Akhlak Ramah, Wajah Ceria, dan Perkataan Baik Menurut Imam al-Ghazali (02/05/80)

Imam al-Ghazali menjelaskan keutamaan wajah ceria, kelembutan, perkataan baik, menebar salam, dan akhlak yang menjadi sebab keselamatan

Pendahuluan

Islam tidak hanya mengajarkan ibadah yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang Muslim berinteraksi dengan sesama manusia.

Di antara akhlak yang sangat ditekankan adalah wajah yang ceria, sikap yang ramah, perkataan yang lembut, mudah bergaul, menebarkan salam, serta memberikan kebaikan kepada orang lain.

Imam al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa seorang Muslim hendaknya menghadapi manusia dengan wajah yang berseri dan sikap yang menyenangkan. Akhlak semacam ini bukan sekadar perkara sosial, tetapi memiliki kedudukan penting dalam agama karena dapat menjadi sebab datangnya ampunan Allah dan keselamatan dari api neraka.

Dalam pembahasan ini, al-Ghazali juga mengutip sejumlah sabda Rasulullah ﷺ dan perkataan para salaf tentang keutamaan perkataan yang baik, memberi makan, menebarkan salam, memenuhi janji, menjaga amanah, menyayangi anak yatim, serta bersikap lembut dalam berbicara.

Bahkan, pada bagian akhir, al-Ghazali menyampaikan sebuah kisah dari Wahb bin Munabbih tentang seorang ahli ibadah yang diperlihatkan keadaan manusia yang dikelilingi oleh bala tentara Iblis. Ketika ditanya siapa yang dapat selamat dari keadaan tersebut, jawabannya adalah: orang yang wara' dan lembut.

Sumber

Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din
Pengarang: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi
Wafat: 505 H
Pembahasan: Adab pergaulan seorang Muslim dengan sesama manusia.

Pengarang

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Tusi رحمه الله, wafat pada tahun 505 H.

Dalam bagian ini, beliau menjelaskan salah satu bentuk kesempurnaan akhlak seorang Muslim, yaitu menghadapi manusia dengan wajah yang ceria, sikap yang ramah, perkataan yang baik, dan kelembutan dalam berinteraksi.

Teks Arab

ومن آداب معاشرة المسلمين

ومنها أن يكون مع كافة الخلق مستبشرا طلق الوجه رفيقا.

قال صلى الله عليه وسلم: أتدرون على من حرمت النار؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: على اللين الهين السهل القريب.

وقال أبو هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يحب السهل الطلق الوجه.

وقال بعضهم: يا رسول الله، دلني على عمل يدخلني الجنة، فقال: إن من موجبات المغفرة بذل السلام وحسن الكلام.

وقال عبد الله بن عمر: إن البر شيء هين، وجه طليق وكلام لين.

وقال صلى الله عليه وسلم: اتقوا النار ولو بشق تمرة، فمن لم يجد فبكلمة طيبة.

وقال صلى الله عليه وسلم: إن في الجنة لغرفا يرى ظهورها من بطونها وبطونها من ظهورها. فقال أعرابي: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن أطاب الكلام وأطعم الطعام وصلى بالليل والناس نيام.

وقال معاذ بن جبل: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: أوصيك بتقوى الله وصدق الحديث ووفاء العهد وأداء الأمانة وترك الخيانة وحفظ الجار ورحمة اليتيم ولين الكلام وبذل السلام وخفض الجناح.

وقال أنس رضي الله عنه: عرضت لنبي الله صلى الله عليه وسلم امرأة وقالت: لي معك حاجة، وكان معه ناس من أصحابه، فقال: اجلسي في أي نواحي السكك شئت أجلس إليك. ففعلت، فجلس إليها حتى قضت حاجتها.

وقال وهب بن منبه: إن رجلا من بني إسرائيل صام سبعين سنة يفطر في كل سبعة أيام، فسأل الله تعالى أن يريه كيف يغوي الشيطان الناس. فلما طال عليه ذلك ولم يجب، قال: لو اطلعت على خطيئتي وذنبي بيني وبين ربي لكان خيرا لي من هذا الأمر الذي طلبته.

فأرسل الله إليه ملكا، فقال له: إن الله أرسلني إليك وهو يقول لك: إن كلامك هذا الذي تكلمت به أحب إلي مما مضى من عبادتك، وقد فتح الله بصرك فانظر.

فنظر، فإذا جنود إبليس قد أحاطت بالأرض، وإذا ليس أحد من الناس إلا والشياطين حوله كالذئاب.

فقال: أي رب، من ينجو من هذا؟ قال: الورع اللين.

Terjemahan Lengkap

Di antara adab tersebut adalah hendaknya seseorang menghadapi seluruh makhluk dengan wajah yang ceria, wajah yang berseri, dan sikap yang lembut.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tahukah kalian, kepada siapa api neraka diharamkan?”

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda:

“Kepada orang yang lembut, mudah, lapang, dan dekat.”

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang mudah bergaul dan berwajah ceria.”

Sebagian orang berkata:

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.”

Beliau bersabda:

“Sesungguhnya di antara sebab-sebab mendapatkan ampunan adalah menebarkan salam dan berkata dengan perkataan yang baik.”

Abdullah bin Umar berkata:

“Sesungguhnya kebaikan itu merupakan sesuatu yang mudah: wajah yang ceria dan perkataan yang lembut.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma. Jika seseorang tidak mendapatkannya, maka dengan perkataan yang baik.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan bagian dalamnya dapat terlihat dari luarnya.”

Seorang Arab Badui bertanya:

“Untuk siapa kamar-kamar itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Untuk orang yang membaguskan perkataan, memberi makan, dan melakukan salat pada malam hari ketika manusia sedang tidur.”

Mu'adz bin Jabal berkata:

“Rasulullah ﷺ berwasiat kepadaku:

‘Aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah, berkata benar, memenuhi janji, menunaikan amanah, meninggalkan pengkhianatan, menjaga hak tetangga, menyayangi anak yatim, berkata dengan lembut, menebarkan salam, dan merendahkan sayap.’”

Anas رضي الله عنه berkata:

“Seorang perempuan menghadap Nabi Allah ﷺ dan berkata:

‘Aku memiliki suatu keperluan kepadamu.’

Ketika itu beliau sedang bersama beberapa orang sahabatnya. Beliau bersabda:

‘Duduklah di bagian jalan mana saja yang engkau kehendaki, aku akan duduk bersamamu.’

Perempuan itu pun melakukannya. Kemudian beliau duduk bersamanya sampai perempuan tersebut menyelesaikan keperluannya.”

Wahb bin Munabbih berkata:

“Seorang laki-laki dari Bani Israil berpuasa selama tujuh puluh tahun. Ia berbuka setiap tujuh hari sekali. Kemudian ia memohon kepada Allah Ta'ala agar diperlihatkan kepadanya bagaimana setan menyesatkan manusia.

Ketika hal itu berlangsung lama dan permohonannya belum dikabulkan, ia berkata:

‘Seandainya aku diperlihatkan kesalahan dan dosaku antara diriku dan Tuhanku, sungguh hal itu lebih baik bagiku daripada perkara yang aku minta ini.’

Lalu Allah mengutus seorang malaikat kepadanya. Malaikat itu berkata:

‘Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan Dia berfirman kepadamu: Perkataanmu yang baru saja engkau ucapkan itu lebih Aku sukai daripada seluruh ibadahmu yang telah berlalu. Allah telah membuka penglihatanmu, maka lihatlah.’

Laki-laki itu pun melihat. Ternyata bala tentara Iblis telah mengepung bumi. Tidak ada seorang pun dari manusia kecuali di sekelilingnya terdapat setan-setan seperti serigala.

Ia berkata:

‘Wahai Tuhanku, siapa yang dapat selamat dari keadaan ini?’

Allah menjawab:

‘Orang yang wara' dan lembut.’”

