Adab kepada Sesama Muslim: Tawaduk, Memaafkan, Tidak Mengadu Domba dan Berbuat Baik (02/05/78)

Imam al-Ghazali menjelaskan adab Muslim: tawaduk, tidak mengadu domba, tidak memutus hubungan, memaafkan, dan berbuat baik kepada sesama

Pendahuluan

Persaudaraan Islam tidak hanya diwujudkan melalui ucapan salam dan pertolongan ketika saudara mengalami kesulitan. Lebih jauh, seorang Muslim dituntut memiliki sikap rendah hati, lapang dada, mudah memaafkan, menjaga hubungan, tidak menjadi pembawa berita yang menimbulkan permusuhan, serta berbuat baik kepada siapa pun yang mampu ia bantu.

Imam Abū Ḥāmid al-Ghazālī رحمه الله menjelaskan sejumlah adab penting dalam hubungan antarsesama Muslim. Di antaranya adalah tidak menyombongkan diri kepada seorang Muslim, mampu menahan diri ketika diperlakukan dengan kesombongan, tidak membawa berita dari satu orang kepada orang lain dengan cara yang menimbulkan kerusakan, tidak memutus hubungan lebih dari tiga hari karena kemarahan, serta segera membuka kembali hubungan dengan salam.

Al-Ghazālī juga menekankan keutamaan memaafkan kesalahan dan kezalimaan orang lain. Memaafkan bukan tanda kehinaan, melainkan jalan menuju kemuliaan. Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Allah menambah kemuliaan seseorang karena sikap memaafkannya.

Selain itu, kebaikan tidak semestinya dibatasi hanya kepada orang-orang yang kita sukai. Seorang Muslim hendaknya berusaha melakukan ma‘rūf kepada siapa pun yang mampu ia bantu, baik kepada orang yang dekat maupun yang tidak dekat dengannya.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
Pengarang: Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H
Pembahasan: Hak dan adab seorang Muslim terhadap Muslim lainnya.

Pengarang

Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī رحمه الله, wafat pada tahun 505 H.

Dalam pembahasan ini, beliau menguraikan akhlak yang seharusnya menjadi dasar hubungan seorang Muslim dengan saudaranya, terutama tawaduk, menjaga lisan, memaafkan, menjaga silaturahmi, dan berbuat baik.

Teks Arab

ومن حقوق المسلم وآداب معاملته

ومنها أن يتواضع لكل مسلم ولا يتكبر عليه؛ فإن الله لا يحب كل مختال فخور.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله تعالى أوحى إلي أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد.

ثم إن تفاخر عليه غيره فليحتمل، قال الله تعالى لنبيه صلى الله عليه وسلم: خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين. وعن ابن أبي أوفى كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتواضع لكل مسلم، ولا يأنف ولا يتكبر أن يمشي مع الأرملة والمسكين فيقضي حاجته.

ومنها أن لا يسمع بلاغات الناس بعضهم على بعض، ولا يبلغ بعضهم ما يسمع من بعض.

قال صلى الله عليه وسلم: لا يدخل الجنة قتات.

وقال الخليل بن أحمد: من نم لك نم عليك، ومن أخبرك بخبر غيرك أخبر غيرك بخبرك.

ومنها أن لا يزيد في الهجر لمن يعرفه على ثلاثة أيام مهما غضب عليه.

قال أبو أيوب الأنصاري: قال صلى الله عليه وسلم: لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث، يلتقيان فيعرض هذا ويعرض هذا، وخيرهما الذي يبدأ بالسلام.

وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أقال مسلماً عثرته أقاله الله يوم القيامة.

قال عكرمة: قال الله تعالى ليوسف بن يعقوب: بعفوك عن إخوانك رفعت ذكرك في الدارين.

قالت عائشة رضي الله عنها: ما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه قط إلا أن تنتهك حرمة الله فينتقم لله.

وقال ابن عباس رضي الله عنهما: ما عفا رجل عن مظلمة إلا زاده الله بها عزاً.

وقال صلى الله عليه وسلم: ما نقص مال من صدقة، وما زاد الله رجلاً بعفو إلا عزاً، وما من أحد تواضع لله إلا رفعه الله.

ومنها أن يحسن إلى كل من قدر عليه منهم ما استطاع، لا يميز بين الأهل وغير الأهل.

روى علي بن الحسين عن أبيه عن جده رضي الله عنهم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اصنع المعروف في أهله وفي غير أهله، فإن أصبت أهله فهو أهله، وإن لم تصب أهله فأنت من أهله.

وعنه بإسناده قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رأس العقل بعد الدين التودد إلى الناس واصطناع المعروف إلى كل بر وفاجر.

قال أبو هريرة: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يأخذ أحد بيده فينزع يده حتى يكون الرجل هو الذي يرسلها، ولم تكن ترى ركبته خارجة عن ركبة جليسه، ولم يكن أحد يكلمه إلا أقبل عليه بوجهه، ثم لم يصرفه عنه حتى يفرغ من كلامه.

Terjemahan Lengkap

Di antara hak seorang Muslim adalah bersikap rendah hati kepada setiap Muslim dan tidak menyombongkan diri terhadapnya, karena Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawaduk, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain.”

Kemudian, apabila orang lain menyombongkan diri terhadapnya, hendaknya ia bersabar dan menahannya.

Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

“Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang ma‘ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Diriwayatkan dari Ibn Abī Aufā bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa bersikap rendah hati kepada setiap Muslim. Beliau tidak merasa enggan dan tidak menyombongkan diri untuk berjalan bersama seorang janda atau orang miskin demi membantu memenuhi kebutuhannya.

Di antara hak seorang Muslim pula adalah tidak mendengarkan berita-berita yang dibawa seseorang tentang orang lain dengan tujuan mengadu domba, dan tidak menyampaikan kepada seseorang apa yang ia dengar dari orang lain dengan cara yang menimbulkan kerusakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga seorang qattāt.”

Qattāt adalah orang yang suka membawa-bawa pembicaraan atau berita seseorang kepada orang lain untuk menimbulkan kerusakan dan permusuhan.

Al-Khalīl bin Aḥmad berkata:

“Barang siapa membawa berita tentang seseorang kepadamu, ia juga akan membawa berita tentangmu kepada orang lain. Dan barang siapa memberitahukan kepadamu berita tentang orang lain, ia juga akan memberitahukan kepada orang lain berita tentangmu.”

Di antara hak seorang Muslim adalah tidak memperpanjang pemutusan hubungan dengan orang yang dikenalnya lebih dari tiga hari, betapapun besar kemarahannya kepadanya.

Abū Ayyūb al-Anṣārī meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu juga berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah orang yang lebih dahulu mengucapkan salam.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa membebaskan seorang Muslim dari kesulitannya dan memaklumi kesalahannya, Allah akan membebaskannya dari kesulitannya pada hari kiamat.”

‘Ikrimah berkata bahwa Allah Ta‘ala berfirman kepada Yusuf bin Ya‘qub:

“Dengan engkau memaafkan saudara-saudaramu, Aku mengangkat penyebutanmu di dua negeri.”

‘Āisyah رضي الله عنها berkata:

“Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas untuk kepentingan dirinya sendiri sama sekali, kecuali apabila kehormatan Allah dilanggar; maka beliau membalas karena Allah.”

Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata:

“Tidaklah seseorang memaafkan suatu kezalimaan yang dilakukan terhadapnya, melainkan Allah akan menambah kemuliaan kepadanya karena sikap memaafkannya itu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Harta tidak berkurang karena sedekah. Allah tidak menambah bagi seseorang karena ia memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”

Di antara hak seorang Muslim pula adalah berbuat baik kepada setiap orang dari kalangan mereka yang mampu ia bantu, sesuai dengan kemampuannya, tanpa membeda-bedakan antara orang yang dekat dan yang tidak dekat.

‘Alī bin al-Ḥusain meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya رضي الله عنهم, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berbuatlah kebaikan kepada orang yang memang layak menerimanya dan kepada orang yang tidak termasuk orang yang layak menerimanya. Jika kebaikanmu tepat mengenai orang yang layak menerimanya, maka ia memang berhak atas kebaikan itu. Dan jika kebaikanmu tidak tepat mengenai orang yang layak menerimanya, maka engkau sendiri termasuk orang yang memiliki sifat kebaikan.”

Dalam riwayat lain melalui sanadnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puncak kecerdasan setelah agama adalah menjalin kasih sayang dengan manusia dan melakukan kebaikan kepada setiap orang, baik orang yang saleh maupun orang yang durhaka.”

Abū Hurairah رضي الله عنه berkata:

“Rasulullah ﷺ tidak pernah menggenggam tangan seseorang lalu melepaskannya sebelum orang tersebutlah yang melepaskan tangannya. Lutut beliau tidak pernah terlihat berada lebih jauh daripada lutut orang yang duduk bersamanya. Dan tidaklah seseorang berbicara kepada beliau kecuali beliau menghadapkan wajah kepadanya. Beliau tidak memalingkan wajah darinya sampai orang tersebut selesai berbicara.”

Artikel Pengembangan

Tawaduk Bukan Kehinaan

Tawaduk sering disalahpahami sebagai merendahkan diri secara berlebihan. Padahal, yang dimaksud adalah meninggalkan kesombongan dan tidak memandang diri lebih tinggi daripada orang lain.

Seseorang boleh memiliki ilmu, kedudukan, kekayaan, pengalaman, atau keahlian yang lebih tinggi. Namun semua kelebihan tersebut tidak memberikan alasan untuk menghina orang lain.

Al-Ghazālī menghubungkan tawaduk dengan larangan kibr dan fakhr: tidak merasa tinggi atas orang lain dan tidak membanggakan kelebihan diri.

Tawaduk Rasulullah ﷺ kepada Orang Lemah

Al-Ghazālī menghadirkan contoh praktis dari kehidupan Rasulullah ﷺ.

Beliau tidak merasa rendah untuk berjalan bersama janda dan orang miskin demi memenuhi kebutuhan mereka.

Ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah status sosial seseorang. Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi beliau tetap berinteraksi dengan orang-orang yang secara sosial berada dalam kondisi lemah.

Tawaduk yang benar justru terlihat ketika seseorang mampu bersikap tinggi tetapi memilih untuk rendah hati.

Bahaya Membawa Berita

Islam sangat memperhatikan bahaya berita yang disampaikan dari satu orang kepada orang lain.

Tidak setiap berita harus diteruskan.

Seseorang mungkin mendengar sebuah perkataan dalam suatu percakapan. Jika ia menyampaikannya kepada orang yang menjadi sasaran pembicaraan, akibatnya bisa berupa kemarahan, permusuhan, bahkan putusnya hubungan.

Karena itu, al-Ghazālī mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadi perantara kerusakan melalui berita.

Jangan Memperpanjang Permusuhan

Manusia dapat marah. Perselisihan juga mungkin terjadi.

Namun Islam tidak membiarkan kemarahan berkembang menjadi permusuhan tanpa batas. Teks ini memberikan batas tiga hari untuk tidak berbicara karena perselisihan pribadi.

Bahkan di antara dua orang yang sedang berselisih, orang yang lebih baik adalah orang yang lebih dahulu mengucapkan salam.

Ini merupakan pendidikan jiwa yang sangat kuat: seseorang harus mampu mengalahkan gengsi demi memperbaiki hubungan.

Memaafkan Adalah Kemuliaan

Memaafkan sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal dalam ajaran yang dikutip al-Ghazālī, memaafkan justru menjadi sebab bertambahnya kemuliaan.

Orang yang mampu membalas tetapi memilih memaafkan karena Allah menunjukkan kekuatan pengendalian diri.

Namun memaafkan tidak berarti membenarkan kezaliman. Seseorang tetap boleh mencari keadilan dan melindungi dirinya dari bahaya. Yang ditekankan adalah jangan menjadikan sakit hati sebagai alasan untuk melakukan kezaliman baru.

Rasulullah ﷺ Tidak Membalas untuk Kepentingan Pribadi

Pernyataan ‘Āisyah رضي الله عنها menggambarkan akhlak Rasulullah ﷺ yang sangat tinggi.

Beliau tidak menjadikan persoalan pribadi sebagai alasan untuk membalas dendam. Akan tetapi, ketika kehormatan dan ketentuan Allah dilanggar, sikap beliau berubah menjadi pembelaan terhadap kebenaran.

Ini memberikan perbedaan penting antara:

  • membalas karena ego pribadi, dan
  • bertindak demi membela kebenaran dan kehormatan agama.

Berbuat Baik kepada Siapa Pun

Al-Ghazālī kemudian membawa pembahasan kepada prinsip iḥsān.

Kebaikan tidak harus diberikan hanya kepada orang yang kita sukai. Jika seseorang mampu membantu, ia hendaknya berbuat baik sesuai kemampuannya.

Ada orang yang mungkin tidak menghargai kebaikan kita. Ada pula yang mungkin bukan orang dekat kita. Namun nilai kebaikan tidak selalu bergantung pada balasan manusia.

Ungkapan:

“Jika kebaikanmu tidak tepat mengenai orang yang layak menerimanya, maka engkau sendiri termasuk orang yang memiliki sifat kebaikan.”

mengandung pelajaran bahwa kebaikan pertama-tama membentuk karakter orang yang melakukannya.

Penjelasan

1. Tawaduk kepada Setiap Muslim

Tawaduk berarti tidak merasa lebih tinggi karena ilmu, harta, nasab, jabatan, atau status sosial.

Seorang Muslim harus mampu menghormati orang lain tanpa melihat rendah kedudukannya.

2. Tidak Terpengaruh oleh Kesombongan Orang Lain

Jika seseorang menyombongkan diri kepada kita, kita tidak harus membalas kesombongan dengan kesombongan.

Sikap yang lebih utama adalah menahan diri dan menjaga akhlak.

3. Menjauhi Namīmah

Namīmah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan cara yang menyebabkan kerusakan hubungan atau permusuhan.

Karena itu, tidak semua informasi yang benar boleh disampaikan kepada setiap orang. Kebenaran sebuah berita tidak otomatis membuat penyampaiannya menjadi maslahat.

4. Batas Hajr karena Perselisihan

Teks ini menyebut larangan memperpanjang hajr—memutus atau mendiamkan saudara karena kemarahan pribadi—lebih dari tiga hari.

Tujuannya adalah membuka jalan bagi perdamaian.

5. Menjadi Orang Pertama yang Mengucapkan Salam

Ketika dua orang berselisih, masing-masing mungkin menunggu pihak lain untuk memulai.

Al-Ghazālī mengutip hadis bahwa orang yang lebih baik adalah yang memulai salam.

Ini mengajarkan agar seseorang tidak dikalahkan oleh gengsi.

6. Memaafkan Kesalahan

Memaafkan adalah bentuk pengendalian diri.

Seseorang yang memaafkan tidak berarti tidak menyadari kesalahan. Ia menyadarinya, tetapi memilih untuk tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai alasan melakukan kezaliman.

7. Tawaduk Mengangkat Derajat

Hadis yang dikutip al-Ghazālī mengandung prinsip paradoks akhlak:

Orang yang merendahkan diri karena Allah justru diangkat oleh Allah.

Semakin seseorang meninggalkan kesombongan, semakin tinggi nilai akhlaknya.

8. Berbuat Baik Tanpa Menunggu Balasan

Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak selalu menuntut imbalan.

Jika seseorang mampu membantu, ia melakukannya karena itu adalah kebaikan, bukan semata-mata karena penerimanya akan membalas.

9. Adab Rasulullah ﷺ ketika Berbicara

Riwayat Abū Hurairah menggambarkan perhatian Rasulullah ﷺ kepada lawan bicara.

Beliau menghadapkan wajah kepada orang yang berbicara kepadanya dan tidak memalingkan perhatian sampai pembicaraan selesai.

Ini merupakan adab komunikasi yang sangat tinggi: memberikan perhatian kepada orang yang sedang berbicara.

10. Menghormati Orang Lain dengan Sikap Tubuh

Tidak hanya ucapan yang mencerminkan akhlak. Cara duduk, berjabat tangan, memandang, dan mendengarkan juga dapat menunjukkan penghormatan.

Akhlak Rasulullah ﷺ tercermin bahkan dalam gerakan-gerakan kecil ketika berinteraksi dengan manusia.

Contoh

Contoh 1: Tidak Sombong karena Ilmu

Seorang guru memiliki ilmu yang jauh lebih luas daripada muridnya. Namun ketika murid bertanya, ia menjawab dengan sabar dan tidak mempermalukannya.

Inilah bentuk tawaduk dalam hubungan pendidikan.

Contoh 2: Menolak Menjadi Pembawa Berita

Seseorang berkata kepada temannya:

“Jangan sampaikan ini kepada siapa-siapa, tetapi sebenarnya Fulan mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu.”

Daripada meneruskan perkataan tersebut, seseorang yang memahami adab Islam memilih menghentikan pembicaraan agar tidak menjadi sumber permusuhan.

Contoh 3: Mengakhiri Perselisihan

Dua sahabat berselisih dan selama beberapa waktu tidak saling berbicara. Salah satunya kemudian mengalah dan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Menurut prinsip yang dijelaskan al-Ghazālī, tindakan tersebut merupakan sikap yang lebih utama daripada mempertahankan gengsi.

Contoh 4: Memaafkan

Seseorang pernah dihina oleh temannya. Ia memiliki kesempatan untuk membalas penghinaan tersebut, tetapi memilih memaafkan dan tidak membalas dengan penghinaan.

Ini merupakan latihan jiwa untuk mengendalikan kemarahan.

Contoh 5: Berbuat Baik kepada Orang yang Tidak Dekat

Seseorang melihat orang lain membutuhkan bantuan. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan keluarga atau persahabatan, ia tetap membantu sesuai kemampuannya.

Ia tidak menunggu adanya hubungan khusus untuk berbuat baik.

Contoh 6: Mendengarkan dengan Penuh Perhatian

Ketika seseorang berbicara, lawan bicaranya tidak sibuk melihat telepon, memalingkan wajah, atau memotong pembicaraan.

Ia mendengarkan sampai selesai dan memberikan respons dengan baik.

Adab sederhana ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada manusia.

Kesimpulan

Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa hak seorang Muslim mencakup sejumlah akhlak yang sangat penting: tawaduk, tidak sombong, tidak menjadi pembawa berita yang merusak hubungan, tidak memperpanjang permusuhan, segera mengucapkan salam, memaafkan kesalahan, berbuat baik, dan menghormati orang lain dalam komunikasi.

Tawaduk menjaga hati dari kesombongan. Menjauhi namīmah menjaga hubungan dari kerusakan. Tidak memperpanjang hajr membuka pintu perdamaian. Memaafkan membebaskan hati dari dendam. Sedangkan berbuat baik menjadikan seseorang sebagai sumber manfaat bagi orang lain.

Akhlak tersebut semakin sempurna ketika diterapkan dalam perilaku sehari-hari sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ: beliau rendah hati kepada orang-orang lemah, membantu memenuhi kebutuhan mereka, mendengarkan orang yang berbicara, dan tidak membalas keburukan pribadi dengan keburukan.

Hikmah

  1. Tawaduk adalah tanda kemuliaan akhlak, bukan kehinaan.
  2. Kesombongan merusak hubungan antarmanusia.
  3. Tidak semua berita layak didengar atau disampaikan.
  4. Namīmah dapat menghancurkan persaudaraan.
  5. Perselisihan tidak boleh dibiarkan menjadi permusuhan berkepanjangan.
  6. Orang yang lebih baik adalah orang yang berinisiatif membuka jalan perdamaian.
  7. Memaafkan dapat menjadi sebab datangnya kemuliaan dari Allah.
  8. Membalas dendam karena kepentingan pribadi bukan akhlak yang utama.
  9. Berbuat baik tidak harus menunggu seseorang menjadi orang dekat kita.
  10. Kebaikan yang dilakukan kepada orang yang tidak layak sekalipun tetap membentuk pelakunya sebagai orang baik.
  11. Mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian merupakan bagian dari adab.
  12. Akhlak Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa tawaduk harus diwujudkan dalam perilaku nyata.

Penutup

Persaudaraan Islam tidak akan kuat hanya dengan banyaknya pertemanan. Ia membutuhkan hati yang rendah, lisan yang terjaga, jiwa yang mudah memaafkan, dan tangan yang senang memberikan manfaat.

Seseorang yang mampu menahan kesombongan, tidak membawa berita yang merusak hubungan, tidak memperpanjang permusuhan, segera berdamai, memaafkan kesalahan, dan terus berbuat baik kepada manusia sedang membangun akhlak yang sangat tinggi.

Pelajaran dari al-Ghazālī ini juga menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tampak pada kedudukannya di hadapan manusia, tetapi pada bagaimana ia memperlakukan manusia ketika ia memiliki kesempatan untuk menyombongkan diri, membalas, atau menyakiti.

Karena itu, tawaduklah ketika memiliki kelebihan, maafkan ketika mampu membalas, diamlah ketika sebuah berita hanya akan menimbulkan kerusakan, dan berbuat baiklah ketika memiliki kesempatan. Dengan akhlak semacam inilah persaudaraan menjadi kuat dan kehidupan sosial dipenuhi kasih sayang serta kedamaian.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Hak-Hak Seorang Muslim Terhadap Muslim Lain: Mengucapkan Salam, MenjengukOrang Sakit, Menolong dan Tidak Menyakiti (02/05/77)

Hak Sesama Muslim, Kerabat, Tetangga, dan Hamba Sahaya Menurut Imamal-Ghazali (02/05/76)

Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak MenurutImam al-Ghazali (02/05/79)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...