KEUTAMAAN BULAN RAMADLAN KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJLIS 01

KEUTAMAAN BULAN RAMADLAN


DURRATUN NASHIHIN
Majlis 01;


Surat Al Baqarah 185
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ (سورة البقرة ١٨٥)
“Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya di turunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.(Qs. Al Baqarah 185).

Kata (شَهْرُ رَمَضَانَ ) adalah mubtada’, khabarnya adalah kata yang jatuh setelahnya, atau menjadi khabar dari mubtada’ yang di buang yang berupa kata ذٰلِكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ “ (Bulan itu adalah bulan Ramadlan), atau di baca nashab ( شَهْرَ رَمَضَانَ ) karena menyimpan kata “صُوْمُوْا  “ (berpuasalah pada bulan Ramadlan), atau di baca nashab karena menjadi maf’ulnya kata “وَاَنْ تَصُوْمُوْا  “ namun ini dlo’if (lemah), atau di baca nashab karena menjadi badalnya kata “أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ  “.
Kata “الشَّهْرُ  “ berasal dari kata “الشُّهْرَةُ  “, dan kata “رَمَضَانٌ  “ masdar (asal kata) dari kata “رَمَضَ  “ (panas/terbakar), kemudian kata “الشَّهْرُ  “ di mudlafkan (di gabungkan) pada kata “رَمَضَانٌ  “ (menjadi;شَهْرُ رَمَضَانَ  ) dan di jadikan isim alam (nama-nama sesuatu) dan tidak bisa menerima tanwin karena memiliki dua ‘illat (penyakit/cacat) yang berupa ‘alamiyah (nama-nama sesuatu) dan tambahan alif dan nun seperti halnya kata “دابةُ  “ (nama anak burung gagak), ia tidak bisa menerima tanwin karena memiliki ‘illat ‘alamiyah dan ta’nits. Sedangkan sabda Nabi ‘alaihishshalatu wassalam; “ مَنْ صَامَ  رَمَضَانَ “, dengan membuang mudlof (شَهْرُ  ) karena aman dari kerancuan.
Bulan itu dinamakan bulan Ramadlan adakalanya karena pada bulan itu sesorang akan merasa kepanasan dari panasnya rasa lapar dan dahaga, atau karena terbakarnya dosa pada bulan itu, atau karena bulan Ramadlan jatuh pada hari-hari yang panas yaitu disaat ‘Ulama’ mengutip nama-nama bulan dari bahasa kuno.

الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ "Bulan yang di dalamnya di turunkan Al Qur’an", maksudnya adalah turunnya Al Qur’an dimulai pada bulan Ramadlan tepat pada malam Lailatul Qadar, atau pada saat itu Al Qur’an diturunkan ke langit bumi secara global kemudian diturunkan ke bumi secara di angsur, atau Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan tentang puasa, demikian itu adalah Firman Allah Ta’ala; “diwajibkan atas kamu berpuasa” (Qs. Al Baqarah 183).

Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam; “Mushhaf Nabi Ibrahim ‘alaihishshalatu wassalam diturunkan pada malam pertama dari bulan Ramadlan, Tuarat diturunkan pada tanggal 6 Ramadlan, Injil pada tanggal 13, Zabur pada tanggal 18 dan Al Qur’an pada tanggal 24 Ramadlan”.

Maushul (kata penghubung) “الَّذِي  “ dan shilah maushul (penyambung) “أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ  “ menjadi khabar mubtada’, atau menjadi shifatnya mubtada’ dan khabarnya adalah “ فَمَنْ شَهِدَ “, fa’nya adalah untuk menshifati mubtada’ dengan kata yang menyimpan ma’na syarat.

Firman Allah yang berupa  الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ  “Bulan yang di dalamnya di turunkan Al Qur’an” menunjukkan bahwa diturunkannya Al Qur’an pada bulan Ramadlan menjadi sebab ditentukannya kewajiban berpuasa pada bulan Ramadlan.

هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ   “sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil”, menjadi Hal nya “الْقُرْآَنُ  “, maksudnya Al Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan dan Al Qur’an adalah sebagai petunjuk dari Allah bagi manusia berupa mu’jizat yang mengalahkan, berupa ayat-ayat yang jelas yang menunjukkan pada perkara hak dan didalamnya berupa beberapa hikmah dan hukum yang membedakan antara yang hak dan yang bathil.(Qodli Baidlowi).
________________________________

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu ia berkata; Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Celakalah seseorang yang ketika namaku disebut disisinya namun dia tidak bershalawat kepadaku, celakalah seseorang yang memiliki kedua orang tua atau salah satunya namun dia tidak berbakti kapadanya dengan melakukan suatu perbuatan yang dapat menyebabkan masuk sorga, dan celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadlan dan bulan Ramadlan sempurna sementara dia belum mendapatkan ampunan”. Karena bulan Ramadlan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala, maka apabila dia tidak mendapatkan ampunan pada bilan Ramadlan, dia adalah orang yang rugi.(Zubdatul Wa’idzin).

Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam; “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sebanyak seratus kali pada malam Jum’at maka kelak pada hari kiamat ia akan datang dengan bercahaya yang apabila dibagi-bagikan pada seluruh makhluk niscaya cahaya tersebut mencukupinya”.(Zubdatul Wa’idzin).

Diriwayatkan dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Barangsiapa yang berbahagia dengan masuknya bulan Ramadlan maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka”.

Dan Nabi ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Apabila malam pertama bulan Ramadlan tiba, Allah Ta’ala berfirman; “Siapakah orang yang mencintai-Ku, Aku-pun akan mencintainya? Siapakah orang yang mencari-Ku, Aku-pun akan mencarinya? Siapakah orang yang memohon ampun kepada-Ku, Aku-pun akan mengampuninya lantaran kemuliaan bulan Ramadlan”, Lantas Allah Ta’ala mengutus malaikat  Kirom Al Katibin (pencatat ‘amal) untuk mencatat ‘amal-‘amal kebaikan di bulan Ramadlan untuk mereka serta untuk yidak mencatat ‘amal-‘amal kejelekan mereka dan Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa mereka yang telah lewat”.

Diriwayatkan bahwa Mushhaf Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diturunkan pada malam pertama dari bulan Ramadlan, Taurat pada malam ke enam dari bulan Ramadlan selisih 700 tahun setelah Mushhaf Nabi Ibrahim ‘alaihissam, Zabur pada malam ke duabelas dari bulan Ramadlan 500 tahun lebih setelah Tiarat, Injil pada malam ke 18 dari bulan Ramadlan setelah Zabur selisih 1200 tahun, dan Al Qur’an pada malam ke 27 dari bulan Ramadlan setelah Injil selisih 620 tahun.(Kitab Al Hayat).

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata; Aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Senadainya ummatku mengetahui keutamaan yang ada dalam bulan Ramadlan niscaya mereka berharap agar semua tahin dijadikan Ramadlan”. Karena kebaikan terkumpul dalam bulan Ramadlan, ketha’atan diterima, do’a dikabulkan, dosa diampuni dan sorga cinta kepada mereka.(Zubdatul Wa’idzin).

Dari Hafs Al Kabir ia berkata; Dawud At Tho’iy berkata; Kantuk memaksaku tidur pada malam pertama di bulan ramadlan, kemudian aku bermimpi melihat sorga dan aku seakan-akan duduk ditepi bengawan yang tercipta dari intan dan yaqut. Tiba-tiba aku melihat beberapa bidadari sorga yang cahaya wajahnya bagaikan sinar matahari, lalu aku mengucapkan; Laa ilaa ha illallaah Muhammadurrasulullaah, bidadari itupun mengucapkan; Laa ilaa ha illallaah Muhammadurrasulullaah dan berkata; Kami  adalah milik orang-orang yang senantiasa memuji Allah, ruku dan sujud di bulan Ramadlan. kraena ucapan itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sorga cinta pada tiga golongan; Orang yang membaca Al Qur’an, orang yang menjaga lisan dan orang yang berpuasa di bulan Ramadlan”.(Rawnaqul Majalis).

