Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya, Imam
Al-Ghazali menjelaskan bahwa menjauhi penguasa zalim merupakan keadaan yang
paling selamat. Namun, muncul pertanyaan: Bukankah para ulama salaf juga
pernah datang menemui para penguasa?
Al-Ghazali menjawab bahwa benar,
sebagian ulama salaf mendatangi penguasa. Akan tetapi, yang harus diperhatikan
bukan hanya masuk ke hadapan penguasa, melainkan bagaimana seseorang
bersikap ketika berada di hadapannya.
Al-Ghazali kemudian menghadirkan
kisah Thawus Al-Yamani ketika bertemu dengan Hisyam bin Abdul Malik di
Makkah. Thawus tidak datang untuk mendapatkan hadiah, kedudukan, atau mencari
muka. Ia justru mempertahankan kehormatan ilmu dan menyampaikan nasihat secara
tegas.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa
apabila seorang ulama terpaksa atau memilih memasuki lingkungan penguasa, ia
harus tetap menjaga independensi agama, tidak melakukan penghormatan yang
bertentangan dengan syariat, dan berani menyampaikan nasihat.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة
السلاطين الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم
Pembahasan: Adab ulama ketika memasuki majelis penguasa dan keberanian
menyampaikan nasihat.
Penulis
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H
Teks Arab
فإن قلت فقد كان علماء السلف
يدخلون على السلاطين فأقول نعم تعلم
الدخول منهم ثم ادخل كما حكي أن هشام بن عبد
الملك قدم حاجاً إلى مكة فلما دخلها
قال ائتوني برجل من الصحابة فقيل يا أمير
المؤمنين قد تفانوا فقال من التابعين
فأتي بطاوس اليماني فلما دخل عليه خلع نعليه
بحاشية بساطه ولم يسلم عليه بإمرة
المؤمنين ولكن قال السلام عليك يا هشام ولم يكنه
وجلس بإزائه وقال كيف أنت يا هشام
فغضب هشام غضباً شديداً حتى هم بقتله فقيل له
أنت في حرم الله وحرم رسوله ولا يمكن
ذلك فقال يا طاوس ما الذي حملك على ما صنعت قال
وما الذي صنعت فازداد غضباً وغيظاً
قال خلعت نعليك بحاشية بساطي ولم تقبل يدي ولم
تسلم علي بإمرة المؤمنين ولم تكنني
وجلست بإزائي بغير إذني وقلت كيف أنت يا هشام
قال أما ما فعلت من خلع نعلي بحاشية
بساطك فإني أخلعهما بين يدي رب العزة كل يوم
خمس مرات ولا يعاقبني ولا يغضب علي
وأما قولك لم تقبل يدي فإني سمعت أمير المؤمنين
عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ يقول لا يحل لرجل أن يقبل يد
أحد إلا امرأته من شهوة أو ولده من
رحمة وأما قولك لم تسلم علي بإمرة المؤمنين
فليس كل الناس راضين بإمرتك فكرهت أن
أكذب وأما قولك لم تكنني فإن الله تعالى سمى
أنبياءه وأولياءه فقال يا يحيى يا
عيسى وكنى أعداءه فقال {تبت يدا أبي لهب} وأما
قولك جلست بإزائي فإني سمعت أمير
المؤمنين علياً رضي الله عنه يقول إذا أردت أن
تنظر إلى رجل من أهل النار فانظر إلى
رجل جالس وحوله قوم قيام
فقال له هشام عظني فقال سمعت
من أمير المؤمنين علي رضي الله عنه
يقول إن في جهنم حيات كالقلال وعقارب كالبغال
تلدغ كل أمير لا يعدل في رعيته
ثم قام وهرب
Terjemahan Lengkap
Jika engkau berkata:
“Bukankah para ulama salaf dahulu
juga masuk menemui para penguasa?”
Aku menjawab:
“Benar. Pelajarilah dari mereka
bagaimana cara memasuki tempat para penguasa, kemudian masuklah.”
Sebagaimana diceritakan bahwa Hisyam
bin Abdul Malik datang ke Makkah untuk melaksanakan haji. Ketika ia telah
memasukinya, ia berkata:
“Datangkan kepadaku seorang sahabat
Rasulullah.”
Dikatakan kepadanya:
“Wahai Amirul Mukminin, mereka semua
telah wafat.”
Ia berkata:
“Kalau begitu, datangkan seorang
dari kalangan tabi’in.”
Maka didatangkanlah Thawus
Al-Yamani.
Ketika Thawus masuk menemuinya, ia
melepaskan kedua sandalnya di tepi permadani Hisyam. Ia tidak mengucapkan salam
kepadanya dengan panggilan “Amirul Mukminin”, tetapi berkata:
“Semoga keselamatan atasmu, wahai
Hisyam.”
