Menjauhi Penguasa Dzalim: Sikap Wajib, Membenci Kezaliman, dan Menjaga Hati Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan kewajiban menjauhi penguasa zalim, membenci kezalimannya, serta menjaga hati agar tidak mencintai dan memuji mereka

Pendahuluan

Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang yang berhadapan dengan penguasa dan pejabat yang zalim memiliki beberapa keadaan. Setelah menjelaskan bahaya mendatangi mereka dan kondisi ketika mereka datang mengunjungi seseorang, Al-Ghazali membahas keadaan ketiga, yaitu menjauh dari mereka.

Menurut Al-Ghazali, menjauh merupakan keadaan yang paling selamat karena seseorang tidak melihat mereka dan mereka pun tidak melihatnya. Dengan demikian, seseorang dapat menghindari berbagai fitnah yang muncul dari kedekatan dengan kekuasaan, seperti memuji penguasa zalim, membenarkan kesalahannya, mencari kedekatan dengan orang-orangnya, atau merasa kehilangan keuntungan duniawi karena menjauhi mereka.

Namun, menjauh secara lahiriah saja belum cukup. Al-Ghazali juga mengarahkan agar hati tidak mengagungkan kezaliman, tidak mencintai keberlangsungan kekuasaan yang zalim, dan tidak memandang kejahatan sebagai sesuatu yang layak diridai.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم

Pembahasan: Keadaan ketiga dalam berinteraksi dengan penguasa zalim: menjauhi mereka.

Penulis

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H

Teks Arab

الحالة الثالثة أن يعتزلهم
فلا يراهم ولا يرونه وهو الواجب إذ لا سلامة إلا فيه فعليه أن يعتقد بغضهم على
ظلمهم ولا يحب بقاءهم ولا يثني عليهم ولا يستخبر عن أحوالهم ولا يتقرب إلى
المتصلين بهم ولا يتأسف على ما يفوت بسبب مفارقتهم وذلك إذا خطر بباله أمرهم وإن
غفل عنهم فهو الأحسن

وإذا خطر بباله تنعمهم فليذكر
ما قاله حاتم الأصم إنما بيني وبين الملوك يوم واحد فأما أمس فلا يجدون لذته وإني
وإياهم في غد لعلى وجل وإنما هو اليوم وما عسى أن يكون في اليوم وما قاله أبو
الدرداء إذ قال أهل الأموال يأكلون ونأكل ويشربون ونشرب ويلبسون ونلبس ولهم فضول
أموال ينظرون إليها وننظر معهم إليها وعليهم حسابها ونحن منها براء

وكل من أحاط علمه بظلم ظالم
ومعصية عاص فينبغي أن يحط ذلك من درجته في قلبه

فهذا واجب عليه لأن من صدر
منه ما يكره نقص ذلك من رتبته في القلب لا محالة

والمعصية ينبغي أن تكره فإنه
إما أن يغفل عنها أو يرضى بها أو يكره ولا غفلة مع العلم ولا وجه للرضا فلا بد من
الكراهة فليكن جناية كل أحد على حق الله كجنايته على حقك

Terjemahan Lengkap

Keadaan ketiga adalah menjauhi mereka, sehingga ia tidak melihat mereka dan mereka pun tidak melihatnya. Inilah keadaan yang wajib, karena tidak ada keselamatan kecuali dengan menjauhi mereka.

Hendaknya ia meyakini kebencian terhadap mereka karena kezaliman mereka. Ia tidak mencintai keberlangsungan kekuasaan mereka, tidak memuji mereka, tidak mencari-cari berita tentang keadaan mereka, tidak berusaha mendekati orang-orang yang memiliki hubungan dengan mereka, dan tidak merasa sedih atas berbagai keuntungan yang hilang karena ia menjauhi mereka.

Hal itu berlaku ketika urusan mereka terlintas dalam pikirannya. Adapun apabila ia tidak memikirkan mereka dan melupakan mereka, maka itu lebih baik.

Apabila terlintas dalam pikirannya kenikmatan hidup yang mereka rasakan, hendaknya ia mengingat perkataan Hatim Al-Ashamm:

“Sesungguhnya antara aku dan para raja hanyalah satu hari. Adapun kemarin, mereka tidak dapat merasakan kenikmatannya. Dan aku bersama mereka pada hari esok berada dalam ketakutan. Jadi yang ada hanyalah hari ini. Lalu, apa yang mungkin terjadi pada hari ini?”

Dan hendaknya ia mengingat perkataan Abu Ad-Darda’ ketika ia berkata:

“Orang-orang yang memiliki harta makan, dan kami pun makan. Mereka minum, dan kami pun minum. Mereka memakai pakaian, dan kami pun memakai pakaian. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka pandangi, dan kami pun memandangnya bersama mereka. Namun mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas harta tersebut, sedangkan kami terbebas darinya.”

Setiap orang yang mengetahui dengan jelas kezaliman seorang yang zalim dan kemaksiatan seorang pelaku maksiat, hendaknya hal itu mengurangi kedudukannya dalam pandangan hati.

Hal tersebut wajib baginya, karena siapa pun yang melakukan sesuatu yang dibenci, perbuatannya itu pasti mengurangi kedudukannya dalam hati.

Kemaksiatan memang harus dibenci. Sebab, terhadap kemaksiatan seseorang hanya memiliki beberapa kemungkinan: ia tidak mengetahuinya, ia meridainya, atau ia membencinya. Tidak ada lagi keadaan tidak mengetahui ketika seseorang telah mengetahui, dan tidak ada alasan untuk meridai kemaksiatan. Maka tidak ada pilihan selain membencinya.

Karena itu, hendaknya kejahatan seseorang terhadap hak Allah dipandang sebagaimana seseorang memandang kejahatannya terhadap hak dirinya sendiri.

Artikel Pengembangan

1. Menjauh merupakan keadaan yang paling selamat

Al-Ghazali menempatkan keadaan ketiga sebagai bentuk yang paling aman, yaitu tidak berhubungan dengan penguasa zalim.

Tujuannya bukan semata-mata menghindari pertemuan secara fisik, tetapi menghindari berbagai konsekuensi yang dapat muncul dari hubungan tersebut.

Semakin dekat seseorang dengan lingkungan kekuasaan yang zalim, semakin besar kemungkinan ia:

  • membenarkan kesalahan;
  • memuji sesuatu yang tidak layak dipuji;
  • mendapatkan harta yang bermasalah;
  • ikut membantu kepentingan yang tidak benar;
  • atau perlahan-lahan kehilangan keberanian untuk mengingkari kemungkaran.

Karena itu, menjauh dapat menjadi bentuk perlindungan terhadap agama dan hati.

2. Menjauh secara lahiriah harus disertai penjagaan hati

Al-Ghazali tidak berhenti pada larangan untuk bertemu.

Ia menyebut beberapa bentuk penjagaan hati:

ولا يحب بقاءهم

“Tidak mencintai keberlangsungan mereka.”

Maksudnya, seseorang tidak seharusnya mencintai atau menginginkan terus berlangsungnya kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman.

Kemudian:

ولا يثني عليهم

“Tidak memuji mereka.”

Dengan demikian, menjauh bukan sekadar tidak hadir di majelis mereka, tetapi juga tidak memberikan legitimasi moral melalui pujian.

3. Tidak perlu mencari-cari berita tentang kehidupan mereka

Al-Ghazali juga mengatakan:

ولا يستخبر عن أحوالهم

“Tidak mencari-cari berita tentang keadaan mereka.”

Ini merupakan pendidikan terhadap perhatian seseorang.

Tidak semua informasi layak dikejar.

Jika mengikuti berita tentang kemewahan, kekuasaan, dan kehidupan orang-orang zalim justru membuat hati tertarik kepada dunia mereka, maka meninggalkannya lebih selamat.

4. Jangan mendekati orang-orang yang dekat dengan penguasa zalim

Al-Ghazali juga memperingatkan:

ولا يتقرب إلى المتصلين بهم

“Tidak berusaha mendekati orang-orang yang berhubungan dengan mereka.”

Ini penting karena seseorang dapat menjauh dari penguasa secara langsung, tetapi tetap berusaha mendapatkan manfaat melalui orang-orang di sekitar penguasa.

Dengan demikian, yang perlu dihindari bukan hanya pintu utama kekuasaan, tetapi juga jalan-jalan yang mengantarkan kepada kedekatan tersebut.

5. Jangan merasa kehilangan keuntungan dunia

Salah satu ujian terbesar dalam menjauhi kekuasaan adalah rasa menyesal karena kehilangan kesempatan.

Seseorang mungkin berpikir:

  • “Kalau aku dekat dengan mereka, mungkin aku mendapat harta.”
  • “Kalau aku menghadiri majelis mereka, mungkin aku mendapat kedudukan.”
  • “Kalau aku memiliki hubungan dengan pejabat itu, mungkin urusanku lebih mudah.”

Al-Ghazali mengajarkan agar seseorang tidak bersedih karena kehilangan keuntungan semacam itu.

Sebab, keselamatan agama memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada keuntungan dunia.

6. Nasihat Hatim Al-Ashamm tentang kenikmatan dunia

Hatim Al-Ashamm mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya hanya memiliki hari ini.

Kemarin telah berlalu.

Esok belum tentu datang.

Karena itu, jangan sampai seseorang mengorbankan agama demi mengejar kenikmatan yang sifatnya sementara.

Bahkan orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan tetap tidak dapat membawa kenikmatan kemarin ke hari ini, apalagi menjamin kenikmatan hari esok.

7. Harta membawa tanggung jawab

Perkataan Abu Ad-Darda’ memberikan perspektif lain.

Orang kaya dan orang sederhana sama-sama makan, minum, dan berpakaian.

Perbedaan pentingnya adalah pertanggungjawaban atas kelebihan harta.

Orang yang memperoleh banyak harta akan ditanya tentang:

  • dari mana harta diperoleh;
  • bagaimana harta digunakan;
  • hak siapa yang ada di dalamnya;
  • dan apakah harta tersebut digunakan dengan benar.

Karena itu, banyaknya harta bukan semata-mata kelebihan. Ia juga dapat menjadi amanah yang berat.

8. Kezaliman seharusnya mengurangi penghormatan di dalam hati

Al-Ghazali kemudian berpindah dari hubungan lahiriah kepada hubungan batin:

ينبغي أن يحط ذلك من درجته في قلبه

“Hal itu hendaknya mengurangi kedudukannya dalam hati.”

Artinya, seseorang yang diketahui melakukan kezaliman tidak seharusnya tetap memperoleh penghormatan moral yang sama seperti orang yang tidak melakukan kezaliman.

Ini bukan berarti setiap pelaku kesalahan harus dibenci dalam seluruh aspek dirinya.

Yang perlu dibenci adalah kezaliman dan kemaksiatannya.

9. Membedakan antara membenci kejahatan dan membenci kebaikan

Prinsip penting yang dapat ditarik dari bagian ini adalah bahwa seseorang bisa memiliki sisi baik dan sisi buruk.

Jika seseorang melakukan kebaikan, kebaikannya dapat dihargai.

Namun jika ia melakukan kezaliman, kezalimannya harus ditolak.

Dengan demikian, penilaian tidak harus selalu bersifat hitam-putih terhadap keseluruhan pribadi seseorang.

Prinsipnya adalah:

kebaikan dicintai karena kebaikannya, sedangkan kemaksiatan dibenci karena kemaksiatannya.

10. Membenci kemaksiatan merupakan konsekuensi dari pengetahuan

Al-Ghazali menyatakan bahwa ketika seseorang mengetahui adanya kemaksiatan, ia tidak boleh bersikap netral dalam hati dengan meridai kemaksiatan tersebut.

Secara konseptual, ada tiga keadaan:

  1. Tidak mengetahui adanya kemaksiatan.
  2. Mengetahui dan meridai kemaksiatan.
  3. Mengetahui dan membenci kemaksiatan.

Ketika pengetahuan sudah ada, alasan ketidaktahuan tidak lagi berlaku.

Karena itu, sikap yang benar adalah tidak meridai kemaksiatan.

11. Menjadikan kezaliman terhadap hak Allah seperti kezaliman terhadap diri sendiri

Kalimat terakhir:

فليكن جناية كل أحد على حق الله كجنايته على حقك

mengandung pendidikan moral yang sangat kuat.

Seseorang sering kali sangat sensitif ketika hak pribadinya dilanggar, tetapi tidak demikian ketika hak Allah dilanggar.

Al-Ghazali mengajarkan agar kepekaan terhadap pelanggaran agama tidak lebih rendah daripada kepekaan terhadap pelanggaran hak pribadi.

Jika seseorang membenci ketika dirinya dizalimi, maka ia juga harus memiliki kebencian terhadap kezaliman dan kemaksiatan yang melanggar hak Allah.

