Mana yang Lebih Menyakitkan: Perpisahan atau Pengabaian? Jawaban Menyentuh dari Ibnu Hazm

Ibnu Hazm menjelaskan mengapa perpisahan lebih menyakitkan daripada pengabaian dan bagaimana kenangan menghidupkan kembali luka cinta

Pendahuluan

Setiap orang yang pernah mencintai pasti mengenal dua luka besar dalam hubungan: pengabaian dan perpisahan. Pengabaian menyiksa hati karena cinta tidak mendapatkan balasan yang diharapkan, sedangkan perpisahan memisahkan dua jiwa yang sebelumnya dekat dan saling mengenal.

Namun manakah yang lebih berat?

Pertanyaan ini telah menjadi bahan renungan para pecinta sejak dahulu. Sebagian orang menganggap pengabaian lebih menyakitkan karena hati terus tersiksa oleh harapan yang tidak terpenuhi. Sebagian lainnya meyakini bahwa perpisahan jauh lebih berat karena ia memutus kebersamaan yang telah terjalin.

Dalam bagian ini, Imam Ibnu Hazm menghadirkan pandangan yang mendalam tentang beratnya perpisahan, bahkan sampai ada orang yang memilih menjauh lebih awal demi menghindari kepedihan yang akan datang.

Sumber : Kitab Thauqul Hamamah fi al-Ulfah wa al-Ullaf

Penulis : Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (384–456 H)

Tema : Perpisahan Lebih Berat Daripada Pengabaian dan Bahaya Menyiksa Diri dengan Ketakutan Masa Depan

Terjemahan Lengkap

Ibnu Hazm berkata:

"Aku pernah melihat sebagian orang yang sengaja mempercepat perpisahan dengan orang yang dicintainya.

Ia sendiri yang memilih menjauh.

Ia sendiri yang memutus hubungan.

Bukan karena kebencian.

Bukan pula karena hilangnya cinta.

Melainkan karena takut menghadapi pahitnya hari perpisahan yang suatu saat pasti datang, serta luka yang akan ditimbulkannya ketika berpisah nanti.

Walaupun menurutku cara seperti ini bukanlah jalan yang terpuji, namun hal itu menjadi bukti yang sangat kuat bahwa perpisahan lebih berat daripada pengabaian.

Bagaimana mungkin tidak demikian?

Padahal ada orang yang memilih pengabaian demi menghindari perpisahan.

Sedangkan aku tidak pernah melihat seorang pun memilih perpisahan demi menghindari pengabaian.

Manusia selalu memilih jalan yang lebih ringan dan berusaha menghindari yang lebih berat."

Kemudian beliau melanjutkan:

"Kami mengatakan bahwa sikap seperti itu bukanlah sikap yang terpuji karena mereka telah mendahului musibah sebelum waktunya tiba.

Mereka telah meminum kepahitan kesabaran sebelum saatnya.

Padahal mungkin saja apa yang mereka takutkan tidak akan terjadi.

Orang yang tergesa-gesa menghadapi sesuatu yang dibencinya sebelum benar-benar terjadi bukanlah orang yang bijaksana."

Tentang keadaan ini aku berkata:

Syair

Seorang pecinta mengenakan pakaian kesedihan.

Padahal tidak ada perpisahan dari pihak orang yang dicintainya.

Ia seperti orang kaya yang hidup layaknya orang miskin.

Karena takut miskin, padahal kemiskinan itu belum tentu datang kepadanya.

Kemudian sepupuku, Abu al-Mughirah, menulis syair kepadaku tentang pendapat bahwa perpisahan lebih berat daripada pengabaian:

Syair

Engkau gelisah ketika mendengar kabar keberangkatan.

Dan hatimu hancur saat kendaraan mulai bergerak.

Benar, musibah itu besar.

Tetapi perpisahan mereka jauh lebih besar lagi.

Mereka yang mengatakan bahwa pengabaian lebih menyakitkan telah keliru.

Karena mereka belum memahami hakikat penderitaan.

Adapun perpisahan,

Ia adalah penunjuk jalan menuju kematian.

Aku juga memiliki sebuah qasidah panjang yang diawali dengan bait:

Syair

Tiada hari yang menyerupai hari kenikmatan itu.

Dalam keindahan pemandangan dan kebahagiaan.

Hari itu laksana sesuatu yang sangat langka.

Bagaikan kebenaran yang keluar dari kesalahan.

Dan seperti anak yang lahir dari sesuatu yang mustahil.

Saat kilatan pertemuan bukanlah fatamorgana.

Dan taman cinta tidaklah layu.

Dari setiap wanita cantik yang berkata:

"Biarkan aku tetap berada di hadapanmu."

Bukan mata-mata itu yang membuatku sakit.

Karena tidak ada obat bagiku selain mereka.

Mereka seperti ular.

Tidak ada penyembuh sengatan selain tubuh ular itu sendiri.

Dan sesungguhnya perpisahan telah membuat para penyair menangisi bekas-bekas tempat tinggal kekasih mereka.

Mereka mencurahkan air mata di atas reruntuhan rumah.

Mereka menyiram bekas-bekas tempat tinggal itu dengan air kerinduan.

Mereka mengingat kembali masa-masa yang pernah mereka lalui di sana.

Lalu mereka meratap dan menangis.

Jejak-jejak itu membangkitkan kembali kerinduan yang telah terkubur dalam hati mereka.

Maka mereka pun menangis dan berduka.

Artikel Pengembangan

Takut Kehilangan Sebelum Kehilangan Terjadi

Salah satu fenomena psikologis yang dijelaskan Ibnu Hazm adalah kecemasan antisipatif.

Seseorang belum kehilangan apa pun.

Belum berpisah.

Belum ditinggalkan.

Namun ia sudah merasakan kesedihan seolah-olah semuanya telah terjadi.

Ia memilih menjauh lebih dulu agar tidak terluka nanti.

Padahal luka yang ditakutinya belum tentu akan datang.

Mengapa Banyak Orang Merusak Kebahagiaan Mereka Sendiri?

Ketakutan yang berlebihan terhadap masa depan sering membuat manusia kehilangan kebahagiaan masa kini.

Mereka terlalu sibuk memikirkan kemungkinan buruk sehingga gagal menikmati nikmat yang sedang ada.

Inilah yang dikritik oleh Ibnu Hazm.

Beliau menganggap sikap tersebut sebagai bentuk mendahului ujian sebelum waktunya.

Perpisahan dan Kenangan Tempat

Karena itulah para penyair Arab klasik sering menangisi bekas rumah dan reruntuhan.

Bukan karena batu-batu itu memiliki nilai khusus.

Melainkan karena tempat tersebut menyimpan kenangan.

Tempat menjadi saksi kebersamaan.

Ketika orang yang dicintai pergi, setiap sudut lokasi itu berubah menjadi pemantik kerinduan.

Mengapa Perpisahan Dianggap Lebih Dekat dengan Kematian?

Perpisahan mengandung unsur kehilangan.

Semakin jauh seseorang pergi, semakin kecil peluang untuk bertemu kembali.

Karena itu banyak penyair menganggap perpisahan sebagai bayangan kecil dari kematian.

Keduanya sama-sama memisahkan.

Bedanya, kematian menutup seluruh kemungkinan, sedangkan perpisahan masih menyisakan secercah harapan.

Menikmati Hari Ini Sebelum Menjadi Kenangan

Pesan tersirat dari uraian Ibnu Hazm sangat mendalam:

Jangan habiskan hari ini dengan ketakutan terhadap esok.

Karena bisa jadi esok yang ditakutkan tidak pernah datang.

Sedangkan hari ini yang seharusnya dinikmati justru hilang tanpa manfaat.

Hikmah

  1. Perpisahan termasuk ujian emosional paling berat dalam kehidupan.
  2. Sebagian orang menyakiti dirinya sendiri karena terlalu takut kehilangan.
  3. Ketakutan terhadap masa depan dapat merusak kebahagiaan masa kini.
  4. Jangan mendahului musibah sebelum ia benar-benar datang.
  5. Orang bijak menikmati nikmat yang ada sambil tetap berserah kepada Allah.
  6. Kenangan sering melekat pada tempat-tempat yang pernah menyatukan hati.
  7. Perpisahan membangkitkan kembali kenangan yang lama tersimpan.
  8. Harapan masih ada selama perpisahan belum berubah menjadi kematian.
  9. Kecemasan yang berlebihan bukanlah tanda kebijaksanaan.
  10. Syukur atas kebersamaan hari ini lebih bermanfaat daripada ketakutan terhadap kehilangan esok hari.

Penutup

Dalam bagian ini, Ibnu Hazm menunjukkan bahwa perpisahan bukan hanya menyakitkan ketika terjadi, tetapi juga mampu menimbulkan ketakutan jauh sebelum waktunya tiba. Bahkan ada orang yang memilih menjauh lebih dahulu demi menghindari luka yang belum tentu datang.

Namun beliau mengingatkan bahwa sikap demikian bukanlah kebijaksanaan. Kehidupan tidak seharusnya dijalani dengan ketakutan yang berlebihan terhadap masa depan. Selama kebersamaan masih ada, nikmatilah dengan syukur. Selama kesempatan masih terbuka, manfaatkan dengan baik.

Karena sering kali yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kita telah menyia-nyiakan hari-hari indah sebelum perpisahan datang.

Referensi:

ولقد رأيت من يستعجل هجر محبوبه ويتعمده خوفًا من مرارة يوم البين وما يحدث به من لوعة الأسف عند التفرق، وهذا وإن لم يكن عندي من المذاهب المرضية، فهو حجة قاطعة على ان البين أصعب من الهجر، وكيف لا وفي الناس من يلوذ بالهجر خوفًا من البين.

ولم أجد أحدًا في الدنيا يلوذ بالبين خوفًا من الهجر، إنما يأخذ الناس أبدًا الأسهل ويتكلفون الأهون.

وإنما قلنا إنه ليس من المذاهب المحمودة لان أصحابه قد استعجلوا البلاء قبل نزوله، وتجرعوا غصة الصبر قبل وقتها، ولعل ما تخوفوه لا يكون، وليس من يتعجل المكروه - وهو على غير يقين مما يتعجل - بحكيم، وفيه أقول شعرًا منه: [من الخفيف] .

لبس الصب للصبابة بينا ... ليس من جانب الأحبة منا كغني يعيش عيش فقير ... خوف فقر وفقره قد أبنا وأذكر لابن عمي أبي المغيرة في هذا المعنى - من ان البين أصعب من الصد - أبياتًا من قصيدة خاطبني بها وهو ابن سبعة عشر عامًا أو نحوها، وهي: [من الكامل المجزوء] .

أجزعت أن أزف الرحيل ... وولهت ان نص الذميل كلا: مصابك فادح ... وأجل: فراقهم جليل كذب الألى زعموا بان ... الصد مرتعه وبيل لم يعرفوا كنه الغلي ... ل وقد تحملت الحمول أما الفراق فإنه ... للموت إن أهوى دليل ولي في هذا المعنى قصيدة مطولة أولها: [من الكامل] .

لا مثل يومك ضحوة التنعيم ... في منظر حسن وفي تنعيم قد كان ذاك اليوم ندرة عاقر ... وصواب خاطئة وولد عقيم أيام برق الوصل ليس بخلب ... عندي ولا روض الهوى بهشيم من كل غانية تقول ثديها ... سيرى أمامك والإزار أقيمي ما بي تلك العيون وليس في ... برئي سواها في الورى بزعيم مثل الأفاعي ليس في شيء سوى ... أجسادها إبراء لدغ سليم والبين أبكى الشعراء على المعاهد فأدروا على الرسوم الدموع، وسقوا الديار ماء الشوق، وتذكروا ما قد سلف لهم فيها فأعولوا وانتحبوا، وأحيت الآثار دفين شوقهم فناحوا وبكوا.

Baca juga:

Perpisahan Karena Kematian: Luka Cinta yang Tak Pernah Sembuh MenurutIbnu Hazm

Perpisahan MengungkapRahasia Cinta: Ketika Hati yang Tersembunyi Akhirnya Berbicara

Kerinduan pada Kampung Halaman dan Orang-Orang Tercinta: Renungan Mendalam tentang Perpisahan dalam Kitab Thauqul Hamamah

Posting Komentar

0 Komentar

Featured post

Dalil Pertama dan Metode Ketiga tentang Keabadian Alam: Penjelasan Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Dalam pembahasan sebelumnya, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk mempertahankan pandangan...