Ia juga tidak menggunakan kunyah untuk
memanggilnya.
Kemudian ia duduk di hadapannya dan
berkata:
“Bagaimana keadaanmu, wahai Hisyam?”
Hisyam pun marah dengan kemarahan
yang sangat besar, sampai ia hampir memerintahkan agar Thawus dibunuh.
Lalu dikatakan kepadanya:
“Engkau sedang berada di Tanah Suci
Allah dan Tanah Suci Rasul-Nya, sehingga hal itu tidak mungkin dilakukan.”
Hisyam berkata:
“Wahai Thawus, apa yang mendorongmu
melakukan apa yang telah engkau lakukan?”
Thawus menjawab:
“Apa yang telah aku lakukan?”
Kemarahan dan kebencian Hisyam
semakin besar.
Ia berkata:
“Engkau melepaskan kedua sandalmu di
tepi permadaniku, engkau tidak mencium tanganku, engkau tidak mengucapkan salam
kepadaku dengan panggilan ‘Amirul Mukminin’, engkau tidak memanggilku dengan
kunyah, engkau duduk di hadapanku tanpa izinku, dan engkau berkata, ‘Bagaimana
keadaanmu, wahai Hisyam?’”
Thawus menjawab:
“Adapun tentang aku melepaskan kedua
sandalku di tepi permadanimu, sesungguhnya setiap hari aku melepaskan keduanya
di hadapan Tuhan Yang Mahamulia sebanyak lima kali, tetapi Dia tidak
menghukumku dan tidak murka kepadaku.
Adapun perkataanmu bahwa aku tidak
mencium tanganmu, sesungguhnya aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
‘Tidak halal bagi seseorang mencium
tangan orang lain, kecuali tangan istrinya karena dorongan syahwat atau tangan
anaknya karena kasih sayang.’
Adapun perkataanmu bahwa aku tidak
mengucapkan salam kepadamu dengan panggilan ‘Amirul Mukminin’, tidak semua
manusia rela dengan kepemimpinanmu. Aku tidak ingin berdusta.
Adapun perkataanmu bahwa aku tidak
memanggilmu dengan kunyah, sesungguhnya Allah Ta‘ala menyebut para nabi dan
wali-Nya dengan nama mereka. Dia berfirman:
‘Wahai Yahya!’ dan ‘Wahai Isa!’
Sedangkan terhadap musuh-musuh-Nya,
Dia menyebut mereka dengan kunyah. Dia berfirman:
‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab.’
Adapun perkataanmu bahwa aku duduk
di hadapanmu, sesungguhnya aku mendengar Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu
berkata:
‘Apabila engkau ingin melihat
seseorang yang termasuk penghuni neraka, maka lihatlah seseorang yang duduk
sementara orang-orang di sekelilingnya berdiri.’”
Kemudian Hisyam berkata kepada
Thawus:
“Berilah aku nasihat.”
Thawus menjawab:
“Aku mendengar Amirul Mukminin Ali
radhiyallahu ‘anhu berkata:
‘Sesungguhnya di dalam Jahanam
terdapat ular-ular sebesar tempayan dan kalajengking-kalajengking sebesar
bagal. Mereka menyengat setiap penguasa yang tidak berlaku adil terhadap
rakyatnya.’”
Kemudian Thawus berdiri dan pergi
meninggalkannya.
Artikel Pengembangan
1.
Masuk kepada penguasa bukan selalu berarti mencari kedekatan
Al-Ghazali menjawab pertanyaan
tentang para ulama salaf yang pernah menemui penguasa dengan pernyataan:
نعم
تعلم الدخول منهم ثم ادخل
“Benar, pelajarilah dari mereka
bagaimana cara masuk kepada penguasa, kemudian masuklah.”
Maksud pentingnya adalah bahwa
keberadaan seseorang di hadapan penguasa harus dibedakan dari ketundukan
hati kepada penguasa.
Seorang ulama mungkin datang untuk
memberikan nasihat, menyampaikan kebenaran, mencegah kezaliman, atau memenuhi
kebutuhan yang dibenarkan syariat.
Hal itu berbeda dengan datang untuk
mendapatkan pujian, hadiah, jabatan, atau mencari legitimasi.
2.
Thawus tidak menjadikan penguasa sebagai sumber kemuliaan
Ketika bertemu Hisyam, Thawus tidak
menunjukkan sikap yang membuat dirinya rendah di hadapan kekuasaan.
Ia tidak mencium tangan Hisyam.
Ia tidak menggunakan panggilan
kehormatan yang diminta Hisyam.
Ia duduk tanpa menunggu izin khusus.
Sikap tersebut menggambarkan bahwa kemuliaan
seorang alim tidak bergantung pada pengakuan seorang penguasa.
