Pendahuluan
Persahabatan dalam Islam tidak hanya
berkaitan dengan hati dan ucapan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang
menggunakan anggota tubuhnya ketika berinteraksi dengan saudaranya. Pandangan
mata dan pendengaran merupakan dua hal yang memiliki peran penting dalam
membangun hubungan yang penuh kasih sayang dan penghormatan.
Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa
salah satu hak saudara dalam persahabatan adalah menggunakan pandangan dengan
cara yang menunjukkan kasih sayang. Seseorang hendaknya memperhatikan kebaikan
dan kelebihan saudaranya, sementara tidak sibuk mencari-cari kekurangannya.
Demikian pula dalam hal
mendengarkan. Seorang sahabat hendaknya mendengarkan pembicaraan saudaranya
dengan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraan tanpa alasan, tidak menyela
dengan perdebatan atau bantahan, dan menjaga pendengarannya dari hal-hal yang
tidak disukai oleh saudaranya.
Adab-adab tersebut menggambarkan
bahwa persahabatan yang baik dibangun dengan perhatian, penghormatan,
kelembutan, dan kemampuan menjaga perasaan orang lain.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm
al-Dīn, Jilid 2
Pembahasan: Hak-hak persahabatan dan persaudaraan (ḥuqūq al-ṣuḥbah
wa al-ukhūwah).
Pengarang
Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H
Teks Arab
أما البصر فبأن تنظر إليهم نظر مودة
يعرفونها منك وتنظر إلى محاسنهم
وتتعامى عن عيوبهم ولا تصرف بصرك عنهم
في وقت إقبالهم عليك وكلامهم معك
.
روي أنه صلى الله عليه وسلم كان يعطي
كل من جلس إليه نصيبا من وجهه وما
استصغاه أحد إلا ظن أنه أكرم الناس
عليه حتى كان مجلسه وسماعه وحديثه ولطيف مسألته
وتوجهه للجالس إليه .
وكان مجلسه مجلس حياء وتواضع وأمانة
وكان عليه السلام أكثر الناس تبسما
وضحكا في وجوه أصحابه وتعجبا مما
يحدثونه به وكان ضحك أصحابه ، عنده التبسم اقتداء
منهم بفعله وتوقيرا له عليه السلام .
وأما السمع فبأن تسمع كلامه متلذذا
بسماعه ومصدقا به ومظهرا للاستبشار به
ولا تقطع حديثهم عليهم بمرادة ولا
منازعة ومداخلة واعتراض فإن أرهقك عارض اعتذرت
إليهم وتحرس سمعك عن سماع ما يكرهون .
Terjemahan Lengkap
Adapun hak pandangan, yaitu
hendaknya engkau memandang mereka dengan pandangan kasih sayang yang mereka
ketahui dari dirimu. Hendaknya engkau memandang kebaikan dan kelebihan yang ada
pada diri mereka, serta berpura-pura tidak melihat kekurangan mereka. Jangan
pula engkau memalingkan pandanganmu dari mereka ketika mereka sedang menghadap
kepadamu dan berbicara denganmu.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memberikan kepada setiap orang yang duduk
bersama beliau bagian dari perhatian wajah beliau. Tidaklah seseorang
menganggap dirinya rendah di hadapan beliau; bahkan setiap orang yang duduk
bersama beliau mengira bahwa dirinya adalah orang yang paling dimuliakan oleh
beliau.
Demikianlah keadaan majelis beliau,
cara beliau mendengarkan, cara beliau berbicara, kelembutan beliau dalam
bertanya, serta perhatian dan arah pandangan beliau kepada orang yang sedang
duduk bersama beliau.
Majelis beliau merupakan majelis
yang dipenuhi rasa malu, kerendahan hati, dan sikap amanah.
Rasulullah ﷺ
adalah orang yang paling banyak tersenyum dan tertawa di hadapan para
sahabatnya, serta menunjukkan rasa takjub terhadap apa yang mereka ceritakan
kepada beliau.
Adapun tawa para sahabat di hadapan
beliau berupa senyuman, sebagai bentuk mengikuti perbuatan beliau dan sebagai
penghormatan kepada beliau ﷺ.
Adapun hak pendengaran, yaitu
hendaknya engkau mendengarkan pembicaraan saudaramu dengan merasa senang
mendengarnya, membenarkannya, dan memperlihatkan kegembiraan atas apa yang
disampaikannya.
Janganlah engkau memotong
pembicaraan mereka dengan bantahan, perdebatan, penyelaan, ataupun sanggahan.
Apabila ada suatu keadaan yang
memaksamu untuk melakukan hal tersebut, maka mintalah maaf kepada mereka.
Jagalah pendengaranmu dari
mendengarkan sesuatu yang tidak mereka sukai.
Artikel Pengembangan
Adab Menggunakan Pandangan dan Pendengaran dalam
Persahabatan
Persahabatan yang baik membutuhkan
perhatian yang nyata. Terkadang seseorang merasa tidak dihargai bukan karena
perkataan yang kasar, tetapi karena lawan bicaranya tidak memberikan perhatian
ketika ia berbicara.
