Memanfaatkan Harta Tak Bertuan bagi Orang Fakir: Antara Kebutuhan, Wara’, dan Tawakal

مسألة:

إذا حصل في يده مال لا مالك له وجوزنا له أن يأخذ قدر حاجته لفقره ففي قدر حاجته نظر ذكرناه في كتاب أسرار الزكاة فقد قال قوم يأخذ كفاية سنة لنفسه وعياله وإن قدر على شراء ضيعة أو تجارة يكتسب بها للعائلة فعل وهذا ما اختاره المحاسبي ولكنه قال الأولى أن يتصدق بالكل أن وجد من نفسه قوة التوكل وينتظر لطف الله تعالى في الحلال فإن لم يقدر فله أن يشتري ضيعة أو يتخذ رأس مال يتعيش بالمعروف منه وكل يوم وجد فيه حلالا أمسك ذلك اليوم عنه فإذا فنى عاد إليه فإذا وجد حلالا معينا تصدق بمثل ما أنفقه من قبل ويكون ذلك قرضا عنده ثم انه يأكل الخبز ويترك اللحم أن قوي عليه و إلا أكل اللحم من غير تنعم وتوسع وما ذكره لا مزيد عليه ولكن جعل ما أنفقه قرضا عنده فيه نظر ولا شك في أن الورع أن يجعله قرضا فإذا وجد حلالا تصدق بمثله ولكن مهما لم يجب ذلك على الفقير الذي يتصدق به عليه فلا يبعد أن لا يجب عليه أيضا إذا أخذه لفقره لا سيما إذا وقع في يده من ميراث ولم يكن متعديا بغصبه وكسبه حتى يغلظ الأمر عليه فيه

Masalah:

Apabila seseorang mendapatkan harta yang tidak diketahui pemiliknya, lalu kita membolehkan ia mengambil sekadar kebutuhannya karena kefakirannya, maka ukuran “kebutuhan” itu masih perlu diperinci. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Kitab Asrār az-Zakāh.

Sebagian ulama berkata:
Ia boleh mengambil nafkah yang mencukupi dirinya dan keluarganya selama satu tahun. Bahkan jika ia mampu membeli kebun atau modal perdagangan yang dapat menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya, maka itu boleh dilakukan. Pendapat ini dipilih oleh Al-Muhasibi.

Namun Al-Muhasibi berkata:
Yang lebih utama ialah menyedekahkan seluruh harta itu apabila ia merasa memiliki kekuatan tawakal, lalu menunggu karunia Allah dari jalan yang halal.

Jika ia tidak mampu melakukan itu, maka ia boleh membeli kebun atau menjadikannya modal usaha yang dipakai untuk mencari penghidupan secara baik.

Dan setiap hari ketika ia mendapatkan rezeki halal, maka pada hari itu ia tidak mengambil dari harta tersebut. Jika harta halal itu habis, maka ia boleh kembali mengambil dari harta tadi.

Apabila nanti ia mendapatkan harta halal tertentu, maka hendaknya ia menyedekahkan sejumlah yang dahulu pernah ia gunakan dari harta tersebut. Ia menjadikan penggunaan sebelumnya seperti hutang pada dirinya sendiri.

Kemudian ia makan roti dan meninggalkan lauk daging apabila ia mampu bersabar. Namun bila tidak kuat, maka ia boleh makan daging tanpa berlebih-lebihan dan tanpa bermewah-mewahan.

Apa yang disebutkan Al-Muhasibi ini hampir tidak ada tambahan yang lebih baik darinya. Akan tetapi, menjadikan apa yang telah dimakan sebagai “hutang” pada dirinya masih perlu dipertimbangkan.

Tidak diragukan bahwa sikap wara’ adalah menganggapnya sebagai hutang, sehingga ketika mendapatkan harta halal ia bersedekah sebesar yang pernah dipakainya dahulu.

Namun selama hal itu tidak diwajibkan atas fakir miskin yang menerima sedekah dari harta tersebut, maka tidak jauh kemungkinan bahwa hal itu juga tidak wajib atas orang fakir yang mengambilnya karena kebutuhan dirinya sendiri. Terlebih lagi jika harta itu sampai kepadanya melalui warisan dan ia tidak ikut melakukan perampasan atau usaha haram tersebut, sehingga perkara itu tidak terlalu diberatkan atas dirinya.

Penjelasan

Pembahasan ini berbicara tentang:

  • harta syubhat atau tidak diketahui pemiliknya,
  • yang boleh dimanfaatkan oleh orang miskin karena kebutuhan,
  • tetapi tetap dianjurkan menjaga wara’ dan kehati-hatian.

1. Orang miskin boleh mengambil sekadar kebutuhan

Apabila ada harta:

  • yang pemiliknya tidak diketahui,
  • atau tidak mungkin dikembalikan,
  • dan orang fakir sangat membutuhkan,

maka sebagian ulama membolehkan ia mengambil:

  • makanan,
  • biaya hidup,
  • bahkan modal usaha.

Karena tujuan syariat adalah menjaga kehidupan dan menghilangkan kesulitan.

2. Ukuran kebutuhan

Menurut Al-Muhasibi:

  • boleh mengambil nafkah satu tahun,
  • bahkan boleh membeli kebun atau modal dagang,
  • agar dapat hidup mandiri dan tidak terus meminta-minta.

Ini menunjukkan Islam tidak hanya memikirkan kebutuhan sesaat, tetapi juga keberlangsungan hidup.

3. Tingkatan wara’ yang lebih tinggi

Walaupun dibolehkan mengambil:

  • yang lebih utama ialah meninggalkan harta itu bila mampu,
  • lalu bertawakal mencari rezeki halal murni.

Namun ini untuk orang yang benar-benar kuat imannya dan sanggup bersabar.

4. Mengganti ketika sudah mampu

Sikap wara’ yang sangat baik:

  • apabila suatu hari mendapat rezeki halal,
  • ia mengganti jumlah yang dulu pernah dipakai,
  • lalu menyedekahkannya.

Walaupun penulis menjelaskan bahwa hal itu belum tentu wajib, tetapi itu termasuk kehati-hatian dan kebersihan hati.

5. Hidup sederhana

Al-Muhasibi juga mengajarkan:

  • cukup makan sederhana,
  • tidak bermewah-mewah,
  • tidak menjadikan keadaan darurat sebagai alasan untuk hidup berlebihan.

Karena rukhsah (keringanan) dipakai sekadar kebutuhan, bukan untuk kenikmatan.

Contoh

Contoh 1

Seorang fakir menerima harta warisan dari ayahnya, tetapi sebagian harta itu dahulu bercampur dengan harta syubhat yang pemiliknya tidak diketahui.

Ia:

  • tidak punya pekerjaan,
  • punya istri dan anak.

Maka ia boleh:

  • memakai sebagian harta itu untuk kebutuhan makan,
  • biaya rumah,
  • bahkan modal usaha kecil.

Tetapi:

  • tidak boleh hidup bermewah-mewahan,
  • dan jika nanti kaya, dianjurkan mengganti jumlah yang pernah dipakai dengan sedekah dari harta halal.

Contoh 2

Seorang miskin menemukan dana yang tidak diketahui pemiliknya dan mustahil dilacak.

Ia boleh:

  • memakai sekadar kebutuhan pokok,
  • membeli alat kerja seperti gerobak dagang,
  • agar bisa mandiri.

Namun tidak layak:

  • membeli barang mewah,
  • bersenang-senang,
  • atau hidup berlebihan dari harta tersebut.

Contoh 3

Ada orang yang sangat wara’ dan memilih tidak memakai sedikit pun harta syubhat itu.

Ia:

  • tetap bekerja mencari rezeki halal,
  • bersabar dalam kesulitan,
  • dan menyerahkan seluruh harta tersebut untuk sedekah.

