Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2d

Title: Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2d

العاشرة- أما ما استدل به الأولون بقول عليه السلام : "وإذا قرأ فأنصتوا" أخرجه مسلم من حديث أبي موسى الأشعري وقال : وفي حديث جرير عن سليمان عن قتادة من الزيادة "وإذا قرأ فأنصتوا" قال الدارقطني : هذه اللفظة لم يتابع سليمان التيمي فيها عن قتادة ، وخالفه الحفاظ من أصحاب قتادة فلم يذكروها ، منهم شعبة وهشام وسعيد بن أبي عروبة وهمام وأبو عوانة ومعمر وعدي بن أبي عمارة. قال الدارقطني : فإجماعهم يدل على وَهَمِه.

Masalah kesepuluh:

Adapun dalil yang digunakan para ulama terdahulu dari sabda Nabi :

Apabila imam membaca, maka diamlah” diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Musa Al-Asy‘ari.

Dan dalam hadits Jārir dari Sulaiman dari Qatadah terdapat tambahan:

Apabila imam membaca, maka diamlah”.

Ad-Daraqutni berkata:

Kata-kata ini (tambahan) tidak disepakati oleh Sulaiman at-Taimi dari Qatadah, dan para perawi sahih dari pengikut Qatadah menentangnya; mereka, termasuk Syu‘bah, Hisyam, Sa‘id bin Abi ‘Arubah, Humam, Abu ‘Awanah, Mu‘ammir, dan ‘Uddi bin Abi ‘Amarah, tidak meriwayatkannya.”

Ad-Daraqutni berkata:

Kesepakatan mereka menunjukkan bahwa tambahan tersebut hanyalah kesalahan atau dugaan.”

وقد روي عن عبد الله بن عامر عن قتادة متابعة التيمي ولكن ليس هو بالقوي تركه القطّعان. وأخرج أيضا هذه الزيادة أبو داود من حديث أبي هريرة وقال : هذه الزيادة "إذا قرأ فأنصتوا" ليست بمحفوظة. وذكر أبو محمد عبد الحق : أن مسلما صحح حديث أبي هريرة وقال : هو عندي صحيح.

Dan diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Āmir dari Qatadah secara mutaabi‘ah (terus-menerus), namun jalur ini tidak kuat karena terputus oleh Al-Qath‘ān.

Diriwayatkan juga tambahan ini oleh Abu Dawud dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata:

Tambahan ‘Apabila imam membaca, maka diamlah’ tidak terjaga (tidak shahih).”

Abu Muhammad ‘Abdul Haqq berkata:

Muslim menilai hadits Abu Hurairah ini shahih, dan beliau berkata:

Menurutku, hadits ini sahih.”

قلت : ومما يدل على صحتها عنده إدخالها في كتابه من حديث أبي موسى وإن كانت مما لم يجمعوا عليها. وقد صححها الإمام أحمد بن حنبل وابن المنذر.

Saya berkata:

Salah satu yang menunjukkan bahwa hadits ini sahih menurutnya adalah dimasukkannya hadits ini dalam bukunya dari riwayat Abu Musa, meskipun para perawi tidak sepakat tentangnya.

Hadits ini juga telah dikoreksi (dinyatakan sahih) oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Mundzir.”

وأما قوله تعالى : {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا} [الأعراف : 204] فإنه نزل بمكة وتحريم الكلام في الصلاة نزل بالمدينة - كما قال زيد بن أرقم فلا حجة فيها فإن المقصود كان المشركين على ما قال سعيد بن المسيب.

وقد روى الدارقطني عن أبي هريرة أنها نزلت في رفع الصوت خلف رسول الله. وقال : عبد الله بن عامر ضعيف.

Adapun firman Allah Ta’ala:

{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا}

Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah” (Al-A‘rāf: 204),

Ayat ini turun di Makkah, sedangkan larangan berbicara dalam shalat turun di Madinah — sebagaimana yang dikatakan oleh Zaid bin Arqam.

Oleh karena itu, ayat ini tidak menjadi dalil (tidak bisa dijadikan hujjah), karena yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, menurut pendapat Sa‘id bin Al-Musayyib.

Ad-Daraqutni meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ayat ini turun terkait dengan perintah untuk menurunkan suara di belakang Rasulullah .

Sedangkan riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Āmir dianggap lemah.

وأما قوله عليه السلام : "ما لي أنازع القرآن" فأخرجه مالك عن ابن شهاب عن ابن أكيمة الليثي ، واسمه فيما قال مالك : عمرو وغيره يقول عامر وقيل يزيد وقيل عمارة وقيل عباد ، يكنى أبا الوليد توفي سنة إحدى ومائة وهو ابن تسع وسبعين سنة ، لم يرو عنه الزهري إلا هذا الحديث الواحد وهو ثقة وروى عنه محمد بن عمرو وغيره.

والمعنى في حديثه : لا تجهروا إذا جهرت فإن ذلك تنازع وتجاذب وتخالج اقرؤوا في أنفسكم.

يبينه حديث عبادة وفتيا الفاروق وأبي هريرة الراوي للحديثين.

Adapun sabda Nabi :

Aku tidak ingin berselisih mengenai Al-Qur’an”

Diriwayatkan oleh Mālik dari Ibnu Syihāb dari Ibnu Ukaymah Al-Laythi, yang menurut sebagian sumber namanya Amr, dan ada yang mengatakan ‘Āmir, Yazid, ‘Amārah, atau ‘Ubād; ia dikenal dengan kunyah Abu Al-Walid. Ia wafat pada tahun 101 H pada usia 79 tahun.

Dari beliau, Al-Zuhri hanya meriwayatkan hadits ini, dan beliau adalah perawi tsiqah.

Dari beliau juga Muhammad bin ‘Amr dan lainnya meriwayatkan.

Makna hadits ini:

Jangan membaca dengan keras (jahr) ketika imam membacanya, karena hal itu menimbulkan perselisihan, tarik-menarik, dan saling beradu. Bacalah dalam dirimu sendiri.”

Hal ini dijelaskan pula oleh hadits ‘Ubādah dan fatwa Al-Fāruq (‘Umar bin Al-Khaththāb) serta Abu Hurairah, yang merupakan perawi dari kedua hadits tersebut.

فلو فهم المنع جملة من قوله : "ما لي أنازع القرآن" لما أفتى بخلافه ، وقول الزهري في حديث ابن أكيمة : فانتهى الناس عن القراءة مع رسول الله فيما جهر فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم بالقراءة حين سمعوا ذلك من رسول الله يريد بالحمد على ما بينا وبالله توفيقنا.

Apabila larangan itu dipahami secara umum dari sabda Nabi :

Aku tidak ingin berselisih mengenai Al-Qur’an,”

Niscaya beliau tidak akan memberikan fatwa yang berbeda.

Sedangkan perkataan Al-Zuhri dalam hadits Ibnu Ukaymah:

Maka orang-orang berhenti membaca ketika Rasulullah membaca dengan suara keras (jahri) setelah mereka mendengar itu dari Rasulullah”

Yang dimaksud di sini adalah bacaan Al-Fatihah, sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya.

Dan hanya kepada Allah kita memohon taufik.

وأما قوله صلى الله عليه وسلم : "من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة" فحديث ضعيف أسنده الحسن بن عمارة وهو متروك ، وأبو حنيفة وهو ضعيف ، كلاهما عن موسى بن أبي عائشة عن عبد الله بن شداد عن جابر.

أخرجه الدارقطني وقال : رواه سفيان الثوري وشعبة وإسرائيل بن يونس وشريك وأبو خالد الدالاني وأبو الأحوص وسفيان بن عيينة وجرير بن عبد الحميد وغيرهم عن موسى بن أبي عائشة عن عبد الله بن شداد مرسلا عن النبي صلى الله عليه وسلم وهو الصواب.

Adapun sabda Nabi :

Barang siapa mempunyai imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya”

Adalah hadits lemah; sanadnya dari Al-Hasan bin ‘Amārah dan ditinggalkan. Abu Hanifah juga menilai hadits ini lemah. Keduanya meriwayatkan dari Mūsā bin Abi ‘Aisyah dari ‘Abdullah bin Shaddād dari Jābir.

Ad-Daraqutni meriwayatkannya dan berkata:

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Sufyān ath-Thawrī, Syu‘bah, Isrā’īl bin Yūnus, Syurayk, Abu Khalid ad-Dālani, Abu al-Ahwas, Sufyān bin ‘Uyaynah, Jārir bin ‘Abdul Hamīd, dan lain-lain dari Mūsā bin Abi ‘Aisyah dari ‘Abdullah bin Shaddād secara mursal (tersambung langsung kepada Nabi tanpa menyebut perawi perantara), dan inilah yang benar.

وأما قول جابر : من صلى ركعة لم يقرأ فيها بأم القرآن فلم يصل إلا وراء الإمام ، فرواه مالك عن وهب بن كيسان عن جابر قوله.

قال ابن عبد البر : ورواه يحيى بن سلام صاحب التفسير عن مالك عن أبي نعيم وهب بن كيسان عن جابر عن النبي صلى الله عليه وسلم وصوابه موقوف على جابر كما في الموطأ.

Adapun perkataan Jābir:

Barang siapa shalat satu rakaat tanpa membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya tidak sah kecuali di belakang imam,”

Diriwayatkan oleh Mālik dari Wahb bin Kaysān dari Jābir.

Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Yahyā bin Salām, pengarang at-Tafsir, dari Mālik dari Abu Nu‘aym, dari Wahb bin Kaysān, dari Jābir, dari Nabi .

Yang benar, statusnya mauquf (terhenti) pada Jābir, sebagaimana dalam al-Muwatta’.

وفيه من الفقه إبطال الركعة التي لا يقرأ فيها بأم القرآن ، وهو يشهد لصحة ما ذهب إليه ابن القاسم ورواه عن مالك في إلغاء الركعة والبناء على غيرها ولا يعتد المصلي بركعة لا يقرأ فيها بفاتحة الكتاب. وفيه أيضا أن الإمام قراءته لمن خلفه قراءة ، وهذا مذهب جابر وقد خالفه فيه غيره.

Di dalam hal fiqh, hadits ini menunjukkan bahwa rakaat yang tidak dibaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya menjadi batal.

Hal ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu al-Qāsim, yang meriwayatkannya dari Mālik, bahwa rakaat tersebut dibatalkan dan diganti dengan rakaat lain; seorang makmum tidak sah shalatnya jika ada rakaat yang tidak dibaca Al-Fatihah di dalamnya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa bacaan imam menjadi bacaan bagi makmum, yang merupakan pendapat Jābir.

Namun, dalam hal ini, pendapat Jābir berbeda dengan pendapat sebagian ulama lainnya.

الحادية عشرة- قال ابن العربي : لما قال : "لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب" واختلف الناس في هذا الأصل هل يحمل هذا النفي على التمام والكمال أو على الإجزاء ؟ اختلفت الفتوى بحسب اختلاف حال الناظر ، ولما كان الأشهر في هذا الأصل والأقوى أن النفي على العموم كان الأقوى من رواية مالك أن من لم يقرأ الفاتحة في صلاته بطلت.

Masalah kesebelas:

Ibnu al-‘Arabī berkata: Ketika disebutkan sabda Nabi :

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah,”

Para ulama berbeda pendapat tentang makna dasar dari larangan ini: apakah dimaksudkan secara mutlak (sempurna dan lengkap) atau hanya untuk cukup (ijzā’/minimal).

Perbedaan fatwa muncul karena perbedaan kondisi orang yang menilai (al-nāẓir).

Namun, yang lebih terkenal dan kuat dalam masalah ini adalah bahwa larangan tersebut dimaksudkan secara umum.

Pendapat ini lebih kuat dibandingkan riwayat Mālik yang menyatakan bahwa shalat seseorang batal jika ia tidak membaca Al-Fatihah dalam shalatnya.

ثم نظرنا في تكرارها في كل ركعة ، فمن تأول قول النبي صلى الله عليه وسلم : "افعل ذلك في صلاتك كلها" لزمه أن يعيد القراءة كما يعيد الركوع والسجود. والله أعلم.

Kemudian kami meninjau soal pengulangan bacaan Al-Fatihah di setiap rakaat. Barang siapa menafsirkan sabda Nabi :

Lakukan itu dalam seluruh shalatmu,”

Maka hal itu mengharuskannya untuk mengulang bacaan dalam setiap rakaat, sebagaimana mengulang rukuk dan sujud. والله أعلم.

Sumber:

الكتاب : الجامع لأحكام القرآن

المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)

Baca juga:

Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2d

Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2e

Penghalang Diterimanya Amal Dan Sampainya Seorang Hamba Kepada Allah – Gramatika Qalbu - نحو القلوب


باب موانع الصرف

Bab: Penghalang-penghalang Ṣarf / Penghalang Diterimanya Amal

Dalam nahwu:
موانع الصرف = sebab isim menjadi ممنوع من الصرف, tidak menerima tanwīn dan tidak majrur dengan kasrah.

موانع الصرف عند أهل العبارة: تسع وهي معروفة

Menurut ahli ibārah (gramatika), penghalang ṣarf itu ada sembilan, dan itu telah dikenal.

Secara nahwu, sebab-sebabnya memang dibahas rinci.

وعند أهل الإشارة...

Adapun menurut ahli isyarat (makna batin), maka penghalang-penghalang itu adalah sebagai berikut:

Masuk ke makna ruhani:

1)      الجمع

أن يجتنب العالم جمع الدنيا واجتماع الناس عليه

Seorang alim harus menjauhi mengumpulkan dunia dan keinginan agar manusia berkumpul di sekelilingnya.

Maknanya:

  • haus harta,
  • haus pengikut,
  • ingin populer,
  • cinta kedudukan.

Ini hijab besar.

2)      الصرف

صرف وجوههم إليه

Mengarahkan wajah manusia agar tertuju kepadanya.

Maknanya:
ingin perhatian manusia:

  • ingin dipuji,
  • ingin disanjung,
  • ingin jadi pusat perhatian.

Ini riya’ yang halus.

3)      الوصف

أن يكون قصده أن يوصف بالخير ويعرف به

Tujuannya agar disebut baik dan dikenal karena kebaikannya.

Maknanya:
beramal untuk reputasi.

Bukan mencari Allah, tapi citra.

4)      التأنيث

ضعف العزم، والرضى بالرذائل

Lemah tekad dan ridha dengan kehinaan akhlak.

Maksud:

  • malas mujahadah,
  • menyerah pada hawa nafsu,
  • nyaman dalam dosa.

5)      المعرفة

أن يعرف نعم الله عليه ثم يقصر عن الشكر

Mengetahui nikmat Allah, namun lalai mensyukurinya.

Ini kufur nikmat dalam bentuk halus.

Tahu → tapi tidak tunduk.

6)      العجمة

أن يهمل نعمة الله بكتمان علمه

Menyia-nyiakan nikmat Allah dengan menyembunyikan ilmunya.

Maknanya:

  • ilmu tidak diamalkan,
  • ilmu tidak diajarkan,
  • ilmu dipendam karena ego, takut tersaingi, atau malas.

7)      العدل

عدوله عن الطريق القويم

Berpaling dari jalan yang lurus.

Yakni:
menyimpang dari istiqamah.

8)      التركيب

أن يشوب عمله بأفعال الجهل

Mencampur amalnya dengan perbuatan jahil.

Contoh:

  • ibadah bercampur riya’,
  • sedekah bercampur menyakiti,
  • dakwah bercampur kesombongan.

Amal tercampur racun.

9)      الألف

ألف أنا

Alif “Aku”.

Ini ego:

أنا = aku.

Aku lebih baik.
Aku lebih alim.
Aku lebih suci.

Ini akar iblis.

10)  النون

نون العظمة

Nun keagungan (merasa besar).

Kesombongan batin:

  • merasa penting,
  • merasa punya maqam,
  • merasa istimewa.

11)  وزن الفعل

أن يزن أعماله معتقدا أن عنده حاصلا فيحصل العجب

Menimbang-nimbang amalnya dan merasa dirinya telah memiliki sesuatu, lalu timbullah ‘ujub (bangga diri).

Ini penyakit halus:

  • merasa amal banyak,
  • merasa sudah dekat dengan Allah,
  • merasa selamat.

Akhirnya kagum pada diri sendiri.

Kalimat penutup:

فمتى اجتمعت علتان من هذه العلل لم ينصرف إلى القبول، وانحرف عن باب الوصول

Apabila berkumpul dua saja dari penyakit-penyakit ini, maka amal tidak akan mengalir menuju penerimaan (di sisi Allah), dan ia menyimpang dari pintu sampai (kepada Allah).

Maknanya:
cukup dua penyakit hati berkumpul:
→ amal terhalang diterima,
→ jalan ruhani menyimpang.

Kesimpulan

Dalam nahwu:

ada isim yang terhalang ṣarf.

Dalam hati:

ada amal yang terhalang diterima.

Penghalangnya:

  • cinta dunia,
  • haus popularitas,
  • riya’,
  • lemah tekad,
  • kufur nikmat,
  • menyembunyikan ilmu,
  • menyimpang,
  • amal bercampur hawa nafsu,
  • ego (أنا),
  • sombong,
  • ‘ujub.

Ringkasnya:

Yang paling sering menghalangi seseorang sampai kepada Allah bukan kurang amal, tetapi rusaknya niat dan tersembunyinya ego di dalam amal.

