Kajian kitab MINHAJUL ARIFIN Bab: 6 Tentang Tingkatan Syukur


KITAB MINHAJUL 'ARIFIN

KARYA IMAM AL GHOZALI
Bab 6 Tentang Syukur


الباب السادس  باب الشكر
 وفي كل نفس من أنفاس العبد نعمة لله تتجدد عليه يلزمه القيام بشكرها , وأدني الشكر أن يرى النعمة من الله تعالى ويرضى بما أعطاه ولا يخالفه بشيء  من نعمه ,

Bab Enam Tentang Syukur

Dalam setiap nafas seorang hamba terdapat nikmat Allah  yang senantiasa baru, karena itu dia harus melazimkan sikap syukur  kepada-Nya.
Syukur yang paling rendah adalah memandang kenikmatan itu  sebagai pemberian dari Allah ta'ala, meridloi apa yang Dia berikan dan  tidak mengingkari sedikitpun dari nikmat-nikmat-Nya.

وتمام الشكر  في الاعتراف بلسان السر أن الخلق كلهم يعجزون عن أداء شكره على أصغر جزء  من نعمه وإن بلغوا غاية المجهود ؛ لأن التوفيق للشكر نعمة حادثة يجب الشكر  عليها , فيلزمك على كل شكر شكر إلى مالا نهاية له ,

Sempurnanya syukur ada di dalam pengakuan dengan ungkapan batin bahwa segenap makhluk adalah lemah untuk mensyukuri nikmat yang peling kecil sekalipun, dan mereka harus mencurahkan segenap kesungguhan. Karena dorongan untuk bersyukur itupun termasuk nikmat baru yang wajib untuk disyukuri. Maka, engkau mesti bersyukur ketika engkau bersyukur, demikianlah seterusnya hingga tiada akhir.

فإذا تولى الله العبد , حمل عنه شكره فرضى عنه بيسير وحط عنه ما يعلم أنه لا يبلغه ويضعفه
{ وما كان عطاء ربك محظوراً }.

Ketika Allah mengurus seorang hamba maka Allah mendorongnya untuk  bersyukur kepada-Nya, maka dia akan ridlo kepada-Nya dengan rizki yang  sedikit dan akan sadar bahwa dia tidak akan mampu bersyukur kepada-Nya. "Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi".(QS 17:20)

Kajian kitab MINHAJUL ARIFIN Bab: 5 Tentang Pembagian Dzikir


KITAB MINHAJUL ARIFIN 

KARYA IMAM AL GHOZALI
Bab 5 Tentang Dzikir


الباب الخامس  باب الذكر
اجعل قلبك قبلة لسانك واشعر عند الذكر حياء العبودية وهيبة الربوبية .

Bab 5 Tentang Dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblat lisanmu, peliharalah rasa malu di  saat beribadah dan rasa takut kepada Tuhan ketika berdzikir.

وأعلم بأن الله تعالى يعلم سر قلبك ويرى ظاهر فعلك ويسمع نجوى قولك ,  فاغسل قلبك بالحزن وأوقد فيه نار الخوف فإذا زال حجاب الغفلة عن قلبك ,  كان ذكرك به مع ذكره لك ,

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mengetahui  rahasia hatimu, melihat dzohir perbuatanmu dan mendengar bisikan  ucapanmu. Maka basuhlah hatimu dengan kesedihan dan nyalakan di dalamnya api rasa takut. Karena ketika tabir kelalaian hilang dari hatimu, maka  dzikirmu kepada-Nya akan ada bersama dzikir-Nya kepadamu.

قال  الله تعالى : { ولذكر الله أكبر } ؛ لأنه ذكرك مع الغناء عنك , وأنت ذكرته  مع الفقر إليه , فقال الله تعالى : { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } ؛  فيكون اطمئنان القلب في ذكر الله له ,  ووجله في ذكره لله , قال الله تعالى  : { إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم } .

Allah Ta'ala berfirman yang artinya :  "Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar". (QS 29:45).
Sebab Dia mengingatmu dengan disertai tiada butuh-Nya kepadamu, sedangkan engkau mengingat -Nya dengan disertai butuhmu kepada-Nya.
Allah ta'ala berfirman yang artinya : "Ingatlah, sesungguhnya hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tentram". (QS 13:28).

Maka ketentraman hati ada saat mengingat Allah, dan bergetarnya hati ada saat dzikirnya karena Allah.
Allah ta'ala berfirman : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka". (QS 8:2).

والذكر ذكران :
ذكر خالص : بموافقة القلب في سقوط النظر إلى غير الله .
وذكر صاف : بفناء الهمة عن الذكر , قال رسول الله ( صلي الله عليه وسلم ) : " لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك " .

Dzikir terbagi menjadi dua:
1. Dzikir murni : Yaitu dengan cocoknya hati di saat berhenti dalam memandang selain kepada Allah.

2. Dzikir jernih : Yaitu dengan hilangnya keinginan jauh dari dzikir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Saya tidak dapat mengitung pujian kepada-Mu, sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu sendiri".

Kajian kitab MINHAJUL ARIFIN Bab: 4 Tentang Niyat


KITAB MINHAJUL ARIFIN

KARYA IMAM AL GHOZALI
Bab 4 Tentang Niat


الباب الرابع  باب النية
لابد للعبد من النية في كل حركة وسكون ( فإنما الأعمال بالنيات ولكل امرئ ما نوى ) و( نية المؤمن خير من عمله )

Bab Empat Tentang Niat

Seorang hamba tentu mempunyai niat dalam setiap gerak dan diamnya.
"Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang  mendapatkan apa yang diniatkannya".
"Niatnya orang beriman lebih baik daripada amalannya".

والنية تختلف حسب اختلاف الأوقات , وصاحب النية نفسه منه في تعب , والناس منه في راحة , وليس شيء على المريد أصعب من حفظ النية .

Niat itu berbeda-beda menurut perbedaan waktunya, niat itu menyertai dirinya di dalam kepayahan dan menyertai manusia di dalam ketentraman.

Tiada  sesuatu yang lebih sulit bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) daripada menjaga niatnya.

Kajian Kitab MINHAJUL ARIFIN Bab: 1 Penjelasan Tentang Para Murid : Penempuh Jalan Menuju Allah


KITAB MINHAJUL 'ARIFIN


Bab 1: Penjelasan Tentang Para Murid


الباب الاول  البيان نحو المريدين
يدور على ثلاثة أصول : الخوف والرجاء والحب .فالخوف : فرع العلم .والرجاء : فرع اليقين .والحب : فرع المعرفة .  فدليل الخوف : الهرب .ودليل الرجاء : الطلب .ودليل الحب : إيثار المحبوب .

Bab Pertama Penjelasan Tentang Para Murid (Penempuh Jalan Menuju Allah)

Penjelasan ini meliputi tiga prinsip, yaitu takut kepada Allah (khouf), harapan kepada Allah (roja') dan cinta kepada Allah (hubb).

Khouf adalah cabangnya ilmu, Roja' adalah cabangnya yakin dan Hubb adalah cabangnya ma'rifat.

Bukti Khouf adalah lari dari larangan-larangan-Nya, bukti Roja' adalah mencari rahmat-Nya dan bukti Hubb adalah mengutamakan yang dicintai yaitu Allah.

ومثال ذلك : الحرم و المسجد والكعبة , فمن دخل حرم الإرادة أمن من الخلق , ومن دخل المسجد أمنت جوارحه أن يستعملها في معصية الله تعالى , ومن دخل الكعبة أمن قلبه أن يشتغل بغير ذكر الله عز وجل .

Analoginya adalah seperti tanah haram, masjidil haram dan ka'bah.

Barang siapa memasuki tanah haram maka ia aman dari gangguan makhluk, barang siapa memasuki masjidil haram maka anggota tubuhnya aman dari melakukan kemaksiatan kepada Allah ta'ala dan barang siapa memasuki ka'bah maka hatinya aman dari lalai kepada Allah azza wajalla.

فإذا أصبح العبد لزمه أن ينظر في ظلمة الليل ونور النهار ويعلم أن أحدهما إذا ظهر عزل صاحبه عن الولاية فكذلك نور المعرفة إذا ظهر عزل ظلمة المعاصي عن الجوارح ,

Apabila seorang hamba memasuki waktu subuh maka ia harus memandang kegelapan malam dan cahaya siang, dia akan mengetahui bahwa apabila salah satu dari keduanya itu muncul maka yang lainya hilang dari kekuasaanya.

Begitu juga dengan cahaya ma'rifat, ketika ia muncul maka kegelapan maksiyat hilang dari anggota tubuhnya.

فإن كانت حالته حالة يرضاها لحلول الموت شكر الله تعالى على توقيفه وعصمته , وإن كانت حالته حالة يكره معها الموت انتقل عنها بصحة العزيمة و كمال الجهد و علم أن لا ملجأ من الله إلا إليه , كما أنه لا وصول إليه إلا به

Jika keadaanya hamba seperti keadaan orang yang ridlo akan kematian, maka ia bersyukur kepada Allah ta'ala atas pertolongan dan penjagaan-Nya, dan jika keadaannya seperti keadaan orang yang membenci kematian, maka ia berpindah dari keadaan itu dengan keinginan yang benar dan kesungguhan yang sempurna. Dan dia akan mengetahui bahwa tiada perlindungan dari Allah selain berlindung kepada-Nya sebagaimana tiada akan sampai kepada-Nya selain dengan kekuasaan-Nya.

, فندم على ما أفسده من عمره بسوء اختياره واستعان بالله على تطهير ظاهره من الذنوب وتصفية باطنه من العيوب وقطع زنار الغفلة عن قلبه وأطفأ نار الشهوة عن نفسه واستقام على طريق الحق وركب مطية الصدق فإن النهار دليل الآخرة والليل دليل الدنيا , والنوم شاهد الموت , والعبد قادم على ما أسلف ونادم على ما خلف يقول الله عز وجل : { يُنَبَّأُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ }

Maka dia menyesali atas umur yang telah dihabiskannya dengan buruknya usaha-usahanya, dan dia memohon pertolongan kepada Allah untuk mensucikan dhohirnya dari dosa-dosa, membersihkan bathinnya dari cacat cela, memutuskan ikatan kelalaian dari hatinya, dan memadamkan api syahwat dari nafsunya. Dia berdiri tegak di atas jalan kebenaran dan menaiki bahtera ketulusan.

Sesungguhnya siang adalah bukti akherat, malam adalah bukti dunia dan tidur adalah saksi kematian.

Seorang hamba akan mengerjakan apa yang mendahuluinya dan menyesali apa yang tertinggal.

Allah azza wajalla berfirman yang artinya :
"_Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya_ " (QS 75:13).

Kajian kitab MINHAJUL ARIFIN Bab: 3 Tentang Hukum Mencari Ilmu Jiwa


KITAB MINHAJUL 'ARIFIN

KARYA IMAM AL GHOZALI
Bab 3: Tentang Penjagaan


الباب الثالث  باب الرعاية
قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم : " طلب العلم فريضة على كل مسلم " , وهو علم الأنفاس فيجب أن يكون نفس المريد شكرا أو عذرا , فإن قبل ففضل وإن رد فعدل , فطائع الحركة بالتوفيق و السكون بالعصمة ولا يستقيم ذلك له إلا بدوام الافتقار والاضطرار .

Bab Tiga Tentang Penjagaan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim". Maksudnya adalah ilmu jiwa, maka jiwa seorang murid wajib dalam keadaan bersyukur atau dalam keadaan udzur, jika menerima maka memberi karunia dan jika menolak maka secara adil. Keta'atan gerakan dengan taufiq dan diamnya dengan penjagaan, hal itu tidak bisa lurus kecuali dengan langgengnya perasaan butuh dan sangatnya butuh kepada Allah.

