Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: Apakah Dua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang perumpamaan orang haus dan bantahan Imam Al-Ghazali terhadap argumen filsuf mengenai kehendak

Pendahuluan

Dalam Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali mengutip salah satu perumpamaan yang paling terkenal dari para filsuf. Mereka mengibaratkan seseorang yang sangat haus dihadapkan pada dua gelas air yang benar-benar sama. Menurut mereka, orang tersebut tidak mungkin memilih salah satunya tanpa adanya faktor pembeda, sekecil apa pun.

Melalui ilustrasi ini, para filsuf ingin membuktikan bahwa kehendak tidak mungkin menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang benar-benar setara. Imam Al-Ghazali kemudian mengemukakan argumen tersebut secara utuh sebelum memberikan bantahannya pada pembahasan berikutnya.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Perumpamaan orang haus sebagai argumen filsuf mengenai hakikat kehendak.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Perumpamaan Orang yang Haus

"Apabila di hadapan seseorang yang sangat haus terdapat dua gelas air yang benar-benar sama dari segala sisi, maka ia tidak mungkin mengambil salah satunya tanpa adanya suatu pembeda.

Hal ini menegaskan bahwa istilah 'kehendak' yang kalian gunakan hanyalah dipinjam dari kehendak yang kita kenal pada diri manusia.

Pada diri kita sendiri, tidak mungkin kehendak memilih salah satu dari dua hal yang benar-benar sama.

Bahkan, apabila di hadapan orang yang haus terdapat dua gelas air yang sama dari segala sisi dalam hubungannya dengan tujuan yang diinginkannya, ia tidak mungkin mengambil salah satunya.

Ia hanya akan mengambil gelas yang menurutnya lebih baik, lebih ringan, atau lebih dekat dengan tangan kanannya apabila ia terbiasa menggunakan tangan kanan, atau karena sebab-sebab lain, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Jika tidak ada satu pun sebab seperti itu, maka tidak mungkin salah satu dari dua hal yang sama dipilih begitu saja."

Artikel Pengembangan

Perumpamaan yang Sangat Terkenal dalam Filsafat

Contoh "dua gelas air" merupakan salah satu ilustrasi paling terkenal dalam sejarah filsafat.

Melalui contoh ini, para filsuf ingin menunjukkan bahwa pilihan selalu membutuhkan alasan yang membedakan satu objek dari objek lainnya.

Jika tidak ada pembeda sama sekali, menurut mereka, maka tidak akan terjadi pilihan.

Hakikat Argumen Mereka

Argumen tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

  • Dua pilihan benar-benar sama.
  • Tidak ada kelebihan salah satunya.
  • Tidak ada alasan untuk memilih.
  • Karena itu, pilihan tidak akan pernah terjadi.

Mereka kemudian menerapkan logika ini pada pembahasan tentang kehendak Allah dalam menciptakan alam.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Para filsuf mengatakan bahwa orang yang haus biasanya memilih salah satu gelas karena ada faktor tertentu, misalnya:

  • letaknya lebih dekat;
  • terlihat lebih bersih;
  • lebih mudah dijangkau;
  • berada di sisi tangan yang biasa digunakan;
  • atau terdapat alasan kecil lain yang kadang tidak disadari.

Artinya, menurut mereka, selalu ada penyebab yang membuat salah satu pilihan lebih diutamakan.

Mengapa Al-Ghazali Menyampaikan Argumen Ini?

Sebagaimana metode beliau di seluruh kitab Tahāfut al-Falāsifah, Imam Al-Ghazali terlebih dahulu memaparkan argumen lawan secara lengkap.

Beliau tidak memotong ataupun menyederhanakan pendapat mereka.

Dengan cara ini, pembaca dapat memahami posisi para filsuf secara utuh sebelum membaca jawaban dan bantahan yang akan diberikan pada bagian selanjutnya.

Posisi Perdebatan

Perlu dipahami bahwa contoh orang yang haus ini merupakan argumen para filsuf, bukan pendapat akhir Imam Al-Ghazali.

Mereka menggunakan analogi perilaku manusia untuk menjelaskan cara kerja kehendak secara umum.

Pada bagian-bagian berikutnya, Al-Ghazali akan menunjukkan bahwa menyamakan kehendak Allah dengan kehendak manusia merupakan analogi yang tidak dapat dijadikan dasar dalam pembahasan sifat-sifat Allah.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memahami argumen lawan secara utuh sebelum membantahnya.
  • Analogi yang berlaku pada manusia tidak selalu dapat diterapkan kepada Allah.
  • Perdebatan ilmiah harus dibangun di atas definisi dan konsep yang jelas.
  • Contoh sederhana sering digunakan dalam filsafat untuk menjelaskan persoalan metafisika yang rumit.
  • Kehati-hatian dalam menggunakan perumpamaan sangat penting agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru tentang sifat-sifat Allah.
  • Membaca karya ulama klasik secara berurutan membantu memahami alur argumentasi secara utuh.

Penutup

Melalui perumpamaan orang yang haus dan dua gelas air yang sama, para filsuf berusaha membuktikan bahwa tidak mungkin terjadi pilihan tanpa adanya faktor pembeda. Mereka menjadikan ilustrasi ini sebagai dasar untuk mengkritik konsep kehendak dalam penciptaan alam. Imam Al-Ghazali mengutip argumen tersebut secara lengkap agar pembaca memahami titik persoalannya, sebelum beliau menjelaskan pada pembahasan berikutnya bahwa kehendak Allah tidak dapat disamakan dengan kehendak manusia dan tidak tunduk pada analogi-analogi yang terbatas pada pengalaman makhluk.

Teks Arab :

العطشان

إذا كان بين يديه قدحان متساويان لا يمكن أن يأخذ أحدهما بدون تمييز يحقق هذا أن لفظ الإرادة مستعارة من إرادتنا ولا يتصور منا أن نميز بالإرادة الشيء عن مثله، بل لو كان بين يدي العطشان قدحان من الماء يتساويان من كل وجه بالإضافة إلى غرضه، لم يمكن أن يأخذ أحدهما، بل إنما يأخذ ما يراه أحسن أو أخف أو أقرب إلى جانب يمينه، إن كان عادته تحريك اليمين أو سبب من هذه الأسباب إما خفي وإما جلي، وإلا فلا يتصور تمييز الشيء عن مثله بحال.

Baca juga:

Benarkah Memilih Salah Satu dari Dua Hal yang Sama ItuMustahil? Inilah Jawaban Imam Al-Ghazali

Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf:Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Kehendak Allah Tidak Bisa Disamakan dengan Kehendak Manusia?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tujuan Persahabatan dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali: Manfaat Sahabat bagi Dunia dan Akhirat (02/05/49)

Pendahuluan Islam memandang persahabatan sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Persahabatan bukan sekadar hubun...