Pendahuluan
Islam memberikan perhatian besar
terhadap adab dalam kehidupan sosial. Seorang Muslim tidak hanya dituntut
memiliki ibadah yang baik kepada Allah, tetapi juga harus memiliki sikap yang
baik ketika bergaul, berbicara, duduk bersama, berteman, dan menghadapi
berbagai macam manusia.
Dalam penutup pembahasan ini, Imam
al-Ghazali merangkum sejumlah adab pergaulan dan majelis yang beliau kumpulkan
dari perkataan para ahli hikmah. Nasihat tersebut mencakup berbagai keadaan:
bagaimana menyambut kawan maupun lawan, bagaimana menjaga sikap ketika duduk,
bagaimana berbicara dalam majelis, bagaimana menghadapi orang yang memiliki
kekuasaan, bagaimana berinteraksi dengan masyarakat umum, serta bagaimana
menjaga kewibawaan dengan tidak berlebihan dalam bercanda.
Yang menarik, nasihat tersebut tidak
hanya mengatur perkataan, tetapi juga gerak tubuh dan kebiasaan kecil yang
sering dianggap sepele. Cara duduk, melihat, menguap, meludah, memainkan
janggut atau cincin, bahkan cara seseorang memasuki majelis, semuanya termasuk
bagian dari adab.
Pada bagian akhir, Imam al-Ghazali
memberikan perhatian khusus terhadap bercanda secara berlebihan, karena
menurut beliau hal tersebut dapat menghilangkan kewibawaan, menimbulkan
kedengkian, mengurangi kehormatan, dan menjauhkan hati dari Allah.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (إحياء
علوم الدين)
Bagian: Kitāb Ādāb al-Mu‘āsyarah wa al-Ukhūwah wa al-Ṣuḥbah
Pembahasan: Penutup bab tentang adab pergaulan dan duduk bersama
berbagai golongan manusia.
Pengarang
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H.
Teks Arab
خاتمة لهذا
الباب
نذكر فيها جملة آداب العشرة والمجالسة
مع أصناف الخلق ملتقطة من كلام بعض الحكماء
.
إن أردت حسن العشرة فالق صديقك وعدوك
بوجه الرضا من غير ذلة لهم ولا هيبة منهم وتوقير من غير كبر وتواضع من غير مذلة .
وكن في جميع أمورك في أوسطها فكلا
طرفي قصد الأمور ذميم
.
ولا تنظر في عطفيك ولا تكثر الالتفات
ولا تقف على الجماعات وإذا جلست فلا تستوفز وتحفظ من تشبيك أصابعك والعبث بلحيتك
وخاتمك وتخليل أسنانك وإدخال أصبعك في أنفك وكثرة بصاقك وتنخمك وطرد الذباب من
وجهك وكثرة التمطي والتثاؤب في وجوه الناس وفي الصلاة وغيرهما .
وليكن مجلسك هاديا وحديثك منظوما
مرتبا وأصغ إلى الكلام الحسن ممن حدثك من غير إظهار تعجب مفرط ولا تسأله إعادته
واسكت عن المضاحك والحكايات ولا تحدث عن إعجابك بولدك ولا جاريتك ولا شعرك ولا
تصنيفك وسائر ما يخصك ولا تتصنع تصنع المرأة في التزين ولا تتبذل تبذل العبد وتوق
كثرة الكحل والإسراف في الدهن ولا تلح في الحاجات ولا تشجع أحدا على الظلم ولا
تعلم أهلك وولدك فضلا عن غيرهم مقدار مالك فإنهم إن رأوه قليلا هنت عندهم وإن كان
كثيرا لم تبلغ قط رضاهم وخوفهم من غير عنف ولن لهم من غير ضعف .