3.
Keberanian berbicara dengan benar
Hisyam adalah seorang khalifah yang
memiliki kekuasaan besar.
Namun Thawus tidak menjadikan
kekuasaan tersebut sebagai alasan untuk meninggalkan prinsip yang diyakininya.
Ketika ditanya mengapa ia tidak
menggunakan panggilan tertentu, ia menjawab:
فكرهت
أن أكذب
“Aku tidak ingin berdusta.”
Ini merupakan pelajaran penting
tentang kejujuran.
Seorang Muslim tidak seharusnya
mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinannya hanya demi memperoleh
keridaan orang yang memiliki kekuasaan.
4.
Tidak semua penghormatan kepada penguasa merupakan kewajiban
Kisah ini juga harus dibaca dengan
hati-hati.
Tidak setiap bentuk penghormatan
sosial kepada pejabat atau pemimpin otomatis haram.
Adab, penghormatan, salam, dan tata
krama sosial dapat berbeda sesuai keadaan dan ketentuan syariat.
Yang menjadi perhatian Al-Ghazali
adalah penghormatan yang berlebihan kepada penguasa zalim, terutama jika
penghormatan tersebut menjadi bentuk pengagungan terhadap kezaliman atau
membuat seseorang meninggalkan kebenaran.
Karena itu, kisah Thawus tidak
seharusnya digunakan sebagai alasan untuk bersikap kasar kepada setiap
pemimpin.
Pelajaran utamanya adalah jangan
menjadikan penghormatan kepada manusia sebagai alasan untuk mengorbankan
kebenaran.
5.
Thawus tidak takut kehilangan keuntungan dunia
Thawus datang tanpa menunjukkan
keinginan untuk mendapatkan sesuatu.
Ia tidak menggunakan kesempatan
tersebut untuk meminta hadiah.
Tidak pula ia berusaha menyenangkan
hati Hisyam.
Hal ini sesuai dengan prinsip yang
telah dijelaskan Al-Ghazali sebelumnya: semakin seseorang tidak menggantungkan
dirinya kepada pemberian penguasa, semakin mudah ia menyampaikan nasihat secara
bebas.
6.
Duduk dan berdiri sebagai simbol kekuasaan
Hisyam mempersoalkan Thawus karena
ia duduk sementara orang-orang di sekitar Hisyam berdiri.
Thawus kemudian menyampaikan nasihat
yang dinisbatkan kepada Ali:
إذا
أردت أن تنظر إلى رجل من أهل النار فانظر إلى رجل جالس وحوله قوم قيام
“Jika engkau ingin melihat seseorang
dari penghuni neraka, lihatlah seseorang yang duduk sementara orang-orang di
sekelilingnya berdiri.”
Pesan moralnya adalah agar kekuasaan
tidak mengubah seseorang menjadi pribadi yang menikmati pengagungan manusia
secara berlebihan.
Pemimpin seharusnya memahami bahwa
kedudukan adalah amanah, bukan sarana untuk menumbuhkan kesombongan.
7.
Kekuasaan selalu disertai tanggung jawab
Nasihat terakhir Thawus langsung
menyentuh inti persoalan:
كل
أمير لا يعدل في رعيته
“Setiap penguasa yang tidak berlaku
adil terhadap rakyatnya.”
Dalam perspektif Islam, kekuasaan
bukan sekadar hak untuk memerintah.
Kekuasaan merupakan amanah.
Semakin besar kekuasaan seseorang,
semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap manusia yang berada di bawah
kewenangannya.
Karena itu, keadilan menjadi salah
satu prinsip utama dalam kepemimpinan.
8.
Nasihat kepada penguasa tidak harus berupa sanjungan
Kisah ini menunjukkan perbedaan
antara nasihat dan pujian.
Pujian dapat membuat seorang
penguasa semakin nyaman dengan kekuasaannya.
Nasihat justru mengingatkannya
kepada tanggung jawab dan akibat dari perbuatannya.
Thawus tidak datang untuk mengatakan
sesuatu yang menyenangkan hati Hisyam. Ia datang dengan sesuatu yang menurutnya
lebih bermanfaat: peringatan tentang keadilan dan pertanggungjawaban di
akhirat.
9.
Keberanian harus disertai hikmah
Keberanian Thawus bukan berarti
keberanian tanpa pertimbangan.
Konteks kisahnya adalah ia berada di
Makkah, dalam keadaan yang membuat Hisyam tidak mudah melakukan tindakan
ekstrem terhadapnya.
Ini menunjukkan bahwa keberanian
dalam menyampaikan kebenaran juga perlu mempertimbangkan kemampuan, keadaan,
maslahat, dan akibat.
Tidak semua orang berada dalam
posisi yang sama.
