Pendahuluan
Dalam perdebatan mengenai keazalian
alam, para filsuf berusaha membalik kritik Imam Al-Ghazali dengan mengajukan pertanyaan
baru. Mereka bertanya: jika Allah menciptakan alam pada waktu tertentu,
bukankah sebelumnya Allah mampu menciptakannya namun tidak melakukannya? Apakah
masa "tidak menciptakan" itu terbatas atau tidak terbatas?
Imam Al-Ghazali menjawab pertanyaan tersebut
dengan meletakkan dasar yang sangat penting dalam teologi Islam, yaitu bahwa waktu
(zaman) sendiri merupakan makhluk Allah. Oleh karena itu, pertanyaan
tentang "sebelum penciptaan alam" tidak dapat dipahami dengan
mengandaikan adanya waktu yang sudah berjalan sebelum alam diciptakan. Jawaban
ini menjadi salah satu fondasi penting dalam bantahan beliau terhadap argumen
keazalian alam.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Keberatan
Mereka: Mengapa Allah Tidak Menciptakan Alam Sebelumnya?
Apabila mereka berkata:
"Sanggahan ini juga berlaku terhadap
kalian.
Sebab sebelum Allah menciptakan
alam, Dia telah berkuasa untuk menciptakannya, baik satu tahun sebelumnya
maupun dua tahun sebelumnya.
Bahkan tidak ada batas bagi
kekuasaan-Nya.
Seolah-olah Dia menunda penciptaan,
kemudian baru menciptakannya.
Maka masa penundaan itu, apakah
terbatas atau tidak terbatas?
Jika kalian mengatakan terbatas,
berarti keberadaan Allah memiliki permulaan yang terbatas.
Dan jika kalian mengatakan tidak
terbatas, berarti telah berlalu suatu masa yang di dalamnya terdapat
kemungkinan-kemungkinan yang jumlahnya tidak terbatas."
Jawaban kami:
Masalah waktu dan zaman, menurut
kami, merupakan sesuatu yang diciptakan.
Kami akan menjelaskan hakikat
jawaban terhadap persoalan ini ketika membahas bantahan terhadap dalil kedua mereka.
Artikel Pengembangan
Keberatan
Filsuf terhadap Teori Penciptaan
Para filsuf mencoba membalik kritik
Al-Ghazali.
Mereka bertanya:
Jika Allah memang menciptakan alam
pada saat tertentu, mengapa bukan lebih awal?
Bukankah Allah Mahakuasa sejak
dahulu?
Kalau demikian, mengapa penciptaan
"ditunda"?
Pertanyaan ini dimaksudkan untuk
menunjukkan bahwa teori penciptaan menurut mereka juga menghadapi persoalan
yang sama.
Jawaban
Singkat Al-Ghazali
Al-Ghazali tidak langsung
menguraikan jawaban panjang pada bagian ini.
Beliau hanya memberikan prinsip
dasarnya:
Waktu (zaman) adalah makhluk.
Karena itu, pertanyaan yang
mengandaikan adanya rentang waktu sebelum penciptaan alam belum tentu tepat.
Beliau menyatakan bahwa pembahasan
lengkap akan disampaikan ketika membantah dalil kedua para filsuf.
Waktu
Tidak Berdiri Sendiri
Dalam perspektif ilmu kalam yang
dianut Al-Ghazali, waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan telah ada
tanpa permulaan.
Sebaliknya, waktu berkaitan dengan
keberadaan alam yang diciptakan.
Oleh sebab itu, pertanyaan seperti:
- "Mengapa Allah tidak menciptakan satu tahun lebih
awal?"
- "Apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan
alam?"
perlu dikaji terlebih dahulu, karena
keduanya mengandaikan bahwa ukuran waktu telah ada sebelum penciptaan.
Inilah asumsi yang justru akan
dipersoalkan oleh Al-Ghazali.
Menunda
Pembahasan Secara Sistematis
Salah satu kelebihan metode
Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah ialah keteraturan argumentasinya.
Beliau tidak menjawab seluruh
persoalan sekaligus.
Apabila suatu keberatan berkaitan
erat dengan pembahasan lain yang lebih tepat, beliau cukup memberikan isyarat
dan menundanya hingga tempat yang paling sesuai.
Cara ini membuat setiap argumen
dibahas dalam konteks yang lengkap sehingga pembaca dapat mengikuti alur perdebatan
secara sistematis.
Makna
Filosofis
Perdebatan ini memperlihatkan bahwa
perbedaan mendasar antara Al-Ghazali dan para filsuf bukan sekadar tentang
kapan alam diciptakan, melainkan juga mengenai hakikat waktu itu sendiri.
Bagi para filsuf Peripatetik, waktu
sering dipahami sebagai sesuatu yang berjalan seiring dengan gerak alam yang
mereka anggap tidak berawal.
Sementara itu, Al-Ghazali menegaskan
bahwa waktu termasuk dalam tatanan ciptaan Allah, sehingga tidak tepat
membayangkan adanya "waktu sebelum waktu" dalam pengertian yang sama.
