Pendahuluan
Islam tidak hanya mengajarkan ibadah
yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga
mengajarkan bagaimana seorang Muslim berinteraksi dengan sesama manusia.
Di antara akhlak yang sangat
ditekankan adalah wajah yang ceria, sikap yang ramah, perkataan yang lembut,
mudah bergaul, menebarkan salam, serta memberikan kebaikan kepada orang lain.
Imam al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa seorang Muslim hendaknya
menghadapi manusia dengan wajah yang berseri dan sikap yang menyenangkan.
Akhlak semacam ini bukan sekadar perkara sosial, tetapi memiliki kedudukan
penting dalam agama karena dapat menjadi sebab datangnya ampunan Allah dan
keselamatan dari api neraka.
Dalam pembahasan ini, al-Ghazali
juga mengutip sejumlah sabda Rasulullah ﷺ
dan perkataan para salaf tentang keutamaan perkataan yang baik, memberi
makan, menebarkan salam, memenuhi janji, menjaga amanah, menyayangi anak yatim,
serta bersikap lembut dalam berbicara.
Bahkan, pada bagian akhir,
al-Ghazali menyampaikan sebuah kisah dari Wahb bin Munabbih tentang seorang
ahli ibadah yang diperlihatkan keadaan manusia yang dikelilingi oleh bala
tentara Iblis. Ketika ditanya siapa yang dapat selamat dari keadaan tersebut,
jawabannya adalah: orang yang wara' dan lembut.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi
Wafat: 505 H
Pembahasan: Adab pergaulan seorang Muslim dengan sesama manusia.
Pengarang
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali al-Tusi رحمه الله,
wafat pada tahun 505 H.
Dalam bagian ini, beliau menjelaskan
salah satu bentuk kesempurnaan akhlak seorang Muslim, yaitu menghadapi manusia
dengan wajah yang ceria, sikap yang ramah, perkataan yang baik, dan kelembutan
dalam berinteraksi.
Teks Arab
ومن آداب
معاشرة المسلمين
ومنها أن يكون مع كافة الخلق مستبشرا
طلق الوجه رفيقا.
قال صلى الله عليه وسلم: أتدرون على من حرمت النار؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: على
اللين الهين السهل القريب.
وقال أبو هريرة رضي الله عنه قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم:
إن الله يحب السهل الطلق الوجه.
وقال بعضهم: يا رسول الله، دلني على
عمل يدخلني الجنة، فقال:
إن من موجبات المغفرة بذل السلام وحسن
الكلام.
وقال عبد الله بن عمر: إن البر شيء هين، وجه طليق وكلام لين.
وقال صلى الله عليه وسلم: اتقوا النار ولو بشق تمرة، فمن لم يجد فبكلمة طيبة.
وقال صلى الله عليه وسلم: إن في الجنة لغرفا يرى ظهورها من بطونها وبطونها من ظهورها.
فقال أعرابي: لمن هي يا رسول الله؟
قال: لمن أطاب الكلام وأطعم الطعام وصلى
بالليل والناس نيام.
وقال معاذ بن جبل: قال لي رسول الله
صلى الله عليه وسلم:
أوصيك بتقوى الله وصدق الحديث ووفاء
العهد وأداء الأمانة وترك الخيانة وحفظ الجار ورحمة اليتيم ولين الكلام وبذل
السلام وخفض الجناح.
وقال أنس رضي الله عنه: عرضت لنبي
الله صلى الله عليه وسلم امرأة وقالت: لي معك حاجة، وكان معه ناس من أصحابه، فقال: اجلسي في أي نواحي السكك شئت أجلس إليك.
ففعلت، فجلس إليها حتى قضت حاجتها.
وقال وهب بن منبه: إن رجلا من بني
إسرائيل صام سبعين سنة يفطر في كل سبعة أيام، فسأل الله تعالى أن يريه كيف يغوي
الشيطان الناس. فلما طال عليه ذلك ولم يجب، قال:
لو اطلعت على خطيئتي وذنبي بيني وبين
ربي لكان خيرا لي من هذا الأمر الذي طلبته.
