Pendahuluan
Salah satu peristiwa penting dalam
sejarah Khawarij adalah dialog yang berlangsung antara Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan para pengikut Khawarij sebelum
terjadinya Perang Nahrawan. Dalam dialog tersebut, Ali berusaha menjelaskan
alasan berbagai kebijakan yang diambilnya, termasuk mengenai harta rampasan
Perang Jamal dan peristiwa tahkim setelah Perang Shiffin.
Naskah berikut merupakan lanjutan
pembahasan firqah Khawarij dalam kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn, yang
menampilkan argumentasi kedua belah pihak sebagaimana dinukil oleh penulis.
Sumber
Kitab: At-Tabṣīr fi ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an
al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز
الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)
Penulis
Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد
الإسفراييني)
Tema
Dialog Ali bin Abi Thalib dengan Khawarij
tentang Perang Jamal, Tahkim, dan Legitimasi Kepemimpinan
Terjemahan Lengkap
Ketika kedua pasukan telah saling
mendekat, Ali رضي الله عنه mengirim seorang
utusan kepada mereka seraya berkata:
"Serahkan kepadaku pembunuh
Abdullah bin Khabbab."
Mereka menjawab:
"Kami semua telah membunuhnya.
Bahkan, seandainya kami berhasil menangkapmu, niscaya kami juga akan
membunuhmu."
Lalu Ali رضي
الله عنه sendiri berdiri di hadapan mereka dan berkata:
"Wahai kaumku, apakah yang
membuat kalian marah kepadaku sehingga kalian memisahkan diri dariku?"
Mereka menjawab:
"Pada Perang Jamal kami
berperang di bawah komandomu. Kami mengalahkan pasukan Jamal. Engkau
menghalalkan harta mereka sebagai rampasan perang, tetapi tidak menghalalkan
perempuan dan anak-anak mereka. Bagaimana mungkin harta suatu kaum dihalalkan,
sedangkan perempuan dan anak-anak mereka tidak? Seharusnya keduanya sama-sama
diharamkan atau sama-sama dihalalkan."
Ali رضي
الله عنه menjawab:
"Adapun harta mereka, aku
membolehkannya kepada kalian sebagai pengganti harta Baitul Mal di Bashrah yang
telah mereka kuasai sebelum aku tiba. Sedangkan perempuan dan anak-anak mereka
tidak mempunyai kesalahan, karena mereka tidak memerangi kita. Hukum mereka
tetap hukum kaum Muslimin. Siapa yang tidak dihukumi kafir dari kalangan
perempuan dan anak-anak, maka tidak boleh dijadikan tawanan ataupun diperbudak.
Lagi pula, seandainya aku
menghalalkan perempuan mereka untuk kalian, siapakah di antara kalian yang mau
mengambil Aisyah sebagai bagiannya?"
Mendengar jawaban tersebut mereka
merasa malu.
Kemudian mereka berkata:
"Kami masih memiliki keberatan
lain terhadapmu. Ketika peristiwa tahkim, engkau menulis dalam dokumen
perdamaian: 'Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib...' Lalu Muawiyah membantah dan
berkata, 'Seandainya kami mengakui engkau sebagai Amirul Mukminin, tentu kami
tidak akan memerangimu.' Lalu engkau menghapus gelar itu. Jika kepemimpinanmu
memang benar, mengapa engkau rela menghapusnya?"
Ali رضي
الله عنه menjawab:
"Aku melakukan hal itu
sebagaimana Rasulullah ﷺ melakukannya ketika
berdamai dengan Suhail bin Amr. Pada awalnya ditulis: 'Inilah perjanjian damai
antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr.'
Suhail berkata, 'Seandainya kami
mengakui engkau sebagai Rasul Allah, tentu kami tidak akan memerangimu.
Tulislah namamu dan nama ayahmu saja.'
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar ditulis: 'Muhammad bin Abdullah.'
Rasulullah ﷺ
pernah bersabda kepadaku, 'Kelak engkau akan menghadapi peristiwa seperti ini.'
Karena itulah aku melakukan apa yang
beliau lakukan, sebagai bentuk mengikuti sunnah beliau."
Kemudian Khawarij berkata lagi:
"Mengapa engkau berkata kepada
kedua juru damai itu, 'Jika aku memang berhak atas kekhalifahan maka
tetapkanlah aku'? Mengapa engkau meragukan kekhalifahanmu sendiri? Seandainya
engkau ragu, tentu engkau tidak layak mengaku sebagai khalifah."
