Pendahuluan
Banyak orang mengira bahwa kesedihan
terbesar dalam hidup berasal dari kehilangan orang yang dicintai. Namun,
kenyataannya tidak selalu demikian. Sering kali seseorang tampak tenang ketika
kehilangan kerabat dekat, tetapi sangat gelisah ketika kehilangan sebagian
kecil harta atau peluang duniawi yang diharapkannya.
Mengapa hal itu terjadi?
Dalam nasihat yang sangat tajam ini,
Imam Ibnu Hazm menjelaskan bahwa akar dari banyak kegelisahan bukanlah
kehilangan itu sendiri, melainkan ketamakan (ath-thama'), yaitu harapan
dan ambisi untuk mendapatkan sesuatu. Ketika harapan itu muncul, lahirlah
kecemasan, kesedihan, kemarahan, dan berbagai beban jiwa lainnya.
Sumber
Kitab :
الأخلاق
والسير في مداواة النفوس
Penulis : Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi
(384–456 H)
Tema : Ketamakan sebagai Penyebab Kegelisahan dalam Harta dan
Kehidupan
Terjemahan dan Makna
"Kami tidak mengatakan bahwa
ketamakan hanya berpengaruh dalam masalah cinta semata. Akan tetapi kami
mengatakan bahwa ketamakan merupakan sebab bagi setiap kegelisahan, bahkan
dalam urusan harta dan berbagai keadaan hidup.
Kita melihat seseorang meninggal
dunia kerabatnya seperti tetangga, paman dari pihak ibu, sahabat, anak bibi,
paman, keponakan dari pihak ibu, kakek dari pihak ibu, atau cucunya. Karena ia
tidak memiliki harapan terhadap harta mereka, maka hilanglah kegelisahan akibat
tidak memperoleh harta peninggalan mereka, meskipun nilai harta tersebut sangat
besar dan kedudukannya sangat tinggi. Bahkan tidak terlintas dalam pikirannya
untuk memikirkan hal itu.
Akan tetapi apabila meninggal
seorang kerabat jauh atau bekas budak yang memiliki hubungan tertentu
dengannya, lalu timbul harapan untuk mendapatkan warisan hartanya, maka
muncullah kegelisahan, kesedihan, kemarahan, dan berbagai pikiran hanya karena
sedikit bagian harta yang mungkin terlepas dari tangannya. Padahal yang hilang
itu mungkin sangat kecil."
Pengembangan
Bukan Kehilangan yang Menyiksa, Tetapi Harapan yang Tidak
Tercapai
Ibnu Hazm mengungkap fakta yang
sangat halus tentang jiwa manusia. Menurut beliau, yang sering membuat manusia
menderita bukanlah kehilangan itu sendiri, tetapi harapan yang gagal terwujud.
Seseorang mungkin tidak terlalu
memikirkan harta milik kerabat yang meninggal apabila ia tahu bahwa dirinya
tidak akan memperoleh bagian apa pun darinya.
Namun ketika ada kemungkinan
mendapatkan warisan, hadiah, keuntungan, atau jabatan tertentu, maka pikirannya
mulai dipenuhi harapan. Ketika harapan itu tidak tercapai, lahirlah rasa kecewa
dan kesedihan.
Ketamakan Melahirkan Banyak Penyakit Hati
Dari ketamakan lahir berbagai
penyakit hati, di antaranya:
- Gelisah terhadap masa depan.
- Takut kehilangan kesempatan.
- Marah ketika gagal memperoleh keuntungan.
- Dengki terhadap orang yang mendapatkan apa yang
diinginkan.
- Sedih ketika orang lain lebih berhasil.
Semakin besar ketamakan seseorang,
semakin banyak pula pintu kesedihan yang terbuka dalam hidupnya.
Sebaliknya, semakin sedikit
ketamakan, semakin ringan beban yang dipikul oleh hati.
Mengapa Orang Kaya Tidak Selalu Bahagia?
Nasihat ini juga menjelaskan mengapa
kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan.
Banyak orang miskin hidup dengan
tenang karena tidak terlalu banyak harapan yang membebani pikirannya.
Sebaliknya, sebagian orang kaya
justru hidup dalam kecemasan karena terus memikirkan:
- Keuntungan berikutnya.
- Investasi berikutnya.
- Jabatan berikutnya.
- Kekuasaan berikutnya.
Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul
keinginan baru yang lebih besar.
Akibatnya, hati tidak pernah
benar-benar merasa cukup.
Qana'ah: Obat bagi Ketamakan
Islam mengajarkan sifat qana'ah,
yaitu merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan.
Qana'ah bukan berarti malas atau
tidak berusaha. Qana'ah berarti:
- Berusaha dengan sungguh-sungguh.
- Menerima hasil dengan lapang dada.
- Tidak diperbudak oleh ambisi dunia.
Orang yang qana'ah tetap bekerja,
berdagang, dan mencari rezeki. Namun kebahagiaannya tidak bergantung pada
banyak atau sedikitnya hasil yang diperoleh.
Harapan yang Terkendali Membawa Ketenangan
Bukan berarti manusia harus
menghilangkan seluruh harapan. Yang perlu dilakukan adalah mengendalikan
harapan agar tidak berubah menjadi ketamakan.
Harapan yang sehat mendorong
seseorang untuk berusaha.
Namun harapan yang berlebihan akan
berubah menjadi:
- Obsesi.
- Ketergantungan.
- Kecemasan.
- Kekecewaan.
Karena itu para ulama selalu
mengingatkan agar hati lebih bergantung kepada Allah daripada kepada hasil yang
diinginkan.
Pelajaran yang Relevan di Zaman Modern
Nasihat ini sangat relevan pada masa
sekarang.
Banyak orang stres karena:
- Gagal mendapatkan promosi jabatan.
- Kehilangan peluang bisnis.
- Tidak memperoleh warisan yang diharapkan.
- Kalah dalam persaingan dunia.
Padahal sering kali yang menyakitkan
bukan kehilangan itu sendiri, tetapi harapan besar yang telah dibangun
sebelumnya.
Semakin seseorang menggantungkan
kebahagiaannya pada sesuatu yang belum pasti, semakin besar peluang ia
mengalami kegelisahan.
Hikmah
- Ketamakan merupakan salah satu sumber terbesar
kegelisahan manusia.
- Banyak kesedihan muncul karena harapan yang tidak
tercapai.
- Harta bukan penyebab utama penderitaan, tetapi
keterikatan hati terhadapnya.
- Orang yang sedikit ketamakannya biasanya lebih tenang
hidupnya.
- Qana'ah adalah obat yang sangat efektif untuk mengatasi
kegelisahan.
- Harapan yang berlebihan dapat berubah menjadi sumber
penderitaan.
- Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang bergantung
kepada Allah, bukan kepada harta dan peluang dunia.
Penutup
Melalui pengamatan yang tajam
terhadap tabiat manusia, Imam Ibnu Hazm menunjukkan bahwa ketamakan adalah akar
dari banyak kegelisahan yang kita alami. Semakin besar harapan seseorang
terhadap dunia, semakin besar pula peluang munculnya kesedihan ketika harapan
itu tidak terwujud.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya
berusaha menyeimbangkan antara ikhtiar dan qana'ah. Berusaha dengan
sungguh-sungguh adalah kewajiban, tetapi menggantungkan ketenangan hati kepada
hasil duniawi adalah sumber kegelisahan yang tidak ada habisnya.
Semoga Allah membersihkan hati kita
dari ketamakan, menghiasi jiwa kita dengan sifat qana'ah, dan menjadikan kita
termasuk orang-orang yang tenang dalam menerima segala ketentuan-Nya. Aamiin.
Teks Arab :
ولسنا
نقُول إِن الطمع لَهُ تَأْثِير فِي هَذَا الْفَنّ وَحده لَكنا نقُول إِن الطمع
سَبَب إِلَى كل هم حَتَّى فِي الْأَمْوَال وَالْأَحْوَال فإننا نجد الْإِنْسَان
يَمُوت جَاره وخاله وَصديقه وَابْن عمته وَعَمه لأم وَابْن أَخِيه لأم وجده أَبُو
أمه وَابْن بنته فَإذْ لَا مطمع لَهُ فِي مَاله ارْتَفع عَنهُ الْهم لفوته عَن
يَده وَإِن جلّ خطره وَعظم مِقْدَاره فَلَا سَبِيل إِلَى أَن يمر الاهتمام لشَيْء
مِنْهُ بِبَالِهِ حَتَّى إِذا مَاتَ لَهُ عصبَة على بعد أَو مولى على بعد وَحدث
لَهُ الطمع فِي مَاله حدث لَهُ من الْهم والأسف والغيظ والفكرة بفوت الْيَسِير
مِنْهُ عَن يَده أَمر عَظِيم
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Cinta pada Hakikatnya Satu: Bagaimana Tujuan danKeyakinan Membentuk Beragam Jenis Cinta?
Cinta, Harapan, dan Batas Syariat: Mengapa Hati Cenderungkepada yang Mungkin Diraih?
Cinta Kedudukan dan Ambisi Dunia: Ketika KeinginanMenjadi Sumber Kegelisahan


0 Komentar