Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak Menurut Imam al-Ghazali (02/05/79)

Imam al-Ghazali menjelaskan adab meminta izin, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, dan bergaul dengan manusia sesuai keadaannya

Pendahuluan

Islam mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia harus dibangun di atas adab. Seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk berbuat baik, tetapi juga mengetahui bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain sesuai keadaan, usia, kedudukan, dan kebutuhan mereka.

Imam al-Ghazali رحمه الله melanjutkan pembahasan tentang hak-hak seorang Muslim dengan menjelaskan beberapa adab penting. Di antaranya adalah meminta izin sebelum memasuki rumah atau tempat seseorang, tidak memaksakan diri ketika izin tidak diberikan, bergaul dengan manusia menggunakan akhlak yang baik, serta menyesuaikan cara berbicara dengan tingkat pemahaman orang yang diajak berinteraksi.

Beliau juga memberikan perhatian khusus terhadap dua kelompok: orang-orang yang lebih tua dan anak-anak. Orang yang lebih tua harus dihormati dan anak-anak harus disayangi.

Adab tersebut bukan sekadar teori. Rasulullah ﷺ sendiri menjadi teladan dalam praktiknya. Beliau menghormati orang tua, memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara, dan memperlakukan anak-anak dengan kelembutan yang luar biasa.

Sumber

Kitab: Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
Pengarang: Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H
Pembahasan: Hak dan adab seorang Muslim dalam pergaulan.

Pengarang

Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī رحمه الله, wafat pada tahun 505 H.

Dalam pembahasan ini, beliau menjelaskan prinsip-prinsip adab sosial yang mencakup meminta izin, bergaul dengan akhlak yang baik, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, serta mengambil teladan dari kelembutan Rasulullah ﷺ.

Teks Arab

ومن آداب معاشرة المسلمين

ومنها أن لا يدخل على أحد منهم إلا بإذنه، بل يستأذن ثلاثا فإن لم يؤذن له انصرف.

قال أبو هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الاستئذان ثلاث فالأولى يستنصتون والثانية يستصلحون والثالثة يأذنون أو يردون.

ومنها أن يخالق الجميع بخلق حسن، ويعاملهم بحسب طريقتهم، فإنه إن أراد لقاء الجاهل بالعلم، والأمي بالفقه، والعيي بالبيان، آذى وتأذى.

ومنها أن يوقر المشايخ، ويرحم الصبيان. قال جابر رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس منا من لم يوقر كبيرنا ولم يرحم صغيرنا.

وقال صلى الله عليه وسلم: من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم.

ومن تمام توقير المشايخ أن لا يتكلم بين أيديهم إلا بالإذن. وقال جابر: قدم وفد جهينة على النبي صلى الله عليه وسلم، فقام غلام ليتكلم، فقال صلى الله عليه وسلم: مه، فأين الكبير؟

وفي الخبر: وما وقر شاب شيخا إلا قيض الله له في سنه من يوقره.

وهذه بشارة بدوام الحياة، فليتنبه لها، فلا يوفق لتوقير المشايخ إلا من قضى الله له بطول العمر.

وقال صلى الله عليه وسلم: لا تقوم الساعة حتى يكون الولد غيظا، والمطر قيظا، وتفيض اللئام فيضا، وتغيض الكرام غيضا، ويجترئ الصغير على الكبير، واللئيم على الكريم.

والتلطف بالصبيان من عادة رسول الله صلى الله عليه وسلم.

كان صلى الله عليه وسلم يقدم من السفر فيتلقاه الصبيان، فيقف عليهم، ثم يأمر بهم فيرفعون إليه، فيرفع منهم بين يديه ومن خلفه.

ويأمر أصحابه أن يحملوا بعضهم.

فربما تفاخر الصبيان بعد ذلك، فيقول بعضهم لبعض: حملني رسول الله صلى الله عليه وسلم بين يديه وحملك أنت وراءه، ويقول بعضهم: أمر أصحابه أن يحملوك وراءهم.