Contoh

Contoh 1: Menjauhi lingkungan yang penuh kezaliman

Seseorang mengetahui bahwa suatu lingkungan kekuasaan dipenuhi praktik suap dan ketidakadilan.

Ia tidak memiliki kewajiban untuk terlibat di dalamnya dan tidak ada maslahat yang menuntutnya hadir.

Maka menjauh dari lingkungan tersebut dapat menjadi langkah untuk menjaga agama dan dirinya dari pengaruh buruk.

Contoh 2: Tidak mencari keuntungan melalui kedekatan

Seseorang sengaja mendekati orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan pejabat zalim karena berharap memperoleh proyek atau keuntungan.

Walaupun ia tidak pernah bertemu langsung dengan pejabat tersebut, sikapnya tetap menunjukkan keinginan untuk memperoleh manfaat melalui kedekatan dengan lingkungan kekuasaan.

Pelajaran dari Al-Ghazali adalah agar seseorang tidak menjadikan hubungan semacam itu sebagai jalan untuk mengejar keuntungan dunia.

Contoh 3: Tidak iri terhadap kemewahan

Seseorang melihat kehidupan pejabat yang sangat kaya dan mulai merasa bahwa menjauhi mereka adalah sebuah kerugian.

Ia kemudian mengingat bahwa kekayaan juga membawa tanggung jawab dan pertanggungjawaban.

Dengan demikian, ia tidak menjadikan kemewahan orang lain sebagai alasan untuk mengorbankan prinsip agamanya.

Contoh 4: Membenci perbuatan zalim, bukan mengingkari semua kebaikan

Seorang pemimpin melakukan beberapa pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga melakukan kezaliman dalam perkara lain.

Sikap yang seimbang adalah mengakui manfaat dari kebaikannya sekaligus menolak dan membenci kezalimannya.

Dengan cara ini, penilaian tidak berubah menjadi fanatisme pribadi.

Contoh 5: Tidak meridai kemaksiatan

Seseorang mengetahui bahwa sebuah tindakan merupakan kezaliman.

Ia tidak mampu menghentikannya secara langsung, tetapi dalam hatinya tidak membenarkan tindakan tersebut dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang baik.

Ini berbeda dengan ikut memuji atau membenarkan kemaksiatan tersebut.

Penutup

Pembahasan ini menunjukkan bahwa menjauhi penguasa zalim bukan sekadar menjauh secara fisik, tetapi juga menjaga hati dari ketertarikan terhadap kekuasaan, kemewahan, dan keuntungan yang mungkin diperoleh melalui kedekatan dengan mereka.

Imam Al-Ghazali mengarahkan agar seseorang tidak memuji mereka, tidak mencari-cari kabar tentang kehidupan mereka, tidak mendekati orang-orang yang terhubung dengan mereka, dan tidak menyesali keuntungan dunia yang hilang karena memilih menjauh.

Pada saat yang sama, hati harus tetap memiliki sikap moral terhadap kezaliman: kezaliman tidak boleh diridai.

Kisah Hatim Al-Ashamm mengingatkan bahwa kenikmatan dunia hanya sementara, sedangkan perkataan Abu Ad-Darda’ mengingatkan bahwa kelebihan harta membawa pertanggungjawaban.

Karena itu, ukuran keselamatan bukanlah seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan, melainkan seberapa kuat ia menjaga agama, hati, dan prinsip kebenaran ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Menjauh dari lingkungan yang merusak agama dapat menjadi bentuk penjagaan diri. Dan ketika mengetahui suatu kemaksiatan, seorang mukmin tidak semestinya meridainya, meskipun ia tidak mampu mengubahnya secara langsung.

Keselamatan hati terkadang bukan dengan mendapatkan lebih banyak dari dunia, tetapi dengan berani meninggalkan sesuatu yang dapat merusak agama.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Keteguhan Ulama di HadapanPenguasa Dzalim: Kisah Hamad bin Salamah Menolak 40.000 Dirham

Hukum Menerima KunjunganPenguasa Dzalim: Menjawab Salam, Berdiri, dan Kewajiban Menasihati Menurut ImamAl-Ghazali

Kewajiban Membenci Kemaksiatan karena Cinta kepada Allah: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Kecintaan dan Keridaan

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...