Dalam sebuah khabar disebutkan; “Apabila datang bulan Ramadlan ‘Arsy, Kursiy, malaikat dan makhluk selain mereka berteriak dan berkata; Beruntunglah ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kemuliaan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, matahari, bulan, bintang, burung di udara, ikan di laut dan semua makhluk yang bernyawa dimuka bumi diwaktu siang dan malam kecuali syaithan yang terla’nat memohonkan ampun untuk mereka, apabila pagi tiba Allah Ta’ala tidak membiarkan seorangpun kecuali mengampuninya, dan Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat; Berikanlah pahala shalat dan bacaan tasbih kalian di bulan Ramadlan kepada ummat Muhammad ‘alaihishahalatu wassalam”.

Diceritakan bahwa salah seorang yang bernama Muhammad tidak pernah shalat sama sekali, namun ketika masuk bulan Ramadlan dia menghiasi dirinya dengan pakaian dan wewangian lalu mengerjakan shalat dan mengganti shalat yang telah ditinggalkannya. Kemudian dia ditanya; Untuk apa kamu melakukan itu? Dia menjawab; Ini adalah bulan taubat, rahmat dan barakah, mudah-mudahan Allah mengampuniku dengan karunia-Nya. Setelah mati, dia di impikan dan ditanya; Apa yang Allah Ta’ala perbuat denganmu? Dia menjawab; Tuhanku telah mengampuniku lantaran aku memuliakan dan mengagungkan bulan Ramadlan.

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khatthab radliallahu Ta’ala ‘anhu dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Ketika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya di bulan Ramadlan, bergerak-garak di atas alas tidurnya dan berbolak balik dari satu sisi ke sisi lainnya maka malaikat berkata kepadanya; Bangunlah semoga Allah memberkahi dan mengasihimu, apabila dia telah bangun dengan niyat mengerjakan shalat maka alas tidurnya berdo’a untuknya; Wahai Allah, semoga Engkau memberi dia alas tidur yang tebal lagi empuk, ketika dia mengenakan pakaiannya, pakaiannya berdo’a; Wahai Allah, semoga Engkau memberinya pakaian dari sorga, ketika memakai sandalnya, sandalnya berdo’a untuknya; Wahai Allah, semoga Engkau menetapkan kedua kakinya di atas shirath, ketika mengambil wadah air, wadak berdo’a untuknya; Wahai Allah, semoga Engkau memberinya wadah dari sorga, ketika berwudlu’, air berdo’a; Wahai Allah, semoga Engkau mensucikan dia dari salah dan dosa, dan ketika berdiri untuk melaksanakan shalat, rumahnya berdo’a: Wahai Allah, semoga Engkau meluaskan dan menerangkang kuburnya dan menambahkan rahmat kepadanya. Dan Allah memandangnya dengan kasih sayang, ketika berdo’a Allah berfirman; Wahai hamba-Ku, engkau yang berdo’a dan Aku yang mengabulkan, engkau yang meminta dan Aku yang memberi, engkau yang memohon ampun dan Aku yang memberi ampunan.(Zubdatul Wa’idzin).

Dalam sebuah khabar disebutkan; “Kelak pada hari kiamat Ramadlan akan datang dalam bentuk sebaik-baiknya bentuk lalu bersujud di hapan Allah, Allah berfirman; ‘Wahai Ramadlan sampaikanlah hajadmu dan peganglah tangan orang-orang yang mengerti terhadap hakmu. Lantas Ramadlan mengelilingi pelataran kiamat mencari dan memegang tangan orang-orang yang mengerti terhadap haknya lalu membawa pergi kehadanpan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala bertanya; Wahai Ramadlan, apa yang kamu inginkan? Ramadlan menjawab; Aku ingin agar Engkau memberinya mahkota ketenangan. Lantas Allah Ta’ala memberinya seribu mahkota, memberinya idzin untuk memberi syafa’at kepada orang-orang yang berdosa besar dan mengawinkannya dengan seribu bidadari yang masing-masing bidadari memiliki 70 ribu pelayan lalu menaikkannya keatas buraq. Allah Ta’ala bertanya lagi; Wahai Ramadlan, apa yang kamu inginkan? Ramadlan menjawab; Semoga Engkau menempatkannya bertetangga dengan Nabi-Mu. Kemudian Allah Ta’ala menempatkannya didalam sorga Firdaus. Dan Allah Ta’ala bertanya lagi; Wahai Ramadlan, apa yang kamu inginkan? Ramadlan menjawab; Engkau telah memenuhi semua hajatku Wahai Tuhanku, kini dimana kemurahan-Mu? Maka Allah Ta’ala memberinya 100 kota dari Yaqut merah dan Zabarjad hijau, dan dalam setiap kota terdapat seribu istana”.(Zahratur Riyadl).

Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud radliyallahu ‘anhu dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Orang yang paling dekat denganku kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku”.

Diriwayatkan dari Zaid bin Rafi’ dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sebanyak seratus kali setiap malam Jum’at maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun banyak seperti buih lautan”.(Zubdatul Wa’idzin).

Diriwayat oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah; “Barangsiapa yang menegakkan bulan Ramadlan” (maksudnya barangsiapa yang menghidupkan malam-malam bulan Ramadlan dengan ber’ibadah pada selain Lailatu Qadar secara perkiraan. Atau maksudnya barangsiapa yang mengerjakan shalat Tarawih) “dengan penuh ke imanan” (maksudnya meyakini tentang pahala ‘ibadah malam) “dan mengharap ridla Allah”, (maksudnya dengan ikhlash)( kata إِيْمَانًا dan  إِحْتِسَابًاdibaca Nashab karena menjadi Hal atau menjadi Maf’ul Lah) maka dosa-dosanya yang telah lalu akan di ampuni”.(Masyariq).

Diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Apabila hari pertama bulan Ramadlan tiba, maka angin Mutsirah (angin sepoi-sepoi) bertiup dari bawah ‘Arsy menggerakkan dedaunan pohon sorga dan mengeluarkan suara merdu yang belum pernah didengar oleh siapapun, lalu bidadari melihatnya dan berkata; Wahai Allah, jadikanlah hamba-hamba-Mu yang berpuasa di bulan ini suami bagi kami. Maka tidaklah seorangpun yang berpuasa di bulan Ramadlan kecuali Allah Ta’ala memberinya istri dari bidadari tersebut yang dipingit dalam rumah, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Kalam Qadim-Nya; “Bidadari yang cantik jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah”. (Qs, Al Qaqi’ah 72). Masing-masing bidadari memiliki 70 pakaian dengan warna yang berbeda, dan setiap istri memiliki ranjang yang terbuat dari yaqut merah yang dirajut dengan intan, dan pada setiap ranjang terdapat 70 kasur dan 70 macam hidangan. Ini semua untuk orang yang berpuasa di bulan Ramadlan selain perbuatan yang berupa ‘amal kebaikan”. Karena itu, di anjurkan bagi orang-orang yang beriman untuk memuliakan bulan Ramadlan, menjaga diri dari perbuatan munkar, menyibukkan diri dengan ketha’atan berupa shalat, membaca tasbih, dzikir dan membaca Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihishshalatu wassalam; Sungguh Aku akan memberi ummat Muhammad dua cahaya agar mereka selamat dari dua kegelapan. Nabi Musa bertanya; Apakah dua cehaya itu wahai Tuhanku? Allah Ta’ala menjawab; Cahaya Ramadlan dan cahaya Al Qur’an. Nabi Musa bertanya lagi; Apakah dua kegelapan itu wahai Tuhanku? Allah menjawab; Kegelapan alam kubur dan hari kiamat.(Durratul Wa’idzin).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radliyallahu Ta’ala ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; “Barangsiapa yang menggelar majlis ‘ilmu pada bulan Ramadlan, maka Allah Ta’ala akan mencatat setiap langkahnya dengan ‘ibadah setahun dan dia akan bersamaku dibawah ‘Arsy. Barangsiapa yang melanggengkan shalat berjama’ah di bulan Ramadlan, maka Allah Ta’ala akan memberinya dari setiap raka’at dengan kota yang penuh dengan ni’mat-ni’mat Allah Ta’ala. Berangsiapa yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya di bulan Ramadlan, maka dia akan memperoleh pandangan Rahmat-Nya Allah Ta’ala, dan aku yang akan menanggungnya di sorga. Dan tidaklah seorang wanitapun yang mencari ridla suaminya di bulan Ramadlan kecuali dia mendapatkan pahala seperti pahala sayyidah Maryam dan sayyidah Asiyah. Dan barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya sesama muslim di bulan Ramadlan, maka Allah Ta’ala akan memenuhi seribu hajat baginya kelak pada hari kiamat”.

