Benarkah Peristiwa Baru Terjadi karena Kesiapan dan Waktu yang Tepat? Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali terhadap teori kesiapan (isti‘dād) dan waktu dalam filsafat

Pendahuluan

Dalam pembahasan mengenai keazalian alam (qidam al-'ālam), para filsuf berusaha menjawab keberatan bahwa sesuatu yang baru tidak mungkin muncul dari sesuatu yang qadim. Mereka menjelaskan bahwa peristiwa baru bukanlah peristiwa pertama, melainkan terjadi setelah adanya kesiapan objek, datangnya waktu yang sesuai, atau terpenuhinya syarat tertentu.

Imam Al-Ghazali kemudian menguji jawaban tersebut dengan pertanyaan yang sangat mendasar. Menurut beliau, jika kesiapan, waktu, atau syarat itu sendiri merupakan sesuatu yang baru, maka dari mana asal kemunculannya? Dengan demikian, persoalan yang ingin dihindari para filsuf justru muncul kembali.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Kritik Imam Al-Ghazali terhadap teori kesiapan (isti‘dād) dan hadirnya waktu sebagai sebab terjadinya peristiwa baru.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Imam Al-Ghazali adalah ulama besar Ahlus Sunnah yang menguasai ilmu kalam, usul fikih, logika, filsafat, dan tasawuf. Dalam Tahāfut al-Falāsifah, beliau menguji argumentasi metafisika para filsuf dengan pendekatan logis untuk menunjukkan kelemahan dasar-dasar pemikiran mereka.

Terjemahan Lengkap

Mereka Berkata: Karena Adanya Kesiapan dan Datangnya Waktu

Jika mereka berkata:

"Kami tidak menganggap mustahil munculnya suatu peristiwa baru dari sesuatu yang qadim, apa pun bentuk peristiwa itu.

Yang kami anggap mustahil hanyalah munculnya peristiwa pertama dari sesuatu yang qadim.

Sebab sebelum peristiwa pertama terjadi, keadaan saat terjadinya tidak memiliki keunggulan dibandingkan keadaan sebelumnya.

Tidak ada perbedaan dari sisi datangnya waktu, tersedianya alat, terpenuhinya syarat, keadaan alam, tujuan, maupun sebab-sebab lainnya.

Adapun apabila peristiwa itu bukan peristiwa pertama, maka boleh saja ia muncul dari sesuatu yang qadim ketika telah terjadi sesuatu yang lain, seperti kesiapan objek yang menerima, datangnya waktu yang sesuai, atau hal-hal lain yang sejenis."

Jawaban Kami: Dari Mana Datangnya Kesiapan Itu?

Kami menjawab:

Pertanyaan yang sama tetap berlaku terhadap munculnya kesiapan, datangnya waktu, maupun segala sesuatu yang baru tersebut.

Maka kejadiannya tidak lepas dari dua kemungkinan.

Pertama, rangkaian sebab itu terus berlanjut tanpa akhir.

Atau kedua, rangkaian itu berakhir pada sesuatu yang qadim, sehingga darinya muncul peristiwa pertama.

Artikel Pengembangan

Jawaban Para Filsuf Berusaha Menghindari Persoalan

Para filsuf mencoba membedakan antara peristiwa pertama dan peristiwa-peristiwa berikutnya.

Menurut mereka, setelah alam berjalan, berbagai kejadian baru dapat dijelaskan melalui perubahan kondisi, kesiapan materi, atau datangnya waktu tertentu.

Dengan demikian, mereka menganggap tidak perlu menjelaskan kemunculan setiap peristiwa secara langsung dari sesuatu yang qadim.

Kritik Al-Ghazali terhadap Konsep Isti‘dād

Imam Al-Ghazali mengarahkan perhatian kepada konsep isti‘dād (kesiapan).

Beliau bertanya:

Bagaimana kesiapan itu sendiri muncul?

Jika kesiapan merupakan sesuatu yang baru, maka ia juga membutuhkan sebab.

Demikian pula hadirnya waktu yang dianggap sesuai atau terpenuhinya syarat tertentu.

Semuanya tetap memerlukan penjelasan.

Persoalan Tidak Pernah Selesai

Di sinilah letak kekuatan kritik Al-Ghazali.

