Benarkah Memilih Salah Satu dari Dua Hal yang Sama Itu Mustahil? Inilah Jawaban Imam Al-Ghazali

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali terhadap klaim bahwa kehendak tidak dapat memilih dua kemungkinan yang sama

Pendahuluan

Dalam perdebatan mengenai kehendak Allah dan penciptaan alam, para filsuf menolak penjelasan Imam Al-Ghazali bahwa kehendak (iradah) berfungsi menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang sama-sama mungkin. Mereka beranggapan bahwa dua hal yang benar-benar sama tidak mungkin dibedakan. Jika salah satunya dipilih, berarti keduanya sejak awal memang tidak benar-benar sama.

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip keberatan mereka secara rinci sebelum memberikan jawabannya pada bagian berikutnya. Keberatan ini menjadi salah satu inti diskusi dalam filsafat dan ilmu kalam, yaitu tentang hubungan antara kesamaan (tamātsul), perbedaan (tamayyuz), dan kehendak (iradah).

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Keberatan para filsuf terhadap konsep kehendak Allah sebagai penentu salah satu dari dua kemungkinan.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Imam Al-Ghazali adalah ulama besar Ahlus Sunnah yang menguasai fikih, usul fikih, ilmu kalam, logika, tasawuf, dan filsafat. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritisi berbagai teori metafisika para filsuf dengan argumentasi logis yang mendalam.

Terjemahan Lengkap

Mereka Berkata: Dalam Dua Hal Itu Terdapat Kontradiksi

Apabila mereka berkata:

"Menetapkan adanya suatu sifat yang tugasnya membedakan salah satu dari dua hal yang sama adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami, bahkan mengandung kontradiksi.

Sebab apabila dua hal disebut sama, artinya tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Sedangkan apabila salah satunya dibedakan dari yang lain, berarti keduanya bukan lagi dua hal yang sama.

Janganlah disangka bahwa dua warna hitam yang berada pada dua tempat berbeda benar-benar sama dari segala sisi.

Sebab yang satu berada di tempat ini, sedangkan yang lain berada di tempat yang lain.

Perbedaan tempat itu sendiri sudah merupakan pembeda.

Demikian pula dua warna hitam yang muncul pada waktu berbeda dalam satu tempat tidak dapat dikatakan sama secara mutlak.

Sebab yang satu berbeda dari yang lain karena perbedaan waktu.

Bagaimana mungkin keduanya sama dari segala sisi?

Apabila kami mengatakan bahwa dua warna hitam itu serupa, yang kami maksud hanyalah kesamaannya dalam sifat kehitaman secara khusus, bukan kesamaan mutlak dalam segala hal.

Sebab apabila tempat dan waktu benar-benar sama sehingga tidak ada lagi perbedaan sedikit pun, maka tidak mungkin lagi dipahami adanya dua warna hitam, bahkan konsep dua (dua entitas) itu sendiri tidak lagi dapat dipahami."

Artikel Pengembangan

Keberatan Logis Para Filsuf

Pada bagian ini para filsuf mencoba membantah penjelasan Al-Ghazali mengenai fungsi kehendak.

Mereka mengatakan bahwa sesuatu hanya dapat dipilih apabila memang memiliki perbedaan.

Jika dua kemungkinan benar-benar identik dalam segala sisi, maka tidak ada alasan untuk memilih salah satunya.

Karena itu, menurut mereka, konsep "kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama" merupakan kontradiksi.

Contoh Dua Warna Hitam

Untuk memperkuat pendapatnya, para filsuf memberikan contoh sederhana.

Bayangkan ada dua benda berwarna hitam.

Apakah keduanya benar-benar sama?

Menurut mereka, jawabannya tidak.

Mengapa?

Karena:

  • mungkin berada di tempat yang berbeda;
  • mungkin muncul pada waktu yang berbeda;
  • atau memiliki hubungan yang berbeda dengan objek lain.

Artinya, selalu ada pembeda di antara keduanya.

Dengan demikian, kesamaan yang dimaksud hanyalah pada sifat "hitam", bukan pada seluruh aspek keberadaannya.