Artikel Pengembangan

Wajah Ceria adalah Bagian dari Akhlak

Imam al-Ghazali memulai pembahasan ini dengan sifat:

مستبشرا طلق الوجه رفيقا

Yakni menghadapi manusia dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, wajah yang lapang dan berseri, serta sikap yang lembut.

Wajah ceria bukan berarti seseorang harus selalu tertawa. Maksudnya adalah tidak menghadapi orang lain dengan wajah masam, kasar, atau menunjukkan kebencian tanpa alasan.

Senyum, sapaan yang baik, dan wajah yang menyenangkan sering kali menjadi bentuk sedekah sosial yang sederhana tetapi memiliki pengaruh besar.

Kelembutan Membuat Seseorang Dekat dengan Manusia

Sifat اللين menunjukkan kelembutan dan tidak kasar. Sedangkan السهل menunjukkan kemudahan dalam berinteraksi, tidak menyulitkan manusia tanpa alasan.

Adapun القريب menunjukkan orang yang mudah didekati dan tidak membuat orang lain merasa takut atau enggan berbicara dengannya.

Orang yang memiliki sifat-sifat tersebut biasanya lebih mudah dicintai karena kehadirannya memberikan rasa aman.

Perkataan Baik sebagai Sebab Ampunan

Al-Ghazali mengutip sabda Nabi ﷺ:

إن من موجبات المغفرة بذل السلام وحسن الكلام

“Sesungguhnya di antara sebab-sebab mendapatkan ampunan adalah menebarkan salam dan berkata dengan perkataan yang baik.”

Ini menunjukkan bahwa perkataan yang baik bukan perkara remeh.

Ucapan salam, nasihat yang lembut, menenangkan orang yang sedang bersedih, menghibur orang yang tertimpa kesulitan, atau mengucapkan kalimat yang menyenangkan hati semuanya dapat menjadi bagian dari kebaikan.

Kebaikan Tidak Selalu Membutuhkan Harta

Sabda Nabi ﷺ:

فمن لم يجد فبكلمة طيبة

mengajarkan bahwa seseorang yang tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan tetap dapat berbuat baik.

Ia dapat memberikan perkataan yang baik.

Karena itu, pintu kebaikan tidak hanya terbuka bagi orang kaya. Orang yang tidak memiliki harta pun dapat memperoleh pahala dengan lisannya.

Berbuat Baik kepada Tetangga dan Anak Yatim

Wasiat Rasulullah ﷺ kepada Mu'adz bin Jabal menggabungkan beberapa akhlak sekaligus: takwa, kejujuran, memenuhi janji, amanah, meninggalkan pengkhianatan, menjaga tetangga, menyayangi anak yatim, kelembutan dalam berbicara, menebarkan salam, dan خفض الجناح.

Semua itu menunjukkan bahwa akhlak yang baik tidak berdiri sendiri. Ia merupakan rangkaian sifat yang membentuk kepribadian seorang Muslim.

Kelembutan Rasulullah ﷺ dalam Melayani Keperluan Orang Lain

Kisah Anas رضي الله عنه memperlihatkan bagaimana Rasulullah ﷺ menghadapi seorang perempuan yang memiliki keperluan.

Beliau tidak mengusirnya hanya karena sedang bersama para sahabat. Beliau bahkan memberikan kesempatan kepadanya untuk memilih tempat duduk di bagian jalan yang ia kehendaki, lalu beliau duduk bersamanya sampai keperluannya selesai.

Ini menunjukkan kesabaran dalam mendengarkan dan melayani kebutuhan manusia.

Wara' dan Kelembutan

Pada bagian terakhir, al-Ghazali menyampaikan kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil.

Ketika diperlihatkan bahwa setan berada di sekitar manusia, ia bertanya siapa yang dapat selamat.

Jawabannya:

الورع اللين

“Orang yang wara' dan lembut.”

Wara' menjaga seseorang dari perkara yang meragukan dan dari pelanggaran. Kelembutan menjaga hubungan seseorang dengan manusia.