Apabila setiap peristiwa dijelaskan oleh peristiwa sebelumnya, maka akan muncul pertanyaan yang sama terhadap penyebab peristiwa tersebut.

Akibatnya hanya ada dua kemungkinan:

  • rangkaian sebab berlangsung tanpa batas (tasalsul);
  • atau rangkaian itu berhenti pada suatu sebab pertama yang qadim.

Karena itu, menurut Al-Ghazali, teori kesiapan tidak menghilangkan persoalan pokok, melainkan hanya memindahkannya ke tahap yang lebih awal.

Kritik terhadap Regres Tak Berhingga

Dalam ilmu kalam, salah satu prinsip penting adalah penolakan terhadap tasalsul (regres sebab tanpa akhir).

Jika setiap sebab selalu membutuhkan sebab sebelumnya tanpa titik awal, maka tidak pernah ada penjelasan terakhir mengenai mengapa rangkaian itu ada.

Oleh sebab itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa setiap teori tentang sebab-akibat harus mampu menjelaskan asal mula rangkaian tersebut, bukan sekadar menjelaskan mata rantai di tengahnya.

Relevansi bagi Filsafat Modern

Walaupun pembahasan ini berasal dari filsafat klasik, metode berpikir Al-Ghazali tetap relevan.

Beliau mengingatkan bahwa suatu penjelasan ilmiah atau filosofis belum dianggap tuntas apabila hanya memindahkan pertanyaan ke tingkat sebelumnya tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalannya.

Inilah salah satu bentuk kritik logis yang hingga kini masih digunakan dalam diskusi metafisika dan filsafat sebab-akibat.

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya mencari sebab paling mendasar, bukan hanya sebab yang tampak.
  • Sebuah teori harus mampu menjelaskan asal-usul prinsip yang digunakannya sendiri.
  • Memindahkan persoalan bukan berarti menyelesaikan persoalan.
  • Konsistensi logika merupakan fondasi penting dalam membangun argumen yang kuat.
  • Tradisi ilmu kalam Islam menunjukkan kedalaman analisis rasional terhadap persoalan metafisika.
  • Berpikir kritis berarti terus menguji setiap asumsi hingga mencapai dasar argumentasi yang kokoh.

Penutup

Melalui pembahasan tentang kesiapan objek dan hadirnya waktu, Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa jawaban para filsuf belum menyelesaikan persoalan munculnya peristiwa baru dari sesuatu yang qadim. Sebab, kesiapan, waktu yang sesuai, maupun syarat-syarat lain juga merupakan hal yang memerlukan penjelasan. Dengan demikian, menurut Al-Ghazali, teori tersebut hanya memindahkan pertanyaan ke tahap sebelumnya tanpa memberikan jawaban yang benar-benar mengakhiri rangkaian sebab, sehingga persoalan pokok tetap harus dijelaskan secara tuntas.

Teks Arab :

قولهم في حصول الاستعداد وحضور الوقت

فإن قيل: نحن لا نبعد صدور حادث من قديم أي حادث كان، بل نبعد صدور حادث هو أول الحوادث من القديم، إذ لا يفارق حال الحدوث ما قبله في ترجح جهة الوجود، لا من حيث حضور وقت ولا آلة ولا شرط ولا طبيعة ولا غرض ولا سبب من الأسباب. فأما إذا لم يكن هو الحادث الأول جاز أن يصدر منه عند حدوث شيء آخر من استعداد المحل القابل وحضور الوقت الموافق أو ما يجري هذا المجرى.

قولنا ومن أين ذلك؟

قلنا: فالسؤال في حصول الاستعداد وحضور الوقت وكل ما يتجدد قائم، فإما أن يتسلسل إلى غير نهاية أو ينتهي إلى قديم يكون أول حادث منه.

Wallahu A’lam...

Artikel Terkait:

Mengapa Arah yang Berlawanan Dianggap Berbeda, tetapi Waktu Dianggap Sama? Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf

Mengapa Arah Gerak Langit Berbeda Jika Semua Arah Sama?Bantahan Imam Al-Ghazali Terhadap Filsuf Dalam Tahāfut al-Falāsifah

Imam Al-Ghazali Membantah Gerak Abadi Langit sebagaiSebab Segala Peristiwa dalam Tahafut al-Falasifah

Posting Komentar

0 Komentar