Pendahuluan
Persahabatan merupakan salah satu
nikmat terbesar dalam kehidupan manusia. Namun banyak hubungan yang rusak bukan
karena kurangnya kasih sayang, melainkan karena harapan yang berlebihan.
Seseorang sering menuntut sahabatnya memberikan perhatian, bantuan, dan
pengorbanan yang tidak pernah ia berikan kepada sahabat tersebut.
Dalam kitab Al-Akhlaq wa As-Siyar
fi Mudawat an-Nufus, Ibnu Hazm memberikan kaidah yang sangat mendalam
tentang persahabatan, keadilan dalam hubungan sosial, serta batas antara
kemurahan hati dan kelemahan diri. Beliau mengajarkan bahwa persahabatan yang
sehat dibangun di atas keseimbangan, kejujuran, dan sikap mendahulukan
kepentingan sahabat ketika keadaan menuntutnya.
Sumber Nasihat
Kitab: Al-Akhlaq
wa As-Siyar fi Mudawat an-Nufus.
Penulis: Ibnu Hazm Al-Andalusi
(384–456 H), seorang ulama besar dari Andalusia yang terkenal dalam bidang
fikih, hadis, akhlak, sejarah, dan sastra Islam. Nama lengkap beliau adalah Abu
Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm.
Tema : Keadilan
dalam Persahabatan dan Kewajiban Saling Mengutamakan Sahabat dalam Keadaan
Membutuhkan
Terjemahan dan Makna
"Janganlah engkau membebani
sahabatmu kecuali sebesar apa yang engkau sendiri berikan kepadanya. Jika engkau
menuntut lebih dari itu, maka engkau adalah orang yang zalim.
Janganlah engkau memperoleh
keuntungan kecuali dengan mengingat kemungkinan kehilangan, dan janganlah
engkau menerima jabatan kecuali dengan mengingat kemungkinan diberhentikan.
Jika tidak demikian, maka engkau sedang mencelakakan dirimu sendiri dan
menunjukkan akhlak yang buruk.
Bersikap lunak terhadap orang-orang
yang selalu ingin menang sendiri dan mencari keuntungan pribadi, serta
berpura-pura tidak melihat perbuatan mereka, bukanlah muruah (kemuliaan akhlak)
dan bukan pula keutamaan. Bahkan itu adalah kehinaan, kelemahan, dan dorongan
bagi mereka untuk terus menerus melakukan akhlak yang tercela. Sikap itu juga
berarti meridhai dan membantu mereka dalam keburukan tersebut.
Sesungguhnya sikap toleran dan
memaafkan itu merupakan kemuliaan apabila diberikan kepada orang-orang yang
adil, yang segera berbuat adil dan mengutamakan orang lain. Terhadap mereka
inilah orang-orang mulia wajib membalas dengan perlakuan yang sama, terlebih
apabila kebutuhan mereka lebih mendesak dan keadaan mereka lebih sulit.
Jika ada yang berkata: 'Bukankah
perkataanmu ini menghapus sikap toleransi dan saling memaafkan di antara
sahabat, sehingga sahabat dan musuh menjadi sama dalam perlakuan?'
Maka kami menjawab, dengan
pertolongan Allah: sesungguhnya perkataan kami ini justru mendorong kepada
toleransi, pengabaian kesalahan, dan sikap mengutamakan orang lain. Namun hal
itu diberikan kepada sahabat yang memang berhak mendapatkannya.
Apabila engkau ingin mengetahui
jalan yang benar dalam masalah ini, maka setiap keadaan yang mengharuskan
seseorang mengutamakan sahabatnya hendaknya dipertimbangkan dengan baik. Siapa
di antara keduanya yang lebih membutuhkan dan lebih mendesak keadaannya, maka
hukum persahabatan dan kemuliaan akhlak mengharuskan pihak yang lain untuk
mengutamakannya daripada dirinya sendiri.
Jika ia tidak melakukannya, maka ia
hanyalah pencari keuntungan dan bukan sahabat sejati, sehingga tidak layak
diperlakukan sebagai sahabat.
Adapun apabila kebutuhan keduanya
sama dan keadaan mereka setara, maka hak persahabatan menuntut agar
masing-masing berlomba untuk mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri.
Jika keduanya melakukan hal itu,
maka mereka adalah dua sahabat sejati.
Jika salah satu selalu mendahulukan
sahabatnya tetapi yang lain tidak pernah melakukan hal yang sama, dan itu
menjadi kebiasaannya, maka orang tersebut bukanlah sahabat sejati dan tidak
layak diperlakukan sebagaimana sahabat.
Namun apabila dalam kesempatan lain
ia juga melakukan pengorbanan yang sama, maka keduanya tetap merupakan sahabat
sejati."
Pengembangan
Jangan Menuntut Sahabat Melebihi Apa yang Kita Berikan
Kalimat pertama Ibnu Hazm merupakan
salah satu kaidah emas dalam persahabatan.
Banyak hubungan rusak karena
seseorang selalu menghitung apa yang diberikan orang lain kepadanya, tetapi
lupa menghitung apa yang telah ia berikan kepada orang lain.
Ia ingin dihubungi setiap hari,
tetapi jarang menghubungi.
Ia ingin dibantu saat susah, tetapi
tidak hadir ketika sahabatnya membutuhkan.
Ia ingin dihargai, tetapi tidak
menghargai.
Menurut Ibnu Hazm, sikap seperti ini
adalah bentuk kezaliman.
Persahabatan bukanlah jalan untuk
menuntut, melainkan jalan untuk saling memberi.
Tidak Semua Orang Layak Diberi Toleransi Tanpa Batas
Salah satu pembahasan yang menarik
dalam nasihat ini adalah perbedaan antara memaafkan dan membiarkan keburukan.
Banyak orang mengira bahwa akhlak
mulia berarti selalu mengalah, selalu diam, dan selalu memaklumi perilaku buruk
orang lain.
Ibnu Hazm menolak anggapan tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa membiarkan
orang yang terus-menerus mengambil keuntungan, memanfaatkan kebaikan orang
lain, dan tidak pernah berlaku adil justru menjadi dukungan terhadap keburukan
mereka.
Sikap memaafkan menjadi keutamaan
apabila diberikan kepada orang-orang yang juga memiliki jiwa adil dan tahu
berterima kasih.
Ukuran Persahabatan Adalah Pengorbanan
Menurut Ibnu Hazm, ujian terbesar
persahabatan muncul ketika dua sahabat menghadapi kebutuhan yang berbeda.
Ketika salah satu lebih membutuhkan,
maka yang lain seharusnya mendahulukannya.
Inilah makna nyata dari
persahabatan.
Persahabatan bukan sekadar
berbincang, bercanda, atau berkumpul. Persahabatan sejati tampak ketika salah
satu pihak rela mengalah demi kebahagiaan sahabatnya.
Ketika Kebutuhan Sama, Berlombalah dalam Kebaikan
Bagaimana jika kedua sahabat
sama-sama membutuhkan?
Ibnu Hazm memberikan jawaban yang
sangat indah.
Masing-masing hendaknya berusaha
mengutamakan saudaranya.
Bukan berebut mendapatkan
keuntungan, tetapi berebut memberikan keuntungan.
Inilah bentuk tertinggi dari ukhuwah
dan kasih sayang.
Sikap seperti ini mengingatkan kita
kepada para sahabat Nabi ﷺ yang rela
mendahulukan saudaranya meskipun mereka sendiri membutuhkan.
Waspadai Persahabatan Sepihak
Ada persahabatan yang tampak akrab,
tetapi sebenarnya hanya berjalan satu arah.
Satu pihak selalu memberi.
Satu pihak selalu berkorban.
Satu pihak selalu membantu.
Sementara pihak lainnya hanya
menerima.
Menurut Ibnu Hazm, apabila hal itu
menjadi kebiasaan dan tidak pernah ada timbal balik, maka hubungan tersebut
tidak lagi layak disebut persahabatan sejati.
Persahabatan yang sehat dibangun di
atas saling memberi, bukan saling memanfaatkan.
Hikmah
- Jangan menuntut sahabat lebih dari apa yang kita
berikan kepadanya.
- Persahabatan yang sehat dibangun di atas keadilan dan
keseimbangan.
- Mengalah bukan berarti membiarkan orang lain terus
berbuat zalim.
- Toleransi diberikan kepada orang yang menghargai
kebaikan.
- Sahabat sejati rela mendahulukan kebutuhan sahabatnya.
- Pengorbanan adalah ukuran penting dalam persahabatan.
- Persahabatan sepihak tidak akan bertahan lama.
- Berlomba mengutamakan sahabat adalah puncak kemuliaan
ukhuwah.
- Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan.
- Persahabatan karena Allah selalu melahirkan sikap
saling mengutamakan.
Penutup
Ibnu Hazm mengajarkan bahwa
persahabatan bukanlah hubungan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan
medan latihan bagi keadilan, pengorbanan, dan kemuliaan akhlak. Sahabat sejati
bukan orang yang selalu menerima, tetapi orang yang siap memberi ketika
dibutuhkan dan rela mendahulukan saudaranya ketika keadaan mengharuskannya.
Karena itu, sebelum menuntut
kesetiaan dari sahabat, hendaknya seseorang terlebih dahulu bertanya kepada
dirinya sendiri: sudahkah ia memberikan kesetiaan yang sama? Sebab persahabatan
yang kokoh tidak dibangun oleh tuntutan, melainkan oleh pengorbanan yang lahir
dari hati yang tulus. Wallahu A’lam.
Teks Asli:
لَا تكلّف
صديقك إِلَّا مثل مَا تبذل لَهُ من نَفسك فَإِن طلبت أَكثر فَأَنت ظَالِم وَلَا
تكسب إِلَّا على شَرط الْفَقْد وَلَا تتول إِلَّا على شَرط الْعَزْل وَإِلَّا
فَأَنت مُضر بِنَفْسِك خَبِيث السِّيرَة مُسَامَحَة أهل الاستئثار والاستغنام
والتغافل لَهُم لَيْسَ مُرُوءَة وَلَا فَضِيلَة بل هُوَ مهانة وَضعف وتضرية لَهُم
على التَّمَادِي على ذَلِك الْخلق المذموم وتغبيط لَهُم بِهِ وَعون لَهُم على
ذَلِك الْفِعْل السوء وَإِنَّمَا تكون الْمُسَامحَة مُرُوءَة لأهل الْإِنْصَاف
المبادرين إِلَى الْإِنْصَاف والإيثار فَهَؤُلَاءِ فرض على أهل الْفضل أَن
يعاملوهم بِمثل ذَلِك لَا سِيمَا إِن كَانَت حَاجتهم أمس وضرورتهم أَشد فَإِن
قَالَ قَائِل فَإِذا كَانَ كلامك هَذَا مُوجبا لإِسْقَاط الْمُسَامحَة والتغافل
للإخوان فِيهِ اسْتَوَى الصّديق والعدو والأجبني فِي الْمُعَامَلَة فَهَذَا فَسَاد
ظَاهر فَنَقُول وَبِاللَّهِ التَّوْفِيق كلَاما لَا يحض إِلَّا على الْمُسَامحَة
والتغافل والإيثار لَيْسَ لأهل التغنم لَكِن للصديق حَقًا فَإِن أردْت معرفَة وَجه
الْعَمَل فِي هَذَا وَالْوُقُوف على نهج الْحق فَإِن الْقِصَّة الَّتِي توجب
الأثرة من الْمَرْء على نَفسه صديقه يَنْبَغِي لكل وَاحِد من الصديقين أَن
يتَأَمَّل ذَلِك الْأَمر فَأَيّهمَا كَانَ أمس حَاجَة فِيهِ وَأظْهر ضَرُورَة
لَدَيْهِ فَحكم الصداقة والمروءة تَقْتَضِي للْآخر وتوجب عَلَيْهِ أَن يُؤثر على
نَفسه فِي ذَلِك فَإِن لم يفعل فَهُوَ متغنم مستكثر لَا يَنْبَغِي أَن يسامح
أَلْبَتَّة إِذْ لَيْسَ صديقا وَلَا أَخا فَأَما إِذا اسْتَوَت حاجتهما واتفقت
ضرورتهما فَحق الصداقة هَا هُنَا أَن يُسَارع كل وَاحِد مِنْهُمَا إِلَى الأثرة
على نَفسه فَإِن فعلا ذَلِك فهما صديقان وَإِن بدر أَحدهمَا إِلَى ذَلِك وَلم
يُبَادر الآخر إِلَيْهِ فَإِن كَانَت عَادَته هَذِه فَلَيْسَ صديقا وَلَا
يَنْبَغِي أَن يُعَامل مُعَاملَة الصداقة وَإِن كَانَ قد يُبَادر هُوَ أَيْضا
إِلَى مثل ذَلِك فِي قصَّة أُخْرَى فهما صديقان
Baca juga:
Kesetiaan Setelah Kematian: Tingkatan Wafa’ Tertinggi dalam PandanganIbnu Hazm
Adab Menolong, Menjaga Rahasia, dan Menyikapi FitnahMenurut Ulama Salaf


0 Komentar