ولا تهازل أمتك ولا عبدك فيسقط وقارك
وإذا خاصمت فتوقر وتحفظ من جهلك وتجنب عجلتك وتفكر في حجتك ولا تكثر الإشارة بيديك
ولا تكثر الالتفات إلى من وراءك ولا تجث على ركبتيك وإذا هدأ غيظك فتكلم وإن قربك
سلطان فكن منه على مثل حد السنان فإن استرسل عليك فلا تأمن انقلابه عليك وارفق به
رفقك بالصبي وكلمه بما يشتهيه ما لم يكن معصية ولا يحملنك لطفه بك أن تدخل بينه
وبين أهله وولده وحشمه وإن كنت لذلك مستحقا عنده فإن سقطة الداخل بين الملك وبين
أهله سقطة لا تنعش وزلة لا تقال وإياك وصديق العافية فإنه أعدى الأعداء ولا تجعل
مالك أكرم من عرضك وإذا دخلت مجلسا فالأدب فيه البداية بالتسليم وترك التخطي لمن
سبق والجلوس حيث اتسع وحيث يكون أقرب إلى التواضع وأن تحيي بالسلام من قرب منك عند
الجلوس .
ولا تجلس على الطريق فإن جلست فأدبه
غض البصر ونصرة المظلوم وإغاثة الملهوف وعون الضعيف وإرشاد الضال ورد السلام
وإعطاء السائل والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر
.
والارتياد لموضع البصاق ، ولا تبصق في
جهة القبلة ولا عن يمينك ولكن عن يسارك وتحت قدمك اليسرى
.
ولا تجالس الملوك فإن فعلت فأدبه ترك
الغيبة ومجانبة الكذب وصيانة السر وقلة الحوائج وتهذيب الألفاظ والإعراب في الخطاب
والمذاكرة بأخلاق الملوك وقلة المداعبة وكثرة الحذر منهم وإن ظهرت لك المودة وأن
لا تتجشأ بحضرتهم ولا تخلل بعد الأكل عنده وعلى الملك أن يحتمل كل شيء إلا إفشاء
السر والقدح في الملك والتعرض للحرم
.
ولا تجالس العامة فإن فعلت فأدبه ترك
الخوض في حديثهم وقلة الإصغاء إلى أراجيفهم والتغافل عما يجري من سوء ألفاظهم وقلة
اللقاء لهم مع الحاجة إليهم
.
وإياك أن تمازح لبيبا أو غير لبيب ؛
فإن اللبيب يحقد عليك والسفيه يجترئ عليك لأن المزاح يخرق الهيبة ويسقط ماء الوجه
ويعقب الحقد ويذهب بحلاوة الود ويشين فقه الفقيه ويجرئ السفيه ويسقط المنزلة عند
الحكيم ويمقته المتقون وهو يميت القلب ويباعد عن الرب تعالى ويكسب الغفلة ويورث
الذلة وبه تظلم السرائر وتموت الخواطر وبه تكثر العيوب وتبين الذنوب .
وقد قيل : لا يكون المزاح إلا من سخف
أو بطر .
ومن بلي في مجلس بمزاح أو لغط فليذكر
الله عند قيامه قال النبي صلى الله عليه وسلم : " من جلس في مجلس فكثر به
لغطه فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك : سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت
أستغفرك وأتوب إليك ، إلا غفر له ما كان في مجلسه ذلك
.
Terjemahan Lengkap
Penutup Bab Ini
Kami menyebutkan di dalamnya
sejumlah adab dalam bergaul dan duduk bersama berbagai golongan manusia,
yang dihimpun dari perkataan sebagian orang bijak.
Jika engkau menginginkan pergaulan
yang baik, maka temuilah teman maupun musuhmu dengan wajah yang menunjukkan
kerelaan, tanpa merendahkan diri di hadapan mereka dan tanpa merasa takut
kepada mereka; hormatilah mereka tanpa kesombongan, dan bersikaplah rendah hati
tanpa merendahkan diri.
Dalam seluruh urusanmu, hendaknya
engkau berada di posisi yang pertengahan. Sebab, kedua ujung dari perkara
yang seharusnya ditempuh secara pertengahan adalah tercela.
