Sejarah Perang Nahrawan: Hujah Ali bin Abi Thalib yang Membungkam Khawarij Muhakkimah Pertama

Kisah Perang Nahrawan, dialog Ali bin Abi Thalib dengan Khawarij, terbunuhnya Dzu ats-Tsudayyah, dan awal perpecahan Khawarij menurut kitab klasik

Pendahuluan

Perang Nahrawan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang memperlihatkan benturan antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan kelompok Khawarij Muhakkimah Pertama. Sebelum peperangan terjadi, Ali terlebih dahulu mengajukan berbagai hujah dan penjelasan yang menurut penulis kitab berhasil meyakinkan ribuan anggota Khawarij untuk kembali kepada barisan kaum Muslimin. Namun sebagian lainnya tetap memilih berperang hingga akhirnya mengalami kekalahan.

Pembahasan berikut merupakan terjemahan dari kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn yang menjelaskan kronologi dialog, peperangan, hingga tersebarnya kelompok-kelompok Khawarij ke berbagai wilayah.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn

Penulis

Imam Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)

Tema

Dialog Sayyidina Ali dengan Khawarij, Perang Nahrawan, dan Awal Penyebaran Sekte Khawarij

Terjemahan Lengkap

Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa ucapannya kepada kedua hakim bukanlah karena keraguan terhadap kedudukannya sebagai khalifah, melainkan sebagai bentuk keadilan dan sikap objektif. Hal itu serupa dengan firman Allah Ta'ala:

"Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Katakanlah: Allah. Dan sesungguhnya kami atau kalian pasti berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata."

Ungkapan tersebut bukan menunjukkan keraguan, melainkan cara berdialog yang adil. Demikian pula Rasulullah ﷺ pernah menunjuk Sa'ad bin Mu'adz sebagai hakim dalam perkara Bani Quraizhah, padahal hak memutuskan perkara pada hakikatnya berada di tangan Rasulullah ﷺ sendiri.

Ali melanjutkan:

"Keputusan Rasulullah ﷺ selalu berdasarkan keadilan, sedangkan keputusan tahkim yang pernah kujalani ternyata dipenuhi tipu daya sehingga terjadilah apa yang telah terjadi."

Ketika kaum Khawarij mendengar hujah-hujah tersebut, delapan ribu orang di antara mereka meminta jaminan keamanan dan kembali kepada Ali. Sementara empat ribu orang tetap bersikeras memeranginya.

Ali berkata kepada mereka yang kembali:

"Berpisahlah kalian dari kelompok yang masih memerangi kami."

Kemudian beliau maju bersama pasukannya menghadapi kelompok yang tersisa.

Sebelum peperangan dimulai Ali berkata kepada para sahabatnya:

"Dari pihak kita tidak akan terbunuh sepuluh orang, dan dari pihak mereka tidak akan selamat sepuluh orang."

Peperangan pun berlangsung. Pada hari itu tidak lebih dari sembilan orang dari pasukan Ali yang gugur.

Hurqush bin Zuhair tampil menghadapi Ali seraya berkata:

"Demi Allah, kami memerangimu hanya demi mencari ridha Allah dan keselamatan di akhirat."

Ali membacakan firman Allah:

"Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya."

Setelah itu Ali menyerang mereka. Abdullah bin Wahb terbunuh dalam duel, kemudian peperangan berlangsung sengit hingga dari seluruh pasukan Khawarij hanya tersisa sembilan orang.

Dua orang melarikan diri ke Sijistan, dua orang ke Yaman, dua orang ke Oman, dua orang ke wilayah Jazirah, dan seorang menuju daerah al-Abar. Menurut penulis, kelompok-kelompok Khawarij di berbagai wilayah tersebut berasal dari sembilan orang yang berhasil melarikan diri itu.

Ali kemudian memerintahkan agar Dzu ats-Tsudayyah dicari. Ia ditemukan bersembunyi di suatu tempat. Setelah diperiksa, ternyata benar pada tubuhnya terdapat daging menyerupai payudara wanita.

Ali berkata:

"Benarlah Allah dan benarlah Rasul-Nya."

Lalu orang itu dihukum mati.

Penulis juga menceritakan bahwa Dzu ats-Tsudayyah pernah mendatangi Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang membagikan harta rampasan perang. Ia berkata:

"Berlaku adillah wahai Muhammad."

Rasulullah ﷺ menjawab:

"Celaka engkau! Jika aku tidak adil, siapa lagi yang akan berlaku adil?"