Imam al-Ghazālī menjelaskan adab ini
melalui dua anggota tubuh yang sangat penting: mata dan telinga.
1.
Memandang dengan Kasih Sayang
Pandangan seseorang dapat
menunjukkan sikap hatinya.
Pandangan yang penuh perhatian dapat
membuat seorang saudara merasa dihargai. Sebaliknya, memalingkan wajah, melihat
ke tempat lain, atau menunjukkan ketidakpedulian ketika seseorang sedang
berbicara dapat melukai perasaannya.
Karena itu, Imam al-Ghazālī
menganjurkan agar seseorang memandang saudaranya dengan pandangan kasih sayang
yang dapat mereka rasakan.
2.
Memperhatikan Kebaikan Saudara
Manusia tidak terlepas dari
kekurangan. Jika seseorang hanya mencari kekurangan sahabatnya, persahabatan
akan dipenuhi kecurigaan dan celaan.
Karena itu, seseorang hendaknya
lebih memperhatikan maḥāsin, yaitu kebaikan, keindahan akhlak, dan
kelebihan yang dimiliki saudaranya.
Adapun kekurangan yang tidak perlu
diperhatikan hendaknya ia abaikan dan tidak dijadikan bahan untuk merendahkan
saudaranya.
3.
Tidak Memalingkan Pandangan Ketika Saudara Berbicara
Ketika seseorang sedang menghadap
dan berbicara kepada kita, memberikan perhatian merupakan bentuk penghormatan.
Adab ini semakin penting ketika
pembicaraan berkaitan dengan sesuatu yang membutuhkan perhatian serius.
Tidak berarti seseorang harus terus-menerus
menatap mata lawan bicara dalam setiap keadaan. Yang dimaksud adalah tidak
menunjukkan sikap sengaja mengabaikan atau berpaling dari orang yang sedang
berbicara kepadanya.
4.
Pelajaran dari Majelis Rasulullah ﷺ
Imam al-Ghazālī menggambarkan
bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan perhatian
kepada orang-orang yang duduk bersama beliau.
Setiap orang mendapatkan bagian dari
perhatian beliau sehingga orang yang berada di majelis beliau merasa dihargai.
Ini merupakan salah satu bentuk
kelembutan dalam pergaulan.
5.
Majelis yang Dipenuhi Rasa Malu dan Tawaduk
Majelis Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai majelis yang memiliki ḥayā’, tawāḍu‘,
dan amānah.
Artinya, majelis tersebut tidak
dibangun dengan kesombongan, kekasaran, atau sikap meremehkan orang lain.
Sikap tawaduk membuat seseorang
mampu memberikan ruang kepada orang lain untuk berbicara dan menyampaikan
pendapatnya.
6.
Tersenyum kepada Saudara
Senyuman merupakan salah satu bentuk
keramahan yang sederhana tetapi memiliki pengaruh besar dalam hubungan sosial.
Rasulullah ﷺ
banyak tersenyum kepada para sahabat. Para sahabat pun tersenyum dalam majelis
beliau sebagai bentuk mengikuti beliau dan menghormati kedudukan beliau ﷺ.
7.
Mendengarkan dengan Senang
Mendengarkan bukan sekadar diam
ketika orang lain berbicara.
Imam al-Ghazālī menyebutkan bahwa
seseorang hendaknya mendengarkan dengan merasa senang mendengarnya,
membenarkan apa yang patut dibenarkan, dan menunjukkan kegembiraan terhadap
pembicaraan saudaranya.
Ini merupakan bentuk penghargaan
terhadap orang yang sedang berbicara.
8.
Tidak Memotong Pembicaraan
Ada beberapa bentuk tindakan yang
dilarang ketika saudara sedang berbicara, yaitu memotong pembicaraan dengan
bantahan, perdebatan, penyelaan, atau sanggahan.
Bukan berarti setiap perkataan harus
diterima tanpa koreksi. Akan tetapi, koreksi hendaknya dilakukan pada waktu dan
dengan cara yang tepat.
Jika seseorang harus menyela karena
adanya suatu keadaan yang mendesak, ia hendaknya meminta maaf.
Penjelasan
Apa
maksud “berpura-pura tidak melihat kekurangan”?
Frasa «وتتعامى
عن عيوبهم» secara harfiah berarti “berpura-pura buta terhadap
kekurangan mereka”.
Maksudnya bukan membenarkan
kesalahan atau mengabaikan kemungkaran. Maksudnya adalah tidak menjadikan
kekurangan saudara sebagai bahan untuk terus-menerus dicari, diperhatikan, dan
dibicarakan, terutama dalam perkara pribadi yang tidak perlu.
Seseorang hendaknya lebih mudah
melihat kebaikan saudaranya daripada sibuk menghitung kekurangannya.
Apakah
mendengarkan berarti harus membenarkan semua perkataan?
Tidak.
Ungkapan «مصدقا به» berada dalam konteks adab mendengarkan pembicaraan
saudara. Maksudnya adalah menunjukkan sikap menerima dan tidak tergesa-gesa
menolak atau menyanggah pembicaraan yang sedang disampaikan.
Apabila terdapat kesalahan yang
perlu diluruskan, seseorang tetap dapat memberikan nasihat. Namun, nasihat
hendaknya dilakukan dengan adab dan tidak berubah menjadi kebiasaan memotong
atau mendebat setiap perkataan.
Mengapa
menjaga pendengaran dari sesuatu yang tidak disukai saudara?
Menjaga pendengaran berarti menjaga
kehormatan dan perasaan orang lain.
Misalnya, apabila seseorang
menyampaikan sesuatu secara pribadi dan tidak menghendaki pembicaraan tersebut
disebarluaskan atau didengar oleh orang lain, maka seorang sahabat hendaknya
menjaga amanah tersebut.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh pertama: ketika teman
bercerita
Seorang teman sedang menceritakan
masalahnya. Kita meletakkan telepon, menghadap kepadanya, dan mendengarkan
sampai selesai tanpa sibuk memainkan perangkat atau melihat ke tempat lain.
Contoh kedua: tidak mencari
kekurangan
Kita mengetahui beberapa kekurangan
seorang sahabat, tetapi tidak menjadikannya bahan candaan atau pembicaraan di
hadapan orang lain.
Contoh ketiga: tidak memotong
pembicaraan
Ketika seorang saudara sedang
menyampaikan pendapat, kita tidak langsung menyela dengan kalimat, “Itu salah!”
Kita membiarkannya menyelesaikan pembicaraan terlebih dahulu, kemudian
memberikan tanggapan dengan baik.
Contoh keempat: memberi perhatian
Ketika seseorang berbicara kepada
kita, kita memberikan ekspresi yang menunjukkan bahwa kita memperhatikannya.
Senyum dan respons yang wajar dapat membuatnya merasa dihargai.
Contoh kelima: menyampaikan koreksi
dengan adab
Apabila seorang sahabat mengatakan
sesuatu yang keliru, kita tidak mempermalukannya di depan banyak orang. Jika
memungkinkan, kita menyampaikan koreksi secara pribadi dan dengan bahasa yang
lembut.
Kesimpulan
Imam al-Ghazālī mengajarkan bahwa
hak persahabatan juga berkaitan dengan cara menggunakan pandangan dan
pendengaran.
Dengan pandangan, seseorang
hendaknya menunjukkan kasih sayang, memperhatikan kebaikan saudaranya,
mengabaikan kekurangan yang tidak perlu dicari, dan tidak menunjukkan sikap
acuh ketika saudaranya sedang berbicara.
Dengan pendengaran, seseorang
hendaknya mendengarkan dengan perhatian dan sikap positif, tidak tergesa-gesa
memotong pembicaraan, tidak menjadikan setiap percakapan sebagai arena
perdebatan, serta menjaga pendengarannya dari sesuatu yang tidak disukai
saudaranya.
Adab tersebut menunjukkan bahwa
persahabatan dalam Islam menuntut perhatian, penghormatan, kelembutan, dan
penjagaan terhadap perasaan serta kehormatan saudara.
Hikmah
- Pandangan dapat menjadi tanda kasih sayang dan
penghormatan.
- Orang yang baik lebih memperhatikan kebaikan saudaranya
daripada kekurangannya.
- Tidak mencari-cari aib merupakan bagian dari menjaga
persaudaraan.
- Memberikan perhatian ketika seseorang berbicara
merupakan bentuk penghormatan.
- Mendengarkan dengan baik merupakan salah satu adab
utama dalam persahabatan.
- Memotong pembicaraan dapat merusak kenyamanan dalam
pergaulan.
- Koreksi tetap dapat dilakukan, tetapi harus disampaikan
dengan adab.
- Senyuman dan keramahan dapat mempererat hubungan
antarsaudara.
- Majelis yang baik dibangun dengan rasa malu, tawaduk,
dan amanah.
- Menjaga pendengaran berarti ikut menjaga kehormatan dan
perasaan saudara.
Penutup
Persahabatan yang kuat tidak selalu
membutuhkan pemberian yang besar. Terkadang, perhatian sederhana berupa
pandangan yang penuh kasih, senyuman, dan kesediaan mendengarkan dengan
sungguh-sungguh sudah menjadi bentuk penghormatan yang sangat berarti.
Pelajaran dari uraian Imam
al-Ghazālī adalah bahwa seorang Muslim hendaknya tidak hanya memperhatikan apa
yang ia katakan kepada saudaranya, tetapi juga bagaimana ia memandang
dan mendengarkan saudaranya.
Dengan memandang kebaikan,
mengabaikan kekurangan yang tidak perlu dicari, mendengarkan dengan penuh
perhatian, tidak memotong pembicaraan, serta menjaga pendengaran dari sesuatu
yang tidak disukai, seseorang dapat menjaga persahabatan tetap berada di atas
kasih sayang, penghormatan, dan akhlak mulia.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Adab Lisan, Tangan, dan Kaki dalam Persahabatan serta Jalan Menuju
Akhlak yang Baik (02/05/74)

.png)
0 Komentar