وكان يؤتى بالصبي الصغير ليدعو له بالبركة وليسميه، فيأخذه فيضعه في حجره، فربما بال الصبي، فيصيح به بعض من يراه فيقول: لا تزرموا الصبي بوله، فيدعه حتى يقضي بوله، ثم يفرغ من دعائه له وتسميته، ويبلغ سرور أهله فيه، لئلا يروا أنه تأذى ببوله، فإذا انصرفوا غسل ثوبه بعده.

Terjemahan Lengkap

Di antara adab seorang Muslim adalah tidak memasuki tempat seseorang kecuali setelah mendapatkan izinnya. Bahkan, hendaknya ia meminta izin sebanyak tiga kali. Jika tidak diberikan izin, maka ia harus pergi.

Abū Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Meminta izin itu tiga kali. Pada yang pertama, mereka mempersiapkan diri untuk mendengar; pada yang kedua, mereka mempersiapkan diri; dan pada yang ketiga, mereka memberikan izin atau menolak.”

Di antara adab tersebut adalah bergaul dengan semua orang menggunakan akhlak yang baik dan memperlakukan mereka sesuai dengan keadaan mereka.

Sebab, jika seseorang hendak menghadapi orang yang bodoh dengan ilmu, orang yang tidak berpendidikan dengan pembahasan fikih, dan orang yang tidak mampu mengungkapkan maksudnya dengan penjelasan yang rumit, maka ia akan menyakiti dan dirinya sendiri pun akan merasa tersakiti.

Di antara adab tersebut adalah menghormati orang-orang tua dan menyayangi anak-anak.

Jābir رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami dan tidak menyayangi anak kecil di antara kami.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Termasuk bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan seorang Muslim yang telah beruban.”

Termasuk kesempurnaan dalam menghormati orang-orang tua adalah tidak berbicara di hadapan mereka kecuali dengan izin.

Jābir berkata:

“Rombongan dari Juhainah datang menghadap Nabi ﷺ. Lalu seorang anak muda berdiri hendak berbicara. Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Tunggu! Di manakah orang yang lebih tua?’”

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Tidaklah seorang pemuda menghormati seorang yang lebih tua, melainkan Allah akan menyediakan baginya, ketika ia mencapai usia tuanya, orang yang akan menghormatinya.”

Ini merupakan kabar gembira tentang keberlangsungan hidup hingga usia tua. Maka hendaknya hal ini diperhatikan. Seseorang tidak akan diberi taufik untuk menghormati orang-orang tua kecuali orang yang Allah takdirkan memperoleh umur panjang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kiamat tidak akan terjadi hingga anak menjadi sumber kejengkelan, hujan menjadi panas, orang-orang hina meluas, orang-orang mulia berkurang, orang yang lebih muda berani terhadap orang yang lebih tua, dan orang yang hina berani terhadap orang yang mulia.”

Bersikap lembut dan penuh kasih kepada anak-anak merupakan kebiasaan Rasulullah ﷺ.

Ketika beliau pulang dari perjalanan, anak-anak biasa menyambut beliau. Beliau berhenti menemui mereka. Kemudian beliau meminta agar anak-anak itu diangkat kepadanya, lalu beliau menaikkan sebagian dari mereka ke bagian depan dan sebagian lainnya ke belakang.

Beliau juga memerintahkan para sahabatnya agar membawa sebagian dari anak-anak tersebut.

Terkadang setelah itu anak-anak tersebut saling membanggakan diri. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain:

“Rasulullah ﷺ mengangkatku di bagian depan, sedangkan engkau di bagian belakang.”

Sebagian yang lain berkata:

“Beliau memerintahkan para sahabatnya agar membawamu di belakang mereka.”

Pernah pula seorang anak kecil dibawa kepada Rasulullah ﷺ agar beliau mendoakannya memperoleh keberkahan dan memberinya nama. Beliau mengambil anak tersebut dan meletakkannya di pangkuannya.

Terkadang anak itu kencing ketika berada di pangkuannya. Sebagian orang yang melihatnya lalu berteriak kepada anak tersebut. Maka beliau berkata:

“Jangan menghentikan kencing anak itu.”

Beliau membiarkannya sampai anak tersebut selesai buang air kecil. Setelah itu beliau menyelesaikan doa untuk keberkahannya dan memberikan nama kepadanya.

Beliau melakukan hal tersebut agar keluarganya merasa senang dan tidak melihat bahwa beliau merasa terganggu karena anak itu buang air kecil di pangkuannya.