Kemudian beliau bersabda:

"Dari keturunan orang ini akan muncul suatu kaum yang keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat menembus sasarannya."

Inilah kisah Muhakkimah Pertama. Menurut penulis kitab, mereka dihukumi sesat karena mengkafirkan Ali, Utsman, dan kaum Muslim yang melakukan dosa besar.

Setelah itu muncul lagi kelompok-kelompok Khawarij di wilayah Irak. Ali terus mengirim pasukan untuk menghadapi mereka hingga Allah mewafatkannya dan memuliakannya di surga. Setelah wafatnya Ali, Khawarij tetap bertahan di atas ajaran Muhakkimah Pertama sampai kemudian muncul kelompok Azariqah yang menyebabkan mereka terpecah menjadi berbagai sekte sebagaimana akan kami jelaskan nanti, insya Allah Ta'ala

Artikel Pengembangan

Peristiwa Nahrawan sering dijadikan contoh dalam literatur sejarah Islam mengenai pentingnya dialog sebelum terjadinya konflik. Riwayat ini menggambarkan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak langsung memerangi Khawarij, tetapi terlebih dahulu mengajak mereka berdiskusi dan menjawab keberatan-keberatan mereka dengan dalil Al-Qur'an, sunnah, serta penjelasan rasional.

Salah satu pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa sebagian besar anggota Khawarij akhirnya menerima penjelasan tersebut dan kembali kepada barisan Ali. Hal ini menunjukkan bahwa dialog ilmiah dapat menjadi sarana meredam konflik apabila dilakukan dengan argumentasi yang kuat dan sikap yang bijaksana.

Di sisi lain, sebagian kecil tetap bertahan pada keyakinannya meskipun telah diberikan penjelasan. Dari kelompok inilah kemudian berkembang berbagai cabang Khawarij yang disebutkan dalam kitab-kitab ilmu firqah, seperti Azariqah, Najdat, Shufriyyah, dan Ibadhiyyah.

Perlu dipahami bahwa uraian di atas merupakan penjelasan dari perspektif penulis kitab klasik dalam disiplin ilmu al-firaq (kajian sekte-sekte dalam Islam). Karena itu, pembaca perlu menempatkannya dalam konteks sejarah dan perkembangan pemikiran Islam, bukan sebagai gambaran menyeluruh terhadap seluruh kelompok yang memiliki hubungan historis dengan nama-nama tersebut.

Hikmah

  • Dialog dan hujah yang kuat harus didahulukan sebelum menggunakan kekuatan.
  • Fanatisme yang berlebihan dapat membuat seseorang tetap menolak kebenaran meskipun telah dijelaskan dengan dalil.
  • Perpecahan umat sering berawal dari perbedaan dalam memahami persoalan politik dan agama.
  • Sejarah mengajarkan pentingnya menjaga persatuan serta menghindari sikap mudah mengkafirkan sesama Muslim.
  • Kisah Perang Nahrawan menjadi pelajaran bahwa ilmu, kebijaksanaan, dan kesabaran merupakan bekal utama dalam menghadapi perbedaan.

Penutup

Kisah Perang Nahrawan dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn menggambarkan tahapan dialog, penyampaian hujah, hingga terjadinya peperangan antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Khawarij Muhakkimah Pertama. Menurut penulis, dari peristiwa inilah kemudian lahir berbagai cabang Khawarij yang berkembang di berbagai wilayah Islam. Kajian ini menjadi bagian penting dalam memahami sejarah perbedaan teologis dan politik pada masa awal Islam, sehingga dapat dipelajari secara kritis dan proporsional sesuai konteks zamannya.

Teks Arab :

Judul SEO → Meta Deskripsi 150 karakter → Pendahuluan → Sumber Rujukan→ Penulis → Tema → Terjemahan Lengkap → Artikel Pengembangan → Hikmah → Penutup :

وَهَذَا إِنَّمَا قَالَه على سَبِيل الْإِنْصَاف لَا على سَبِيل التشكك وَهُوَ كَقَوْلِه تَعَالَى ﴿قل من يرزقكم من السَّمَاوَات وَالْأَرْض قل الله وَإِنَّا أَو إيَّاكُمْ لعلى هدى أَو فِي ضلال مُبين﴾ وَلِهَذَا الْمَعْنى حكم النَّبِي ﷺ سعد بن معَاذ فِي بني قُرَيْظَة وَالْحق فِي الْحَقِيقَة كَانَ لرَسُول الله ﷺ ثمَّ إِن حكم رَسُول الله ﷺ بِالْعَدْلِ وحكمي الَّذِي حكمته خدع فَكَانَ من الْأَمر مَا كَانَ فَلَمَّا سَمِعت الْخَوَارِج هَذِه الْحجَج القاطعة استأمن ثَمَانِيَة آلَاف مِنْهُم وَثَبت على قِتَاله أَرْبَعَة آلآف مِنْهُم فَقَالَ إِلَى الَّذين استأمنوا إِلَيْهِ مِنْهُم امتازوا الْيَوْم مني جانبا وَقَاتل بِمن كَانَ مَعَه وَقَالَ لأَصْحَابه لما أَرَادَ أَن يَبْتَدِئ الْقِتَال لَا يقتل منا عشرَة وَلَا ينجو مِنْهُم عشرَة وَاشْتَغلُوا بِالْقِتَالِ فَلم يقتل يَوْمئِذٍ من أَصْحَاب عَليّ أَكثر من تِسْعَة أنفس وَخرج حرقوص بن زُهَيْر فِي وَجه عَليّ رضي الله عنه وَقَالَ وَالله لَا نُرِيد بقتالك إِلَّا وَجه الله تَعَالَى والنجاة فِي الْآخِرَة فَتلا عَلَيْهِ قل هَل ننبئكم بالأخسرين أعمالا الَّذين ضل سَعْيهمْ فِي الْحَيَاة الدُّنْيَا وهم يحسبون أَنهم يحسنون صنعا) ثمَّ حمل عَلَيْهِم وَقتل عبد الله بن وهب فِي المبارزة والتحم الْقِتَال حَتَّى لم يبْق من جملَة الْخَوَارِج إِلَّا تِسْعَة فَوَقع اثْنَان مِنْهُم إِلَى سجستان وَاثْنَانِ إِلَى الْيمن وَاثْنَانِ إِلَى عمان وَاثْنَانِ إِلَى الجزيرة وَوَاحِد إِلَى نَاحيَة الابار وخوارج هَذِه النواحي من أَتبَاع هَذِه التِّسْعَة وامر عَليّ رضي الله عنه أَصْحَابه بِطَلَب ذِي الثدية فوجدوه قد هرب واستخفى فِي مَوضِع فظفروا بِهِ وتفحصوا عَنهُ فوجدوا لَهُ ثديا كثدي النِّسَاء فَقَالَ عَليّ رضي الله عنه صدق الله وَصدق رَسُوله وامر بقتْله فَقتل وَقد كَانَ مر على النَّبِي ﷺ ذُو الثدية وَهُوَ يقسم غَنَائِم بدر فَقَالَ لَهُ أعدل يَا مُحَمَّد فَقَالَ لَهُ عليه الصلاة والسلام خبت وخسرت إِذا من يعدل ثمَّ قَالَ أَنه يخرج من ضئضىء هَذَا قوم يَمْرُقُونَ من الدّين كَمَا يَمْرُق السهْم من الرَّمية

هَذِه قصَّة المحكمة الأولى وهم يكفرون بتكفيرهم عليا وَعُثْمَان وتكفيرهم فساق أهل الْملَّة ثمَّ خرج بعدهمْ جمَاعَة من الْخَوَارِج بِأَرْض الْعرَاق فَكَانَ عَليّ رضي الله عنه يبْعَث اليهم السَّرَايَا ويقاتلهم إِلَى أَن اسْتَأْثر الله بِرُوحِهِ وَنَقله إِلَى جنته وَبقيت الْخَوَارِج على مَذْهَب المحكمة الأولى إِلَى أَن ظَهرت فتْنَة الْأزَارِقَة مِنْهُم فَعِنْدَ ذَلِك اخْتلفُوا كَمَا نذكرهُ ان شَاءَ الله تَعَالَى

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Dialog Ali bin Abi Thalib dengan Khawarij: Jawaban atasTuduhan Tahkim dan Perang Jamal Menurut Kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn

Khawarij Nahrawan: Kisah Pembunuhan Abdullah bin Khabbabdan Awal Pertempuran Melawan Ali bin Abi Thalib

Sejarah Golongan Azariqah Khawarij: Ajaran Abu Rasyid Nafi' bin Al-Azraq dan Penyimpangannya

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Hari Perpisahan: Saat Terberat dalam Cinta Menurut Ibnu Hazm Al-Andalusi

Pendahuluan Di antara seluruh pengalaman cinta, tidak ada yang lebih mengguncang hati selain saat perpisahan benar-benar terjadi. Jika k...