ومفتاح ذلك : ذكر الموت ؛ لأن فيه راحة من الحبس ونجاة من العدو , وقوامه برد العمر على يوم واحد , ولن يلتئم ذلك إلا بالتفكير في الأوقات ,

Kuncinya hal itu adalah mengingat kematian, karena dalam mengingatnya terdapat kelegaan dari pemenjaraan dan keselamatan dari musuh. Penopangnya dengan mengembalikan umur pada hari yang satu dan hal itu tidak bisa menjadi baik kecuali dengan tafakkur dalam seluruh waktu.

وباب الفكر الفراغ , وسبب الفراغ الزهد , وعماد الزهد التقوى , وسنام التقوى الخوف , وزمام الخوف اليقين , ونظام اليقين الخلوة والجوع , وتمامها الجهد و الصبر , وطريقها الصدق , ودليل الصدق العلم .

Pintunya berfikir adalah kekosongan, sebabnya kekosongan adalah zuhud, tiangnya zuhud adalah taqwa, puncaknya taqwa adalah khouf/perasaan takut kepada Allah, kendalinya khouf adalah yakin, runtutnya yakin adalah kholwat/menyingkir dari manusia dan lapar, kesempurnaan yakin adalah bersungguh-sungguh dan sabar, jalannya yakin ketulusan dan dalilnya ketulusan adalah ilmu.

Baca juga: Tentang niyat

Kajian Kitab MINHAJUL 'ARIFIN Bab: 2 Tentang I'robnya Hati


"KITAB MINHAJUL 'ARIFIN"

KARYA IMAM AL GHOZALI
Bab 2: Tentang Hukum-hukum


الباب الثاني باب الأحكام
وإعراب القلوب على أربعة أنواع : رفع , وفتح , وخفض , ووقف .

Bab Dua Tentang Hukum-hukum

I'robnya hati ada empat macam :
1. Rofa' (naik/terangkat)
2. Fath (terbuka)
3. Khofadz (turun)
4. Waqf (berhenti/mati)

فرفع القلب : في ذكر الله .
وفتح القلب : في الرضاء عن الله تعالى .
وخفض القلب : في الاشتغال بغير الله تعالى .
ووقف القلب : في الغفلة عن الله تعالى .

Rofa' (naik/terangkat) nya hati adalah ketika dzikir kepada Allah,
Fath (terbuka) nya hati adalah ketika ridho kepada Allah,
Khofadz (turun) nya hati adalah ketika sibuk dgn selain Allah,
Waqof (berhenti/mati) nya hati adalah ketika lalai dari Allah.

فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , وفقد المخالفة , ودوام الشوق .
وعلامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , والصدق , واليقين .

Tanda rofa' nya hati ada 3 :
1. Adanya kecocokan
2. Hilangnya penyimpangan
3. Lestarinya kerinduan

Tanda fath nya hati ada 3 :
1. Kepasrahan
2. Kejujuran
3. Keyakinan

وعلامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , والرياء , والحرص وهو مرعاة الدنيا .
وعلامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , وعدم مرارة المعصية , والتباس الحلال

Tanda khofadz nya hati ada 3 :
1. Bangga diri
2. Pamer
3. Tamak yaitu selalu memperhatikan dunia.

Tanda waqof nya hati ada 3 :
1. Hilangnya rasa manis dalam keta'atan
2. Tiadanya rasa pahit dalam kema'siatan
3. Ketidak jelasan kehalalan.

Kajian Kitab MINHAJUL ARIFIN MUQADDIMAH


"KITAB MINHAJUL 'ARIFIN"
KARYA IMAM AL GHOZALI


MUQADDIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله اللذى نور قلوب العارفين بذكره, وانطق السنتهم بشكره, وعمر جوارحهم بخدمته,

Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah yang telah menerangi kalbu orang-orang 'arif dengan berdzikir kepada-Nya, menggerakkan lisan mereka dengan bersyukur kepada-Nya, dan menyibukkan anggota badan mereka dengan berbakti kepada-Nya.

