Pendahuluan
Pembahasan mengenai berbagai
kelompok dalam sejarah Islam merupakan bagian dari kajian ilmu aliran (al-milal
wa an-niḥal) yang telah ditulis oleh banyak ulama klasik. Salah satunya adalah Kitab
At-Tabṣīr fī ad-Dīn, yang menguraikan berbagai kelompok beserta pokok-pokok
keyakinan mereka menurut perspektif penulisnya.
Pada bagian ini dijelaskan kelompok Al-Qath'iyyah,
yang dalam uraian kitab dikaitkan dengan berkembangnya keyakinan tentang dua
belas imam (Itsna 'Asyariyah). Penulis memaparkan bagaimana kelompok
tersebut memahami kesinambungan imamah setelah Ja'far ash-Shadiq serta
perbedaan pendapat mengenai sosok imam yang mereka nantikan.
Sumber
Kitab: التبصير في الدين وتمييز الفرقة
الناجية عن الفرق الهالكين (At-Tabṣīr
fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn)
Penulis
Thahir bin Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad Al-Isfarayini (طاهر بن محمد بن أحمد بن محمد الإسفراييني)
Tema
Pandangan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn
tentang Kelompok Al-Qath'iyyah dan Munculnya Keyakinan Syiah Dua Belas Imam
Terjemahan Lengkap
Al-Qath'iyyah
Kelompok Al-Qath'iyyah
dinamakan demikian karena mereka menetapkan bahwa setelah Ja'far, kepemimpinan
(imamah) berpindah kepada putranya, Musa. Selanjutnya mereka memastikan
bahwa Musa benar-benar telah wafat.
Mereka berpendapat bahwa Imam Mahdi
yang dinantikan adalah Muhammad bin Al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali
ar-Ridha bin Musa al-Kazhim.
Kelompok ini dikenal pula sebagai Itsna
'Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam), karena mereka meyakini bahwa imam yang
dinantikan tersebut merupakan imam kedua belas dari keturunan Ali bin Abi
Thalib.
Kemudian mereka berbeda pendapat
mengenai usia ayahnya ketika wafat. Sebagian mengatakan bahwa beliau masih
berusia empat tahun, sementara sebagian lainnya mengatakan delapan
tahun.
Selanjutnya muncul lagi perbedaan
pendapat di antara mereka.
Sebagian berpendapat bahwa pada usia
tersebut ia telah menjadi imam yang wajib ditaati serta telah mengetahui
seluruh ajaran agama.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa
ia disebut imam dalam arti kelak akan menjadi imam ketika telah dewasa,
kemudian ia menghilang dari pandangan manusia hingga Allah mengizinkannya untuk
muncul kembali.
Artikel Pengembangan
Pembahasan mengenai Al-Qath'iyyah
dalam kitab ini memperlihatkan bagaimana persoalan imamah menjadi salah
satu isu teologis yang paling banyak diperdebatkan dalam sejarah Islam. Setelah
wafatnya Ja'far ash-Shadiq, muncul berbagai kelompok yang masing-masing
memiliki pandangan berbeda mengenai siapa yang berhak menjadi penerus
kepemimpinan.
Menurut penulis kitab, Al-Qath'iyyah
menetapkan bahwa garis kepemimpinan diteruskan kepada Musa al-Kazhim, kemudian
berlanjut hingga Muhammad bin al-Hasan yang diyakini sebagai imam kedua belas.
Dalam uraian tersebut juga
disebutkan adanya perbedaan internal mengenai usia Muhammad bin al-Hasan ketika
ayahnya wafat. Sebagian berpandangan bahwa meskipun masih sangat kecil, ia
telah memiliki seluruh pengetahuan agama dan telah menjadi imam yang wajib
ditaati. Kelompok lainnya memahami bahwa status imam itu baru akan sempurna
ketika ia dewasa, meskipun sejak kecil telah ditetapkan sebagai imam yang kelak
akan muncul kembali.