Setelah mereka pergi, beliau mencuci pakaiannya.

Artikel Pengembangan

Adab Meminta Izin adalah Bentuk Menghormati Privasi

Meminta izin bukan sekadar formalitas. Ia merupakan bentuk penghormatan terhadap privasi, waktu, keadaan, dan hak seseorang.

Seseorang mungkin sedang beristirahat, sedang bersama keluarganya, sedang menyelesaikan pekerjaan, atau sedang berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan menerima tamu.

Karena itu, Islam tidak membenarkan seseorang menerobos masuk hanya karena merasa mengenal pemilik rumah.

Tiga Kali Meminta Izin, Kemudian Pergi

Jika seseorang telah meminta izin dan tidak mendapatkan jawaban, ia tidak boleh terus-menerus mengetuk pintu atau memanggil dari luar.

Tiga kali merupakan batas yang disebutkan dalam teks. Jika setelah itu tidak ada izin, maka adabnya adalah kembali.

Ini mendidik seseorang untuk menerima bahwa tidak semua pintu akan terbuka untuknya pada setiap waktu.

Bergaul Sesuai Keadaan Orang yang Dihadapi

Imam al-Ghazālī memberikan prinsip penting dalam komunikasi: manusia memiliki tingkat pemahaman yang berbeda.

Orang berilmu memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang awam. Orang yang terbiasa dengan pembahasan ilmiah mungkin dapat memahami istilah yang sulit, sedangkan orang yang belum memiliki dasar ilmu mungkin justru merasa terbebani oleh istilah tersebut.

Karena itu, orang yang memiliki ilmu hendaknya tidak menggunakan ilmunya untuk menunjukkan keunggulan dirinya.

Ilmu seharusnya menjadi jembatan untuk memahami manusia, bukan alat untuk membuat orang lain merasa bodoh.

Menghormati Orang yang Lebih Tua

Penghormatan kepada orang yang lebih tua merupakan bagian dari adab Islam.

Usia membawa pengalaman. Karena itu, seorang yang lebih muda hendaknya memberikan kesempatan kepada orang yang lebih tua, mendengarkannya, dan tidak terburu-buru mengambil tempat atau pembicaraan.

Kisah delegasi Juhainah menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ mengarahkan perhatian kepada orang yang lebih tua ketika seorang anak muda hendak berbicara terlebih dahulu.

Menyayangi Anak-Anak

Islam juga tidak mengajarkan agar anak-anak diperlakukan dengan keras tanpa kasih sayang.

Rasulullah ﷺ memperlihatkan kelembutan kepada mereka. Beliau menemui anak-anak, mengangkat mereka, membiarkan mereka berada dekat dengan beliau, dan memperhatikan kebahagiaan mereka.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang kepada anak merupakan bagian dari akhlak kenabian.

Kesabaran Rasulullah ﷺ terhadap Anak Kecil

Bagian terakhir teks memberikan gambaran yang sangat kuat.

Seorang anak kecil buang air kecil di pangkuan Rasulullah ﷺ. Secara manusiawi, pakaian beliau tentu menjadi kotor dan harus dicuci.

Namun Rasulullah ﷺ tidak mempermalukan anak itu. Beliau bahkan melarang orang lain menghentikan anak tersebut sebelum selesai.

Setelah anak itu selesai, beliau tetap menyelesaikan doa dan pemberian nama untuknya. Setelah keluarganya pergi, barulah beliau mencuci pakaiannya.

Di sini terlihat perbedaan antara kesabaran terhadap kesalahan yang tidak disengaja dan sikap membiarkan kesalahan.

Anak kecil belum memahami semua adab. Karena itu, ia membutuhkan pendidikan dengan kelembutan, bukan penghinaan.

Penjelasan

1. Meminta Izin Sebelum Masuk

لا يدخل على أحد منهم إلا بإذنه

Artinya seseorang tidak boleh masuk ke tempat orang lain tanpa izin.

Adab ini berlaku meskipun seseorang merasa sangat dekat dengan pemilik rumah.

2. Meminta Izin Tiga Kali

يستأذن ثلاثا

Meminta izin dilakukan sampai tiga kali. Jika tidak memperoleh izin, seseorang tidak boleh memaksa.