فهم في رياض الانس يرتعون والي اوكار المحبة ياءوون , ذكرهم فذكروه, واحبهم فاحبوه, ورضي عنهم فرضوا عنه,

Mereka terpelihara di taman keakaraban dan berlindung di sarang kecintaan. Allah mengingat mereka maka merekapun mengingat-Nya, Allah mencintai mereka maka merekapun mencintai-Nya dan Allah meridloi mereka maka merekapun ridlo kepada-Nya.

راءس مالهم الافتقار ونظام امرهم الاضطرار, علمهم دواء الذنوب, وعرفهم طب القلوب, فهم مصابيح انوار حجته, ومفاتيح خزائن حكمته,

Modal mereka adalah perasaan butuh kepada Allah dan keteraturan urusan mereka adalah sangatnya butuh kepada Allah. ilmu mereka adalah pengobat dosa-dosa dan ma'rifat mereka adalah penyembuh kalbu. mereka adalah pelita-pelita cahaya hujjah-Nya dan mereka adalah kunci-kunci kebijaksanaan-Nya.

امامهم القمر الطالع, وقائدهم النور الساطع, سيد الموالي والعرب محد بن عبد الله بن عبد المطلب, الثمرة الزاكية من الشجرة المباركة, التي اصلها التوحيد, وفرعها التقوى.

Imam mereka adalah bulan yang terbit, pemimpin mereka adalah cahaya yg terang, penghulu para wali dan bangsa arab, Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muttholib, beliau adalah buah suci dari pohon yang diberkati, akarnya adalah tauhid dan dahannya adalah taqwa.

لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

Tidak di timur dan tidak pula di barat, yg minyaknya nyaris menerangi walaupun tidak tersentuh api. cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yg di kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan -perumpamaan bagi manusia. dan Allah mengetahui segala sesuatu. (QS 24:35)
Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS 24:40).

صلي الله عليه وسلم صلاة تلوح في السموات اثارها وتعلو في جنان الخلد انوارها وتطيب في مشاهد الانبياء اخبارها, وعلي اله الطاهرين واصحابه المطهرين

Baginya sholawat dan salam, sholawat yang pengaruhnya bersinar di langit, cahayanya meninggi di syurga-syurga keabadian dan khabarnya mengharumkan majlis para Nabi. Sholawat dan salam juga bagi keluarganya yang suci dan para sahabatnya yang disucikan.

HUKUM KHITAN DAN HIKMAHNYA


HUKUM KHITAN DAN HIKMAHNYA

Mungkin sebagian dari kita ada yang belum mengerti tentang seluk beluk khitan. Bisa jadi, sebagian orang tua mengh-khitan-kan anaknya hanya karena mengikuti tradisi. Maka alangkah baiknya terlebih dahulu kita mengetahui apa itu khitan, apa hukumnya dan apa hikmah yang terkandung didalamnya, agar kita benar-benar dapat menghayati suatu amal yang kita lakukan.

Pengertian Khitan secara lughawi (etimologi) merupakan bentuk masdar dari fi’il madi khotana (خَتَنَ) yang berarti memotong. Dan pengertian khitan menurut syari’at atau secara terminologi bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutup hasyafah (kepala kemaluan laki-laki) hingga semuanya terbuka. Sedang bagi wanita khitan adalah memotong bagian bawah kulit yang disebut Nawat yang berada di bagian atas farji (kemaluan wanita).

Kemudian bagaimana dengan hukum khitan?
Khitan merupakan salah satu syari’at yang Allah Ta’ala perintahkan kepada hamba-hamba-Nya berdasarkan firman Allah subhanahu wa Ta’ala;

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الحج 78)

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang yang musyrik””. (Qs. Al-Hajj 78).

