نحو القلوب
Gramatika Qalbu:
Meluruskan Lisan, Menata Batin,
Menuju Allah
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحمد لله الذي أودع الحكمة أهلها، وعلم آدم
الأسماء كلها
Segala puji
bagi Allah yang menganugerahkan hikmah kepada ahlinya, dan mengajarkan kepada
Nabi Adam nama-nama seluruhnya.
وأوقفه على المقصود من دائرة الوجود، فحل شكلها،
فبين لبنيه حروفها، ووسم اسمها، ورسم فعلها
Dan Dia
memperlihatkan kepadanya hakikat tujuan dari lingkaran keberadaan, lalu Dia
membukakan kerumitannya, menjelaskan kepada anak-cucunya huruf-hurufnya,
menandai namanya, dan menggambarkan perbuatannya.
فمنهم من شمر لوابل القسمة وما رضي بطلها
Di antara
mereka ada yang bersungguh-sungguh menerima bagian (ketentuan Allah), dan tidak
rela bila amalnya sia-sia.
ومنهم من رضي بالعزيمة فلما عقد عقد العزيمة حلها
Dan di antara
mereka ada yang ridha menempuh jalan tekad yang kuat; namun ketika ikatan tekad
itu telah terikat, ia justru melepaskannya (yakni goyah dari keteguhan).
فزمرة أقبلت على إصلاح الشأن ليظهر فضلها
Maka ada
segolongan yang menghadap sungguh-sungguh kepada perbaikan diri dan urusannya,
agar tampak keutamaannya.
وزمرة تجاوزت إلى جنات الجنان
Dan ada
segolongan yang melampaui itu menuju taman-taman surga.
ذوات أغصان العصيان، من شجرة الطغيان، فقطعت
أصلها
(Mereka lebih
dahulu memotong cabang-cabang kemaksiatan yang tumbuh dari pohon kedurhakaan,
bahkan menebang akar-akarnya).
ثم نحت نحو من أعلها، لعلها، تظفر بشفائها
ولعلها، ويخاطبها شفاها ومن لها
Kemudian
mereka menempuh jalan menuju puncak yang tinggi itu, semoga mereka memperoleh
kesembuhannya (kesembuhan hati/jiwa), dan semoga mereka sampai pada kedekatan
yang intim (dengan rahmat Allah), siapa yang dapat meraihnya selain orang yang
diberi taufik?
أحمده على نعمه كلها، وجوده على دلها، فأهدت إلي
وبلها
Aku
memuji-Nya atas seluruh nikmat-Nya, atas kemurahan-Nya yang telah
menunjukkannya, hingga limpahan karunia-Nya mengalir kepadaku bagai hujan yang
deras.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة أستظل
ظلها، يوم لا ظل إلا ظلها
Aku bersaksi
bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya—sebuah persaksian
yang dengannya aku berharap bernaung di bawah naungannya, pada hari ketika
tiada naungan selain naungan-Nya.
وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الذي أرسله إلى
جنود الطغيان ففلها، وإلى ليوث الأوثان فأذلها
Dan aku
bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Dia
utus menghadapi bala tentara kezaliman lalu mematahkan kekuatannya, dan
menghadapi singa-singa penyembah berhala lalu menundukkannya.
صلى الله تعالى عليه وعلى آله وأصحابه صلاة دائمة
إلى يوم تضع كل ذات حمل حملها
Semoga Allah
melimpahkan shalawat yang terus-menerus kepadanya, kepada keluarganya, dan para
sahabatnya, hingga hari ketika setiap yang mengandung melahirkan kandungannya
(yakni Hari Kiamat).
وبعد:
Amma ba‘du
(selanjutnya):
فأن النحو عبارة عن القصد
Sesungguhnya nahwu secara bahasa berarti tujuan/arah yang dituju (القصد).
