Peringatan Seputar Sifat Takjub (kagum) Dengan Diri Sendiri (‘Ujub)

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Hadda



فَصْل: ( في التحذير من الإعجاب بالنفس )
Fasal Tentang; Peringatan Seputar Sifat Ta’jub (kagum) Dengan Diri Sendiri (‘Ujub)

وأحذر العجب فإنه من المحبطات.
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((العجب يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب)).

Berhati-hatilah terhadap sifat ‘ujub karena sesungguhnya ia termasuk prilaku yang dapat menghapus ‘amal kebaikan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
“’Ujub dapat memakan ‘amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar “.

وقال - صلوات الله عليه وسلامه -: ((ثلاث مهلكات: شُحٌّ مُطَاع، وهوىً مُتَّبع، وإعجاب المرء بنفسه)).

Dan Rasulullah Shalawatullahi ‘alaihi wa salamuhu bersabda;
“Ada tiga hal yang dapat membinasakan seseorang, yaitu; Kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan ta’jub terhadap dirinya sendiri”.

والعجب عبارة عن نظر الإنسان إلى نفسه بعين التعظيم وإلى ما يصدر منه بعين الاستحسان. وعنه نشأ الإدلال بالعمل والتعاظم على الناس والرضى عن النفس.
وهو كما قال ابن عطاء الله - رحمه الله -: " أصل كل معصية وغفلة وشهوة الرضى عن النفس" انتهى.

‘Ujub adalah suatu ungkapan dari penilaian seseorang terhadap dirinya dengan penuh rasa bangga dan terhadap apa yang di lakukan olehnya dengan penilaian yang baik, dan dari sikap inilah timbul prilaku memamerkan ‘amal, merasa lebih muliya daripada orang lain dan merasa puas terhadap dirinya sendiri. Demikian itu Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Atha,illah rahimahullah; “Pangkal dari segala kema’shiyatan, kelalaian dan syahwat adalah sikap puas terhadap diri sendiri”.

ومن رضي عن نفسه عمي عن عيوبها، ومتى يفلح من يجهل عيوب نفسه؟
وعين الرضى عن كل عيبٍ كليلةٌ # ولكنَّ عينَ السخط تبدي المساويا

Barangsiapa yang merasa puas terhadap dirinya, maka ia akan buta terhadap aibnya sendiri, lalu kapan seseorang akan beruntung sedangkan ia tidak mengetahui aib dirinya sendiri?
Seorang penyair berkata;
Pandangan yang penuh dengan kepuasan akan menutup segala kekurangan # Dan pandangan yang penuh dengan kebencian akan menampakkan segala kejelekan

Peringatan Seputar Sifat Riya’ (Pamer)

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad



فَصْل : ( في التحذير من الرِّياء )
Fasal Tentang; Peringatan Seputar Sifat Riya’ (Pamer)

وإيَّاك والرياء فإنه يحبط العمل ويبطل الثواب ، ويوجب المقت والعقاب ، وقد سمَّاه رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم الشركَ الأصغرَ .

Janganlah sekali-kali kamu berlaku riya’, karena riya’ dapat menyia-nyiakan ‘amal, membathalkan pahala, dan mendatangkan murka serta hukuman Allah Ta’ala. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menamakannya; Syirik yang kecil.

وفي الحديث عنه صلَّى الله عليه وسلَّم : (( اول خلق الله تُصلَى بهم النار يوم القيامة ثلاثة : رجل قرأ القرآن ليُقالَ أنه قارئ ، ورجل استُشْهِدَ وما قاتل إلا ليُقالَ إنه جَرِيْءٌ ، ورجل له مال تصدَّق منه صدقة ليقال إنه جواد)) الحديث مختصر بمعناه .

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam;
Makhluk Allah yang pertama kali akan dimasukkan kedalam neraka kelak pada hari kiamat ada tiga, yaitu;
1.      Orang yang membaca Al-Quran agar dikatakan bahwa ia adalah orang yang pandai membaca.
2.      Orang yang yang mati syahid, namun ia tidaklah berperang melainkan agar dikatakan bahwa ia adalah seorang pemberani.
3.      Orang yang di beri keluasan harta kemudian ia mensedekahkannya agar dikatakan orang yang dermawan…”. Al Hadits secara ringkas.