Hakikat Kesamaan Menurut Filsafat

Para filsuf membedakan antara:

  • kesamaan dalam satu sifat, dan
  • kesamaan mutlak dalam segala aspek.

Menurut mereka, kesamaan mutlak tidak mungkin melahirkan dua entitas.

Jika seluruh sifat benar-benar identik tanpa sedikit pun perbedaan, maka yang ada hanyalah satu, bukan dua.

Inilah dasar keberatan mereka terhadap teori bahwa kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan yang benar-benar sama.

Mengapa Al-Ghazali Mengutip Keberatan Ini?

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, Al-Ghazali terlebih dahulu memaparkan argumen lawan secara utuh.

Beliau tidak menyederhanakan atau melemahkan keberatan tersebut.

Justru dengan menyampaikan argumentasi lawan secara lengkap, pembaca dapat memahami pokok persoalan sebelum membaca jawaban yang akan beliau berikan pada bagian selanjutnya.

Metode ini menunjukkan objektivitas ilmiah yang menjadi ciri khas Tahāfut al-Falāsifah.

Nilai Filosofis Pembahasan

Diskusi ini berkaitan dengan persoalan yang sangat mendasar dalam metafisika dan logika, yaitu:

  • apa yang dimaksud dengan "dua hal yang sama";
  • apakah kesamaan mutlak benar-benar mungkin;
  • bagaimana kehendak berhubungan dengan berbagai kemungkinan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar bagi pembahasan tentang kebebasan kehendak, penciptaan alam, dan sifat-sifat Allah dalam tradisi ilmu kalam maupun filsafat Islam.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memahami argumen lawan secara utuh sebelum memberikan bantahan.
  • Kesamaan dalam satu sifat tidak selalu berarti identik dalam seluruh aspek.
  • Perdebatan ilmiah membutuhkan definisi istilah yang jelas agar tidak terjadi kekeliruan berpikir.
  • Logika merupakan alat penting dalam memahami persoalan akidah, tetapi harus digunakan secara konsisten.
  • Perbedaan antara "serupa" dan "identik" memiliki konsekuensi besar dalam pembahasan filsafat.
  • Dialog ilmiah yang sehat dimulai dengan memahami posisi lawan secara adil sebelum mengkritiknya.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali mengutip keberatan para filsuf terhadap konsep bahwa kehendak Allah memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama-sama mungkin. Menurut mereka, kesamaan mutlak tidak mungkin melahirkan pilihan, karena setiap pilihan pasti menunjukkan adanya perbedaan. Mereka juga mencontohkan dua warna hitam yang tidak pernah benar-benar identik karena selalu berbeda dalam tempat, waktu, atau keadaan. Uraian ini menjadi landasan bagi jawaban Imam Al-Ghazali pada pembahasan berikutnya, ketika beliau menjelaskan hakikat kehendak ilahi dan membedakannya dari cara berpikir yang diterapkan para filsuf terhadap benda-benda dan sifat-sifat makhluk.

Teks Arab :

في الأمرين تناقض

فإن قيل: إثبات صفة شأنها تمييز الشيء عن مثله غير معقول بل هو متناقض، فإن كونه مثلًا معناه أنه لا تميز له، وكونه مميزًا معناه أنه ليس مثلًا، ولا ينبغي أن يظن أن السوادين في محلين متماثلان من كل وجه لأن هذا في محل وذاك في محل آخر، وهذا يوجب التميز.

ولا السوادان في وقتين في محل واحد متماثلان مطلقًا لأن هذا فارق ذلك في الوقت، فكيف يساويه من كل وجه. وإذا قلنا: السوادان مثلان، عنينا به في السوادية مضافًا إليه على الخصوص لا على الإطلاق، وإلا فلو اتحد المحل والزمان ولم يبق تغاير لم يعقل سوادان ولا عقلت الإثنينية أصلًا.

Baca juga:

Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf:Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

IInilah Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Tidak Menciptakan Alam Lebih Awal?

Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: Apakah Dua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?



Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali terhadap klaim bahwa kehendak tidak dapat memilih dua kemungkinan yang sama

Pendahuluan

Dalam perdebatan mengenai kehendak Allah dan penciptaan alam, para filsuf menolak penjelasan Imam Al-Ghazali bahwa kehendak (iradah) berfungsi menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang sama-sama mungkin. Mereka beranggapan bahwa dua hal yang benar-benar sama tidak mungkin dibedakan. Jika salah satunya dipilih, berarti keduanya sejak awal memang tidak benar-benar sama.

Imam Al-Ghazali kemudian mengutip keberatan mereka secara rinci sebelum memberikan jawabannya pada bagian berikutnya. Keberatan ini menjadi salah satu inti diskusi dalam filsafat dan ilmu kalam, yaitu tentang hubungan antara kesamaan (tamātsul), perbedaan (tamayyuz), dan kehendak (iradah).

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Keberatan para filsuf terhadap konsep kehendak Allah sebagai penentu salah satu dari dua kemungkinan.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Imam Al-Ghazali adalah ulama besar Ahlus Sunnah yang menguasai fikih, usul fikih, ilmu kalam, logika, tasawuf, dan filsafat. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritisi berbagai teori metafisika para filsuf dengan argumentasi logis yang mendalam.

Terjemahan Lengkap

Mereka Berkata: Dalam Dua Hal Itu Terdapat Kontradiksi

Apabila mereka berkata:

"Menetapkan adanya suatu sifat yang tugasnya membedakan salah satu dari dua hal yang sama adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami, bahkan mengandung kontradiksi.

Sebab apabila dua hal disebut sama, artinya tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Sedangkan apabila salah satunya dibedakan dari yang lain, berarti keduanya bukan lagi dua hal yang sama.

Janganlah disangka bahwa dua warna hitam yang berada pada dua tempat berbeda benar-benar sama dari segala sisi.

Sebab yang satu berada di tempat ini, sedangkan yang lain berada di tempat yang lain.

Perbedaan tempat itu sendiri sudah merupakan pembeda.

Demikian pula dua warna hitam yang muncul pada waktu berbeda dalam satu tempat tidak dapat dikatakan sama secara mutlak.

Sebab yang satu berbeda dari yang lain karena perbedaan waktu.

Bagaimana mungkin keduanya sama dari segala sisi?

Apabila kami mengatakan bahwa dua warna hitam itu serupa, yang kami maksud hanyalah kesamaannya dalam sifat kehitaman secara khusus, bukan kesamaan mutlak dalam segala hal.

Sebab apabila tempat dan waktu benar-benar sama sehingga tidak ada lagi perbedaan sedikit pun, maka tidak mungkin lagi dipahami adanya dua warna hitam, bahkan konsep dua (dua entitas) itu sendiri tidak lagi dapat dipahami."

Artikel Pengembangan

Keberatan Logis Para Filsuf

Pada bagian ini para filsuf mencoba membantah penjelasan Al-Ghazali mengenai fungsi kehendak.

Mereka mengatakan bahwa sesuatu hanya dapat dipilih apabila memang memiliki perbedaan.

Jika dua kemungkinan benar-benar identik dalam segala sisi, maka tidak ada alasan untuk memilih salah satunya.

Karena itu, menurut mereka, konsep "kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama" merupakan kontradiksi.

Contoh Dua Warna Hitam

Untuk memperkuat pendapatnya, para filsuf memberikan contoh sederhana.

Bayangkan ada dua benda berwarna hitam.

Apakah keduanya benar-benar sama?

Menurut mereka, jawabannya tidak.

Mengapa?

Karena:

  • mungkin berada di tempat yang berbeda;
  • mungkin muncul pada waktu yang berbeda;
  • atau memiliki hubungan yang berbeda dengan objek lain.

Artinya, selalu ada pembeda di antara keduanya.

Dengan demikian, kesamaan yang dimaksud hanyalah pada sifat "hitam", bukan pada seluruh aspek keberadaannya.

Hakikat Kesamaan Menurut Filsafat

Para filsuf membedakan antara:

  • kesamaan dalam satu sifat, dan
  • kesamaan mutlak dalam segala aspek.

Menurut mereka, kesamaan mutlak tidak mungkin melahirkan dua entitas.

