari.

Maka:

إذا وعد أخلف

berarti:

“Apabila berjanji, ia mengingkarinya.”

5. الإنصاف من النفس

الإنصاف من النفس berarti berlaku adil terhadap diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain.

Maksudnya, seseorang tidak hanya menuntut haknya, tetapi juga mengakui dan memberikan hak orang lain meskipun hal itu terkadang merugikan kepentingan dirinya.

6. وليؤت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه

Maksudnya adalah:

“Hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia senang jika dirinya diperlakukan demikian.”

Ini merupakan prinsip timbal balik dalam akhlak, bukan berarti setiap keadaan harus diperlakukan secara identik, tetapi seseorang harus menjadikan hak dan kehormatan orang lain sebagai sesuatu yang juga ia hormati bagi dirinya.

7. أحسن مجاورة من جاورك

Ungkapan ini berarti:

“Berbuat baiklah dalam bertetangga kepada orang yang menjadi tetanggamu.”

Kebaikan kepada tetangga mencakup tidak menyakiti, menghormati, membantu ketika membutuhkan, dan menjaga hubungan baik.

8. وأحب للناس ما تحب لنفسك

Artinya:

“Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri.”

Ini merupakan salah satu kaidah akhlak yang sangat luas penerapannya.

9. من أنصف من نفسه

“Orang yang berlaku adil terhadap dirinya sendiri.”

Maksudnya adalah orang yang bersedia mengakui hak orang lain dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Keadilan yang sejati menuntut seseorang untuk objektif bahkan ketika keputusan tersebut tidak menguntungkan dirinya.

Contoh

Contoh 1: Menepati Janji

Seseorang berjanji kepada temannya akan datang pada waktu tertentu. Ia mengatur waktunya agar dapat memenuhi janji tersebut.

Jika terjadi halangan yang benar-benar tidak dapat dihindari, ia segera memberi kabar dan meminta maaf.

Contoh 2: Janji Mengembalikan Utang

Seseorang berjanji mengembalikan utang pada tanggal tertentu. Ia berusaha mempersiapkan pembayaran sebelum jatuh tempo.

Ia tidak menganggap janji tersebut sebagai ucapan yang boleh dilupakan.

Contoh 3: Berlaku Adil dalam Jual Beli

Seorang penjual menginginkan pembeli memberikan pembayaran sesuai kesepakatan.

Maka ia pun harus memberikan barang sesuai kualitas dan jumlah yang telah disepakati.

Contoh 4: Tidak Melakukan kepada Orang Lain Apa yang Tidak Disukai

Seseorang tidak senang apabila orang lain membuka rahasia pribadinya.

Karena itu, ia juga tidak menyebarkan rahasia orang lain.

Contoh 5: Menghormati Orang Lain

Seseorang ingin pendapatnya didengarkan tanpa dipotong.

Maka ketika orang lain berbicara, ia juga memberikan kesempatan kepadanya untuk menyelesaikan pembicaraan.

Contoh 6: Berlaku Adil dalam Perselisihan

Dua orang berselisih. Seseorang diminta menjadi penengah.

Ia tidak langsung membela temannya. Ia mendengarkan kedua pihak dan memberikan keputusan berdasarkan kebenaran.

Contoh 7: Berbuat Baik kepada Tetangga

Seseorang tidak ingin terganggu oleh suara keras pada malam hari.

Karena itu, ia juga menjaga agar aktivitasnya tidak mengganggu ketenangan tetangga.

Contoh 8: Memperlakukan Bawahan dengan Baik

Seorang pemimpin ingin bawahannya berbicara dengan sopan kepadanya.

Maka ia juga berbicara dengan sopan kepada bawahannya dan tidak merendahkan mereka.

Kesimpulan

Imam al-Ghazali menjelaskan dua fondasi penting dalam adab pergaulan seorang Muslim: menepati janji dan berlaku adil kepada sesama.

Janji tidak boleh dipandang sebagai ucapan kosong. Ketika seseorang berjanji, ia harus berusaha memenuhi apa yang telah dijanjikannya.

Adapun keadilan dimulai dari diri sendiri. Seseorang hendaknya memberikan kepada orang lain hak yang ia sendiri ingin dapatkan dan tidak memperlakukan mereka dengan sesuatu yang ia sendiri tidak senang jika diperlakukan dengannya.

Prinsip ini mencakup hubungan dengan tetangga, teman, keluarga, mitra kerja, pembeli, penjual, maupun masyarakat secara umum.

Akhlak yang baik bukan hanya ketika seseorang mendapatkan keuntungan. Akhlak yang sebenarnya terlihat ketika seseorang mampu tetap adil meskipun keadilan tersebut menuntutnya mengalah atau mengakui hak orang lain.

Hikmah

  1. Janji merupakan tanggung jawab yang harus dihormati.
  2. Mengingkari janji merupakan akhlak yang tercela.
  3. Kejujuran dalam janji membangun kepercayaan.
  4. Keadilan harus dimulai dari diri sendiri.
  5. Jangan hanya menuntut hak; berikan pula hak kepada orang lain.
  6. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
  7. Jangan melakukan kepada orang lain sesuatu yang kita sendiri tidak sukai.
  8. Hak tetangga harus dijaga.
  9. Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi.
  10. Iman memiliki pengaruh nyata terhadap akhlak sosial.
  11. Menebarkan salam merupakan bagian dari hubungan baik dengan sesama.
  12. Akhlak yang baik mencakup hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.

Penutup

Menepati janji dan berlaku adil merupakan dua akhlak yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Seseorang yang menjaga janjinya akan mendapatkan kepercayaan. Seseorang yang berlaku adil akan menjaga hak manusia. Sedangkan orang yang membiasakan dirinya memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan akan lebih mampu membangun hubungan yang sehat dan penuh penghormatan.

Pesan Imam al-Ghazali dalam pembahasan ini sangat sederhana tetapi luas: jangan menuntut dari orang lain sesuatu yang tidak kita berikan kepada mereka.

Jika kita menginginkan kejujuran, jadilah orang yang jujur. Jika ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika ingin diperlakukan dengan lembut, perlakukanlah mereka dengan kelembutan. Jika ingin hak kita diberikan, berikan pula hak orang lain.

Dengan demikian, keadilan tidak hanya menjadi teori yang dibicarakan, tetapi menjadi akhlak yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Akhlak Ramah, Wajah Ceria, dan Perkataan Baik Menurut Imam al-Ghazali(02/05/80)

Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak MenurutImam al-Ghazali (02/05/79)

Menghormati Manusia Sesuai Kedudukan dan Haknya Menurut Imam al-Ghazali (02/05/82)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...