Janganlah engkau memandang kedua
sisi tubuhmu secara berlebihan, jangan banyak menoleh, dan jangan berdiri di
tengah-tengah kerumunan orang. Apabila engkau duduk, janganlah duduk dalam
keadaan gelisah atau seperti hendak segera bangkit. Hindarilah menyilangkan
jari-jari, memainkan janggut dan cincin, membersihkan sela-sela gigi,
memasukkan jari ke dalam hidung, terlalu banyak meludah dan mengeluarkan dahak,
mengusir lalat dari wajah, serta terlalu sering meregangkan badan dan menguap
di hadapan orang-orang, baik ketika berada dalam salat maupun selainnya.
Hendaknya majelismu tenang dan
pembicaraanmu tersusun serta teratur. Dengarkanlah perkataan yang baik dari
orang yang berbicara kepadamu tanpa menunjukkan rasa takjub secara berlebihan
dan jangan memintanya mengulangi perkataannya.
Hendaknya engkau meninggalkan
gurauan berlebihan dan cerita-cerita yang tidak perlu. Janganlah engkau
membicarakan kekagumanmu terhadap anakmu, budak perempuanmu, syairmu, karya
tulisanmu, dan berbagai perkara lain yang berkaitan dengan dirimu.
Jangan pula engkau berdandan secara
dibuat-buat seperti perempuan dalam berhias, dan jangan merendahkan
penampilanmu seperti seorang budak. Hindarilah penggunaan celak secara
berlebihan dan berlebih-lebihan dalam memakai minyak.
Janganlah engkau mendesak-desak
dalam meminta berbagai kebutuhan. Jangan mendorong seseorang untuk melakukan
kezaliman. Jangan memberitahukan kepada keluargamu dan anak-anakmu—apalagi
orang lain—berapa jumlah hartamu. Sebab, jika mereka melihat hartamu sedikit,
engkau akan menjadi rendah dalam pandangan mereka. Jika mereka melihatnya
banyak, engkau tidak akan pernah mampu mencapai kerelaan mereka.
Takutlah kepada mereka tanpa
melakukan kekerasan dan bersikap lembutlah kepada mereka tanpa menunjukkan
kelemahan.
Janganlah engkau terlalu banyak
bercanda dengan budak perempuan atau budak laki-lakimu, karena hal itu dapat
menjatuhkan kewibawaanmu.
Apabila engkau berselisih atau
berdebat, tetaplah bersikap tenang dan terhormat. Jagalah dirimu dari
kebodohan, hindarilah ketergesa-gesaan, dan pikirkan terlebih dahulu hujahmu.
Jangan terlalu banyak menggunakan isyarat dengan tanganmu, jangan terlalu
sering menoleh kepada orang yang berada di belakangmu, dan jangan berlutut
ketika berbicara.
Apabila kemarahanmu telah mereda,
barulah berbicara.
Apabila seorang penguasa
mendekatkanmu kepadanya, maka bersikaplah kepadanya seperti berada di ujung
mata pedang. Jika ia terlalu memberikan kelonggaran kepadamu dan terlalu
membuka kedekatan, jangan merasa aman dari kemungkinan ia berbalik memusuhimu.
Bersikaplah lembut kepadanya
sebagaimana engkau bersikap lembut kepada seorang anak kecil. Berbicaralah
kepadanya dengan sesuatu yang ia sukai selama hal itu bukan maksiat.
Jangan sampai kelembutan penguasa
kepadamu membuatmu masuk campur antara dirinya dengan keluarganya,
anak-anaknya, atau para pembantunya, sekalipun menurutnya engkau berhak
melakukan hal tersebut. Sebab, kesalahan orang yang masuk di antara seorang raja
dan keluarganya adalah kesalahan yang sulit dipulihkan dan kekeliruan yang
sulit dimaafkan.
Waspadalah terhadap teman ketika
keadaan sedang baik, karena ia dapat menjadi salah satu musuh yang paling
berbahaya.
Janganlah engkau menjadikan hartamu
lebih mulia daripada kehormatanmu.