Dengan demikian, keselamatan membutuhkan bukan hanya banyaknya ibadah, tetapi juga kesucian sikap dan kelembutan akhlak.

Penjelasan

1. مستبشرا

Kata مستبشرا berasal dari makna bisyr, yaitu kegembiraan yang tampak pada wajah.

Karena itu, terjemahan yang tepat dalam konteks ini adalah “berwajah ceria”, “menunjukkan kegembiraan”, atau “berseri-seri”.

2. طلق الوجه

طلق الوجه menggambarkan seseorang yang wajahnya lapang, ceria, dan tidak bermuka masam.

Maknanya dekat dengan sikap mudah didekati dan menyenangkan ketika berinteraksi.

3. رفيقا

رفيقا berarti lembut dan penuh keramahan.

Kelembutan merupakan lawan dari kekasaran dalam ucapan maupun tindakan.

4. اللين الهين السهل القريب

Keempat kata tersebut menggambarkan sifat orang yang lembut, mudah dalam berinteraksi, tidak menyulitkan, dan dekat dengan manusia.

Terjemahan tidak harus memaksakan setiap kata menjadi istilah Indonesia yang terpisah, karena keseluruhannya membentuk satu gambaran tentang pribadi yang lembut dan mudah didekati.

5. بذل السلام

بذل السلام berarti menebarkan atau memberikan salam kepada orang lain.

Salam bukan hanya ucapan, tetapi juga doa keselamatan dan bentuk membuka hubungan dengan kebaikan.

6. حسن الكلام

حسن الكلام berarti perkataan yang baik.

Termasuk di dalamnya ucapan yang benar, sopan, lembut, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain.

7. أطاب الكلام

أطاب الكلام bermakna memperbagus perkataan atau mengucapkan perkataan yang baik.

Ini menunjukkan bahwa kualitas ucapan merupakan salah satu sifat yang dipuji dalam teks tersebut.

8. خفض الجناح

Ungkapan خفض الجناح secara bahasa berarti “merendahkan sayap”.

Dalam penggunaan bahasa Arab, ungkapan ini menunjukkan kerendahan hati, kelembutan, dan tidak bersikap sombong terhadap orang lain.

9. حفظ الجار

حفظ الجار berarti menjaga tetangga.

Maksudnya mencakup menjaga hak-haknya, tidak menyakitinya, dan memperlakukannya dengan baik.

10. ورحمة اليتيم

رحمة اليتيم berarti menyayangi anak yatim.

Anak yatim membutuhkan perhatian dan kasih sayang karena kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

11. الورع اللين

الورع adalah sikap menjaga diri dari perkara yang haram dan perkara yang dikhawatirkan membawa kepada keharaman.

Sedangkan اللين adalah kelembutan dalam berinteraksi.

Gabungan keduanya menggambarkan seorang yang menjaga dirinya di hadapan Allah sekaligus menjaga hubungan baik dengan manusia.

Contoh

Contoh 1: Menyambut Orang dengan Wajah Ceria

Ketika seseorang datang bertemu dengan kita, kita menyambutnya dengan senyum dan wajah yang berseri, bukan dengan wajah masam.

Contoh 2: Memberikan Perkataan yang Baik

Seorang teman sedang mengalami kesulitan. Daripada mencelanya, kita berkata:

“Semoga Allah memudahkan urusanmu. Jangan berputus asa.”

Kalimat sederhana dapat menjadi bentuk kebaikan.

Contoh 3: Menebarkan Salam

Ketika bertemu sesama Muslim, seseorang membiasakan diri mengucapkan salam terlebih dahulu.

Dengan demikian, ia membangun hubungan dengan doa keselamatan dan kedamaian.

Contoh 4: Menasihati dengan Lembut

Seorang anak melakukan kesalahan. Orang tuanya tidak langsung membentak, tetapi menjelaskan kesalahannya dengan bahasa yang lembut.

Tujuannya bukan sekadar membuat anak takut, tetapi membantunya memahami kesalahan.

Contoh 5: Melayani Keperluan Orang Lain

Seseorang sedang sibuk bekerja ketika temannya datang menyampaikan keperluan penting. Ia mendengarkan dengan baik dan memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan pembicaraan.

Contoh 6: Berbuat Baik Tanpa Harta

Seseorang tidak memiliki uang untuk disedekahkan. Namun ia melihat orang lain sedang bersedih dan menghiburnya dengan perkataan yang baik.

Ia tetap memiliki kesempatan untuk berbuat kebajikan.

Contoh 7: Menjaga Tetangga

Seseorang tidak mengganggu tetangganya dengan suara keras, tidak membuang sampah sembarangan, dan membantu ketika tetangganya membutuhkan pertolongan.

Contoh 8: Menggabungkan Wara' dan Kelembutan

Seseorang berhati-hati dalam mencari rezeki agar tidak terjatuh ke dalam perkara haram, tetapi kehati-hatian tersebut tidak membuatnya kasar kepada orang lain.

Ia tetap lembut, ramah, dan mudah didekati.

Kesimpulan

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa di antara adab seorang Muslim adalah menghadapi manusia dengan wajah ceria, sikap ramah, perkataan yang baik, dan kelembutan.

Kebaikan tidak selalu membutuhkan harta. Salam, perkataan yang baik, nasihat yang lembut, perhatian kepada tetangga, kasih sayang kepada anak yatim, dan kesediaan melayani keperluan orang lain semuanya merupakan bentuk akhlak mulia.

Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kelembutan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika seseorang datang membawa keperluan, beliau memberikan perhatian sampai keperluannya selesai.

Pada akhirnya, al-Ghazali mengingatkan bahwa wara' dan kelembutan merupakan dua sifat penting. Wara' menjaga hubungan seorang hamba dengan Allah, sedangkan kelembutan menjaga hubungan seorang hamba dengan manusia.

Hikmah

  1. Wajah ceria membuat seseorang lebih mudah didekati.
  2. Kelembutan merupakan bagian dari akhlak mulia.
  3. Perkataan yang baik dapat menjadi sebab mendapatkan ampunan Allah.
  4. Menebarkan salam merupakan bentuk kebaikan kepada sesama Muslim.
  5. Orang yang tidak memiliki harta tetap dapat bersedekah melalui perkataan yang baik.
  6. Kebaikan tidak hanya berupa pemberian materi.
  7. Menjaga hak tetangga merupakan bagian dari akhlak Islam.
  8. Anak yatim membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
  9. Melayani keperluan manusia membutuhkan kesabaran dan kelembutan.
  10. Wara' menjaga seseorang dari perkara yang dapat merusak agamanya.
  11. Kelembutan tidak berarti kehilangan ketegasan dalam kebenaran.
  12. Akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kesempurnaan agama.

Penutup

Akhlak seorang Muslim tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari cara ia memperlakukan manusia.

Wajah yang ceria, perkataan yang lembut, salam yang ditebarkan, perhatian kepada tetangga, kasih sayang kepada anak yatim, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan orang lain merupakan bentuk kebaikan yang sering kali dianggap sederhana, padahal memiliki nilai yang besar.

Teladan Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan. Justru kelembutan membuat seseorang dicintai, mudah didekati, dan mampu menyentuh hati manusia.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang wajahnya menyenangkan, lisannya baik, sikapnya lembut, hatinya wara', dan kehadirannya membawa ketenangan bagi orang lain.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait :

Adab Meminta Izin, Memuliakan Orang Tua, dan Menyayangi Anak MenurutImam al-Ghazali (02/05/79)

Adab kepada Sesama Muslim: Tawaduk, Memaafkan, Tidak Mengadu Domba danBerbuat Baik (02/05/78)

Menepati Janji dan Bersikap Adil kepada Sesama dan Memperlakukan OrangLain Sebagaimana Kita Ingin Diperlakukan (02/05/81)

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...