Pendahuluan
Persahabatan dalam Islam bukan
sekadar hubungan sosial, tetapi merupakan amanah yang melahirkan berbagai hak
dan adab. Seorang sahabat tidak cukup hanya menunjukkan kasih sayang melalui
ucapan, tetapi juga harus membuktikannya melalui sikap, bantuan, kerendahan
hati, dan pelayanan yang baik.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa
anggota tubuh memiliki adab dalam memperlakukan sahabat. Lisan tidak boleh
digunakan dengan cara yang menyakiti atau berbicara di luar kemampuan pemahaman
mereka. Tangan hendaknya digunakan untuk membantu, sedangkan kaki hendaknya
mencerminkan kerendahan hati dalam pergaulan.
Namun, ketika persaudaraan telah mencapai
tingkat kedekatan dan kejernihan hati yang sempurna, sebagian bentuk formalitas
dalam persahabatan menjadi ringan. Sebab, tujuan utama adab lahiriah adalah
menunjukkan kebersihan dan kebaikan batin.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (إحياء
علوم الدين)
Bagian: Kitāb Ādāb al-Ṣuḥbah wa al-Ukhūwah wa al-Mu‘āsyarah ma‘a
Aṣnāf al-Khalq
Pembahasan: Hak-hak persaudaraan dan persahabatan, khususnya mengenai
keringanan dalam hubungan persahabatan dan meninggalkan sikap takalluf.
Pengarang
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī (أبو حامد
محمد بن محمد الغزالي الطوسي), wafat 505 H.
Teks Arab
وأما اللسان فقد ذكرنا حقوقه ، فإن
القول فيه يطول ، ومن ذلك أن لا يرفع
صوته عليهم ولا يخاطبهم إلا بما
يفقهون .
وأما اليدان فأن لا يقبضهما عن
معاونتهم في كل ما يتعاطى باليد
.
وأما الرجلان فأن يمشي بهما وراءهم
مشي الأتباع لا مشي المتبوعين ولا
يتقدمهم إلا بقدر ما يقدمونه ولا يقرب
منهم إلا بقدر ما يقربونه ويقوم لهم إذا أقبلوا
ولا يقعد إلا بقعودهم ويقعد متواضعا
حيث يقعد .
ومهما تم الاتحاد خف حمله من هذه
الحقوق مثل القيام والاعتذار والثناء
فإنها من حقوق الصحبة ، وفي ضمنها نوع
من الأجنبية والتكلف ، فإذا تم الاتحاد
انطوى بساط التكلف بالكلية فلا يسلك
به إلا مسلك نفسه ؛ لأن هذه الآداب الظاهرة
عنوان آداب الباطن وصفاء القلب .
ومهما صفت القلوب استغنى عن تكلف
إظهار ما فيها ، ومن كان نظره إلى صحبة
الخلق فتارة يعوج وتارة يستقيم ومن
كان نظره إلى الخالق لزم الاستقامة ظاهرا وباطنا
وزين باطنه بالحب لله ولخلقه وزين
ظاهره بالعبادة لله والخدمة لعباده ، فإنها أعلى أنواع الخدمة لله ؛
إذ لا وصول إليه إلا بحسن الخلق ويدرك
العبد بحسن خلقه درجة القائم الصائم وزيادة
.
Terjemahan Lengkap
Adapun lisan, maka hak-haknya
telah kami jelaskan, karena pembicaraan mengenai hal itu akan panjang. Di
antara hak tersebut adalah hendaknya seseorang tidak meninggikan suaranya di
hadapan mereka dan tidak berbicara kepada mereka kecuali dengan sesuatu
yang dapat mereka pahami.
Adapun kedua tangan,
hendaknya seseorang tidak menahan keduanya dari membantu mereka dalam segala
sesuatu yang dapat dilakukan dengan tangan.
Adapun kedua kaki, hendaknya
seseorang berjalan di belakang mereka seperti jalannya seorang pengikut, bukan
seperti jalannya orang yang diikuti. Ia tidak mendahului mereka kecuali sebatas
ketika mereka sendiri mendahulukannya. Ia tidak mendekati mereka kecuali
sebatas mereka mendekatinya. Ia berdiri untuk mereka ketika mereka datang,
tidak duduk sebelum mereka duduk, dan ia duduk dengan rendah hati di tempat
mereka duduk.
Apabila persatuan dan kedekatan
hati telah sempurna, maka sebagian tuntutan hak-hak tersebut menjadi lebih
ringan, seperti berdiri untuk menghormati, meminta maaf, dan memberikan pujian.
Sebab, semua itu termasuk hak-hak persahabatan, tetapi di dalamnya terdapat
sedikit unsur keterasingan dan sikap dibuat-buat (takalluf).
Apabila persatuan hati telah
sempurna, maka seluruh formalitas dan sikap dibuat-buat itu menjadi hilang.
Seseorang memperlakukan sahabatnya sebagaimana ia memperlakukan dirinya
sendiri. Sebab, adab-adab lahiriah merupakan tanda dari adab batin dan
kebersihan hati.
Apabila hati telah bersih, seseorang
tidak lagi membutuhkan sikap dibuat-buat untuk menampakkan apa yang ada di
dalam hatinya.
Barang siapa pandangannya tertuju
kepada persahabatan dengan sesama makhluk, maka sikapnya terkadang
menyimpang dan terkadang lurus. Namun, barang siapa pandangannya tertuju kepada
Sang Pencipta, niscaya ia akan berusaha untuk selalu lurus, baik secara
lahir maupun batin.
Ia menghiasi batinnya dengan cinta
kepada Allah dan kepada makhluk-Nya, serta menghiasi lahiriahnya dengan ibadah
kepada Allah dan pelayanan kepada hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya pelayanan
kepada hamba-hamba Allah merupakan salah satu bentuk pelayanan yang paling
tinggi kepada Allah, karena tidak ada jalan menuju-Nya kecuali dengan akhlak
yang baik.
Dengan akhlaknya yang baik, seorang
hamba dapat memperoleh derajat orang yang senantiasa berpuasa dan melakukan
salat malam, bahkan memperoleh tambahan keutamaan di atasnya.
Artikel Pengembangan
1.
Adab persahabatan dimulai dari lisan
Lisan merupakan salah satu anggota
tubuh yang paling besar pengaruhnya dalam hubungan antarmanusia. Sebuah ucapan
dapat menguatkan persahabatan, tetapi dapat pula merusaknya.
Imam al-Ghazali menekankan agar
seseorang tidak meninggikan suara kepada sahabatnya. Hal ini bukan berarti
seseorang sama sekali tidak boleh berbicara dengan suara keras dalam keadaan
tertentu, tetapi yang ditekankan adalah menghindari cara berbicara yang
menunjukkan penghinaan, kemarahan, atau ketidakpedulian.
Selain itu, seseorang hendaknya
berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami oleh lawan bicaranya. Menyampaikan
sesuatu yang tidak sesuai dengan tingkat pemahaman seseorang dapat menyebabkan
kesalahpahaman.
2.
Tangan hendaknya menjadi sarana pertolongan
Tangan dalam pembahasan ini bukan
sekadar anggota tubuh, tetapi simbol kemampuan untuk memberikan bantuan.
Ketika seorang sahabat membutuhkan
pertolongan yang mampu dilakukan, seseorang hendaknya tidak bersikap enggan.
Bantuan dapat berupa pekerjaan sederhana, mengangkat barang, memenuhi
kebutuhan, membantu pekerjaan, atau memberikan pertolongan dalam perkara yang
baik.
Persahabatan yang hanya berupa
kata-kata tetapi tidak melahirkan kepedulian praktis belum mencapai
kesempurnaan yang dimaksudkan oleh al-Ghazali.
3.
Kerendahan hati dalam berjalan dan duduk
Al-Ghazali menggambarkan adab kaki
dengan beberapa bentuk sikap tawaduk: tidak berjalan mendahului secara
berlebihan, tidak mengambil posisi seolah-olah dirinya adalah orang yang harus
diikuti, berdiri ketika sahabat datang, serta tidak duduk sebelum mereka duduk.
Semua ini menggambarkan penghormatan
dan tawaduk, bukan penghambaan kepada manusia.
Prinsipnya adalah seseorang tidak
menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dalam pergaulan. Ia memberikan ruang
kepada orang lain dan menjaga kehormatan mereka.
4.
Dari formalitas menuju keakraban
Menariknya, al-Ghazali tidak berhenti
pada aturan-aturan lahiriah. Ia menjelaskan bahwa ketika hubungan persaudaraan
telah benar-benar kuat, sebagian bentuk formalitas dapat menjadi ringan.
