Pendahuluan
Perpisahan bukan hanya tentang
berpisah dengan seseorang yang dicintai. Ada perpisahan yang lebih luas dan
lebih menyakitkan: berpisah dengan tanah kelahiran, rumah masa kecil,
sahabat-sahabat lama, dan kenangan yang pernah mengisi kehidupan.
Dalam bab Al-Bain
(Perpisahan) dari kitab Thauqul Hamamah, Ibnu Hazm menggambarkan
bagaimana kenangan terhadap tempat-tempat yang dahulu penuh kehidupan mampu
membangkitkan kesedihan yang mendalam. Rumah-rumah yang pernah ramai menjadi
sunyi, istana yang dahulu megah menjadi reruntuhan, dan orang-orang yang dahulu
memenuhi kehidupan telah tercerai-berai oleh waktu.
Renungan ini menunjukkan bahwa cinta
bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada kenangan, tempat, dan masa lalu.
Sumber : Kitab 《طوق الحمامة في الألفة والألاف》 (Thauqul Hamamah fi al-Ulfah
wal-Ullaf), Bab البين
(Perpisahan) karya Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi.
Penulis : Ibnu Hazm
Nama lengkapnya Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id bin Hazm Al-Andalusi
(994–1064 M). Beliau merupakan ulama besar Andalusia yang terkenal dalam bidang
fikih, hadis, sejarah, sastra, dan psikologi cinta.
Tema : Perpisahan dengan kampung halaman, kenangan masa lalu, dan
orang-orang yang dicintai yang melahirkan kerinduan mendalam serta kesadaran
akan kefanaan dunia.
Terjemahan Lengkap
Aku pernah mendengar dari sebagian
orang yang datang dari Cordoba—setelah aku menanyakan keadaan kota itu—bahwa ia
melihat rumah-rumah kami di Balath Mugits, di bagian barat kota tersebut, telah
lenyap bekas-bekasnya.
Tanda-tandanya telah sirna,
jejak-jejaknya terhapus, dan peninggalannya tidak lagi dikenali.
Kerusakan telah mengubahnya menjadi
padang tandus setelah sebelumnya ramai oleh kehidupan.
Ia menjadi tempat sunyi setelah
dahulu penuh keakraban.
Menjadi reruntuhan setelah dahulu
indah.
Menjadi lembah yang menakutkan
setelah dahulu aman.
Menjadi sarang serigala, tempat
berkeliarannya makhluk-makhluk liar, tempat bermain jin, dan persembunyian
binatang buas.
Padahal dahulu di sana tinggal
laki-laki gagah bagaikan singa dan wanita-wanita cantik laksana boneka.
Nikmat melimpah pada mereka dari
segala arah.
Kemudian takdir mencerai-beraikan
mereka sehingga mereka tercerai ke berbagai negeri seperti kaum Saba yang
tercerai-berai.
Maka bangunan-bangunan indah yang
dahulu dihiasi ukiran dan kemegahan, yang bersinar seperti matahari dan
mempesona siapa saja yang memandangnya, setelah ditimpa kehancuran dan
keruntuhan, kini tampak seperti mulut-mulut binatang buas yang menganga.
Ia mengingatkan manusia tentang
kefanaan dunia.
Ia memperlihatkan bagaimana akhir
kehidupan para penghuninya.
Ia memberitahumu apa yang akan
menimpa semua orang yang kini masih berdiri tegak di dalamnya.
Ia membuatmu enggan mengejar dunia
yang dahulu begitu memikat.
Aku pun teringat hari-hariku di
sana.
Aku teringat berbagai kenikmatan
yang pernah kurasakan.
Aku teringat masa mudaku yang
berlalu di tempat itu.
Aku teringat gadis-gadis cantik yang
bahkan orang bijak pun dapat jatuh hati kepada mereka.
Kemudian aku membayangkan mereka
kini berada di bawah tanah atau tersebar di negeri-negeri yang jauh.
Tangan pengusiran telah memisahkan
mereka.
Tangan perpisahan telah
mencabik-cabik kebersamaan mereka.
Aku membayangkan lenyapnya kemegahan
tempat-tempat yang dahulu begitu indah.
Aku membayangkan halaman-halaman
yang dulu sesak oleh manusia kini kosong melompong.
Telingaku seakan mendengar gema
kesunyian dan suara burung hantu di tempat itu.
Padahal dahulu tempat itu penuh oleh
orang-orang yang aku tumbuh bersama mereka.
Malam dan siangnya dahulu sama-sama
hidup oleh aktivitas penghuninya.
Kini siangnya menyerupai malam
karena kesunyian dan keterasingannya.
Semua itu membuat kedua mataku
menangis.
Hatiku terasa sakit.
Kalbuku terguncang.
Pikiranku semakin dirundung
kesedihan.
Lalu aku berkata:
Jika kini tempat itu membuat kami
haus kerinduan, dahulu ia telah banyak memberi kesejukan.
Jika sekarang ia menyakitkan hati
kami, dahulu ia telah banyak menghibur dan membahagiakan kami.
Dan perpisahan melahirkan kerinduan,
kegelisahan, serta kenangan.
Tentang hal itu aku berkata:
Andai burung gagak hari ini dapat
mengembalikan mereka kepadaku, mungkin ia akan berhenti di antara kami.
Aku berkata ketika malam telah
menurunkan tirainya dan bersumpah seakan tak akan pernah berakhir.
Bintang-bintang tampak kebingungan
di ufuk langit, tidak bergerak menuju tenggelam dan tidak pula berlalu.
Engkau akan mengira mereka tersesat,
ketakutan, menunggu janji, atau seperti seorang pecinta yang dilanda kerinduan
mendalam.
Artikel Pengembangan
Ketika Rumah Tinggal Kenangan
Ada rasa sakit yang tidak dapat
dijelaskan ketika seseorang kembali ke tempat masa kecilnya lalu mendapati
semuanya telah berubah.
Rumah yang dahulu penuh tawa menjadi
kosong.
Pohon yang dahulu menjadi tempat
bermain telah ditebang.
Tetangga yang dahulu akrab telah
pindah atau meninggal.
Lorong-lorong yang dahulu hidup kini
sunyi.
Apa yang dirasakan Ibnu Hazm adalah
pengalaman universal yang dialami banyak orang sepanjang zaman.
Kita sering tidak menangisi bangunan
itu sendiri, tetapi kenangan yang terkandung di dalamnya.
Dunia Selalu Berubah
Salah satu pesan terbesar dalam
bagian ini adalah bahwa dunia tidak pernah tetap.
Kerajaan runtuh.
Kota-kota berubah.
Rumah-rumah hancur.
Orang-orang berpindah.
Sahabat berpisah.
Generasi datang dan pergi.
Apa yang hari ini tampak kokoh dan abadi,
suatu saat dapat menjadi kisah yang hanya tersisa dalam ingatan.
Karena itu manusia tidak boleh
menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada dunia yang fana.
Kenangan Adalah Bentuk Cinta
Mengapa seseorang menangis ketika
mengenang masa lalu?
Karena kenangan adalah bentuk lain
dari cinta.
Orang yang tidak pernah mencintai
sesuatu tidak akan merindukannya.
Semakin dalam cinta seseorang
terhadap suatu tempat atau seseorang, semakin besar pula kerinduan ketika ia
kehilangan keduanya.
Ibnu Hazm menunjukkan bahwa
kerinduan bukan kelemahan.
Kerinduan adalah bukti bahwa hati
pernah hidup.
Reruntuhan Sebagai Guru Kehidupan
Dalam tradisi sastra Arab klasik,
melihat reruntuhan bukan sekadar melihat bangunan tua.
Reruntuhan adalah pelajaran.
Ia mengajarkan:
- Tidak ada kemegahan yang abadi.
- Tidak ada kekuasaan yang kekal.
- Tidak ada masa muda yang bertahan selamanya.
- Tidak ada kebersamaan yang luput dari perpisahan.
Karena itulah orang-orang bijak
sering merenung ketika melihat bekas-bekas peradaban yang telah hilang.
Mengapa Perpisahan Melahirkan Kerinduan?
Menurut Ibnu Hazm, perpisahan
menghasilkan tiga hal:
- Al-Hanîn (kerinduan)
Keinginan kuat untuk kembali kepada masa lalu. - Al-Ihtiyâj (kegelisahan)
Hati yang terus mencari sesuatu yang telah hilang. - At-Tadzakkur (kenangan)
Ingatan yang terus hidup meski objeknya telah tiada.
Karena itu semakin jauh seseorang
dari sesuatu yang dicintainya, semakin kuat pula kenangan yang muncul dalam
dirinya.
Hikmah
- Dunia selalu berubah dan tidak ada yang kekal selain
Allah.
- Rumah yang indah menjadi reruntuhan, sebagaimana masa
muda berubah menjadi usia tua.
- Kenangan adalah bukti bahwa cinta pernah hidup di dalam
hati.
- Perpisahan sering membuat manusia menghargai sesuatu
setelah kehilangannya.
- Tempat-tempat yang pernah kita cintai menyimpan jejak
emosi yang sulit dilupakan.
- Orang bijak mengambil pelajaran dari reruntuhan dan
perubahan zaman.
- Kerinduan dapat menjadi jalan untuk mengenali nilai
sesuatu yang pernah kita miliki.
- Kebersamaan adalah nikmat yang sering disadari setelah
hilang.
Penutup
Dalam bagian yang sangat menyentuh
ini, Ibnu Hazm tidak hanya berbicara tentang perpisahan antara dua insan yang
saling mencintai. Ia berbicara tentang perpisahan yang lebih luas: perpisahan
dengan masa lalu, kampung halaman, rumah-rumah yang pernah dihuni, dan
orang-orang yang pernah mengisi kehidupan.
Ketika melihat reruntuhan Cordoba,
beliau menyadari bahwa dunia terus bergerak dan tidak menyisakan sesuatu dalam
keadaan yang sama. Namun meskipun bangunan runtuh, jalan-jalan berubah, dan
manusia tercerai-berai ke berbagai negeri, kenangan tetap hidup dalam hati.
Karena itu, setiap perpisahan
mengajarkan satu pelajaran besar: hargailah orang-orang, tempat-tempat, dan
momen-momen indah selama mereka masih bersama kita, sebab suatu hari nanti yang
tersisa mungkin hanyalah kenangan dan kerinduan.
Referensi:
ولقد أخبرني بعض الوراد من
قرطبة - وقد استخبرته عنها - انه رأى دورنا ببلاط مغيث في الجانب الغربي منها وقد
امحت رسومها، وطمست أعلامها، وخفيت معاهدها، وغيرها البلى وصارت صحارى مجدبة بعد
العمران، وفيافي موحشة بعد الأنس، وخرائب منقطعة بعد الحسن، وشعابًا مفزعة بعد
الأمن، ومأوى للذاب، ومعازف للغيلان، وملاعب للجان، ومكامن للوحوش، بعد رجال
كاليوث، وخرائد كالدمى، تفيض لديهم النعم الفاشي - تبدد شملهم فصاروا في البلاد
أيادي سبا، فكأن تلك المحاريب المنمقة، والمقاصير المزينة، التي كانت تشرق إشراق
الشمس، ويجلو الهموم
حسن منظرها، حين شملها
الخراب، وعمها الهدم، كأفواه السباع فاغرة، تؤذن بفناء الدنيا، وتريك عواقب اهلها،
وتخبرك عما يصير إليه كل من تراه قائمًا فيها، وتزهد في طلبها بعد أن طالما زهدت
في تركها، وتذكرت أيامي بها ولذاتي وشهور صباي لديها، مع كواعب إلى مثلهن صبا
الحليم، ومثلت لنفسي كونهن تحت الثرى وفي الآفاق النائية والنواحي البعيدة، وقد
فرقتهن يد الجلاء، ومزقتهن أكف النوى، وخيل إلى بصري فناء تلك النصبة بعدما علمته
من حسنها وغضارتها والمراتب المحكمة التي نشأت فيها لديها، وخلاء تلك الأفنية بعد
تضايقها باهلها، وأوهمت سمعي صوت الصدى والهام عليها، بعد حركة تلك الجماعات التي
ربيت بينهم فيها، وكان ليلها تبعا لنهارها في انتشار ساكنها والتقاء عمارها، فعاد
نهارها تبعًا لليلها في الهدوء والاستيحاش، فأبكى عيني وأوجع قلبي وقرع صفاة كبدي
وزاد في بلاء لبي، فقلت شعرًا منه: [من الطويل] .
لئن كان أظمانا فقد طالما سقى
... وإن ساءنا فيها فقد طالما سرا والبين يولد الحنين والاهتياج والتذكر، وفي ذلك
أقول: [من البسيط] .
ليت الغراب يعيد اليوم لي
فعسى ... يبين بينهم عني فقد وقفا أقول والليل قد أرخى أجلته ... وقد تألى بألا
ينقضي فوفى والنجم قد حار في أفق السماء فما ... يمضي ولا هو للتغوير منصرفا تخاله
مخطئًا أو خائفًا وجلا ... أو راقبًا موعدًا أو عاشقًا دنفا
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Mana yang Lebih Menyakitkan: Perpisahan atau Pengabaian? JawabanMenyentuh dari Ibnu Hazm
Perpisahan Karena Kematian: Luka Cinta yang Tak Pernah Sembuh MenurutIbnu Hazm
Bab Qanaah dalam Cinta (01): Menerima Sedikit Perhatian ketika Cinta Tak
Berbalas


0 Komentar