Diriwayatkan dari Abu Harairah radliyallahu ‘anhu ia berkata; Rasulullah ‘alaihishshalatu wassalam bersabda; “Barangsiapa yang memberi lampu pada salah satu masjid dari masjid-masjid-Nya Allah di bulan Ramadlan, maka dia akan mendapatkan cahaya terang dalam kuburnya, mendapatkan pahala orang yang shalat di masjid itu, dan para malaikat serta malaikat Hamalatul ‘Arsy (malaikat yang memikul ‘Arsy) memohonkan ampun untuknya selama lampu tersebut masih berada dalam masjid”.(Dakhiratul ‘Abidin).

Diriwatkan dari Nabi ‘alaihishshalatu wassalam beliau bersabda; “Apabila malam pertama bulan Ramadlan telah tiba, maka syaithan-syaithan yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka dikunci dan tidaklah satu pintupun yang dibuka, sementar pintu-pintu sorga dibuka dan tidaklah satu pintupun yang ditutup, dan setiap malam dari bulan Ramadlan Allah Ta’ala berfirman sebanyak tiga kali; Adakah orang yang meminta, maka Aku akan memenuhi permintaannya? Adakah orang yang bertaubat, maka Aku akan menerima taubatnya? Adakah orang yang memohon ampun, maka Aku akan mengampuninya?, dan setiap malam dari bulan Ramadlan Allah Ta’ala memerdekakan sejuta orang dari neraka dari golongan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa, apabila hari Jum’at, Allah Ta’ala memerdekakan sejuta orang dari neraka dalam setiap jamnya, dan di akhir bulan Ramadlan Allah Ta’ala memerdekakan sebanyak bilangan orang yang telah dimerdekakan sejak awal bulan Ramadlan”.(Zubdatul Wa’idzin).

Berpuasa pada hari yang meragukan ada tujuh macam; Tiga di antaranya boleh tetapi makruh, dan yang tiga lagi boleh tanpa makruh, sedang yang satu sama sekali tidak boleh.
Adapun tiga macam puasa yang boleh tetapi makruh ialah;
1.      Apabila seorang yang berpuasa pada hari yang meragukan dengan niyat puasa Ramadhan.
2.      Apabila dengan puasanya itu, berniyat menunaikan kewajiban yang lain.
3.      Apabila ia berpuasa pada hari itu dengan niyat ragu-ragu, ya’ni ia berniyat; Jika hari ini termasuk bulan Ramadlan, maka ini adalah puasa Ramadlan, dan jika termasuk bulan Sya’ban, maka ini adalah puasa Sya’ban. Semua ini boleh.

Adapun tiga macam yang boleh tanpa makruh ialah; Apabila ia berpuasa pada hari yang meragukan;
1)      Dengan niyat puasa Tathawwu’ (sunnah).
2)      Dengan niyat puasa Sya’ban.
3)      Dengan niyat puasa mutlak.

Sedangkan satu macam puasa yang sama sekali tidak boleh ialah; Apabila ia berpuasa pada hari yang meragukan dengan catatan; Jika hari ini termasuk bulan Ramadhan, maka aku berpuasa, sedang jika bukan, maka bukan berpuasa. Berpuasa seperti ini sama sekali tidak boleh.(Qadhikhan)

________________________________

النوع الثاني ـ الصوم الحرام عند الجمهور أو المكروه تحريماً عند الحنفية: وهو ما يأتي: إلى أن قال:
2 - صوم يوم الشك: وهو يوم الثلاثين من شعبان إذا تردد الناس في كونه من رمضان، وللفقهاء عبارات متقاربة في تحديده، واختلفوا في حكمه، مع اتفاقهم على عدم الكراهة وإباحة صومه إن صادف عادة للمسلم بصوم تطوع كيوم الاثنين أو الخميس.
فقال الحنفية (1) : هو آخر يوم من شعبان يوم الثلاثين إذا شك بسبب الغيم أمن رمضان هو أم من شعبان. فلو كانت السماء صحواً ولم ير هلال أحد فليس بيوم شك.
وحكمه : أنه مكروه تحريماً إذا نوى أنه من رمضان أو من واجب آخر. ويكره أيضاً صوم ما قبل رمضان بيوم أو يومين، لحديث: «لا تَقدَّموا رمضان بصوم يوم أو يومين، إلا رجل كان يصوم صوماً، فيصومه» (2) فيكره صومه إلا أن يوافق صوماً كان يصومه المسلم، خوفاً من أن يظن أنه زيادة على صوم رمضان، ولا يكره صوم نفل جزم به بلا ترديد بينه وبين صوم آخر، فلا يصام يوم الشك إلا تطوعاً.
وقال المالكية على المشهور (3) : إنه يوم الثلاثين من شعبان إذا كان بالسماء في ليلته (أي ليلة الثلاثين) غيم، ولم ير هلال رمضان. فإن كانت السماء صحواً لم يكن يوم شك؛ لأنه إذا لم تثبت رؤية هلال رمضان، كان اليوم من شعبان جزماً. وهذا كمذهب الحنفية.
___________________
(1) فتح القدير : 53/1 وما بعدها ،الدر المختار : 119/2 وما بعدها ،مراقي الفلاح ،ص 107.
(2) رواه الأئمة الستة في كتبهم عن أبي هريرة (نصب الراية: 440/2).
(3) الشرح الكبير: 513/1، الشرح الصغير: 686/1 وما بعدها، القوانين الفقهية: ص115، شرح الرسالة: 293/1-295.
__________________
والراجح عند الدردير والدسوقي وغيرهما أن يوم الشك: صبيحة الثلاثين من شعبان إذا كانت السماء صحواً أو غيماً، وتحدث بالرؤية من لا تقبل شهادته كعبد أو امرأة أو فاسق. أما يوم الغيم فهو من شعبان جزماً؛ لخبر الصحيحين: «فإن غم عليكم، فأكملوا عدة شعبان ثلاثين» .
وحكمه: أنه يكره صومه للاحتياط على أنه من رمضان، ولا يجزئه صومه عن رمضان، فمن أصبح فلم يأكل ولم يشرب، ثم تبين له أن ذلك اليوم من رمضان، لم يجزه، وجاز صومه لمن اعتاد الصوم تطوعاً سرداً أو يوماً معيناً كيوم الخميس مثلاً، فصادف يوم الشك، كما جاز صومه تطوعاً، وقضاء عن رمضان سابق،وكفارة عن يمين أوغيره، ولنذر يوم معين أو يوم قدوم شخص مثلاً، فصادف يوم الشك. ويندب الإمساك (الكف عن المفطر) يوم الشك ليتحقق الحال، فإن ثبت رمضان وجب الإمساك لحرمة الشهر، ولو لم يكن أمسك أولاً.
وقال الشافعية (1) : يوم الشك: هو يوم الثلاثين من شعبان في حال الصحو، إذا تحدث الناس برؤية الهلال ليلته، ولم يعلم من رآه، ولم يشهد برؤيته أحد، أو شهد بها صبيان أو عبيد أو فسقة أو نساء، وظن صدقهم، أو شهد شخص عدل ولم يكتف به. وليس إطباق الغيم بشك، كما أنه إذا لم يتحدث أحد من الناس بالرؤية فليس بشك، بل هو يوم من شعبان، وإن أطبق الغيم، لخبر الصحيحين المتقدم: «فإن غم عليكم، فأكملوا عدة شعبان ثلاثين» .
___________________
(1) مغني المحتاج: 433/1،438.
___________________
وحكمه: أنه يحرم ولا يصح التطوع بالصوم يوم الشك، ولقول عمار بن ياسر رضي الله عنه: «من صام يوم الشك، قد عصى أبا القاسم صلّى الله عليه وسلم » (1) . وحكمة التحريم: توفير القوة على صوم رمضان، وضبط زمن الصوم وتوحيده بين الناس، دون زيادة. وكذلك يحرم صوم يوم أو يومين قبل رمضان، والأظهر أنه يلزم الإمساك من أكل يوم الشك، ثم ثبت كونه من رمضان، لأن صومه واجب عليه، إلا أنه جهله.
ويجوز صوم يوم الشك عن القضاء والنذر والكفارة، ولموافقة عادة تطوعه، ونحوه مما له سبب يقتضي الصوم، على الأصح مسارعة لبراءة الذمة، فيما عدا الاعتياد، وعملاً في الاعتياد بالحديث المتقدم: «... إلا رجل كان يصوم صوماً، فليصمه» ويجب الإمساك على من أصبح يوم الشك مفطراً، ثم تبين أنه من رمضان، ثم يقضيه بعد رمضان فوراً، وإن صامه متردداً بين كونه نفلاً من شعبان أو فرضاً من رمضان،لم يصح فرضاً ولا نفلاً إن ظهر أنه من رمضان.
وقال الحنابلة (2) : يوم الشك: هو يوم الثلاثين من شعبان إذا لم ير الهلال ليلته، مع كون السماء صحواً لا علة فيها من غيم أو قَتَر ونحوهما، أو شهد برؤية الهلال من ردت شهادته لفسق ونحوه، فهم في تحديده كالشافعية.
وحكمه كما قال المالكية: يكره ويصح صوم يوم الشك بنية الرمضانية احتياطاً، ولا يجزئ إن ظهر منه، إلا إذا وافق عادة له، أو وصله بصيام قبله، فلا كراهة، للحديث المتقدم: «لا تقدموا رمضان بصوم يوم أو يومين، إلا رجل كان يصوم صوماً، فليصمه» وإلا أن يصومه عن قضاء أو نذر أو كفارة، فلا كراهة؛ لأن صومه واجب إذاً. وإن صامه موافقة لعادة ثم تبين أنه من رمضان، فلا يجزئه عنه، ويجب عليه الإمساك فيه، وقضاء يوم بعده . والخلاصة: إن صوم يوم الشك مكروه عند الجمهور، حرام عند الشافعية.
__________________
(1) رواه أصحاب السنن الأربعة، وصححه الترمذي وغيره.
(2) المغني: 89/3، كشاف القناع: 350/2-351،398 ومابعدها.

________________________________





DO'A-DO'A KITAB DURRATUN NASHIHIN

DO'A-DO'A


DURRATUN NASHIHIN

DO’A
Ketika Hendak Memulai Majlis

صَلُّوْا عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ، صَلُّوْا عَلَى طَبِيْبِ قُلُوْبِنَا مُحَمَّدٍ، صَلُّوْا عَلَى شَفِيْعِ ذُنُوْبِنَا مُحَمَّدٍ،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَبَلَّغَ رَسُوْلُهُ الْكَرِيْمُ، وَنَحْنُ عَلَى مَا قَالَ خَالِقُنَا وَرَازِقُنَا وَمَوْلَانَا مِنَ الشَّاهِدِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ،

Bershalawatlah atas Nabi kita Muhammad, bershalawatlah atas Thabib hati kita Muhammad, bershalawatlah atas penolong dosa-dosa kita Muhammad,
Wahai Allah, Semoga Engkau melimpahkanlah rahmat ta’dzim atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya, aku berlindung kepada Allah dari godaan syithan yang terkutuk, dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu yang diyakini (‘ajal), Maha benar Allah yang Maha agung dan utusan-Nya yang mulia telah menyampaikan risalah, atas apa yang telah di firmankan Allah Dzat yang menciptakan kami, Dzat yang memberi rizki kepada kami dan Dzat yang menguasai kami, kami termasuk orang yang bersaksi dan bersyukur dengan hati yang murni.
Kemudian membaca;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الم، ذٰلِكَ الْكِتَابُ... (dan seterusnya)


DO’A
Ketika Selesai Dari Majlis

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَلّٰلهُمَّ نَظِّمْ أَحْوَالَنَا وَحَسِّنْ أَفْعَالَنَا، وَخَلِّصْنَا مِنْ أَلَمِ الْفَقْرِ وَالذُّلِّ وَاعْصِمْنَا مِنَ الْبَلَاءِ وَالْوَبَاءِ وَالطَّاعُوْنِ، وَمِنْ شُرُوْرِ الْأَعْدَاءِ وَالشَّيَاطِيْنِ وَالنَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ. اَلّٰلهُمَّ يَسِّرْ لَنَا الْإِنْتِظَامِ فِى جَمِيْعِ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ وَحَصِّلْ مُرَادَنَا بِالْخَيْرِ. اَلّٰلهُمَّ بَعِّدْنَا مِنَ الشَّرِّ وَالْعِصْيَانِ. اَلّٰلهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ. يَا مُحَوِّلَ الْحَوْلِ وَالْأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالَنَا إِلَى أَحْسَنِ حَالٍ. اَلّٰلهُمَّ يَا كَثِيْرَ النَّوَالِ، وَيَا خَالِقَ جَمِيْعِ الْأَفْعَالِ، وَفِّقْنَا لِنِيَّةِ الْخَيْرِ فِى جَمِيْعِ الْأَقْوَالِ وَالْأَحْوَالِ. اَلّٰلهُمَّ سَلِّمْنَا وَسَلِّمْ دِيْنَنَا، وَلَا تَسْلُبْ وَقْتَ النَّزَعِ إِيْمَانَنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُنَا وَارْزُقْنَا خَيْرَىِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa, shalawat serta salam semoga seantiasa di curahkan atas utusan kita Nabi Muhammad, keluarganya serta shahabatnya sekalian. Wahai Allah, Semoga Engkau menata keadaan kami dan memperbaiki perbuatan kami, semoga Engkau menyelamatkan kami dari pedihnya kefaqiran dan kehinaan, dan semoga Engkau melindungi kami dari bala’ mushibah dan penyakit tha’un, dari kejelekan musuh dan syaithan, dan dari nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan. Wahai Allah, Mudahkanlah bagi kami menempuh jalan yang teratur dalam segala urusan dunia maupun akhirat dan meraih keinginan kami dengan baik. Wahai Allah, Jauhkanlah kami dari kejelekan dan kedurhakaan. Wahai Allah, Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari beratnya beban dan derita, jeleknya qadla an melegakan hati musuh. Wahai Dzat yang merobah-robah daya dan keadaan, robahlah keadaan kami kepada sebaik-baik keadaan. Wahai Allah. Wahai Dzat yang banyak memberi. Wahai pencipta segala perbuatan, semoga Engkau menolong kami pada niyat baik dalam setiap ucapan dan keadaan. Wahai Allah, Selamatkanlah kami dan selamatkanlah Asgama kami, dan janganlah Engkau mencabut iman kami disaat keluarnya ruh, janganlah Engkau menguasakan kami pada orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak sayang kepada kami, berilah kami kebaikan dunia dan akhirat sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.