Misalnya, seorang sahabat yang
sangat dekat mungkin tidak selalu perlu meminta maaf secara formal atas perkara
kecil, memberikan pujian dalam setiap kesempatan, atau berdiri setiap kali
sahabatnya datang.
Hal itu bukan berarti adab menjadi
tidak penting. Justru, semakin bersih hati seseorang, semakin alami pula
adabnya.
5.
Adab lahir merupakan cermin kebersihan batin
Kalimat:
لأن
هذه الآداب الظاهرة عنوان آداب الباطن وصفاء القلب
mengandung prinsip penting bahwa
perilaku lahiriah merupakan tanda dari keadaan batin.
Seseorang yang memiliki hati yang
bersih biasanya lebih mudah menghormati orang lain, membantu mereka, menjaga
ucapan, dan tidak merasa dirinya lebih tinggi.
Sebaliknya, seseorang yang hatinya
dipenuhi kesombongan, iri, atau kecenderungan merendahkan orang lain akan sulit
mempertahankan adab dalam hubungan sosial.
6.
Orientasi kepada Allah melahirkan istiqamah
Al-Ghazali kemudian mengarahkan
pembahasan kepada sesuatu yang lebih tinggi. Menurutnya, orang yang hanya
memandang hubungan dengan manusia dapat mengalami perubahan sikap: terkadang
lurus dan terkadang menyimpang.
Hal itu terjadi karena penilaiannya
bergantung pada manusia.
Adapun orang yang orientasinya
kepada Allah, ia akan berusaha menjaga kelurusan lahir dan batin. Ia berbuat
baik bukan hanya karena ingin mendapatkan pujian sahabat, tetapi karena
mengharap rida Allah.
Inilah yang membuat akhlak menjadi
lebih konsisten.
7.
Cinta kepada Allah dan pelayanan kepada manusia
Al-Ghazali menggabungkan dua hal
yang sering dipisahkan: ibadah kepada Allah dan pelayanan kepada manusia.
Batin seorang mukmin dihiasi dengan
cinta kepada Allah dan kepada makhluk-Nya. Sementara lahiriahnya dihiasi dengan
ibadah kepada Allah dan pelayanan kepada hamba-hamba-Nya.
Dengan demikian, ibadah yang benar
tidak menjadikan seseorang semakin kasar kepada manusia. Sebaliknya, kedekatan
kepada Allah semestinya tercermin dalam akhlak yang baik kepada sesama.
Penjelasan Istilah Penting
الاتحاد — al-Ittiḥād
Dalam konteks ini, al-ittiḥād
menunjuk pada kuatnya persatuan, kedekatan, dan keterikatan hati dalam
persahabatan. Bukan berarti penyatuan hakiki antara dua manusia, tetapi
kedekatan hubungan yang membuat sikap formal dan rasa sungkan berlebihan
semakin berkurang.
التكلف — al-Takalluf
Takalluf berarti membebani diri dengan sesuatu yang sebenarnya tidak
diperlukan atau bersikap dibuat-buat. Dalam persahabatan, bentuknya dapat
berupa keramahan yang dipaksakan, pujian yang tidak tulus, atau formalitas
berlebihan.
صفاء القلب — Ṣafā’ al-Qalb
Ṣafā’ al-qalb berarti kebersihan hati dari sifat-sifat buruk yang
menghalangi seseorang untuk berbuat baik kepada sesama.
حسن الخلق — Ḥusn al-Khuluq
Ḥusn al-khuluq berarti akhlak yang baik. Ia mencakup kelembutan,
kesabaran, tawaduk, menjaga ucapan, membantu orang lain, serta memperlakukan
manusia dengan cara yang baik.
Contoh Penerapan
Contoh pertama: menjaga lisan
Seorang sahabat melakukan kesalahan
dalam memahami suatu persoalan. Alih-alih membentaknya di depan orang lain,
kita menjelaskan dengan suara yang tenang dan bahasa yang ia pahami.
Contoh kedua: membantu dengan tangan
Seorang sahabat sedang membawa
barang berat. Jika kita mampu membantunya, kita segera membantu tanpa menunggu
diminta.
Contoh ketiga: tawaduk
Ketika berkumpul bersama beberapa
sahabat, seseorang tidak berusaha selalu menjadi orang yang paling dahulu
dilayani atau mengambil tempat terbaik. Ia bersedia duduk dengan rendah hati
dan memberikan kesempatan kepada yang lain.
Contoh keempat: tidak dibuat-buat
Sahabat dekat melakukan kekeliruan
kecil. Karena hubungan telah dilandasi kasih sayang dan saling memahami, kita
tidak memperbesar persoalan tersebut, tetapi tetap memberikan nasihat dengan
cara yang baik.
Contoh kelima: berbuat baik karena
Allah
Seseorang membantu sahabatnya bukan
agar dipuji atau mendapatkan balasan, tetapi karena ia memandang membantu
sesama sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah.
Kesimpulan
Pembahasan Imam al-Ghazali
menunjukkan bahwa persahabatan yang baik melibatkan seluruh anggota tubuh dan
seluruh keadaan hati.
Lisan dijaga agar tidak menyakiti.
Tangan digunakan untuk membantu. Kaki digunakan dengan sikap tawaduk dan
penghormatan. Semua adab lahiriah tersebut pada akhirnya bertujuan membentuk
kebersihan batin.
Ketika hati telah bersih dan
persahabatan telah dilandasi kasih sayang yang tulus, sikap dibuat-buat menjadi
semakin berkurang. Hubungan tidak lagi dibangun atas formalitas semata, tetapi
atas keikhlasan, penghormatan, dan kasih sayang.
Puncaknya adalah ketika seseorang
tidak hanya berusaha menjadi sahabat yang baik bagi manusia, tetapi menjadikan Allah
sebagai tujuan utama dalam seluruh pergaulannya.
Hikmah
- Lisan adalah amanah dalam persahabatan. Jangan menjadikan suara dan perkataan sebagai sarana
merendahkan sahabat.
- Kemampuan hendaknya digunakan untuk membantu. Tangan yang mampu menolong lebih baik daripada tangan
yang hanya menjaga kepentingan diri sendiri.
- Tawaduk memperindah persahabatan. Tidak merasa lebih tinggi membuat hubungan menjadi
lebih dekat dan nyaman.
- Adab lahir mencerminkan keadaan hati. Kebersihan batin akan memengaruhi perilaku seseorang.
- Persahabatan yang tulus tidak membutuhkan banyak
kepura-puraan. Semakin kuat kepercayaan,
semakin alami hubungan tersebut.
- Orientasi kepada Allah menjaga istiqamah. Orang yang berbuat baik hanya demi manusia mudah
berubah ketika mendapat perlakuan yang tidak sesuai harapan.
- Akhlak baik memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Al-Ghazali menegaskan bahwa dengan akhlak yang baik
seorang hamba dapat mencapai derajat yang tinggi dalam ibadah.
- Melayani manusia dengan niat yang benar dapat menjadi
ibadah. Membantu hamba-hamba Allah
merupakan bagian dari pengabdian kepada-Nya.
Penutup
Pesan utama bagian ini adalah bahwa
persahabatan dalam Islam tidak dibangun hanya dengan kedekatan, tetapi dengan adab,
tawaduk, pelayanan, kebersihan hati, dan orientasi kepada Allah.
Adab kepada sahabat dimulai dari
perkara-perkara sederhana: menjaga suara, berbicara dengan bahasa yang
dipahami, membantu ketika mampu, tidak mendahului secara angkuh, menghormati
ketika bertemu, dan duduk dengan rendah hati.
Namun, semua itu hanyalah jalan
menuju tujuan yang lebih dalam, yaitu kesucian hati dan akhlak yang baik.
Ketika hati telah bersih, hubungan persahabatan tidak lagi membutuhkan banyak
kepura-puraan. Seseorang memperlakukan saudaranya dengan ketulusan sebagaimana
ia memperlakukan dirinya sendiri.
Karena itu, persahabatan yang paling
mulia bukan sekadar hubungan yang membuat seseorang merasa nyaman bersama
manusia, tetapi hubungan yang mendorong kedua belah pihak semakin dekat
kepada Allah dan semakin baik akhlaknya kepada sesama.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Adab Bergaul dan Duduk Bersama Berbagai Golongan Manusia Menurut ImamAl-Ghazali (02/05/75)

.png)
0 Komentar