Ini termasuk derajat tawakal yang tinggi, tetapi tidak diwajibkan bagi semua orang.

Kesimpulan

  1. Orang fakir boleh mengambil harta yang tidak diketahui pemiliknya sekadar kebutuhannya.
  2. Kebutuhan itu bisa berupa nafkah hidup bahkan modal usaha yang membantu kemandirian.
  3. Yang lebih utama bagi orang yang mampu adalah meninggalkan harta syubhat dan mencari yang halal murni.
  4. Jika suatu saat mendapatkan rezeki halal, sikap wara’ yang baik ialah mengganti jumlah yang dahulu dipakai dengan sedekah.
  5. Dalam keadaan darurat tetap dianjurkan hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan.
  6. Jika harta itu diperoleh lewat warisan dan ia tidak ikut dalam kezaliman asalnya, maka dosanya tidak dibebankan kepadanya, meskipun tetap dianjurkan berhati-hati dalam memanfaatkannya.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Harta dari Penguasa Zalim:Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

Bagaimana Hukum Warisan Harta Syubhat dan Haram: Cara Membersihkan serta Menyalurkannya Menurut Syariat?

Perbedaan Tingkatan Pemanfaatan Harta Syubhat: Antara Kebutuhan Manusia dan Selainnya

مسألة:

إذا حصل في يده مال لا مالك له وجوزنا له أن يأخذ قدر حاجته لفقره ففي قدر حاجته نظر ذكرناه في كتاب أسرار الزكاة فقد قال قوم يأخذ كفاية سنة لنفسه وعياله وإن قدر على شراء ضيعة أو تجارة يكتسب بها للعائلة فعل وهذا ما اختاره المحاسبي ولكنه قال الأولى أن يتصدق بالكل أن وجد من نفسه قوة التوكل وينتظر لطف الله تعالى في الحلال فإن لم يقدر فله أن يشتري ضيعة أو يتخذ رأس مال يتعيش بالمعروف منه وكل يوم وجد فيه حلالا أمسك ذلك اليوم عنه فإذا فنى عاد إليه فإذا وجد حلالا معينا تصدق بمثل ما أنفقه من قبل ويكون ذلك قرضا عنده ثم انه يأكل الخبز ويترك اللحم أن قوي عليه و إلا أكل اللحم من غير تنعم وتوسع وما ذكره لا مزيد عليه ولكن جعل ما أنفقه قرضا عنده فيه نظر ولا شك في أن الورع أن يجعله قرضا فإذا وجد حلالا تصدق بمثله ولكن مهما لم يجب ذلك على الفقير الذي يتصدق به عليه فلا يبعد أن لا يجب عليه أيضا إذا أخذه لفقره لا سيما إذا وقع في يده من ميراث ولم يكن متعديا بغصبه وكسبه حتى يغلظ الأمر عليه فيه

Masalah:

Apabila seseorang mendapatkan harta yang tidak diketahui pemiliknya, lalu kita membolehkan ia mengambil sekadar kebutuhannya karena kefakirannya, maka ukuran “kebutuhan” itu masih perlu diperinci. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Kitab Asrār az-Zakāh.

Sebagian ulama berkata:
Ia boleh mengambil nafkah yang mencukupi dirinya dan keluarganya selama satu tahun. Bahkan jika ia mampu membeli kebun atau modal perdagangan yang dapat menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya, maka itu boleh dilakukan. Pendapat ini dipilih oleh Al-Muhasibi.

Namun Al-Muhasibi berkata:
Yang lebih utama ialah menyedekahkan seluruh harta itu apabila ia merasa memiliki kekuatan tawakal, lalu menunggu karunia Allah dari jalan yang halal.

Jika ia tidak mampu melakukan itu, maka ia boleh membeli kebun atau menjadikannya modal usaha yang dipakai untuk mencari penghidupan secara baik.

Dan setiap hari ketika ia mendapatkan rezeki halal, maka pada hari itu ia tidak mengambil dari harta tersebut. Jika harta halal itu habis, maka ia boleh kembali mengambil dari harta tadi.

Apabila nanti ia mendapatkan harta halal tertentu, maka hendaknya ia menyedekahkan sejumlah yang dahulu pernah ia gunakan dari harta tersebut. Ia menjadikan penggunaan sebelumnya seperti hutang pada dirinya sendiri.

Kemudian ia makan roti dan meninggalkan lauk daging apabila ia mampu bersabar. Namun bila tidak kuat, maka ia boleh makan daging tanpa berlebih-lebihan dan tanpa bermewah-mewahan.

Apa yang disebutkan Al-Muhasibi ini hampir tidak ada tambahan yang lebih baik darinya. Akan tetapi, menjadikan apa yang telah dimakan sebagai “hutang” pada dirinya masih perlu dipertimbangkan.

Tidak diragukan bahwa sikap wara’ adalah menganggapnya sebagai hutang, sehingga ketika mendapatkan harta halal ia bersedekah sebesar yang pernah dipakainya dahulu.

Namun selama hal itu tidak diwajibkan atas fakir miskin yang menerima sedekah dari harta tersebut, maka tidak jauh kemungkinan bahwa hal itu juga tidak wajib atas orang fakir yang mengambilnya karena kebutuhan dirinya sendiri. Terlebih lagi jika harta itu sampai kepadanya melalui warisan dan ia tidak ikut melakukan perampasan atau usaha haram tersebut, sehingga perkara itu tidak terlalu diberatkan atas dirinya.

Penjelasan

Pembahasan ini berbicara tentang:

  • harta syubhat atau tidak diketahui pemiliknya,
  • yang boleh dimanfaatkan oleh orang miskin karena kebutuhan,
  • tetapi tetap dianjurkan menjaga wara’ dan kehati-hatian.

1. Orang miskin boleh mengambil sekadar kebutuhan

Apabila ada harta:

  • yang pemiliknya tidak diketahui,
  • atau tidak mungkin dikembalikan,
  • dan orang fakir sangat membutuhkan,

maka sebagian ulama membolehkan ia mengambil:

  • makanan,
  • biaya hidup,
  • bahkan modal usaha.

Karena tujuan syariat adalah menjaga kehidupan dan menghilangkan kesulitan.

2. Ukuran kebutuhan

Menurut Al-Muhasibi:

  • boleh mengambil nafkah satu tahun,
  • bahkan boleh membeli kebun atau modal dagang,
  • agar dapat hidup mandiri dan tidak terus meminta-minta.

Ini menunjukkan Islam tidak hanya memikirkan kebutuhan sesaat, tetapi juga keberlangsungan hidup.

3. Tingkatan wara’ yang lebih tinggi

Walaupun dibolehkan mengambil:

  • yang lebih utama ialah meninggalkan harta itu bila mampu,
  • lalu bertawakal mencari rezeki halal murni.

Namun ini untuk orang yang benar-benar kuat imannya dan sanggup bersabar.

4. Mengganti ketika sudah mampu

Sikap wara’ yang sangat baik:

  • apabila suatu hari mendapat rezeki halal,
  • ia mengganti jumlah yang dulu pernah dipakai,
  • lalu menyedekahkannya.

Walaupun penulis menjelaskan bahwa hal itu belum tentu wajib, tetapi itu termasuk kehati-hatian dan kebersihan hati.

5. Hidup sederhana

Al-Muhasibi juga mengajarkan:

  • cukup makan sederhana,
  • tidak bermewah-mewah,
  • tidak menjadikan keadaan darurat sebagai alasan untuk hidup berlebihan.

Karena rukhsah (keringanan) dipakai sekadar kebutuhan, bukan untuk kenikmatan.

Contoh

Contoh 1

Seorang fakir menerima harta warisan dari ayahnya, tetapi sebagian harta itu dahulu bercampur dengan harta syubhat yang pemiliknya tidak diketahui.