والناس مختلفون في المقاصد، ومفترقون في المصادر
والموارد
Dan manusia
berbeda-beda dalam tujuan mereka, serta berlainan jalan datang dan tempat
kembali mereka.
فواحد تقويم لسانه مبلغ علمه
Ada orang
yang puncak ilmunya adalah meluruskan lisannya
(yakni fokus pada nahwu, bahasa, fasih berbicara).
وواحد تقويم جنانه أكثر همه
Dan ada orang
yang perhatian terbesarnya adalah meluruskan janān-nya (hatinya/batinnya).
(الجنان
di sini bukan surga, tetapi jamak maknawi dari hati nurani/batin).
فالأول صاحب عبارة، والثاني صاحب إشارة
Yang pertama
adalah ahli ungkapan/lafaz, sedangkan yang kedua adalah ahli isyarat/makna
batin.
فنقول وبالله التوفيق ولرسوله التصديق
Maka kami
mulai (pembahasan ini), dengan memohon taufik kepada Allah dan membenarkan
Rasul-Nya.
Kesimpulan:
1) Awal segala
ilmu adalah dari Allah
Penulis membuka dengan memuji Allah
sebagai:
- pemberi hikmah kepada ahlinya,
- pengajar nama-nama kepada Nabi Adam,
- pembuka rahasia keberadaan,
- pelimpah nikmat dan karunia.
Maksudnya: ilmu, pemahaman, dan
kebijaksanaan bersumber dari Allah, bukan semata hasil kecerdasan manusia.
2) Manusia diberi
jalan, tapi responnya berbeda
Penulis menggambarkan manusia dalam
beberapa golongan:
- ada yang bersungguh-sungguh memperbaiki
diri,
- ada yang bertekad namun goyah,
- ada yang memotong akar maksiat dan
melangkah menuju kesucian hati.
Maknanya: semua diberi kesempatan,
tetapi yang sampai adalah yang istiqamah.
3) Musuh terbesar
adalah “pohon kedurhakaan”
Ungkapan:
من شجرة الطغيان
فقطعت أصلها
“dari pohon kezaliman/kedurhakaan lalu mereka memotong akarnya”
Isyaratnya:
- dosa itu bukan hanya cabang (perbuatan),
- tetapi ada akar: sombong, hawa nafsu,
riya’, cinta dunia, lalai kepada Allah.
Yang harus dipotong adalah akarnya, bukan hanya gejalanya.
4) Makna nahwu
bukan hanya gramatika
Ketika penulis berkata:
فإن النحو عبارة
عن القصد
“Nahwu adalah arah/tujuan.”
Ia sedang memberi makna lebih luas:
- nahwu lisan → memperbaiki ucapan, bahasa,
ilmu lahir.
- nahwu hati → meluruskan niat, batin,
tujuan hidup.
Jadi nahwu bukan sekadar:
فاعل، مفعول،
مبتدأ، خبر
tetapi juga:
ikhlas, tawakal, takut, cinta, ridha.
5) Ada dua jenis
ulama / pencari ilmu
فالأول صاحب
عبارة، والثاني صاحب إشارة
- صاحب عبارة → ahli lafaz, teks, ucapan, tulisan.
- صاحب إشارة → ahli makna, rasa iman, kedalaman hati.
Yang ideal adalah menggabungkan
keduanya:
lidah lurus + hati lurus.
Intinya:
“Belajar ilmu jangan hanya membenahi bahasa
lisan, tapi juga membenahi bahasa hati; sebab tujuan ilmu bukan sekadar fasih
berbicara, melainkan lurus menuju Allah.”
Sumber:
الكتاب: نحو القلوب
المؤلف: الامام عبد الكريم بن هوزان بن عبد الملك القشيرى (المتوفى: 465 ه)
Baca juga: Ilmu:
Meluruskan
Pikiran, Amal: Meluruskan Tindakan, Ahwal: Meluruskan Hati – Gramatika Qalbu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar