Khawarij Nahrawan: Kisah Pembunuhan Abdullah bin Khabbab dan Awal Pertempuran Melawan Ali bin Abi Thalib

Terjemahan kisah Khawarij Nahrawan, pembunuhan Abdullah bin Khabbab, serta awal pertempuran melawan Ali bin Abi Thalib

Pendahuluan

Di antara peristiwa penting dalam sejarah kemunculan Khawarij adalah tragedi yang terjadi sebelum Perang Nahrawan. Dalam riwayat ini dijelaskan bagaimana sebagian Khawarij membunuh Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt setelah mendengar hadis Nabi ﷺ darinya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bukti kerasnya sikap kelompok tersebut menurut penulis kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn.

Naskah berikut merupakan lanjutan pembahasan mengenai firqah Al-Muḥakkimah al-Ūlā yang dinukil oleh Imam Thahir Al-Isfarayini dalam kitabnya.

Sumber Rujukan

Kitab: At-Tabṣīr fi ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis

Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)

Tema

Peristiwa Nahrawan, Pembunuhan Abdullah bin Khabbab, dan Sikap Khawarij Menurut Imam Al-Isfarayini

Terjemahan Lengkap

Pemimpin kedua mereka adalah Hurqush bin Zuhair Al-Bajali, yang dikenal dengan julukan Dzu ats-Tsudayyah.

Dalam perjalanan mereka menuju Nahrawan, mereka bertemu dengan Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt. Mereka berkata kepadanya:

"Sampaikan kepada kami sebuah hadis yang engkau dengar dari ayahmu, dari Rasulullah ﷺ."

Abdullah menjawab:

"Aku mendengar ayahku berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

'Akan terjadi suatu fitnah. Orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barang siapa mampu menjadi pihak yang terbunuh, maka janganlah ia menjadi pihak yang membunuh.'

Atau dengan redaksi yang semakna.

Ketika mereka mendengar hadis tersebut, mereka justru berniat membunuh Abdullah. Salah seorang dari mereka yang bernama Misma' kemudian membunuhnya.

Disebutkan bahwa darah Abdullah mengalir di atas permukaan air bagaikan seutas tali hingga membentang dari satu tepi sungai ke tepi lainnya.

Setelah itu mereka mendatangi rumahnya, lalu membunuh anak-anaknya serta para ibu dari anak-anak tersebut di daerah Nahrawan.

Jumlah mereka semakin banyak dan kekuatan mereka semakin besar.

Maka Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berangkat menghadapi mereka dengan empat ribu pasukan. Panglima pasukan beliau adalah Adi bin Hatim Ath-Tha'i, yang membacakan syair-syair untuk membangkitkan semangat pasukan, berisi celaan terhadap Khawarij dan pujian kepada Ali رضي الله عنه.

Artikel Pengembangan

Peristiwa pembunuhan Abdullah bin Khabbab termasuk salah satu kisah yang paling sering disebut dalam literatur klasik ketika membahas sejarah Khawarij. Dalam riwayat ini, Abdullah tidak sedang berperang, melainkan diminta menyampaikan hadis Nabi ﷺ mengenai fitnah.

Ironisnya, hadis yang ia sampaikan justru mengajarkan agar seorang Muslim menjauhi pertumpahan darah dan tidak tergesa-gesa terlibat dalam fitnah. Namun, menurut penulis kitab, kelompok tersebut malah melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan isi hadis yang baru saja mereka dengar.

Riwayat ini kemudian menjadi salah satu alasan mengapa Ali bin Abi Thalib memutuskan menghadapi mereka di Nahrawan. Dalam berbagai kitab sejarah Islam, Perang Nahrawan dipandang sebagai salah satu peristiwa penting pada masa kekhalifahan Ali, setelah terjadinya peristiwa tahkim dalam Perang Shiffin.

Kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn menempatkan kisah ini sebagai bagian dari penjelasan mengenai karakter awal kelompok Al-Muhakkimah, yaitu cikal bakal Khawarij. Penulis ingin menunjukkan bagaimana, menurut pandangannya, penyimpangan dalam memahami agama dapat berkembang menjadi tindakan yang ekstrem terhadap sesama Muslim.

Bagi pembaca masa kini, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa memahami dalil agama tidak cukup hanya dengan menghafal teks. Pemahaman yang benar harus disertai ilmu, kebijaksanaan, serta mengikuti prinsip-prinsip syariat secara utuh agar tidak terjerumus pada sikap berlebihan (ghuluw).

Hikmah

  • Fitnah merupakan keadaan yang sangat berbahaya sehingga Rasulullah ﷺ menganjurkan kaum Muslimin untuk menghindarinya sebisa mungkin.
  • Semangat beragama yang tidak disertai ilmu dapat melahirkan sikap ekstrem.
  • Kekerasan atas nama agama bertentangan dengan ajaran Islam yang mengutamakan keadilan dan kebenaran.
  • Memahami hadis harus dilakukan secara menyeluruh, bukan berdasarkan hawa nafsu atau fanatisme kelompok.
  • Sejarah menjadi pelajaran penting agar umat Islam tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi pada generasi terdahulu.

Penutup

Pembahasan mengenai Al-Muḥakkimah al-Ūlā dalam kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn menggambarkan bagaimana penulis menilai perkembangan awal kelompok Khawarij melalui sejumlah peristiwa sejarah, termasuk tragedi pembunuhan Abdullah bin Khabbab dan keluarganya. Terlepas dari perbedaan penilaian sejarah di antara berbagai literatur Islam, kisah ini memberikan pelajaran bahwa fanatisme yang tidak dibimbing ilmu dan akhlak dapat menyeret seseorang kepada tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Karena itu, mempelajari sejarah secara kritis dan mengambil hikmahnya merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan dan pemahaman agama yang lurus.

Teks Arab :

وَالثَّانِي حرقوص بن زُهَيْر البَجلِيّ وَكَانَ يلقب بِذِي الثدية وَرَأَوا فِي طريقهم حَال خُرُوجهمْ إِلَى النهروان عبد الله بن خباب بن الْأَرَت فَقَالُوا لَهُ حدث لنا حَدِيثا سمعته من أَبِيك عَن رَسُول الله ﷺ فَقَالَ سَمِعت أبي يَقُول سَمِعت رَسُول الله ﷺ يَقُول سَتَكُون فتْنَة الْقَاعِد فِيهَا خير من الْقَائِم والواقف فِيهَا خير من السائر والماشي فِيهَا خير من العادي وَمن أمكنه أَن يكون مقتولا فِيهَا يقصدن أَن يكون قَاتلا أَو لفظ هَذَا مَعْنَاهُ فَلَمَّا سمعُوا مِنْهُ هَذَا الْخَبَر قصدُوا قَتله وَقَتله رجل مِنْهُم اسْمه مسمع وَجرى دَمه على وَجه المَاء قَائِما كالشراك حَتَّى انهال من احدى شطئ النَّهر إِلَى الآخر ثمَّ قصدُوا بَيته وَقتلُوا أَوْلَاده وَأُمَّهَات أَوْلَاده بالنهروان وَكثر عَددهمْ وقويت شوكتهم فقصدهم عَليّ رضي الله عنه فِي أَرْبَعَة آلَاف رجل وَكَانَ مقدمهم عدي بن حَاتِم الطَّائِي وينشد لَهُم أشعارا يترنمون بهَا فِي مذمتهم ومدح عَليّ رضي الله عنه

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Al-Muhakkimah Al-Ula: Awal Munculnya Khawarij dan SejarahKelompok Haruriyah Menurut At-Tabshir fi ad-Din

Khawarij dalam Sejarah Islam: Dua Pokok Keyakinan danAwal Munculnya 20 Golongan Menurut Kitab At-Tabshir fi ad-Din

Dialog Ali bin Abi Thalib dengan Khawarij: Jawaban atasTuduhan Tahkim dan Perang Jamal Menurut Kitab At-Tabṣīr fi ad-Dīn

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Hari Perpisahan: Saat Terberat dalam Cinta Menurut Ibnu Hazm Al-Andalusi

Pendahuluan Di antara seluruh pengalaman cinta, tidak ada yang lebih mengguncang hati selain saat perpisahan benar-benar terjadi. Jika k...