Adab Pandangan dan Pendengaran dalam Persahabatan Islam: Memandang dengan Kasih Sayang dan Mendengarkan dengan Baik (02/05/73)

Adab persahabatan dalam Islam mencakup memandang dengan kasih sayang, memperhatikan kelebihan saudara, mendengar dengan baik, dan menjaga perasaan mereka

Pendahuluan

Persahabatan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hati dan ucapan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang menggunakan anggota tubuhnya ketika berinteraksi dengan saudaranya. Pandangan mata dan pendengaran merupakan dua hal yang memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang penuh kasih sayang dan penghormatan.

Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa salah satu hak saudara dalam persahabatan adalah menggunakan pandangan dengan cara yang menunjukkan kasih sayang. Seseorang hendaknya memperhatikan kebaikan dan kelebihan saudaranya, sementara tidak sibuk mencari-cari kekurangannya.

Demikian pula dalam hal mendengarkan. Seorang sahabat hendaknya mendengarkan pembicaraan saudaranya dengan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraan tanpa alasan, tidak menyela dengan perdebatan atau bantahan, dan menjaga pendengarannya dari hal-hal yang tidak disukai oleh saudaranya.

Adab-adab tersebut menggambarkan bahwa persahabatan yang baik dibangun dengan perhatian, penghormatan, kelembutan, dan kemampuan menjaga perasaan orang lain.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2

Pembahasan: Hak-hak persahabatan dan persaudaraan (ḥuqūq al-ṣuḥbah wa al-ukhūwah).

Pengarang

Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H

Teks Arab

أما البصر فبأن تنظر إليهم نظر مودة يعرفونها منك وتنظر إلى محاسنهم
وتتعامى عن عيوبهم ولا تصرف بصرك عنهم في وقت إقبالهم عليك وكلامهم معك .

روي أنه صلى الله عليه وسلم كان يعطي كل من جلس إليه نصيبا من وجهه وما
استصغاه أحد إلا ظن أنه أكرم الناس عليه حتى كان مجلسه وسماعه وحديثه ولطيف مسألته
وتوجهه للجالس إليه .

وكان مجلسه مجلس حياء وتواضع وأمانة وكان عليه السلام أكثر الناس تبسما
وضحكا في وجوه أصحابه وتعجبا مما يحدثونه به وكان ضحك أصحابه ، عنده التبسم اقتداء
منهم بفعله وتوقيرا له عليه السلام .

وأما السمع فبأن تسمع كلامه متلذذا بسماعه ومصدقا به ومظهرا للاستبشار به
ولا تقطع حديثهم عليهم بمرادة ولا منازعة ومداخلة واعتراض فإن أرهقك عارض اعتذرت
إليهم وتحرس سمعك عن سماع ما يكرهون .

Terjemahan Lengkap

Adapun hak pandangan, yaitu hendaknya engkau memandang mereka dengan pandangan kasih sayang yang mereka ketahui dari dirimu. Hendaknya engkau memandang kebaikan dan kelebihan yang ada pada diri mereka, serta berpura-pura tidak melihat kekurangan mereka. Jangan pula engkau memalingkan pandanganmu dari mereka ketika mereka sedang menghadap kepadamu dan berbicara denganmu.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan kepada setiap orang yang duduk bersama beliau bagian dari perhatian wajah beliau. Tidaklah seseorang menganggap dirinya rendah di hadapan beliau; bahkan setiap orang yang duduk bersama beliau mengira bahwa dirinya adalah orang yang paling dimuliakan oleh beliau.

Demikianlah keadaan majelis beliau, cara beliau mendengarkan, cara beliau berbicara, kelembutan beliau dalam bertanya, serta perhatian dan arah pandangan beliau kepada orang yang sedang duduk bersama beliau.

Majelis beliau merupakan majelis yang dipenuhi rasa malu, kerendahan hati, dan sikap amanah.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling banyak tersenyum dan tertawa di hadapan para sahabatnya, serta menunjukkan rasa takjub terhadap apa yang mereka ceritakan kepada beliau.

Adapun tawa para sahabat di hadapan beliau berupa senyuman, sebagai bentuk mengikuti perbuatan beliau dan sebagai penghormatan kepada beliau ﷺ.

Adapun hak pendengaran, yaitu hendaknya engkau mendengarkan pembicaraan saudaramu dengan merasa senang mendengarnya, membenarkannya, dan memperlihatkan kegembiraan atas apa yang disampaikannya.

Janganlah engkau memotong pembicaraan mereka dengan bantahan, perdebatan, penyelaan, ataupun sanggahan.

Apabila ada suatu keadaan yang memaksamu untuk melakukan hal tersebut, maka mintalah maaf kepada mereka.

Jagalah pendengaranmu dari mendengarkan sesuatu yang tidak mereka sukai.

Artikel Pengembangan

Adab Menggunakan Pandangan dan Pendengaran dalam Persahabatan

Persahabatan yang baik membutuhkan perhatian yang nyata. Terkadang seseorang merasa tidak dihargai bukan karena perkataan yang kasar, tetapi karena lawan bicaranya tidak memberikan perhatian ketika ia berbicara.

Imam al-Ghazālī menjelaskan adab ini melalui dua anggota tubuh yang sangat penting: mata dan telinga.

1. Memandang dengan Kasih Sayang

Pandangan seseorang dapat menunjukkan sikap hatinya.

Pandangan yang penuh perhatian dapat membuat seorang saudara merasa dihargai. Sebaliknya, memalingkan wajah, melihat ke tempat lain, atau menunjukkan ketidakpedulian ketika seseorang sedang berbicara dapat melukai perasaannya.

Karena itu, Imam al-Ghazālī menganjurkan agar seseorang memandang saudaranya dengan pandangan kasih sayang yang dapat mereka rasakan.

2. Memperhatikan Kebaikan Saudara

Manusia tidak terlepas dari kekurangan. Jika seseorang hanya mencari kekurangan sahabatnya, persahabatan akan dipenuhi kecurigaan dan celaan.

Karena itu, seseorang hendaknya lebih memperhatikan maḥāsin, yaitu kebaikan, keindahan akhlak, dan kelebihan yang dimiliki saudaranya.

Adapun kekurangan yang tidak perlu diperhatikan hendaknya ia abaikan dan tidak dijadikan bahan untuk merendahkan saudaranya.

3. Tidak Memalingkan Pandangan Ketika Saudara Berbicara

Ketika seseorang sedang menghadap dan berbicara kepada kita, memberikan perhatian merupakan bentuk penghormatan.

Adab ini semakin penting ketika pembicaraan berkaitan dengan sesuatu yang membutuhkan perhatian serius.

Tidak berarti seseorang harus terus-menerus menatap mata lawan bicara dalam setiap keadaan. Yang dimaksud adalah tidak menunjukkan sikap sengaja mengabaikan atau berpaling dari orang yang sedang berbicara kepadanya.

4. Pelajaran dari Majelis Rasulullah ﷺ

Imam al-Ghazālī menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian kepada orang-orang yang duduk bersama beliau.

Setiap orang mendapatkan bagian dari perhatian beliau sehingga orang yang berada di majelis beliau merasa dihargai.

Ini merupakan salah satu bentuk kelembutan dalam pergaulan.

5. Majelis yang Dipenuhi Rasa Malu dan Tawaduk

Majelis Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai majelis yang memiliki ḥayā’, tawāḍu‘, dan amānah.

Artinya, majelis tersebut tidak dibangun dengan kesombongan, kekasaran, atau sikap meremehkan orang lain.

Sikap tawaduk membuat seseorang mampu memberikan ruang kepada orang lain untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya.

6. Tersenyum kepada Saudara

Senyuman merupakan salah satu bentuk keramahan yang sederhana tetapi memiliki pengaruh besar dalam hubungan sosial.

Rasulullah ﷺ banyak tersenyum kepada para sahabat. Para sahabat pun tersenyum dalam majelis beliau sebagai bentuk mengikuti beliau dan menghormati kedudukan beliau ﷺ.

7. Mendengarkan dengan Senang

Mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara.

Imam al-Ghazālī menyebutkan bahwa seseorang hendaknya mendengarkan dengan merasa senang mendengarnya, membenarkan apa yang patut dibenarkan, dan menunjukkan kegembiraan terhadap pembicaraan saudaranya.

Ini merupakan bentuk penghargaan terhadap orang yang sedang berbicara.

8. Tidak Memotong Pembicaraan

Ada beberapa bentuk tindakan yang dilarang ketika saudara sedang berbicara, yaitu memotong pembicaraan dengan bantahan, perdebatan, penyelaan, atau sanggahan.

Bukan berarti setiap perkataan harus diterima tanpa koreksi. Akan tetapi, koreksi hendaknya dilakukan pada waktu dan dengan cara yang tepat.

Jika seseorang harus menyela karena adanya suatu keadaan yang mendesak, ia hendaknya meminta maaf.

Penjelasan

Apa maksud “berpura-pura tidak melihat kekurangan”?

Frasa «وتتعامى عن عيوبهم» secara harfiah berarti “berpura-pura buta terhadap kekurangan mereka”.

Maksudnya bukan membenarkan kesalahan atau mengabaikan kemungkaran. Maksudnya adalah tidak menjadikan kekurangan saudara sebagai bahan untuk terus-menerus dicari, diperhatikan, dan dibicarakan, terutama dalam perkara pribadi yang tidak perlu.

Seseorang hendaknya lebih mudah melihat kebaikan saudaranya daripada sibuk menghitung kekurangannya.

Apakah mendengarkan berarti harus membenarkan semua perkataan?

Tidak.

Ungkapan «مصدقا به» berada dalam konteks adab mendengarkan pembicaraan saudara. Maksudnya adalah menunjukkan sikap menerima dan tidak tergesa-gesa menolak atau menyanggah pembicaraan yang sedang disampaikan.

Apabila terdapat kesalahan yang perlu diluruskan, seseorang tetap dapat memberikan nasihat. Namun, nasihat hendaknya dilakukan dengan adab dan tidak berubah menjadi kebiasaan memotong atau mendebat setiap perkataan.

Mengapa menjaga pendengaran dari sesuatu yang tidak disukai saudara?

Menjaga pendengaran berarti menjaga kehormatan dan perasaan orang lain.

Misalnya, apabila seseorang menyampaikan sesuatu secara pribadi dan tidak menghendaki pembicaraan tersebut disebarluaskan atau didengar oleh orang lain, maka seorang sahabat hendaknya menjaga amanah tersebut.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Contoh pertama: ketika teman bercerita

Seorang teman sedang menceritakan masalahnya. Kita meletakkan telepon, menghadap kepadanya, dan mendengarkan sampai selesai tanpa sibuk memainkan perangkat atau melihat ke tempat lain.

Contoh kedua: tidak mencari kekurangan

Kita mengetahui beberapa kekurangan seorang sahabat, tetapi tidak menjadikannya bahan candaan atau pembicaraan di hadapan orang lain.

Contoh ketiga: tidak memotong pembicaraan

Ketika seorang saudara sedang menyampaikan pendapat, kita tidak langsung menyela dengan kalimat, “Itu salah!” Kita membiarkannya menyelesaikan pembicaraan terlebih dahulu, kemudian memberikan tanggapan dengan baik.

Contoh keempat: memberi perhatian

Ketika seseorang berbicara kepada kita, kita memberikan ekspresi yang menunjukkan bahwa kita memperhatikannya. Senyum dan respons yang wajar dapat membuatnya merasa dihargai.

Contoh kelima: menyampaikan koreksi dengan adab

Apabila seorang sahabat mengatakan sesuatu yang keliru, kita tidak mempermalukannya di depan banyak orang. Jika memungkinkan, kita menyampaikan koreksi secara pribadi dan dengan bahasa yang lembut.

Kesimpulan

Imam al-Ghazālī mengajarkan bahwa hak persahabatan juga berkaitan dengan cara menggunakan pandangan dan pendengaran.

Dengan pandangan, seseorang hendaknya menunjukkan kasih sayang, memperhatikan kebaikan saudaranya, mengabaikan kekurangan yang tidak perlu dicari, dan tidak menunjukkan sikap acuh ketika saudaranya sedang berbicara.

Dengan pendengaran, seseorang hendaknya mendengarkan dengan perhatian dan sikap positif, tidak tergesa-gesa memotong pembicaraan, tidak menjadikan setiap percakapan sebagai arena perdebatan, serta menjaga pendengarannya dari sesuatu yang tidak disukai saudaranya.

Adab tersebut menunjukkan bahwa persahabatan dalam Islam menuntut perhatian, penghormatan, kelembutan, dan penjagaan terhadap perasaan serta kehormatan saudara.

Hikmah

  1. Pandangan dapat menjadi tanda kasih sayang dan penghormatan.
  2. Orang yang baik lebih memperhatikan kebaikan saudaranya daripada kekurangannya.
  3. Tidak mencari-cari aib merupakan bagian dari menjaga persaudaraan.
  4. Memberikan perhatian ketika seseorang berbicara merupakan bentuk penghormatan.
  5. Mendengarkan dengan baik merupakan salah satu adab utama dalam persahabatan.
  6. Memotong pembicaraan dapat merusak kenyamanan dalam pergaulan.
  7. Koreksi tetap dapat dilakukan, tetapi harus disampaikan dengan adab.
  8. Senyuman dan keramahan dapat mempererat hubungan antarsaudara.
  9. Majelis yang baik dibangun dengan rasa malu, tawaduk, dan amanah.
  10. Menjaga pendengaran berarti ikut menjaga kehormatan dan perasaan saudara.

Penutup

Persahabatan yang kuat tidak selalu membutuhkan pemberian yang besar. Terkadang, perhatian sederhana berupa pandangan yang penuh kasih, senyuman, dan kesediaan mendengarkan dengan sungguh-sungguh sudah menjadi bentuk penghormatan yang sangat berarti.

Pelajaran dari uraian Imam al-Ghazālī adalah bahwa seorang Muslim hendaknya tidak hanya memperhatikan apa yang ia katakan kepada saudaranya, tetapi juga bagaimana ia memandang dan mendengarkan saudaranya.

Dengan memandang kebaikan, mengabaikan kekurangan yang tidak perlu dicari, mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraan, serta menjaga pendengaran dari sesuatu yang tidak disukai, seseorang dapat menjaga persahabatan tetap berada di atas kasih sayang, penghormatan, dan akhlak mulia.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Merendahkan Saudara Muslim dan Hak-Hak Persahabatan: Musyawarah,Keterbukaan, dan Mengutamakan Saudara (02/05/72)

Hak Kedelapan Persaudaraan Islam: Meringankan Beban, Tidak MemberatkanSahabat, Tawaduk, dan Adab dalam Pergaulan (02/05/71)

Adab Lisan, Tangan, dan Kaki dalam Persahabatan serta Jalan Menuju Akhlak yang Baik (02/05/74)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Al-Muhakkimah Al-Ula: Awal Munculnya Khawarij dan Sejarah Kelompok Haruriyah Menurut At-Tabshir fi ad-Din

Pendahuluan Setelah menjelaskan pokok-pokok keyakinan Khawarij, penulis At-Tabshir fi ad-Din mulai menguraikan satu per satu cabang kel...