Pendahuluan
Dalam pembahasan pertama Tahafut
al-Falasifah, Imam Al-Ghazali melanjutkan kritiknya terhadap keyakinan para
filsuf tentang keazalian alam. Salah satu argumen utama mereka adalah bahwa
seluruh peristiwa di alam semesta berasal dari gerakan langit yang berputar
secara abadi. Gerakan ini dianggap sebagai mata rantai yang menghubungkan Zat
Yang Qadim dengan berbagai kejadian baru di alam.
Imam Al-Ghazali kemudian membedah
argumen tersebut secara mendalam. Beliau menunjukkan bahwa gerakan langit,
sekalipun diasumsikan berlangsung terus-menerus, tetap tidak mampu menjelaskan asal-usul
peristiwa baru tanpa menimbulkan persoalan logis yang sama.
Sumber
Rujukan
Kitab: Tahafut al-Falasifah (تهافت
الفلاسفة)
Penulis Kitab: Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (w. 505 H)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam (Ibṭāl Qaulihim bi Qidam al-'Ālam)
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H)
Terjemahan Lengkap
Mereka
Berkata: Gerak Melingkar Langit Menjadi Sebab Segala Peristiwa
Jika mereka berkata:
"Materi yang menerima berbagai
bentuk, sifat, dan keadaan bukanlah sesuatu yang baru. Yang baru hanyalah
sifat-sifat yang muncul padanya, yaitu gerakan langit, khususnya gerakan
melingkar.
Dari gerakan tersebut lahirlah
berbagai hubungan baru, seperti posisi segitiga, segi enam, segi empat, serta
hubungan antara bagian-bagian langit dan bintang-bintang satu sama lain maupun
hubungannya dengan bumi.
Demikian pula terjadi terbit,
terbenam, posisi matahari di tengah langit, jauhnya bintang ketika berada di
titik tertinggi (apogee), dekatnya ketika berada di titik terendah (perigee),
serta keberadaannya di utara atau selatan. Semua hubungan ini merupakan
konsekuensi pasti dari gerakan melingkar."
Gerakan
Langit Menjadi Sebab Perubahan Alam
Adapun seluruh peristiwa yang
terjadi di bawah langit bulan, yaitu pada unsur-unsur alam berupa penciptaan,
kerusakan, pencampuran, pemisahan, dan perubahan dari satu keadaan kepada
keadaan lainnya, semuanya merupakan kejadian-kejadian yang saling berkaitan
dalam rangkaian sebab yang panjang.
Pada akhirnya seluruh sebab itu
kembali kepada gerakan langit yang melingkar dan hubungan posisi antarplanet
ataupun hubungan planet dengan bumi.
Gerakan
Itu Dianggap Qadim
Dengan demikian, seluruh peristiwa
bersumber dari gerakan melingkar yang berlangsung terus-menerus tanpa awal dan
tanpa akhir.
Penggerak langit menurut mereka
adalah jiwa-jiwa langit. Jiwa-jiwa tersebut hidup sebagaimana jiwa manusia
menggerakkan tubuhnya.
Karena jiwa langit bersifat qadim,
maka gerakan melingkar yang ditimbulkannya juga bersifat qadim. Keadaan jiwa
yang tidak berubah menyebabkan gerakan itu berlangsung terus-menerus secara
tetap.
Setiap
Bagian Gerakan Bersifat Baru
Oleh karena itu, menurut mereka,
peristiwa baru hanya dapat muncul dari sesuatu yang qadim melalui perantaraan
gerakan melingkar yang abadi.
Gerakan tersebut menyerupai sesuatu
yang qadim karena berlangsung tanpa henti.
Namun dari sisi lain ia menyerupai
sesuatu yang baru, sebab setiap bagian gerak muncul setelah sebelumnya tidak
ada.
Dengan demikian, bagian-bagian
gerakan beserta hubungan-hubungannya menjadi sumber seluruh peristiwa baru,
sedangkan keseluruhan gerakan berasal dari jiwa yang azali.
Karena di alam terdapat berbagai
peristiwa baru, maka harus ada gerakan melingkar yang abadi sebagai asal-usulnya.
Jawaban
kami: Ini adalah pendapat yang batil, karena pasti masih memerlukan sebab yang
lain
Kami menjawab:
Penjelasan panjang ini tidak
menyelesaikan persoalan.
Gerakan melingkar yang kalian
jadikan sebagai sumber segala peristiwa, apakah ia qadim atau baru?
Jika ia qadim, bagaimana sesuatu
yang tetap dan tidak berubah dapat menjadi sebab munculnya peristiwa pertama?
Jika ia baru, maka ia sendiri
membutuhkan sebab baru yang mendahuluinya sehingga rangkaian sebab akan terus
berlanjut tanpa akhir.
Kalian mengatakan bahwa gerakan itu
dari satu sisi menyerupai sesuatu yang qadim dan dari sisi lain menyerupai
sesuatu yang baru; ia tetap sekaligus selalu mengalami pembaruan.
Maka kami bertanya:
Apakah gerakan itu menjadi sebab
berbagai peristiwa karena sifatnya yang tetap, atau karena bagian-bagiannya
yang selalu baru?
Jika karena sifatnya yang tetap,
bagaimana sesuatu yang keadaannya selalu sama dapat menghasilkan kejadian baru
pada waktu tertentu dan tidak pada waktu yang lain?
Jika karena pembaruannya, maka apa
penyebab pembaruan itu?
Pembaruan tersebut tentu memerlukan
sebab lain, dan sebab itu pun membutuhkan sebab berikutnya, sehingga terjadilah
rangkaian tanpa akhir.
Inilah puncak argumentasi yang kami
ajukan terhadap mereka.
Kelak kami akan menjelaskan bentuk
tipu daya yang mereka gunakan untuk menghindari keberatan ini dalam pembahasan
lain agar uraian masalah ini tidak menjadi terlalu panjang.
Selain itu, kami juga akan
membuktikan bahwa gerakan melingkar tidak layak dijadikan asal-usul seluruh peristiwa,
dan bahwa seluruh kejadian diciptakan Allah secara langsung. Kami juga akan
membantah pendapat mereka yang menganggap langit sebagai makhluk hidup yang
bergerak atas kehendaknya sendiri sebagaimana gerakan manusia.
Artikel Pengembangan
Teori
Kosmologi Para Filsuf
Dalam filsafat Aristotelian yang
diadopsi Al-Farabi dan Ibnu Sina, langit dipandang sebagai makhluk hidup yang
memiliki jiwa. Jiwa inilah yang menggerakkan langit secara melingkar tanpa
henti. Perubahan posisi benda-benda langit kemudian dianggap menjadi penyebab
seluruh perubahan yang terjadi di bumi.
Dengan demikian, gerakan langit
berfungsi sebagai penghubung antara Tuhan yang bersifat qadim dengan berbagai
kejadian yang terus bermunculan di alam semesta.
Kritik
Logis Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa
teori tersebut tidak menyelesaikan persoalan utama.
Jika gerakan langit benar-benar
bersifat tetap dan abadi, maka tidak ada alasan mengapa suatu kejadian muncul
pada saat tertentu, bukan sebelumnya.
Sebaliknya, jika gerakan itu
mengalami pembaruan pada setiap bagiannya, maka pembaruan tersebut juga
memerlukan sebab. Akibatnya, persoalan sebab pertama kembali muncul.
Dengan kata lain, teori gerakan
langit hanya memindahkan masalah tanpa benar-benar memberikan solusi.
Penegasan
tentang Kekuasaan Allah
Melalui kritik ini, Al-Ghazali
menegaskan bahwa seluruh kejadian di alam tidak membutuhkan perantara berupa
gerakan langit yang bersifat independen. Semua peristiwa merupakan ciptaan
Allah sesuai kehendak-Nya. Gerakan benda-benda langit hanyalah bagian dari
sunnatullah, bukan penyebab yang berdiri sendiri.
