Pendahuluan
Islam mengajarkan bahwa hubungan
antarmanusia harus dibangun di atas adab. Seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk
berbuat baik, tetapi juga mengetahui bagaimana cara berinteraksi dengan
orang lain sesuai keadaan, usia, kedudukan, dan kebutuhan mereka.
Imam al-Ghazali رحمه الله melanjutkan pembahasan tentang hak-hak
seorang Muslim dengan menjelaskan beberapa adab penting. Di antaranya adalah
meminta izin sebelum memasuki rumah atau tempat seseorang, tidak memaksakan
diri ketika izin tidak diberikan, bergaul dengan manusia menggunakan akhlak
yang baik, serta menyesuaikan cara berbicara dengan tingkat pemahaman orang
yang diajak berinteraksi.
Beliau juga memberikan perhatian
khusus terhadap dua kelompok: orang-orang yang lebih tua dan anak-anak.
Orang yang lebih tua harus dihormati dan anak-anak harus disayangi.
Adab tersebut bukan sekadar teori.
Rasulullah ﷺ sendiri menjadi teladan dalam praktiknya.
Beliau menghormati orang tua, memberikan kesempatan kepada mereka untuk
berbicara, dan memperlakukan anak-anak dengan kelembutan yang luar biasa.
Sumber
Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
Pengarang: Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H
Pembahasan: Hak dan adab seorang Muslim dalam pergaulan.
Pengarang
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī رحمه الله,
wafat pada tahun 505 H.
Dalam pembahasan ini, beliau
menjelaskan prinsip-prinsip adab sosial yang mencakup meminta izin, bergaul
dengan akhlak yang baik, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, serta
mengambil teladan dari kelembutan Rasulullah ﷺ.
Teks Arab
ومن آداب
معاشرة المسلمين
ومنها أن لا يدخل على أحد منهم إلا
بإذنه، بل يستأذن ثلاثا فإن لم يؤذن له انصرف.
قال أبو هريرة رضي الله عنه قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم:
الاستئذان ثلاث فالأولى يستنصتون
والثانية يستصلحون والثالثة يأذنون أو يردون.
ومنها أن يخالق الجميع بخلق حسن،
ويعاملهم بحسب طريقتهم، فإنه إن أراد لقاء الجاهل بالعلم، والأمي بالفقه، والعيي
بالبيان، آذى وتأذى.
ومنها أن يوقر المشايخ، ويرحم
الصبيان. قال جابر رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس منا من لم يوقر كبيرنا ولم يرحم صغيرنا.
وقال صلى الله عليه وسلم: من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم.
ومن تمام توقير المشايخ أن لا يتكلم
بين أيديهم إلا بالإذن. وقال جابر: قدم وفد جهينة على النبي صلى الله عليه وسلم،
فقام غلام ليتكلم، فقال صلى الله عليه وسلم:
مه، فأين الكبير؟
وفي الخبر:
وما وقر شاب شيخا إلا قيض الله له في
سنه من يوقره.
وهذه بشارة بدوام الحياة، فليتنبه
لها، فلا يوفق لتوقير المشايخ إلا من قضى الله له بطول العمر.
وقال صلى الله عليه وسلم: لا تقوم الساعة حتى يكون الولد غيظا، والمطر قيظا، وتفيض
اللئام فيضا، وتغيض الكرام غيضا، ويجترئ الصغير على الكبير، واللئيم على الكريم.
والتلطف بالصبيان من عادة رسول الله صلى
الله عليه وسلم.
كان صلى الله عليه وسلم يقدم من السفر
فيتلقاه الصبيان، فيقف عليهم، ثم يأمر بهم فيرفعون إليه، فيرفع منهم بين يديه ومن
خلفه.
ويأمر أصحابه أن يحملوا بعضهم.
فربما تفاخر الصبيان بعد ذلك، فيقول
بعضهم لبعض: حملني رسول الله صلى الله عليه وسلم بين يديه وحملك أنت وراءه، ويقول
بعضهم: أمر أصحابه أن يحملوك وراءهم.
وكان يؤتى بالصبي الصغير ليدعو له
بالبركة وليسميه، فيأخذه فيضعه في حجره، فربما بال الصبي، فيصيح به بعض من يراه
فيقول: لا تزرموا الصبي بوله، فيدعه حتى يقضي بوله، ثم يفرغ من
دعائه له وتسميته، ويبلغ سرور أهله فيه، لئلا يروا أنه تأذى ببوله، فإذا انصرفوا
غسل ثوبه بعده.
Terjemahan Lengkap
Di antara adab seorang Muslim adalah
tidak memasuki tempat seseorang kecuali setelah mendapatkan izinnya.
Bahkan, hendaknya ia meminta izin sebanyak tiga kali. Jika tidak diberikan
izin, maka ia harus pergi.
Abū Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Meminta izin itu tiga kali. Pada
yang pertama, mereka mempersiapkan diri untuk mendengar; pada yang kedua,
mereka mempersiapkan diri; dan pada yang ketiga, mereka memberikan izin atau
menolak.”
Di antara adab tersebut adalah bergaul
dengan semua orang menggunakan akhlak yang baik dan memperlakukan mereka sesuai
dengan keadaan mereka.
Sebab, jika seseorang hendak
menghadapi orang yang bodoh dengan ilmu, orang yang tidak berpendidikan dengan
pembahasan fikih, dan orang yang tidak mampu mengungkapkan maksudnya dengan
penjelasan yang rumit, maka ia akan menyakiti dan dirinya sendiri pun akan
merasa tersakiti.
Di antara adab tersebut adalah menghormati
orang-orang tua dan menyayangi anak-anak.
Jābir رضي
الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang
yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami dan tidak menyayangi
anak kecil di antara kami.”
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
“Termasuk bentuk mengagungkan Allah
adalah memuliakan seorang Muslim yang telah beruban.”
Termasuk kesempurnaan dalam
menghormati orang-orang tua adalah tidak berbicara di hadapan mereka kecuali
dengan izin.
Jābir berkata:
“Rombongan dari Juhainah datang
menghadap Nabi ﷺ. Lalu seorang anak
muda berdiri hendak berbicara. Rasulullah ﷺ
bersabda:
‘Tunggu! Di manakah orang yang lebih
tua?’”
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
“Tidaklah seorang pemuda menghormati
seorang yang lebih tua, melainkan Allah akan menyediakan baginya, ketika ia
mencapai usia tuanya, orang yang akan menghormatinya.”
Ini merupakan kabar gembira tentang
keberlangsungan hidup hingga usia tua. Maka hendaknya hal ini diperhatikan.
Seseorang tidak akan diberi taufik untuk menghormati orang-orang tua kecuali
orang yang Allah takdirkan memperoleh umur panjang.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga
anak menjadi sumber kejengkelan, hujan menjadi panas, orang-orang hina meluas,
orang-orang mulia berkurang, orang yang lebih muda berani terhadap orang yang
lebih tua, dan orang yang hina berani terhadap orang yang mulia.”
Bersikap lembut dan penuh kasih
kepada anak-anak merupakan kebiasaan Rasulullah ﷺ.
Ketika beliau pulang dari
perjalanan, anak-anak biasa menyambut beliau. Beliau berhenti menemui mereka.
Kemudian beliau meminta agar anak-anak itu diangkat kepadanya, lalu beliau
menaikkan sebagian dari mereka ke bagian depan dan sebagian lainnya ke
belakang.
Beliau juga memerintahkan para
sahabatnya agar membawa sebagian dari anak-anak tersebut.
Terkadang setelah itu anak-anak
tersebut saling membanggakan diri. Sebagian dari mereka berkata kepada yang
lain:
“Rasulullah ﷺ mengangkatku di bagian depan, sedangkan engkau di bagian
belakang.”
Sebagian yang lain berkata:
“Beliau memerintahkan para
sahabatnya agar membawamu di belakang mereka.”
Pernah pula seorang anak kecil
dibawa kepada Rasulullah ﷺ agar beliau
mendoakannya memperoleh keberkahan dan memberinya nama. Beliau mengambil anak
tersebut dan meletakkannya di pangkuannya.
Terkadang anak itu kencing ketika
berada di pangkuannya. Sebagian orang yang melihatnya lalu berteriak kepada
anak tersebut. Maka beliau berkata:
“Jangan menghentikan kencing anak
itu.”
Beliau membiarkannya sampai anak
tersebut selesai buang air kecil. Setelah itu beliau menyelesaikan doa untuk
keberkahannya dan memberikan nama kepadanya.
Beliau melakukan hal tersebut agar
keluarganya merasa senang dan tidak melihat bahwa beliau merasa terganggu
karena anak itu buang air kecil di pangkuannya.
Setelah mereka pergi, beliau mencuci
pakaiannya.
Artikel
Pengembangan
Adab
Meminta Izin adalah Bentuk Menghormati Privasi
Meminta izin bukan sekadar
formalitas. Ia merupakan bentuk penghormatan terhadap privasi, waktu,
keadaan, dan hak seseorang.
Seseorang mungkin sedang
beristirahat, sedang bersama keluarganya, sedang menyelesaikan pekerjaan, atau
sedang berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan menerima tamu.
Karena itu, Islam tidak membenarkan
seseorang menerobos masuk hanya karena merasa mengenal pemilik rumah.
Tiga
Kali Meminta Izin, Kemudian Pergi
Jika seseorang telah meminta izin
dan tidak mendapatkan jawaban, ia tidak boleh terus-menerus mengetuk pintu atau
memanggil dari luar.
Tiga kali merupakan batas yang
disebutkan dalam teks. Jika setelah itu tidak ada izin, maka adabnya adalah
kembali.
Ini mendidik seseorang untuk
menerima bahwa tidak semua pintu akan terbuka untuknya pada setiap waktu.
Bergaul
Sesuai Keadaan Orang yang Dihadapi
Imam al-Ghazālī memberikan prinsip
penting dalam komunikasi: manusia memiliki tingkat pemahaman yang berbeda.
Orang berilmu memiliki cara berpikir
yang berbeda dengan orang awam. Orang yang terbiasa dengan pembahasan ilmiah
mungkin dapat memahami istilah yang sulit, sedangkan orang yang belum memiliki
dasar ilmu mungkin justru merasa terbebani oleh istilah tersebut.
Karena itu, orang yang memiliki ilmu
hendaknya tidak menggunakan ilmunya untuk menunjukkan keunggulan dirinya.
Ilmu seharusnya menjadi jembatan
untuk memahami manusia, bukan alat untuk membuat orang lain merasa bodoh.
Menghormati
Orang yang Lebih Tua
Penghormatan kepada orang yang lebih
tua merupakan bagian dari adab Islam.
Usia membawa pengalaman. Karena itu,
seorang yang lebih muda hendaknya memberikan kesempatan kepada orang yang lebih
tua, mendengarkannya, dan tidak terburu-buru mengambil tempat atau pembicaraan.
Kisah delegasi Juhainah menunjukkan
bagaimana Rasulullah ﷺ mengarahkan perhatian
kepada orang yang lebih tua ketika seorang anak muda hendak berbicara terlebih
dahulu.
Menyayangi
Anak-Anak
Islam juga tidak mengajarkan agar
anak-anak diperlakukan dengan keras tanpa kasih sayang.
Rasulullah ﷺ
memperlihatkan kelembutan kepada mereka. Beliau menemui anak-anak, mengangkat
mereka, membiarkan mereka berada dekat dengan beliau, dan memperhatikan
kebahagiaan mereka.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kasih
sayang kepada anak merupakan bagian dari akhlak kenabian.
Kesabaran
Rasulullah ﷺ terhadap Anak Kecil
Bagian terakhir teks memberikan
gambaran yang sangat kuat.
Seorang anak kecil buang air kecil
di pangkuan Rasulullah ﷺ. Secara manusiawi,
pakaian beliau tentu menjadi kotor dan harus dicuci.
Namun Rasulullah ﷺ tidak mempermalukan anak itu. Beliau bahkan melarang orang lain
menghentikan anak tersebut sebelum selesai.
Setelah anak itu selesai, beliau
tetap menyelesaikan doa dan pemberian nama untuknya. Setelah keluarganya pergi,
barulah beliau mencuci pakaiannya.
Di sini terlihat perbedaan antara kesabaran
terhadap kesalahan yang tidak disengaja dan sikap membiarkan kesalahan.
Anak kecil belum memahami semua
adab. Karena itu, ia membutuhkan pendidikan dengan kelembutan, bukan
penghinaan.
Penjelasan
1.
Meminta Izin Sebelum Masuk
لا
يدخل على أحد منهم إلا بإذنه
Artinya seseorang tidak boleh masuk
ke tempat orang lain tanpa izin.
Adab ini berlaku meskipun seseorang
merasa sangat dekat dengan pemilik rumah.
2.
Meminta Izin Tiga Kali
يستأذن
ثلاثا
Meminta izin dilakukan sampai tiga
kali. Jika tidak memperoleh izin, seseorang tidak boleh memaksa.
3.
Tidak Mendapat Izin Berarti Pergi
فإن
لم يؤذن له انصرف
Jika izin tidak diberikan, ia harus
pergi dengan lapang dada.
Tidak adanya izin tidak selalu
berarti pemilik rumah membenci tamunya. Bisa saja ia memiliki keadaan tertentu
yang membuatnya tidak dapat menerima tamu.
4.
Berakhlak Baik kepada Semua Orang
أن
يخالق الجميع بخلق حسن
Akhlak yang baik tidak hanya
diberikan kepada orang yang kita sukai.
Imam al-Ghazālī menggunakan kata الجميع, yaitu “semua orang”.
5.
Menyesuaikan Cara Berkomunikasi
Seseorang harus memperhatikan
kemampuan lawan bicara.
Pengetahuan yang disampaikan dengan
cara yang tidak sesuai justru dapat menjadi sebab kesulitan.
6.
Menghormati Orang yang Lebih Tua
يوقر
المشايخ
Yūaqqir berarti memberikan penghormatan dan penghargaan.
Penghormatan ini dapat diwujudkan
dengan mendahulukan mereka dalam situasi yang sesuai, mendengarkan perkataan
mereka, dan tidak meremehkan pengalaman mereka.
7.
Menyayangi Anak
يرحم
الصبيان
Anak-anak membutuhkan kasih sayang,
perhatian, dan pendidikan.
Kasih sayang tidak berarti
membiarkan kesalahan. Pendidikan tetap diberikan, tetapi dilakukan sesuai usia
dan kemampuan anak.
8.
Menghormati Orang Tua sebagai Bentuk Mengagungkan Allah
Hadis:
من
إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم
menunjukkan hubungan antara
penghormatan kepada seorang Muslim yang telah lanjut usia dan pengagungan
terhadap Allah.
Yang dihormati bukan sekadar usia
biologisnya, tetapi kemuliaan seorang Muslim yang telah mencapai usia tua.
9.
Memberikan Ruang kepada yang Lebih Tua
Ketika seorang anak muda hendak
berbicara di hadapan orang-orang yang lebih tua, Rasulullah ﷺ mengarahkannya:
مه،
فأين الكبير؟
“Berhenti/tunggu, di manakah orang
yang lebih tua?”
Ini menunjukkan pentingnya
mempertimbangkan urutan dan adab dalam sebuah majelis.
10.
Kelembutan kepada Anak adalah Sunnah Akhlak
Rasulullah ﷺ
tidak menjaga jarak dari anak-anak. Beliau justru mendekati mereka, berbicara
dengan mereka, dan membuat mereka merasa diperhatikan.
11.
Tidak Mempermalukan Anak karena Kesalahan yang Tidak Disengaja
Anak kecil belum mampu mengendalikan
semua perilakunya.
Karena itu, ketika terjadi kesalahan
yang tidak disengaja, orang dewasa hendaknya tidak langsung memarahinya dengan
cara yang membuatnya takut atau malu.
12.
Menjaga Perasaan Keluarga
Rasulullah ﷺ
menyelesaikan doa dan pemberian nama untuk anak tersebut agar keluarganya tetap
merasa bahagia dan tidak melihat bahwa beliau terganggu.
Ini menunjukkan perhatian beliau
bukan hanya kepada anak, tetapi juga kepada perasaan keluarganya.
Contoh
Contoh
1: Bertamu
Seseorang datang ke rumah temannya
lalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah beberapa kali tidak ada
jawaban, ia tidak memaksa masuk. Ia kemudian pulang.
Ini merupakan bentuk penghormatan
terhadap privasi.
Contoh
2: Tidak Memaksa Masuk
Seseorang mengetahui bahwa temannya
sedang berada di rumah. Namun karena tidak mendapatkan izin masuk, ia tetap
menunggu atau kembali pada waktu lain.
Mengetahui seseorang berada di rumah
tidak otomatis berarti mendapatkan izin untuk masuk.
Contoh
3: Menjelaskan Ilmu kepada Orang Awam
Seorang ustaz menjelaskan masalah
fikih kepada masyarakat umum. Ia menggunakan bahasa sederhana dan memberikan
contoh yang mudah dipahami.
Ia tidak menggunakan istilah yang
rumit hanya untuk menunjukkan keluasan ilmunya.
Contoh
4: Memberikan Kesempatan kepada Orang Tua
Dalam sebuah pertemuan, seorang
pemuda ingin segera menyampaikan pendapatnya. Namun ada seorang yang lebih tua
yang telah lama hadir dan memiliki pengalaman dalam persoalan tersebut.
Ia memberikan kesempatan terlebih
dahulu kepadanya.
Contoh
5: Menghadapi Kesalahan Anak
Seorang anak menumpahkan air di
ruang tamu. Orang tuanya tidak langsung memaki atau mempermalukannya.
Ia mengajarkan anak tersebut cara
membersihkan tumpahan dan menjelaskan agar lebih berhati-hati.
Contoh
6: Menghormati Anak
Ketika bertemu anak kecil, seseorang
tidak menganggapnya tidak penting. Ia menyapa, tersenyum, dan berbicara dengan
bahasa yang dapat dipahaminya.
Contoh
7: Tidak Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain
Seorang anak melakukan kesalahan di
hadapan banyak orang. Orang dewasa tidak menjadikannya bahan tertawaan.
Ia memperbaikinya dengan cara yang
lembut agar anak tetap merasa dihargai.
Kesimpulan
Imam al-Ghazālī mengajarkan bahwa
adab pergaulan mencakup menghormati privasi, meminta izin, menerima
penolakan dengan lapang dada, berkomunikasi sesuai kemampuan orang lain,
menghormati orang yang lebih tua, dan menyayangi anak-anak.
Rasulullah ﷺ
memberikan teladan nyata dalam seluruh aspek tersebut.
Beliau tidak membenarkan seseorang
memasuki tempat orang lain tanpa izin. Beliau juga mengajarkan agar seseorang
tidak memaksakan diri ketika tidak memperoleh izin.
Dalam hubungan sosial, beliau
mengajarkan penghormatan kepada orang tua dan kasih sayang kepada anak-anak.
Bahkan dalam keadaan pakaian beliau terkena kotoran karena seorang anak kecil
buang air kecil di pangkuannya, beliau tetap menunjukkan kesabaran dan
kelembutan.
Hikmah
- Meminta izin merupakan bentuk penghormatan terhadap
privasi.
- Tidak mendapatkan izin harus diterima dengan lapang dada.
- Adab mengajarkan seseorang untuk tidak memaksakan
kehendak.
- Cara berbicara harus disesuaikan dengan kemampuan lawan
bicara.
- Ilmu tidak boleh digunakan untuk merendahkan orang
lain.
- Orang yang lebih tua memiliki hak untuk dihormati.
- Anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang.
- Kesalahan anak yang tidak disengaja hendaknya dihadapi
dengan kelembutan.
- Rasulullah ﷺ
memberikan perhatian kepada anak-anak tanpa merendahkan mereka.
- Menjaga perasaan keluarga merupakan bagian dari akhlak
yang baik.
- Kelembutan tidak berarti meninggalkan pendidikan dan
disiplin.
- Akhlak yang baik harus diterapkan kepada semua lapisan
masyarakat.
Penutup
Adab dalam Islam bukan hanya tentang
mengetahui apa yang benar, tetapi juga mengetahui bagaimana menerapkannya
kepada manusia dengan cara yang tepat.
Meminta izin mengajarkan
penghormatan terhadap privasi. Tawaduk mengajarkan penghormatan kepada sesama.
Menghormati orang tua menjaga nilai pengalaman dan kematangan. Sedangkan
menyayangi anak-anak menumbuhkan lingkungan yang penuh kasih sayang.
Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa akhlak yang luhur terlihat dalam
perkara-perkara yang tampak sederhana: cara memasuki rumah orang lain, cara
berbicara dalam majelis, cara memperlakukan orang tua, bahkan cara menghadapi
seorang anak kecil yang melakukan kesalahan tanpa sengaja.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya
berusaha menjadi pribadi yang tidak memaksakan diri, menghormati yang lebih
tua, menyayangi yang lebih muda, memahami keadaan orang lain, dan memperlakukan
setiap manusia dengan akhlak yang baik.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Adab kepada Sesama Muslim: Tawaduk, Memaafkan, Tidak Mengadu Domba danBerbuat Baik (02/05/78)
Akhlak Ramah, Wajah Ceria, dan Perkataan Baik Menurut Imam al-Ghazali(02/05/80)

.png)
0 Komentar