Pendahuluan
Di antara tanda kemuliaan akhlak
seorang Muslim adalah kemampuannya menjaga amanah, menolong sesama dengan
tulus, dan bersikap bijak ketika mendengar kabar yang menyangkut kehormatan
orang lain. Banyak kerusakan dalam persahabatan dan masyarakat bermula dari
niat yang salah ketika membantu, kebiasaan menyebarkan kabar yang tidak
bermanfaat, serta ketidakhati-hatian dalam menyikapi fitnah.
Dalam nasihat berikut, seorang ulama
besar mengajarkan prinsip-prinsip luhur tentang cara membantu orang lain,
menjaga rahasia, menyikapi pujian dan celaan, serta kewajiban menasihati sahabat
dengan penuh hikmah.
Sumber
Kitab: مداواة
النفوس وتهذيب الأخلاق والزهد في الرذائل
Penulis : Ibnu Hazm Al-Andalusi
(384–456 H) seorang imam besar dalam bidang fikih, hadis, akhlak, dan pemikiran
Islam. Karya-karyanya terkenal karena ketajaman analisis dan kedalaman hikmah
yang tetap relevan sepanjang zaman.
Tema : Adab Menolong Orang Lain, Menjaga Kehormatan Sahabat, dan
Sikap Bijak Menghadapi Fitnah
Terjemahan dan Makna
"Barang siapa engkau ingin
memenuhi kebutuhannya setelah ia memintanya kepadamu, atau engkau ingin memulai
membantu kebutuhannya sebelum ia meminta, maka janganlah engkau lakukan
untuknya kecuali apa yang ia inginkan, bukan apa yang engkau inginkan. Jika
tidak demikian, lebih baik engkau menahan diri. Sebab apabila engkau melampaui
batas ini, maka engkau telah berbuat buruk, bukan berbuat baik; layak dicela,
bukan dipuji; dan engkau sedang menumbuhkan permusuhan, bukan persahabatan.
Janganlah engkau menyampaikan kepada
sahabatmu sesuatu yang menyakitkan hatinya sementara ia tidak memperoleh
manfaat apa pun dari mengetahuinya. Itu adalah perbuatan orang-orang rendah.
Dan jangan pula engkau menyembunyikan darinya sesuatu yang akan membahayakannya
jika ia tidak mengetahuinya. Itu adalah perbuatan orang-orang jahat.
Janganlah engkau merasa senang
apabila dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu. Bahkan hendaknya hal
itu membuatmu sedih. Sebab pujian palsu itu sebenarnya menyingkap kekuranganmu
di hadapan manusia dan menjadi bahan ejekan terhadapmu. Tidak ada yang ridha
dengan keadaan seperti itu kecuali orang yang bodoh dan lemah akalnya.
Dan janganlah engkau bersedih
apabila dicela dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu. Bahkan bergembiralah,
karena itu berarti keutamaanmu sedang diperlihatkan kepada manusia.
Akan tetapi bergembiralah apabila
memang ada pada dirimu sifat yang layak dipuji, baik manusia memujinya maupun
tidak. Dan bersedihlah apabila ada pada dirimu sifat yang layak dicela, baik
manusia mengetahuinya maupun tidak.
Barang siapa mendengar seseorang
berbicara buruk tentang istri sahabatnya, maka janganlah ia segera menyampaikan
ucapan itu kepadanya, terlebih jika orang yang berbicara tersebut memang
dikenal suka mencela manusia dan buruk lisannya.
Secara umum, seseorang tidak boleh
menyampaikan kecuali apa yang benar. Jika ia mendengar kabar yang telah
tersebar luas dari banyak orang dan mengetahui bahwa asal kabar itu bukan
berasal dari satu orang saja, atau ia mengetahui kebenarannya, namun tidak
mampu menunjukkan bukti yang ia miliki kepada sahabatnya, maka hendaknya ia
memberi nasihat secara pribadi dengan lembut.
Ia dapat berkata: 'Berhati-hatilah
terhadap urusan tertentu, jagalah keluargamu, perbaikilah keadaan rumahmu, dan
waspadalah terhadap hal-hal tertentu.' Jika sahabat itu menerima nasihat dan
memperbaiki dirinya, maka itulah keuntungan baginya. Namun jika ia tidak
peduli, maka cukup sekali itu saja dinasihati dan jangan terus-menerus
mengulanginya.
Jika seseorang mengetahui kebenaran
suatu perkara dan mampu menunjukkan bukti yang jelas kepada sahabatnya, maka
wajib baginya menjelaskan kenyataan tersebut. Jika setelah itu sahabatnya tetap
tidak berubah, maka hendaknya ia menjauhi persahabatannya, karena tidak ada
kebaikan pada orang semacam itu.
Masuknya seorang laki-laki secara
sembunyi-sembunyi ke rumah seseorang merupakan tanda buruk yang tidak memerlukan
bukti tambahan. Demikian pula masuknya seorang wanita secara sembunyi-sembunyi
ke rumah laki-laki lain. Meminta bukti lebih jauh dalam keadaan seperti itu
adalah kebodohan. Wajib menjauhi perempuan yang melakukan perbuatan semacam itu
dan berpisah darinya dalam keadaan apa pun. Orang yang tetap mempertahankannya
tidak jauh dari sifat dayyuts."
Pengembangan
1.
Menolong Orang Sesuai Kebutuhannya, Bukan Sesuai Keinginan Kita
Salah satu kesalahan yang sering
terjadi adalah membantu orang lain berdasarkan apa yang kita anggap baik, bukan
berdasarkan apa yang benar-benar mereka butuhkan.
Banyak orang meminta solusi
sederhana, tetapi yang diberikan justru nasihat panjang. Ada yang membutuhkan
bantuan finansial, namun diberi ceramah. Ada yang membutuhkan dukungan
emosional, namun diberi kritik.
Dalam pandangan Ibnu Hazm, bantuan
yang benar adalah bantuan yang sesuai kebutuhan penerimanya.
Pelajaran
Penting
- Dengarkan sebelum membantu.
- Pahami kebutuhan sebelum bertindak.
- Jangan menjadikan bantuan sebagai sarana memaksakan
kehendak.
2.
Tidak Semua Informasi Harus Disampaikan
Di era media sosial, banyak orang
merasa wajib menyampaikan setiap informasi yang mereka dengar.
Padahal para ulama membedakan
antara:
Informasi
yang Tidak Bermanfaat
Jika hanya menimbulkan kesedihan
tanpa manfaat, lebih baik disembunyikan.
Informasi
yang Mencegah Bahaya
Jika seseorang akan dirugikan karena
ketidaktahuannya, maka wajib diperingatkan dengan cara yang baik.
Inilah keseimbangan antara menjaga
rahasia dan menjalankan amanah.
3.
Bahaya Menyukai Pujian Palsu
Banyak orang senang dipuji walaupun
pujian itu tidak sesuai kenyataan.
Padahal pujian palsu memiliki
beberapa bahaya:
- Menumbuhkan ujub.
- Membuat seseorang lalai memperbaiki diri.
- Menjadikannya hidup dalam khayalan.
Orang yang bijak lebih mencintai
kebenaran daripada sanjungan.
4.
Jangan Takut Dicela Secara Zalim
Jika seseorang mencela kita dengan
tuduhan yang tidak benar, sesungguhnya celaan itu tidak mengurangi nilai kita
sedikit pun.
Yang perlu diperhatikan adalah:
- Apakah celaan itu benar?
- Apakah ada kekurangan yang harus diperbaiki?
Jika tidak benar, maka celaan itu
kembali kepada pelakunya.
Karena itu para ulama tidak terlalu
sibuk membela citra diri, tetapi lebih sibuk memperbaiki hakikat diri.
5.
Cara Menasihati Sahabat Saat Mendengar Fitnah
Nasihat yang benar memiliki beberapa
syarat:
Rahasia
Jangan mempermalukan sahabat di
depan umum.
Lembut
Gunakan bahasa yang membuatnya mau
mendengar.
Berdasarkan
Fakta
Jangan bertindak berdasarkan gosip.
Bertujuan
Memperbaiki
Bukan untuk memuaskan rasa ingin
tahu atau menyebarkan sensasi.
Inilah perbedaan antara nasihat dan
namimah (adu domba).
6.
Menjaga Kehormatan Keluarga Adalah Kewajiban
Ibnu Hazm menekankan bahwa seorang
Muslim wajib menjaga kehormatan keluarganya.
Hal-hal yang mengarah pada
kecurigaan harus dihindari sejak awal.
Rasulullah ﷺ
juga mengajarkan agar seorang Muslim menjauhi perkara syubhat agar agama dan
kehormatannya tetap terjaga.
Karena itu, tindakan yang membuka
pintu fitnah hendaknya dihindari meskipun seseorang menganggap dirinya aman
dari godaan.
Hikmah dan Pelajaran
- Bantulah orang lain sesuai kebutuhannya.
- Tidak semua berita layak disebarkan.
- Pujian palsu lebih berbahaya daripada celaan yang tidak
benar.
- Nasihat harus bertujuan memperbaiki, bukan
mempermalukan.
- Menjaga kehormatan keluarga adalah bagian dari agama.
- Kebenaran lebih penting daripada citra diri.
- Persahabatan sejati dibangun di atas kejujuran dan
amanah.
Penutup
Nasihat Ibnu Hazm ini mengajarkan
bahwa akhlak yang luhur tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam cara
kita membantu orang lain, menjaga rahasia, menyikapi pujian dan celaan, serta
melindungi kehormatan sahabat dan keluarga.
Orang yang bijaksana tidak
menjadikan bantuan sebagai alat untuk menguasai orang lain, tidak menyebarkan
berita yang tidak bermanfaat, dan tidak mencari pujian manusia. Ia lebih
memilih kebenaran, amanah, dan ketenangan hati. Dengan akhlak seperti inilah
persahabatan menjadi kokoh, masyarakat menjadi tenteram, dan seseorang
memperoleh kemuliaan di sisi Allah Ta'ala. Wallahu A’lam.
Teks Asli:
من أردْت
قَضَاء حَاجته بعد أَن سَأَلَك إِيَّاهَا أَو أردْت ابتداءه بقضائها فَلَا تعْمل
لَهُ إِلَّا مَا يُرِيد هُوَ لَا مَا تُرِيدُ أَنْت وَإِلَّا فَأمْسك فَإِن تعديت
هَذَا كنت مسيئا لَا محسنا ومستحقا للوم مِنْهُ وَمن غَيره لَا للشكر ومقتضيا
للعداوة لَا للصداقة لَا تنقل إِلَى صديقك مَا يؤلم نَفسه وَلَا ينْتَفع بمعرفته
فَهَذَا فعل الأرذال وَلَا تكتمه مَا يستضر بجهله فَهَذَا فعل أهل الشَّرّ وَلَا
يَسُرك أَن تمدح بِمَا لَيْسَ فِيك بل ليعظم غمك بذلك لِأَنَّهُ نقصك يُنَبه
النَّاس عَلَيْهِ وَيسْمعهُمْ إِيَّاه وسخرية مِنْك وهزؤ بك وَلَا يرضى بِهَذَا
إِلَّا أَحمَق ضَعِيف الْعقل وَلَا تأس إِن ذممت بِمَا لَيْسَ فِيك بل افرح بِهِ
فَإِنَّهُ فضلك يُنَبه النَّاس عَلَيْهِ وَلَكِن افرح إِذا كَانَ فِيك مَا
تسْتَحقّ بِهِ الْمَدْح وَسَوَاء مدحت بِهِ أَو لم تمدح واحزن إِذا كَانَ فِيك مَا
تسْتَحقّ بِهِ الذَّم وَسَوَاء ذممت بِهِ أَو لم تذم من سمع قَائِلا يَقُول فِي
امْرَأَة صديقه قَول سوء فَلَا يُخبرهُ بذلك أصلا لَا سِيمَا إِذا كَانَ الْقَائِل
عيابة وقاعا فِي النَّاس سليط اللِّسَان أَو دَافع معرة عَن نَفسه يُرِيد أَن يكثر
أَمْثَاله فِي النَّاس وَهَذَا كثير مَوْجُود وَبِالْجُمْلَةِ فَلَا يحدث
الْإِنْسَان إِلَّا بِالْحَقِّ وَقَول هَذَا الْقَائِل لَا يدرى أَحَق هُوَ أم
بَاطِل إِلَّا أَنه فِي الدّيانَة عَظِيم فَإِن سمع القَوْل مستفيضا من جمَاعَة
وَعلم أَن أصل ذَلِك القَوْل شَائِع وَلَيْسَ رَاجعا إِلَى قَول إِنْسَان وَاحِد
أَو اطلع على حَقِيقَته إِلَّا أَنه لَا يقدر أَن يُوقف صديقه على مَا وقف هُوَ
عَلَيْهِ فليخبره بذلك بَينه وَبَينه فِي رفق وَليقل لَهُ النِّسَاء كثير أَو حصن
مَنْزِلك وثقف أهلك أَو اجْتنب أمرا كَذَا وَتحفظ من وَجه كَذَا فَإِن قبل المنصوح
وتحرز فحظ نَفسه أصَاب وَإِن رَآهُ لَا يتحفظ وَلَا يُبَالِي أمسك وَلم يعاوده
بِكَلِمَة وَتَمَادَى على صداقته إِيَّاه فَلَيْسَ فِي أَن لَا يصدقهُ فِي قَوْله
مَا يُوجب قطيعته فَإِن اطلع على حَقِيقَة وَقدر أَن يُوقف صديقه على مثل مَا وقف
عَلَيْهِ هُوَ من الْحَقِيقَة فَفرض عَلَيْهِ أَن يُخبرهُ بذلك وَأَن يوقفه على
الجلية فَإِن غير فَذَلِك وَإِن رَآهُ لَا يُغير اجْتنب صحبته فَإِنَّهُ رذل لَا
خير فِيهِ وَلَا نقية وَدخُول رجل متستر فِي منزل الْمَرْء دَلِيل سوء لَا يحْتَاج
إِلَى غَيره وَدخُول الْمَرْأَة فِي منزل رجل على سَبِيل التستر مثل ذَلِك أَيْضا
وَطلب دَلِيل أَكثر من هذَيْن سخف وواجب أَن يجْتَنب مثل هَذِه الْمَرْأَة وفراقها
على كل حَال وممسكها لَا يبعد عَن الدياثة
Baca juga:
Hakikat Persahabatan Sejati Menurut Ibnu Hazm: JanganMenuntut Sahabat Melebihi Pengorbananmu
Persahabatan Sejati, Bahaya Cinta Pujian, dan BatasNasihat Menurut Ibnu Hazm
7 Tipe Manusia dalam Memuji dan Mencela Orang Lain
Menurut Ibnu Hazm


0 Komentar