Pendahuluan
Salah satu argumen utama para filsuf
terhadap penciptaan alam adalah pertanyaan tentang mengapa Allah memilih
satu waktu tertentu untuk menciptakan alam, bukan waktu sebelumnya atau
sesudahnya. Menurut mereka, jika semua waktu sama-sama mungkin, maka harus ada
alasan yang membedakan satu waktu dari waktu lainnya. Jika tidak ada pembeda,
berarti penciptaan tanpa sebab yang memadai.
Imam Al-Ghazali menjawab keberatan
ini dengan menjelaskan hakikat iradah (kehendak) Allah. Beliau
menerangkan bahwa fungsi kehendak memang untuk menentukan salah satu dari
berbagai kemungkinan yang sama-sama mungkin terjadi. Oleh sebab itu, pertanyaan
"mengapa kehendak memilih yang ini dan bukan yang itu" sama kelirunya
dengan bertanya "mengapa ilmu mengetahui sesuatu sebagaimana adanya".
Kedua pertanyaan tersebut mempertanyakan hakikat suatu sifat yang memang
demikian adanya.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Imam Al-Ghazali adalah seorang
ulama, ahli usul fikih, mutakallim, sufi, dan filsuf Islam yang hidup pada abad
ke-5 Hijriah. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritik berbagai
pandangan metafisika para filsuf dengan pendekatan rasional yang mendalam dan
sistematis.
Terjemahan Lengkap
Keberatan
Mereka: Apa yang Membuat Satu Waktu Berbeda dari Waktu Lain?
Apabila mereka berkata:
"Apa yang membuat kalian
menolak orang yang tidak lagi berdalil dengan klaim 'kepastian akal', tetapi
menggunakan alasan lain, yaitu bahwa seluruh waktu sama dalam kemungkinan menjadi
tempat bergantungnya kehendak?
Lalu apa yang membedakan suatu waktu
tertentu dari waktu sebelumnya dan sesudahnya?
Bukankah tidak mustahil bahwa yang
dikehendaki adalah lebih dahulu atau lebih kemudian?
Demikian pula dalam persoalan warna
putih dan warna hitam, atau gerak dan diam.
Kalian mengatakan bahwa warna putih
terjadi karena kehendak azali, padahal tempatnya sama-sama dapat menerima warna
hitam sebagaimana menerima warna putih.
Lalu mengapa kehendak azali memilih
warna putih, bukan warna hitam?
Apa yang membedakan salah satu dari
dua kemungkinan itu sehingga menjadi objek kehendak?
Kami mengetahui secara pasti bahwa
sesuatu tidak dapat dibedakan dari sesuatu yang setara dengannya kecuali oleh
suatu penentu (mukhashshish).
Kalau hal itu boleh terjadi tanpa
penentu, tentu alam juga dapat muncul begitu saja, padahal keberadaannya
sama-sama mungkin sebagaimana ketiadaannya, lalu sisi keberadaan dipilih tanpa
adanya penentu."
Lalu
Apa yang Menentukan Kehendak Itu Sendiri?
"Jika kalian menjawab bahwa kehendaklah
yang menentukan, maka kami bertanya lagi:
Mengapa kehendak itu sendiri memilih
salah satu kemungkinan?
Mengapa ia memilih demikian?
Jika kalian menjawab bahwa terhadap
Yang Azali tidak boleh ditanyakan 'mengapa', maka hendaknya alam juga dianggap azali
sehingga tidak perlu lagi ditanyakan siapa pencipta dan penyebabnya.
Sebab terhadap sesuatu yang azali
tidak dapat diajukan pertanyaan 'mengapa'.
Jika boleh dikatakan bahwa kehendak
azali secara kebetulan memilih salah satu dari dua kemungkinan, maka lebih
layak lagi dikatakan bahwa alam memiliki bentuk tertentu secara kebetulan,
padahal mungkin saja bentuknya berbeda.
Sebagaimana kalian mengatakan bahwa
kehendak memilih satu waktu dan satu bentuk tertentu secara kebetulan.
