Pendahuluan
Islam memberikan perhatian besar
terhadap hubungan antara ulama dan penguasa. Kekuasaan memiliki pengaruh luas
terhadap kehidupan masyarakat, sehingga seorang penguasa dituntut menegakkan
keadilan dan menjaga amanah.
Dalam pembahasan ini, Imam
al-Ghazali menampilkan sejumlah kisah ulama salaf ketika berhadapan dengan para
penguasa. Mereka tidak mendatangi penguasa untuk mencari kedudukan, harta, atau
kemuliaan, tetapi ketika keadaan menuntut mereka berbicara, mereka menyampaikan
nasihat dengan tegas.
Di antara kisah tersebut adalah
keberanian Sufyan ats-Tsauri menasihati Abu Ja'far al-Mansur, nasihat Ibn Abi
Syumailah kepada Abdul Malik bin Marwan, serta teguran Abu Dzar mengenai bahaya
kekuasaan. Kisah-kisah ini menggambarkan bahwa kedekatan dengan penguasa tidak
selalu tercela apabila dilakukan karena kebutuhan syar'i dan untuk menyampaikan
kebenaran.
Sumber
Kitab: Ihya' 'Ulum al-Din (إحياء
علوم الدين), Jilid 2
Bab: الباب السادس فيما يحل من مخالطة السلاطين
الظلمة وما يحرم وحكم غشيان مجالسهم والدخول عليهم والإكرام لهم
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi
(أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي)
Wafat: 505 H
Teks Arab
وعن سفيان الثوري رضي الله عنه قال
أدخلت على أبي جعفر المنصور بمنى فقال لي ارفع إلينا حاجتك فقلت له اتق الله فقد
ملأت الأرض ظلماً وجوراً
قال فطأطأ رأسه ثم رفعه فقال ارفع
إلينا حاجتك فقلت إنما أنزلت هذه المنزلة بسيوف المهاجرين والأنصار وأبناؤهم
يموتون جوعاً فاتق الله وأوصل إليهم حقوقهم فطأطأ رأسه ثم رفعه فقال ارفع إلينا
حاجتك فقلت حج عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقال لخازنه كم أنفقت قال بضعة عشر
درهماً وأرى ههنا أموالاً لا تطيق الجمال حملها وخرج فهكذا كانوا يدخلون على
السلاطين إذا ألزموا وكانوا يغررون بأرواحهم للانتقام لله من ظلمهم
ودخل ابن أبي شميلة على عبد الملك بن
مروان فقال له تكلم فقال له إن الناس لا ينجون في القيامة من غصصها ومراراتها
ومعاينة الردى فيها إلا من أرضى الله بسخط نفسه فبكى عبد الملك وقال لأجعلن هذه
الكلمة مثالاً نصب عيني ما عشت
ولما استعمل عثمان بن عفان رضي الله
عنه عبد الله بن عامر أتاه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبطأ عنه أبو ذر
وكان له صديقاً فعاتبه فقال أبو ذر
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول أن الرجل إذا ولى ولايته تباعد الله عنه
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan dari Sufyan
ats-Tsauri radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
“Aku pernah menemui Abu Ja'far
al-Mansur di Mina. Ia berkata kepadaku, ‘Sampaikanlah kepada kami
kebutuhanmu.’
Aku menjawab, ‘Bertakwalah kepada
Allah. Sungguh, engkau telah memenuhi bumi dengan kezaliman dan ketidakadilan.’
Ia menundukkan kepalanya, kemudian
mengangkatnya kembali dan berkata, ‘Sampaikanlah kepada kami kebutuhanmu.’
Aku berkata, ‘Sesungguhnya engkau
memperoleh kedudukan ini dengan pedang kaum Muhajirin dan Anshar, sedangkan
anak-anak keturunan mereka sekarang mati kelaparan. Maka bertakwalah kepada
Allah dan tunaikanlah hak-hak mereka kepada mereka.’
Ia kembali menundukkan kepalanya,
kemudian mengangkatnya dan berkata, ‘Sampaikanlah kepada kami kebutuhanmu.’
Aku menjawab, ‘Umar bin al-Khaththab
pernah berhaji. Ia bertanya kepada penjaga perbendaharaannya, “Berapa banyak
yang engkau belanjakan?” Ia menjawab, “Beberapa belas dirham.” Sedangkan aku
melihat di sini harta yang bahkan tidak mampu diangkut oleh unta-unta.’
Kemudian Sufyan keluar.
Demikianlah dahulu para ulama
memasuki tempat para penguasa ketika mereka memang diwajibkan atau terpaksa
mendatangi mereka. Mereka mempertaruhkan jiwa mereka demi membela kebenaran dan
melakukan perlawanan terhadap kezaliman karena Allah.”
