Adab Bergaul dan Duduk Bersama Berbagai Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/75)

Adab bergaul menurut Imam al-Ghazali: etika majelis, berbicara, berteman, duduk di jalan, menghadapi penguasa, masyarakat umum, dan menjaga diri dari bercanda

Pendahuluan

Islam memberikan perhatian besar terhadap adab dalam kehidupan sosial. Seorang Muslim tidak hanya dituntut memiliki ibadah yang baik kepada Allah, tetapi juga harus memiliki sikap yang baik ketika bergaul, berbicara, duduk bersama, berteman, dan menghadapi berbagai macam manusia.

Dalam penutup pembahasan ini, Imam al-Ghazali merangkum sejumlah adab pergaulan dan majelis yang beliau kumpulkan dari perkataan para ahli hikmah. Nasihat tersebut mencakup berbagai keadaan: bagaimana menyambut kawan maupun lawan, bagaimana menjaga sikap ketika duduk, bagaimana berbicara dalam majelis, bagaimana menghadapi orang yang memiliki kekuasaan, bagaimana berinteraksi dengan masyarakat umum, serta bagaimana menjaga kewibawaan dengan tidak berlebihan dalam bercanda.

Yang menarik, nasihat tersebut tidak hanya mengatur perkataan, tetapi juga gerak tubuh dan kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele. Cara duduk, melihat, menguap, meludah, memainkan janggut atau cincin, bahkan cara seseorang memasuki majelis, semuanya termasuk bagian dari adab.

Pada bagian akhir, Imam al-Ghazali memberikan perhatian khusus terhadap bercanda secara berlebihan, karena menurut beliau hal tersebut dapat menghilangkan kewibawaan, menimbulkan kedengkian, mengurangi kehormatan, dan menjauhkan hati dari Allah.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (إحياء علوم الدين)
Bagian: Kitāb Ādāb al-Mu‘āsyarah wa al-Ukhūwah wa al-Ṣuḥbah
Pembahasan: Penutup bab tentang adab pergaulan dan duduk bersama berbagai golongan manusia.

Pengarang

Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H.

Teks Arab

خاتمة لهذا الباب

نذكر فيها جملة آداب العشرة والمجالسة مع أصناف الخلق ملتقطة من كلام بعض الحكماء .

إن أردت حسن العشرة فالق صديقك وعدوك بوجه الرضا من غير ذلة لهم ولا هيبة منهم وتوقير من غير كبر وتواضع من غير مذلة .

وكن في جميع أمورك في أوسطها فكلا طرفي قصد الأمور ذميم .

ولا تنظر في عطفيك ولا تكثر الالتفات ولا تقف على الجماعات وإذا جلست فلا تستوفز وتحفظ من تشبيك أصابعك والعبث بلحيتك وخاتمك وتخليل أسنانك وإدخال أصبعك في أنفك وكثرة بصاقك وتنخمك وطرد الذباب من وجهك وكثرة التمطي والتثاؤب في وجوه الناس وفي الصلاة وغيرهما .

وليكن مجلسك هاديا وحديثك منظوما مرتبا وأصغ إلى الكلام الحسن ممن حدثك من غير إظهار تعجب مفرط ولا تسأله إعادته واسكت عن المضاحك والحكايات ولا تحدث عن إعجابك بولدك ولا جاريتك ولا شعرك ولا تصنيفك وسائر ما يخصك ولا تتصنع تصنع المرأة في التزين ولا تتبذل تبذل العبد وتوق كثرة الكحل والإسراف في الدهن ولا تلح في الحاجات ولا تشجع أحدا على الظلم ولا تعلم أهلك وولدك فضلا عن غيرهم مقدار مالك فإنهم إن رأوه قليلا هنت عندهم وإن كان كثيرا لم تبلغ قط رضاهم وخوفهم من غير عنف ولن لهم من غير ضعف .

ولا تهازل أمتك ولا عبدك فيسقط وقارك وإذا خاصمت فتوقر وتحفظ من جهلك وتجنب عجلتك وتفكر في حجتك ولا تكثر الإشارة بيديك ولا تكثر الالتفات إلى من وراءك ولا تجث على ركبتيك وإذا هدأ غيظك فتكلم وإن قربك سلطان فكن منه على مثل حد السنان فإن استرسل عليك فلا تأمن انقلابه عليك وارفق به رفقك بالصبي وكلمه بما يشتهيه ما لم يكن معصية ولا يحملنك لطفه بك أن تدخل بينه وبين أهله وولده وحشمه وإن كنت لذلك مستحقا عنده فإن سقطة الداخل بين الملك وبين أهله سقطة لا تنعش وزلة لا تقال وإياك وصديق العافية فإنه أعدى الأعداء ولا تجعل مالك أكرم من عرضك وإذا دخلت مجلسا فالأدب فيه البداية بالتسليم وترك التخطي لمن سبق والجلوس حيث اتسع وحيث يكون أقرب إلى التواضع وأن تحيي بالسلام من قرب منك عند الجلوس .

ولا تجلس على الطريق فإن جلست فأدبه غض البصر ونصرة المظلوم وإغاثة الملهوف وعون الضعيف وإرشاد الضال ورد السلام وإعطاء السائل والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .

والارتياد لموضع البصاق ، ولا تبصق في جهة القبلة ولا عن يمينك ولكن عن يسارك وتحت قدمك اليسرى .

ولا تجالس الملوك فإن فعلت فأدبه ترك الغيبة ومجانبة الكذب وصيانة السر وقلة الحوائج وتهذيب الألفاظ والإعراب في الخطاب والمذاكرة بأخلاق الملوك وقلة المداعبة وكثرة الحذر منهم وإن ظهرت لك المودة وأن لا تتجشأ بحضرتهم ولا تخلل بعد الأكل عنده وعلى الملك أن يحتمل كل شيء إلا إفشاء السر والقدح في الملك والتعرض للحرم .

ولا تجالس العامة فإن فعلت فأدبه ترك الخوض في حديثهم وقلة الإصغاء إلى أراجيفهم والتغافل عما يجري من سوء ألفاظهم وقلة اللقاء لهم مع الحاجة إليهم .

وإياك أن تمازح لبيبا أو غير لبيب ؛ فإن اللبيب يحقد عليك والسفيه يجترئ عليك لأن المزاح يخرق الهيبة ويسقط ماء الوجه ويعقب الحقد ويذهب بحلاوة الود ويشين فقه الفقيه ويجرئ السفيه ويسقط المنزلة عند الحكيم ويمقته المتقون وهو يميت القلب ويباعد عن الرب تعالى ويكسب الغفلة ويورث الذلة وبه تظلم السرائر وتموت الخواطر وبه تكثر العيوب وتبين الذنوب .

وقد قيل : لا يكون المزاح إلا من سخف أو بطر .

ومن بلي في مجلس بمزاح أو لغط فليذكر الله عند قيامه قال النبي صلى الله عليه وسلم : " من جلس في مجلس فكثر به لغطه فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك : سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك ، إلا غفر له ما كان في مجلسه ذلك .

Terjemahan Lengkap

Penutup Bab Ini

Kami menyebutkan di dalamnya sejumlah adab dalam bergaul dan duduk bersama berbagai golongan manusia, yang dihimpun dari perkataan sebagian orang bijak.

Jika engkau menginginkan pergaulan yang baik, maka temuilah teman maupun musuhmu dengan wajah yang menunjukkan kerelaan, tanpa merendahkan diri di hadapan mereka dan tanpa merasa takut kepada mereka; hormatilah mereka tanpa kesombongan, dan bersikaplah rendah hati tanpa merendahkan diri.

Dalam seluruh urusanmu, hendaknya engkau berada di posisi yang pertengahan. Sebab, kedua ujung dari perkara yang seharusnya ditempuh secara pertengahan adalah tercela.

Janganlah engkau memandang kedua sisi tubuhmu secara berlebihan, jangan banyak menoleh, dan jangan berdiri di tengah-tengah kerumunan orang. Apabila engkau duduk, janganlah duduk dalam keadaan gelisah atau seperti hendak segera bangkit. Hindarilah menyilangkan jari-jari, memainkan janggut dan cincin, membersihkan sela-sela gigi, memasukkan jari ke dalam hidung, terlalu banyak meludah dan mengeluarkan dahak, mengusir lalat dari wajah, serta terlalu sering meregangkan badan dan menguap di hadapan orang-orang, baik ketika berada dalam salat maupun selainnya.

Hendaknya majelismu tenang dan pembicaraanmu tersusun serta teratur. Dengarkanlah perkataan yang baik dari orang yang berbicara kepadamu tanpa menunjukkan rasa takjub secara berlebihan dan jangan memintanya mengulangi perkataannya.

Hendaknya engkau meninggalkan gurauan berlebihan dan cerita-cerita yang tidak perlu. Janganlah engkau membicarakan kekagumanmu terhadap anakmu, budak perempuanmu, syairmu, karya tulisanmu, dan berbagai perkara lain yang berkaitan dengan dirimu.

Jangan pula engkau berdandan secara dibuat-buat seperti perempuan dalam berhias, dan jangan merendahkan penampilanmu seperti seorang budak. Hindarilah penggunaan celak secara berlebihan dan berlebih-lebihan dalam memakai minyak.

Janganlah engkau mendesak-desak dalam meminta berbagai kebutuhan. Jangan mendorong seseorang untuk melakukan kezaliman. Jangan memberitahukan kepada keluargamu dan anak-anakmu—apalagi orang lain—berapa jumlah hartamu. Sebab, jika mereka melihat hartamu sedikit, engkau akan menjadi rendah dalam pandangan mereka. Jika mereka melihatnya banyak, engkau tidak akan pernah mampu mencapai kerelaan mereka.

Takutlah kepada mereka tanpa melakukan kekerasan dan bersikap lembutlah kepada mereka tanpa menunjukkan kelemahan.

Janganlah engkau terlalu banyak bercanda dengan budak perempuan atau budak laki-lakimu, karena hal itu dapat menjatuhkan kewibawaanmu.

Apabila engkau berselisih atau berdebat, tetaplah bersikap tenang dan terhormat. Jagalah dirimu dari kebodohan, hindarilah ketergesa-gesaan, dan pikirkan terlebih dahulu hujahmu. Jangan terlalu banyak menggunakan isyarat dengan tanganmu, jangan terlalu sering menoleh kepada orang yang berada di belakangmu, dan jangan berlutut ketika berbicara.

Apabila kemarahanmu telah mereda, barulah berbicara.

Apabila seorang penguasa mendekatkanmu kepadanya, maka bersikaplah kepadanya seperti berada di ujung mata pedang. Jika ia terlalu memberikan kelonggaran kepadamu dan terlalu membuka kedekatan, jangan merasa aman dari kemungkinan ia berbalik memusuhimu.

Bersikaplah lembut kepadanya sebagaimana engkau bersikap lembut kepada seorang anak kecil. Berbicaralah kepadanya dengan sesuatu yang ia sukai selama hal itu bukan maksiat.

Jangan sampai kelembutan penguasa kepadamu membuatmu masuk campur antara dirinya dengan keluarganya, anak-anaknya, atau para pembantunya, sekalipun menurutnya engkau berhak melakukan hal tersebut. Sebab, kesalahan orang yang masuk di antara seorang raja dan keluarganya adalah kesalahan yang sulit dipulihkan dan kekeliruan yang sulit dimaafkan.

Waspadalah terhadap teman ketika keadaan sedang baik, karena ia dapat menjadi salah satu musuh yang paling berbahaya.

Janganlah engkau menjadikan hartamu lebih mulia daripada kehormatanmu.

Apabila engkau memasuki sebuah majelis, maka adabnya adalah memulai dengan mengucapkan salam, tidak melangkahi orang yang telah lebih dahulu duduk, kemudian duduk di tempat yang lapang dan di tempat yang lebih dekat kepada sikap tawaduk. Ketika duduk, hendaknya engkau memberi salam kepada orang yang berada dekat denganmu.

Janganlah engkau duduk di pinggir jalan. Jika engkau duduk di sana, maka adabnya adalah menundukkan pandangan, menolong orang yang dizalimi, membantu orang yang berada dalam kesulitan, menolong orang yang lemah, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat, menjawab salam, memberikan kepada orang yang meminta, memerintahkan kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

Carilah tempat yang layak untuk meludah. Jangan meludah ke arah kiblat dan jangan pula ke sebelah kananmu, tetapi meludahlah ke sebelah kirimu dan di bawah telapak kaki kirimu.

Janganlah engkau banyak bergaul dengan para raja atau penguasa. Jika engkau melakukannya, maka adabnya adalah meninggalkan ghibah, menjauhi kebohongan, menjaga rahasia, sedikit meminta kebutuhan kepada mereka, memperhalus kata-kata, berbicara dengan bahasa yang baik dan tepat, memperhatikan cara berbicara dengan para penguasa, sedikit bercanda, dan banyak berhati-hati terhadap mereka meskipun mereka menunjukkan kasih sayang kepadamu.

Janganlah engkau bersendawa di hadapan mereka dan jangan membersihkan sela-sela gigi setelah makan di hadapan mereka.

Adapun seorang raja atau penguasa, hendaknya ia dapat memaklumi segala sesuatu kecuali membocorkan rahasia, mencela atau merendahkan kerajaan/kekuasaannya, dan mencampuri kehormatan keluarganya.

Janganlah engkau terlalu banyak bergaul dengan masyarakat awam. Jika engkau melakukannya, maka adabnya adalah tidak ikut larut dalam pembicaraan mereka, sedikit mendengarkan berita-berita yang tidak jelas dan kabar bohong mereka, berpura-pura tidak mengetahui ucapan buruk yang muncul dari mereka, serta tidak terlalu sering bertemu dengan mereka kecuali ketika memang ada kebutuhan kepada mereka.

Jangan sekali-kali engkau menjadikan orang yang cerdas maupun orang yang tidak cerdas sebagai sasaran gurauanmu secara berlebihan. Sebab, orang yang cerdas dapat menyimpan dendam kepadamu, sedangkan orang yang bodoh dapat menjadi berani terhadapmu.

Gurauan dapat merusak kewibawaan, menjatuhkan kehormatan, menimbulkan dendam, menghilangkan manisnya kasih sayang, mencoreng pemahaman seorang ahli fikih, membuat orang bodoh menjadi berani, menjatuhkan kedudukan seseorang di mata orang bijak, dan menyebabkan orang-orang yang bertakwa tidak menyukainya.

Gurauan yang berlebihan juga dapat mematikan hati, menjauhkan seseorang dari Allah Ta'ala, menimbulkan kelalaian, mewariskan kehinaan, menggelapkan batin, mematikan berbagai lintasan pikiran yang baik, memperbanyak aib, dan menampakkan dosa.

Telah dikatakan:

“Gurauan tidak muncul kecuali dari kebodohan atau kesombongan karena kesenangan.”

Barang siapa terjebak dalam sebuah majelis yang dipenuhi gurauan atau pembicaraan yang sia-sia, hendaknya ia mengingat Allah ketika berdiri meninggalkan majelis tersebut.

Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa duduk dalam suatu majelis, lalu banyak terjadi perkataan yang sia-sia di dalamnya, kemudian sebelum ia berdiri dari majelis tersebut ia mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

‘Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu,’

maka akan diampuni baginya apa yang terjadi dalam majelisnya tersebut.”

Artikel Pengembangan

1. Adab pergaulan bukan hanya tentang perkataan

Adab dalam Islam mencakup keseluruhan perilaku manusia. Seseorang dapat berbicara dengan kalimat yang benar, tetapi cara duduk, cara memandang, atau gerak tubuhnya dapat menunjukkan kesombongan atau ketidaksopanan.

Karena itu, Imam al-Ghazali menyebutkan berbagai perkara yang tampaknya kecil: tidak terlalu banyak menoleh, tidak gelisah ketika duduk, tidak memainkan janggut atau cincin, tidak terlalu banyak menguap, dan tidak melakukan gerakan yang mengganggu orang lain.

Pesannya adalah bahwa akhlak terlihat dalam kebiasaan-kebiasaan kecil.

2. Sikap pertengahan adalah prinsip penting

Nasihat:

وكن في جميع أمورك في أوسطها

menunjukkan pentingnya sikap pertengahan.

Tidak terlalu merendahkan diri, tetapi juga tidak sombong. Tidak terlalu banyak berbicara, tetapi juga tidak menjadi orang yang tidak peduli. Tidak berlebihan dalam berhias, tetapi juga tidak sengaja membuat penampilan menjadi buruk.

Sikap pertengahan menjaga seseorang dari dua ekstrem yang sama-sama dapat merusak kehormatan.

3. Menjaga rahasia dan kehormatan

Dalam pergaulan, seseorang harus memahami bahwa tidak semua hal boleh dibicarakan. Terlebih lagi ketika berhubungan dengan orang yang memiliki kekuasaan.

Rahasia, urusan keluarga, dan kehormatan seseorang merupakan perkara yang harus dijaga. Kedekatan tidak boleh dijadikan alasan untuk membuka sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia.

4. Bahaya terlalu dekat dengan kekuasaan

Nasihat Imam al-Ghazali mengenai penguasa sangat tegas. Orang yang mendapatkan kedekatan dengan penguasa tidak boleh merasa terlalu aman.

Kedekatan dengan kekuasaan dapat berubah menjadi bahaya apabila seseorang mulai mencampuri urusan pribadi penguasa, menyalahgunakan kepercayaan, atau merasa bahwa kedekatan tersebut membuat dirinya kebal dari konsekuensi.

Karena itu, al-Ghazali menggunakan perumpamaan:

على مثل حد السنان

“seperti berada di ujung mata pedang.”

Maksudnya adalah seseorang harus selalu berhati-hati ketika berhubungan dengan kekuasaan.

5. Adab duduk di jalan

Duduk di jalan tidak semata-mata dilarang secara mutlak dalam teks ini. Jika seseorang duduk di jalan, ia memiliki tanggung jawab adab tertentu.

Di antaranya:

  • menundukkan pandangan;
  • membantu orang yang dizalimi;
  • menolong orang yang kesusahan;
  • membantu orang yang lemah;
  • menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat;
  • menjawab salam;
  • memberikan sesuatu kepada orang yang meminta;
  • mengajak kepada kebaikan;
  • mencegah kemungkaran.

Dengan demikian, keberadaan seorang Muslim di ruang publik seharusnya memberikan manfaat, bukan gangguan.

6. Mengapa bercanda berlebihan dilarang?

Islam tidak mengharamkan setiap bentuk senyum, humor, atau gurauan. Yang menjadi perhatian dalam nasihat ini adalah berlebihan dalam bercanda hingga menghilangkan kewibawaan dan menimbulkan dampak buruk.

Imam al-Ghazali menyebutkan banyak akibat negatifnya. Gurauan yang tidak terkendali dapat:

  • menghilangkan kewibawaan;
  • menjatuhkan kehormatan;
  • menimbulkan dendam;
  • mengurangi kasih sayang;
  • membuat orang bodoh menjadi berani;
  • menurunkan kedudukan seseorang;
  • menimbulkan kelalaian;
  • melemahkan keadaan hati;
  • membuka aib;
  • dan memudahkan munculnya dosa.

Karena itu, ukuran yang penting bukan sekadar “apakah bercanda atau tidak?”, tetapi “ke mana gurauan tersebut membawa hati dan hubungan antarmanusia?”

7. Penutup majelis dengan zikir

Apabila sebuah majelis telah dipenuhi pembicaraan sia-sia, seorang Muslim masih memiliki kesempatan untuk menutupnya dengan mengingat Allah.

Doa penutup yang disebutkan dalam teks adalah:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Doa ini dikenal sebagai kafaratul majelis, yaitu zikir yang dibaca sebagai penutup majelis.

Penjelasan Beberapa Ungkapan Penting

«وجه الرضا»

Ungkapan وجه الرضا berarti wajah yang menunjukkan kerelaan, keramahan, dan penerimaan. Maksudnya bukan selalu tersenyum, tetapi menampakkan sikap yang tidak bermusuhan.

«من غير ذلة»

Artinya tanpa merendahkan diri. Islam memerintahkan tawaduk, tetapi tawaduk berbeda dengan kehinaan.

«من غير كبر»

Artinya menghormati orang lain tanpa kesombongan. Seseorang dapat menghormati orang lain tanpa merasa dirinya lebih tinggi.

«فكلا طرفي قصد الأمور ذميم»

Maknanya: dua sisi ekstrem dari suatu perkara yang semestinya dilakukan secara pertengahan sama-sama tercela.

Ini merupakan prinsip penting dalam akhlak: jangan berlebihan dan jangan pula meremehkan.

«لا تستوفز»

Maksudnya jangan duduk dengan posisi seperti orang yang siap meloncat atau segera berdiri. Dalam konteks adab majelis, duduk hendaknya tenang dan tidak gelisah.

«يسقط ماء الوجه»

Secara harfiah berkaitan dengan jatuhnya “air muka”. Dalam penggunaan bahasa Arab, ungkapan ini menunjuk pada hilangnya kewibawaan dan kehormatan seseorang.

«صديق العافية»

Ungkapan ini dapat dipahami sebagai teman ketika keadaan baik atau teman yang hanya hadir ketika seseorang berada dalam kesenangan dan kemudahan. Al-Ghazali memperingatkan bahwa teman seperti ini dapat menjadi sangat berbahaya karena persahabatannya mungkin tidak didasarkan pada ketulusan.

«على مثل حد السنان»

Artinya bersikap seperti orang yang berada di ujung mata tombak atau pedang: sangat berhati-hati karena sedikit saja keliru dapat mendatangkan bahaya.

Contoh Penerapan dalam Kehidupan

Contoh 1: Di majelis

Ketika seseorang berbicara, jangan memotong pembicaraannya hanya karena kita sudah mengetahui apa yang hendak ia sampaikan. Dengarkan dengan baik dan berikan kesempatan kepadanya untuk menyelesaikan pembicaraan.

Contoh 2: Dalam pertemuan

Ketika memasuki ruangan, ucapkan salam, jangan menerobos orang yang telah duduk lebih dahulu, dan carilah tempat yang masih tersedia tanpa berebut tempat terbaik.

Contoh 3: Dalam perdebatan

Ketika berbeda pendapat, jangan berbicara dengan emosi. Tenangkan diri terlebih dahulu, susun argumentasi, kemudian sampaikan dengan bahasa yang baik.

Contoh 4: Di ruang publik

Jika melihat seseorang dizalimi, jangan hanya menjadi penonton. Jika mampu membantu dengan cara yang benar dan aman, berikan pertolongan.

Contoh 5: Dalam bercanda

Bercanda dengan teman boleh menjadi sarana mempererat hubungan selama tidak menghina, tidak membuka aib, tidak berbohong, tidak menyakiti, dan tidak dilakukan secara berlebihan.

Contoh 6: Berhadapan dengan orang berkuasa

Jika mendapatkan kepercayaan dari seseorang yang memiliki jabatan, jangan menggunakan kedekatan tersebut untuk mencampuri urusan keluarganya, menyebarkan rahasianya, atau merasa memiliki kedudukan yang tidak semestinya.

Kesimpulan

Penutup pembahasan ini memberikan gambaran luas tentang adab pergaulan seorang Muslim dengan berbagai golongan manusia.

Prinsip dasarnya adalah bersikap ramah tanpa merendahkan diri, menghormati tanpa sombong, tawaduk tanpa hina, serta memilih jalan pertengahan dalam berbagai urusan.

Adab juga mencakup cara duduk, berbicara, memandang, memasuki majelis, berinteraksi di jalan, menghadapi masyarakat umum, dan berhubungan dengan orang yang memiliki kekuasaan.

Di antara perkara yang paling ditekankan adalah menjaga kehormatan, rahasia, kewibawaan, dan lisan. Bahkan gurauan yang berlebihan dapat menjadi sebab rusaknya hubungan, hilangnya kewibawaan, dan matinya kepekaan hati.

Pada akhirnya, majelis seorang Muslim seharusnya tidak berakhir hanya dengan percakapan duniawi. Jika di dalamnya terdapat banyak perkataan sia-sia, hendaknya ia menutupnya dengan mengingat Allah dan memohon ampun kepada-Nya.

Hikmah

  1. Adab terlihat dari perkara-perkara kecil. Cara duduk, berbicara, memandang, dan bergerak dapat mencerminkan akhlak seseorang.
  2. Tawaduk tidak sama dengan kehinaan. Seorang Muslim rendah hati tetapi tetap menjaga kehormatan dirinya.
  3. Jalan pertengahan adalah jalan keselamatan. Berlebihan maupun terlalu meremehkan sama-sama dapat membawa keburukan.
  4. Kedekatan dengan penguasa membutuhkan kehati-hatian. Jangan menganggap kedekatan sebagai jaminan keamanan.
  5. Rahasia harus dijaga. Kepercayaan yang diberikan seseorang tidak boleh disebarluaskan.
  6. Majelis harus memberikan manfaat. Jika duduk di ruang publik, hendaknya seseorang menjaga pandangan dan membantu orang lain.
  7. Bercanda memiliki batas. Gurauan yang melampaui batas dapat menghilangkan kewibawaan dan merusak persahabatan.
  8. Hati harus dijaga dari kelalaian. Banyaknya gurauan dan pembicaraan sia-sia dapat mengeraskan hati.
  9. Lisan dapat menjadi sebab keselamatan atau kebinasaan. Karena itu, pembicaraan harus ditimbang sebelum disampaikan.
  10. Zikir menjadi penutup yang baik bagi majelis. Ketika sebuah majelis dipenuhi kelalaian, seorang Muslim dianjurkan mengakhirinya dengan istigfar dan mengingat Allah.

Penutup

Adab pergaulan bukan sekadar aturan kesopanan lahiriah. Ia merupakan latihan untuk membentuk jiwa yang tenang, hati yang bersih, lisan yang terjaga, dan hubungan sosial yang sehat.

Nasihat Imam al-Ghazali mengajarkan agar seseorang tidak mencari kehormatan dengan kesombongan, tidak mencari penerimaan dengan merendahkan diri, dan tidak mencari keakraban melalui gurauan yang melampaui batas.

Orang yang memahami adab akan mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus bercanda, kapan harus serius, kapan harus mendekat, dan kapan harus menjaga jarak.

Dengan demikian, majelis dan pergaulan dapat menjadi sarana memperbaiki akhlak, menjaga kehormatan, menolong sesama, serta mendekatkan hati kepada Allah Ta'ala.

Dan ketika sebuah majelis telah diwarnai oleh kelalaian dan perkataan yang tidak bermanfaat, hendaknya seorang Muslim tidak lupa menutupnya dengan doa:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Adab Lisan, Tangan, dan Kaki dalam Persahabatan serta Jalan MenujuAkhlak yang Baik (02/05/74)

Adab Pandangan dan Pendengaran dalam Persahabatan Islam: Memandangdengan Kasih Sayang dan Mendengarkan dengan Baik (02/05/73)

Hak Sesama Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya Menurut Imam al-Ghazali (02/05/76)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Adab Bergaul dan Duduk Bersama Berbagai Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali (02/05/75)

Pendahuluan Islam memberikan perhatian besar terhadap adab dalam kehidupan sosial. Seorang Muslim tidak hanya dituntut memiliki ibadah y...