Cinta Kedudukan dan Ambisi Dunia: Ketika Keinginan Menjadi Sumber Kegelisahan

Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ambisi terhadap jabatan dan kedudukan dapat melahirkan kegelisahan, kemarahan, bahkan kerugian dunia akhirat

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering merasa tenang selama ia tidak memiliki kepentingan terhadap suatu posisi, jabatan, atau kedudukan tertentu. Namun ketika harapan dan ambisi mulai tumbuh, hati menjadi gelisah, pikiran dipenuhi kecemasan, dan jiwa kehilangan ketenangan.

Dalam nasihat berikut, Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan bagaimana ambisi terhadap kedudukan memiliki dampak yang mirip dengan ambisi terhadap harta. Semakin besar keinginan seseorang terhadap suatu posisi, semakin besar pula kegelisahan yang menguasainya. Nasihat ini mengajarkan pentingnya menjaga kemuliaan jiwa dengan mengurangi ketergantungan hati kepada urusan dunia.

Sumber

Kitab : Al-Akhlaq wa As-Siyar fi Mudawati An-Nufus

Penulis : Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (384–456 H)

Tema : Bahaya Ambisi terhadap Jabatan dan Kedudukan Dunia

Terjemahan dan Makna

"Demikian pula dalam urusan kedudukan dan jabatan. Kita melihat seseorang yang berada pada lapisan masyarakat biasa tidak merasa peduli apabila urusan negerinya diurus oleh orang lain, atau ketika orang lain didekatkan dan dirinya dijauhkan.

Namun ketika muncul harapan dalam dirinya untuk memperoleh kedudukan tersebut, timbullah kegelisahan, pikiran yang terus-menerus, dan kemarahan yang besar. Bahkan terkadang hal itu menyeretnya kepada kehancuran dirinya, merusak dunianya, dan membinasakan akhiratnya."

Pengembangan

Ambisi Jabatan yang Mengubah Hati

Seseorang yang tidak memiliki kepentingan terhadap suatu jabatan biasanya hidup dengan tenang. Ia tidak terlalu memikirkan siapa yang diangkat menjadi pemimpin, siapa yang dipromosikan, atau siapa yang mendapatkan kehormatan tertentu.

Namun keadaan berubah ketika dalam hatinya muncul keinginan untuk mendapatkan posisi tersebut.

Mulailah ia memperhatikan setiap perkembangan. Ia membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia merasa tidak rela ketika melihat orang lain lebih maju. Bahkan terkadang muncul rasa iri, dengki, dan kebencian yang sebelumnya tidak pernah ada.

Inilah yang dimaksud Ibnu Hazm sebagai lahirnya ath-thama' (ambisi dan ketamakan).

Dari Harapan Menjadi Kegelisahan

Ambisi dunia sering kali melahirkan berbagai penyakit hati:

  • Terlalu memikirkan penilaian manusia.
  • Gelisah ketika tidak mendapatkan penghargaan.
  • Marah ketika didahului orang lain.
  • Dengki terhadap keberhasilan sesama.
  • Sibuk mencari dukungan dan pengaruh.

Orang yang awalnya hidup tenang berubah menjadi pribadi yang selalu resah. Ia sulit menikmati nikmat yang sudah dimiliki karena pikirannya terus tertuju pada sesuatu yang belum berhasil diraih.

Padahal sebelum memiliki ambisi tersebut, ia hidup tanpa beban.

Jabatan Bukan Sekadar Posisi

Jabatan bukan hanya sebuah kursi atau gelar. Di baliknya terdapat:

  • Kekuasaan.
  • Pengaruh.
  • Penghormatan manusia.
  • Keuntungan materi.
  • Popularitas.

Karena itulah banyak orang rela mengorbankan prinsip demi mendapatkannya.

Ketika keinginan terhadap jabatan menguasai hati, seseorang dapat kehilangan objektivitas. Ia mulai memandang segala sesuatu berdasarkan manfaat pribadi, bukan berdasarkan kebenaran.

Kerusakan Dunia dan Akhirat

Ibnu Hazm memberikan peringatan yang sangat keras. Ambisi terhadap kedudukan terkadang:

Merusak Dunia

  • Hubungan persahabatan hancur.
  • Keluarga retak.
  • Muncul persaingan tidak sehat.
  • Kehidupan dipenuhi stres dan kecemasan.

Merusak Akhirat

Lebih berbahaya lagi, ambisi yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang kepada:

  • Kedustaan.
  • Fitnah.
  • Pengkhianatan.
  • Kedzaliman.
  • Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Pada titik ini, kerugian yang ditanggung jauh lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh.

Mengapa Ambisi Begitu Berbahaya?

Karena ambisi membuat kebahagiaan seseorang bergantung pada sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Ia tidak akan tenang sampai memperoleh apa yang diinginkannya.

Bahkan setelah berhasil mendapatkannya, muncul ketakutan baru:

  • Takut kehilangan posisi.
  • Takut tersaingi.
  • Takut diturunkan.
  • Takut dilupakan.

Akibatnya, ketenangan yang dicari tidak pernah benar-benar didapatkan.

Kemuliaan Jiwa Ada pada Qana'ah

Lawan dari ambisi berlebihan adalah qana'ah, yaitu merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan.

Orang yang qana'ah tetap boleh bekerja keras, berprestasi, dan meraih kedudukan. Namun hatinya tidak bergantung kepada semua itu.

Jika mendapatkannya, ia bersyukur.

Jika tidak mendapatkannya, ia tetap tenang.

Karena kemuliaannya tidak ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh ketakwaan dan akhlak yang baik.

Hikmah

Beberapa pelajaran penting dari nasihat ini:

  1. Banyak kegelisahan lahir karena ambisi yang berlebihan.
  2. Keinginan terhadap jabatan sering menjadi sumber iri dan dengki.
  3. Hati yang bergantung pada kedudukan sulit merasakan ketenangan.
  4. Ambisi dunia dapat merusak agama apabila tidak dikendalikan.
  5. Kemuliaan sejati terletak pada qana'ah dan ketakwaan.
  6. Orang yang paling tenang adalah orang yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya.

Penutup

Ibnu Hazm mengingatkan bahwa ambisi terhadap kedudukan dan jabatan merupakan salah satu sumber kegelisahan terbesar dalam kehidupan manusia. Ketika hati terlalu bergantung pada posisi dan penghormatan manusia, ia akan mudah terseret ke dalam kecemasan, kemarahan, bahkan kerusakan dunia dan akhirat.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menjaga kebersihan hati dari ambisi yang berlebihan. Jabatan boleh dicari sebagai sarana menebar manfaat, namun ketenangan jiwa hanya akan diperoleh ketika hati bergantung kepada Allah semata, bukan kepada kedudukan yang fana.

Teks Arab :

وَهَكَذَا فِي الْأَحْوَال فنجد الْإِنْسَان من أهل الطَّبَقَة الْمُتَأَخِّرَة لَا يهتم لإنفاذ غَيره أُمُور بَلَده دون أمره وَلَا لتقريب غَيره وإبعاده حَتَّى إِذا حدث لَهُ مطمع فِي هَذِه الْمرتبَة حدث لَهُ من الْهم والفكرة والغيظ أَمر رُبمَا قَادَهُ إِلَى تلف نَفسه وَتلف دُنْيَاهُ وأخراه

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ketamakan Adalah Sumber Kegelisahan: Renungan Mendalamtentang Harta dan Ambisi Menurut Ibnu Hazm

Cinta pada Hakikatnya Satu: Bagaimana Tujuan danKeyakinan Membentuk Beragam Jenis Cinta?

Bahaya Tamak Menurut Ibnu Hazm: Akar Kehinaan dan Kegelisahan dalam Hidup

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...