Apabila kalian mengatakan bahwa
pertanyaan ini tidak perlu dijawab karena berlaku terhadap seluruh objek
kehendak dan seluruh objek kekuasaan Allah, maka kami berkata:
Tidak demikian.
Justru pertanyaan ini selalu melekat
pada setiap waktu dan dalam setiap keadaan bagi siapa pun yang berbeda pendapat
dengan kami."
Jawaban
Kami: Kehendak Memang Berfungsi Membedakan yang Sama-sama Mungkin
Kami menjawab:
Sesungguhnya alam ada pada waktu
ketika ia diciptakan, dengan sifat yang dimilikinya, dan di tempat yang
ditempatinya, semuanya karena kehendak Allah.
Kehendak adalah suatu sifat yang
memang fungsinya membedakan salah satu dari dua kemungkinan yang sama.
Seandainya bukan demikian hakikat
kehendak, tentu kekuasaan (qudrah) saja sudah mencukupi.
Namun karena kekuasaan memiliki
hubungan yang sama terhadap dua hal yang saling berlawanan, maka diperlukan
suatu penentu yang memilih salah satunya.
Karena itulah dikatakan bahwa selain
memiliki kekuasaan, Allah juga memiliki sifat kehendak yang berfungsi
menentukan salah satu dari dua kemungkinan tersebut.
Maka pertanyaan:
"Mengapa kehendak memilih salah
satu dari dua kemungkinan?"
Sama seperti pertanyaan:
"Mengapa ilmu mengetahui
sesuatu sesuai dengan kenyataannya?"
Jawabannya adalah:
Karena ilmu memang merupakan suatu
sifat yang demikian hakikatnya.
Demikian pula kehendak merupakan
suatu sifat yang hakikatnya memang membedakan satu kemungkinan dari kemungkinan
lainnya.
Artikel Pengembangan
Titik
Berat Perdebatan
Pada bagian ini, para filsuf
berusaha menunjukkan bahwa semua kemungkinan memiliki kedudukan yang sama.
Jika Allah menciptakan alam pada
waktu tertentu, mereka bertanya:
- Mengapa bukan sebelumnya?
- Mengapa bukan sesudahnya?
- Mengapa bentuk alam seperti sekarang?
- Mengapa bukan bentuk yang lain?
Menurut mereka, pilihan semacam itu
memerlukan alasan tambahan.
Jawaban
Al-Ghazali: Hakikat Iradah
Al-Ghazali menjawab dengan
membedakan antara qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak).
Qudrah berarti kemampuan melakukan
dua hal yang berlawanan.
Misalnya:
- menciptakan atau tidak menciptakan;
- menciptakan lebih dahulu atau lebih kemudian;
- menciptakan putih atau hitam.
Namun kemampuan saja belum
menentukan mana yang akan terjadi.
Di sinilah fungsi iradah.
Iradah adalah sifat yang menentukan
salah satu dari berbagai kemungkinan yang sama-sama berada dalam lingkup
kekuasaan Allah.
Analogi
dengan Ilmu
Untuk memperjelas, Al-Ghazali
membuat analogi dengan sifat ilmu.
Tidak ada orang yang bertanya:
"Mengapa ilmu mengetahui
sesuatu sesuai kenyataannya?"
Jawabannya sederhana.
Karena memang itulah hakikat ilmu.
Demikian pula, tidak tepat
mempertanyakan:
"Mengapa kehendak memilih salah
satu kemungkinan?"
Karena memilih salah satu
kemungkinan memang merupakan hakikat iradah.
Menolak
Regresi Tanpa Akhir
Para filsuf bertanya:
"Apa yang menentukan
kehendak?"
Jika pertanyaan seperti ini
diteruskan tanpa batas, maka akan muncul rantai pertanyaan yang tidak pernah
selesai.
Al-Ghazali menghentikan regresi
tersebut dengan menjelaskan bahwa kehendak bukan sesuatu yang masih memerlukan
"kehendak lain" untuk menjalankan fungsinya.