فأرسل الله إليه ملكا، فقال له: إن الله أرسلني إليك وهو يقول لك: إن كلامك هذا الذي تكلمت به
أحب إلي مما مضى من عبادتك، وقد فتح الله بصرك فانظر.
فنظر، فإذا جنود إبليس قد أحاطت
بالأرض، وإذا ليس أحد من الناس إلا والشياطين حوله كالذئاب.
فقال:
أي رب، من ينجو من هذا؟ قال:
الورع اللين.
Terjemahan Lengkap
Di antara adab tersebut adalah hendaknya
seseorang menghadapi seluruh makhluk dengan wajah yang ceria, wajah yang
berseri, dan sikap yang lembut.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Tahukah kalian, kepada siapa api
neraka diharamkan?”
Mereka menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda:
“Kepada orang yang lembut, mudah,
lapang, dan dekat.”
Abu Hurairah رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang
yang mudah bergaul dan berwajah ceria.”
Sebagian orang berkata:
“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah
kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya di antara sebab-sebab
mendapatkan ampunan adalah menebarkan salam dan berkata dengan perkataan yang baik.”
Abdullah bin Umar berkata:
“Sesungguhnya kebaikan itu merupakan
sesuatu yang mudah: wajah yang ceria dan perkataan yang lembut.”
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Jagalah diri kalian dari api neraka
walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma. Jika seseorang tidak
mendapatkannya, maka dengan perkataan yang baik.”
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
“Sesungguhnya di dalam surga
terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan
bagian dalamnya dapat terlihat dari luarnya.”
Seorang Arab Badui bertanya:
“Untuk siapa kamar-kamar itu, wahai
Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Untuk orang yang membaguskan
perkataan, memberi makan, dan melakukan salat pada malam hari ketika manusia
sedang tidur.”
Mu'adz bin Jabal berkata:
“Rasulullah ﷺ berwasiat kepadaku:
‘Aku berwasiat kepadamu agar
bertakwa kepada Allah, berkata benar, memenuhi janji, menunaikan amanah,
meninggalkan pengkhianatan, menjaga hak tetangga, menyayangi anak yatim,
berkata dengan lembut, menebarkan salam, dan merendahkan sayap.’”
Anas رضي
الله عنه berkata:
“Seorang perempuan menghadap Nabi
Allah ﷺ dan berkata:
‘Aku memiliki suatu keperluan
kepadamu.’
Ketika itu beliau sedang bersama
beberapa orang sahabatnya. Beliau bersabda:
‘Duduklah di bagian jalan mana saja
yang engkau kehendaki, aku akan duduk bersamamu.’
Perempuan itu pun melakukannya.
Kemudian beliau duduk bersamanya sampai perempuan tersebut menyelesaikan
keperluannya.”
Wahb bin Munabbih berkata:
“Seorang laki-laki dari Bani Israil
berpuasa selama tujuh puluh tahun. Ia berbuka setiap tujuh hari sekali.
Kemudian ia memohon kepada Allah Ta'ala agar diperlihatkan kepadanya bagaimana
setan menyesatkan manusia.
Ketika hal itu berlangsung lama dan
permohonannya belum dikabulkan, ia berkata:
‘Seandainya aku diperlihatkan kesalahan
dan dosaku antara diriku dan Tuhanku, sungguh hal itu lebih baik bagiku
daripada perkara yang aku minta ini.’
Lalu Allah mengutus seorang malaikat
kepadanya. Malaikat itu berkata:
‘Sesungguhnya Allah mengutusku
kepadamu dan Dia berfirman kepadamu: Perkataanmu yang baru saja engkau ucapkan
itu lebih Aku sukai daripada seluruh ibadahmu yang telah berlalu. Allah telah
membuka penglihatanmu, maka lihatlah.’
Laki-laki itu pun melihat. Ternyata
bala tentara Iblis telah mengepung bumi. Tidak ada seorang pun dari manusia
kecuali di sekelilingnya terdapat setan-setan seperti serigala.
Ia berkata:
‘Wahai Tuhanku, siapa yang dapat
selamat dari keadaan ini?’
Allah menjawab:
‘Orang yang wara' dan lembut.’”
Artikel Pengembangan
Wajah
Ceria adalah Bagian dari Akhlak
Imam al-Ghazali memulai pembahasan
ini dengan sifat:
مستبشرا
طلق الوجه رفيقا
Yakni menghadapi manusia dengan
wajah yang menunjukkan kegembiraan, wajah yang lapang dan berseri, serta sikap
yang lembut.
Wajah ceria bukan berarti seseorang
harus selalu tertawa. Maksudnya adalah tidak menghadapi orang lain dengan wajah
masam, kasar, atau menunjukkan kebencian tanpa alasan.
Senyum, sapaan yang baik, dan wajah
yang menyenangkan sering kali menjadi bentuk sedekah sosial yang sederhana
tetapi memiliki pengaruh besar.
Kelembutan
Membuat Seseorang Dekat dengan Manusia
Sifat اللين menunjukkan kelembutan dan tidak kasar. Sedangkan السهل menunjukkan
kemudahan dalam berinteraksi, tidak menyulitkan manusia tanpa alasan.
Adapun القريب menunjukkan orang yang mudah didekati dan tidak
membuat orang lain merasa takut atau enggan berbicara dengannya.
Orang yang memiliki sifat-sifat
tersebut biasanya lebih mudah dicintai karena kehadirannya memberikan rasa
aman.
Perkataan
Baik sebagai Sebab Ampunan
Al-Ghazali mengutip sabda Nabi ﷺ:
إن
من موجبات المغفرة بذل السلام وحسن الكلام
“Sesungguhnya di antara sebab-sebab
mendapatkan ampunan adalah menebarkan salam dan berkata dengan perkataan yang
baik.”
Ini menunjukkan bahwa perkataan yang
baik bukan perkara remeh.
Ucapan salam, nasihat yang lembut,
menenangkan orang yang sedang bersedih, menghibur orang yang tertimpa
kesulitan, atau mengucapkan kalimat yang menyenangkan hati semuanya dapat
menjadi bagian dari kebaikan.
Kebaikan
Tidak Selalu Membutuhkan Harta
Sabda Nabi ﷺ:
فمن
لم يجد فبكلمة طيبة
mengajarkan bahwa seseorang yang
tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan tetap dapat berbuat baik.
Ia dapat memberikan perkataan
yang baik.
Karena itu, pintu kebaikan tidak
hanya terbuka bagi orang kaya. Orang yang tidak memiliki harta pun dapat
memperoleh pahala dengan lisannya.
Berbuat
Baik kepada Tetangga dan Anak Yatim
Wasiat Rasulullah ﷺ kepada Mu'adz bin Jabal menggabungkan beberapa akhlak
sekaligus: takwa, kejujuran, memenuhi janji, amanah, meninggalkan
pengkhianatan, menjaga tetangga, menyayangi anak yatim, kelembutan dalam
berbicara, menebarkan salam, dan خفض الجناح.
Semua itu menunjukkan bahwa akhlak
yang baik tidak berdiri sendiri. Ia merupakan rangkaian sifat yang membentuk
kepribadian seorang Muslim.
Kelembutan
Rasulullah ﷺ dalam Melayani Keperluan Orang Lain
Kisah Anas رضي
الله عنه memperlihatkan bagaimana Rasulullah ﷺ
menghadapi seorang perempuan yang memiliki keperluan.
Beliau tidak mengusirnya hanya
karena sedang bersama para sahabat. Beliau bahkan memberikan kesempatan
kepadanya untuk memilih tempat duduk di bagian jalan yang ia kehendaki, lalu
beliau duduk bersamanya sampai keperluannya selesai.
Ini menunjukkan kesabaran dalam
mendengarkan dan melayani kebutuhan manusia.
Wara'
dan Kelembutan
Pada bagian terakhir, al-Ghazali
menyampaikan kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil.
Ketika diperlihatkan bahwa setan
berada di sekitar manusia, ia bertanya siapa yang dapat selamat.
Jawabannya:
الورع
اللين
“Orang yang wara' dan lembut.”
Wara' menjaga seseorang dari perkara
yang meragukan dan dari pelanggaran. Kelembutan menjaga hubungan seseorang
dengan manusia.
Dengan demikian, keselamatan
membutuhkan bukan hanya banyaknya ibadah, tetapi juga kesucian sikap dan
kelembutan akhlak.
Penjelasan
1.
مستبشرا
Kata مستبشرا berasal dari makna bisyr, yaitu kegembiraan
yang tampak pada wajah.
Karena itu, terjemahan yang tepat
dalam konteks ini adalah “berwajah ceria”, “menunjukkan kegembiraan”,
atau “berseri-seri”.
2.
طلق الوجه
طلق
الوجه menggambarkan seseorang yang wajahnya lapang, ceria, dan
tidak bermuka masam.
Maknanya dekat dengan sikap mudah
didekati dan menyenangkan ketika berinteraksi.
3.
رفيقا
رفيقا berarti
lembut dan penuh keramahan.
Kelembutan merupakan lawan dari
kekasaran dalam ucapan maupun tindakan.
4.
اللين الهين السهل القريب
Keempat kata tersebut menggambarkan
sifat orang yang lembut, mudah dalam berinteraksi, tidak menyulitkan, dan dekat
dengan manusia.
Terjemahan tidak harus memaksakan
setiap kata menjadi istilah Indonesia yang terpisah, karena keseluruhannya
membentuk satu gambaran tentang pribadi yang lembut dan mudah didekati.
5.
بذل السلام
بذل
السلام berarti menebarkan atau memberikan salam kepada orang lain.
Salam bukan hanya ucapan, tetapi
juga doa keselamatan dan bentuk membuka hubungan dengan kebaikan.
6.
حسن الكلام
حسن
الكلام berarti perkataan yang baik.
Termasuk di dalamnya ucapan yang
benar, sopan, lembut, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain.
7.
أطاب الكلام
أطاب
الكلام bermakna memperbagus perkataan atau mengucapkan perkataan
yang baik.
Ini menunjukkan bahwa kualitas
ucapan merupakan salah satu sifat yang dipuji dalam teks tersebut.
8.
خفض الجناح
Ungkapan خفض الجناح secara bahasa
berarti “merendahkan sayap”.
Dalam penggunaan bahasa Arab,
ungkapan ini menunjukkan kerendahan hati, kelembutan, dan tidak bersikap
sombong terhadap orang lain.
9.
حفظ الجار
حفظ
الجار berarti menjaga tetangga.
Maksudnya mencakup menjaga
hak-haknya, tidak menyakitinya, dan memperlakukannya dengan baik.
10.
ورحمة اليتيم
رحمة
اليتيم berarti menyayangi anak yatim.
Anak yatim membutuhkan perhatian dan
kasih sayang karena kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.
11.
الورع اللين
الورع adalah
sikap menjaga diri dari perkara yang haram dan perkara yang dikhawatirkan
membawa kepada keharaman.
Sedangkan اللين adalah kelembutan
dalam berinteraksi.
Gabungan keduanya menggambarkan
seorang yang menjaga dirinya di hadapan Allah sekaligus menjaga hubungan baik
dengan manusia.
Contoh
Contoh
1: Menyambut Orang dengan Wajah Ceria
Ketika seseorang datang bertemu
dengan kita, kita menyambutnya dengan senyum dan wajah yang berseri, bukan
dengan wajah masam.
Contoh
2: Memberikan Perkataan yang Baik
Seorang teman sedang mengalami
kesulitan. Daripada mencelanya, kita berkata:
“Semoga Allah memudahkan urusanmu.
Jangan berputus asa.”
Kalimat sederhana dapat menjadi
bentuk kebaikan.
Contoh
3: Menebarkan Salam
Ketika bertemu sesama Muslim,
seseorang membiasakan diri mengucapkan salam terlebih dahulu.
Dengan demikian, ia membangun
hubungan dengan doa keselamatan dan kedamaian.
Contoh
4: Menasihati dengan Lembut
Seorang anak melakukan kesalahan.
Orang tuanya tidak langsung membentak, tetapi menjelaskan kesalahannya dengan
bahasa yang lembut.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak
takut, tetapi membantunya memahami kesalahan.
Contoh
5: Melayani Keperluan Orang Lain
Seseorang sedang sibuk bekerja
ketika temannya datang menyampaikan keperluan penting. Ia mendengarkan dengan
baik dan memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan pembicaraan.
Contoh
6: Berbuat Baik Tanpa Harta
Seseorang tidak memiliki uang untuk
disedekahkan. Namun ia melihat orang lain sedang bersedih dan menghiburnya
dengan perkataan yang baik.
Ia tetap memiliki kesempatan untuk
berbuat kebajikan.
Contoh
7: Menjaga Tetangga
Seseorang tidak mengganggu
tetangganya dengan suara keras, tidak membuang sampah sembarangan, dan membantu
ketika tetangganya membutuhkan pertolongan.
Contoh
8: Menggabungkan Wara' dan Kelembutan
Seseorang berhati-hati dalam mencari
rezeki agar tidak terjatuh ke dalam perkara haram, tetapi kehati-hatian
tersebut tidak membuatnya kasar kepada orang lain.
Ia tetap lembut, ramah, dan mudah
didekati.
Kesimpulan
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa di
antara adab seorang Muslim adalah menghadapi manusia dengan wajah ceria,
sikap ramah, perkataan yang baik, dan kelembutan.
Kebaikan tidak selalu membutuhkan
harta. Salam, perkataan yang baik, nasihat yang lembut, perhatian kepada
tetangga, kasih sayang kepada anak yatim, dan kesediaan melayani keperluan
orang lain semuanya merupakan bentuk akhlak mulia.
Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kelembutan harus hadir dalam kehidupan
sehari-hari. Bahkan ketika seseorang datang membawa keperluan, beliau
memberikan perhatian sampai keperluannya selesai.
Pada akhirnya, al-Ghazali
mengingatkan bahwa wara' dan kelembutan merupakan dua sifat penting.
Wara' menjaga hubungan seorang hamba dengan Allah, sedangkan kelembutan menjaga
hubungan seorang hamba dengan manusia.
Hikmah
- Wajah ceria membuat seseorang lebih mudah didekati.
- Kelembutan merupakan bagian dari akhlak mulia.
- Perkataan yang baik dapat menjadi sebab mendapatkan
ampunan Allah.
- Menebarkan salam merupakan bentuk kebaikan kepada
sesama Muslim.
- Orang yang tidak memiliki harta tetap dapat bersedekah
melalui perkataan yang baik.
- Kebaikan tidak hanya berupa pemberian materi.
- Menjaga hak tetangga merupakan bagian dari akhlak
Islam.
- Anak yatim membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
- Melayani keperluan manusia membutuhkan kesabaran dan
kelembutan.
- Wara' menjaga seseorang dari perkara yang dapat merusak
agamanya.
- Kelembutan tidak berarti kehilangan ketegasan dalam
kebenaran.
- Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari
kesempurnaan agama.
Penutup
Akhlak seorang Muslim tidak hanya
terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari cara ia
memperlakukan manusia.
Wajah yang ceria, perkataan yang
lembut, salam yang ditebarkan, perhatian kepada tetangga, kasih sayang kepada
anak yatim, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan orang lain merupakan bentuk
kebaikan yang sering kali dianggap sederhana, padahal memiliki nilai yang
besar.
Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan. Justru
kelembutan membuat seseorang dicintai, mudah didekati, dan mampu menyentuh hati
manusia.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya
berusaha menjadi pribadi yang wajahnya menyenangkan, lisannya baik, sikapnya
lembut, hatinya wara', dan kehadirannya membawa ketenangan bagi orang lain.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait :
Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak MenurutImam al-Ghazali (02/05/79)
Adab kepada Sesama Muslim: Tawaduk, Memaafkan, Tidak Mengadu Domba danBerbuat Baik (02/05/78)

.jpg)
0 Komentar