Karena itu, kisah ini tidak boleh
dipahami sebagai perintah untuk menghadapi setiap penguasa dengan cara yang
sama tanpa mempertimbangkan keadaan.
10.
Tujuan memasuki majelis penguasa harus diperiksa
Dari keseluruhan pembahasan
Al-Ghazali dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebelum seseorang mendatangi
penguasa:
- Mengapa saya datang?
- Apakah ada kebutuhan yang dibenarkan?
- Apakah saya mampu menjaga agama?
- Apakah saya akan diminta memuji atau membenarkan
sesuatu yang salah?
- Apakah saya akan memperoleh harta yang bermasalah?
- Apakah kehadiran saya memberikan manfaat atau justru
memperkuat kezaliman?
- Apakah saya mampu memberikan nasihat apabila melihat
kemungkaran?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
membantu seseorang membedakan antara kunjungan yang memiliki maslahat
dan kedekatan yang membahayakan agama.
Contoh
Contoh
1: Ulama dipanggil pejabat
Seorang ulama dipanggil pejabat
untuk memberikan nasihat mengenai masalah masyarakat.
Ia datang bukan untuk meminta hadiah
atau jabatan, tetapi menyampaikan pandangan berdasarkan ilmu.
Jika terdapat kesalahan kebijakan,
ia menjelaskannya dengan cara yang bijaksana.
Ini lebih dekat dengan fungsi nasihat
daripada mencari kedekatan.
Contoh
2: Menolak pujian yang tidak benar
Seorang pejabat meminta tokoh agama
memuji kebijakannya sebagai sesuatu yang sempurna, padahal tokoh tersebut
mengetahui adanya kesalahan serius.
Ia tidak seharusnya membuat
pernyataan yang tidak benar hanya demi mempertahankan hubungan baik.
Pelajaran dari Thawus adalah bahwa kedekatan
dengan penguasa tidak boleh dibayar dengan kebohongan.
Contoh
3: Tidak meminta keuntungan pribadi
Seorang pemimpin masyarakat bertemu
dengan pejabat.
Ia memiliki kesempatan meminta
proyek atau hadiah untuk dirinya sendiri.
Namun ia memilih menyampaikan
persoalan masyarakat yang memang membutuhkan perhatian.
Ini menggambarkan perbedaan antara
menggunakan akses untuk kepentingan pribadi dan menggunakannya untuk kemaslahatan.
Contoh
4: Menasihati pemimpin secara proporsional
Seorang pejabat melakukan kesalahan
yang dapat diperbaiki.
Tokoh agama menasihatinya dengan
bahasa yang jelas tetapi tetap menjaga adab.
Ia tidak memuji kesalahan tersebut,
tetapi juga tidak menjadikan nasihat sebagai kesempatan untuk menghina.
Ini merupakan bentuk keseimbangan
antara keberanian dan hikmah.
Penutup
Kisah Thawus Al-Yamani bersama
Hisyam bin Abdul Malik merupakan gambaran tentang keteguhan seorang ulama
ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Thawus tidak menggunakan pertemuan
tersebut untuk mencari hadiah, kedudukan, atau pengakuan. Ia justru
mempertahankan kejujuran, tidak memberikan penghormatan yang menurutnya tidak
semestinya, dan menyampaikan nasihat tentang bahaya kezaliman.
Pelajaran terpenting dari kisah ini
bukanlah bahwa setiap orang harus memperlakukan penguasa dengan cara yang sama
seperti Thawus. Yang lebih penting adalah memahami prinsip di balik sikapnya:
jangan menjual agama demi kedekatan dengan kekuasaan.
Seorang ulama yang memasuki majelis
penguasa harus mampu menjaga kebebasan moralnya. Jika ia dipanggil karena
kebutuhan yang benar, ia dapat datang. Jika ada kesempatan memberikan nasihat,
ia hendaknya menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Namun jika kedekatan
tersebut membuatnya memuji kebatilan, membenarkan kezaliman, atau menjadikan
dirinya alat bagi kepentingan penguasa, maka bahaya tersebut harus dihindari.
Kekuasaan seharusnya dihormati dalam
batas yang dibenarkan syariat, tetapi kezaliman tidak boleh diagungkan. Dan
ilmu yang benar tidak seharusnya menjadi alat untuk mencari keuntungan dari
penguasa, melainkan menjadi sarana untuk mengingatkan manusia kepada keadilan
dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Menjauhi Penguasa Dzalim:Sikap Wajib, Membenci Kezaliman, dan Menjaga Hati Menurut Imam Al-Ghazali
Nasihat Ulama kepada Sultan
Dzalim: Ketegasan Sufyan ats-Tsauri, Thawus al-Yamani, dan Nasihat tentang
Keadilan Penguasa


0 Komentar