والرياء عبارة عن طلب المنزلة عند الناس بعمل يُتقرَّب بمثله إلى الله تعالى، كالصلاة والصيام ،

Riya’ adalah suatu ungkapan dari mencari kedudukan di sisi manusia dengan meng’amalkan semacam ‘amalan yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, seperti shalat dan puasa.

فإذا احسستَ من نفسك بالرياء فلا تطلبنَّ الخلاص منه بترك العمل ، فتكون قد أرضيت الشيطان ؛ بل عليك أن تنظر، فكلُّ عمل لا تستطيع أن تعمله إلا حيث يراك الناس ؛ كالحج والجهاد وطلب العلم وصلاة الجماعة وما جرى مجرى ذلك ؛ فعليك أن تفعله ظاهراً كما أمرك الله ، وجاهد نفسك واستعن بالله ،

Dan apabila kamu merasa bahwa pada dirimu terdapat riya’, maka janganlah mengambil tindakan agar kamu terbebas darinya dengan cara meninggalkan ‘amal tersebut, sebab demikian itu sama halnya kamu membuat syaithan gembira, akan tetapi hendaknya kamu memandang bahwa setiap ‘amal tidak akan mampu engkau kerjakan kecuali orang-orang pasti melihatmu, seperti hajji, jihad, menuntut ‘ilmu, shalat berjama’ah, dan ‘amal-‘amal yang semisal dengannya, maka kamu mengerjakannya sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan kepadamu, perangilah hawa nafsumu dan memohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala.

وأما ما لا يكون من الأعمال بهذه المثابة؛ كالصيام والقيام والصدقة والتلاوة ؛ فعليك في مثل هذه الأعمال بالمبالغة في كتمانها ؛ فإنَّ فعلها في السَّرِ أفضل مطلقاً ، إلا لمَن أمنَ الرياء وأمَّل الاقتداء وكان من أهله .

Adapun ‘amal yang tidak sejenis dengan ‘amal-‘amal di atas seperti puasa, menegakkan ‘ibadah di malam hari, sedekah dan membaca Al-Quran, maka hendaklah kamu meng’amalkan ‘amal-‘amal semacam ini dengan melebih-lebihkan di dalam menyembunyikannya, karena sesungguhnya menng’amalkan ‘amal-‘amal semacam ini dalam keadaan sembunyi-sembunyi adalah lebih utama secara mutlak kecuali bagi orang yang aman dari riya’ dan berharap agar di ikuti oleh orang lain dan ia termasuk ahlinya.

Anjuran Berlaku Ikhlash

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad



فَصْل : ( في الحثِّ على الإخلاص )
Fasal Tentang; Anjuran Berlaku Ikhlash

قال الله تعالى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}[الذاريات: ٥٦].

Allah Ta’ala berfirman;
“Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Qs. Adz-Dzariyat: 56)

وقال تعالى: {يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ }[العنكبوت:56].

Allah Ta’ala berfirman;
“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja”.(Qs. Al-‘Ankabut: 56)

فعليك أيها المؤمن - وفَّقك الله - بالتفرغ لعبادة ربك بقطع ما يقطع عنها من القواطع، وصرف ما يصرف عنها من الصوارف والموانع.

Maka sudah menjadi kewajibanmu wahai orang-orang yang beriman -semoga Allah memberimu taufiq- untuk membaktikan diri kepada Tuhanmu dengan menghilangkan apa saja yang dapat memutuskan dari berbakti kepada-Nya, dan mengalihkan apa saja yang dapat menghalangimu dari ber’ibadah kepada-Nya.

واعلم أن العبادة لا تصح بدون العلم، والعلم والعبادة لا ينفعان الا مع الإخلاص. فعليك به فإنه القطب الذي عليه المدار والأصل الذي عليه المعوّل.

Ketahuilah bahwa ‘ibadah dengan tanpa ‘ilmu adalah tidak sah, ‘ilmu dan ‘ibadah tidak akan mermanfa’at kecuali di sertai keikhlasan, maka hendaklah kamu berpegang teguh dengannya, karena sesungguhnya keikhlasan merupakan poros segala peredaran ‘amal dan pokok sesgala harapan.

وهو كما قال أبو القاسم القشيري - رحمه الله -: الإخلاص إفراد الحق في الطاعة بالقصد، وهو أن تقصد بطاعتك التقرُّب إلى الله دون شيء آخر مِنْ تصنُّعٍ لمخلوق أو اكتساب مَحْمَدَة عند الناس، أومحبة مدح من الخلق أو معنى من المعاني سوى التقرب إلى الله".

Ikhlas sebagaimana yang didefinisikan oleh Abul Qosim Al-Qusyairy rahimahullah adalah; Meng-Esakan Allah al Haq dalam suatu katha’atan dengan di sertai suatu tujuan, yaitu dengan ketha’atanmu kamu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala semata tanpa tujuan lain yang berupa berpura-pura terhadap makhluk, mencari pujian di sisi manusia, merasa senang dengan pujian seseorang, atau tujuan lain seslain hanya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

قال: "ويصحُّ أن يقال: الإخلاص تصفية الفعل عن ملاحظة الخلق". انتهى، وهو القصد في هذا الباب.

Beliau Abul Qosim Al-Qusyairy rahimahullah berkata; ‘Benar juga bila di katakana bahwa ikhlas adalah; Memurnikan perbuatan dari perhatian makhluk’. Itulah yang di maksud dalam bab ini.

Peringatan Seputar Makan Makanan Haram Dan Syubhat

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad


فَصْل: (في التحذير من أكل الحرام والشبهات)
Fasal Tentang; Peringatan Seputar Makan Makanan Haram Dan Syubhat

وأما تناول الحرام والشبهات فهو لا محالة يصرف عن الطاعة، ويدعو إلى المعصية،

Adapun memakan makanan haram atau syubhat tidak diragukan lagi ia pasti mengalihkan dari ketha’atan dan mendorong pada kema’shiyatan.

وقد رُوِيَ مرفوعاً إلى رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((من أكل الحلال أطاعت جوارحه شاء أم أبى، ومن أكل الحرام عصت جوارحه شاء أم أبى)).

Diriwayatkan secara marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
“Barangsiapa memakan makanan halal, mau tidak mau seluruh anggota tubuhnya akan mengajak berbuat tha’at, dan Itarangsiapa memakan makanan haram, mau tidak mau seluruh anggota tubuhnya akan mengajak berbuat ma’shiyat”.

وفي الخبر أوالأثر: "كُلْ ما شِئتَ فمثلُهُ تعمل".

Disebutkan dalam sebuah khabar atau atsar; “Makanlah apa saja yang kamu kehendaki, maka seperti makanan itulah perbuatamu”.

وقال بعض العارفين: ما قطع الخلق عن الحق وأخرجهم من دائرة الولاية إلا عدم تفتيشهم عن هذه اللقمة .

Sebagian orang-orang ahli ma’rifat berkata; “Tidaklah memutuskan hubungan makhluk dari Allah al Haq, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari golongan kewaliyan kecuali karena tidak adanya ketelitian mereka dari makanan ini”.

وآكل الحرام و الشبهة وإن أطاع الله فطاعته غير مقبولة؛

Orang yang memakan makanan haram atau syubhat,  jika ia berbuat tha’at kepada Allah, maka ketaatannya tidak diterima.

لأن الله إنما يتقبل من المتقين، و الله طيب لا يقبل إلا طيباً؛ فأمسك أخي عن تناول الحرام وجوباً، وعن تناول الشبهات ورعاً،

Karena Allah Ta’ala hanya menerima dari dari orang-orang yang bertakwa, dan Allah Ta’ala adalah Dzat yang Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik, maka tahanlah dirimu wahai saudaraku dari mendapatkan barang haram karena menjalankan wajib, dan dari mendapatkan barang syubhat karena berlaku wira’i.

وعليك بطلب الحلال، فإن طلبه فريضة بعد الفريضة،

Hendaklah kamu mencari barang halal, karena mencari barang halal adalah suatu kewajiban setelah kewajiban yang lain.