Sebagaimana ilmu tidak memerlukan
"ilmu kedua" agar dapat mengetahui, demikian pula kehendak tidak
memerlukan "kehendak kedua" agar dapat memilih.
Perbedaan
Antara Qudrah dan Iradah
Bagian ini juga memperlihatkan salah
satu konsep penting dalam teologi Islam.
- Qudrah
menunjukkan kemampuan Allah atas segala sesuatu yang mungkin.
- Iradah
menentukan apa yang benar-benar diwujudkan dari berbagai kemungkinan
tersebut.
Dengan demikian, penciptaan alam
pada waktu tertentu bukan terjadi tanpa dasar, tetapi berdasarkan kehendak
Allah yang memang berfungsi menentukan salah satu kemungkinan tanpa harus
didahului oleh penentu lain.
Hikmah
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan
antara kekuasaan dan kehendak Allah.
- Tidak semua pertanyaan "mengapa" harus
dijawab dengan sebab lain; sebagian berkaitan dengan hakikat suatu sifat.
- Kehendak Allah bukan keputusan yang lahir karena
paksaan atau kekurangan, tetapi merupakan sifat yang menetapkan salah satu
dari berbagai kemungkinan.
- Dalam berpikir logis, penting menghentikan pertanyaan
yang berujung pada regresi tanpa akhir.
- Memahami sifat-sifat Allah harus dilakukan sesuai
dengan prinsip ilmu kalam yang benar, tanpa menyerupakan-Nya dengan
makhluk.
- Perdebatan ini menunjukkan kedalaman analisis Imam
Al-Ghazali dalam menjelaskan hubungan antara qudrah, iradah, dan
penciptaan.
Penutup
Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali
memberikan jawaban mendasar terhadap keberatan para filsuf tentang alasan Allah
memilih satu waktu tertentu untuk menciptakan alam. Menurut beliau, kehendak
(iradah) Allah sendiri merupakan sifat yang berfungsi menentukan salah satu
dari berbagai kemungkinan yang sama-sama mungkin. Oleh karena itu,
pertanyaan tentang "mengapa kehendak memilih yang ini" tidak lebih
tepat daripada mempertanyakan mengapa ilmu mengetahui sesuatu sebagaimana
adanya. Dengan penjelasan tersebut, Al-Ghazali menegaskan bahwa kehendak ilahi
bukan sesuatu yang memerlukan penentu lain di luar dirinya, melainkan merupakan
sifat Allah yang secara hakiki menetapkan apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan
kebijaksanaan dan kesempurnaan-Nya.
Teks Arab :
قولهم ما الذي ميز وقتًا معينًا عما قبله وعما بعده؟
...
فإن قيل: فبم تنكرون على من يترك دعوى الضرورة ويدل عليه
من وجه آخر وهو أن الأوقات متساوية في جواز تعلق الإرادة بها؟ فما الذي ميز وقتًا
معينًا عما قبله وعما بعده وليس محالًا أن يكون التقدم والتأخر مرادًا؟ بل في
البياض والسواد والحركة والسكون فإنكم تقولون: يحدث البياض بالإرادة القديمة
والمحل قابل للسواد قبوله للبياض، فلم تعلقت الإرادة القديمة بالبياض دون السواد؟
وما الذي ميز أحد الممكنين عن الآخر في تعلق الإرادة به؟ ونحن بالضرورة نعلم أن
الشيء لا يتميز عن مثله إلا بمخصص، ولو جاز ذلك لجاز أن يحدث العالم وهو ممكن
الوجود كما أنه ممكن العدم، ويتخصص جانب الوجود المماثل لجانب العدم في الإمكان
بغير مخصص.
.. وما الذي خصص الإرادة؟
وإن قلتم: إن الإرادة خصصت، فالسؤال عن اختصاص الإرادة
وأنها لم اختصت. فإن قلتم: القديم لا يقال له، لم؟ فليكن العالم قديمًا ولا يطلب
صانعه وسببه، لأن القديم لا يقال فيه: لم. فإن جاز تخصص القديم بالاتفاق بأحد
الممكنين فغاية المستبعد أن يقال: العالم مخصوص بهيئات مخصوصة كان يجوز أن يكون
على هيئات أخرى بدلًا عنها. فيقال: وقع كذلك اتفاقًا كما قلتم: اختصت الإرادة بوقت
دون وقت وهيئة دون هيئة اتفاقًا. وإن قلتم: إن هذا السؤال غير لازم لأنه وارد على
كل ما يريده وعائد على كل ما يقدره، فنقول: لا، بل هذا السؤال لازم لأنه عائد في
كل وقت وملازم لمن خالفنا على كل تقدير.
قولنا الإرادة تميز الشيء عن مثله
قلنا: إنما وجد العالم حيث وجد وعلى الوصف الذي وجد وفي
المكان الذي وجد بالإرادة، والإرادة صفة من شأنها تمييز الشيء عن مثله، ولولا أن
هذا شأنها لوقع الاكتفاء بالقدرة. ولكن لما تساوى نسبة القدرة إلى الضدين ولم يكن بد
من مخصص يخصص الشيء عن مثله فقيل: للقديم وراء القدرة صفة من شأنها تخصيص الشيء عن
مثله، فقول القائل: لم اختصت الإرادة بأحد المثلين، كقول القائل: لم اقتضى العلم
الإحاطة بالمعلوم على ما هو به؟ فيقال: لأن العلم عبارة عن صفة هذا شأنها، فكذى
الإرادة عبارة عن صفة هذا شأنها، بل ذاتها تمييز الشيء عن مثله.
Baca juga:
Benarkah Semua Jiwa Berasal dari Satu Hakikat? Imam Al-Ghazali MembantahTeori Jiwa Tunggal Plato
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Benarkah Memilih Salah
Satu dari Dua Hal yang Sama Itu Mustahil?
Pendahuluan
Salah satu argumen utama para filsuf
terhadap penciptaan alam adalah pertanyaan tentang mengapa Allah memilih
satu waktu tertentu untuk menciptakan alam, bukan waktu sebelumnya atau
sesudahnya. Menurut mereka, jika semua waktu sama-sama mungkin, maka harus ada
alasan yang membedakan satu waktu dari waktu lainnya. Jika tidak ada pembeda,
berarti penciptaan tanpa sebab yang memadai.
Imam Al-Ghazali menjawab keberatan
ini dengan menjelaskan hakikat iradah (kehendak) Allah. Beliau
menerangkan bahwa fungsi kehendak memang untuk menentukan salah satu dari
berbagai kemungkinan yang sama-sama mungkin terjadi. Oleh sebab itu, pertanyaan
"mengapa kehendak memilih yang ini dan bukan yang itu" sama kelirunya
dengan bertanya "mengapa ilmu mengetahui sesuatu sebagaimana adanya".
Kedua pertanyaan tersebut mempertanyakan hakikat suatu sifat yang memang
demikian adanya.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Imam Al-Ghazali adalah seorang
ulama, ahli usul fikih, mutakallim, sufi, dan filsuf Islam yang hidup pada abad
ke-5 Hijriah. Melalui Tahāfut al-Falāsifah, beliau mengkritik berbagai
pandangan metafisika para filsuf dengan pendekatan rasional yang mendalam dan
sistematis.
Terjemahan Lengkap
Keberatan
Mereka: Apa yang Membuat Satu Waktu Berbeda dari Waktu Lain?
Apabila mereka berkata:
"Apa yang membuat kalian
menolak orang yang tidak lagi berdalil dengan klaim 'kepastian akal', tetapi
menggunakan alasan lain, yaitu bahwa seluruh waktu sama dalam kemungkinan menjadi
tempat bergantungnya kehendak?
Lalu apa yang membedakan suatu waktu
tertentu dari waktu sebelumnya dan sesudahnya?