Jika seluruh sifat benar-benar identik tanpa sedikit pun perbedaan, maka yang ada hanyalah satu, bukan dua.

Inilah dasar keberatan mereka terhadap teori bahwa kehendak memilih salah satu dari dua kemungkinan yang benar-benar sama.

Mengapa Al-Ghazali Mengutip Keberatan Ini?

Sebagaimana bagian-bagian sebelumnya, Al-Ghazali terlebih dahulu memaparkan argumen lawan secara utuh.

Beliau tidak menyederhanakan atau melemahkan keberatan tersebut.

Justru dengan menyampaikan argumentasi lawan secara lengkap, pembaca dapat memahami pokok persoalan sebelum membaca jawaban yang akan beliau berikan pada bagian selanjutnya.

Metode ini menunjukkan objektivitas ilmiah yang menjadi ciri khas Tahāfut al-Falāsifah.

Nilai Filosofis Pembahasan

Diskusi ini berkaitan dengan persoalan yang sangat mendasar dalam metafisika dan logika, yaitu:

  • apa yang dimaksud dengan "dua hal yang sama";
  • apakah kesamaan mutlak benar-benar mungkin;
  • bagaimana kehendak berhubungan dengan berbagai kemungkinan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar bagi pembahasan tentang kebebasan kehendak, penciptaan alam, dan sifat-sifat Allah dalam tradisi ilmu kalam maupun filsafat Islam.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya memahami argumen lawan secara utuh sebelum memberikan bantahan.
  • Kesamaan dalam satu sifat tidak selalu berarti identik dalam seluruh aspek.
  • Perdebatan ilmiah membutuhkan definisi istilah yang jelas agar tidak terjadi kekeliruan berpikir.
  • Logika merupakan alat penting dalam memahami persoalan akidah, tetapi harus digunakan secara konsisten.
  • Perbedaan antara "serupa" dan "identik" memiliki konsekuensi besar dalam pembahasan filsafat.
  • Dialog ilmiah yang sehat dimulai dengan memahami posisi lawan secara adil sebelum mengkritiknya.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali mengutip keberatan para filsuf terhadap konsep bahwa kehendak Allah memilih salah satu dari dua kemungkinan yang sama-sama mungkin. Menurut mereka, kesamaan mutlak tidak mungkin melahirkan pilihan, karena setiap pilihan pasti menunjukkan adanya perbedaan. Mereka juga mencontohkan dua warna hitam yang tidak pernah benar-benar identik karena selalu berbeda dalam tempat, waktu, atau keadaan. Uraian ini menjadi landasan bagi jawaban Imam Al-Ghazali pada pembahasan berikutnya, ketika beliau menjelaskan hakikat kehendak ilahi dan membedakannya dari cara berpikir yang diterapkan para filsuf terhadap benda-benda dan sifat-sifat makhluk.

Teks Arab :

في الأمرين تناقض

فإن قيل: إثبات صفة شأنها تمييز الشيء عن مثله غير معقول بل هو متناقض، فإن كونه مثلًا معناه أنه لا تميز له، وكونه مميزًا معناه أنه ليس مثلًا، ولا ينبغي أن يظن أن السوادين في محلين متماثلان من كل وجه لأن هذا في محل وذاك في محل آخر، وهذا يوجب التميز.

ولا السوادان في وقتين في محل واحد متماثلان مطلقًا لأن هذا فارق ذلك في الوقت، فكيف يساويه من كل وجه. وإذا قلنا: السوادان مثلان، عنينا به في السوادية مضافًا إليه على الخصوص لا على الإطلاق، وإلا فلو اتحد المحل والزمان ولم يبق تغاير لم يعقل سوادان ولا عقلت الإثنينية أصلًا.

Baca juga:

Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf:Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

IInilah Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Tidak Menciptakan Alam Lebih Awal?

Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: Apakah Dua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية الحقيقة - للشيخ أحمد يس بن أشموني Makan Pesantren

BuraQ12: آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ... : Download Kitab PDF آداب المعاشرة بين الزوجتين لتحصيل السعادة الزوجية ...