Pendahuluan
Dalam pembahasan tentang awal
kejadian alam, salah satu argumen yang perlu diperhatikan adalah pernyataan
bahwa alam senantiasa mungkin untuk terjadi. Jika kemungkinan terjadinya alam
dianggap tidak memiliki awal, muncul pertanyaan apakah hal itu mengharuskan
alam juga tidak memiliki awal.
Imam Al-Ghazali mengemukakan sebuah keberatan
(i‘tirāḍ) terhadap cara berpikir tersebut. Ia menunjukkan bahwa adanya
kemungkinan yang terus-menerus tidak berarti bahwa sesuatu yang mungkin
tersebut harus benar-benar terjadi tanpa permulaan.
Untuk menjelaskan persoalan ini,
Al-Ghazali memberikan perumpamaan mengenai ukuran alam dan kemungkinan
penambahan ukuran. Kemungkinan bahwa suatu ukuran dapat ditambah tidak
berarti bahwa terdapat benda yang memiliki ukuran tak terbatas.
Sumber
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Penulis
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H / 1111 M
Tema
Kemungkinan terjadinya alam dan
perbedaan antara kemungkinan yang tidak terbatas dengan keberadaan aktual yang
tidak memiliki awal.
Terjemahan Lengkap
Keberatan:
Alam Senantiasa Mungkin Terjadi
Keberatannya adalah bahwa dapat
dikatakan:
“Alam senantiasa mungkin untuk
terjadi. Karena itu, tidak ada suatu waktu pun kecuali dapat dibayangkan bahwa
alam terjadi pada waktu tersebut.
Namun, apabila alam dianggap telah
ada secara abadi, maka alam bukanlah sesuatu yang baru terjadi. Dengan
demikian, apa yang benar-benar terjadi tidak sesuai dengan kemungkinan, bahkan
bertentangan dengannya.
Hal ini seperti perkataan mereka
mengenai tempat, yaitu bahwa mungkin saja alam dibayangkan lebih besar daripada
ukurannya yang sekarang, atau mungkin diciptakan suatu benda di atas alam,
kemudian benda lain di atas benda tersebut, dan demikian seterusnya tanpa
akhir.
Dengan demikian, tidak ada akhir
bagi kemungkinan adanya penambahan ukuran. Meskipun demikian, adanya sesuatu
yang memenuhi ruang secara mutlak tanpa batas adalah tidak mungkin.
Demikian pula, keberadaan sesuatu
yang tidak memiliki ujung adalah tidak mungkin.
Akan tetapi, sebagaimana dikatakan
bahwa sesuatu yang mungkin adalah benda yang memiliki permukaan terbatas,
sementara ukurannya dalam hal besar atau kecil tidak ditentukan secara khusus,
demikian pula sesuatu yang mungkin terjadi dan permulaan keberadaannya tidak
ditentukan secara khusus dalam hal lebih dahulu atau lebih kemudian.
Adapun bahwa sesuatu itu terjadi
(ḥādits) pada suatu permulaan tertentu, maka hal itu dapat ditentukan;
sebab yang mungkin hanyalah itu, tidak yang lainnya.”
Artikel Pengembangan
1.
Kemungkinan tidak sama dengan kenyataan
Pokok keberatan Al-Ghazali dalam
bagian ini adalah membedakan antara kemungkinan dan kejadian aktual.
Sesuatu dapat dikatakan mungkin
terjadi pada banyak waktu yang berbeda. Akan tetapi, dari banyaknya kemungkinan
tersebut tidak berarti semuanya benar-benar terjadi.
Misalnya, suatu peristiwa dapat saja
terjadi hari ini, besok, atau pada waktu tertentu setelahnya. Kemungkinan
tersebut dapat terus terbuka, tetapi kenyataan tetap hanya terjadi pada satu
waktu tertentu.
Dengan demikian, kemungkinan yang
tidak memiliki batas tidak mengharuskan kenyataan juga tidak memiliki batas.
2.
Perumpamaan tentang ukuran alam
Al-Ghazali kemudian memberikan
perumpamaan mengenai ukuran.
Bayangkan suatu benda yang memiliki
ukuran tertentu. Secara konseptual, kita dapat membayangkan benda tersebut
menjadi lebih besar. Setelah diperbesar, masih dapat dibayangkan adanya
penambahan lagi. Demikian pula, setelah penambahan itu, masih dapat dibayangkan
penambahan berikutnya.
Kemungkinan penambahan tersebut
dapat terus dibayangkan:
ukuran tertentu → lebih besar →
lebih besar lagi → dan seterusnya.
Namun, kemungkinan tersebut tidak
berarti bahwa harus terdapat sebuah benda yang memiliki ukuran tak terbatas
secara aktual.
Inilah perbedaan penting antara kemungkinan
penambahan tanpa batas dan keberadaan sesuatu yang benar-benar tanpa
batas.
3.
Kemungkinan yang tidak berakhir tidak berarti kenyataan tidak berakhir
Al-Ghazali menggunakan perumpamaan
tersebut untuk menunjukkan bahwa argumen tentang kemungkinan terjadinya alam
perlu diperiksa dengan hati-hati.
Jika setiap kemungkinan harus
diwujudkan secara aktual, maka kemungkinan memperbesar ukuran benda tanpa akhir
akan mengharuskan adanya benda yang benar-benar tidak terbatas ukurannya.
Padahal, menurut argumen yang
dikemukakan Al-Ghazali, hal tersebut tidak harus terjadi.
Jadi:
Kemungkinan tanpa batas ≠ keberadaan
aktual tanpa batas.
Prinsip ini kemudian diterapkan pada
persoalan kejadian alam.
4.
Alam dapat mungkin terjadi pada banyak waktu
Menurut keberatan tersebut, alam
dapat dibayangkan terjadi pada waktu tertentu. Tidak ada satu waktu yang secara
konseptual menghalangi kemungkinan tersebut.
Misalnya, secara abstrak dapat
dibayangkan:
- alam terjadi pada waktu A;
- atau pada waktu B;
- atau pada waktu C;
- dan seterusnya.
Namun banyaknya waktu yang
memungkinkan terjadinya alam tidak berarti bahwa alam harus terjadi pada
seluruh waktu tersebut.
Satu kejadian aktual hanya terjadi
pada waktu tertentu, sedangkan kemungkinan terjadinya dapat dibicarakan pada
berbagai waktu.
5.
Jika alam dianggap telah ada selamanya
Teks tersebut kemudian mengajukan
konsekuensi dari anggapan bahwa alam telah ada secara abadi.
Jika alam tidak mempunyai permulaan
dan telah ada selamanya, maka alam tidak dapat disebut sebagai sesuatu yang baru
terjadi (ḥādits).
Padahal, menurut argumen yang sedang
dibangun, kemungkinan alam terjadi mengandung kemungkinan bahwa alam memperoleh
keberadaan pada suatu permulaan tertentu.
Karena itu, terdapat perbedaan
antara:
“alam mungkin terjadi”
dan
“alam telah ada tanpa permulaan.”
Keduanya tidak dapat begitu saja
disamakan.
6.
Perumpamaan benda yang memiliki ukuran tertentu
Al-Ghazali mengatakan bahwa sesuatu
yang mungkin dapat memiliki ukuran yang terbatas, tetapi ukuran tersebut tidak
harus ditentukan dalam hal besar atau kecil berdasarkan kemungkinan yang ada.
Artinya, kemungkinan adanya ukuran
yang lebih besar atau lebih kecil tidak mengharuskan semua ukuran tersebut
terwujud secara bersamaan.
Dengan cara yang sama, kemungkinan
terjadinya alam tidak menentukan bahwa alam harus selalu ada sejak tanpa awal.
7.
Permulaan dan pengakhiran merupakan persoalan yang berbeda
Bagian akhir teks berbicara tentang mabādi’
al-wujūd, yaitu permulaan-permulaan keberadaan.
Al-Ghazali menekankan bahwa
kemungkinan tidak dengan sendirinya menentukan apakah suatu kejadian harus
lebih dahulu atau lebih kemudian.
Sesuatu yang mungkin terjadi dapat
memiliki beberapa kemungkinan waktu, tetapi ketika benar-benar terjadi,
keberadaannya memiliki suatu permulaan tertentu.
Dengan demikian, kemungkinan tidak
harus menentukan seluruh rincian aktual dari sesuatu yang terjadi.
8.
Inti kritik Al-Ghazali
Argumen ini dapat diringkas dalam beberapa
tahapan:
- Alam mungkin terjadi.
- Kemungkinan terjadinya dapat dibayangkan pada berbagai
waktu.
- Banyaknya kemungkinan tidak berarti semua kemungkinan
tersebut menjadi kenyataan.
- Kemungkinan penambahan ukuran dapat terus dibayangkan
tanpa akhir.
- Namun, hal itu tidak berarti harus ada benda yang
secara aktual berukuran tak terbatas.
- Demikian pula, kemungkinan terjadinya alam tidak dengan
sendirinya mengharuskan alam telah ada tanpa permulaan.
Dengan pendekatan ini, Al-Ghazali
membedakan ruang kemungkinan dalam pikiran dari kenyataan yang
benar-benar terjadi.
Hikmah
- Kemungkinan tidak selalu berarti kenyataan.
- Banyaknya kemungkinan tidak mengharuskan semuanya
terwujud.
- Kemungkinan tanpa batas berbeda dengan keberadaan
aktual tanpa batas.
- Sesuatu dapat mungkin terjadi pada banyak waktu, tetapi
secara aktual terjadi pada waktu tertentu.
- Dalam memahami argumen filosofis, perbedaan antara
kemungkinan dan kenyataan harus diperhatikan.
- Perumpamaan ukuran membantu menjelaskan bahwa
kemungkinan penambahan tanpa akhir tidak otomatis menghasilkan sesuatu
yang aktual tanpa batas.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
mengajukan keberatan terhadap anggapan bahwa jika alam senantiasa mungkin
terjadi, maka alam harus senantiasa ada. Ia menunjukkan bahwa kemungkinan
yang terus terbuka tidak sama dengan keberadaan aktual yang terus berlangsung.
Perumpamaan tentang ukuran benda
menjadi sarana untuk menjelaskan prinsip tersebut. Kemungkinan suatu benda
untuk terus diperbesar dapat dibayangkan tanpa akhir, tetapi hal itu tidak
mengharuskan adanya benda yang secara nyata memiliki ukuran tanpa batas.
Dengan demikian, pembahasan ini
menekankan pentingnya membedakan antara kemungkinan (imkān), kejadian
(ḥudūts), dan keberadaan aktual (wujūd) ketika
membahas persoalan awal alam.
Teks Arab :
اعتراض العالم لم يزل ممكن الحدوث
الاعتراض أن يقال: العالم لم يزل ممكن الحدوث، فلا جرم
ما من وقت إلا ويتصور أحداثه فيه، وإذا قدر موجودًا أبدًا لم يكن حادثًا فلم يكن
الواقع على وفق الإمكان بل خلافه. وهذا كقولهم في المكان وهو أن تقدير العالم أكبر
مما هو، أو خلق جسم فوق العالم ممكن، وكذى آخر فوق ذلك الآخر، وهكذا إلى غير
نهاية. فلا نهاية لإمكان الزيادة ومع ذلك فوجود ملاء مطلق لا نهاية له غير ممكن.
فكذلك وجود لا ينتهي طرفه غير ممكن، بل كما يقال الممكن جسم متناهي السطح ولكن لا
تتعين مقاديره في الكبر والصغر، فكذلك الممكن الحدوث ومبادئ الوجود لا تتعين في
التقدم والتأخر وأصل كونه حادثًا متعين فإنه الممكن لا غير.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Argumen Ketiga tentang Kemungkinan Wujud Alam MenurutImam Al-Ghazali
Kemungkinan Wujud Alam Sebelum Penciptaannya Menurut ImamAl-Ghazali
Setiap Sesuatu yang Baru Terjadi Didahului Materi:Argumen Keempat tentang Kejadian Alam


0 Komentar