Ia:

  • tidak punya pekerjaan,
  • punya istri dan anak.

Maka ia boleh:

  • memakai sebagian harta itu untuk kebutuhan makan,
  • biaya rumah,
  • bahkan modal usaha kecil.

Tetapi:

  • tidak boleh hidup bermewah-mewahan,
  • dan jika nanti kaya, dianjurkan mengganti jumlah yang pernah dipakai dengan sedekah dari harta halal.

Contoh 2

Seorang miskin menemukan dana yang tidak diketahui pemiliknya dan mustahil dilacak.

Ia boleh:

  • memakai sekadar kebutuhan pokok,
  • membeli alat kerja seperti gerobak dagang,
  • agar bisa mandiri.

Namun tidak layak:

  • membeli barang mewah,
  • bersenang-senang,
  • atau hidup berlebihan dari harta tersebut.

Contoh 3

Ada orang yang sangat wara’ dan memilih tidak memakai sedikit pun harta syubhat itu.

Ia:

  • tetap bekerja mencari rezeki halal,
  • bersabar dalam kesulitan,
  • dan menyerahkan seluruh harta tersebut untuk sedekah.

Ini termasuk derajat tawakal yang tinggi, tetapi tidak diwajibkan bagi semua orang.

Kesimpulan

  1. Orang fakir boleh mengambil harta yang tidak diketahui pemiliknya sekadar kebutuhannya.
  2. Kebutuhan itu bisa berupa nafkah hidup bahkan modal usaha yang membantu kemandirian.
  3. Yang lebih utama bagi orang yang mampu adalah meninggalkan harta syubhat dan mencari yang halal murni.
  4. Jika suatu saat mendapatkan rezeki halal, sikap wara’ yang baik ialah mengganti jumlah yang dahulu dipakai dengan sedekah.
  5. Dalam keadaan darurat tetap dianjurkan hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan.
  6. Jika harta itu diperoleh lewat warisan dan ia tidak ikut dalam kezaliman asalnya, maka dosanya tidak dibebankan kepadanya, meskipun tetap dianjurkan berhati-hati dalam memanfaatkannya.

Wallahu A’lam...

Sumber:

Ihya’Ulumiddin al-Ghazaly

Maktabah Syamilah

Baca juga:

Harta dari Penguasa Zalim:Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

Bagaimana Hukum Warisan Harta Syubhat dan Haram: Cara Membersihkan serta Menyalurkannya Menurut Syariat?

Perbedaan Tingkatan Pemanfaatan Harta Syubhat: Antara Kebutuhan Manusia dan Selainnya

Perbedaan Pendapat Tentang Bacaan Tasbih Dalam Rukuk Dan Sujud

الخامسة عشرة- وأما التسبيح في الركوع والسجود فغير واجب عند الجمهور للحديث المذكور ، وأوجبه إسحاق بن راهويه ، وأن من تركه أعاد الصلاة ، لقوله عليه السلام : "أما الركوع فعظموا فيه الرب وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقَمِنٌ أن يستجاب لكم" .

Pembahasan kelima belas:

Adapun membaca tasbih ketika rukuk dan sujud, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama hukumnya tidak wajib, berdasarkan hadis yang telah disebutkan sebelumnya.

Namun Ishaq ibn Rahawayh mewajibkannya, dan berpendapat bahwa siapa yang meninggalkannya harus mengulangi shalat, berdasarkan sabda Nabi :

Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena saat itu sangat layak (besar kemungkinan) doa kalian dikabulkan.

Perbedaan Pendapat Tentang Duduk Tasyahud Awal

السادسة عشرة- وأما الجلوس والتشهد فاختلف العلماء في ذلك ، فقال مالك وأصحابه : الجلوس الأول والتشهد له سنتان. وأوجب جماعة من العلماء الجلوس الأول وقالوا : هو مخصوص من بين سائر الفروض بأن ينوب عنه السجود كالعرايا من المزابنة ، والقراض من الإجارات ، وكالوقوف بعد الإحرام لمن وجد الإمام راكعا.

Pembahasan keenam belas:

Adapun duduk (tasyahud) dan membaca tasyahud, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Malik ibn Anas dan para pengikutnya berkata:
Duduk pertama (yakni duduk tasyahud awal) dan bacaan tasyahud pada duduk itu hukumnya sunnah.

Sedangkan sekelompok ulama mewajibkan duduk pertama, dan mereka berkata:

Duduk pertama itu memiliki kekhususan dibanding kewajiban-kewajiban lainnya, yaitu jika tertinggal dapat diganti dengan sujud sahwi, sebagaimana ada beberapa pengecualian dalam hukum-hukum syariat; seperti:

  • ‘Arāyā dalam jual beli muzābanah,
  • Qirāḍ (mudharabah) dalam akad ijarah tertentu,
  • dan berdiri sesaat setelah takbiratul ihram bagi orang yang mendapati imam sedang rukuk (yakni ada bentuk keringanan khusus dalam hukum ini).

واحتجوا بأنه لو كان سنة ما كان العامد لتركه تبطل صلاته كما لا تبطل بترك سنن الصلاة.

احتج من لم يوجبه بأن قال : لو كان من فرائض الصلاة لرجع الساهي عنه إليه حتى يأتي به ، كما لو ترك سجدة أو ركعة ، ويراعى فيه ما يراعى في الركوع والسجود من الولاء والرتبة ، ثم يسجد لسهوه كما يصنع من ترك ركعة أو سجدة وأتى بهما.

Mereka (ulama yang mewajibkan duduk tasyahud awal) berdalil:

Seandainya duduk tasyahud awal itu hanya sunnah, maka orang yang sengaja meninggalkannya tidaklah batal shalatnya, sebagaimana shalat tidak batal karena meninggalkan sunnah-sunnah shalat lainnya.

Sedangkan orang-orang yang tidak mewajibkannya berdalil dengan mengatakan:

Seandainya duduk tasyahud awal itu termasuk fardhu/rukun shalat, niscaya orang yang lupa meninggalkannya harus kembali kepadanya untuk mengerjakannya, sebagaimana orang yang meninggalkan satu sujud atau satu rakaat harus kembali melakukannya.

Dan dalam mengerjakannya kembali itu harus diperhatikan urutan (tertib), kesinambungan gerakan (berurutan tanpa jeda panjang), sebagaimana yang diperhatikan dalam rukuk dan sujud. Setelah itu ia melakukan sujud sahwi, sebagaimana orang yang meninggalkan satu rakaat atau satu sujud lalu mengerjakannya kembali.

وفي حديث عبد الله بن بُحينة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام من ركعتين ونسي أن يتشهد فسبح الناس خلفه كيما يجلس فثبت قائما فقاموا ، فلما فرغ من صلاته سجد سجدتي السهو قبل التسليم ، فلو كان الجلوس فرضا لم يسقطه النسيان والسهو ، لأن الفرائض في الصلاة يستوي في تركها السهو والعمد إلا في المؤتم.

Dalam hadis Abdullah ibn Buhaynah disebutkan:

Sesungguhnya Rasulullah berdiri setelah dua rakaat (menuju rakaat ketiga), dan beliau lupa tidak duduk untuk tasyahud. Maka orang-orang di belakang beliau mengucapkan tasbih (mengingatkan) agar beliau duduk, tetapi beliau tetap tegak berdiri, sehingga mereka pun ikut berdiri. Setelah beliau selesai shalat, beliau melakukan dua kali sujud sahwi sebelum salam.

Maka, seandainya duduk tasyahud awal itu fardhu/rukun, niscaya tidak akan gugur hanya karena lupa dan sahwi (kelupaan), sebab rukun-rukun dalam shalat, jika ditinggalkan—baik sengaja maupun karena lupa—hukumnya sama (tetap harus diganti/dikerjakan), kecuali dalam keadaan makmum (yang mengikuti imam).

Wallahu A'lam...

Baca juga:

Rahasia Surat al-Baqarah Ayat 3:Shalat Menjadi Sebab Datangnya Rezeki, Sarana Kesembuhan, Dan Pendapat Ulama’Tentang Tata Cara Shalat

Hakikat Makna Shalat Dalam Suratal-Baqarah Ayat 3, Baik Dari Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat

Perbedaan Pendapat Tentang Duduk Tasyahud Akhir Bacaan-bacaannya

الخامسة عشرة- وأما التسبيح في الركوع والسجود فغير واجب عند الجمهور للحديث المذكور ، وأوجبه إسحاق بن راهويه ، وأن من تركه أعاد الصلاة ، لقوله عليه السلام : "أما الركوع فعظموا فيه الرب وأما السجود فاجتهدوا في الدعاء فقَمِنٌ أن يستجاب لكم" .

Pembahasan kelima belas:

Adapun membaca tasbih ketika rukuk dan sujud, maka menurut jumhur (mayoritas) ulama hukumnya tidak wajib, berdasarkan hadis yang telah disebutkan sebelumnya.

Namun Ishaq ibn Rahawayh mewajibkannya, dan berpendapat bahwa siapa yang meninggalkannya harus mengulangi shalat, berdasarkan sabda Nabi :

Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena saat itu sangat layak (besar kemungkinan) doa kalian dikabulkan.

Perbedaan Pendapat Tentang Duduk Tasyahud Awal

السادسة عشرة- وأما الجلوس والتشهد فاختلف العلماء في ذلك ، فقال مالك وأصحابه : الجلوس الأول والتشهد له سنتان. وأوجب جماعة من العلماء الجلوس الأول وقالوا : هو مخصوص من بين سائر الفروض بأن ينوب عنه السجود كالعرايا من المزابنة ، والقراض من الإجارات ، وكالوقوف بعد الإحرام لمن وجد الإمام راكعا.

Pembahasan keenam belas:

Adapun duduk (tasyahud) dan membaca tasyahud, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Malik ibn Anas dan para pengikutnya berkata:
Duduk pertama (yakni duduk tasyahud awal) dan bacaan tasyahud pada duduk itu hukumnya sunnah.

Sedangkan sekelompok ulama mewajibkan duduk pertama, dan mereka berkata:

Duduk pertama itu memiliki kekhususan dibanding kewajiban-kewajiban lainnya, yaitu jika tertinggal dapat diganti dengan sujud sahwi, sebagaimana ada beberapa pengecualian dalam hukum-hukum syariat; seperti:

  • ‘Arāyā dalam jual beli muzābanah,
  • Qirāḍ (mudharabah) dalam akad ijarah tertentu,
  • dan berdiri sesaat setelah takbiratul ihram bagi orang yang mendapati imam sedang rukuk (yakni ada bentuk keringanan khusus dalam hukum ini).

واحتجوا بأنه لو كان سنة ما كان العامد لتركه تبطل صلاته كما لا تبطل بترك سنن الصلاة.

احتج من لم يوجبه بأن قال : لو كان من فرائض الصلاة لرجع الساهي عنه إليه حتى يأتي به ، كما لو ترك سجدة أو ركعة ، ويراعى فيه ما يراعى في الركوع والسجود من الولاء والرتبة ، ثم يسجد لسهوه كما يصنع من ترك ركعة أو سجدة وأتى بهما.

Mereka (ulama yang mewajibkan duduk tasyahud awal) berdalil:

Seandainya duduk tasyahud awal itu hanya sunnah, maka orang yang sengaja meninggalkannya tidaklah batal shalatnya, sebagaimana shalat tidak batal karena meninggalkan sunnah-sunnah shalat lainnya.

Sedangkan orang-orang yang tidak mewajibkannya berdalil dengan mengatakan:

Seandainya duduk tasyahud awal itu termasuk fardhu/rukun shalat, niscaya orang yang lupa meninggalkannya harus kembali kepadanya untuk mengerjakannya, sebagaimana orang yang meninggalkan satu sujud atau satu rakaat harus kembali melakukannya.

Dan dalam mengerjakannya kembali itu harus diperhatikan urutan (tertib), kesinambungan gerakan (berurutan tanpa jeda panjang), sebagaimana yang diperhatikan dalam rukuk dan sujud. Setelah itu ia melakukan sujud sahwi, sebagaimana orang yang meninggalkan satu rakaat atau satu sujud lalu mengerjakannya kembali.

وفي حديث عبد الله بن بُحينة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام من ركعتين ونسي أن يتشهد فسبح الناس خلفه كيما يجلس فثبت قائما فقاموا ، فلما فرغ من صلاته سجد سجدتي السهو قبل التسليم ، فلو كان الجلوس فرضا لم يسقطه النسيان والسهو ، لأن الفرائض في الصلاة يستوي في تركها السهو والعمد إلا في المؤتم.

Dalam hadis Abdullah ibn Buhaynah disebutkan:

Sesungguhnya Rasulullah berdiri setelah dua rakaat (menuju rakaat ketiga), dan beliau lupa tidak duduk untuk tasyahud. Maka orang-orang di belakang beliau mengucapkan tasbih (mengingatkan) agar beliau duduk, tetapi beliau tetap tegak berdiri, sehingga mereka pun ikut berdiri. Setelah beliau selesai shalat, beliau melakukan dua kali sujud sahwi sebelum salam.

Maka, seandainya duduk tasyahud awal itu fardhu/rukun, niscaya tidak akan gugur hanya karena lupa dan sahwi (kelupaan), sebab rukun-rukun dalam shalat, jika ditinggalkan—baik sengaja maupun karena lupa—hukumnya sama (tetap harus diganti/dikerjakan), kecuali dalam keadaan makmum (yang mengikuti imam).

Wallahu A'lam...

Baca juga:

Rahasia Surat al-Baqarah Ayat 3:Shalat Menjadi Sebab Datangnya Rezeki, Sarana Kesembuhan, Dan Pendapat Ulama’Tentang Tata Cara Shalat

Hakikat Makna Shalat Dalam Suratal-Baqarah Ayat 3, Baik Dari Sisi Bahasa Maupun Dari Sisi Syariat

Perbedaan Pendapat Tentang Duduk Tasyahud Akhir Bacaan-bacaannya

Tiga Jenis Perbedaan dengan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Perlu Dibantah dan Mana yang Tidak?

Terjemahan Tahafut al-Falasifah tentang tiga jenis perbedaan dengan para filsuf serta sikap Islam terhadap sains dan akidah

Pendahuluan

Dalam Mukadimah Kedua kitab Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali memberikan salah satu penjelasan metodologis yang paling penting dalam sejarah pemikiran Islam. Beliau tidak serta-merta membantah seluruh pendapat para filsuf, tetapi terlebih dahulu mengelompokkan bentuk-bentuk perbedaan menjadi tiga kategori.

Pembagian ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali membedakan antara persoalan istilah, persoalan ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan secara rasional, dan persoalan akidah yang menjadi inti ajaran Islam. Dengan metode ini, beliau mengajarkan bahwa tidak semua perbedaan harus dijadikan medan perdebatan. Yang wajib dibela adalah pokok-pokok keimanan, sedangkan persoalan ilmiah yang tidak bertentangan dengan wahyu tidak perlu ditolak hanya karena berasal dari para filsuf.

Mukadimah ini juga menjadi bukti bahwa Imam Al-Ghazali tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Sebaliknya, beliau mengakui validitas ilmu matematika, astronomi, dan geometri apabila didukung oleh pembuktian yang kuat.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bagian: Muqaddimah Kedua (المقدمة الثانية)

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Mukadimah Kedua

Ketahuilah bahwa perselisihan antara para filsuf dan selain mereka terbagi menjadi tiga macam.

