Atsar Ulama tentang Bahaya Mendatangi Penguasa Zalim: Nasihat Hudzifah, Abu Dzar, Ibnu Mas‘ud, dan Para Ulama

Imam Al-Ghazali mengutip atsar tentang bahaya mendatangi penguasa zalim dan dampaknya terhadap agama, keikhlasan, serta independensi ulama

Pendahuluan

Setelah mengemukakan sejumlah hadis tentang bahaya berhubungan dengan penguasa zalim, Imam Al-Ghazali melanjutkan dengan menyebutkan berbagai atsar para sahabat, tabi‘in, dan ulama terdahulu.

Atsar-atsar tersebut memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kehati-hatian para ulama terhadap pintu kekuasaan.

Mereka tidak hanya takut terhadap harta yang berasal dari penguasa, tetapi juga khawatir terhadap pengaruh kekuasaan terhadap hati dan agama seseorang.

Di antara nasihat yang dikutip terdapat perkataan Hudzifah, Abu Dzar, Ibnu Mas‘ud, Umar bin Abdul Aziz, Al-Fudhail bin ‘Iyadh, Sa‘id bin Al-Musayyab, Al-Auza‘i, Sufyan, dan sejumlah ulama lainnya.

Benang merah dari seluruh nasihat tersebut adalah bahwa kedekatan dengan penguasa dapat menjadi ujian berat, terutama jika kedekatan itu dilakukan untuk memperoleh keuntungan duniawi, mendapatkan kedudukan, atau menyenangkan penguasa dengan mengorbankan kebenaran.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم

Pembahasan: Atsar para sahabat, tabi‘in, dan ulama tentang bahaya mendatangi penguasa dan memasuki lingkungan kekuasaan.

Penulis

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi
Wafat: 505 H

Teks Arab

وأما الآثار فقد قال حذيفة
إياكم ومواقف الفتن قيل وما هي قال أبواب الأمراء يدخل أحدكم على الأمير فيصدقه
بالكذب ويقول ما ليس فيه

وقال أبو ذر لسلمة يا سلمة لا
تغش أبواب السلاطين فإنك لا تصيب من دنياهم شيئاً إلا أصابوا من دينك أفضل منه

وقال سفيان في جهنم واد لا يسكنه إلا القراء الزوارون للملوك

وقال الأوزاعي ما من شيء أبغض
إلى الله من عالم يزور عاملاً

وقال سمنون ما أسمج بالعالم
أن يؤتى إلى مجلسه فلا يوجد فيسأل عنه فيقال عند الأمير

وكنت أسمع أنه يقال إذا رأيتم
العالم يحب الدنيا فاتهموه على دينكم حتى جربت ذلك إذ ما دخلت قط على هذا السلطان
إلا وحاسبت نفسي بعد الخروج فأرى عليها الدرك مع ما أواجههم به من الغلظة
والمخالفة لهواهم

وقال عبادة بن الصامت حب
القاريء الناسك الأمراء نفاق وحبه الأغنياء رياء

وقال أبو ذر من كثر سواد قوم
فهو منهم أي من كثر سواد الظلمة

وقال ابن مسعود رضي الله عنه
إن الرجل ليدخل على السلطان ومعه دينه فيخرج ولا دين له قيل له ولم قال لأنه يرضيه
بسخط الله

واستعمل عمر بن عبد العزيز
رجلاً فقيل كان عاملاً للحجاج فعزله فقال الرجل إنما عملت له شيء يسير فقال له عمر
حسبك بصحبته يوماً أو بعض يوم شؤماً وشراً

وقال الفضيل ما ازداد رجل من
ذي سلطان قرباً إلا ازداد من الله بعداً

وكان سعيد بن المسيب يتجر في
الزيت ويقول إن في هذا لغنى عن هؤلاء السلاطين وقال وهيب هؤلاء الذين يدخلون على
الملوك لهم أضر على الأمة من المقامرين

وقال محمد بن سلمة الذباب على
العذرة أحسن من قارئ على باب هؤلاء

Terjemahan Lengkap

Adapun berbagai atsar, maka Hudzifah berkata:

“Waspadalah terhadap tempat-tempat fitnah.”

