Kewajiban Membenci Kemaksiatan karena Cinta kepada Allah: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Kecintaan dan Keridaan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa mencintai Allah menuntut seseorang membenci kemaksiatan dan mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah

Pendahuluan

Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang yang mengetahui adanya kezaliman atau kemaksiatan tidak boleh meridainya. Ia harus memiliki sikap batin berupa kebencian terhadap kemaksiatan tersebut.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan penting: jika rasa benci merupakan keadaan hati yang tidak sepenuhnya berada di bawah kehendak manusia, bagaimana mungkin membenci kemaksiatan diwajibkan?

Al-Ghazali menjawab bahwa persoalan tersebut tidak seperti yang dibayangkan. Menurutnya, apabila seseorang benar-benar mencintai Allah, maka secara alami ia akan membenci sesuatu yang dibenci oleh Allah dan bertentangan dengan kehendak-Nya.

Dengan demikian, kewajiban membenci kemaksiatan berkaitan erat dengan ma‘rifah (pengenalan kepada Allah) dan mahabbah (cinta kepada Allah).

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم

Pembahasan: Kewajiban membenci kemaksiatan dan kaitannya dengan cinta kepada Allah.

Penulis

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H

Teks Arab

فإن قلت الكراهة لا تدخل تحت
الاختيار فكيف تجب قلنا ليس كذلك فإن المحب يكره بضرورة الطبع ما هو مكروه عند
محبوبه ومخالف له فإن من لا يكره معصية الله لا يحب الله وإنما لا يحب الله من لا
يعرفه والمعرفة واجبة والمحبة لله واجبة

وإذا أحبه كره ما كرهه واحب
ما أحبه وسيأتي تحقيق ذلك في كتاب المحبة والرضا

Terjemahan Lengkap

Jika engkau berkata:

“Rasa benci tidak termasuk sesuatu yang berada di bawah pilihan manusia. Lalu bagaimana mungkin rasa benci itu diwajibkan?”

Kami menjawab:

“Tidak demikian. Sebab, orang yang mencintai pasti secara tabiat akan membenci sesuatu yang dibenci oleh orang yang dicintainya dan sesuatu yang bertentangan dengannya.

Sesungguhnya orang yang tidak membenci kemaksiatan kepada Allah berarti ia tidak mencintai Allah.

Adapun orang yang tidak mencintai Allah, itu terjadi karena ia tidak mengenal-Nya. Padahal mengenal Allah merupakan kewajiban, dan mencintai Allah juga merupakan kewajiban.

Apabila seseorang mencintai Allah, ia akan membenci apa yang dibenci-Nya dan mencintai apa yang dicintai-Nya.

Penjelasan secara lebih mendalam mengenai hal ini akan dibahas dalam Kitab Mahabbah wa Ar-Ridha’ (Cinta dan Keridaan).”

Artikel Pengembangan

1. Pertanyaan tentang kewajiban membenci kemaksiatan

Al-Ghazali terlebih dahulu menghadirkan sebuah keberatan:

الكراهة لا تدخل تحت الاختيار

“Rasa benci tidak termasuk sesuatu yang berada di bawah pilihan.”

Pertanyaan ini berkaitan dengan prinsip penting dalam taklif.

Sesuatu yang diwajibkan kepada manusia pada umumnya harus berada dalam lingkup kemampuan dan pilihan manusia. Lalu bagaimana seseorang diperintahkan untuk membenci sesuatu, sementara perasaan terkadang muncul secara spontan?

Al-Ghazali menjawab bahwa persoalan ini harus dipahami melalui hubungan antara cinta dan kebencian.

2. Cinta melahirkan kecenderungan terhadap apa yang dicintai

Menurut Al-Ghazali, seseorang yang benar-benar mencintai sesuatu secara alami akan menyukai apa yang disukai oleh objek cintanya dan membenci apa yang bertentangan dengannya.

Misalnya, seseorang yang mencintai gurunya akan menghargai perkara yang dihargai gurunya dan merasa tidak suka apabila seseorang menghina atau merusak sesuatu yang dicintai gurunya.

Maka, ketika cinta kepada Allah telah tertanam kuat, kecintaan itu akan memengaruhi sikap seseorang terhadap ketaatan dan kemaksiatan.

3. Membenci kemaksiatan merupakan konsekuensi cinta kepada Allah

Al-Ghazali mengatakan:

فإن من لا يكره معصية الله لا يحب الله

“Sesungguhnya orang yang tidak membenci kemaksiatan kepada Allah berarti ia tidak mencintai Allah.”

Pernyataan ini menempatkan mahabbah kepada Allah sebagai dasar penting bagi sikap moral seorang mukmin.

Cinta kepada Allah bukan hanya ucapan atau perasaan abstrak.

Ia memiliki konsekuensi:

  • mencintai ketaatan;
  • mencintai kebaikan;
  • membenci kemaksiatan;
  • membenci kezaliman;
  • dan tidak meridai sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah.

Dengan demikian, cinta kepada Allah memiliki pengaruh terhadap arah hati dan perilaku.

4. Ma‘rifah mendahului mahabbah

Al-Ghazali kemudian menyatakan:

وإنما لا يحب الله من لا يعرفه

“Adapun orang yang tidak mencintai Allah adalah orang yang tidak mengenal-Nya.”

Di sini terdapat hubungan antara ma‘rifah dan mahabbah.

Semakin seseorang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, nikmat-Nya, kekuasaan-Nya, dan tanda-tanda kebesaran-Nya, semakin besar peluang tumbuhnya cinta kepada-Nya.

Sebaliknya, hati yang tidak mengenal Allah secara benar akan sulit melahirkan kecintaan yang mendalam kepada-Nya.

5. Pengetahuan agama bukan sekadar informasi

Ketika Al-Ghazali menyatakan:

والمعرفة واجبة

“Pengenalan itu wajib,”

yang dimaksud bukan sekadar mengetahui informasi tentang agama.

Ma‘rifah dalam konteks pembahasan ini berkaitan dengan pengenalan yang membawa seseorang kepada pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan kesadaran terhadap Allah.

Ilmu yang benar seharusnya memberikan pengaruh kepada hati.

Jika ilmu bertambah tetapi kecintaan kepada Allah tidak tumbuh, maka masih ada persoalan dalam bagaimana ilmu tersebut dihayati.

6. Cinta kepada Allah memiliki konsekuensi moral

Al-Ghazali kemudian menyimpulkan:

وإذا أحبه كره ما كرهه واحب ما أحبه

“Apabila ia mencintai-Nya, ia membenci apa yang dibenci-Nya dan mencintai apa yang dicintai-Nya.”

Ini merupakan kaidah penting dalam pembahasan akhlak.

Cinta bukan hanya perasaan positif kepada sesuatu.

Cinta juga melahirkan sikap selektif:

  • apa yang dicintai Allah menjadi sesuatu yang dicintai;
  • apa yang dibenci Allah menjadi sesuatu yang dibenci;
  • apa yang mendekatkan kepada Allah dicari;
  • apa yang menjauhkan dari Allah dihindari.

7. Membenci kemaksiatan tidak berarti membenci seluruh pribadi pelakunya

Pembahasan ini perlu dipahami secara proporsional.

Membenci kemaksiatan tidak otomatis berarti membenci seluruh pribadi orang yang melakukan kemaksiatan dalam segala keadaan.

Seseorang dapat memiliki kebaikan sekaligus melakukan kesalahan.

Karena itu, sikap yang lebih tepat adalah membenci perbuatan maksiatnya, menolak kezalimannya, dan tetap mengakui kebaikan yang memang ada pada dirinya.

Hal ini juga sejalan dengan pembahasan sebelumnya mengenai seseorang yang memiliki unsur kebaikan dan keburukan.

8. Antara perasaan spontan dan sikap yang dibentuk

Memang benar bahwa seseorang tidak selalu dapat memerintahkan hatinya untuk merasakan sesuatu secara spontan.

Namun seseorang dapat membentuk sebab-sebab yang melahirkan kecenderungan hati.

Misalnya dengan:

  • memperdalam pengetahuan tentang Allah;
  • mengingat nikmat-Nya;
  • memahami akibat kemaksiatan;
  • memperbanyak ibadah;
  • menjauhi lingkungan yang menormalisasi kemaksiatan;
  • dan membiasakan diri mencintai ketaatan.

Dari proses tersebut, kecenderungan hati akan semakin selaras dengan apa yang diperintahkan agama.

9. Cinta kepada Allah bukan sekadar klaim

Pembahasan ini juga memberikan ukuran praktis terhadap klaim cinta kepada Allah.

Seseorang mungkin mengatakan:

“Aku mencintai Allah.”

Tetapi apabila ia justru mencintai kemaksiatan, meridai kezaliman, membenci ketaatan, dan merasa senang ketika aturan Allah dilanggar, maka klaim tersebut perlu diperiksa kembali.

Menurut kerangka Al-Ghazali, cinta yang benar memiliki pengaruh terhadap apa yang dicintai dan dibenci seseorang.

10. Hubungan dengan pembahasan penguasa zalim

Konteks pembahasan ini sangat penting.

Al-Ghazali sebelumnya membahas kewajiban tidak meridai kezaliman para penguasa.

Kemudian ia menjelaskan mengapa kebencian terhadap kemaksiatan dapat menjadi kewajiban.

Dasarnya adalah bahwa orang yang mencintai Allah tidak mungkin menganggap kezaliman dan kemaksiatan sebagai sesuatu yang baik.

Karena itu, menjaga jarak dari penguasa zalim bukan semata-mata masalah hubungan sosial, tetapi juga berkaitan dengan menjaga sikap hati terhadap kezaliman.

Contoh

Contoh 1: Mengetahui kemaksiatan tetapi tidak meridainya

Seseorang melihat suatu perbuatan zalim yang tidak mampu ia hentikan.

Ia tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya secara langsung, tetapi ia tidak membenarkan atau menganggapnya sebagai sesuatu yang baik.

Ia tetap membenci perbuatan zalim tersebut.

Ini menggambarkan perbedaan antara tidak mampu mengubah kemaksiatan dan meridai kemaksiatan.

Contoh 2: Mencintai Allah berarti mencintai ketaatan

Seseorang mengaku mencintai Allah.

Ketika ia mengetahui suatu amal merupakan ketaatan, ia berusaha melakukannya meskipun hawa nafsunya tidak menyukainya.

Di sinilah cinta kepada Allah diuji: apakah kecintaan tersebut mampu mengalahkan kecenderungan pribadi yang bertentangan dengan perintah-Nya.

Contoh 3: Membenci perbuatan, bukan menghapus seluruh kebaikan seseorang

Seorang pejabat melakukan kebaikan kepada masyarakat, tetapi juga melakukan kezaliman.

Seorang Muslim dapat mengakui kebaikannya sekaligus menolak kezalimannya.

Ia tidak perlu mengubah kebencian terhadap kezalimannya menjadi penolakan terhadap seluruh kebaikan yang pernah dilakukan.

Contoh 4: Membentuk hati melalui ilmu

Seseorang merasa hatinya belum memiliki rasa takut dan cinta yang kuat kepada Allah.

Ia kemudian memperdalam ilmu tentang nama dan sifat Allah, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, mengingat nikmat-Nya, serta memperbanyak ibadah.

Tujuannya bukan memaksa munculnya emosi secara instan, tetapi membangun sebab-sebab yang menumbuhkan ma‘rifah dan mahabbah.

Penutup

Pembahasan ini menjelaskan hubungan yang sangat erat antara ma‘rifah, mahabbah, dan kebencian terhadap kemaksiatan.

Al-Ghazali menjawab keberatan bahwa kebencian tidak berada sepenuhnya di bawah pilihan manusia. Menurutnya, ketika cinta kepada Allah benar-benar tumbuh, seseorang secara alami akan membenci sesuatu yang dibenci oleh Allah dan mencintai sesuatu yang dicintai-Nya.

Karena itu, membenci kemaksiatan bukan sekadar perasaan emosional, tetapi merupakan konsekuensi dari mengenal dan mencintai Allah.

Namun, kebencian tersebut harus diarahkan secara benar. Yang ditolak adalah kemaksiatan dan kezaliman, bukan berarti seseorang harus mengingkari setiap kebaikan yang ada pada pelakunya.

Pelajaran utamanya adalah:

Semakin kuat seseorang mengenal Allah, semakin kuat cintanya kepada-Nya; dan semakin kuat cintanya kepada Allah, semakin besar ketidaksukaannya terhadap kemaksiatan dan kezaliman.

Al-Ghazali sendiri menegaskan bahwa pembahasan yang lebih mendalam mengenai hubungan antara cinta dan keridaan kepada Allah akan dijelaskan dalam bagian khusus tentang mahabbah dan ridha.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Menjauhi Penguasa Dzalim:Sikap Wajib, Membenci Kezaliman, dan Menjaga Hati Menurut Imam Al-Ghazali

Keteguhan Ulama di HadapanPenguasa Dzalim: Kisah Hamad bin Salamah Menolak 40.000 Dirham

Nasihat Thawus kepada Khalifah Hisyam bin Abdul Malik: Keberanian Ulama di Hadapan Penguasa

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...