Pendahuluan
Dalam pembahasan sebelumnya,
Al-Ghazali menggunakan metode mu‘āraḍah (المعارضة),
yaitu menghadapkan suatu argumen dengan keberatan atau argumen tandingan untuk
menunjukkan kelemahannya.
Pihak yang dikritik kemudian dapat
mengajukan keberatan bahwa Al-Ghazali hanya membalas satu persoalan dengan
persoalan lain, tanpa memberikan penyelesaian terhadap masalah yang mereka
kemukakan.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan
kitab ini memang bukan untuk membangun pembuktian lengkap terhadap satu mazhab
tertentu. Tujuannya adalah mengungkap kerusakan argumen para filsuf dan menunjukkan
ketidakkonsistenan klaim mereka, khususnya klaim mengenai keazalian alam.
Sumber
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Penulis
Imam Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad
al-Ghazālī al-Ṭūsī
Wafat: 505 H / 1111 M
Tema
Metode bantahan Al-Ghazali terhadap
argumen filsafat dan tujuan penulisan Tahāfut al-Falāsifah.
Terjemahan Lengkap
Mereka
Mengatakan: Kalian Hanya Membalas Persoalan dengan Persoalan
Jika dikatakan:
“Dalam seluruh keberatan kalian,
kalian hanya mengandalkan cara menghadapkan persoalan dengan persoalan. Kalian
tidak menyelesaikan persoalan yang mereka kemukakan.”
Jawaban
Kami: Bantahan Menunjukkan Kerusakan Suatu Argumen
Kami menjawab:
Bantahan menunjukkan kerusakan suatu
perkataan atau argumen, tanpa
diragukan lagi. Dengan adanya bantahan dan tuntutan pembuktian, sisi persoalan
tersebut menjadi terurai.
Kami tidak berkomitmen dalam kitab
ini kecuali untuk mengacaukan mazhab mereka dan mengaburkan wajah-wajah
dalil mereka dengan cara yang menunjukkan keruntuhan argumen mereka.
Kami tidak bermaksud membela mazhab
tertentu. Oleh karena itu, kami tidak keluar dari tujuan kitab ini. Kami juga
tidak bermaksud menguraikan secara menyeluruh semua dalil yang menunjukkan
bahwa alam itu ḥādith, yaitu sesuatu yang memiliki permulaan dan tidak
azali.
Sebab, tujuan kami adalah membatalkan
klaim mereka bahwa mereka mengetahui keazalian alam.
Artikel Pengembangan
Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan Tahāfut
al-Falāsifah bukanlah menyusun seluruh pembuktian teologis dari awal sampai
akhir. Fokusnya adalah menguji argumen para filsuf dan menunjukkan bahwa
sebagian dasar pemikiran mereka tidak dapat dipertahankan secara konsisten.
Karena itu, ketika Al-Ghazali
memberikan bantahan (mu‘āraḍah), ia tidak selalu berkewajiban memberikan
teori alternatif yang lengkap. Cukup dengan menunjukkan bahwa argumen lawan
mengandung kelemahan atau melahirkan konsekuensi yang bermasalah, maka kekuatan
argumen tersebut telah dipersoalkan.
Al-Ghazali juga menegaskan bahwa ia
tidak sedang membela satu mazhab tertentu dalam kitab ini. Fokus pembahasannya
lebih khusus, yaitu membantah klaim para filsuf tentang keazalian alam,
bukan menguraikan seluruh dalil tentang kebermulaan alam.
Hikmah
Dalam sebuah perdebatan ilmiah, menunjukkan
kelemahan suatu argumen merupakan pembahasan yang berbeda dari membangun
pembuktian terhadap suatu pandangan tertentu.
Karena itu, sebelum menilai sebuah
bantahan, perlu dipahami terlebih dahulu tujuan pembahasannya. Tidak
setiap kritik dimaksudkan untuk memberikan seluruh jawaban atas suatu
persoalan; terkadang tujuannya adalah menunjukkan bahwa dasar argumen yang
digunakan belum dapat dipertahankan.
Penutup
Al-Ghazali menjelaskan bahwa
bantahan terhadap suatu argumen dapat menunjukkan kerusakan argumen tersebut,
meskipun bantahan itu belum menjadi pembuktian lengkap terhadap pandangan yang
berlawanan.
Ia menegaskan bahwa Tahāfut
al-Falāsifah tidak ditulis untuk membela satu mazhab tertentu atau
menguraikan seluruh dalil tentang kebermulaan alam. Tujuan utamanya adalah membantah
klaim para filsuf bahwa mereka memiliki pengetahuan yang pasti tentang
keazalian alam, dengan menunjukkan kelemahan dan keruntuhan argumen yang
mereka gunakan.
Format ini sudah dibuat konsisten
dengan artikel sebelumnya, terutama dalam membedakan tujuan bantahan
dari pembuktian suatu mazhab.
Teks Arab :
قولهم قابلتم الإشكالات بالإشكالات
فإن قيل: فقد عولتم في جميع الاعتراضات على مقابلة
الإشكالات بالإشكالات ولم تحلوا ما أوردوه من الإشكال،
قولنا المعارضة تبين فساد الكلام
قلنا: المعارضة تبين فساد الكلام لا محالة، وينحل وجه
الإشكال في تقدير المعارضة والمطالبة. ونحن لم نلتزم في هذا الكتاب إلا تكدير
مذهبهم والتغبير في وجوه أدلتهم بما نبين تهافتهم. ولم نتطرق الذب عن مذهب معين
فلم نخرج لذلك عن مقصود الكتاب، ولا نستقصي القول في الأدلة الدالة على الحدث إذ
غرضنا إبطال دعواهم معرفة القدم.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Al-Ghazali: Konsep Hitam dan Putih Ada dalam Akal, Bukansebagai Wujud yang Berdiri Sendiri
Al-Ghazali: Kemustahilan Adanya Sekutu bagi Allah TidakBergantung pada Materi
Imam Al-Ghazali: Pembuktian Madzhab yang Benar danBantahan atas Keabadian Alam


0 Komentar