Dari sudut pandang sejarah pemikiran
Islam, uraian seperti ini menunjukkan bahwa perkembangan berbagai aliran tidak
selalu berlangsung secara sederhana. Bahkan di dalam satu kelompok besar sering
muncul berbagai perbedaan mengenai rincian ajaran maupun tokoh yang mereka
yakini.
Perlu dipahami bahwa penjelasan di
atas merupakan paparan sejarah sebagaimana ditulis oleh Thahir al-Isfarayini
dalam kitabnya, yang disusun dari perspektif teologi Ahlus Sunnah pada
masanya. Oleh karena itu, pembaca modern sebaiknya memandangnya sebagai bagian
dari dokumentasi sejarah pemikiran Islam sekaligus membandingkannya dengan
sumber-sumber primer dari masing-masing mazhab agar memperoleh pemahaman yang
lebih utuh.
Hikmah
Beberapa pelajaran yang dapat
diambil dari pembahasan ini antara lain:
- Perbedaan mengenai kepemimpinan setelah Nabi Muhammad ﷺ menjadi salah satu faktor utama
munculnya berbagai aliran dalam sejarah Islam.
- Kajian terhadap kitab-kitab klasik membantu memahami
perkembangan sejarah intelektual umat Islam dari berbagai sudut pandang.
- Membaca karya ulama terdahulu perlu disertai pemahaman
terhadap konteks zaman dan latar belakang penulisnya.
- Sikap ilmiah menuntut pembaca untuk membedakan antara
penyajian sejarah, analisis teologis, dan keyakinan masing-masing mazhab.
- Mengkaji perbedaan dengan adab dan objektivitas dapat
memperluas wawasan sekaligus menjaga persaudaraan sesama Muslim.
Penutup
Pembahasan mengenai Al-Qath'iyyah
dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn menunjukkan bagaimana penulis menguraikan
asal-usul keyakinan yang kemudian dikenal sebagai Syiah Itsna 'Asyariyah.
Uraian tersebut merupakan bagian dari kajian sejarah aliran-aliran Islam
menurut perspektif penulis kitab. Bagi pembaca masa kini, mempelajari
karya-karya klasik semacam ini dapat menjadi sarana memahami dinamika sejarah
pemikiran Islam, sekaligus mendorong sikap kritis, adil, dan menghargai
perbedaan dalam kajian ilmiah.
Teks Arab :
القطعية
القطعية مِنْهُم سموا بذلك لأَنهم ساقوا الْإِمَامَة بعد
جَعْفَر إِلَى ابْنه مُوسَى ثمَّ قطعُوا بِمَوْت مُوسَى وَقَالُوا إِن الْمهْدي
المنتظر مُحَمَّد بن الْحسن بن عَليّ بن مُحَمَّد بن عَليّ الرِّضَا بن مُوسَى
الكاظم وَهَؤُلَاء يدعونَ الأثنى عشرِيَّة لأَنهم ادعوا إِن الإِمَام المنتظر هُوَ
الثَّانِي عشر من أَوْلَاد عَليّ بن أبي طَالب ثمَّ اخْتلف هَؤُلَاءِ فِي سنة
وَفَاة أَبِيه فَمنهمْ من قَالَ إِنَّه كَانَ ابْن أَربع سِنِين وَمِنْهُم من
قَالَ ابْن ثَمَان سِنِين ثمَّ قَالَ قوم مِنْهُم إِنَّه كَانَ إِمَامًا وَادي
الطَّاعَة فِي ذَلِك الْوَقْت وَكَانَ عَالما بِجَمِيعِ معالم الدّين وَقَالَ قوم
إِنَّه كَانَ إِمَامًا على معنى أَنه سيصير إِمَامًا إِذا بلغ وَأَنه غَابَ عَن
أعين النَّاس إِلَى أَن يُؤذن لَهُ فِي الْخُرُوج
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Kelompok Hisyamiyah dan Musawiyah dalam Syiah Imamiyah:
Penjelasan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

0 Komentar