Menurut ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti syari’at Nabi Ibrahim alaihissalam termasuk khitan. Dan menurut sejarah, Nabi Ibrahim adalah orang pertama yang ber-khitan, yaitu setelah beliau berusia 80 tahun.
Disebutkan dalam kitab shahih Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ ثَمَانِينَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُومِ

“Nabi Ibrahim berkhitan setelah berusia 80 tahun dengan menggunakan Qodum (kampak)”.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan dalam kitabnya Fathul Bari;

فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْوَجَعُ فَدَعَا رَبَّهُ فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ إِنَّكَ عَجلْتَ قَبْلَ أَنْ نَأْمُرَكَ بِآَلَتِهِ ، قَالَ يَا رَبِّ كَرِهْتُ أَنْ أُؤَخِّرَ أَمْرَكَ

Setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam segera melaksanakan perintah tersebut dengan menggunakan kampak, beliau merasakan sakit yang cukup parah, maka beliau berdo’a kepada Tuhannya, dan Allah menurunkan wahyu kepadanya; “Engkau terlalu terburu-buru melakaukannya sebelum kami memberitahukan alatnya kepadamu”. Beliau berkata; “Wahai Tuhanku, aku tidak suka menunda-nunda perintah-Mu”.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

« إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ »

“Apabila seorang laki-laki duduk di atas cabang empat wanita (maksudnya; kedua paha dan kedua tangan) dan khitan laki-laki menyentuh khitan wanita, maka sungguh wajib mandi baginya”. (HR. Muslim).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

(أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ ) . رواه أبو داود

“Buanglah bulu-bulu kekafiran darimu dan berkhitanlah”

Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

اَلْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ (رواه أحمد)

“Khitan hukumnya sunnah bagi kaum laki-laki dan kemuliaan bagi kaum wanita”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

« الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الاِخْتِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ ». (رواه بخاري ومسلم)

“Fitrah (kebersihan) itu ada lima, yaitu; Khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak”.

Berdasarkan beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits di atas, para ulama madzhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali sepakat bahwa khitan adalah masyru’ (di syari’atkan) bagi laki-laki dan perempuan, namun apakah perintah tersebut bersifat wajib atau sunnah mereka berbeda pendapat mengenainya?

Menurut pendapat muktamad (yang diunggulkan) dari madzhab Hambali dan Syafi’i adalah; Khitan hukumnya wajib bagi kaum laki-laki maupun perempuan. Dan apabila perempuan belum di khitan di masa kecilnya, maka setelah dewasa tetap berkewajiban untuk ber-khitan.
Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Hanafi; Khitan hukumnya sunnah bagi laki-laki dan merupakan suatu kemuliaan bagi wanita, berdasarkan keumuman hadits di atas.

Adapun hikmah di syari’atkannya khitan bagi laki-laki diantaranya adalah untuk menghindari adanya najis pada amggota badan saat shalat. Sebab shalat seseorang tidak sah apabila pada badannya terdapat najis yang melekat. Dengan khitan, maka najis kencing yang melekat di sekitar kulfa (kulub) akan jauh lebih mudah di hilangkan bersamaan dengan membasuh kemaluannya setelah buang air kecil. Dan ini, juga menjadi alasan diwajibkannya khitan, karena ada kaidah yang menyatakan;

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu pun hukumnya wajib”.

Dan hikmah di syari’atkannya khitan bagi wanita adalah karena untuk menstabilkan syahwatnya agar tidak binal.

Diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud bahwa di Madinah ada seorang wanita yang berprofesi mengkhitan wanita, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya;

« لاَ تُنْهِكِى فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ ».

“Jangan engkau berlebihan dalam memotongnya, karena yang demikian itu akan mempercantik wanita dan disenangi suami”.

Kemudian bagaimana jika ada orang yang lahir dalam keadaan terkhitan sebagaimana 15 Nabi yang menurut sebagian riwayat lahir dalam keadaan terkhitan yaitu; Nabi Adam, Syits, Nuh, Hud, Sholih, Luth, Syu’aib, Yusuf, Musa, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, Handzolah bin Shofwan yang menjadi Nabinya Ash-habur rossi, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah wajib khitan atau tidak?

Dalam hal ini Imam Nawawi mengemukakan dalam kitabnya Al-Majmuk;

قَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِى فِي كِتَابِهِ التَّبْصِرَةُ فِي الْوَسْوَسَةِ : لَوْ وُلِدَ مَخْتُوْنًا بِلَا قُلْفَةٍ فِلَا خِتَانَ لَا إِيْجَابًا وَلَا اسْتِحْبَابًا: فَاِنْ كَانَ مِنَ الْقُلْفَةِ الَّتِى تغْطِي الْحَشَفَةَ شَيْئٌ مَوْجُوْدٌ وَجَبَ قَطْعُهُ كَمَا لَوْ خَتَنَ خِتَانًا غَيْرَ كَامِلٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ تَكْمِيْلُهُ ثَانِيًا حَتَّى يُبَيِّنَ جَمِيْعُ الْقُلْفَةِ الَّتِي جَرَتْ الْعَادَةُ بِإِزَالَتِهَا فِي الْخِتَانِ .

Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata dalam kitabnya At-Tabshir Fi Al-Waswasah; Apabila seseorang dilahirkan dalam keadaan terkhitan dan tidak berkulup, maka tidak wajib khitan dan tidak pula sunnah. Namun apabila ada sedikit saja kulup yang menutup bagian hasyafah (kepala dzakar), maka itu wajib dipotong, sebagaimana apabila ia di khitan dengan khitan yang tidak sempurna, maka ia wajib menyempurnakannya untuk kali kedua hingga seluruh kulup yang biasanya terpotong saat di khitan nyata-nyata telah hilang.

HAK ANAK ATAS ORANG TUA


HAK ANAK ATAS ORANG TUA

Abu Al-Laits As-Samarqandi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anh ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

" مِنْ حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ إِذَا وُلِدَ، وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَ إِذَا عَقَلَ، وَيُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ "

Diantara hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua ada tiga, yaitu; Memberi nama yang bagus, mengajarkan kitab Allah dan mengawinkannya jika telah aqil baligh”.



HIKAYAT

Diriwayatkan dari sayyidina Umar radhiyallahu anh bahwa seorang laki-laki datang kepadanya bersama dengan anaknya dan berkata; Putraku ini durhaka kepadaku.
Maka sayyidina Umar radhiyallahu anh berkata kepada anak tersebut; Apakah engkau tidak takut kepada Allah hingga engkau berlaku durhaka kepada orang tuamu? Sesungguhnya hak kewajiban anak terhadap orang tua begini dan begini….
Lalu anak itu berkata; Wahai Amirul Mukminin; Bukankah seorang anak juga punya hak atas orang tuanya?
Beliau menjawab; Benar, hak anak atas orang tua adalah memilihkan ibu yang baik, yakni tidak menikahi seorang wanita rendahan agar anak tidak menjadi orang yang tercela lantaran ibunya. Beliau melanjutkan; Memberi nama yang bagus dan mengajarkan kitab Allah.
Lantas anak itu berkata; Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik untukku. Ibuku adalah hamba sahaya jelek yang dibelinya dari pasar seharga 400 Dirham. Ayahku tidak memberiku nama yang baik, ia memberiku nama “Ju’al” (kelelawar jantan), dan ayahku tidak mengajariku kitab Allah walau satu ayat pun.
Maka sayyidina Umar radhiyallahu anh menatap ayah anak tersebut dan berkata; Engkau berkata; anakku ini durhaka kepadaku. Sungguh engkau telah mendurhakainya sebelum ia durhaka kepadamu. Enyahlah dari hadapanku.

Kitab Mujarab

Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab?

باب هل ورد في القرآن كلمات خارجة عن لغات العرب أولا Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-Kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab? لا خلاف بي...