Bukankah tidak mustahil bahwa yang
dikehendaki adalah lebih dahulu atau lebih kemudian?
Demikian pula dalam persoalan warna
putih dan warna hitam, atau gerak dan diam.
Kalian mengatakan bahwa warna putih
terjadi karena kehendak azali, padahal tempatnya sama-sama dapat menerima warna
hitam sebagaimana menerima warna putih.
Lalu mengapa kehendak azali memilih
warna putih, bukan warna hitam?
Apa yang membedakan salah satu dari
dua kemungkinan itu sehingga menjadi objek kehendak?
Kami mengetahui secara pasti bahwa
sesuatu tidak dapat dibedakan dari sesuatu yang setara dengannya kecuali oleh
suatu penentu (mukhashshish).
Kalau hal itu boleh terjadi tanpa
penentu, tentu alam juga dapat muncul begitu saja, padahal keberadaannya
sama-sama mungkin sebagaimana ketiadaannya, lalu sisi keberadaan dipilih tanpa
adanya penentu."
Lalu
Apa yang Menentukan Kehendak Itu Sendiri?
"Jika kalian menjawab bahwa kehendaklah
yang menentukan, maka kami bertanya lagi:
Mengapa kehendak itu sendiri memilih
salah satu kemungkinan?
Mengapa ia memilih demikian?
Jika kalian menjawab bahwa terhadap
Yang Azali tidak boleh ditanyakan 'mengapa', maka hendaknya alam juga dianggap azali
sehingga tidak perlu lagi ditanyakan siapa pencipta dan penyebabnya.
Sebab terhadap sesuatu yang azali
tidak dapat diajukan pertanyaan 'mengapa'.
Jika boleh dikatakan bahwa kehendak
azali secara kebetulan memilih salah satu dari dua kemungkinan, maka lebih
layak lagi dikatakan bahwa alam memiliki bentuk tertentu secara kebetulan,
padahal mungkin saja bentuknya berbeda.
Sebagaimana kalian mengatakan bahwa
kehendak memilih satu waktu dan satu bentuk tertentu secara kebetulan.
Apabila kalian mengatakan bahwa
pertanyaan ini tidak perlu dijawab karena berlaku terhadap seluruh objek
kehendak dan seluruh objek kekuasaan Allah, maka kami berkata:
Tidak demikian.
Justru pertanyaan ini selalu melekat
pada setiap waktu dan dalam setiap keadaan bagi siapa pun yang berbeda pendapat
dengan kami."
Jawaban
Kami: Kehendak Memang Berfungsi Membedakan yang Sama-sama Mungkin
Kami menjawab:
Sesungguhnya alam ada pada waktu
ketika ia diciptakan, dengan sifat yang dimilikinya, dan di tempat yang
ditempatinya, semuanya karena kehendak Allah.
Kehendak adalah suatu sifat yang
memang fungsinya membedakan salah satu dari dua kemungkinan yang sama.
Seandainya bukan demikian hakikat
kehendak, tentu kekuasaan (qudrah) saja sudah mencukupi.
Namun karena kekuasaan memiliki
hubungan yang sama terhadap dua hal yang saling berlawanan, maka diperlukan
suatu penentu yang memilih salah satunya.
Karena itulah dikatakan bahwa selain
memiliki kekuasaan, Allah juga memiliki sifat kehendak yang berfungsi
menentukan salah satu dari dua kemungkinan tersebut.
Maka pertanyaan:
"Mengapa kehendak memilih salah
satu dari dua kemungkinan?"
Sama seperti pertanyaan:
"Mengapa ilmu mengetahui
sesuatu sesuai dengan kenyataannya?"
Jawabannya adalah:
Karena ilmu memang merupakan suatu
sifat yang demikian hakikatnya.
Demikian pula kehendak merupakan
suatu sifat yang hakikatnya memang membedakan satu kemungkinan dari kemungkinan
lainnya.
Artikel Pengembangan
Titik
Berat Perdebatan
Pada bagian ini, para filsuf
berusaha menunjukkan bahwa semua kemungkinan memiliki kedudukan yang sama.
