Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: Apakah Dua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang perumpamaan orang haus dan bantahan Imam Al-Ghazali terhadap argumen filsuf mengenai kehendak

Pendahuluan

Dalam Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali mengutip salah satu perumpamaan yang paling terkenal dari para filsuf. Mereka mengibaratkan seseorang yang sangat haus dihadapkan pada dua gelas air yang benar-benar sama. Menurut mereka, orang tersebut tidak mungkin memilih salah satunya tanpa adanya faktor pembeda, sekecil apa pun.

Melalui ilustrasi ini, para filsuf ingin membuktikan bahwa kehendak tidak mungkin menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang benar-benar setara. Imam Al-Ghazali kemudian mengemukakan argumen tersebut secara utuh sebelum memberikan bantahannya pada pembahasan berikutnya.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Perumpamaan orang haus sebagai argumen filsuf mengenai hakikat kehendak.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Perumpamaan Orang yang Haus

"Apabila di hadapan seseorang yang sangat haus terdapat dua gelas air yang benar-benar sama dari segala sisi, maka ia tidak mungkin mengambil salah satunya tanpa adanya suatu pembeda.

Hal ini menegaskan bahwa istilah 'kehendak' yang kalian gunakan hanyalah dipinjam dari kehendak yang kita kenal pada diri manusia.

Pada diri kita sendiri, tidak mungkin kehendak memilih salah satu dari dua hal yang benar-benar sama.

Bahkan, apabila di hadapan orang yang haus terdapat dua gelas air yang sama dari segala sisi dalam hubungannya dengan tujuan yang diinginkannya, ia tidak mungkin mengambil salah satunya.

Ia hanya akan mengambil gelas yang menurutnya lebih baik, lebih ringan, atau lebih dekat dengan tangan kanannya apabila ia terbiasa menggunakan tangan kanan, atau karena sebab-sebab lain, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Jika tidak ada satu pun sebab seperti itu, maka tidak mungkin salah satu dari dua hal yang sama dipilih begitu saja."

Artikel Pengembangan

Perumpamaan yang Sangat Terkenal dalam Filsafat

Contoh "dua gelas air" merupakan salah satu ilustrasi paling terkenal dalam sejarah filsafat.

Melalui contoh ini, para filsuf ingin menunjukkan bahwa pilihan selalu membutuhkan alasan yang membedakan satu objek dari objek lainnya.

Jika tidak ada pembeda sama sekali, menurut mereka, maka tidak akan terjadi pilihan.

Hakikat Argumen Mereka

Argumen tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

  • Dua pilihan benar-benar sama.
  • Tidak ada kelebihan salah satunya.
  • Tidak ada alasan untuk memilih.
  • Karena itu, pilihan tidak akan pernah terjadi.

Mereka kemudian menerapkan logika ini pada pembahasan tentang kehendak Allah dalam menciptakan alam.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Para filsuf mengatakan bahwa orang yang haus biasanya memilih salah satu gelas karena ada faktor tertentu, misalnya:

  • letaknya lebih dekat;
  • terlihat lebih bersih;
  • lebih mudah dijangkau;
  • berada di sisi tangan yang biasa digunakan;
  • atau terdapat alasan kecil lain yang kadang tidak disadari.

Artinya, menurut mereka, selalu ada penyebab yang membuat salah satu pilihan lebih diutamakan.

Mengapa Al-Ghazali Menyampaikan Argumen Ini?

Sebagaimana metode beliau di seluruh kitab Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali terlebih dahulu memaparkan argumen lawan secara lengkap.

Beliau tidak memotong ataupun menyederhanakan pendapat mereka.

Dengan cara ini, pembaca dapat memahami posisi para filsuf secara utuh sebelum membaca jawaban dan bantahan yang akan diberikan pada bagian selanjutnya.

Posisi Perdebatan

Perlu dipahami bahwa contoh orang yang haus ini merupakan argumen para filsuf, bukan pendapat akhir Imam Al-Ghazali.

Mereka menggunakan analogi perilaku manusia untuk menjelaskan cara kerja kehendak secara umum.

Pada bagian-bagian berikutnya, Al-Ghazali akan menunjukkan bahwa menyamakan kehendak Allah dengan kehendak manusia merupakan analogi yang tidak dapat dijadikan dasar dalam pembahasan sifat-sifat Allah.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memahami argumen lawan secara utuh sebelum membantahnya.
  • Analogi yang berlaku pada manusia tidak selalu dapat diterapkan kepada Allah.
  • Perdebatan ilmiah harus dibangun di atas definisi dan konsep yang jelas.
  • Contoh sederhana sering digunakan dalam filsafat untuk menjelaskan persoalan metafisika yang rumit.
  • Kehati-hatian dalam menggunakan perumpamaan sangat penting agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru tentang sifat-sifat Allah.
  • Membaca karya ulama klasik secara berurutan membantu memahami alur argumentasi secara utuh.

Penutup

Melalui perumpamaan orang yang haus dan dua gelas air yang sama, para filsuf berusaha membuktikan bahwa tidak mungkin terjadi pilihan tanpa adanya faktor pembeda. Mereka menjadikan ilustrasi ini sebagai dasar untuk mengkritik konsep kehendak dalam penciptaan alam. Imam Al-Ghazali mengutip argumen tersebut secara lengkap agar pembaca memahami titik persoalannya, sebelum beliau menjelaskan pada pembahasan berikutnya bahwa kehendak Allah tidak dapat disamakan dengan kehendak manusia dan tidak tunduk pada analogi-analogi yang terbatas pada pengalaman makhluk.

Teks Arab :

العطشان

إذا كان بين يديه قدحان متساويان لا يمكن أن يأخذ أحدهما بدون تمييز يحقق هذا أن لفظ الإرادة مستعارة من إرادتنا ولا يتصور منا أن نميز بالإرادة الشيء عن مثله، بل لو كان بين يدي العطشان قدحان من الماء يتساويان من كل وجه بالإضافة إلى غرضه، لم يمكن أن يأخذ أحدهما، بل إنما يأخذ ما يراه أحسن أو أخف أو أقرب إلى جانب يمينه، إن كان عادته تحريك اليمين أو سبب من هذه الأسباب إما خفي وإما جلي، وإلا فلا يتصور تمييز الشيء عن مثله بحال.

Baca juga:

Benarkah Memilih Salah Satu dari Dua Hal yang Sama ItuMustahil? Inilah Jawaban Imam Al-Ghazali

Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf:Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Kehendak Allah Tidak Bisa Disamakan dengan Kehendak Manusia?



Benarkah Memilih Salah Satu dari Dua Hal yang Sama Itu Mustahil? Inilah Jawaban Imam Al-Ghazali

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali terhadap klaim bahwa kehendak tidak dapat memilih dua kemungkinan yang sama

Pendahuluan

Dalam perdebatan mengenai kehendak Allah dan penciptaan alam, para filsuf menolak penjelasan Imam Al-Ghazali bahwa kehendak (iradah) berfungsi menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang sama-sama mungkin. Mereka beranggapan bahwa dua hal yang benar-benar sama tidak mungkin dibedakan. Jika salah satunya dipilih, berarti keduanya sejak awal memang tidak benar-benar sama.

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip keberatan mereka secara rinci sebelum memberikan jawabannya pada bagian berikutnya. Keberatan ini menjadi salah satu inti diskusi dalam filsafat dan ilmu kalam, yaitu tentang hubungan antara kesamaan (tamātsul), perbedaan (tamayyuz), dan kehendak (iradah).

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Keberatan para filsuf terhadap konsep kehendak Allah sebagai penentu salah satu dari dua kemungkinan.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Imam Al-Ghazali adalah ulama besar Ahlus Sunnah yang menguasai fikih, usul fikih, ilmu kalam, logika, tasawuf, dan filsafat. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritisi berbagai teori metafisika para filsuf dengan argumentasi logis yang mendalam.

Terjemahan Lengkap

Mereka Berkata: Dalam Dua Hal Itu Terdapat Kontradiksi

Apabila mereka berkata:

"Menetapkan adanya suatu sifat yang tugasnya membedakan salah satu dari dua hal yang sama adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami, bahkan mengandung kontradiksi.

Sebab apabila dua hal disebut sama, artinya tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Sedangkan apabila salah satunya dibedakan dari yang lain, berarti keduanya bukan lagi dua hal yang sama.

Janganlah disangka bahwa dua warna hitam yang berada pada dua tempat berbeda benar-benar sama dari segala sisi.

Sebab yang satu berada di tempat ini, sedangkan yang lain berada di tempat yang lain.

Perbedaan tempat itu sendiri sudah merupakan pembeda.

Demikian pula dua warna hitam yang muncul pada waktu berbeda dalam satu tempat tidak dapat dikatakan sama secara mutlak.

Sebab yang satu berbeda dari yang lain karena perbedaan waktu.

Bagaimana mungkin keduanya sama dari segala sisi?

Apabila kami mengatakan bahwa dua warna hitam itu serupa, yang kami maksud hanyalah kesamaannya dalam sifat kehitaman secara khusus, bukan kesamaan mutlak dalam segala hal.

Sebab apabila tempat dan waktu benar-benar sama sehingga tidak ada lagi perbedaan sedikit pun, maka tidak mungkin lagi dipahami adanya dua warna hitam, bahkan konsep dua (dua entitas) itu sendiri tidak lagi dapat dipahami."

Artikel Pengembangan

Keberatan Logis Para Filsuf

Pada bagian ini para filsuf mencoba membantah penjelasan Al-Ghazali mengenai fungsi kehendak.

Mereka mengatakan bahwa sesuatu hanya dapat dipilih apabila memang memiliki perbedaan.

Jika dua kemungkinan benar-benar identik dalam segala sisi, maka tidak ada alasan untuk memilih salah satunya.

Karena itu, menurut mereka, konsep "kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama" merupakan kontradiksi.

Contoh Dua Warna Hitam

Untuk memperkuat pendapatnya, para filsuf memberikan contoh sederhana.

Bayangkan ada dua benda berwarna hitam.

Apakah keduanya benar-benar sama?

Menurut mereka, jawabannya tidak.

Mengapa?

Karena:

  • mungkin berada di tempat yang berbeda;
  • mungkin muncul pada waktu yang berbeda;
  • atau memiliki hubungan yang berbeda dengan objek lain.

Artinya, selalu ada pembeda di antara keduanya.

Dengan demikian, kesamaan yang dimaksud hanyalah pada sifat "hitam", bukan pada seluruh aspek keberadaannya.

Hakikat Kesamaan Menurut Filsafat

Para filsuf membedakan antara:

  • kesamaan dalam satu sifat, dan
  • kesamaan mutlak dalam segala aspek.

Menurut mereka, kesamaan mutlak tidak mungkin melahirkan dua entitas.

Jika seluruh sifat benar-benar identik tanpa sedikit pun perbedaan, maka yang ada hanyalah satu, bukan dua.

Inilah dasar keberatan mereka terhadap teori bahwa kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan yang benar-benar sama.

Mengapa Al-Ghazali Mengutip Keberatan Ini?

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, Al-Ghazali terlebih dahulu memaparkan argumen lawan secara utuh.

Beliau tidak menyederhanakan atau melemahkan keberatan tersebut.

Justru dengan menyampaikan argumentasi lawan secara lengkap, pembaca dapat memahami pokok persoalan sebelum membaca jawaban yang akan beliau berikan pada bagian selanjutnya.

Metode ini menunjukkan objektivitas ilmiah yang menjadi ciri khas Tahāfut al-Falāsifah.

Nilai Filosofis Pembahasan

Diskusi ini berkaitan dengan persoalan yang sangat mendasar dalam metafisika dan logika, yaitu:

  • apa yang dimaksud dengan "dua hal yang sama";
  • apakah kesamaan mutlak benar-benar mungkin;
  • bagaimana kehendak berhubungan dengan berbagai kemungkinan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar bagi pembahasan tentang kebebasan kehendak, penciptaan alam, dan sifat-sifat Allah dalam tradisi ilmu kalam maupun filsafat Islam.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memahami argumen lawan secara utuh sebelum memberikan bantahan.
  • Kesamaan dalam satu sifat tidak selalu berarti identik dalam seluruh aspek.
  • Perdebatan ilmiah membutuhkan definisi istilah yang jelas agar tidak terjadi kekeliruan berpikir.
  • Logika merupakan alat penting dalam memahami persoalan akidah, tetapi harus digunakan secara konsisten.
  • Perbedaan antara "serupa" dan "identik" memiliki konsekuensi besar dalam pembahasan filsafat.
  • Dialog ilmiah yang sehat dimulai dengan memahami posisi lawan secara adil sebelum mengkritiknya.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali mengutip keberatan para filsuf terhadap konsep bahwa kehendak Allah memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama-sama mungkin. Menurut mereka, kesamaan mutlak tidak mungkin melahirkan pilihan, karena setiap pilihan pasti menunjukkan adanya perbedaan. Mereka juga mencontohkan dua warna hitam yang tidak pernah benar-benar identik karena selalu berbeda dalam tempat, waktu, atau keadaan. Uraian ini menjadi landasan bagi jawaban Imam Al-Ghazali pada pembahasan berikutnya, ketika beliau menjelaskan hakikat kehendak ilahi dan membedakannya dari cara berpikir yang diterapkan para filsuf terhadap benda-benda dan sifat-sifat makhluk.

Teks Arab :

في الأمرين تناقض

فإن قيل: إثبات صفة شأنها تمييز الشيء عن مثله غير معقول بل هو متناقض، فإن كونه مثلًا معناه أنه لا تميز له، وكونه مميزًا معناه أنه ليس مثلًا، ولا ينبغي أن يظن أن السوادين في محلين متماثلان من كل وجه لأن هذا في محل وذاك في محل آخر، وهذا يوجب التميز.

ولا السوادان في وقتين في محل واحد متماثلان مطلقًا لأن هذا فارق ذلك في الوقت، فكيف يساويه من كل وجه. وإذا قلنا: السوادان مثلان، عنينا به في السوادية مضافًا إليه على الخصوص لا على الإطلاق، وإلا فلو اتحد المحل والزمان ولم يبق تغاير لم يعقل سوادان ولا عقلت الإثنينية أصلًا.

Baca juga:

Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf:Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

IInilah Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Tidak Menciptakan Alam Lebih Awal?

Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: ApakahDua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?



Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang jawaban Imam Al-Ghazali mengenai kehendak Allah yang menentukan waktu penciptaan alam

Pendahuluan

Salah satu argumen utama para filsuf terhadap penciptaan alam adalah pertanyaan tentang mengapa Allah memilih satu waktu tertentu untuk menciptakan alam, bukan waktu sebelumnya atau sesudahnya. Menurut mereka, jika semua waktu sama-sama mungkin, maka harus ada alasan yang membedakan satu waktu dari waktu lainnya. Jika tidak ada pembeda, berarti penciptaan tanpa sebab yang memadai.

Imam Al-Ghazali menjawab keberatan ini dengan menjelaskan hakikat iradah (kehendak) Allah. Beliau menerangkan bahwa fungsi kehendak memang untuk menentukan salah satu dari berbagai kemungkinan yang sama-sama mungkin terjadi. Oleh sebab itu, pertanyaan "mengapa kehendak memilih yang ini dan bukan yang itu" sama kelirunya dengan bertanya "mengapa ilmu mengetahui sesuatu sebagaimana adanya". Kedua pertanyaan tersebut mempertanyakan hakikat suatu sifat yang memang demikian adanya.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli usul fikih, mutakallim, sufi, dan filsuf Islam yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritik berbagai pandangan metafisika para filsuf dengan pendekatan rasional yang mendalam dan sistematis.

Terjemahan Lengkap

Keberatan Mereka: Apa yang Membuat Satu Waktu Berbeda dari Waktu Lain?

Apabila mereka berkata:

"Apa yang membuat kalian menolak orang yang tidak lagi berdalil dengan klaim 'kepastian akal', tetapi menggunakan alasan lain, yaitu bahwa seluruh waktu sama dalam kemungkinan menjadi tempat bergantungnya kehendak?

Lalu apa yang membedakan suatu waktu tertentu dari waktu sebelumnya dan sesudahnya?

Bukankah tidak mustahil bahwa yang dikehendaki adalah lebih dahulu atau lebih kemudian?

Demikian pula dalam persoalan warna putih dan warna hitam, atau gerak dan diam.

Kalian mengatakan bahwa warna putih terjadi karena kehendak azali, padahal tempatnya sama-sama dapat menerima warna hitam sebagaimana menerima warna putih.

Lalu mengapa kehendak azali memilih warna putih, bukan warna hitam?

Apa yang membedakan salah satu dari dua kemungkinan itu sehingga menjadi objek kehendak?

Kami mengetahui secara pasti bahwa sesuatu tidak dapat dibedakan dari sesuatu yang setara dengannya kecuali oleh suatu penentu (mukhashshish).

Kalau hal itu boleh terjadi tanpa penentu, tentu alam juga dapat muncul begitu saja, padahal keberadaannya sama-sama mungkin sebagaimana ketiadaannya, lalu sisi keberadaan dipilih tanpa adanya penentu."

Lalu Apa yang Menentukan Kehendak Itu Sendiri?

"Jika kalian menjawab bahwa kehendaklah yang menentukan, maka kami bertanya lagi:

Mengapa kehendak itu sendiri memilih salah satu kemungkinan?

Mengapa ia memilih demikian?

Jika kalian menjawab bahwa terhadap Yang Azali tidak boleh ditanyakan 'mengapa', maka hendaknya alam juga dianggap azali sehingga tidak perlu lagi ditanyakan siapa pencipta dan penyebabnya.

Sebab terhadap sesuatu yang azali tidak dapat diajukan pertanyaan 'mengapa'.

Jika boleh dikatakan bahwa kehendak azali secara kebetulan memilih salah satu dari dua kemungkinan, maka lebih layak lagi dikatakan bahwa alam memiliki bentuk tertentu secara kebetulan, padahal mungkin saja bentuknya berbeda.

Sebagaimana kalian mengatakan bahwa kehendak memilih satu waktu dan satu bentuk tertentu secara kebetulan.

Apabila kalian mengatakan bahwa pertanyaan ini tidak perlu dijawab karena berlaku terhadap seluruh objek kehendak dan seluruh objek kekuasaan Allah, maka kami berkata:

Tidak demikian.

Justru pertanyaan ini selalu melekat pada setiap waktu dan dalam setiap keadaan bagi siapa pun yang berbeda pendapat dengan kami."

Jawaban Kami: Kehendak Memang Berfungsi Membedakan yang Sama-sama Mungkin

Kami menjawab:

Sesungguhnya alam ada pada waktu ketika ia diciptakan, dengan sifat yang dimilikinya, dan di tempat yang ditempatinya, semuanya karena kehendak Allah.

Kehendak adalah suatu sifat yang memang fungsinya membedakan salah satu dari dua kemungkinan yang sama.

Seandainya bukan demikian hakikat kehendak, tentu kekuasaan (qudrah) saja sudah mencukupi.

Namun karena kekuasaan memiliki hubungan yang sama terhadap dua hal yang saling berlawanan, maka diperlukan suatu penentu yang memilih salah satunya.

Karena itulah dikatakan bahwa selain memiliki kekuasaan, Allah juga memiliki sifat kehendak yang berfungsi menentukan salah satu dari dua kemungkinan tersebut.

Maka pertanyaan:

"Mengapa kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan?"

Sama seperti pertanyaan:

"Mengapa ilmu mengetahui sesuatu sesuai dengan kenyataannya?"

Jawabannya adalah:

Karena ilmu memang merupakan suatu sifat yang demikian hakikatnya.

Demikian pula kehendak merupakan suatu sifat yang hakikatnya memang membedakan satu kemungkinan dari kemungkinan lainnya.

Artikel Pengembangan

Titik Berat Perdebatan

Pada bagian ini, para filsuf berusaha menunjukkan bahwa semua kemungkinan memiliki kedudukan yang sama.

Jika Allah menciptakan alam pada waktu tertentu, mereka bertanya:

  • Mengapa bukan sebelumnya?
  • Mengapa bukan sesudahnya?
  • Mengapa bentuk alam seperti sekarang?
  • Mengapa bukan bentuk yang lain?

Menurut mereka, pilihan semacam itu memerlukan alasan tambahan.

Jawaban Al-Ghazali: Hakikat Iradah

Al-Ghazali menjawab dengan membedakan antara qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak).

Qudrah berarti kemampuan melakukan dua hal yang berlawanan.

Misalnya:

  • menciptakan atau tidak menciptakan;
  • menciptakan lebih dahulu atau lebih kemudian;
  • menciptakan putih atau hitam.

Namun kemampuan saja belum menentukan mana yang akan terjadi.

Di sinilah fungsi iradah.

Iradah adalah sifat yang menentukan salah satu dari berbagai kemungkinan yang sama-sama berada dalam lingkup kekuasaan Allah.

Analogi dengan Ilmu

Untuk memperjelas, Al-Ghazali membuat analogi dengan sifat ilmu.

Tidak ada orang yang bertanya:

"Mengapa ilmu mengetahui sesuatu sesuai kenyataannya?"

Jawabannya sederhana.

Karena memang itulah hakikat ilmu.

Demikian pula, tidak tepat mempertanyakan:

"Mengapa kehendak memilih salah satu kemungkinan?"

Karena memilih salah satu kemungkinan memang merupakan hakikat iradah.

Menolak Regresi Tanpa Akhir

Para filsuf bertanya:

"Apa yang menentukan kehendak?"

Jika pertanyaan seperti ini diteruskan tanpa batas, maka akan muncul rantai pertanyaan yang tidak pernah selesai.

Al-Ghazali menghentikan regresi tersebut dengan menjelaskan bahwa kehendak bukan sesuatu yang masih memerlukan "kehendak lain" untuk menjalankan fungsinya.

Sebagaimana ilmu tidak memerlukan "ilmu kedua" agar dapat mengetahui, demikian pula kehendak tidak memerlukan "kehendak kedua" agar dapat memilih.

Perbedaan Antara Qudrah dan Iradah

Bagian ini juga memperlihatkan salah satu konsep penting dalam teologi Islam.

  • Qudrah menunjukkan kemampuan Allah atas segala sesuatu yang mungkin.
  • Iradah menentukan apa yang benar-benar diwujudkan dari berbagai kemungkinan tersebut.

Dengan demikian, penciptaan alam pada waktu tertentu bukan terjadi tanpa dasar, tetapi berdasarkan kehendak Allah yang memang berfungsi menentukan salah satu kemungkinan tanpa harus didahului oleh penentu lain.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan antara kekuasaan dan kehendak Allah.
  • Tidak semua pertanyaan "mengapa" harus dijawab dengan sebab lain; sebagian berkaitan dengan hakikat suatu sifat.
  • Kehendak Allah bukan keputusan yang lahir karena paksaan atau kekurangan, tetapi merupakan sifat yang menetapkan salah satu dari berbagai kemungkinan.
  • Dalam berpikir logis, penting menghentikan pertanyaan yang berujung pada regresi tanpa akhir.
  • Memahami sifat-sifat Allah harus dilakukan sesuai dengan prinsip ilmu kalam yang benar, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
  • Perdebatan ini menunjukkan kedalaman analisis Imam Al-Ghazali dalam menjelaskan hubungan antara qudrah, iradah, dan penciptaan.