Pertama: Perselisihan yang Hanya Berkaitan dengan Istilah

Jenis pertama adalah perselisihan yang hanya kembali kepada penggunaan istilah semata.

Contohnya adalah penyebutan Allah, Sang Pencipta alam semesta, dengan istilah "jauhar" (substansi). Mereka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan jauhar ialah sesuatu yang ada dengan sendirinya, tidak berada pada sesuatu yang lain, berdiri sendiri, dan tidak memerlukan penopang.

Mereka tidak bermaksud menggunakan istilah jauhar dalam arti benda yang menempati ruang, sebagaimana dipahami oleh lawan-lawan mereka.

Kami tidak akan membahas pembatalan pendapat ini, karena apabila makna "berdiri sendiri" telah disepakati, maka perdebatan tinggal berkisar pada boleh atau tidaknya menggunakan istilah jauhar.

Jika bahasa membolehkan penggunaannya, maka persoalan boleh atau tidak menggunakannya dalam syariat menjadi pembahasan fikih. Sebab, hukum penggunaan suatu nama bergantung pada dalil-dalil syariat.

Kedua: Perselisihan yang Tidak Bertentangan dengan Pokok Agama

Jenis kedua adalah persoalan yang sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan tidak memengaruhi keimanan kepada para nabi dan rasul.

Misalnya, pendapat mereka bahwa gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan tertutup oleh bumi yang berada di antara bulan dan matahari; bumi berbentuk bulat dan langit mengelilinginya dari segala arah.

Begitu pula gerhana matahari, yaitu ketika bulan berada di antara matahari dan orang yang melihatnya, sehingga cahaya matahari tertutup pada saat keduanya berada pada satu garis.

Persoalan seperti ini juga tidak akan kami bantah karena tidak ada tujuan agama yang bergantung padanya.

Orang yang mengira bahwa membantah teori-teori semacam ini merupakan bagian dari agama, sesungguhnya telah berbuat salah terhadap agama dan justru melemahkannya.

Sebab, perkara-perkara tersebut didukung oleh bukti-bukti geometri dan perhitungan astronomi yang sangat kuat sehingga hampir tidak menyisakan keraguan.

Barang siapa memahami dalil-dalilnya, mengetahui penyebab gerhana, waktu terjadinya, besarnya, dan lamanya hingga berakhir, lalu dikatakan kepadanya bahwa semua itu bertentangan dengan syariat, maka ia tidak akan meragukan ilmu tersebut. Sebaliknya, ia justru akan meragukan pemahaman orang terhadap syariat.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh orang yang membela agama dengan cara yang keliru lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh orang yang menyerangnya dengan cara yang benar.

Sebagaimana dikatakan:

"Musuh yang cerdas lebih baik daripada sahabat yang bodoh."

Jika ada yang bertanya, bukankah Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, bersegeralah mengingat Allah dan melaksanakan salat."

Bagaimana hadis ini diselaraskan dengan penjelasan para ahli astronomi?

Kami menjawab:

Tidak ada pertentangan antara keduanya.

Hadis tersebut hanya menafikan keyakinan bahwa gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang serta memerintahkan salat ketika gerhana terjadi.

Syariat yang memerintahkan salat pada waktu tergelincir matahari, terbenamnya matahari, dan terbit fajar, tentu tidak mustahil juga memerintahkan salat ketika terjadi gerhana sebagai ibadah yang dianjurkan.

Apabila dikatakan bahwa terdapat tambahan riwayat:

"Akan tetapi Allah menampakkan diri kepada sesuatu sehingga sesuatu itu tunduk kepada-Nya."

Maka kami menjawab:

Tambahan riwayat tersebut tidak sahih sehingga tidak dapat dijadikan hujah.

Kalaupun dianggap sahih, maka menakwilkannya jauh lebih mudah daripada menolak kenyataan yang telah dibuktikan secara pasti.

Betapa banyak nash yang dipahami secara kontekstual ketika terdapat dalil akal yang kuat.

Hal yang paling menggembirakan kaum ateis adalah ketika ada pembela agama yang mengatakan bahwa fakta-fakta ilmiah yang pasti bertentangan dengan syariat. Dengan demikian, mereka lebih mudah menyerang agama.

Sesungguhnya pembahasan mengenai apakah alam ini baru atau qadim jauh lebih penting daripada memperdebatkan apakah bumi berbentuk bulat, datar, segi enam, segi delapan, atau berapa jumlah lapisan langit.

Persoalan-persoalan seperti itu dibandingkan dengan pembahasan tentang ketuhanan hanyalah seperti memperdebatkan jumlah lapisan bawang atau jumlah biji buah delima.

Yang terpenting adalah meyakini bahwa semua itu merupakan ciptaan Allah Yang Mahaagung, apa pun bentuk dan susunannya.

Ketiga: Perselisihan yang Menyangkut Pokok-Pokok Agama

Jenis ketiga ialah perbedaan yang berkaitan langsung dengan pokok-pokok agama.

Misalnya pembahasan tentang apakah alam itu diciptakan atau telah ada sejak dahulu, sifat-sifat Allah, serta kebangkitan jasad dan tubuh manusia pada hari kiamat.

Dalam persoalan-persoalan inilah para filsuf melakukan pengingkaran.

Maka bidang inilah beserta yang semisalnya yang harus dijelaskan kerusakan pendapat mereka, bukan persoalan-persoalan yang telah disebutkan sebelumnya.

Artikel Pengembangan

1. Al-Ghazali Membedakan Persoalan Bahasa, Sains, dan Akidah

Mukadimah ini menunjukkan ketelitian metodologi Imam Al-Ghazali. Beliau tidak mencampuradukkan seluruh persoalan menjadi satu. Ada perbedaan yang hanya menyangkut istilah, ada yang berkaitan dengan ilmu empiris, dan ada pula yang menyentuh pokok-pokok keimanan.

Dengan pembagian ini, Al-Ghazali mengajarkan bahwa setiap persoalan harus dinilai sesuai bidangnya.

2. Ilmu Astronomi Tidak Bertentangan dengan Islam

Salah satu bagian yang paling sering dikutip dari Tahafut al-Falasifah adalah pengakuan Al-Ghazali terhadap ilmu astronomi.

Beliau menerima penjelasan ilmiah mengenai gerhana matahari dan gerhana bulan karena didukung oleh pembuktian matematis dan astronomis yang kuat. Menurut beliau, menerima penjelasan ilmiah tersebut sama sekali tidak mengurangi keimanan kepada Allah.

Yang ditolak adalah keyakinan bahwa fenomena alam terjadi tanpa kehendak dan penciptaan Allah.

3. Membela Agama dengan Cara yang Salah Dapat Merugikan Agama

Pernyataan Al-Ghazali bahwa "kerusakan yang ditimbulkan oleh pembela agama yang bodoh lebih besar daripada serangan musuh" merupakan peringatan yang sangat mendalam.

Beliau mengingatkan bahwa jika umat Islam menolak fakta-fakta yang telah terbukti secara ilmiah lalu mengatasnamakan agama, maka masyarakat justru dapat mengira bahwa agama bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan.

Karena itu, pembelaan terhadap agama harus dilakukan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan argumentasi yang benar.

4. Fokus Perdebatan Harus Tepat

Menurut Al-Ghazali, bentuk bumi, jumlah lapisan langit, atau rincian struktur alam bukanlah inti persoalan agama.

Yang menjadi inti akidah ialah bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah, Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan, para nabi membawa wahyu yang benar, dan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat.

Dengan demikian, beliau mengarahkan perhatian umat agar tidak menghabiskan energi pada persoalan yang tidak menyentuh fondasi keimanan.

5. Teladan Berpikir Kritis dan Proporsional

Mukadimah ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali adalah seorang pemikir yang kritis sekaligus proporsional. Beliau tidak menolak suatu pendapat hanya karena berasal dari filsuf, tetapi juga tidak menerimanya tanpa penelitian.

Setiap teori diuji berdasarkan bidangnya masing-masing: ilmu empiris dibuktikan dengan observasi dan demonstrasi, sedangkan persoalan akidah ditimbang dengan dalil rasional yang benar dan petunjuk wahyu.

Pendekatan seperti inilah yang menjadikan karya Al-Ghazali tetap relevan dalam dialog antara agama dan ilmu pengetahuan hingga saat ini.

Hikmah

  • Tidak semua perbedaan dengan para filsuf berkaitan dengan akidah.
  • Persoalan istilah tidak boleh dibesar-besarkan hingga memecah umat.
  • Islam tidak menolak ilmu pengetahuan yang dibangun di atas bukti yang sahih.
  • Penjelasan ilmiah tentang fenomena alam tidak bertentangan dengan keimanan kepada Allah sebagai Pencipta.
  • Membela agama tanpa ilmu dapat lebih merugikan agama daripada kritik dari pihak luar.
  • Pokok akidah harus menjadi prioritas utama dalam pembahasan keislaman.
  • Seorang Muslim dituntut berpikir kritis, proporsional, dan adil dalam menilai suatu pendapat.

Penutup

Mukadimah Kedua dalam Tahafut al-Falasifah merupakan salah satu bukti paling kuat bahwa Imam Al-Ghazali membedakan secara tegas antara persoalan bahasa, ilmu pengetahuan, dan akidah. Beliau menerima fakta-fakta ilmiah yang didukung oleh pembuktian yang pasti, sekaligus mengkritik pandangan para filsuf yang menyimpang dalam persoalan ketuhanan, penciptaan alam, dan kebangkitan manusia. Melalui pembagian ini, Al-Ghazali mengajarkan bahwa membela agama tidak berarti menolak ilmu, melainkan menempatkan setiap disiplin ilmu pada tempatnya dan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam perkara-perkara yang menyangkut pokok keimanan.

Teks Arab :

مقدمة ثانية

ليعلم أن الخلاف بينهم وبين غيرهم ثلاثة أقسام:

قسم الأول: يرجع النزاع فيه إلى لفظ مجرد كتسميتهم صانع العالم تعالى عن قولهم - جوهراً، مع تفسيرهم الجوهر بأنه الموجود لا في موضوع أى القائم بنفسه الذى لا يحتاج إلى مقوم يقومه، ولم يريدوا به الجوهر المتحيز، على ما أراده خصومهم.

ولسنا نخوض في إيطال هذا، لأن معنى القيام بالنفس إذا صار متفقاً عليه، رجع الكلام في التعبير باسم الجوهر عن هذا المعنى، إلى البحث عن اللغة، وإن سوغت اللغة إطلاقه ، رجع جواز إطلاقه في الشرع، إلى المباحث الفقهية، فإن تحريم إطلاق الأسامي وإباحتها يؤخذ مما يدل عليه ظواهر الشرع.

ولعلك تقول:

القسم الثاني: ما لا يصدم مذهبهم فيه أصلاً من أصول الدين، وليس من ضرورة تصديق الأنبياء والرسل منازعتهم فيه، كقولهم إن كسوف القمر عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس والأرض كرة والسماء محيطة بها من الجوانب، وإن كسوف الشمس، وقوف جرم القمر بين الناظر وبين الشمس عند اجتماعهما في العقيدتين على دقيقة واحدة.

وهذا الفن أيضاً لسنا نخوض في إيطاله إذ لا يتعلق به غرض ومن ظن أن المناظرة في ابطال هذا من الدين فقد جنى على الدين، وضعف أمره، فإن هذه الأمور تقوم عليها براهين هندسية حسابية لا يبقى معها ريبة. فمن تطلع عليها، ويتحقق أدلتها، حتى يُخبر بسببها عن وقت الكسوفين وقدرهما ومدة بقائهما إلى الانجلاء، إذا قيل له إن هذا على خلاف الشرع، لم يسترب فيه، وإنما يستريب في الشرع، وضرر الشرع ممن ينصره لا بطريقه أكثر من ضرره ممن يطعن فيه بطريقة. وهو كما قيل: عدو عاقل خير من صديق جاهل.

فان قيل : فقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ان الشمس والقمر لآيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، فاذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله والصلاة)) ، فكيف يلائم هذا ما قالوه؟ قلنا: وليس في هذا ما يناقض ما قالوه ، اذ ليس فيه الا نفى وقوع الكسوف لموت احد او لحياته والأمر بالصلاة عنده. والشرع الذي يأمر بالصلاة عند الزوال والغروب والطلوع من أين يبعد منه ان يأمر عند الكسوف بها استحباباً؟ فإن قيل: فقد روى انه قال في آخر الحديث: (( ولكن الله اذا تجلى لشيء خضع له فيدل على ان الكسوف خضوع بسبب التجلى، قلنا: هذه الزيادة لم يصح نقلها فيجب تكذيب ناقلها، وانما المروى ما ذكرناه كيف، ولو كان صحيحاً، لكان تأويله أهون من مكابرة أمور قطعية. فكم من ظواهر أولت بالأدلة العقلية التي لا تنتهي في الوضوح إلى هذا الحد.

وأعظم ما يفرح به الملحدة أن يصرح ناصر الشرع بأن هذا، وأمثاله على خلاف الشرع، فيسهل عليه طريق إبطال الشرع، ان كان شرطع امثال ذلك. وهذا لأن البحث في العالم عن كونه حادثاً أو قديماً، ثم إذا ثبت حدوثه فسواء كان كرة، أو بسيطاً، أو مثمناً، أو مسدسا ، وسواء كانت السماوات، وما تحتها ثلاثة عشرة طبقة، كما قالوه، أو أقل، أو أكثر، فنسبة النظر فيه الى البحث الألهي كنسبة النظر الى طبقات البصل وعددها وعدد حب الرمان. فالمقصود كونه من فعل الله سبحانه وتعالى فقط، كيف ما كانت.

الثالث: ما يتعلق النزاع فيه بأصل من أصول الدين، كالقول في حدوث العالم، وصفات الصانع، وبيان حشر الأجساد والابدان، وقد أنكروا جميع ذلك. فهذا الفن ونظائره هو الذي ينبغي أن يظهر فساد مذهبهم فيه دون ما عدام

Baca juga:

Mengapa Imam Al-Ghazali Memusatkan Kritik kepada Aristoteles? PenjelasanMukadimah Tahafut al-Falasifah

Mengapa Banyak Orang Tertipu oleh Pemikiran yang Salah? Penjelasan ImamAl-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah

Metode Bantahan Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah: Mengungkap Kontradiksi Para Filsuf dengan Logika Mereka Sendiri

Terjemahan Tahafut al-Falasifah tentang tiga jenis perbedaan dengan para filsuf serta sikap Islam terhadap sains dan akidah

Pendahuluan

Dalam Mukadimah Kedua kitab Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali memberikan salah satu penjelasan metodologis yang paling penting dalam sejarah pemikiran Islam. Beliau tidak serta-merta membantah seluruh pendapat para filsuf, tetapi terlebih dahulu mengelompokkan bentuk-bentuk perbedaan menjadi tiga kategori.

Pembagian ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali membedakan antara persoalan istilah, persoalan ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan secara rasional, dan persoalan akidah yang menjadi inti ajaran Islam. Dengan metode ini, beliau mengajarkan bahwa tidak semua perbedaan harus dijadikan medan perdebatan. Yang wajib dibela adalah pokok-pokok keimanan, sedangkan persoalan ilmiah yang tidak bertentangan dengan wahyu tidak perlu ditolak hanya karena berasal dari para filsuf.

Mukadimah ini juga menjadi bukti bahwa Imam Al-Ghazali tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Sebaliknya, beliau mengakui validitas ilmu matematika, astronomi, dan geometri apabila didukung oleh pembuktian yang kuat.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bagian: Muqaddimah Kedua (المقدمة الثانية)

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Mukadimah Kedua

Ketahuilah bahwa perselisihan antara para filsuf dan selain mereka terbagi menjadi tiga macam.

Pertama: Perselisihan yang Hanya Berkaitan dengan Istilah

Jenis pertama adalah perselisihan yang hanya kembali kepada penggunaan istilah semata.

Contohnya adalah penyebutan Allah, Sang Pencipta alam semesta, dengan istilah "jauhar" (substansi). Mereka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan jauhar ialah sesuatu yang ada dengan sendirinya, tidak berada pada sesuatu yang lain, berdiri sendiri, dan tidak memerlukan penopang.

Mereka tidak bermaksud menggunakan istilah jauhar dalam arti benda yang menempati ruang, sebagaimana dipahami oleh lawan-lawan mereka.

Kami tidak akan membahas pembatalan pendapat ini, karena apabila makna "berdiri sendiri" telah disepakati, maka perdebatan tinggal berkisar pada boleh atau tidaknya menggunakan istilah jauhar.

Jika bahasa membolehkan penggunaannya, maka persoalan boleh atau tidak menggunakannya dalam syariat menjadi pembahasan fikih. Sebab, hukum penggunaan suatu nama bergantung pada dalil-dalil syariat.

Kedua: Perselisihan yang Tidak Bertentangan dengan Pokok Agama

Jenis kedua adalah persoalan yang sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan tidak memengaruhi keimanan kepada para nabi dan rasul.

Misalnya, pendapat mereka bahwa gerhana bulan terjadi karena cahaya bulan tertutup oleh bumi yang berada di antara bulan dan matahari; bumi berbentuk bulat dan langit mengelilinginya dari segala arah.

Begitu pula gerhana matahari, yaitu ketika bulan berada di antara matahari dan orang yang melihatnya, sehingga cahaya matahari tertutup pada saat keduanya berada pada satu garis.

Persoalan seperti ini juga tidak akan kami bantah karena tidak ada tujuan agama yang bergantung padanya.

Orang yang mengira bahwa membantah teori-teori semacam ini merupakan bagian dari agama, sesungguhnya telah berbuat salah terhadap agama dan justru melemahkannya.

Sebab, perkara-perkara tersebut didukung oleh bukti-bukti geometri dan perhitungan astronomi yang sangat kuat sehingga hampir tidak menyisakan keraguan.

Barang siapa memahami dalil-dalilnya, mengetahui penyebab gerhana, waktu terjadinya, besarnya, dan lamanya hingga berakhir, lalu dikatakan kepadanya bahwa semua itu bertentangan dengan syariat, maka ia tidak akan meragukan ilmu tersebut. Sebaliknya, ia justru akan meragukan pemahaman orang terhadap syariat.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh orang yang membela agama dengan cara yang keliru lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh orang yang menyerangnya dengan cara yang benar.

Sebagaimana dikatakan:

"Musuh yang cerdas lebih baik daripada sahabat yang bodoh."

Jika ada yang bertanya, bukankah Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, bersegeralah mengingat Allah dan melaksanakan salat."

Bagaimana hadis ini diselaraskan dengan penjelasan para ahli astronomi?

Kami menjawab:

Tidak ada pertentangan antara keduanya.

Hadis tersebut hanya menafikan keyakinan bahwa gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang serta memerintahkan salat ketika gerhana terjadi.

Syariat yang memerintahkan salat pada waktu tergelincir matahari, terbenamnya matahari, dan terbit fajar, tentu tidak mustahil juga memerintahkan salat ketika terjadi gerhana sebagai ibadah yang dianjurkan.

Apabila dikatakan bahwa terdapat tambahan riwayat:

"Akan tetapi Allah menampakkan diri kepada sesuatu sehingga sesuatu itu tunduk kepada-Nya."

Maka kami menjawab:

Tambahan riwayat tersebut tidak sahih sehingga tidak dapat dijadikan hujah.

Kalaupun dianggap sahih, maka menakwilkannya jauh lebih mudah daripada menolak kenyataan yang telah dibuktikan secara pasti.

Betapa banyak nash yang dipahami secara kontekstual ketika terdapat dalil akal yang kuat.

Hal yang paling menggembirakan kaum ateis adalah ketika ada pembela agama yang mengatakan bahwa fakta-fakta ilmiah yang pasti bertentangan dengan syariat. Dengan demikian, mereka lebih mudah menyerang agama.

Sesungguhnya pembahasan mengenai apakah alam ini baru atau qadim jauh lebih penting daripada memperdebatkan apakah bumi berbentuk bulat, datar, segi enam, segi delapan, atau berapa jumlah lapisan langit.

Persoalan-persoalan seperti itu dibandingkan dengan pembahasan tentang ketuhanan hanyalah seperti memperdebatkan jumlah lapisan bawang atau jumlah biji buah delima.

Yang terpenting adalah meyakini bahwa semua itu merupakan ciptaan Allah Yang Mahaagung, apa pun bentuk dan susunannya.

Ketiga: Perselisihan yang Menyangkut Pokok-Pokok Agama

Jenis ketiga ialah perbedaan yang berkaitan langsung dengan pokok-pokok agama.

Misalnya pembahasan tentang apakah alam itu diciptakan atau telah ada sejak dahulu, sifat-sifat Allah, serta kebangkitan jasad dan tubuh manusia pada hari kiamat.

Dalam persoalan-persoalan inilah para filsuf melakukan pengingkaran.

Maka bidang inilah beserta yang semisalnya yang harus dijelaskan kerusakan pendapat mereka, bukan persoalan-persoalan yang telah disebutkan sebelumnya.

Artikel Pengembangan

1. Al-Ghazali Membedakan Persoalan Bahasa, Sains, dan Akidah

Mukadimah ini menunjukkan ketelitian metodologi Imam Al-Ghazali. Beliau tidak mencampuradukkan seluruh persoalan menjadi satu. Ada perbedaan yang hanya menyangkut istilah, ada yang berkaitan dengan ilmu empiris, dan ada pula yang menyentuh pokok-pokok keimanan.

Dengan pembagian ini, Al-Ghazali mengajarkan bahwa setiap persoalan harus dinilai sesuai bidangnya.

2. Ilmu Astronomi Tidak Bertentangan dengan Islam

Salah satu bagian yang paling sering dikutip dari Tahafut al-Falasifah adalah pengakuan Al-Ghazali terhadap ilmu astronomi.

Beliau menerima penjelasan ilmiah mengenai gerhana matahari dan gerhana bulan karena didukung oleh pembuktian matematis dan astronomis yang kuat. Menurut beliau, menerima penjelasan ilmiah tersebut sama sekali tidak mengurangi keimanan kepada Allah.

Yang ditolak adalah keyakinan bahwa fenomena alam terjadi tanpa kehendak dan penciptaan Allah.

3. Membela Agama dengan Cara yang Salah Dapat Merugikan Agama

Pernyataan Al-Ghazali bahwa "kerusakan yang ditimbulkan oleh pembela agama yang bodoh lebih besar daripada serangan musuh" merupakan peringatan yang sangat mendalam.

Beliau mengingatkan bahwa jika umat Islam menolak fakta-fakta yang telah terbukti secara ilmiah lalu mengatasnamakan agama, maka masyarakat justru dapat mengira bahwa agama bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan.

Karena itu, pembelaan terhadap agama harus dilakukan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan argumentasi yang benar.

4. Fokus Perdebatan Harus Tepat

Menurut Al-Ghazali, bentuk bumi, jumlah lapisan langit, atau rincian struktur alam bukanlah inti persoalan agama.

Yang menjadi inti akidah ialah bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah, Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan, para nabi membawa wahyu yang benar, dan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat.

Dengan demikian, beliau mengarahkan perhatian umat agar tidak menghabiskan energi pada persoalan yang tidak menyentuh fondasi keimanan.

5. Teladan Berpikir Kritis dan Proporsional

Mukadimah ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali adalah seorang pemikir yang kritis sekaligus proporsional. Beliau tidak menolak suatu pendapat hanya karena berasal dari filsuf, tetapi juga tidak menerimanya tanpa penelitian.

Setiap teori diuji berdasarkan bidangnya masing-masing: ilmu empiris dibuktikan dengan observasi dan demonstrasi, sedangkan persoalan akidah ditimbang dengan dalil rasional yang benar dan petunjuk wahyu.

Pendekatan seperti inilah yang menjadikan karya Al-Ghazali tetap relevan dalam dialog antara agama dan ilmu pengetahuan hingga saat ini.

Hikmah

  • Tidak semua perbedaan dengan para filsuf berkaitan dengan akidah.
  • Persoalan istilah tidak boleh dibesar-besarkan hingga memecah umat.
  • Islam tidak menolak ilmu pengetahuan yang dibangun di atas bukti yang sahih.
  • Penjelasan ilmiah tentang fenomena alam tidak bertentangan dengan keimanan kepada Allah sebagai Pencipta.
  • Membela agama tanpa ilmu dapat lebih merugikan agama daripada kritik dari pihak luar.
  • Pokok akidah harus menjadi prioritas utama dalam pembahasan keislaman.
  • Seorang Muslim dituntut berpikir kritis, proporsional, dan adil dalam menilai suatu pendapat.

Penutup

Mukadimah Kedua dalam Tahafut al-Falasifah merupakan salah satu bukti paling kuat bahwa Imam Al-Ghazali membedakan secara tegas antara persoalan bahasa, ilmu pengetahuan, dan akidah. Beliau menerima fakta-fakta ilmiah yang didukung oleh pembuktian yang pasti, sekaligus mengkritik pandangan para filsuf yang menyimpang dalam persoalan ketuhanan, penciptaan alam, dan kebangkitan manusia. Melalui pembagian ini, Al-Ghazali mengajarkan bahwa membela agama tidak berarti menolak ilmu, melainkan menempatkan setiap disiplin ilmu pada tempatnya dan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam perkara-perkara yang menyangkut pokok keimanan.

Teks Arab :

مقدمة ثانية

ليعلم أن الخلاف بينهم وبين غيرهم ثلاثة أقسام:

قسم الأول: يرجع النزاع فيه إلى لفظ مجرد كتسميتهم صانع العالم تعالى عن قولهم - جوهراً، مع تفسيرهم الجوهر بأنه الموجود لا في موضوع أى القائم بنفسه الذى لا يحتاج إلى مقوم يقومه، ولم يريدوا به الجوهر المتحيز، على ما أراده خصومهم.

ولسنا نخوض في إيطال هذا، لأن معنى القيام بالنفس إذا صار متفقاً عليه، رجع الكلام في التعبير باسم الجوهر عن هذا المعنى، إلى البحث عن اللغة، وإن سوغت اللغة إطلاقه ، رجع جواز إطلاقه في الشرع، إلى المباحث الفقهية، فإن تحريم إطلاق الأسامي وإباحتها يؤخذ مما يدل عليه ظواهر الشرع.

ولعلك تقول:

القسم الثاني: ما لا يصدم مذهبهم فيه أصلاً من أصول الدين، وليس من ضرورة تصديق الأنبياء والرسل منازعتهم فيه، كقولهم إن كسوف القمر عبارة عن انمحاء ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس والأرض كرة والسماء محيطة بها من الجوانب، وإن كسوف الشمس، وقوف جرم القمر بين الناظر وبين الشمس عند اجتماعهما في العقيدتين على دقيقة واحدة.

وهذا الفن أيضاً لسنا نخوض في إيطاله إذ لا يتعلق به غرض ومن ظن أن المناظرة في ابطال هذا من الدين فقد جنى على الدين، وضعف أمره، فإن هذه الأمور تقوم عليها براهين هندسية حسابية لا يبقى معها ريبة. فمن تطلع عليها، ويتحقق أدلتها، حتى يُخبر بسببها عن وقت الكسوفين وقدرهما ومدة بقائهما إلى الانجلاء، إذا قيل له إن هذا على خلاف الشرع، لم يسترب فيه، وإنما يستريب في الشرع، وضرر الشرع ممن ينصره لا بطريقه أكثر من ضرره ممن يطعن فيه بطريقة. وهو كما قيل: عدو عاقل خير من صديق جاهل.

فان قيل : فقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ان الشمس والقمر لآيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، فاذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله والصلاة)) ، فكيف يلائم هذا ما قالوه؟ قلنا: وليس في هذا ما يناقض ما قالوه ، اذ ليس فيه الا نفى وقوع الكسوف لموت احد او لحياته والأمر بالصلاة عنده. والشرع الذي يأمر بالصلاة عند الزوال والغروب والطلوع من أين يبعد منه ان يأمر عند الكسوف بها استحباباً؟ فإن قيل: فقد روى انه قال في آخر الحديث: (( ولكن الله اذا تجلى لشيء خضع له فيدل على ان الكسوف خضوع بسبب التجلى، قلنا: هذه الزيادة لم يصح نقلها فيجب تكذيب ناقلها، وانما المروى ما ذكرناه كيف، ولو كان صحيحاً، لكان تأويله أهون من مكابرة أمور قطعية. فكم من ظواهر أولت بالأدلة العقلية التي لا تنتهي في الوضوح إلى هذا الحد.

وأعظم ما يفرح به الملحدة أن يصرح ناصر الشرع بأن هذا، وأمثاله على خلاف الشرع، فيسهل عليه طريق إبطال الشرع، ان كان شرطع امثال ذلك. وهذا لأن البحث في العالم عن كونه حادثاً أو قديماً، ثم إذا ثبت حدوثه فسواء كان كرة، أو بسيطاً، أو مثمناً، أو مسدسا ، وسواء كانت السماوات، وما تحتها ثلاثة عشرة طبقة، كما قالوه، أو أقل، أو أكثر، فنسبة النظر فيه الى البحث الألهي كنسبة النظر الى طبقات البصل وعددها وعدد حب الرمان. فالمقصود كونه من فعل الله سبحانه وتعالى فقط، كيف ما كانت.

الثالث: ما يتعلق النزاع فيه بأصل من أصول الدين، كالقول في حدوث العالم، وصفات الصانع، وبيان حشر الأجساد والابدان، وقد أنكروا جميع ذلك. فهذا الفن ونظائره هو الذي ينبغي أن يظهر فساد مذهبهم فيه دون ما عدام

Baca juga:

Mengapa Imam Al-Ghazali Memusatkan Kritik kepada Aristoteles? PenjelasanMukadimah Tahafut al-Falasifah

Mengapa Banyak Orang Tertipu oleh Pemikiran yang Salah? Penjelasan ImamAl-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah

Metode Bantahan Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah: Mengungkap Kontradiksi Para Filsuf dengan Logika Mereka Sendiri

Kitab Mujarab

Memanfaatkan Harta Tak Bertuan bagi Orang Fakir: Antara Kebutuhan, Wara’, dan Tawakal

مسألة: إذا حصل في يده مال لا مالك له وجوزنا له أن يأخذ قدر حاجته لفقره ففي قدر حاجته نظر ذكرناه في كتاب أسرار الزكاة فقد قال قوم يأخذ كف...

Interstisial : Kotak Cahaya : Pop : Dorongan Asli :