فإذا ظفرت به فكل منه قصداً ، والبس منه قصداً ، ولا تسرف فإن الحلال لا يحتمل السرف ،

Apabila kamu mendapatkan barang halal, maka makanlah darinya sesuai kebutuhanmu, pakailah darinya sesuai dengan kebutuhanmu, dan janganlah berlebihan karena berlebihan dalam menggunakan perkara halal tidak di perbolehkan.

وإيَّاك والشبع فإنه من الحلال مبدأ كلِّ شرٍّ، فكيف من الحرام ؟

Waspadalah terhadap makan hingga kenyang, karena sesungguhnya makan makanan dari barang halal (hingga kenyang) merupakan awal dari stiap keburukan, lalu bagaimana jika makan makanan dari barang haram?

وقال عليه الصلاة والسلام: (( ما ملأ ابن آدم وعاء شرّاً من بطنه حسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة ؛ فثلث لطعامه و ثلث لشرابه وثلث لنفسه)) ، والسلام .

Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda;
“Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya, cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya, jika hal itu tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk barnafasnya”.
Wassalam.

Peringatan Seputar Angan-angan kosong

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad


فَصْل: ( في التحذير من طول الأمل )
Fasal Tentang; Peringatan Seputar Angan-angan kosong

وأما طول الأمل : فهو مذموم جداً، بل هو الذي يدعو إلى خراب الآخرة وعمار الدنيا،

Adapun angan-angan kosong, adalah suatu sifat yang sangat tercela, bahkan ia dapat menghancurkan akhiratnya dan meramaikan dunianya.

وقد قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: (( ينجو أوَّلُ هذه الأمة بالزهد في الدنيا وقصر الأمل، ويهلك آخرها بالحرص وطول الأمل)).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa alihi wasalam bersabda;
“Golongan pertama umat ini selamat karena barlaku zuhud terhadap dunia dan pendek angan-angan, sedangkan golongan terakhir umat ini akan celaka karena rakus terhadap dunia dan karena angan-angan kosong”.

وقال عليه الصلاة والسلام: ((من الشقاء أربع: جمود العين، وقسوة القلب، والحرص، وطول الأمل)).

Nabi ‘alihishshalatu wassalam bersabda;
“Empat hal yang mengakibatkan celaka; Mata yang beku, hati yang keras, tama’ dan angan-angan kosong”.

ومن دعائه عليه الصلاة والسلام: ((أعوذ بك من كل أملٍ يلهيني)).

Sebagian dari doa Nabi ‘alihishshalatu wassalam adalah;
“Aku berlindung kepada-Mu dari segala angan-angan yang dapat melalaikanku”.

وقال علي كرم الله وجهه: " أخوف ما أخاف عليكم اتِّباع الهوى وطول الأمل.

Imam ‘Aly Karramallah Wajhah berkata; “Perkara yang paling aku takutkan atas kalian adalah menuruti hawa nafsu dan angan-angan kosong”.

أما اتِّباع الهوى فيصدُّ عن الحق، وأما طول الأمل فينسي الآخرة".

Adapun menuruti hawa nafsu, ia akan mencegah seseorang dari perbuatan yang benar, sedangkan angan-angan kosong dapat melalaikan seseorang dari akhirat”.

ومن المأثور: من طال أمله ساء عمله .

Sebagian riwayat mengatakan; “Barangsiapa yang panjang angan-angannya maka buruklah ‘amalnya”.

فطول الأمل عبارة عن استشعار طول البقاء في الدنيا. وهو دالّ من صاحبه على فرط الحماقة ونهاية الغباوة ؛ فإنه قد ضيَّع الحزمَ وتَمَسَّك بالوهم،

Yang di maksud dengan angan-angan kosong adalah; Ungkapan dari perasaan seseorang yang memberikan kesan bahwa ia akan hidup selama-lamanya di dunia, hal ini menunjukkan bahwa orang memiliki angan-angan kosong berada di puncak kebodohan dan ketololan, karena ia benar-benar menghilangkan kemantapan hati dan berpegang teguh pada khayalan yang tiada berarti.

ولو قِيلَ له مساءً : هل تثق بالبقاء إلى الصباح ؟ أو صباحاً : هل تثق بالبقاء إلى المساء ؟ لقال : لا. ثم هو يعمل لدنياه عمل من لا يموت، حتى لو أنه أُخبر أنه يُخَلَّد في الدنيا لم يجد موضعاً للزيادة على ما هو عليه من الحرص والرغبة في الدنيا.

Jika ia ditanya di waktu sore; “Apakah kamu yakin bahwa kamu akan tetap hidup sampai esok?” Atau di waktu pagi; “Apakah kamu yakin bahwa kamu akan tetap hidup sampai sore?”. Pasti ia akan menjawab; “Tidak”. Sementara ia masih saja mengerjakan pekerjaan duniawinya bagaikan orang yang tidak akan mati, sehingga tidak ada tempat untuk tambahan atas ketamakan yang ada padanya dan kecintaannya terhadap dunia.

فمن أعظم حماقة مِمَّن هذه صفته ؟
Maka, siapakah yang lebih bodoh daripada orang yang sifatnya demikian?

ثم ان طول الأمل أصل لجملة من سيئات الأخلاق والأعمال التي تثبط عن الطاعة، وتدعو إلى الوقوع في المعصية، مثل الحرص والبخل وخوف الفقر.

Sesungguhnya angan-angan kosong adalah sumber dari berbagai macam perilaku yang jelek dan perbuatan yang jauh dari ketha’atan, bahkan dapat mendorong seseorang terjerumus dalam kema’shiyatan, seperti sikap tamak, pelit dan takut miskin.

ومن أعظمها قبحاً الاستئناس بالدنيا ، والأخذ في عمارتها، والسعي لجمع حطامها،

Prilaku paling buruk yang bersumber dari sifat tersebut adalah merasa senang dengan harta duniawi, bersungguh-sungguh dalam mema’murkan dan berusaha keras untuk mengumpulkannya.

وقد قال عليه الصلاة والسلام: (( بُعِثْتُ لخراب الدنيا، فمَن عمرها فليس مني)).

Nabi ‘alaihiashshalatu wassalam bersabda;
“Aku diutus untuk menghancurkan harta dunia, maka barangsiapa yang mema’murkannya ia bukan dari golonganku”.

وعن طول الأمل يكون التسويف، وهو العقيم الذي لا يَلِدُ خيراً قطُّ. يقال إن أكثر صياح أهل النار من سوف، فلا يزال المسوّف يتثاقل عن الطاعات ويؤخر التوبة عن السيئات حتى ينزل به الموت؛ فيقول: { رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ }[المنافقون: ١٠]،
Dan prilaku yang bersumber dari angan-angan adalah menunda-nunda, yaitu sikap mandul yang sama sekali tidak dapat melahirkan kebaikan apapun. Di katakan; Sesungguhnya kebanyakan jeritan penghuni neraka adalah disebabkan oleh sikap menunda-nunda, maka orang yang suka menunda-nunda tida henti-hentinya merasa berat untuk menjalankan ketha’atan dan mengakhirkan taubat dari keburukan-keburukan hingga ajal datang menjemputnya; “lalu ia berkata; Wahai Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih? ”.(Qs. Al-Munafiqun: 10).

فيقال له: {وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا}[المنافقون:١١]،

Maka dikatakan kepadanya;
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya”.( Qs. Al-Munafiqun: 11).

{أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ، فذوقوا فما للظالمين من نصير}[فاطر: ٣٧].

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (‘adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun”.(Qs. Faathir: 37).

فيخرج من الدنيا بخسارة لا آخر لها، وندامة لا انتهاء لها؛ فقصّر يا أخي أملك ! وليكن أجلك نصب عينيك، وأملك وراء ظهرك.

Maka ia keluar dari dunia ini dengan membawa kerugian yang tiada batasnya, dan penyesalan yang tiada akhirmya, oleh karena itu pendeklah angan-anganmu wahai saudaraku! Dan jadikanlah ajalmu selalu berada di depan kedua matamu dan angan-anganmu berada di balik punggungmu.

واستعن على ذلك بالإكثار من ذكر هادم اللذات ومفرق الجماعات، وتفكر فيما اندرج أمامك من المعارف والقربات. واستشعر فرب الموت فإنه أقرب غائب ينتظر، وكن مستعداً له متخوّفاً هجومه في جميع الحالات.

Jadikanlah sebagai penolong atas hal tersebut banyak-banyak menginngat pemutus keni’matan dan pemisah kesatuan yaitu kematian, berfikirlah tentang orang-orang yang kamu kenal dan kerabatmu-kerabatmu yang telah pergi mendahuluimu, rasakanlah dekatnya kematian karena sesungguhnya ia paling dekat-dekatnya perkara ghaib yang din anti-nanti kedatanyannya, dan jadilah kamu orang yang bersiap-siap untuk menghadapinya, merasa takut akan kedatangannya di setiap keadaan.

وقد كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول: ((والذي نفسي بيده ما رفعت طرفي وظننت أني اخفضه حتى أُقْبَضَ، ولا أكلت لقمة فظننت أني أسيغها حتى أغص بها من الموت)) ... الحديث،

Dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda;
“ Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah aku mengangkat pandanganku sedangkan aku mengira bahwa aku dapat menurunkannya sebelum nyawaku dicabut, dan tidaklah aku makan sesuap makanan pun sedangkan aku mengira bahwa aku dapat menelannya sebelum makanan itu tertahan di kerongkonganku karena kematian”.

وربما ضرب عليه السلام بيده على الحائط للتيمم، فيقال له: إن الماء منك قريب، فيقول: لا أدري لعلي لا أبلغه.

Terkadang Nabi ‘alaihishshalatu wassalam memukulkan tangannya pada sebuah dinding untuk bertayammum, lalu dikatakan kepada beliau; ‘Sesungguhnya air dekat darimu’, beliau menjawab; “Aku tidak tahu boleh jadi aku tidak dapat mencapainya”.

وكان الصديق رضي الله عنه ينشد:
كل امرىء مصبح في أهلِهِ # والموت أدنى من شِراكِ نعلِهِ

Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallahu ‘anh bersenandung;
Semua orang menghadapi keluarganya dipagi hari # Sementara kematian lebih dekat dari tali sandalnya

قال حجة الإسلام - رحمه الله -: اعلم أن الموت لا يهجم في وقتٍ مخصوص وحال مخصوص وسنّ مخصوص ولابُدَّ من هجومه، فالاستعداد له أولى من الاستعداد للدنيا.

Hujjatul Islam Imam al Ghazali berkata; “Ketahuilah bahwa kematian tidaklah datang pada waktu tertentu, pada keadaan tertentu atau pada usia tertentu, yang jelas ia pasti datang, maka bersiap-siap untuk menghadapinya adalah lebih utama dari pada bersiap-siap untuk menghadapi dunia”.

Peringatan Seputar Lemahnya Keimanan

Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad



فَصْل: (في التحذير من ضعف الإيمان)
Fasal Tentang; Peringatan Seputar Lemahnya Keimanan

وأما ضعف الإيمان : فهو بلية عظيمة، وخلة ذميمة تنشأ عنها أمور مذمومة: مثل ترك العمل بالعلم، وترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، والأماني فى المغفرة بلا سعي لها، والاهتمام بالرزق وخوف الخلق إلى غير ذلك من الأخلاق المشؤومة، وعلى قدر إيمان العبد يكون امتثاله للأمر واجتنابه للنهي.

Adapun lemahnya keimanan, ia merupakan bencana yang teramat besar, dan sifat tercela yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti meninggalkan mengam’alkan ‘ilmu, meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, mengharapkan ampunan Allah Ta’ala tanpa disertai usaha untuk memperolehnya, merasa khawatir dengan masalah rizki, dan takut terhadap manusia serta sifat-sifat tercela lainnya. Dan atas kadar keimanannyalah seorang hamba dapat mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya.

وأدل دليل على ضعف إيمانه تركه للموافقات وارتكابه للمخالفات. فعلى كل مؤمن أن يسعى في تقوية إيمانه.

Bukti paling kuat yang menunjukkan atas kelemahan imannya adalah ia meninggalkan hal-hal yang diperintahkan dan melakukan perbuatan yang di larang. Maka bagi setiap mu’min hendaknya berusaha untuk memperkuat keimanannya.

والأمور التي يقوى بها الإيمان ويزيد ثلاثة:
أحدها: أن يصغي بسمعه إلى الآيات والأخبار التي فيها ذكر الوعد والوعيد وأمور الآخرة، وإلى قصص الأنبياء وما أُيِّدوا به من المعجزات، وما حلَّ بمعانديهم من المثلات، وإلى ما كان عليه السلف الصالح من الزهادة في الدنيا والرغبة في الآخرة؛ وإلى غير ذلك من الأدلة السمعية.

Adapun langkah-langkah yang dapat memperkuat dan menambah keimanan ada tiga, yaitu;
1.      Mendengarkan dengan seksama ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengingatkan terhadap janji dan ancaman Allah Ta’ala serta perihal akhirat, kisah-kisah para Nabi dan mu’jizat-mu’jizat yang memperkuat mereka, tentang beramacam-macam contoh siksa yang terjadi pada orang-orang terdahulu sebab mereka menentangnya, dan meneladani kehidupan para salafush shalihin yang meninggalkan kemewahan duniawi (zuhud) dan cinta akhirat, serta petunjuk-petunjuk lain yang dapat di dengar dari para ‘ulama.

الثاني: أن ينظر بعين الاستبصار والاستدلال إلى ملكوت السموات والأرض وما بينهما من عجائب الآيات وبدائع المصنوعات.

2.      Memandang dengan pandangan yang arif-bijaksana dan mengambil pelajaran terhadap kerajaan langit dan bumi, terhadap keajaiban-keajaiban tanda kebesaran Allah Ta’ala serta keindahan-keindahan ciptaan-Nya yang ada di dalamnya.

الثالث: أن يواظب على العمل بالصالحات ويحترز من الوقوع في المعاصي والسيئات، فإن الإيمان قول وعمل، يزيد بالطاعة ويقلُّ بالمعصية.

3.      Tekun ber’amal dengan ‘amal-‘amal shalih dan menjaga diri agar jangan sampai terjerumus kedalam perbuatan ma’shiyat atau perbuatan buruk lainnya. Karena iman merupakan perpaduan antara ucapan dan perbuatan, dan iman bisa bertambah dengan berbuat tha’at dan bisa berkurang dengan berbuat ma’shiyat
.
وكلُّ هذه المذكورات يزيد بها الإيمان ويقوى بها الإيقان، والله المستعان.

Semua yang telah di sebutkan ini adalah untuk menambah keimanan dan memperkuat keyakinan. Hanya kepada Allah Ta’ala tempat memohon pertolongan. Dan hanya Allah sajalah tempat memohon pertolongan.

Peringatan Seputar Kebodohan


Kitab Risalah al-Mudzakarah
Ma'al Ikhwan al-Muhibbin Min Ahlil Khair Wad Din 
Lil Imam al-Habib Abdullah al-Haddad



فَصْل: ( في التحذير من الجهل )
Fasal Tentang; Peringatan Seputar Kebodohan

أما الجهل : فهو أصل كل شرٍّ ومنشأ كلِّ ضرر، وهو وأهله داخلون في عموم قوله -صلى الله عليه وسلم-: ((الدنيا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذكر الله وعالمٌ و متعلم)).

Adapun kebodohan, ia merupakan sumber dari segala keburukan, penyebab dari berbagai macam kerusakan, dan kebodohan berikut orang-orangnya termasuk dalam ke umuman sabda Nabi Shalallahu alaihi wa alihi wasalam;
“Dunia itu terla’nat, dan terla’natlah apa yang ada didalamnya, kecuali dzikr kepada Allah, orang ‘alim dan orang yang menuntut ilmu”.

ويروى: "إن الله لما خلق الجهل قال له اقبل فأدبر، فقال له أدبر فأقبل، فقال له: وعزتي ما خلقت خلقاً أبغض إليّ منك، ولأجعلنك في شرار خلقي)).

Dan diriwayatkan;
“Sesungguhnya Allah ketika menciptakan kebodohan Dia berkata kepadanya; ‘Menghadaplah’, lalu ia pergi. Kemudian Allah berkata kepadanya; ‘Pergilah’, lalu ia datang. Maka Allah berkata kepadanya; ‘Demi Kemulian-Ku, tidaklah Aku menciptakan suatu makhluk pun yang lebih Aku benci dari pada dirimu, dan sungguh Aku pasti akan menjadikanmu dikalangan makhluk-Ku yang paling buruk’”.

وقال علي - كرم الله وجهه -: "لا عَدُوَّ أعدى من الجهل، والمرء عدوّ ما جهل".

Imam Ali karramallahu wajhah berkata; “Tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan, dan musuh seseorang adalah kebodohannya”.

وذمُّ الجهل معلوم بالنقل والعقل، لا يكاد يخفى على أحد، والجاهل واقع في ترك الطاعات وفعل المعاصي شاء أم أبى، فإنه لا يدري أي شيء الطاعة التي أمره الله بفعلها، ولا أي شيء المعصية التي نهاه الله عن ارتكابها، ولا يخرج من ظلمات الجهل الا بنور العلم،

Celaan terhadap kebodohan dapat di ketahui dengan riwayat-riwayat atau dengan akal, hal itu hampir saja tidak ada yang tersembunyi bagi seorangpun, mau tidak mau orang yang bodoh pasti terjerumus meninggalkan ketha’atan dan melakukan kema’shiyatan, karena ia tidak mengetahui mana ketha’atan yang di perintahkan Allah kepadanya yang harus di lakukan, dan ia pun tidak mengatahui mana kema’shiyatan yang dilarang oleh Allah baginya yang tidak boleh di kerjakan, dan seseorang tidak bias keluar dari gelapnya kebodohan kecuali dengan cahaya ‘ilmu.

ولله درُّ الشيخ علي بن أبي بكر، حيث يقول:
الجهل نار لدين المرء يحرقه # والعلم ماء لتلك النار يطفيها

Sungguh indah perkataan Syeikh ‘Aly bin Abi Bakar, ia berkata dalam sya’irnya;
Kebodohan bagaikan api yang membakar agama seseorang # Sedangkan ‘ilmu bagaikan air yang memadam-kan api tersebut

فعليك أن تعلم ما أوجب الله عليك علمه، وليس بواجب عليك أن تتسع في العلم، بل عليك أن تتعلم ما لا يصلح إيمانك بدونه من علوم الإيمان.

Oleh karena itu, hendaklah kamu mempelajari ‘ilmu yang Allah Ta’ala wajibkan bagimu untuk diketahui, dan lebih memperluas ‘ilmu bukan merupakan kewajiban bagimu, bahkan kewajibanmu adalah mempelajari ‘ilmu (‘aqidah), yang mana keimananmu tidak akan sempurna tanpa dengannya.

وعليك أن تتعلم كيف تؤدي ما افترض الله عليك من طاعته، وكيف تتجنب ما نهاك عنه من معصيته. وجوباً فورياً في الفوريات، وموسعاً في المُوَسَّعَات.

Dan hendaknya kamu juga mempelajari ‘ilmu tentang bagaimana caranya agar kamu dapat menunaikan setiap apa yang Allah Ta’ala wajibkan kepadamu perihal ketha’atan kepada-Nya, dan bagaimana caranya agar kamu bisa menghindari dari setiap apa yang Allah Ta’ala larang bagimu perihal kema’shiyatan, dengan ketentuan wajib mencari dengan segera untuk hal-hal yang segera (yang di butuhkan pada masa sekarang), dan tidak wajib dengan segera untuk hal-hal yang lapang (yang di butuhkan pada masa mendatang).

وقد كان مالك بن دينار - رحمه الله - يقول: "من طلب العلم لنفسه فالقليل منه يكفيه، ومن طلب العلم للناس فحوائج الناس كثيرة".

Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata; “Barangsiapa yang menuntut ‘ilmu untuk kepentingan dirinya sendiri, maka ‘ilmu yang sedikit sudah mencukupinya, dan barangsiapa yang menuntut ‘ilmu untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya kepentingan manusia itu sangat banyak”.

Kitab Mujarab

Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab?

باب هل ورد في القرآن كلمات خارجة عن لغات العرب أولا Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-Kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab? لا خلاف بي...