Penutup

Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali memberikan jawaban mendasar terhadap keberatan para filsuf tentang alasan Allah memilih satu waktu tertentu untuk menciptakan alam. Menurut beliau, kehendak (iradah) Allah sendiri merupakan sifat yang berfungsi menentukan salah satu dari berbagai kemungkinan yang sama-sama mungkin. Oleh karena itu, pertanyaan tentang "mengapa kehendak memilih yang ini" tidak lebih tepat daripada mempertanyakan mengapa ilmu mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Dengan penjelasan tersebut, Al-Ghazali menegaskan bahwa kehendak ilahi bukan sesuatu yang memerlukan penentu lain di luar dirinya, melainkan merupakan sifat Allah yang secara hakiki menetapkan apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan kebijaksanaan dan kesempurnaan-Nya.

Teks Arab :

قولهم ما الذي ميز وقتًا معينًا عما قبله وعما بعده؟ ...

فإن قيل: فبم تنكرون على من يترك دعوى الضرورة ويدل عليه من وجه آخر وهو أن الأوقات متساوية في جواز تعلق الإرادة بها؟ فما الذي ميز وقتًا معينًا عما قبله وعما بعده وليس محالًا أن يكون التقدم والتأخر مرادًا؟ بل في البياض والسواد والحركة والسكون فإنكم تقولون: يحدث البياض بالإرادة القديمة والمحل قابل للسواد قبوله للبياض، فلم تعلقت الإرادة القديمة بالبياض دون السواد؟ وما الذي ميز أحد الممكنين عن الآخر في تعلق الإرادة به؟ ونحن بالضرورة نعلم أن الشيء لا يتميز عن مثله إلا بمخصص، ولو جاز ذلك لجاز أن يحدث العالم وهو ممكن الوجود كما أنه ممكن العدم، ويتخصص جانب الوجود المماثل لجانب العدم في الإمكان بغير مخصص.

.. وما الذي خصص الإرادة؟

وإن قلتم: إن الإرادة خصصت، فالسؤال عن اختصاص الإرادة وأنها لم اختصت. فإن قلتم: القديم لا يقال له، لم؟ فليكن العالم قديمًا ولا يطلب صانعه وسببه، لأن القديم لا يقال فيه: لم. فإن جاز تخصص القديم بالاتفاق بأحد الممكنين فغاية المستبعد أن يقال: العالم مخصوص بهيئات مخصوصة كان يجوز أن يكون على هيئات أخرى بدلًا عنها. فيقال: وقع كذلك اتفاقًا كما قلتم: اختصت الإرادة بوقت دون وقت وهيئة دون هيئة اتفاقًا. وإن قلتم: إن هذا السؤال غير لازم لأنه وارد على كل ما يريده وعائد على كل ما يقدره، فنقول: لا، بل هذا السؤال لازم لأنه عائد في كل وقت وملازم لمن خالفنا على كل تقدير.

قولنا الإرادة تميز الشيء عن مثله

قلنا: إنما وجد العالم حيث وجد وعلى الوصف الذي وجد وفي المكان الذي وجد بالإرادة، والإرادة صفة من شأنها تمييز الشيء عن مثله، ولولا أن هذا شأنها لوقع الاكتفاء بالقدرة. ولكن لما تساوى نسبة القدرة إلى الضدين ولم يكن بد من مخصص يخصص الشيء عن مثله فقيل: للقديم وراء القدرة صفة من شأنها تخصيص الشيء عن مثله، فقول القائل: لم اختصت الإرادة بأحد المثلين، كقول القائل: لم اقتضى العلم الإحاطة بالمعلوم على ما هو به؟ فيقال: لأن العلم عبارة عن صفة هذا شأنها، فكذى الإرادة عبارة عن صفة هذا شأنها، بل ذاتها تمييز الشيء عن مثله.

Baca juga:

IInilah Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Tidak Menciptakan Alam Lebih Awal?

Benarkah Semua Jiwa Berasal dari Satu Hakikat? Imam Al-Ghazali MembantahTeori Jiwa Tunggal Plato

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Benarkah Memilih SalahSatu dari Dua Hal yang Sama Itu Mustahil?



Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...