Hikmah
- Dalam membahas persoalan metafisika, definisi istilah
seperti "waktu" harus dipahami dengan tepat.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menguji asumsi
yang tersembunyi di balik sebuah pertanyaan.
- Tidak semua pertanyaan dapat dijawab sebelum
konsep-konsep dasarnya dijelaskan.
- Metode berpikir yang sistematis membantu menghindari
kesimpulan yang terburu-buru.
- Perbedaan pandangan tentang waktu dapat melahirkan
perbedaan besar dalam memahami penciptaan alam.
- Dialog ilmiah yang baik dimulai dengan menyepakati
makna istilah yang digunakan.
Penutup
Pada bagian ini, para filsuf
mengajukan keberatan bahwa apabila Allah menciptakan alam pada waktu tertentu,
tentu dapat ditanyakan mengapa penciptaan itu tidak dilakukan lebih awal. Imam
Al-Ghazali menjawab secara ringkas dengan menyatakan bahwa waktu dan zaman
merupakan makhluk Allah, sehingga persoalan tersebut tidak dapat dipahami
dengan mengandaikan adanya waktu yang telah berlangsung sebelum penciptaan.
Beliau kemudian menunda penjelasan rinci hingga pembahasan dalil kedua,
menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan metafisika memerlukan penjelasan yang
bertahap dan sistematis agar tidak terjebak pada asumsi-asumsi yang belum
terbukti.
Teks Arab :
قولهم إن الله قبل خلق العالم ...
فإن قيل: هذا ينقلب عليكم في أن الله قبل خلق العالم كان
قادرًا على الخلق بقدر سنة أو سنتين - ولا نهاية لقدرته - فكأنه صبر ولم يخلق ثم
خلق، ومدة الترك متناه أو غير متناه. فإن قلتم: متناه، صار وجود الباري متناهي
الأول، وإن قلتم: غير متناه، فقد انقضى مدة فيها إمكانات لا نهاية لأعدادها.
راجع الدليل الثاني قلنا: المدة والزمان مخلوق عندنا.
وسنبين حقيقة الجواب عن هذا في الانفصال عن دليلهم الثاني.
Baca juga:
Benarkah Semua Jiwa Berasal dari Satu Hakikat? Imam Al-Ghazali MembantahTeori Jiwa Tunggal Plato
Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?
Pendahuluan
Dalam perdebatan mengenai keazalian
alam, para filsuf berusaha membalik kritik Imam Al-Ghazali dengan mengajukan pertanyaan
baru. Mereka bertanya: jika Allah menciptakan alam pada waktu tertentu,
bukankah sebelumnya Allah mampu menciptakannya namun tidak melakukannya? Apakah
masa "tidak menciptakan" itu terbatas atau tidak terbatas?
Imam Al-Ghazali menjawab pertanyaan tersebut
dengan meletakkan dasar yang sangat penting dalam teologi Islam, yaitu bahwa waktu
(zaman) sendiri merupakan makhluk Allah. Oleh karena itu, pertanyaan
tentang "sebelum penciptaan alam" tidak dapat dipahami dengan
mengandaikan adanya waktu yang sudah berjalan sebelum alam diciptakan. Jawaban
ini menjadi salah satu fondasi penting dalam bantahan beliau terhadap argumen
keazalian alam.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Keberatan
Mereka: Mengapa Allah Tidak Menciptakan Alam Sebelumnya?
Apabila mereka berkata:
"Sanggahan ini juga berlaku terhadap
kalian.
Sebab sebelum Allah menciptakan
alam, Dia telah berkuasa untuk menciptakannya, baik satu tahun sebelumnya
maupun dua tahun sebelumnya.
Bahkan tidak ada batas bagi
kekuasaan-Nya.
Seolah-olah Dia menunda penciptaan,
kemudian baru menciptakannya.
Maka masa penundaan itu, apakah
terbatas atau tidak terbatas?
Jika kalian mengatakan terbatas,
berarti keberadaan Allah memiliki permulaan yang terbatas.
Dan jika kalian mengatakan tidak
terbatas, berarti telah berlalu suatu masa yang di dalamnya terdapat
kemungkinan-kemungkinan yang jumlahnya tidak terbatas."
Jawaban kami:
Masalah waktu dan zaman, menurut
kami, merupakan sesuatu yang diciptakan.
Kami akan menjelaskan hakikat
jawaban terhadap persoalan ini ketika membahas bantahan terhadap dalil kedua mereka.
Artikel Pengembangan
Keberatan
Filsuf terhadap Teori Penciptaan
Para filsuf mencoba membalik kritik
Al-Ghazali.
Mereka bertanya:
Jika Allah memang menciptakan alam
pada saat tertentu, mengapa bukan lebih awal?
Bukankah Allah Mahakuasa sejak
dahulu?
Kalau demikian, mengapa penciptaan
"ditunda"?