Jika Allah menciptakan alam pada
waktu tertentu, mereka bertanya:
- Mengapa bukan sebelumnya?
- Mengapa bukan sesudahnya?
- Mengapa bentuk alam seperti sekarang?
- Mengapa bukan bentuk yang lain?
Menurut mereka, pilihan semacam itu
memerlukan alasan tambahan.
Jawaban
Al-Ghazali: Hakikat Iradah
Al-Ghazali menjawab dengan
membedakan antara qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak).
Qudrah berarti kemampuan melakukan
dua hal yang berlawanan.
Misalnya:
- menciptakan atau tidak menciptakan;
- menciptakan lebih dahulu atau lebih kemudian;
- menciptakan putih atau hitam.
Namun kemampuan saja belum
menentukan mana yang akan terjadi.
Di sinilah fungsi iradah.
Iradah adalah sifat yang menentukan
salah satu dari berbagai kemungkinan yang sama-sama berada dalam lingkup
kekuasaan Allah.
Analogi
dengan Ilmu
Untuk memperjelas, Al-Ghazali
membuat analogi dengan sifat ilmu.
Tidak ada orang yang bertanya:
"Mengapa ilmu mengetahui
sesuatu sesuai kenyataannya?"
Jawabannya sederhana.
Karena memang itulah hakikat ilmu.
Demikian pula, tidak tepat
mempertanyakan:
"Mengapa kehendak memilih salah
satu kemungkinan?"
Karena memilih salah satu
kemungkinan memang merupakan hakikat iradah.
Menolak
Regresi Tanpa Akhir
Para filsuf bertanya:
"Apa yang menentukan
kehendak?"
Jika pertanyaan seperti ini
diteruskan tanpa batas, maka akan muncul rantai pertanyaan yang tidak pernah
selesai.
Al-Ghazali menghentikan regresi
tersebut dengan menjelaskan bahwa kehendak bukan sesuatu yang masih memerlukan
"kehendak lain" untuk menjalankan fungsinya.
Sebagaimana ilmu tidak memerlukan
"ilmu kedua" agar dapat mengetahui, demikian pula kehendak tidak
memerlukan "kehendak kedua" agar dapat memilih.
Perbedaan
Antara Qudrah dan Iradah
Bagian ini juga memperlihatkan salah
satu konsep penting dalam teologi Islam.
- Qudrah
menunjukkan kemampuan Allah atas segala sesuatu yang mungkin.
- Iradah
menentukan apa yang benar-benar diwujudkan dari berbagai kemungkinan
tersebut.
Dengan demikian, penciptaan alam
pada waktu tertentu bukan terjadi tanpa dasar, tetapi berdasarkan kehendak
Allah yang memang berfungsi menentukan salah satu kemungkinan tanpa harus
didahului oleh penentu lain.
Hikmah
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan
antara kekuasaan dan kehendak Allah.
- Tidak semua pertanyaan "mengapa" harus
dijawab dengan sebab lain; sebagian berkaitan dengan hakikat suatu sifat.
- Kehendak Allah bukan keputusan yang lahir karena
paksaan atau kekurangan, tetapi merupakan sifat yang menetapkan salah satu
dari berbagai kemungkinan.
- Dalam berpikir logis, penting menghentikan pertanyaan
yang berujung pada regresi tanpa akhir.
- Memahami sifat-sifat Allah harus dilakukan sesuai
dengan prinsip ilmu kalam yang benar, tanpa menyerupakan-Nya dengan
makhluk.
- Perdebatan ini menunjukkan kedalaman analisis Imam
Al-Ghazali dalam menjelaskan hubungan antara qudrah, iradah, dan
penciptaan.