Beliau ditanya, “Apa yang dimaksud dengan tempat-tempat fitnah itu?”

Ia menjawab:

“Pintu-pintu para penguasa. Salah seorang di antara kalian masuk menemui penguasa, lalu membenarkan kebohongannya dan mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya.”

Abu Dzar berkata kepada Salamah:

“Wahai Salamah, janganlah engkau mendatangi pintu-pintu para penguasa. Sebab, engkau tidak akan memperoleh sesuatu dari dunia mereka kecuali mereka mengambil dari agamamu sesuatu yang lebih besar daripadanya.”

Sufyan berkata:

“Di dalam Jahanam terdapat sebuah lembah yang tidak dihuni kecuali oleh para pembaca Al-Qur’an yang gemar mengunjungi para raja.”

Al-Auza‘i berkata:

“Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah daripada seorang alim yang mengunjungi seorang pejabat.”

Samnun berkata:

“Betapa buruknya seorang alim apabila orang-orang datang ke majelisnya tetapi tidak menemukannya, kemudian ketika ditanyakan keberadaannya dikatakan: ‘Ia sedang berada di tempat penguasa.’”

Ia berkata:

“Aku dahulu mendengar perkataan: ‘Apabila kalian melihat seorang alim mencintai dunia, maka curigailah agamanya.’

Kemudian aku mengalami sendiri hal itu. Tidak pernah aku masuk menemui penguasa ini kecuali setelah keluar aku melakukan introspeksi terhadap diriku. Aku melihat ada sesuatu yang tercela pada diriku, meskipun ketika berhadapan dengan mereka aku bersikap keras dan menyelisihi keinginan mereka.”

‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata:

“Kecintaan seorang pembaca Al-Qur’an yang ahli ibadah kepada para penguasa adalah kemunafikan, sedangkan kecintaannya kepada orang-orang kaya adalah riya.”

Abu Dzar berkata:

“Barang siapa memperbanyak jumlah suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Maksudnya, barang siapa memperbanyak jumlah atau kerumunan orang-orang zalim, maka ia termasuk dalam kelompok mereka.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Seseorang masuk menemui penguasa dengan membawa agamanya, tetapi ia keluar tanpa membawa agamanya.”

Beliau ditanya, “Mengapa demikian?”

Ia menjawab:

“Karena ia membuat penguasa senang dengan sesuatu yang menyebabkan Allah murka.”

Umar bin Abdul Aziz pernah mengangkat seseorang menjadi pejabat.

Kemudian dikatakan kepadanya bahwa orang tersebut sebelumnya pernah menjadi pejabat Al-Hajjaj.

Maka Umar memberhentikannya.

Orang tersebut berkata:

“Sesungguhnya aku hanya bekerja untuknya dalam waktu yang singkat.”

Umar menjawab:

“Cukuplah bagimu pernah bersamanya selama sehari atau sebagian dari sehari sebagai suatu kesialan dan keburukan.”

Al-Fudhail berkata:

“Tidaklah seseorang semakin dekat kepada pemilik kekuasaan kecuali ia semakin jauh dari Allah.”

Sa‘id bin Al-Musayyab dahulu berdagang minyak.

Ia berkata:

“Dalam pekerjaan ini terdapat kecukupan bagiku sehingga aku tidak membutuhkan para penguasa tersebut.”

Wuhaib berkata:

“Orang-orang yang mendatangi para raja lebih berbahaya bagi umat daripada para penjudi.”

Muhammad bin Salamah berkata:

“Lalat yang hinggap di kotoran lebih baik daripada seorang pembaca Al-Qur’an yang berada di pintu para penguasa seperti mereka.”

Artikel Pengembangan

1. Pintu penguasa sebagai “tempat fitnah”

Hudzifah menggunakan istilah:

مواقف الفتن

“Tempat-tempat fitnah.”

Ketika ditanya maksudnya, ia menunjuk kepada pintu-pintu para penguasa.

Maksudnya bukan bahwa setiap pintu pemerintahan secara otomatis merupakan tempat fitnah. Peringatan tersebut berkaitan dengan bahaya yang dapat muncul ketika seseorang masuk ke lingkungan kekuasaan dan kehilangan prinsipnya.