3. Tidak Mendapat Izin Berarti Pergi

فإن لم يؤذن له انصرف

Jika izin tidak diberikan, ia harus pergi dengan lapang dada.

Tidak adanya izin tidak selalu berarti pemilik rumah membenci tamunya. Bisa saja ia memiliki keadaan tertentu yang membuatnya tidak dapat menerima tamu.

4. Berakhlak Baik kepada Semua Orang

أن يخالق الجميع بخلق حسن

Akhlak yang baik tidak hanya diberikan kepada orang yang kita sukai.

Imam al-Ghazālī menggunakan kata الجميع, yaitu “semua orang”.

5. Menyesuaikan Cara Berkomunikasi

Seseorang harus memperhatikan kemampuan lawan bicara.

Pengetahuan yang disampaikan dengan cara yang tidak sesuai justru dapat menjadi sebab kesulitan.

6. Menghormati Orang yang Lebih Tua

يوقر المشايخ

Yūaqqir berarti memberikan penghormatan dan penghargaan.

Penghormatan ini dapat diwujudkan dengan mendahulukan mereka dalam situasi yang sesuai, mendengarkan perkataan mereka, dan tidak meremehkan pengalaman mereka.

7. Menyayangi Anak

يرحم الصبيان

Anak-anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan pendidikan.

Kasih sayang tidak berarti membiarkan kesalahan. Pendidikan tetap diberikan, tetapi dilakukan sesuai usia dan kemampuan anak.

8. Menghormati Orang Tua sebagai Bentuk Mengagungkan Allah

Hadis:

من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم

menunjukkan hubungan antara penghormatan kepada seorang Muslim yang telah lanjut usia dan pengagungan terhadap Allah.

Yang dihormati bukan sekadar usia biologisnya, tetapi kemuliaan seorang Muslim yang telah mencapai usia tua.

9. Memberikan Ruang kepada yang Lebih Tua

Ketika seorang anak muda hendak berbicara di hadapan orang-orang yang lebih tua, Rasulullah ﷺ mengarahkannya:

مه، فأين الكبير؟

“Berhenti/tunggu, di manakah orang yang lebih tua?”

Ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan urutan dan adab dalam sebuah majelis.

10. Kelembutan kepada Anak adalah Sunnah Akhlak

Rasulullah ﷺ tidak menjaga jarak dari anak-anak. Beliau justru mendekati mereka, berbicara dengan mereka, dan membuat mereka merasa diperhatikan.

11. Tidak Mempermalukan Anak karena Kesalahan yang Tidak Disengaja

Anak kecil belum mampu mengendalikan semua perilakunya.

Karena itu, ketika terjadi kesalahan yang tidak disengaja, orang dewasa hendaknya tidak langsung memarahinya dengan cara yang membuatnya takut atau malu.

12. Menjaga Perasaan Keluarga

Rasulullah ﷺ menyelesaikan doa dan pemberian nama untuk anak tersebut agar keluarganya tetap merasa bahagia dan tidak melihat bahwa beliau terganggu.

Ini menunjukkan perhatian beliau bukan hanya kepada anak, tetapi juga kepada perasaan keluarganya.

Contoh

Contoh 1: Bertamu

Seseorang datang ke rumah temannya lalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah beberapa kali tidak ada jawaban, ia tidak memaksa masuk. Ia kemudian pulang.

Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap privasi.

Contoh 2: Tidak Memaksa Masuk

Seseorang mengetahui bahwa temannya sedang berada di rumah. Namun karena tidak mendapatkan izin masuk, ia tetap menunggu atau kembali pada waktu lain.

Mengetahui seseorang berada di rumah tidak otomatis berarti mendapatkan izin untuk masuk.

Contoh 3: Menjelaskan Ilmu kepada Orang Awam

Seorang ustaz menjelaskan masalah fikih kepada masyarakat umum. Ia menggunakan bahasa sederhana dan memberikan contoh yang mudah dipahami.

Ia tidak menggunakan istilah yang rumit hanya untuk menunjukkan keluasan ilmunya.