Sumber:

الكتاب: نحو القلوب

المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)

Baca juga:

Amal Seorang Hamba Di Saat Ini Adalah Apa Yang Mengangkatnya Dan Apa Yang Menjatuhkannya – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Tiga Hijab Hati dan Jalan Menuju Yaqin – Gramatika Qalbu - نحو القلوب

Peta Perjalanan Ruhani Seorang Hamba: Dari التلوين (Naik Turun Iman) Menuju  التمكين  (Keteguhan Ruhani) - نحو القلوب

BuraQ12: Surat Cinta dalam Tradisi Klasik: Ketika Pena Menj...

BuraQ12: Surat Cinta dalam Tradisi Klasik: Ketika Pena Menj...:

Title:  Surat Cinta dalam Tradisi Klasik: Ketika Pena Menjadi Jembatan Kerinduan Pendahuluan Sebelum hadirnya telepon, pesan instan, ...

Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)

وَالخَطَابَةُ

وَهِيَ قِيَاسٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ مُقَدِّمَاتٍ مَقْبُولَةٍ مِنْ شَخْصٍ مُعْتقَدٍ فِيهِ أَوْ مَظنْونَةٍ

والخطابة

(Khaṭābah / Retorika / Pidato Persuasif)

Khaṭābah adalah qiyās (argumen/silogisme) yang tersusun dari premis-premis yang diterima (maqbūlah) karena berasal dari seseorang yang dipercaya, dihormati, atau diyakini otoritasnya, atau tersusun dari premis-premis yang bersifat dugaan kuat (maẓnūnah).

Penjelasan sederhana

Jika sebelumnya:

  • Burhān → berdasar kepastian mutlak
  • Jadal → berdasar hal yang populer/disepakati

maka Khaṭābah → berdasar sesuatu yang diterima karena pengaruh pembicara, atau karena secara umum diperkirakan benar, walau belum sampai derajat yakin.

Jadi yang bekerja di sini bukan hanya logika murni, tetapi juga:

  • kepercayaan kepada pembicara,
  • wibawa/otoritas,
  • cara penyampaian,
  • pengaruh emosional,
  • dugaan kuat yang masuk akal.

Contoh maqbūlah (diterima karena otoritas)

Misalnya:

“Dokter mengatakan olahraga rutin menyehatkan tubuh.”

Karena dokter dianggap ahli, orang menerima premis itu.

Lalu:

Olahraga rutin menyehatkan tubuh
Saya perlu tubuh sehat
Maka saya harus olahraga

Ini bentuk khaṭābah.

Contoh maẓnūnah (dugaan kuat)

Misalnya:

“Orang yang rajin belajar biasanya berhasil.”

Ini bukan hukum pasti, tetapi dugaan kuat yang lazim diterima.

Dari sini dibuat argumen:

Rajin belajar biasanya membawa keberhasilan
Saya ingin berhasil
Maka saya harus rajin belajar

Ini juga khaṭābah.

Perbedaan tiga jenis ini

Jenis

Dasar premis

Hasil

Burhān

pasti / yakin

ilmu yakin

Jadal

populer / disepakati

menguatkan hujjah

Khaṭābah

diterima / dugaan kuat

mempersuasi / menggerakkan

 

Maksud Al-Abharī

Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī menjelaskan bahwa sebagian argumen bertujuan mempengaruhi jiwa dan meyakinkan orang, bukan dengan kepastian filsafati, tetapi dengan retorika yang diterima akal dan hati. Karena itu khaṭābah banyak dipakai dalam:

  • khutbah,
  • nasihat,
  • dakwah,
  • pidato,
  • pendidikan moral,
  • komunikasi publik.

Kesimpulan

Khaṭābah adalah argumen persuasif yang dibangun dari premis yang diterima karena otoritas atau dugaan kuat yang masuk akal, dengan tujuan meyakinkan dan menggerakkan orang, bukan semata-mata menghasilkan kepastian ilmiah. Singkatnya:

Burhān = membuktikan
Jadal = mendebat
Khaṭābah = meyakinkan / mempengaruhi

 

Sumber:

إيساغوجي

لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ)

Baca juga:

Syi‘ir Adalah Bentuk Qiyās Yang Menggunakan Ungkapan Yang Diterima Jiwa Dan Membangkitkan Imajinasi - Isagoge (إيساغوجي)

Argumen Persuasif Yang Dibangun Dari Premis Yang Diterima Karena Otoritas Atau Dugaan Kuat Yang Masuk Akal - Isagoge (إيساغوجي)

Kitab Mujarab

Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2d

Title: Kupas Tuntas Surat Al-Fatihah Bab Kedua: Turunnya, Hukum-Hukumnya dan 20 Masalah Penting Bagian 2d العاشرة- أما ما استدل به الأولون...