Fitnah yang dimaksud dapat berupa:

  • membenarkan kebohongan;
  • menyembunyikan kesalahan;
  • memuji secara berlebihan;
  • menerima keuntungan;
  • atau mengikuti keinginan penguasa yang bertentangan dengan kebenaran.

2. Abu Dzar: keuntungan dunia dapat mengorbankan agama

Nasihat Abu Dzar kepada Salamah sangat tajam:

فإنك لا تصيب من دنياهم شيئاً إلا أصابوا من دينك أفضل منه

“Engkau tidak memperoleh sesuatu dari dunia mereka kecuali mereka mengambil dari agamamu sesuatu yang lebih besar daripadanya.”

Ini merupakan gambaran tentang pertukaran yang merugikan.

Seseorang mungkin memperoleh:

  • uang;
  • jabatan;
  • fasilitas;
  • penghormatan;
  • atau kedekatan dengan kekuasaan.

Tetapi harga yang harus dibayar bisa berupa:

  • kebebasan berbicara;
  • keteguhan prinsip;
  • keberanian menyampaikan kebenaran;
  • dan ketenangan hati.

3. Bahaya ulama yang bergantung kepada penguasa

Beberapa atsar secara khusus berbicara tentang ulama.

Al-Auza‘i menyebut bahwa tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah daripada seorang alim yang mengunjungi pejabat.

Samnun bahkan menganggap buruk keadaan seorang alim yang seharusnya berada di majelis ilmu, tetapi ketika dicari ternyata ia berada di tempat penguasa.

Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam agama, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga independensi moral.

4. Cinta dunia dapat memengaruhi ilmu

Perkataan:

إذا رأيتم العالم يحب الدنيا فاتهموه على دينكم

mengandung peringatan agar masyarakat berhati-hati terhadap seorang ahli ilmu yang terlalu mencintai dunia.

Bukan berarti setiap orang berilmu yang mempunyai harta otomatis buruk.

Yang menjadi perhatian adalah ketika kecintaan kepada dunia mengalahkan komitmen terhadap kebenaran.

Jika seorang ulama mulai membutuhkan penguasa untuk mempertahankan kehidupan mewah, jabatan, atau popularitas, maka ada risiko ilmu tidak lagi disampaikan secara bebas.

5. Introspeksi setelah bertemu penguasa

Bagian yang menarik adalah pengalaman seorang ulama yang mengaku bahwa setelah bertemu penguasa, ia selalu melakukan muhasabah.

Meskipun ia bersikap keras dan menyelisihi keinginan penguasa, ia tetap merasa perlu memeriksa dirinya.

Ini menunjukkan bahwa bahaya hubungan dengan kekuasaan bukan hanya:

“Apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?”

tetapi juga:

“Apakah hati saya berubah karena pertemuan itu?”

Seseorang mungkin secara lahiriah tetap berani mengkritik, tetapi dalam batinnya mulai menyukai kedudukan, pujian, atau keuntungan yang diperoleh dari hubungan tersebut.

6. Membuat penguasa senang dengan kemurkaan Allah

Ibnu Mas‘ud memberikan ukuran yang sangat jelas:

لأنه يرضيه بسخط الله

“Karena ia membuatnya senang dengan sesuatu yang menyebabkan Allah murka.”

Ini merupakan inti persoalan.

Jika menyenangkan penguasa dapat dilakukan melalui perkara yang dibenarkan syariat, persoalannya berbeda.

Tetapi jika seseorang harus mengorbankan kebenaran demi menyenangkan penguasa, maka hubungan tersebut telah menjadi berbahaya.

7. Memperbanyak kerumunan orang zalim

Abu Dzar berkata:

من كثر سواد قوم فهو منهم

Dalam konteks yang dibawakan Al-Ghazali, seseorang yang sengaja memperbanyak kerumunan atau dukungan bagi kelompok zalim diperingatkan agar tidak menganggap dirinya sepenuhnya terpisah dari mereka.

Prinsip ini berkaitan dengan dukungan sosial terhadap kebatilan.

Seseorang tidak harus menjadi pelaku utama suatu kezaliman untuk memberikan kontribusi terhadap keberlangsungannya.

8. Umar bin Abdul Aziz dan pejabat bekas Al-Hajjaj

Kisah Umar bin Abdul Aziz menunjukkan betapa seriusnya beliau memandang pengalaman seseorang dalam lingkungan pemerintahan yang zalim.

Ketika diberitahu bahwa seorang yang hendak diangkat menjadi pejabat pernah menjadi pekerja Al-Hajjaj, ia memberhentikannya.

Ketika orang itu meremehkan masa kerjanya yang singkat, Umar menjawab bahwa bahkan kebersamaan selama sehari atau sebagian hari sudah cukup menjadi sesuatu yang buruk.

Kisah ini menggambarkan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi terhadap orang yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan zalim.

9. Sa‘id bin Al-Musayyab memilih berdagang

Sa‘id bin Al-Musayyab berdagang minyak dan mengatakan bahwa pekerjaan tersebut memberikan kecukupan baginya sehingga ia tidak membutuhkan para penguasa.

Ini mengandung pelajaran ekonomi yang menarik:

kemandirian finansial dapat menjadi salah satu sarana menjaga kebebasan agama.

Seseorang yang memiliki sumber penghasilan halal sendiri tidak mudah dipaksa untuk memuji atau melayani penguasa demi memenuhi kebutuhan hidup.

10. Mengapa orang yang mendatangi raja disebut lebih berbahaya daripada penjudi?

Wuhaib menggunakan perbandingan yang sangat keras:

هؤلاء الذين يدخلون على الملوك لهم أضر على الأمة من المقامرين

“Orang-orang yang mendatangi para raja lebih berbahaya bagi umat daripada para penjudi.”

Maksudnya adalah bahwa kerusakan dari perjudian pada dasarnya terutama menimpa pelakunya dan lingkungan yang terlibat.

Sedangkan seorang yang menjadikan dirinya dekat dengan kekuasaan yang zalim dapat memengaruhi masyarakat yang lebih luas, terutama jika ia menggunakan ilmu, kedudukan, atau pengaruhnya untuk membenarkan kebijakan yang salah.

11. Kritik keras terhadap ulama yang berada di pintu penguasa

Perkataan Muhammad bin Salamah:

الذباب على العذرة أحسن من قارئ على باب هؤلاء

merupakan ungkapan kecaman yang sangat keras.

Tujuannya adalah menunjukkan betapa tercelanya seseorang yang membawa identitas agama dan bacaan Al-Qur’an tetapi menjadikan pintu penguasa zalim sebagai tempat mencari keuntungan dunia.

Ini bukan penghinaan terhadap ilmu atau Al-Qur’an, melainkan kritik terhadap penyalahgunaan kedudukan agama untuk mendekati kekuasaan.

12. Inti semua atsar

Jika seluruh atsar tersebut dirangkum, terdapat beberapa prinsip utama:

Pertama: jauhi kedekatan dengan penguasa zalim jika tidak ada kebutuhan.

Kedua: jangan membenarkan kebohongan demi menyenangkan penguasa.

Ketiga: jangan membantu kezaliman.

Keempat: jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk memperoleh keuntungan dari kekuasaan.

Kelima: jaga kemandirian finansial dan moral.

Keenam: selalu melakukan muhasabah setelah berhubungan dengan kekuasaan.

Contoh

Contoh 1: Ulama yang mencari akses kepada penguasa

Seorang ulama sengaja berusaha mendapatkan undangan dari penguasa agar memperoleh hadiah dan kedudukan.

Lama-kelamaan ia mulai memberikan pujian yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam kerangka nasihat para ulama yang dikutip Al-Ghazali, keadaan ini sangat berbahaya karena hubungan duniawi mulai memengaruhi sikap keagamaan.

Contoh 2: Membenarkan kesalahan

Seorang pejabat mengambil keputusan yang jelas merugikan masyarakat.

Seorang tokoh mengetahui kesalahan tersebut, tetapi menyebutnya sebagai kebijakan yang benar agar tetap disukai pejabat.

Ini sesuai dengan bahaya yang diperingatkan Ibnu Mas‘ud: menyenangkan penguasa dengan sesuatu yang menyebabkan Allah murka.

Contoh 3: Mempertahankan kemandirian ekonomi

Seorang guru agama memiliki pekerjaan halal yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Ia tidak bergantung kepada hadiah penguasa.

Dengan demikian, ketika penguasa melakukan kesalahan, ia lebih bebas menyampaikan nasihat tanpa takut kehilangan sumber penghasilan.

Contoh 4: Datang untuk menyampaikan hak masyarakat

Seorang tokoh masyarakat mendatangi pejabat untuk menyampaikan keluhan orang-orang yang dizalimi.

Ia tidak meminta hadiah, tidak memuji secara berlebihan, dan tidak membenarkan kesalahan.

Keadaan ini harus dibedakan dari orang yang mendatangi penguasa semata-mata untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Contoh 5: Muhasabah setelah pertemuan

Seseorang terpaksa bertemu dengan pejabat untuk urusan masyarakat.

Setelah pertemuan, ia mengevaluasi dirinya:

  • Apakah saya memuji secara berlebihan?
  • Apakah saya menyembunyikan kebenaran?
  • Apakah saya berharap hadiah?
  • Apakah saya takut menyampaikan fakta?
  • Apakah hati saya mulai menyukai kedekatan dengan kekuasaan?

Sikap seperti ini sejalan dengan semangat muhasabah yang ditekankan dalam atsar yang dikutip Al-Ghazali.

Penutup

Atsar-atsar yang dikumpulkan Imam Al-Ghazali dalam bagian ini memperlihatkan tingginya kewaspadaan ulama terdahulu terhadap hubungan dengan penguasa zalim.

Mereka khawatir bukan hanya kehilangan harta atau kedudukan, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kebebasan agama dan kejernihan hati.

Hudzifah memperingatkan pintu penguasa sebagai tempat fitnah. Abu Dzar mengingatkan bahwa keuntungan dunia dari penguasa dapat dibayar dengan kerugian yang lebih besar dalam agama. Ibnu Mas‘ud memperingatkan orang yang menyenangkan penguasa dengan sesuatu yang membuat Allah murka. Sa‘id bin Al-Musayyab bahkan memilih berdagang agar tidak membutuhkan para penguasa.

Dari keseluruhan pembahasan dapat dirumuskan satu prinsip:

Bahaya terbesar kedekatan dengan kekuasaan bukan sekadar menerima sesuatu dari penguasa, tetapi ketika kedekatan tersebut membuat seseorang mengorbankan kebenaran demi kepentingan dunia.

Karena itu, seorang ahli ilmu perlu menjaga independensi, keberanian menyampaikan kebenaran, kemandirian finansial, dan kebersihan niat.

Pada saat yang sama, pembahasan ini perlu dipahami dalam konteks keseluruhan bab: tidak setiap pertemuan dengan penguasa otomatis haram. Al-Ghazali sendiri akan membedakan antara pertemuan yang haram, makruh, dan yang dibolehkan. Ukurannya antara lain tujuan pertemuan, tindakan yang dilakukan, sumber manfaat yang diperoleh, serta dampaknya terhadap agama dan masyarakat.

Dengan demikian, pesan utama atsar-atsar ini bukan sekadar “jangan bertemu penguasa”, tetapi lebih dalam: jangan sampai kedekatan dengan kekuasaan menjadikan seseorang menjual agamanya demi dunia.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Hadits tentang Bahaya Mendatangi Penguasa Zalim: Peringatan Rasulullah ﷺ dan Kedudukan Ulama Menurut Imam Al-Ghazali

Hukum Bergaul denganPenguasa Zalim: Larangan Mendatangi Majelis Mereka dan Tiga Kondisi MenurutImam Al-Ghazali

Nasihat kepada Imam Az-Zuhri tentang Bahaya Kedekatan dengan Penguasa Zalim dan Fitnah Kekuasaan

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Al-Muhakkimah Al-Ula: Awal Munculnya Khawarij dan Sejarah Kelompok Haruriyah Menurut At-Tabshir fi ad-Din

Pendahuluan Setelah menjelaskan pokok-pokok keyakinan Khawarij, penulis At-Tabshir fi ad-Din mulai menguraikan satu per satu cabang kel...