Contoh 4: Memberikan Kesempatan kepada Orang Tua

Dalam sebuah pertemuan, seorang pemuda ingin segera menyampaikan pendapatnya. Namun ada seorang yang lebih tua yang telah lama hadir dan memiliki pengalaman dalam persoalan tersebut.

Ia memberikan kesempatan terlebih dahulu kepadanya.

Contoh 5: Menghadapi Kesalahan Anak

Seorang anak menumpahkan air di ruang tamu. Orang tuanya tidak langsung memaki atau mempermalukannya.

Ia mengajarkan anak tersebut cara membersihkan tumpahan dan menjelaskan agar lebih berhati-hati.

Contoh 6: Menghormati Anak

Ketika bertemu anak kecil, seseorang tidak menganggapnya tidak penting. Ia menyapa, tersenyum, dan berbicara dengan bahasa yang dapat dipahaminya.

Contoh 7: Tidak Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain

Seorang anak melakukan kesalahan di hadapan banyak orang. Orang dewasa tidak menjadikannya bahan tertawaan.

Ia memperbaikinya dengan cara yang lembut agar anak tetap merasa dihargai.

Kesimpulan

Imam al-Ghazālī mengajarkan bahwa adab pergaulan mencakup menghormati privasi, meminta izin, menerima penolakan dengan lapang dada, berkomunikasi sesuai kemampuan orang lain, menghormati orang yang lebih tua, dan menyayangi anak-anak.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan nyata dalam seluruh aspek tersebut.

Beliau tidak membenarkan seseorang memasuki tempat orang lain tanpa izin. Beliau juga mengajarkan agar seseorang tidak memaksakan diri ketika tidak memperoleh izin.

Dalam hubungan sosial, beliau mengajarkan penghormatan kepada orang tua dan kasih sayang kepada anak-anak. Bahkan dalam keadaan pakaian beliau terkena kotoran karena seorang anak kecil buang air kecil di pangkuannya, beliau tetap menunjukkan kesabaran dan kelembutan.

Hikmah

  1. Meminta izin merupakan bentuk penghormatan terhadap privasi.
  2. Tidak mendapatkan izin harus diterima dengan lapang dada.
  3. Adab mengajarkan seseorang untuk tidak memaksakan kehendak.
  4. Cara berbicara harus disesuaikan dengan kemampuan lawan bicara.
  5. Ilmu tidak boleh digunakan untuk merendahkan orang lain.
  6. Orang yang lebih tua memiliki hak untuk dihormati.
  7. Anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang.
  8. Kesalahan anak yang tidak disengaja hendaknya dihadapi dengan kelembutan.
  9. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian kepada anak-anak tanpa merendahkan mereka.
  10. Menjaga perasaan keluarga merupakan bagian dari akhlak yang baik.
  11. Kelembutan tidak berarti meninggalkan pendidikan dan disiplin.
  12. Akhlak yang baik harus diterapkan kepada semua lapisan masyarakat.

Penutup

Adab dalam Islam bukan hanya tentang mengetahui apa yang benar, tetapi juga mengetahui bagaimana menerapkannya kepada manusia dengan cara yang tepat.

Meminta izin mengajarkan penghormatan terhadap privasi. Tawaduk mengajarkan penghormatan kepada sesama. Menghormati orang tua menjaga nilai pengalaman dan kematangan. Sedangkan menyayangi anak-anak menumbuhkan lingkungan yang penuh kasih sayang.

Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa akhlak yang luhur terlihat dalam perkara-perkara yang tampak sederhana: cara memasuki rumah orang lain, cara berbicara dalam majelis, cara memperlakukan orang tua, bahkan cara menghadapi seorang anak kecil yang melakukan kesalahan tanpa sengaja.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang tidak memaksakan diri, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, memahami keadaan orang lain, dan memperlakukan setiap manusia dengan akhlak yang baik.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Adab kepada Sesama Muslim: Tawaduk, Memaafkan, Tidak Mengadu Domba danBerbuat Baik (02/05/78)

Hak-Hak Seorang Muslim Terhadap Muslim Lain: Mengucapkan Salam, MenjengukOrang Sakit, Menolong dan Tidak Menyakiti (02/05/77)

Akhlak Ramah, Wajah Ceria, dan Perkataan Baik Menurut Imam al-Ghazali(02/05/80)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...