Pertanyaan ini dimaksudkan untuk
menunjukkan bahwa teori penciptaan menurut mereka juga menghadapi persoalan
yang sama.
Jawaban
Singkat Al-Ghazali
Al-Ghazali tidak langsung
menguraikan jawaban panjang pada bagian ini.
Beliau hanya memberikan prinsip
dasarnya:
Waktu (zaman) adalah makhluk.
Karena itu, pertanyaan yang
mengandaikan adanya rentang waktu sebelum penciptaan alam belum tentu tepat.
Beliau menyatakan bahwa pembahasan
lengkap akan disampaikan ketika membantah dalil kedua para filsuf.
Waktu
Tidak Berdiri Sendiri
Dalam perspektif ilmu kalam yang
dianut Al-Ghazali, waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan telah ada
tanpa permulaan.
Sebaliknya, waktu berkaitan dengan
keberadaan alam yang diciptakan.
Oleh sebab itu, pertanyaan seperti:
- "Mengapa Allah tidak menciptakan satu tahun lebih
awal?"
- "Apa yang dilakukan Allah sebelum menciptakan
alam?"
perlu dikaji terlebih dahulu, karena
keduanya mengandaikan bahwa ukuran waktu telah ada sebelum penciptaan.
Inilah asumsi yang justru akan
dipersoalkan oleh Al-Ghazali.
Menunda
Pembahasan Secara Sistematis
Salah satu kelebihan metode
Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah ialah keteraturan argumentasinya.
Beliau tidak menjawab seluruh
persoalan sekaligus.
Apabila suatu keberatan berkaitan
erat dengan pembahasan lain yang lebih tepat, beliau cukup memberikan isyarat
dan menundanya hingga tempat yang paling sesuai.
Cara ini membuat setiap argumen
dibahas dalam konteks yang lengkap sehingga pembaca dapat mengikuti alur perdebatan
secara sistematis.
Makna
Filosofis
Perdebatan ini memperlihatkan bahwa
perbedaan mendasar antara Al-Ghazali dan para filsuf bukan sekadar tentang
kapan alam diciptakan, melainkan juga mengenai hakikat waktu itu sendiri.
Bagi para filsuf Peripatetik, waktu
sering dipahami sebagai sesuatu yang berjalan seiring dengan gerak alam yang
mereka anggap tidak berawal.
Sementara itu, Al-Ghazali menegaskan
bahwa waktu termasuk dalam tatanan ciptaan Allah, sehingga tidak tepat
membayangkan adanya "waktu sebelum waktu" dalam pengertian yang sama.
Hikmah
- Dalam membahas persoalan metafisika, definisi istilah
seperti "waktu" harus dipahami dengan tepat.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya menguji asumsi
yang tersembunyi di balik sebuah pertanyaan.
- Tidak semua pertanyaan dapat dijawab sebelum
konsep-konsep dasarnya dijelaskan.
- Metode berpikir yang sistematis membantu menghindari
kesimpulan yang terburu-buru.
- Perbedaan pandangan tentang waktu dapat melahirkan
perbedaan besar dalam memahami penciptaan alam.
- Dialog ilmiah yang baik dimulai dengan menyepakati
makna istilah yang digunakan.
Penutup
Pada bagian ini, para filsuf
mengajukan keberatan bahwa apabila Allah menciptakan alam pada waktu tertentu,
tentu dapat ditanyakan mengapa penciptaan itu tidak dilakukan lebih awal. Imam
Al-Ghazali menjawab secara ringkas dengan menyatakan bahwa waktu dan zaman
merupakan makhluk Allah, sehingga persoalan tersebut tidak dapat dipahami
dengan mengandaikan adanya waktu yang telah berlangsung sebelum penciptaan.
Beliau kemudian menunda penjelasan rinci hingga pembahasan dalil kedua,
menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan metafisika memerlukan penjelasan yang
bertahap dan sistematis agar tidak terjebak pada asumsi-asumsi yang belum
terbukti.
Teks Arab :
قولهم إن الله قبل خلق العالم ...
فإن قيل: هذا ينقلب عليكم في أن الله قبل خلق العالم كان
قادرًا على الخلق بقدر سنة أو سنتين - ولا نهاية لقدرته - فكأنه صبر ولم يخلق ثم
خلق، ومدة الترك متناه أو غير متناه. فإن قلتم: متناه، صار وجود الباري متناهي
الأول، وإن قلتم: غير متناه، فقد انقضى مدة فيها إمكانات لا نهاية لأعدادها.
راجع الدليل الثاني قلنا: المدة والزمان مخلوق عندنا.
وسنبين حقيقة الجواب عن هذا في الانفصال عن دليلهم الثاني.
Baca juga:
Benarkah Semua Jiwa Berasal dari Satu Hakikat? Imam Al-Ghazali MembantahTeori Jiwa Tunggal Plato
Jawaban Imam Al-Ghazali terhadap Pertanyaan Filsuf: Mengapa Allah Memilih Waktu Tertentu untuk Menciptakan Alam?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar