Kaidah-kaidah Yang Menjadi Sandaran Dan Rujukan Pernyataan Tentang Kecaman Terhadap Dunia Dan Orang Yang Lebih Mementingkan Dunia

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad


Kaidah-kaidah Yang Menjadi Sandaran Dan Rujukan Pernyataan Tentang Kecaman Terhadap Dunia Dan Orang Yang Lebih Mementingkan Dunia

وبَعدُ فمنَ الحَسَن أن نَختمَ هذه النّبْذَةَ بشيء مما ورد في ذمّ الدنيا وذمّ مُؤْثِرِها.
وينبغي أن نُصَدِّرَ ذلك بقاعدةٍ يُعَوَّل عليها ويُرْجَع إليها.
فنقول وبالله التوفيق:

Setelah Itu Ada Baiknya Bila Kami Menyempurnakan Makalah Ini Dengan Mengemukakan Sesuatu Yang Berupa Pernyataan Tentang Kecaman Terhadap Dunia Dan Orang Yang Lebih Mementingkan Dunia.
Dan Sebaiknya Kami Kemukakan Hal Tersebut Dengan Kaidah-kaidah Yang Menjadi Sandaran Dan Rujukannya.
Kami Berkata -Semoga Allah Ta’ala Memberi Taufiq-;

الدنيا على ثلاث طبقات: فدنيا فيها الثواب، وأخرى فيها الحساب، وثالثة فيها العذاب.

Dunia terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu;
1.      Dunia yang didalamnya terdapat pahala.
2.      Dunia yang didalamnya terdapat hisab (perhitungan).
3.      Dunia yang didalamnya terdapat siksa.

فأما التي فيها الثواب: فهي التي تصل بواسطتها إلى الخير وتنجو بواسطتها عن قلع الشر، وهي مطية المؤمن ومزرعة الآخرة، وهي الكفاف عن الحلال.

Adapun dunia yang didalamnya terdapat pahala yaitu; Dunia yang dengan perantaraannya kamu dapat mencapai suatu kebaikan dan dengan perantaraannya pula kamu akan selamat dari melakukan keburukan, dunia semacam ini merupakan kendaraan dan ladang akhirat bagi orang yang beriman, dan inilah yang di katakan kecukupan dari perkara halal.

وأما التي فيها الحساب: فهي التي لا تشتغل بسببها عن أداء مأمور ولا ترتكب في طلبها أمراً محظوراً، وهذه الدنيا فيها الحساب الطويل وأربابها هم الأغنياء الذين يسبقهم الفقراء إلى الجنة بنصف يوم وهو خمس مائة عام.

Adapun dunia yang didalamnya terdapat hisab (perhitungan) yaitu; Dunia yang tidak menyebabkan dirimu sibuk dari menjalankan perkara yang di perintah, dan tidak pula menyebabkan dirimu melakukan perkara yang di larang dalam mencarinya. Inilah dunia yang didalamnya terdapat perhitungan yang panjang, dan pemiliknya adalah orang-orang kaya, yaitu orang-orang yang akan didahului oleh orang-orang fakir ketika menuju surga dengan jarak setengah hari (akhirat) yaitu lima ratus tahun.

وأما التي فيها العذاب: فهي التي تقطع عن أداء المأمورات وتوقع في إرتكاب المحظورات، وهي زاد صاحبها إلى النار ومُدْرِجَته إلى دار البوار،
وإليه الإشارة بما روي: ((إن الله يأمر بالدنيا إلى النار فتقول: أشياعي وأتباعي؟ فيقول سبحانه وتعالى: ألحِقُوا بها أشياعها وأتباعها، فيُلْحَقُون بها)).

Adapun dunia yang didalamnya terdapat siksa yaitu; Dunia yang dapat menghalangi seseorang dari menjalankan perkara yang di perintah dan menjerumuskannya melakukan perkara yang di larang, ia merupakan bekal bagi pemiliknya menuju neraka dan merupakan landasannya menuju neraka Jahannam.
Itulah yang di isyarahkan oleh sebuah riwayat;
“Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan dunia masuk kedalam neraka, lalu ia (dunia) berkata; ‘Wahai Tuhanku, dimanakah para pecintaku dan pengikutku?’
Lantas Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman; “Ikutkan dengannya para pecinta dan pengikutnya”, maka mereka diikutkan dengannya”.

وأعلم أن طلاب الدنيا على أنواع: فمنهم من يطلبها على نية صلة الأقربين ومواساة المقلين، وهذا يُعدُّ من الأسخياء وله ثوابٌ إن وافق عمله نيته.
ولكنه لاحكمة عنده لأن الحكيم لا يطلب أمراً لا يدري ما ذا يكون الحال عند حصوله؛ وليعتبر من كان يطلبها على هذه النية بقصة ثعلبة المُشار إليه في قوله تعالى: {وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ }[التوبة: ٧٥]... الآيات.

Ketahuilah bahwa para pencari dunia terbagi menjadi beberapa bagian, di antara mereka ada yang mencarinya dengan niyat untuk menyambung tali kekerabatan dan membantu orang-orang yang miskin, orang semacam ini tergolong orang yang dermawan dan ia akan mendapatkan pahala jika perbuatannya sesuai dengan niyatnya, akan tetapi ia tidak memiliki kebijaksanaan, karena orang yang bijaksana tidaklah mencari suatu perkara yang tidak di ketahui perihal apa yang akan terjadi setelah ia mendapatkannya, maka hendaknya ia mengambil pelajaran dari orang yang mencari dunia dengan niyat semacam ini dengan mempelajari kisah Tsa’labah yang di sebutkan dalam firman Allah Ta’ala;
 “Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah; ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan kami termasuk orang-orang yang shalih’”.(Qs. At-Taubah: 75).

وكم من طالب نيته نيل الشهوات والتمتع باللذات، وهذا يُعدُّ في جملة البهائم ويدخل في حيز الأنعام. وإلى نوعه الإشارة بقوله تعالى: {أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً }[الفرقان: ٤٤].

Berapa banyak orang mencari dunia yang niyatnya hanya untuk memuaskan syahwatnya, atau hanya untuk bersenang-senang, orang semacam ini tergolong dalam golongan binatang ternak, sebagaimana di sebutkan dalam firman Allah Ta’ala;
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain.hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesal jalannya (dari binatang ternak itu)”.(Qs. Al-Furqaan: 44)

وكم من طالب يطلب الدنيا ليفاخر بها ويكاثر بها ويباهي بها، وهو معدود من الحمقى المغرورين، بل من المثبورين، و{قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ}[البقرة: ٦٠]، {وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ }[القصص: ٦٩].

Dan berapa banyak orang yang mencari dunia dengan tujuan untuk berbangga-banggaan dengannya, menumpuk-numpunya dan memamerkannya, orang semacam ini tergolong sebagai orang bodoh yang tertipu, bahkan termasuk orang yang celaka. Aliah SWT berfirman;
“Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).”  (Qs. Al-Baqarah: 60). (Ialah sebanyak suku Bani Isra,il sebagaimana tersebut dalam surat Al A’raf ayat 60).
“Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan”.(Qs. Al-Qashash: 69).

فانصح يا أخي لنفسك، وإياك أن تغشها فتدَّعي أمراً ليس من نيتك، فتكون قد جمعت بين الإفلاس، والدعوى؛ فتخسر الدنيا والآخرة:{ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ}[الحج: ١١].
Maka nasihatilah dirimu wahai saudaraku, janganlah kamu menipunya, hingga kamu mengakui suatu perkara yang bukan merupakan niyatmu, karena dengan demikian kamu berarti telah mengumpulkan antara kerugian dan kepalsuan, hingga kamu merugi di dunia dan akhirat. “Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”.(Qs. Al Hajj: 11).


Peringatan Mengenai Cinta Dunia (Risalah al-Mudzakarah)

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad


فَصْل : ( في التحذير من حبِّ الدنيا )
Fasal Tentang; Peringatan Mengenai Cinta Dunia

قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((حب الدنيا رأس كل خطيئة)).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan”.

فإذا كان حبُّها رأسَ كل خطيئة، وأصل كل بلية، وأساس كل رزية، ومعدن كل فتنة، ومنبع كل محنة، وهو أمر قد عمَّ في هذا الزمان ضرره وطار شرره وعظم خطره وأطبق عليه الخاص والعام وتظاهر الناس به بلا احتشام كأنه لا عار فيه ولا ملام.

Manakala cinta dunia menjadi pokok dari segala kesalahan, pangkal dari segala bencana, dasar dari segala kehancuran dan sumber dari segala huru-hara dan malapetaka, artinya ia merupakan perkara yang kerusakannya benar-benar telah mewabah di zaman ini, keburukannya telah menyebar kemana-mana, bahayanya sangat luas meliputi orang khusus dan orang awam, dan orang-orang pun memamerkannya tanpa rasa malu seolah-olah mereka tidak memiliki aib atau pun cela dalam dirinya.

وقد تمكن من قلوبهم كل التمكن، فأثمر لهم الحرص البالغ على عمارة الدنيا وجمع الحطام، فَغَدَوا وراحوا بشبكاتهم لاصطياد الشبهات والحرام. كأن الله قد فرض عليهم عمارة الدنيا كما فرض الصلاة والصيام.

Sungguh dunia benar-benar telah menguasai hati mereka seutuhnya dan membuahkan mereka memiliki shifat tama’ yang berlebih-lebihan dalam mema’murkan dan mengumpulkan harta duniawai sehingga mereka datang silih berganti dengan jebakan mereka untuk memburu barang syubhat dan barang haram seakan-akan Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada mereka untuk mema’murkan harta duniawi sebagaimana Allah Ta’ala mewajibkan shalat dan puasa.

ولذلك دَرَسَتْ معالمُ الدِّين وطُمِسَتْ أنوارُ اليقين وخَرِسَت ألسنة المذكِّرين، وعَفَتْ سُبُلُ الهدى واقتُحِمَت سُبلُ الرَدَى. وهذه والله هي الفتنة العمياء الصماء المدلهِمَّة السوداء التي لا يُجاب فيها من دعا ولا يُسمع فيها من نادى.

Oleh karena itu, hilanglah rambu-rambu agama, sirnalah cahaya keyakinan, membisulah lisan-lisan pemberi peringatan, tertutuplah jalan-jalan kebenaran dan terbukalah jalan-jalan kebinasaan. Demi Allah, ini merupakan fitnah yang buta, tuli, gelap gulita, yang menyebabkan do’a-do’a tidak terkabul, dan tidak dihiraukannya seruan orang yang berseru.

حقٌّ ما أخبر به سيد الأنبياء - صلى الله عليه وسلم - إذ يقول: ((لكل أمة فتنة وفتنة أمتي المال، ولكل أمة عجل وعجل أمتي الدينار والدرهم)).
معناه - والله أعلم -: أن لكل أمة شيئاً يشتغلون به عن عبادة الله تعالى كل الاشتغال كما اشتغلت بنو إسرائيل بعبادة العجل عن عبادة الله تعالى.

Sungguh benar apa yang di sampaikan baginda para Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda;
“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta, dan setiap umat memiliki anak sapi dan anak sapi umatku adalah dinar dan dirham”.

Artinya {Allah Ta’ala lebih mengetahui akan ma’nanya}; Sesungguhnya setiap umat memiliki sesuatu yang dapat menyibukkan mereka dari ber’ibadah kepada Allah Ta’ala, sebagaimana kesibukan yang menyibukkan kaum Bani Isra,il dengan menyembah patung anak sapi (yang terbuat dari emas) daripada menyembah Allah Ta’ala.

Shalat Penguat Hafalan

SHALAT PENGUAT HAFALAN

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّمْشِقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ أَنَّهُ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي تَفَلَّتَ هَذَا الْقُرْآنُ مِنْ صَدْرِي فَمَا أَجِدُنِي أَقْدِرُ عَلَيْهِ ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا الْحَسَنِ أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ وَيَنْفَعُ بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَ فِي صَدْرِكَ ؟ قَالَ أَجَلْ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَعَلِّمْنِي

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrahman Ad Damsyqi telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Ibn Juraij dari ‘Atho’ bin Abu Rabbah dan Ikrimah mantan budak Ibn Abbas, dari Ibn Abbas bahwa ia berkata; Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba Ali bin Abu Thalib datang dan berkata; Demi Allah, aku rela mengorbankan ayah dan ibuku, Al Qur’an telah hilang dari dadaku dan aku tidak mendapati diriku mampu untuk membacanya.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; “Wahai Abu Al Hasan, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberimu manfa’at, dan memberikan manfa’at kepada orang yang engkau ajari serta memantapkan apa yang telah engkau pelajari dalam hatimu?”.
Ia berkata; Ya wahai Rasulallah, ajarkan kepadaku!

قَالَ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَقُوْمَ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُوْدَةٌ وَالدُّعَاءُ فِيْهَا مُسْتَجَابٌ وَقَدْ قَالَ أَخِي يَعْقُوْبَ لِبَنِيْهِ { سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي } يَقُوْلُ حَتَّى تَأْتِي لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي وَسَطِهَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي أَوَّلِهَا فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَةِ يٰسٓ وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَحٰمٓ الدُّخَّانِ وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَ الٓمٓ تَنْزِيْلُ السَّجْدَةِ وَفِي الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَتَبَارَكَ الْمُفَصَّلِ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ التَّشَهُّدِ فَاحْمَدِ اللهَ وَأَحْسِنْ الثَّنَاءَ عَلَى اللهِ وَصَلِّ عَلَيَّ وَأَحْسِنْ وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّيْنَ وَاسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِإِخْوَانِكَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْكَ بِالْإِيْمَانِ ثُمَّ قُلْ فِي آخِرِ ذَلِكَ :


Beliau bersabda; “Apabila malam Jum’at tiba, jika engkau mampu bangunlah pada sepertiga malam terakhir, karena sesungguhnya waktu itu merupakan malam yang disaksikan (oleh para malaikat), do’a pada malam tersebut dikabulkan, dan saudaraku Ya’qub telah berkata kepada anak-anaknya; “Aku akan memintakan ampunan untuk kalian kepada Tuhanku”, dan ini terus beliau ucapkan hingga datang malam Jum’at. Jika engkau tidak mampu, maka bangunlah pada pertengahan malam, dan jika engkau tidak mampu, maka bangunlah pada awal malam, kemudian shalatlah empat raka’at dan pada raka’at pertama engkau membaca surat Al Fatihah dan surat Yaasiin, pada raka’at kedua engkau membaca surat Al Fatihah dan surat Ad Dukhkhan, pada raka’at ketiga engkau membaca surat Al Fatihah dan alif laam miim As Sajdah, dan pada raka’at keempat engkau membaca surat Tabarak (Al Mulk). Kemudian apabila engkau telah selesai dari tasyahhud, maka pujilah Allah dengan sebaik-baiknya, ucapkan shalawat kepadaku serta seluruh para Nabi dengan sebaik-baiknya, mintakan ampunan untuk orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, serta saudara-saudaramu yang telah mendahuluimu beriman. Kemudian ucapkan di akhir semua itu;

اَللّٰهُمَّ ارْحَمِنْي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَالَا يَعْنِيْنِيْ وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي اَللّٰهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَاْلَأْرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأُلَكَ يَا اَللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُوْرِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيْكَ عَنِّي اَللّٰهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُوْرِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي لِأَنَّهُ لَا يُعِيْنُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيْهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Ya Allah, rahmatilah aku dengan meninggalkan kema’siatan selamanya selama Engkau masih menghidupkanku, dan rahmatilah aku untuk tidak membebani diri dengan sesuatu yang tidak bermanfa’at bagiku, berilah aku rizki berupa keni’matan mencermati perkara yang mendatangkan keridhaan-Mu kepadaku. Ya Allah Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan serta keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk, aku memohon kepada-Mu ya Allah wahai Dzat Yang Maha Pengasih demi kebesaran-Mu dan cahaya Wajah-Mu agar Engkau memelihara hatiku untuk menjaga kitab-Mu sebagaimana Engkau telah mengajarkannya kepadaku, dan berilah aku rizki untuk senantiasa membacanya hingga membuat-Mu ridha kepadaku. Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang memiliki kebesaran, kemuliaan dan keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk, aku memohon kepada-Mu ya Allah wahai Dzat Yang Maha Pengasih demi kebesaran-Mu dan cahaya Wajah-Mu agar Engkau menyinari hatiku dengan kitab-Mu, melepaskan kekakuan lidahku dengannya, membuka hatiku dengannya, melapangkan dadaku dengannya dan membersihnkan badanku dengannya, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat membantuku untuk mendapatkan kebenaran selain Engkau, dan tidak pula ada yang dapat memberi kebenaran selain Engkau. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”.

يَا أَبَا الْحَسَنِ فَافْعَلْ ذَلِكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا تُجَبْ بِإِذْنِ اللهِ وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَخْطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ .
قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ فَوَاللهِ مَا لَبِثَ عَلِيٌّ إِلَّا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي كُنْتُ فِيْمَا خَلَا لَا آخُذُ إِلَّا أَرْبَعَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ وَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِي تَفَلَّتْنَ وَأَنَا أَتَعَلَّمُ الْيَوْمَ أَرْبَعِيْنَ آيَةً أَوْ نَحْوَهَا وَإِذَا قَرَأْتُهَا عَلَى نَفْسِي فَكَأَنَّمَا كِتَابُ اللهِ بَيْنَ عَيْنِي وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الْحَدِيْثَ فَإِذَا رَدَّدْتُهُ تَفَلَّتَ وَأَنَا الْيَوْمَ أَسْمَعُ الْأَحَادِيْثَ فَإِذَا تَحَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا حَرْفًا فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ مُؤْمِنٌ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ يَا أَبَا الْحَسَنِ


Wahai Abu Al Hasan, kerjakanlah hal tersebut tiga Jum’at, lima atau tujuh Jum’at niscaya akan terkabul dengan idzin Allah. Demi Dzat Yang mengutusku dengan kebenaran, sekali-kali Dia tidak akan pernah luput member seorang mu’min”.

Abdullah bin Abbas berkata; Demi Allah ‘Aly tidaklah berdiam kecuali hanya lima atau tujuh Jum’at hingga ia datang kepada Rsulullah dalam majlis tersebut dan berkata; Wahai rasulallah, dahulu aku tidak mampu mengambil kecuali empat ayat atau sekitar itu, dan apabila aku membacanya dalam hatiku, maka ayat tersebut hilang, sedangkan sekarang setiap hari aku mampu mempelajari empat puluh ayat atau sekitar itu, dan apabila aku membacanya dalam hati, maka seakan-akan kitab Allah ada di depan mataku. Sungguh dahulu ketika aku mendengar hadits dan apabila aku mengulanginya, maka hadits terebut hilang, sedangkan sekarang ketika aku mendengar beberapa hadits dan apabila aku membacanya, maka aku tidak mengurangi satu huruf pun darinya.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya; “Pada saat itu pula engkau adalah seorang mu’min wahai Abu Al Hasan demi Tuhan Pemilik Ka’bah wahai Abu Al Hasan”.

قَالَ أَبُو عِيْسَى هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ غَرِيْبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيْثِ الْوَلِيْدِ بْنِ مُسْلِمٍ

Abu Isa berkata; Hadits ini adalah hadits Hasan Gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Al Walid bin Muslim.
(Sunan Tirmidzi)

Kitab Mujarab

Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab?

باب هل ورد في القرآن كلمات خارجة عن لغات العرب أولا Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-Kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab? لا خلاف بي...