Ali رضي
الله عنه menjawab:
"Yang aku inginkan hanyalah
bersikap adil kepada lawan dan meredakan pertikaian. Seandainya aku berkata
kepada kedua hakim itu, 'Putuskanlah untukku,' tentu Muawiyah tidak akan
menerimanya.
Rasulullah ﷺ
juga melakukan hal yang serupa ketika mengajak kaum Nasrani Najran untuk
bermubahalah. Allah Ta'ala berfirman:
'Maka barang siapa membantahmu
tentang Isa setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah: Marilah kita panggil
anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan
perempuan-perempuan kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian marilah kita
bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.' (QS. Ali 'Imran: 61).
Artikel Pengembangan
Dialog ini menunjukkan bahwa Ali bin
Abi Thalib tidak langsung memerangi Khawarij, tetapi terlebih dahulu berusaha
berdialog dan menjelaskan alasan di balik kebijakan-kebijakan yang mereka
persoalkan. Hal ini menggambarkan pentingnya penyelesaian perselisihan melalui
hujah dan musyawarah sebelum menggunakan kekuatan.
Keberatan pertama Khawarij berkaitan
dengan hukum harta rampasan dalam Perang Jamal. Ali menjelaskan bahwa perempuan
dan anak-anak tidak ikut berperang sehingga tidak boleh dijadikan tawanan.
Bahkan beliau memberikan argumentasi yang sangat kuat dengan menyebut Ummul
Mukminin Aisyah رضي الله عنها. Pertanyaan retoris
tersebut membuat mereka tidak mampu menjawab.
Keberatan kedua menyangkut
penghapusan gelar "Amirul Mukminin" dalam dokumen tahkim. Ali
menjelaskan bahwa tindakan tersebut memiliki teladan langsung dari Rasulullah ﷺ dalam Perjanjian Hudaibiyah. Penghapusan
sebuah gelar demi tercapainya perdamaian tidak berarti menghapus hakikat
kedudukan seseorang.
Keberatan terakhir berkaitan dengan
redaksi yang digunakan dalam proses arbitrase. Menurut Ali, kalimat yang
dipilih bertujuan menjaga keadilan dan membuka peluang diterimanya proses
perdamaian oleh kedua belah pihak. Sebagai dalil, beliau mengutip metode
Al-Qur'an dalam peristiwa mubahalah dengan kaum Nasrani Najran.
Dalam kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn,
kisah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa argumentasi Khawarij dijawab dengan
dalil Al-Qur'an, Sunnah, dan pertimbangan syariat yang matang menurut
perspektif penulis kitab.
Hikmah
- Dialog merupakan langkah pertama dalam menyelesaikan
perselisihan sebelum terjadi konflik bersenjata.
- Seorang pemimpin hendaknya menjelaskan dasar
kebijakannya dengan ilmu dan argumentasi yang kuat.
- Mengikuti teladan Rasulullah ﷺ
menjadi landasan dalam mengambil keputusan politik maupun sosial.
- Perdamaian terkadang menuntut fleksibilitas dalam
hal-hal yang bersifat administratif tanpa mengorbankan prinsip.
- Fanatisme dapat menyebabkan seseorang menolak
argumentasi yang jelas sekalipun telah disampaikan dengan dalil.
Penutup
Riwayat dialog antara Ali bin Abi
Thalib رضي الله عنه dan Khawarij ini
memperlihatkan upaya beliau untuk menyelesaikan perselisihan melalui
penjelasan, hujah, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Dalam penyajian Imam Thahir Al-Isfarayini di dalam At-Tabṣīr fi ad-Dīn,
dialog tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana perbedaan pemahaman
terhadap dalil dapat berkembang menjadi konflik apabila tidak disertai sikap
ilmiah dan kesediaan menerima penjelasan yang benar. Kisah ini sekaligus
menjadi pelajaran penting tentang nilai musyawarah, keadilan, dan kehati-hatian
dalam memahami ajaran agama.
Teks Arab :
فَلَمَّا ازدلفوا اليهم بعث عَليّ رضي الله عنه اليهم
رَسُولا أَن ادفعوا الي قَاتل عبد الله بن خباب فَقَالُوا كلنا قَتله وَلَو ظفرنا
بك لقتلناك أَيْضا فَوقف عَلَيْهِم عَليّ رضي الله عنه بِنَفسِهِ وَقَالَ لَهُم
يَا قوم مَاذَا نقمتم مني حَتَّى فارقتموني لأَجله قَالُوا قاتلنا بَين يَديك
يَوْم الْجمل وهزمنا أَصْحَاب الْجمل فأبحت لنا أَمْوَالهم وَلم تبح لنا
نِسَائِهِم وذراريهم وَكَيف تحل مَال قوم وَتحرم نِسَائِهِم وذراريهم وَقد كَانَ
يَنْبَغِي أَن تحرم الْأَمريْنِ أَو تبيحهما لنا فَاعْتَذر عَليّ رضي الله عنه
بِأَن قَالَ أما أَمْوَالهم فقد أبحتها لكم بَدَلا عَمَّا أَغَارُوا عَلَيْهِ من
مَال بَيت المَال الَّذِي كَانَ بِالْبَصْرَةِ قبل أَن وصلت إِلَيْهِم وَلم يكن
لنسائهم وذراريهم ذَنْب فَإِنَّهُم لم يقاتلونا كَانَ حكمهم حكم الْمُسلمين وَمن
لَا يحكم لَهُ بالْكفْر من النِّسَاء والوالدان لم يجز سَبْيهمْ واسترقاقهم وَبعد
لَو أبحت لكم نِسَاءَهُمْ من كَانَ مِنْكُم يَأْخُذ عَائِشَة فِي قسْمَة نَفسه
فَلَمَّا سمعُوا هَذَا الْكَلَام خجلوا وَقَالُوا قد نقمنا مِنْك سَببا آخر وَهُوَ
أَنَّك يَوْم التَّحْكِيم كتبت إسمك فِي كتاب الصُّلْح إِن أَمِير الْمُؤمنِينَ
عَليّ بن أبي طَالب وَمُعَاوِيَة حكما فلَانا فنازعك مُعَاوِيَة وَقَالَ لَو
كُنَّا نعلم أَنَّك أَمِير الْمُؤمنِينَ مَا خالفناك فمحوت اسْمك فَإِن كَانَت
إمامتك حَقًا فَلم رضيت بِهِ فَاعْتَذر أَمِير الْمُؤمنِينَ وَقَالَ إِنَّمَا فعلت
كَمَا فعل النَّبِي عليه السلام حِين صَالح سُهَيْل بن عَمْرو وَكتب فِي كتاب
الصُّلْح هَذَا مَا صَالح مُحَمَّد رَسُول الله سُهَيْل بن عَمْرو فَقَالَ لَهُ
سُهَيْل لَو علمنَا أَنَّك رَسُول الله مَا خالفناك وَلَكِن اكْتُبْ اسْمك وَاسم
أَبِيك فَأمر النَّبِي ﷺ حَتَّى كتب هَذَا مَا صَالح مُحَمَّد بن عبد الله سُهَيْل
بن عَمْرو فَقَالَ لي رَسُول الله ﷺ إِنَّك ستبتلى بِمثلِهِ يَوْمًا فَالَّذِي
فعلته بأذنه وإقتداء بِهِ ثمَّ قَالَت الْخَوَارِج لَهُ لم قلت لِلْحكمَيْنِ إِن
كنت أَهلا للخلافة فقرراني وَلم شَككت فِي خلافتك حَتَّى تَكَلَّمت بِهَذَا الْكَلَام
وَلَو كنت شاكا لما ادعيت الْخلَافَة فَقَالَ عَليّ إِنَّمَا أردْت أَن أنصف
الْخصم وأسكن النائرة وَلَو قلت لِلْحكمَيْنِ احكما لي لم يرض بذلك مُعَاوِيَة
وَهَكَذَا فعل النَّبِي ﷺ مَعَ نَصَارَى نَجْرَان حِين دعاعم إِلَى المباهلة
فَقَالَ ﴿فَمن حاجك فِيهِ من بعد مَا جَاءَك من الْعلم فَقل تَعَالَوْا نَدع
أبناءنا وأبناءكم وَنِسَاءَنَا ونساءكم وأنفسنا وَأَنْفُسكُمْ ثمَّ نبتهل
فَنَجْعَل لعنة الله على الْكَاذِبين﴾
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Sejarah Perang Nahrawan: Hujah Ali bin Abi Thalib yangMembungkam Khawarij Muhakkimah Pertama


0 Komentar