Kemudian Ibn Abi Syumailah
masuk menemui Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik berkata kepadanya,
“Bicaralah.”
Ia berkata:
“Sesungguhnya manusia tidak akan
selamat pada hari kiamat dari berbagai kesulitan, kepahitan, dan menyaksikan
kebinasaan di dalamnya, kecuali orang yang mencari keridaan Allah meskipun hal
itu menyebabkan dirinya mendapatkan kemurkaan manusia.”
Mendengar perkataan tersebut, Abdul
Malik menangis. Ia berkata, “Aku akan menjadikan perkataan ini sebagai nasihat
yang selalu berada di hadapan mataku selama aku hidup.”
Ketika Utsman bin Affan
radhiyallahu 'anhu mengangkat Abdullah bin Amir sebagai pejabat,
para sahabat Rasulullah ﷺ mendatanginya. Adapun
Abu Dzar datang belakangan, padahal ia merupakan sahabatnya.
Abu Dzar kemudian menegurnya dan
berkata:
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya apabila seseorang
memegang suatu kekuasaan, Allah menjauh darinya.’”
Artikel Pengembangan
1.
Nasihat kepada penguasa bukan untuk mencari keuntungan
Kisah Sufyan ats-Tsauri menunjukkan
perbedaan yang sangat jelas antara mendatangi penguasa demi kepentingan
dunia dan mendatangi penguasa untuk menyampaikan kebenaran.
Sufyan tidak menggunakan kesempatan
tersebut untuk meminta harta atau kedudukan. Ketika Abu Ja'far al-Mansur
mempersilahkannya menyampaikan kebutuhan, ia justru menyampaikan kritik
terhadap kezaliman.
Ini merupakan gambaran penting
tentang keberanian moral seorang ulama: kesempatan untuk berbicara kepada
penguasa dipandang sebagai amanah untuk menyampaikan kebenaran, bukan sebagai
peluang memperoleh keuntungan pribadi.
2.
Kritik diarahkan kepada kezaliman
Ucapan Sufyan, اتق الله فقد ملأت الأرض ظلماً وجوراً, merupakan teguran
langsung agar penguasa takut kepada Allah karena kekuasaan tidak membebaskan
seseorang dari pertanggungjawaban.
Kekuasaan dalam perspektif Islam
bukanlah hak mutlak untuk melakukan apa saja. Ia merupakan amanah yang akan
dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, ketika seorang penguasa
melakukan kezaliman, nasihat yang benar bukanlah memuji kesalahannya, tetapi
mengingatkannya kepada Allah dan hak-hak rakyat.
3.
Hak masyarakat harus dikembalikan
Sufyan juga mengingatkan bahwa
kekuasaan tidak boleh hanya menghasilkan kemakmuran bagi penguasa dan kelompok
di sekitarnya.
Ia secara khusus menyebut keturunan
Muhajirin dan Anshar yang mengalami kesulitan. Pesan moralnya adalah bahwa
harta dan kekuasaan harus diarahkan untuk memenuhi hak orang-orang yang memang
berhak.
Dengan demikian, seorang pemimpin
harus memperhatikan:
- kebutuhan masyarakat;
- hak orang-orang yang lemah;
- distribusi kekayaan;
- amanah harta publik;
- dan larangan mengambil harta secara zalim.
4.
Perbandingan dengan Umar bin al-Khaththab
Sufyan membandingkan keadaan yang ia
lihat dengan kesederhanaan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu ketika
berhaji.
Perbandingan tersebut bukan
semata-mata mengenai jumlah uang yang dibelanjakan. Lebih dalam dari itu,
Sufyan ingin menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sikap
hati-hati terhadap harta publik.
Semakin besar kekuasaan dan semakin
besar akses seseorang terhadap harta negara, semakin besar pula kebutuhan untuk
menjaga amanah.
5.
Nasihat yang membuat penguasa menangis
Kisah Ibn Abi Syumailah menunjukkan
bahwa nasihat yang singkat sekalipun dapat memberikan pengaruh besar apabila
disampaikan dengan kesadaran tentang akhirat.
Ia mengingatkan bahwa keselamatan
pada hari kiamat bergantung pada keridaan Allah, bukan pada keridaan manusia.
Penguasa yang memiliki kekuasaan
besar tetap akan menghadapi kematian dan perhitungan amal. Karena itu,
keputusan yang mungkin membuat seseorang tidak disukai manusia tetapi diridai
Allah lebih berharga daripada keputusan yang menyenangkan manusia namun
mengundang kemurkaan Allah.
6.
Bahaya kekuasaan bagi agama
Perkataan Abu Dzar menegaskan sisi
lain dari pembahasan ini: kekuasaan dapat menjadi ujian berat bagi orang
yang memegangnya.
Seorang pejabat dapat memperoleh
banyak peluang untuk melakukan kebaikan, tetapi sekaligus menghadapi godaan
berupa harta, kedudukan, pujian, dan kepentingan politik.
Karena itu, semakin tinggi jabatan
seseorang, semakin besar pula kebutuhan terhadap ketakwaan, keadilan, dan
pengawasan terhadap diri sendiri.
7.
Perbedaan antara mendatangi penguasa dan mencari kedekatan dengannya
Pembahasan Imam al-Ghazali
sebelumnya tidak bermaksud bahwa setiap interaksi dengan penguasa otomatis
haram.
Yang menjadi masalah adalah ketika
seseorang mendatangi penguasa untuk memperoleh keuntungan duniawi, kemudian
harus memuji, membenarkan kebatilan, membantu kezaliman, atau merendahkan
dirinya demi mendapatkan pemberian.
Adapun mendatangi penguasa untuk menghilangkan
kezaliman, membela hak orang lain, menyampaikan nasihat, atau memenuhi
kebutuhan yang dibenarkan syariat, memiliki hukum yang berbeda selama
seseorang mampu menjaga dirinya dari kemaksiatan.
Contoh
Contoh
1: Menyampaikan keluhan rakyat
Seorang ulama mengetahui bahwa
masyarakat miskin tidak menerima hak yang seharusnya mereka dapatkan. Ia
mendapat kesempatan berbicara langsung kepada pejabat.
Ia tidak meminta hadiah atau
kedudukan. Sebaliknya, ia menyampaikan:
“Bertakwalah kepada Allah dan
tunaikan hak masyarakat yang berada di bawah tanggung jawab Anda.”
Sikap seperti ini lebih dekat dengan
semangat nasihat Sufyan ats-Tsauri.
Contoh
2: Menolak pujian yang tidak benar
Seorang pejabat melakukan kebijakan
yang merugikan masyarakat. Kemudian seorang tokoh diminta memuji kebijakan
tersebut agar citra pejabat tetap baik.
Tokoh tersebut seharusnya tidak
memuji sesuatu yang ia ketahui sebagai kesalahan. Ia dapat menyampaikan kritik
dengan cara yang bijaksana dan tetap menjaga adab.
Contoh
3: Mengingatkan pejabat tentang amanah
Seorang pejabat memiliki akses
terhadap harta publik. Seorang penasihat mengingatkannya agar membedakan harta
pribadi dengan harta negara.
Nasihat tersebut bukan bentuk
permusuhan, melainkan upaya menjaga amanah dan mencegah penyalahgunaan
kekuasaan.
Contoh
4: Mendatangi penguasa karena kebutuhan syar'i
Seseorang yang dizalimi tidak
memiliki jalan untuk mendapatkan haknya kecuali melalui pejabat yang berwenang.
Ia kemudian datang untuk menyampaikan pengaduan.
Dalam kondisi seperti ini, tujuan
kedatangannya adalah menghilangkan kezaliman, bukan memperoleh
keuntungan haram.
Penutup
Kisah Sufyan ats-Tsauri, Ibn Abi
Syumailah, dan Abu Dzar memberikan pelajaran penting tentang sikap seorang
ulama terhadap kekuasaan.
Mereka tidak menjadikan kedekatan
dengan penguasa sebagai jalan memperoleh kemewahan. Ketika berada di hadapan
penguasa, mereka justru mengingatkan tentang takwa, keadilan, hak rakyat,
amanah harta, dan pertanggungjawaban di akhirat.
Dari pembahasan ini dapat dipahami
bahwa persoalan utama bukan sekadar datang atau tidak datang kepada penguasa,
tetapi apa tujuan kedatangan tersebut dan apakah seseorang mampu menjaga
agamanya.
Jika kedatangan dilakukan untuk
mencari dunia, memuji kezaliman, membantu kemaksiatan, atau mendapatkan
keuntungan dengan cara yang haram, maka hal itu sangat berbahaya. Namun jika
kedatangan diperlukan untuk menghilangkan kezaliman, membela hak, atau
menyampaikan nasihat yang benar, maka ia dapat menjadi bentuk tanggung jawab
moral selama dilakukan sesuai batas-batas syariat.
Pelajaran terbesar dari para ulama
tersebut adalah bahwa kekuasaan tidak boleh membuat seseorang takut
mengatakan kebenaran, dan kedekatan dengan penguasa tidak boleh dibayar dengan
mengorbankan agama.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Nasihat Thawus kepadaKhalifah Hisyam bin Abdul Malik: Keberanian Ulama di Hadapan Penguasa
Nasihat Malik bin Dinar
kepada Penguasa: Jangan Tergoda Harta dan Ingat Pertanggungjawaban di Hadapan
Allah


0 Komentar