DO’A
Ketika Khatam Kitab Seluruhnya

اَلّٰلهُمَّ رَبَّنَا يَا رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا يَا مَوْلَانَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَاهْدِنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى الْحَقِّ وَعَلَى طَرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ، بِبَرَكَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَبِحُرْمَةِ حَبِيْبِكَ وَرَسُوْلِكَ الْكَرِيْمِ، وَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيْمُ، وَاعْفُ عَنَّا يَا رَحِيْمُ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
اَلّٰلهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ، وَأَكْرِمْنَا بَكَرَامَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ، وَشَرِّفْنَا بِشَرَافَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ، وَأَلْبِسْنَا بِخُلْعَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْقُرْآنِ، اللّٰهمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ لَنَا فِى الدُّنْيَا قَرِيْبًا، وَفِى الْقَبْرِ مُؤْنِسًا، وَفِى الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا، وَعَلَى الصِّرَاطِ نُوْرًا، وَإِلَى الْجَنَّةِ رَفِيْقًا، وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا، وَإِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلِيْلًا وَإِمَامًا، . بِفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْفُرْآنِ حَلَاوَةً، وَبِكُلِّ كَلِمَةٍ كَرَامَةً، وَبِكُلِّ آيَةٍ سَعَادَةً، وَبِكُلِّ سُوْرَةٍ سَلَامَةً، وَبِكُلِّ جُزْءٍ جَزَاءً، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنِا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ .
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلَاءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْحُجَّاجِ وَالْغُزَاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَالْمُقِيْمِيْنَ فِى بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْنَ .
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ وَنُوْرَ مَا تَلَوْنَاهُ بَعْدَ الْقَبُوْلِ مِنَا بِالْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ هَدِيَّةً وَاصِلَةً إِلَى رُوْحِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَى أَرْوَاحِ أَوْلَادِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَصْحَابِهِ رِضْوَانُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ . وَإِلَى أَرْوَاحِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا وَإِخِوَانِنَا وَأَخَوَاتِنَا وَأَعْمَامِنَا وَعَمَّاتِنَا وَأَخْوَالِنَا وَخَالَاتِنَا وَأَصْدِقَائِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَقْرِبَائِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ الْحَقُّ عَلَيْنَا، وَإِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ . جَزَى اللهُ عَنَّا سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ . سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .

Wahai Allah Tuhan kami,  semoga Engkau merima permohonan kami sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, terimalah taubat kami wahai Dzat yang Menguasai kami sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang, tunjukkanlah dan tolonglah kami pada kebenaran dan jalan yang lurus, ma’afkanlah kami wahai Dzat yang Maha Pemurah, ma’afkanlah kami wahai Dzat yang Maha Penyayang dan ampunilah dosa kami dengan Karunia-Mu dan Kemuliaan-Mu wahai Dzat yang Maha Pemurah di antara para pemurah dan Maha Penyayang di antara para penyayang.
Wahai Allah, hiasilah kami dengan hiasan khatam Al Qur’an, muliakanlah kami dengan kemuliaan khatam Al Qur’an, berilah kami pakaian dengan pakaian khatam Al Qur’an, masukkanlah kami kesorga bersama dengan Al Qur’an, selamatkanlah kami dari cobaan dunia dan siksa akhirat dengan kehormatan Al Qur’an dan sayangilah ummat Muhammad dengan kemuliaan Al Qur’an.
Wahai Allah, jadikanlah Al Qur’an bagi kami di dunia sebagai teman, di akhirat sebagai penghibur, di hari kiamat sebagai pemberi syafa’at, di atas Shirath sebagai cahaya, ke sorga sebagai kawan, dari neraka sebagai pelindung dan penghalang, pada setiap kebaikan sebagai petunjuk dan pemuka berkat Anugrah, Kedermawanan dan Kemurahan-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Wahai Allah, berilah kami dalam setiap huruf dari Al Qur’an berupa kelezatan, dalam setiap kalimat berupa kemuliaan, dalam setiap ayat berupa keberuntungan, dalam setiap surat berupa keselamatan dan dalam setiap juz berupa pembalasan, semoga Engkau mencurahkan rahmat ta’dzim atas baginda kami Muhammad, keluarganya serta seluruh shahabatnya.
Wahai Allah, tolonglah pemimpin-pemimpin kami yaitu pemimpin kaum mulimin, tolonglah para pembantunya, orang-orang kepercayaannya dan pasukannya hingga hari kiamat. Tetapkanlah keselamatan dan kesehatan untuk kami, untuk orang-orang yang menjalankan ‘ibadah haji, untuk orang-orang yang berjuang dan untuk para musafir dan orang-orang yang muqim di daratan-Mu maupun di lautan-Mu dari seluruh ummat Muhammad.
Wahai Allah, sampaikanlah pahala dan cahaya bacaan yang kami baca setelah di terima dari kami karena keutamaan dan kebaikan sebagai hadiah yang sampai kepada ruh Nabi kami Muhammad shallallahu Ta’ala ‘alaihi wasallam, kepada ruh anak-anaknya, istri-istrinya serta para shahabatnya semoga ridla Allah Ta’ala tetap tercurahkan atas mereka semua,  kapada ruh bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, putra putrid kami, saudara saudari kami, paman bibi kami dari bapak, paman bibi kami dari ibu, teman-teman kami, guru-guru kami, kerabat-kerabat kami, tuan-tuan guru kami, orang-orang yang memiliki hak kewajiban atas kami, dan kepadaruh seluruh orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, muslim laki-laki dan perempuan yang masih hidup atau yang telah mati dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Semoga Allah membalas dari kami kepada Nabi kami Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam dengan sesuatu yang mana beliau adalah ahlinya. Maha Suci Tuhan mu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan di limpahkan atas para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam


DO’A
Ketika Selesai Dari Jamuan Makan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى قَالَ فِى كِتَابِهِ "وَكُلُوْا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لَايُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ" وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى يُحِبُّ الْأَسْخِيَاءَ وَالْأَغْنِيَاءَ الْمُطْعِمِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُحِبِّيْنَ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْمُكْرَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ نِعْمَتَنَا دَائِمَةً، وَدَوْلَتَنَا قَائِمَةً، وَأَوْلَادَنَا عُلَمَاءَ، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا ظَالِمًا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ صَاحِبَ هٰذَا الطَّعَامِ وَالْآكِلِيْنَ، وَاعْطِ الْبَرَكَةَ لِمَالِ صَاحِبِ هٰذَا الطَّعَامِ وَالْحَاضِرِيْنَ وَأَطْعِمْنَا مِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ وَأشْقِنَا مِنْ شَرَابِ الْكَوْثَرِ، وَزَوِّجْنَا بِحُوْرِ الْعَيْنِ، وَأَكْرِمْنَا بِرُؤْيَةِ جَمَالِكَ يَا إِلٰهَ الْعَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ زِدْ وَلَا تُقَلِّلْ بِحُرْمَةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . الفَاتِحَة...

Segala puji bagi Allah Dzat yang bersabda didalam kitab-Nya “makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan atas Rasul kita Muhammad yang cinta pada orang-orang dermawan dan orang-orang kaya yang suka memberi makan, atas keluarganya dan para shahabatnya yang cinta pada orang-orang faqir, miskin dan orang-orang mulia.
Wahai Allah, jadikanlah keni’matan kami keni’matan yang langgeng, jadikanlah kekuatan kami kekuatan yang kokoh, jadikanlah anak-anak kami ‘ulam’ dan janganlah Engkau menguasakan orang-orang dzalim atas kami.
Wahai Allah, sayangilah pemilik makanan ini dan orang-orang yang memakannya, berilah barakah pada harta pemilik makanan ini dan orang-orang yang hadir, berilah kami makanan dari makanan sorga, berilah kami minuman dari minuman talaga Kautsar, nikahkanlah kami dengan bidadari dan mulyakanlah kami dengan melihat Shifat Jamal-Mu wahai Tuhan sekalian alam.
Wahai Allah, tambahkanlah dan janganlah Engkau mengurangi lantaran kemuliaan baginada para utusan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Alfatihah…



MUQADDIMAH KITAB DURRATUN NASHIHIN

MUQADDIMAH

DURRATUN NASHIHIN

Karya;
Syaikh ‘Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khowbawi

Penerjemah
Ibnu Hamdun Syamsul ‘Arifin


مقدمة
بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي جَعَلَنَا مِنَ النَّاصِحِيْنَ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الْعُلَمَاءِ الرَّاسِخِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ نَسَخَ دِيْنُهُ أَدْيَانَ الْكَافِرِيْنَ وَالطَّالِحِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانُوا يَتَمَسَّكُ شَرِيْعَتَهُ صَالِحِيْنَ. وَبَعْدُ:

MUQADDIMAH
Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengharapkan kebaikan, dan yang telah memberikan kefahaman kepada kita terhadap ‘ilmu-‘ilmu para ‘Ulama’ yang menancap kuat di dada. Shalawat beserta salam semoga tercurahkan atas orang yang Agamanya menghapus Agama-agama orang kafir dan orang-orang yang bertindak lalim, atas keluarganya dan para shahabatnya yaitu orang-orang yang shalih yang berpegang teguh dengan Syari’atnya.

(Selanjutnya) Berkata seorang hamba yang faqir yang senantiasa membutuhkan Rahmat Tuhannya yang Maha Kuasa yaitu ‘Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khowbawi semoga Allah memuliakannya dengan shifat Ramah dan Pemurah-Nya yang Luhur; Aku tinggal di sebuah negeri yang bernama Kostantinopel semoga Allah melindunginya juga negeri-negeri yang lain dari segala ujian dan cobaan. Ketika aku memperhatikan diantara para pelajar dan tuan-tuan guru yaitu orang-orang yang berada di tengah-tengah masyarakat bagaikan lentera dalam kegelapan malam, suatu mau’idzah yang di gandrungi  di antara mereka dan para ‘Ulama’ yang mulia yaitu orang-orang yang berpegang teguh dengan sumber ‘ilmu dan menjadi pewarits para Nabi, namun tidak tertata rapi sesuai dengan susunan Al Qur’an yang Agung dan yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil, maka aku bermaksud untuk menulis dan merevisi kasalahan-kesalahan tersebut dengan memohon pertolongan Allah Maha Penguasa lagi Terpuji. Dan aku benar-benar menjumpai sebagian pelajar dari saudara-saudara kita yang dengan lisannya mereka mengatakan sesuatu yang tidak terdapat dalam kitab kami bahkan mereka salah di dalam nasehat dan mau’idzahnya kepada orang-orang yang tenggelam dalam kebodohan bagaikan rasa kantuk, dan mereka membuat gembira pada syaithan-syaithan yang membisikkan kejahatan dalam dada manusia. Aku berlindung kepada Allah dari jeleknya jiwa serta ‘amal dan semoga Allah ta’ala menjauhkan fitnah syaithan dari hati kita.

Kemudian pada hari-hari berikutnya aku menderita sakit keras lantaran taqdir Allah Maha Penguasa lagi Terpuji, dan aku terkulai di atas alas tidurku dalam beberapa hari sehingga tidak mampu menyusun sepatah katapun, dan saat itu juga aku bernadzar; Sekiranya Allah Dzat yang Maha Melindungi berkenan melindungiku dari penderitaan dan cobaan ini, sungguh aku akan menyusun suatu kitab yang di gandrungi di tengah-tengah masyarakat luas, aku akan mencermati setiap lembarannya yang bagaikan cahaya dan sinar mentari yang memancar, dan aku akan menyebarkan di antara manusia karya tulis yang dapat menolong bagaikan air dan yang luas bagaikan samudera.

Ketika aku telah di beri kesehatan selamat dari sakit yang telah di gariskan dan rasa lemah telah hilang dari diriku tanpa tersisa sedikitpun, ketika aku merenungi pernyataan-pernyataan ini dan suatu hal dimana sebagian pelajar dengan kekuasaannya terjerumus dalam kesalahan dan kesesatan, serta ketika aku mulai menulis dengan mendapatkan pertolongan Allah yang Maha Kuasa lagi Maha memberi anugerah, maka setiap permasalahan dari pernyataan-pernyataan tersebut seolah-olah bagaikan yaqut dan marjan yang belum pernah disentuh oleh jin dan manusia sebelum mereka.

Kemudian aku tata setiap ayat sesuai dengan susunan Al Qur’an Al Karim, aku pilih ayat yang menjelaskan tentang shifat-shifat sorga dan neraka Jahim, aku juga menemukan sebagian hadits yang mulia dan kisah-kisah yang lembut tentang orang laki-laki maupun perempuan kotor yang mengerjakan pekerjaan kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, dan aku jelaskan pula tentang kejadiannya di dunia dan di akhirat dan apakah wajib di had atau di ranjam atas dasar di kiaskan pada pelaku zina.

Tatkala mau’idzah telah keluar dari hati seorang penggubah ke alam dunia yang fana dan membutuhkan nama tertentu dari beberapa nama yang mulia, maka aku memberinya nama “DURRATUN NASHIHIN” (Intan orang-orang yang mengharapkan kebaikan), semoga Allah Ta’ala menjadikannya mau’idzah yang bermanfa’at di antara saudara-saudara para shalihin. Hanya saja aku berharap dari para cerdik pandai lebih-lebih dari orang-orang utama dan para pembesar untuk membenahi kesalahan yang terjadi dari diriku dan menghilangkan kekeliruan yang tidak aku sengaja, karena manusia adalah tempat salah dan lupa dan karena orang seperti diriku bertandang dalam hal senacam ini termasuk pelecehan. Sebagaimana halnya tulisan orang lumpuh yang sia-sia, begitu pula sibuk dengan hal semacam ini di tengah-tengah menghasilkan ‘ilmu bagaikan melemparkan emas perak yang sangat baik kedalam sungai Nil.

Tiada ampunan dan terhapusnya dosa yang diharapkan malainkan dari Dzat yang Maha Pengampun, dan tiada dosa dan kelalaian melainkan dari orang yang durhaka. Sesungguhnya Allah Ta’ala menunjukkan orang-orang yang di kehendaki pada jalan yang  lurus, cukuplah Dia Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik penolong. Bagi-Nya segala puji atas tiap-tiap keadaan selain kekufuran dan kesesatan dan Dia-lah Dzat yang suci dari suatu apapun yang menyerupai dan yang menyamai.



“Muallif”



Hal-Hal Yang Dapat Mendatangkan Rizki, Dan Yang Mencegah Datangnya Rizki, Serta Yang Dapat Memperpanjang Dan Mengurangi Usia

KUNCI SUKSES MENUNTUT ILMU
FASAL 13 (Khatam)


فصل
فيما يجلب الرزق وفيما يمنع وما يزيد فى العمر وما ينقص

FASAL XIII
Hal-hal Yang Dapat Mendatangkan Rizki, Dan Yang Mencegah Datangnya Rizki, Serta Yang Dapat Memperpanjang Dan Mengurangi Usia

ثم لابد لطالب العلم من القوت ومعرفة ما يزيد فيه وما يزيد فى العمر والصحة ليتفرغ لطلب العلم، وفى كل ذلك صنفوا كتبا، فأوردت بعضها هنا على سبيل الإختصار.

Para pelajar tentunya membutuhkan makanan, maka ia harus mengetahui apa yang dapat menyebabkan bertambahnya rizki, bertambahnya usia dan kesehatan agar dapat mencurahkannya untuk mencari ilmu.

Mengenai hal itu semua, para ‘ulama’ telah menyusun beberapa kitab yang menjelaskan tentang dalil-dalilnya, dan di sini aku akan mengemukakan sebagiannya secara ringkas.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يرد القدر إلا الدعاء، ولا يزيد فى العمر إلا البر، فإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه. ثبت بهذا الحديث أن إرتكاب الذنب سبب حرمان الرزق خصوصا الكذب يورث الفقر, وقد ورد فيه حديث خاص

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah usia kecuali ‘amal kebajikan. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rizki karena dosa yang dilakukannya”.

Dengan hadits ini kukuhlah sudah bahwa perbuatan dosa menjadi sebab terhalangnya datangnya rizki terutama dosa akibat dusta, karena dusta dapat menyebabkan kefakiran. Sungguh telah datang hadits khusus yang menunjukkan tentang hal itu.

وكذا نوم الصبحة يمنع الرزق, وكثرة النوم تورث الفقر, وفقر العلم أيضا.

Demikian pula, tidur di waktu pagi juga dapat mencegah datangnya rizki, dan banyak tidur dapat menyebabkan kefakiran harta dan fakir ilmu juga.

وقال القائل:
Seorang penya’ir berkata;

سُرُوْرُ النَّاسِ فِى لُبْسِ اللِّبَاسِ # وَجَمْعُ الْعِلْمِ فِى تَرْكِ النُّعَاسِ

Kebahagiaan manusia terletak pada memakai pakaian # dan mengumpulkan ilmu terletak pada meninggalkan tidur

وقال:
Dan seorang penya’ir berkata;

أَلَيْسَ مِنَ الْخُسْرَانِ أَنَّ لَيَالِيَا # تَمُرُّ بِلَا نَفْعٍ وَتُحْسَبُ مِنَ الْعُمْرِ

Bukankah merupakan suatu kerugian jika membiarkan malam hari # berlalu tanpa manfa’at, padahal itu terhitung sebagian dari usia

وقال آخر:
Dan penya’ir yang lain berkata;

قُمِ اللَّيْلَ يَا هَذَا لَعَلَّكَ تُرْشَدُ # إِلَى كَمْ تَنَامُ اللَّيْلَ وَالْعُمْرُ يَنْفَدُ

Bangunlah malam hari wahai para pelajar, semoga kamu diberi petunjuk, # sampai berapa malam kamu akan tertidur sedang umurmu terus berlalu

والنوم عريانا, والبول عريانا، والأكل جنبا ومتكئا على جنب, والتهاون بسقاط المائدة, وحرق قشر البصل والثوم, وكنس البيت بالمنديل، وكنس البيت بالليل, وترك القمامة فى البيت, والمشي قدام المشايخ, ونداء الأبوين باسمهما, والخلال بكل خشبة, وغسل اليد بالطين والتراب, والجلوس على العتبة, والاتكاء على أحد زوجي الباب, والتوضؤ فى المبرز, وخياطة الثوب على بدنه, وتجفيف الوجه بالثوب, وترك بيت العنكبوت فى البيت, والتهاون فى الصلاة, وإسراع الخروج من المسجد بعد صلاة الفجر, والإبتكار بالذهاب إلى السوق، والابطاء فى الرجوع منه, وشراء كسيرات الخبز من الفقراء السؤال, ودعاء الشر على الولد, وترك تخمير الأوانى وإطفاء السراج بالنفس،  كل ذلك يورث الفقر, عرف ذلك بالآثار

Tidur dengan telanjang, kencing dengan telanjang, makan dalam keadaan junub, makan sambil bersandar ke arah lambung, meremehkan makanan yang berceceran, membakar kulit bawang merah atau bawang putih, membersihkan rumah dengan sapu tangan, menyapu rumah di malam hari, membiarkan kotoran di dalam rumah, berjalan di depan orang tua, memanggil kedua orang tua dengan menyebut namanya, membersihkan sela-sela gigi dengan benda-benda kasar, membasuh tangan dengan lumpur atau debu, duduk di ambang pintu, bersandar pada salah satu daun pintu, berwudhu di tempat buang kotoran, menjahit pakaian yang sedang di pakai, mengeringkan wajah dengan baju, membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah, meremehkan shalat, cepat-cepat keluar dari masjid setelah shalat shubuh, berangkat pagi-pagi ke pasar, lamban pulang dari pasar, membeli kepingan roti dari orang fakir yang meminta-minta, mendo’akan buruk kepada anak, tidak menutup wadah dan memadamkan lampu dengan meniup, semua itu dapat menyebabkan kefakiran sebagaimana hal tersebut diterangkan dalam beberapa atsar (hadits para shahabat).

وكذا الكتابة بالقلم المعقود، والامتشاط بمشط منكسر، وترك الدعاء للوالدين، والتعمم قاعدا، والتسرول قائما، والبخل والتقتير، والإسراف، والكسل والتوانى والتهاؤن فى الأمور كل ذلك يورث الفقر.

Demikian pula; Menulis dengan pena rusak yang di ikat, menyisir dengan sisir patah, tidak mau mendo’akan kedua orang tua, memakai sorban sambil duduk, memakai celana sambil berdiri, pelit, terlalu irit, terlalu berlebihan, bermalas-malasan, bergerak lamban dan menyepelekan setiap urusan, semua itu menyebabkan kefakiran.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: استنزلوا الرزق بالصدقة

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Memohonlah turunnya rizki dengan cara bersedekah”.

والبكور مبارك يزيد فى جميع النعم خصوصا فى الرزق، وحسن الحظ من مفاتيح الرزق وبسط الوجه وطيب الكلام يزيد فى الرزق.

Bangun pagi-pagi itu di berkahi dan dapat menambah berbagai macam ni’mat terutama masalah rizki. Tulisan bagus termasuk salah satu di antara beberapa kunci rizki, berwajah ceria dan berkata lembut juga dapat menambah rizki.

وعن الحسن بن على رضي الله تعالى عنهما: كنس الفناء وغسل الإناء مجلبة للغنى.

Diriwayatkan dari Hasan bin ‘Ali radliyallahu ‘anhuma; “Menyapu halaman dan mencuci wadah, bisa menarik datangnya kekayaan”.

وأقوى الأسباب الجالبة المحصلة للرزق إقامة الصلاة بالتعظيم والخشوع، وتعديل الأركان وسائر واجباتها وسننها وآدابها،

Dan penyebab paling kuat untuk menarik datangnya rizki adalah menegakkan shalat dengan ta’dzim dan khusu’, menyempurnakan semua rukun, semua kewajiban, sunah-sunnah dan adab-adab shalat.

وصلاة الضحى فى ذلك معروفة مشهورة، وقراءة سورة الواقعة خصوصا بالليل وقت النوم، وقراءة الملك، والمزمل، والليل إذا يغشى وألم نشرح لك، وحضور المسجد قبل الأذان، والمداومة على الطهارة، وأداء سنة الفجر والوتر فى البيت. وأن لا يتكلم بكلام الدنيا بعد الوتر، ولا يكثر مجالسة النساء إلا عند الحاجة، وأن لا يتكلم بكلام لغو غير مفيد لدينه ودنياه.

Adapun shalat Dluha terkenal dan masyhur dalam hal menarik datangnya rizki. Begitu pula membaca surat Al-Waqi’ah terutama di malam hari pada waktu orang-orang sedang tidur, membaca surat Al-Mulk, surat Al-Muzzammil, surat wallaili idza yaghsya (Al-Lail), surat Alam nasyrah, hadir ke masjid sebelum adzan, selalu dalam keadaan suci, menunaikan shalat sunnat fajar dan shalat witir di rumah, dan setelah shalat witir hendaknya tidak berbicara mengenai urusan dunia, tidak terlalu sering duduk bersama wanita kecuali ada hajat, dan tidak berbicara dengan pembicaraan sia-sia yang tidak berguna bagi agama dan dunianya.


وقيل: من اشتغل بما لا يعنيه يفوته ما يعنيه.

Dikatakan; Barangsiapa sibuk dengan perbuatan yang tidak ada gunanya, maka ia akan kehilangan sesuatu yang berguna baginya.

قال بزرجمهر: إذا رأيت الرجل يكثر الكلام فاستيقن بجنونه.

Bazrajamhar berkata; Apabila kamu melihat orang yang banyak bicara, maka yakinilah bahwa ia adalah orang gila.

قال علي رضى الله تعالى عنه: إذا تم العقل نقص الكلام.

‘Aliy radliyallahu Ta’ala ‘anh berkata; “Jika akal telah sempurna, maka berkuranglah bicaranya”.

قال المصنف رحمه الله تعالى : اتفق لى فى هذا المعنى شعر:

Seorang penulis sya’ir rahimahullahu Ta’ala berkata; Aku menggubah bait sya’ir yang sesuai dengan ma’na pernyataan ini;

إِذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ # وَأَيْقِنْ بِحُمْقِ الْمَرْءِ إِنْ كَانَ مُكْثِرَا

Jika telah sempurna akal seseorang, maka sedikitlah bicaranya # dan yakinilah akan ketololan seseorang jika ia banyak bicara

وقال آخر:
Penya’ir yang lain berkata;

اَلنُّطْقُ زَيْنٌ وَالسُّكُوْتُ سَلَامَةٌ # فَإِذَا نَطَقْتَ فَلَا تَكُنْ مِكْثَارًا
مَا اِنْ نَدِمْتَ عَلَى سُكُوْتِ مَرَّةٍ # وَلَقَدْ نَدِمْتَ عَلَى الْكَلَامِ مِرَارًا

Berbicara laksana perhiasan dan diam adalah keselamatan # maka jika kamu berbicara janganlah terlalu banyak
Karena diam, kamu tidak akan menyesal kecuali hanya sekali # tapi karena bicara, sungguh kamu akan menyesal berkali-kali

ومما يزيد فى الرزق: أن يقول كل يوم بعد انشقاق الفجر إلى وقت الصلاة: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مائة مرة، وأن يقول: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ كل يوم صباحا ومساء مائة مرة.

Di antara perkara yang dapat menyebabkan bertambahnya rizki adalah; Setiap hari setelah terbit fajar hingga masuk waktu shalat membaca;

سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

(Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Maha Suci Allah segala puji bagi-Nya, aku mohon ampunan kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya).
Sebanyak 100x

Setiap pagi dan petang membaca;

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ

(Tiada Tuhan selain Allah, Raja yang sebenar-benarnya Yang Maha Menjelaskan)
Sebanyak 100x


وأن يقول بعد الفجر كل يوم: اَلْحَمْدُ لِلهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثلاثا وثلاثين مرة، وبعد صلاة المغرب أيضا،

Setiap hari setelah fajar dan setelah shalat maghrib membaca;

اَلْحَمْدُ لِلهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

(Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah dan tiada Tuhan selain Allah)
Sebanyak 33x

ويستغفر الله تعالى سبعين مرة بعد صلاة الفجر، ويكثر من قول: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، والصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم

Setelah shalat fajar membaca istighfar sebanyak 70x, memperbanyak membaca;

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

(Tiada daya (menghindar dari ma’siyat) dan tiada kekuatan (ber’ibadah) kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi lagi Mahabesar)
Serta memperbanyak membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

ويقول يوم الجمعة سبعين مرة : اَللَّهُمَّ أَغْنِنِىْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَاكْفِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

Setiap hari Jum’at membaca;

اَللَّهُمَّ أَغْنِنِىْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَاكْفِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

(Ya Allah, jadikanlah aku kaya dengan apa yang telah Engkau halalkan dari yang Engkau haramkan, dan cukupilah aku dengan anugerah-Mu dari yang selain diri-Mu)
Sebanyak 70x

ويقول هذا الثناء كل يوم وليلة :

Dan membaca pujian ini setiap siang dan malam;

أَنْتَ اللهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ, أَنْتَ اللهُ الْمَلِكُ الْقُدَّوْسُ, أَنْتَ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ, اَنْتَ اللهُ خَالِقُ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ, أَنْتَ اللهُ خَالِقُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, عَالِمُ السِّرِّ وَأَخْفَى, أَنْتَ اللهُ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالُ, أَنْتَ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْئٍ وَاِلَيْهِ يَعُوْدُ كُلُّ شَيْئٍ, أَنْتَ اللهُ دَيَّانُ يَوْمِ الدِّيْنِ, لَمْ تَزَلْ وَلَا تَزَالُ, أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ, لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ, أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُلَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِى السَّمَوَاتِ وْالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

(Engkaulah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, Engkaulah Allah Maharaja lagi Mahasuci, Engkaulah Allah Yang Mahapenyantun lagi Mahamulia, Engkaulah Allah Yang Menciptakan kebaikan dan keburukan, Engkaulah Allah Yang Menciptakan surga dan neraka, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang rahasia dan yang lebih tersembunyi, Engkaulah Allah Yang Mahabesar lagi Mahatinggi, Engkaulah Allah Pencipta segala sesuatu dan kepada-Nya lah segala sesuatu akan kembali, Engkaulah Allah Mahamembalas pada hari kiamat, Engkau tidak pernah berubah sejak dahulu kala dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun, Engkaulah Allah tiada Tuhan kecuali Engkau Yang Maha Esa tempat meminta, tidak beranak dan tidak pula dipernakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya, Engkaulah Allah tiada Tuhan Kecuali Engkau Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Allah tiada Tuhan kecuali Engkau Maraja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga keamanan, Pemelihara keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Mahakuasa, Engkaulah Allah tiada Tuhan kecuali Engkau Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, bagi-Nya nama-nama yang indah, apa pun yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana).

ومما يزيد في العمر: البر, وترك الأذى, وتوقير الشيوح, وصلة الرحم, وأن يقول حين يصبح ويمسى كل يوم ثلاث مرات : سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ, وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ, وَمَبْلَغَ الرِّضَا, وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ, وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ، وَاللهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ, وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ, وَمَبْلَغَ الرِّضَا, وَزِنَةَ الْعَرْشِ

Dan di antara perkara yang dapat menyebabkan bertambahnya usia ialah; Berbuat kebajikan, meninggalkan perbuatan yang menyakitkan orang lain, memuliakan orang-orang tua, menyambung hubungan kekeluargaan (shilaturrahim), dan setiap hari setiap pagi dan petang membaca;

سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ, وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ, وَمَبْلَغَ الرِّضَا, وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ, وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ، وَاللهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ, وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ, وَمَبْلَغَ الرِّضَا, وَزِنَةَ الْعَرْشِ (3x)

(Subhanallah sepenuh mizan, setinggi ilmu, sejumlah ridha, seberat ‘arsy. La ilaha illallah sepenuh mizan, setinggi ilmu, sejumlah ridha, seberat ‘arsy. Allahu Akbar sepenuh mizan, setinggi ilmu, sejumlah ridha, seberat ‘arsy)
Sebanyak 3x

وأن يتحرز عن قطع الأشجار الرطبة إلا عند الضرورة, وإسباغ الوضوء والصلاة بالتعظيم, والقران بين الحج والعمرة, وحفظ الصحة

Disamping itu hendaknya menahan diri untuk tidak menebang pohon yang masih hidup kecuali terpaksa, menyempurnakan wudlu’, mengerjakan shalat dengan penuh ta’dhim, menggabung antara hajji dan ‘umrah dalam satu niyat dan pelaksanaan (hajji qiran), dan menjaga kesehatan.

Kesehatan Badan

ولا بد أن يتعلم شيئا من الطب, ويتبرك بالآثار الواردة فى الطب التى جمعه الشيخ الإمام أبو العباس المستغفري في كتابه المسمى : بطب النبى عليه الصلاة والسلام, يجده من يطلبه

Para pelajar tidak boleh tidak untuk mempelajari sesuatu dari ilmu kedokteran dan mengambil berkah dari beberapa atsar perihal kedokteran yang di himpun oleh Syaikhul Imam Abul ‘Abbas Al-Mustaghfiri yang di beri judul “Thibbun Nabi” ‘alaihishshalatu wassalam. Kitab ini sangat masyhur dan mu’tabar dikalangan para ‘ulama’, barangsiapa yang mencarinya, maka ia akan mendapatkannya.


Penutup;

والحمد لله على التمام, والصلاة والسلام على سيدنا محمد أفضل الرسل الكرام, وعلى آله وأصحابه.

Segala puji bagi Allah atas sempurnanya kitab ini, shalawat serta salam semoga tercurahkan atas junjungan kami Nabi Muhammad Rasul paling utama lagi mulia, atas segenap keluarga serta para shahabatnya.

Alhamdulillah, Berkat Petunjuk Dan Pertolongan-Nya Penerjemahan Kitab “TA’LIM AL MUTA’ALLIM” Telah Selesai Di Bengkulu Tengah (BENTENG) Pada Hari Senin Pagi Tanggal 05 Muharram 1438 H. / 25 September 2017 M.

Semoga Allah Ta’ala Senantiasa Menjadikan Kitab Ini Bermanfa’at Bagi Kita Semua, Serta Senantiasa Memberikan Rahmat, Maghfirah Dan Ridla-Nya Kepada Penyusun Kitab Ini, Penulisnya, Pembacanya, Kaum Muslimin Dan Muslimat Seluruhnya. Amin.



إن تجد فى التركيب والإعراب # عـيـبا فكن مـصلحا بالتـصويب 


Tammat
Wallahu ‘A’lam

Kitab Mujarab

Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab?

باب هل ورد في القرآن كلمات خارجة عن لغات العرب أولا Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-Kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab? لا خلاف بي...