Apabila engkau memasuki sebuah
majelis, maka adabnya adalah memulai dengan mengucapkan salam, tidak melangkahi
orang yang telah lebih dahulu duduk, kemudian duduk di tempat yang lapang dan
di tempat yang lebih dekat kepada sikap tawaduk. Ketika duduk, hendaknya engkau
memberi salam kepada orang yang berada dekat denganmu.
Janganlah engkau duduk di pinggir
jalan. Jika engkau duduk di sana, maka adabnya adalah menundukkan pandangan,
menolong orang yang dizalimi, membantu orang yang berada dalam kesulitan,
menolong orang yang lemah, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat,
menjawab salam, memberikan kepada orang yang meminta, memerintahkan kepada
kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
Carilah tempat yang layak untuk
meludah. Jangan meludah ke arah kiblat dan jangan pula ke sebelah kananmu,
tetapi meludahlah ke sebelah kirimu dan di bawah telapak kaki kirimu.
Janganlah engkau banyak bergaul
dengan para raja atau penguasa. Jika engkau melakukannya, maka adabnya adalah
meninggalkan ghibah, menjauhi kebohongan, menjaga rahasia, sedikit meminta
kebutuhan kepada mereka, memperhalus kata-kata, berbicara dengan bahasa yang
baik dan tepat, memperhatikan cara berbicara dengan para penguasa, sedikit
bercanda, dan banyak berhati-hati terhadap mereka meskipun mereka menunjukkan
kasih sayang kepadamu.
Janganlah engkau bersendawa di
hadapan mereka dan jangan membersihkan sela-sela gigi setelah makan di hadapan
mereka.
Adapun seorang raja atau penguasa,
hendaknya ia dapat memaklumi segala sesuatu kecuali membocorkan rahasia,
mencela atau merendahkan kerajaan/kekuasaannya, dan mencampuri kehormatan
keluarganya.
Janganlah engkau terlalu banyak
bergaul dengan masyarakat awam. Jika engkau melakukannya, maka adabnya adalah
tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, sedikit mendengarkan berita-berita
yang tidak jelas dan kabar bohong mereka, berpura-pura tidak mengetahui ucapan
buruk yang muncul dari mereka, serta tidak terlalu sering bertemu dengan mereka
kecuali ketika memang ada kebutuhan kepada mereka.
Jangan sekali-kali engkau menjadikan
orang yang cerdas maupun orang yang tidak cerdas sebagai sasaran gurauanmu
secara berlebihan. Sebab, orang yang cerdas dapat menyimpan dendam kepadamu,
sedangkan orang yang bodoh dapat menjadi berani terhadapmu.
Gurauan dapat merusak kewibawaan,
menjatuhkan kehormatan, menimbulkan dendam, menghilangkan manisnya kasih
sayang, mencoreng pemahaman seorang ahli fikih, membuat orang bodoh menjadi
berani, menjatuhkan kedudukan seseorang di mata orang bijak, dan menyebabkan orang-orang
yang bertakwa tidak menyukainya.
Gurauan yang berlebihan juga dapat
mematikan hati, menjauhkan seseorang dari Allah Ta'ala, menimbulkan kelalaian,
mewariskan kehinaan, menggelapkan batin, mematikan berbagai lintasan pikiran
yang baik, memperbanyak aib, dan menampakkan dosa.
Telah dikatakan:
“Gurauan tidak muncul kecuali dari
kebodohan atau kesombongan karena kesenangan.”
Barang siapa terjebak dalam sebuah
majelis yang dipenuhi gurauan atau pembicaraan yang sia-sia, hendaknya ia
mengingat Allah ketika berdiri meninggalkan majelis tersebut.
Nabi ﷺ
bersabda:
“Barang siapa duduk dalam suatu
majelis, lalu banyak terjadi perkataan yang sia-sia di dalamnya, kemudian
sebelum ia berdiri dari majelis tersebut ia mengucapkan:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
‘Mahasuci Engkau, ya Allah, dan
segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu,’
maka akan diampuni baginya apa yang
terjadi dalam majelisnya tersebut.”
Artikel Pengembangan
1.
Adab pergaulan bukan hanya tentang perkataan
Adab dalam Islam mencakup
keseluruhan perilaku manusia. Seseorang dapat berbicara dengan kalimat yang
benar, tetapi cara duduk, cara memandang, atau gerak tubuhnya dapat menunjukkan
kesombongan atau ketidaksopanan.
Karena itu, Imam al-Ghazali
menyebutkan berbagai perkara yang tampaknya kecil: tidak terlalu banyak
menoleh, tidak gelisah ketika duduk, tidak memainkan janggut atau cincin, tidak
terlalu banyak menguap, dan tidak melakukan gerakan yang mengganggu orang lain.
Pesannya adalah bahwa akhlak
terlihat dalam kebiasaan-kebiasaan kecil.
2.
Sikap pertengahan adalah prinsip penting
Nasihat:
وكن
في جميع أمورك في أوسطها
menunjukkan pentingnya sikap
pertengahan.
Tidak terlalu merendahkan diri,
tetapi juga tidak sombong. Tidak terlalu banyak berbicara, tetapi juga tidak
menjadi orang yang tidak peduli. Tidak berlebihan dalam berhias, tetapi juga
tidak sengaja membuat penampilan menjadi buruk.
Sikap pertengahan menjaga seseorang
dari dua ekstrem yang sama-sama dapat merusak kehormatan.
3.
Menjaga rahasia dan kehormatan
Dalam pergaulan, seseorang harus
memahami bahwa tidak semua hal boleh dibicarakan. Terlebih lagi ketika
berhubungan dengan orang yang memiliki kekuasaan.
Rahasia, urusan keluarga, dan
kehormatan seseorang merupakan perkara yang harus dijaga. Kedekatan tidak boleh
dijadikan alasan untuk membuka sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
4.
Bahaya terlalu dekat dengan kekuasaan
Nasihat Imam al-Ghazali mengenai
penguasa sangat tegas. Orang yang mendapatkan kedekatan dengan penguasa tidak
boleh merasa terlalu aman.
Kedekatan dengan kekuasaan dapat
berubah menjadi bahaya apabila seseorang mulai mencampuri urusan pribadi
penguasa, menyalahgunakan kepercayaan, atau merasa bahwa kedekatan tersebut
membuat dirinya kebal dari konsekuensi.
Karena itu, al-Ghazali menggunakan
perumpamaan:
على
مثل حد السنان
“seperti berada di ujung mata
pedang.”
Maksudnya adalah seseorang harus
selalu berhati-hati ketika berhubungan dengan kekuasaan.
5.
Adab duduk di jalan
Duduk di jalan tidak semata-mata
dilarang secara mutlak dalam teks ini. Jika seseorang duduk di jalan, ia
memiliki tanggung jawab adab tertentu.
Di antaranya:
- menundukkan pandangan;
- membantu orang yang dizalimi;
- menolong orang yang kesusahan;
- membantu orang yang lemah;
- menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat;
- menjawab salam;
- memberikan sesuatu kepada orang yang meminta;
- mengajak kepada kebaikan;
- mencegah kemungkaran.
Dengan demikian, keberadaan seorang
Muslim di ruang publik seharusnya memberikan manfaat, bukan gangguan.
6.
Mengapa bercanda berlebihan dilarang?
Islam tidak mengharamkan setiap
bentuk senyum, humor, atau gurauan. Yang menjadi perhatian dalam nasihat ini
adalah berlebihan dalam bercanda hingga menghilangkan kewibawaan dan
menimbulkan dampak buruk.
Imam al-Ghazali menyebutkan banyak
akibat negatifnya. Gurauan yang tidak terkendali dapat:
- menghilangkan kewibawaan;
- menjatuhkan kehormatan;
- menimbulkan dendam;
- mengurangi kasih sayang;
- membuat orang bodoh menjadi berani;
- menurunkan kedudukan seseorang;
- menimbulkan kelalaian;
- melemahkan keadaan hati;
- membuka aib;
- dan memudahkan munculnya dosa.
Karena itu, ukuran yang penting
bukan sekadar “apakah bercanda atau tidak?”, tetapi “ke mana gurauan
tersebut membawa hati dan hubungan antarmanusia?”
7.
Penutup majelis dengan zikir
Apabila sebuah majelis telah
dipenuhi pembicaraan sia-sia, seorang Muslim masih memiliki kesempatan untuk
menutupnya dengan mengingat Allah.
Doa penutup yang disebutkan dalam
teks adalah:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Doa ini dikenal sebagai kafaratul
majelis, yaitu zikir yang dibaca sebagai penutup majelis.
Penjelasan Beberapa Ungkapan Penting
«وجه الرضا»
Ungkapan وجه الرضا berarti wajah yang
menunjukkan kerelaan, keramahan, dan penerimaan. Maksudnya bukan selalu
tersenyum, tetapi menampakkan sikap yang tidak bermusuhan.
«من غير ذلة»
Artinya tanpa merendahkan diri.
Islam memerintahkan tawaduk, tetapi tawaduk berbeda dengan kehinaan.
«من غير كبر»
Artinya menghormati orang lain tanpa
kesombongan. Seseorang dapat menghormati orang lain tanpa merasa dirinya
lebih tinggi.
«فكلا طرفي قصد الأمور ذميم»
Maknanya: dua sisi ekstrem dari
suatu perkara yang semestinya dilakukan secara pertengahan sama-sama tercela.
Ini merupakan prinsip penting dalam
akhlak: jangan berlebihan dan jangan pula meremehkan.
«لا تستوفز»
Maksudnya jangan duduk dengan posisi
seperti orang yang siap meloncat atau segera berdiri. Dalam konteks adab majelis,
duduk hendaknya tenang dan tidak gelisah.
«يسقط ماء الوجه»
Secara harfiah berkaitan dengan
jatuhnya “air muka”. Dalam penggunaan bahasa Arab, ungkapan ini menunjuk pada hilangnya
kewibawaan dan kehormatan seseorang.
«صديق العافية»
Ungkapan ini dapat dipahami sebagai teman
ketika keadaan baik atau teman yang hanya hadir ketika seseorang berada dalam
kesenangan dan kemudahan. Al-Ghazali memperingatkan bahwa teman seperti ini
dapat menjadi sangat berbahaya karena persahabatannya mungkin tidak didasarkan
pada ketulusan.
«على مثل حد السنان»
Artinya bersikap seperti orang yang
berada di ujung mata tombak atau pedang: sangat berhati-hati karena
sedikit saja keliru dapat mendatangkan bahaya.
Contoh Penerapan dalam Kehidupan
Contoh
1: Di majelis
Ketika seseorang berbicara, jangan
memotong pembicaraannya hanya karena kita sudah mengetahui apa yang hendak ia
sampaikan. Dengarkan dengan baik dan berikan kesempatan kepadanya untuk
menyelesaikan pembicaraan.
Contoh
2: Dalam pertemuan
Ketika memasuki ruangan, ucapkan
salam, jangan menerobos orang yang telah duduk lebih dahulu, dan carilah tempat
yang masih tersedia tanpa berebut tempat terbaik.
Contoh
3: Dalam perdebatan
Ketika berbeda pendapat, jangan
berbicara dengan emosi. Tenangkan diri terlebih dahulu, susun argumentasi,
kemudian sampaikan dengan bahasa yang baik.
Contoh
4: Di ruang publik
Jika melihat seseorang dizalimi,
jangan hanya menjadi penonton. Jika mampu membantu dengan cara yang benar dan
aman, berikan pertolongan.
Contoh
5: Dalam bercanda
Bercanda dengan teman boleh menjadi
sarana mempererat hubungan selama tidak menghina, tidak membuka aib, tidak
berbohong, tidak menyakiti, dan tidak dilakukan secara berlebihan.
Contoh
6: Berhadapan dengan orang berkuasa
Jika mendapatkan kepercayaan dari
seseorang yang memiliki jabatan, jangan menggunakan kedekatan tersebut untuk
mencampuri urusan keluarganya, menyebarkan rahasianya, atau merasa memiliki
kedudukan yang tidak semestinya.
Kesimpulan
Penutup pembahasan ini memberikan
gambaran luas tentang adab pergaulan seorang Muslim dengan berbagai golongan
manusia.
Prinsip dasarnya adalah bersikap
ramah tanpa merendahkan diri, menghormati tanpa sombong, tawaduk tanpa hina,
serta memilih jalan pertengahan dalam berbagai urusan.
Adab juga mencakup cara duduk,
berbicara, memandang, memasuki majelis, berinteraksi di jalan, menghadapi
masyarakat umum, dan berhubungan dengan orang yang memiliki kekuasaan.
Di antara perkara yang paling
ditekankan adalah menjaga kehormatan, rahasia, kewibawaan, dan lisan.
Bahkan gurauan yang berlebihan dapat menjadi sebab rusaknya hubungan, hilangnya
kewibawaan, dan matinya kepekaan hati.
Pada akhirnya, majelis seorang
Muslim seharusnya tidak berakhir hanya dengan percakapan duniawi. Jika di
dalamnya terdapat banyak perkataan sia-sia, hendaknya ia menutupnya dengan mengingat
Allah dan memohon ampun kepada-Nya.
Hikmah
- Adab terlihat dari perkara-perkara kecil. Cara duduk, berbicara, memandang, dan bergerak dapat
mencerminkan akhlak seseorang.
- Tawaduk tidak sama dengan kehinaan. Seorang Muslim rendah hati tetapi tetap menjaga
kehormatan dirinya.
- Jalan pertengahan adalah jalan keselamatan. Berlebihan maupun terlalu meremehkan sama-sama dapat
membawa keburukan.
- Kedekatan dengan penguasa membutuhkan kehati-hatian. Jangan menganggap kedekatan sebagai jaminan keamanan.
- Rahasia harus dijaga.
Kepercayaan yang diberikan seseorang tidak boleh disebarluaskan.
- Majelis harus memberikan manfaat. Jika duduk di ruang publik, hendaknya seseorang
menjaga pandangan dan membantu orang lain.
- Bercanda memiliki batas. Gurauan yang melampaui batas dapat menghilangkan
kewibawaan dan merusak persahabatan.
- Hati harus dijaga dari kelalaian. Banyaknya gurauan dan pembicaraan sia-sia dapat
mengeraskan hati.
- Lisan dapat menjadi sebab keselamatan atau kebinasaan. Karena itu, pembicaraan harus ditimbang sebelum
disampaikan.
- Zikir menjadi penutup yang baik bagi majelis. Ketika sebuah majelis dipenuhi kelalaian, seorang
Muslim dianjurkan mengakhirinya dengan istigfar dan mengingat Allah.
Penutup
Adab pergaulan bukan sekadar aturan
kesopanan lahiriah. Ia merupakan latihan untuk membentuk jiwa yang tenang,
hati yang bersih, lisan yang terjaga, dan hubungan sosial yang sehat.
Nasihat Imam al-Ghazali mengajarkan
agar seseorang tidak mencari kehormatan dengan kesombongan, tidak mencari
penerimaan dengan merendahkan diri, dan tidak mencari keakraban melalui gurauan
yang melampaui batas.
Orang yang memahami adab akan
mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus bercanda, kapan
harus serius, kapan harus mendekat, dan kapan harus menjaga jarak.
Dengan demikian, majelis dan
pergaulan dapat menjadi sarana memperbaiki akhlak, menjaga kehormatan, menolong
sesama, serta mendekatkan hati kepada Allah Ta'ala.
Dan ketika sebuah majelis telah
diwarnai oleh kelalaian dan perkataan yang tidak bermanfaat, hendaknya seorang
Muslim tidak lupa menutupnya dengan doa:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ
وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan
segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Adab Lisan, Tangan, dan Kaki dalam Persahabatan serta Jalan MenujuAkhlak yang Baik (02/05/74)
Hak Sesama Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya Menurut Imam
al-Ghazali (02/05/76)

.png)
0 Komentar