Penutup
Pada bagian ini, Imam Al-Ghazali
memberikan jawaban mendasar terhadap keberatan para filsuf tentang alasan Allah
memilih satu waktu tertentu untuk menciptakan alam. Menurut beliau, kehendak
(iradah) Allah sendiri merupakan sifat yang berfungsi menentukan salah satu
dari berbagai kemungkinan yang sama-sama mungkin. Oleh karena itu,
pertanyaan tentang "mengapa kehendak memilih yang ini" tidak lebih
tepat daripada mempertanyakan mengapa ilmu mengetahui sesuatu sebagaimana
adanya. Dengan penjelasan tersebut, Al-Ghazali menegaskan bahwa kehendak ilahi
bukan sesuatu yang memerlukan penentu lain di luar dirinya, melainkan merupakan
sifat Allah yang secara hakiki menetapkan apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan
kebijaksanaan dan kesempurnaan-Nya.
Teks Arab :
قولهم ما الذي ميز وقتًا معينًا عما قبله وعما بعده؟
...
فإن قيل: فبم تنكرون على من يترك دعوى الضرورة ويدل عليه
من وجه آخر وهو أن الأوقات متساوية في جواز تعلق الإرادة بها؟ فما الذي ميز وقتًا
معينًا عما قبله وعما بعده وليس محالًا أن يكون التقدم والتأخر مرادًا؟ بل في
البياض والسواد والحركة والسكون فإنكم تقولون: يحدث البياض بالإرادة القديمة
والمحل قابل للسواد قبوله للبياض، فلم تعلقت الإرادة القديمة بالبياض دون السواد؟
وما الذي ميز أحد الممكنين عن الآخر في تعلق الإرادة به؟ ونحن بالضرورة نعلم أن
الشيء لا يتميز عن مثله إلا بمخصص، ولو جاز ذلك لجاز أن يحدث العالم وهو ممكن
الوجود كما أنه ممكن العدم، ويتخصص جانب الوجود المماثل لجانب العدم في الإمكان
بغير مخصص.
.. وما الذي خصص الإرادة؟
وإن قلتم: إن الإرادة خصصت، فالسؤال عن اختصاص الإرادة
وأنها لم اختصت. فإن قلتم: القديم لا يقال له، لم؟ فليكن العالم قديمًا ولا يطلب
صانعه وسببه، لأن القديم لا يقال فيه: لم. فإن جاز تخصص القديم بالاتفاق بأحد
الممكنين فغاية المستبعد أن يقال: العالم مخصوص بهيئات مخصوصة كان يجوز أن يكون
على هيئات أخرى بدلًا عنها. فيقال: وقع كذلك اتفاقًا كما قلتم: اختصت الإرادة بوقت
دون وقت وهيئة دون هيئة اتفاقًا. وإن قلتم: إن هذا السؤال غير لازم لأنه وارد على
كل ما يريده وعائد على كل ما يقدره، فنقول: لا، بل هذا السؤال لازم لأنه عائد في
كل وقت وملازم لمن خالفنا على كل تقدير.
قولنا الإرادة تميز الشيء عن مثله
قلنا: إنما وجد العالم حيث وجد وعلى الوصف الذي وجد وفي
المكان الذي وجد بالإرادة، والإرادة صفة من شأنها تمييز الشيء عن مثله، ولولا أن
هذا شأنها لوقع الاكتفاء بالقدرة. ولكن لما تساوى نسبة القدرة إلى الضدين ولم يكن بد
من مخصص يخصص الشيء عن مثله فقيل: للقديم وراء القدرة صفة من شأنها تخصيص الشيء عن
مثله، فقول القائل: لم اختصت الإرادة بأحد المثلين، كقول القائل: لم اقتضى العلم
الإحاطة بالمعلوم على ما هو به؟ فيقال: لأن العلم عبارة عن صفة هذا شأنها، فكذى
الإرادة عبارة عن صفة هذا شأنها، بل ذاتها تمييز الشيء عن مثله.
Baca juga:
Benarkah Semua Jiwa Berasal dari Satu Hakikat? Imam Al-Ghazali MembantahTeori Jiwa Tunggal Plato
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Benarkah Memilih Salah
Satu dari Dua Hal yang Sama Itu Mustahil?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar