Pendahuluan
Persaudaraan Islam tidak hanya diwujudkan
melalui ucapan salam dan pertolongan ketika saudara mengalami kesulitan. Lebih
jauh, seorang Muslim dituntut memiliki sikap rendah hati, lapang dada, mudah
memaafkan, menjaga hubungan, tidak menjadi pembawa berita yang menimbulkan
permusuhan, serta berbuat baik kepada siapa pun yang mampu ia bantu.
Imam Abū Ḥāmid al-Ghazālī رحمه الله menjelaskan sejumlah adab penting dalam
hubungan antarsesama Muslim. Di antaranya adalah tidak menyombongkan diri
kepada seorang Muslim, mampu menahan diri ketika diperlakukan dengan
kesombongan, tidak membawa berita dari satu orang kepada orang lain dengan cara
yang menimbulkan kerusakan, tidak memutus hubungan lebih dari tiga hari karena
kemarahan, serta segera membuka kembali hubungan dengan salam.
Al-Ghazālī juga menekankan keutamaan
memaafkan kesalahan dan kezalimaan orang lain. Memaafkan bukan tanda
kehinaan, melainkan jalan menuju kemuliaan. Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Allah menambah kemuliaan seseorang karena
sikap memaafkannya.
Selain itu, kebaikan tidak
semestinya dibatasi hanya kepada orang-orang yang kita sukai. Seorang Muslim
hendaknya berusaha melakukan ma‘rūf kepada siapa pun yang mampu ia
bantu, baik kepada orang yang dekat maupun yang tidak dekat dengannya.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
Pengarang: Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H
Pembahasan: Hak dan adab seorang Muslim terhadap Muslim lainnya.
Pengarang
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī رحمه الله,
wafat pada tahun 505 H.
Dalam pembahasan ini, beliau
menguraikan akhlak yang seharusnya menjadi dasar hubungan seorang Muslim dengan
saudaranya, terutama tawaduk, menjaga lisan, memaafkan, menjaga silaturahmi,
dan berbuat baik.
Teks Arab
ومن حقوق
المسلم وآداب معاملته
ومنها أن يتواضع لكل مسلم ولا يتكبر
عليه؛ فإن الله لا يحب كل مختال فخور.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله تعالى أوحى إلي أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد.
ثم إن تفاخر عليه غيره فليحتمل، قال
الله تعالى لنبيه صلى الله عليه وسلم:
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن
الجاهلين. وعن ابن أبي أوفى كان رسول الله صلى
الله عليه وسلم يتواضع لكل مسلم، ولا يأنف ولا يتكبر أن يمشي مع الأرملة والمسكين
فيقضي حاجته.
ومنها أن لا يسمع بلاغات الناس بعضهم
على بعض، ولا يبلغ بعضهم ما يسمع من بعض.
قال صلى الله عليه وسلم: لا يدخل الجنة قتات.
وقال الخليل بن أحمد: من نم لك نم عليك، ومن أخبرك بخبر غيرك أخبر غيرك بخبرك.
ومنها أن لا يزيد في الهجر لمن يعرفه
على ثلاثة أيام مهما غضب عليه.
قال أبو أيوب الأنصاري: قال صلى الله
عليه وسلم: لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث،
يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا، وخيرهما الذي يبدأ بالسلام.
وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أقال مسلماً عثرته أقاله الله يوم القيامة.
قال عكرمة: قال الله تعالى ليوسف بن
يعقوب: بعفوك عن إخوانك رفعت ذكرك في الدارين.
قالت عائشة رضي الله عنها: ما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه قط إلا أن تنتهك
حرمة الله فينتقم لله.
وقال ابن عباس رضي الله عنهما: ما عفا رجل عن مظلمة إلا زاده الله بها عزاً.
وقال صلى الله عليه وسلم: ما نقص مال من صدقة، وما زاد الله رجلاً بعفو إلا عزاً، وما من
أحد تواضع لله إلا رفعه الله.
ومنها أن يحسن إلى كل من قدر عليه
منهم ما استطاع، لا يميز بين الأهل وغير الأهل.
روى علي بن الحسين عن أبيه عن جده رضي
الله عنهم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
اصنع المعروف في أهله وفي غير أهله،
فإن أصبت أهله فهو أهله، وإن لم تصب أهله فأنت من أهله.
وعنه بإسناده قال: قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: رأس العقل بعد الدين التودد إلى الناس
واصطناع المعروف إلى كل بر وفاجر.
قال أبو هريرة: كان رسول الله صلى
الله عليه وسلم لا يأخذ أحد بيده فينزع يده حتى يكون الرجل هو الذي يرسلها، ولم
تكن ترى ركبته خارجة عن ركبة جليسه، ولم يكن أحد يكلمه إلا أقبل عليه بوجهه، ثم لم
يصرفه عنه حتى يفرغ من كلامه.
Terjemahan Lengkap
Di antara hak seorang Muslim adalah bersikap
rendah hati kepada setiap Muslim dan tidak menyombongkan diri terhadapnya,
karena Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah
mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawaduk, sehingga tidak ada seorang
pun yang membanggakan dirinya atas orang lain.”
Kemudian, apabila orang lain
menyombongkan diri terhadapnya, hendaknya ia bersabar dan menahannya.
Allah Ta‘ala berfirman kepada
Nabi-Nya ﷺ:
“Jadilah engkau pemaaf,
perintahkanlah yang ma‘ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Diriwayatkan dari Ibn Abī Aufā bahwa
Rasulullah ﷺ senantiasa bersikap rendah hati kepada
setiap Muslim. Beliau tidak merasa enggan dan tidak menyombongkan diri untuk
berjalan bersama seorang janda atau orang miskin demi membantu memenuhi
kebutuhannya.
Di antara hak seorang Muslim pula
adalah tidak mendengarkan berita-berita yang dibawa seseorang tentang orang
lain dengan tujuan mengadu domba, dan tidak menyampaikan kepada seseorang apa
yang ia dengar dari orang lain dengan cara yang menimbulkan kerusakan.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Tidak akan masuk surga seorang
qattāt.”
Qattāt adalah orang yang suka membawa-bawa pembicaraan atau berita
seseorang kepada orang lain untuk menimbulkan kerusakan dan permusuhan.
Al-Khalīl bin Aḥmad berkata:
“Barang siapa membawa berita tentang
seseorang kepadamu, ia juga akan membawa berita tentangmu kepada orang lain.
Dan barang siapa memberitahukan kepadamu berita tentang orang lain, ia juga
akan memberitahukan kepada orang lain berita tentangmu.”
Di antara hak seorang Muslim adalah tidak
memperpanjang pemutusan hubungan dengan orang yang dikenalnya lebih dari tiga
hari, betapapun besar kemarahannya kepadanya.
Abū Ayyūb al-Anṣārī meriwayatkan
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak halal bagi seorang Muslim
mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, lalu yang ini
berpaling dan yang itu juga berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya
adalah orang yang lebih dahulu mengucapkan salam.”
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
“Barang siapa membebaskan seorang
Muslim dari kesulitannya dan memaklumi kesalahannya, Allah akan membebaskannya
dari kesulitannya pada hari kiamat.”
‘Ikrimah berkata bahwa Allah Ta‘ala
berfirman kepada Yusuf bin Ya‘qub:
“Dengan engkau memaafkan
saudara-saudaramu, Aku mengangkat penyebutanmu di dua negeri.”
‘Āisyah رضي
الله عنها berkata:
“Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas untuk kepentingan dirinya sendiri sama
sekali, kecuali apabila kehormatan Allah dilanggar; maka beliau membalas karena
Allah.”
Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata:
“Tidaklah seseorang memaafkan suatu
kezalimaan yang dilakukan terhadapnya, melainkan Allah akan menambah kemuliaan
kepadanya karena sikap memaafkannya itu.”
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Harta tidak berkurang karena
sedekah. Allah tidak menambah bagi seseorang karena ia memaafkan kecuali
kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah
akan mengangkat derajatnya.”
Di antara hak seorang Muslim pula
adalah berbuat baik kepada setiap orang dari kalangan mereka yang mampu ia
bantu, sesuai dengan kemampuannya, tanpa membeda-bedakan antara orang yang
dekat dan yang tidak dekat.
‘Alī bin al-Ḥusain meriwayatkan dari
ayahnya, dari kakeknya رضي الله عنهم,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berbuatlah kebaikan kepada orang
yang memang layak menerimanya dan kepada orang yang tidak termasuk orang yang
layak menerimanya. Jika kebaikanmu tepat mengenai orang yang layak menerimanya,
maka ia memang berhak atas kebaikan itu. Dan jika kebaikanmu tidak tepat
mengenai orang yang layak menerimanya, maka engkau sendiri termasuk orang yang
memiliki sifat kebaikan.”
Dalam riwayat lain melalui sanadnya,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puncak kecerdasan setelah agama
adalah menjalin kasih sayang dengan manusia dan melakukan kebaikan kepada
setiap orang, baik orang yang saleh maupun orang yang durhaka.”
Abū Hurairah رضي الله عنه berkata:
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menggenggam tangan seseorang lalu melepaskannya
sebelum orang tersebutlah yang melepaskan tangannya. Lutut beliau tidak pernah
terlihat berada lebih jauh daripada lutut orang yang duduk bersamanya. Dan
tidaklah seseorang berbicara kepada beliau kecuali beliau menghadapkan wajah
kepadanya. Beliau tidak memalingkan wajah darinya sampai orang tersebut selesai
berbicara.”
Artikel Pengembangan
Tawaduk
Bukan Kehinaan
Tawaduk sering disalahpahami sebagai
merendahkan diri secara berlebihan. Padahal, yang dimaksud adalah meninggalkan
kesombongan dan tidak memandang diri lebih tinggi daripada orang lain.
Seseorang boleh memiliki ilmu,
kedudukan, kekayaan, pengalaman, atau keahlian yang lebih tinggi. Namun semua
kelebihan tersebut tidak memberikan alasan untuk menghina orang lain.
Al-Ghazālī menghubungkan tawaduk
dengan larangan kibr dan fakhr: tidak merasa tinggi atas orang
lain dan tidak membanggakan kelebihan diri.
Tawaduk
Rasulullah ﷺ kepada Orang Lemah
Al-Ghazālī menghadirkan contoh
praktis dari kehidupan Rasulullah ﷺ.
Beliau tidak merasa rendah untuk
berjalan bersama janda dan orang miskin demi memenuhi kebutuhan mereka.
Ini menunjukkan bahwa ukuran
kemuliaan bukanlah status sosial seseorang. Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi beliau tetap berinteraksi
dengan orang-orang yang secara sosial berada dalam kondisi lemah.
Tawaduk yang benar justru terlihat
ketika seseorang mampu bersikap tinggi tetapi memilih untuk rendah hati.
Bahaya
Membawa Berita
Islam sangat memperhatikan bahaya
berita yang disampaikan dari satu orang kepada orang lain.
Tidak setiap berita harus diteruskan.
Seseorang mungkin mendengar sebuah
perkataan dalam suatu percakapan. Jika ia menyampaikannya kepada orang yang
menjadi sasaran pembicaraan, akibatnya bisa berupa kemarahan, permusuhan,
bahkan putusnya hubungan.
Karena itu, al-Ghazālī mengingatkan
agar seorang Muslim tidak menjadi perantara kerusakan melalui berita.
Jangan
Memperpanjang Permusuhan
Manusia dapat marah. Perselisihan
juga mungkin terjadi.
Namun Islam tidak membiarkan
kemarahan berkembang menjadi permusuhan tanpa batas. Teks ini memberikan batas tiga
hari untuk tidak berbicara karena perselisihan pribadi.
Bahkan di antara dua orang yang
sedang berselisih, orang yang lebih baik adalah orang yang lebih dahulu
mengucapkan salam.
Ini merupakan pendidikan jiwa yang
sangat kuat: seseorang harus mampu mengalahkan gengsi demi memperbaiki
hubungan.
Memaafkan
Adalah Kemuliaan
Memaafkan sering dianggap sebagai
tanda kelemahan. Padahal dalam ajaran yang dikutip al-Ghazālī, memaafkan justru
menjadi sebab bertambahnya kemuliaan.
Orang yang mampu membalas tetapi
memilih memaafkan karena Allah menunjukkan kekuatan pengendalian diri.
Namun memaafkan tidak berarti
membenarkan kezaliman. Seseorang tetap boleh mencari keadilan dan melindungi
dirinya dari bahaya. Yang ditekankan adalah jangan menjadikan sakit hati
sebagai alasan untuk melakukan kezaliman baru.
Rasulullah
ﷺ Tidak Membalas untuk Kepentingan Pribadi
Pernyataan ‘Āisyah رضي الله عنها menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang sangat tinggi.
Beliau tidak menjadikan persoalan
pribadi sebagai alasan untuk membalas dendam. Akan tetapi, ketika kehormatan
dan ketentuan Allah dilanggar, sikap beliau berubah menjadi pembelaan terhadap
kebenaran.
Ini memberikan perbedaan penting
antara:
- membalas karena ego pribadi, dan
- bertindak demi membela kebenaran dan kehormatan agama.
Berbuat
Baik kepada Siapa Pun
Al-Ghazālī kemudian membawa
pembahasan kepada prinsip iḥsān.
Kebaikan tidak harus diberikan hanya
kepada orang yang kita sukai. Jika seseorang mampu membantu, ia hendaknya
berbuat baik sesuai kemampuannya.
Ada orang yang mungkin tidak
menghargai kebaikan kita. Ada pula yang mungkin bukan orang dekat kita. Namun
nilai kebaikan tidak selalu bergantung pada balasan manusia.
Ungkapan:
“Jika kebaikanmu tidak tepat
mengenai orang yang layak menerimanya, maka engkau sendiri termasuk orang yang
memiliki sifat kebaikan.”
mengandung pelajaran bahwa kebaikan
pertama-tama membentuk karakter orang yang melakukannya.
Penjelasan
1.
Tawaduk kepada Setiap Muslim
Tawaduk berarti tidak merasa lebih
tinggi karena ilmu, harta, nasab, jabatan, atau status sosial.
Seorang Muslim harus mampu
menghormati orang lain tanpa melihat rendah kedudukannya.
2.
Tidak Terpengaruh oleh Kesombongan Orang Lain
Jika seseorang menyombongkan diri
kepada kita, kita tidak harus membalas kesombongan dengan kesombongan.
Sikap yang lebih utama adalah
menahan diri dan menjaga akhlak.
3.
Menjauhi Namīmah
Namīmah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain
dengan cara yang menyebabkan kerusakan hubungan atau permusuhan.
Karena itu, tidak semua informasi
yang benar boleh disampaikan kepada setiap orang. Kebenaran sebuah berita tidak
otomatis membuat penyampaiannya menjadi maslahat.
4.
Batas Hajr karena Perselisihan
Teks ini menyebut larangan
memperpanjang hajr—memutus atau mendiamkan saudara karena kemarahan
pribadi—lebih dari tiga hari.
Tujuannya adalah membuka jalan bagi
perdamaian.
5.
Menjadi Orang Pertama yang Mengucapkan Salam
Ketika dua orang berselisih,
masing-masing mungkin menunggu pihak lain untuk memulai.
Al-Ghazālī mengutip hadis bahwa
orang yang lebih baik adalah yang memulai salam.
Ini mengajarkan agar seseorang tidak
dikalahkan oleh gengsi.
6.
Memaafkan Kesalahan
Memaafkan adalah bentuk pengendalian
diri.
Seseorang yang memaafkan tidak
berarti tidak menyadari kesalahan. Ia menyadarinya, tetapi memilih untuk tidak
menjadikan kesalahan tersebut sebagai alasan melakukan kezaliman.
7.
Tawaduk Mengangkat Derajat
Hadis yang dikutip al-Ghazālī
mengandung prinsip paradoks akhlak:
Orang yang merendahkan diri karena
Allah justru diangkat oleh Allah.
Semakin seseorang meninggalkan
kesombongan, semakin tinggi nilai akhlaknya.
8.
Berbuat Baik Tanpa Menunggu Balasan
Kebaikan yang dilakukan dengan
ikhlas tidak selalu menuntut imbalan.
Jika seseorang mampu membantu, ia melakukannya
karena itu adalah kebaikan, bukan semata-mata karena penerimanya akan membalas.
9.
Adab Rasulullah ﷺ ketika Berbicara
Riwayat Abū Hurairah menggambarkan
perhatian Rasulullah ﷺ kepada lawan bicara.
Beliau menghadapkan wajah kepada
orang yang berbicara kepadanya dan tidak memalingkan perhatian sampai
pembicaraan selesai.
Ini merupakan adab komunikasi yang
sangat tinggi: memberikan perhatian kepada orang yang sedang berbicara.
10.
Menghormati Orang Lain dengan Sikap Tubuh
Tidak hanya ucapan yang mencerminkan
akhlak. Cara duduk, berjabat tangan, memandang, dan mendengarkan juga dapat
menunjukkan penghormatan.
Akhlak Rasulullah ﷺ tercermin bahkan dalam gerakan-gerakan kecil ketika
berinteraksi dengan manusia.
Contoh
Contoh
1: Tidak Sombong karena Ilmu
Seorang guru memiliki ilmu yang jauh
lebih luas daripada muridnya. Namun ketika murid bertanya, ia menjawab dengan
sabar dan tidak mempermalukannya.
Inilah bentuk tawaduk dalam hubungan
pendidikan.
Contoh
2: Menolak Menjadi Pembawa Berita
Seseorang berkata kepada temannya:
“Jangan sampaikan ini kepada
siapa-siapa, tetapi sebenarnya Fulan mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu.”
Daripada meneruskan perkataan
tersebut, seseorang yang memahami adab Islam memilih menghentikan pembicaraan
agar tidak menjadi sumber permusuhan.
Contoh
3: Mengakhiri Perselisihan
Dua sahabat berselisih dan selama
beberapa waktu tidak saling berbicara. Salah satunya kemudian mengalah dan
mengucapkan salam terlebih dahulu.
Menurut prinsip yang dijelaskan
al-Ghazālī, tindakan tersebut merupakan sikap yang lebih utama daripada
mempertahankan gengsi.
Contoh
4: Memaafkan
Seseorang pernah dihina oleh
temannya. Ia memiliki kesempatan untuk membalas penghinaan tersebut, tetapi
memilih memaafkan dan tidak membalas dengan penghinaan.
Ini merupakan latihan jiwa untuk
mengendalikan kemarahan.
Contoh
5: Berbuat Baik kepada Orang yang Tidak Dekat
Seseorang melihat orang lain membutuhkan
bantuan. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan keluarga atau persahabatan, ia
tetap membantu sesuai kemampuannya.
Ia tidak menunggu adanya hubungan
khusus untuk berbuat baik.
Contoh
6: Mendengarkan dengan Penuh Perhatian
Ketika seseorang berbicara, lawan
bicaranya tidak sibuk melihat telepon, memalingkan wajah, atau memotong
pembicaraan.
Ia mendengarkan sampai selesai dan
memberikan respons dengan baik.
Adab sederhana ini merupakan salah
satu bentuk penghormatan kepada manusia.
Kesimpulan
Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa
hak seorang Muslim mencakup sejumlah akhlak yang sangat penting: tawaduk,
tidak sombong, tidak menjadi pembawa berita yang merusak hubungan, tidak
memperpanjang permusuhan, segera mengucapkan salam, memaafkan kesalahan, berbuat
baik, dan menghormati orang lain dalam komunikasi.
Tawaduk menjaga hati dari
kesombongan. Menjauhi namīmah menjaga hubungan dari kerusakan. Tidak
memperpanjang hajr membuka pintu perdamaian. Memaafkan membebaskan hati
dari dendam. Sedangkan berbuat baik menjadikan seseorang sebagai sumber manfaat
bagi orang lain.
Akhlak tersebut semakin sempurna
ketika diterapkan dalam perilaku sehari-hari sebagaimana dicontohkan Rasulullah
ﷺ: beliau rendah hati kepada orang-orang
lemah, membantu memenuhi kebutuhan mereka, mendengarkan orang yang berbicara,
dan tidak membalas keburukan pribadi dengan keburukan.
Hikmah
- Tawaduk adalah tanda kemuliaan akhlak, bukan kehinaan.
- Kesombongan merusak hubungan antarmanusia.
- Tidak semua berita layak didengar atau disampaikan.
- Namīmah dapat menghancurkan persaudaraan.
- Perselisihan tidak boleh dibiarkan menjadi permusuhan
berkepanjangan.
- Orang yang lebih baik adalah orang yang berinisiatif
membuka jalan perdamaian.
- Memaafkan dapat menjadi sebab datangnya kemuliaan dari
Allah.
- Membalas dendam karena kepentingan pribadi bukan akhlak
yang utama.
- Berbuat baik tidak harus menunggu seseorang menjadi
orang dekat kita.
- Kebaikan yang dilakukan kepada orang yang tidak layak
sekalipun tetap membentuk pelakunya sebagai orang baik.
- Mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian
merupakan bagian dari adab.
- Akhlak Rasulullah ﷺ
menunjukkan bahwa tawaduk harus diwujudkan dalam perilaku nyata.
Penutup
Persaudaraan Islam tidak akan kuat
hanya dengan banyaknya pertemanan. Ia membutuhkan hati yang rendah, lisan yang
terjaga, jiwa yang mudah memaafkan, dan tangan yang senang memberikan manfaat.
Seseorang yang mampu menahan
kesombongan, tidak membawa berita yang merusak hubungan, tidak memperpanjang
permusuhan, segera berdamai, memaafkan kesalahan, dan terus berbuat baik kepada
manusia sedang membangun akhlak yang sangat tinggi.
Pelajaran dari al-Ghazālī ini juga
menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tampak pada kedudukannya
di hadapan manusia, tetapi pada bagaimana ia memperlakukan manusia ketika ia
memiliki kesempatan untuk menyombongkan diri, membalas, atau menyakiti.
Karena itu, tawaduklah ketika
memiliki kelebihan, maafkan ketika mampu membalas, diamlah ketika sebuah berita
hanya akan menimbulkan kerusakan, dan berbuat baiklah ketika memiliki
kesempatan. Dengan akhlak semacam inilah persaudaraan menjadi kuat dan kehidupan
sosial dipenuhi kasih sayang serta kedamaian.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Hak Sesama Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya Menurut Imamal-Ghazali (02/05/76)
Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak MenurutImam al-Ghazali (02/05/79)

.png)
0 Komentar