Hikmah
- Argumentasi yang panjang belum tentu menyelesaikan
persoalan mendasar.
- Sebab antara tidak boleh menggantikan pembahasan
tentang sebab pertama.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya konsistensi
logika dalam membangun argumen.
- Seluruh kejadian di alam berada di bawah kehendak dan
kekuasaan Allah Ta'ala.
- Seorang penuntut ilmu hendaknya menguji setiap teori
secara kritis sebelum menerimanya.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
memperlihatkan kelemahan teori para filsuf yang menjadikan gerakan melingkar
langit sebagai asal-usul seluruh peristiwa di alam. Menurut beliau, apakah
gerakan itu dianggap qadim ataupun tersusun dari bagian-bagian yang baru,
keduanya tetap tidak mampu menjelaskan munculnya peristiwa tanpa menimbulkan
persoalan sebab yang tak berujung. Kritik ini menjadi salah satu fondasi
penting dalam penolakan Al-Ghazali terhadap konsep keazalian alam serta
penegasan bahwa seluruh kejadian merupakan ciptaan Allah Ta'ala secara langsung
sesuai dengan kehendak-Nya.
Teks Arab :
قولهم وجود الحركة الدورية ...
فإن قيل: المواد القابلة للصور والأعراض والكيفيات ليس
شيء منها حادثًا والكيفيات الحادثة هي حركة الأفلاك، أعني الحركة الدورية وما
يتجدد من الأوصاف الإضافية لها من التثليث والتسديس والتربيع، وهي نسبة بعض أجزاء
الفلك والكواكب إلى بعض وبعضها نسبة إلى الأرض، كما يحصل من الطلوع والشروق
والزوال عن منتهى الارتفاع والبعد عن الأرض بكون الكوكب في الأوج، والقرب بكونه في
الحضيض والميل عن بعض الأقطار بكونه في الشمال والجنوب، وهذه الإضافة لازمة للحركة
الدورية بالضرورة فموجبها الحركة الدورية.
وهي سبب الحوادث في العناصر ...
وأما الحوادث فيما يحويه مقعر فلك القمر، وهو العناصر
بما يعرض فيها من كون وفساد وامتزاج وافتراق واستحالة من صفة إلى صفة، فكل ذلك
حوادث مستند بعضها إلى بعض في تفصيل طويل، وبالآخرة تنتهي مبادئ أسبابها إلى
الحركة السماوية الدورية ونسب الكواكب بعضها إلى بعض أو نسبتها إلى الأرض.
وهي قديمة ...
فيخرج من مجموع ذلك أن الحركة الدورية الدائمة الأبدية
مستند الحوادث كلها ومحرك السماء حركتها الدورية نفوس السموات، فإنها حية نازلة
منزلة نفوسنا بالنسبة إلى أبداننا، ونفوسها قديمة، فلا جرم الحركة الدورية التي هي
موجبها أيضًا قديمة. ولما تشابه أحوال النفس لكونها قديمة تشابه أحوال الحركات أي
كانت دائرة أبدًا.
ولها أجزاء حادثة
فإذن لا يتصور أن يصدر الحادث من قديم إلا بواسطة حركة
دورية أبدية تشبه القديم من وجه فإنه دائم أبدًا، وتشبه الحادث من وجه فإن كل جزء
يفرض منه كان حادثًا بعد أن لم يكن، فهو من حيث أنه حادث بأجزائه وإضافاته مبدأ
الحوادث، ومن حيث أنه أبدي متشابه الأحوال صادر عن نفس أزلية. فإن كان في العالم
حوادث فلا بد من حركة دورية، وفي العالم حوادث، فالحركة الدورية الأبدية ثابتة.
قولنا هذا كلام باطل! إذ لا بد من سبب آخر
قلنا: هذا التطويل لا يغنيكم، فإن الحركة الدورية التي
هي المستند حادث أم قديم؟ فإن كان قديمًا فكيف صار مبدأ لأول الحوادث؟ وإن كان
حادثًا افتقر إلى حادث آخر وتسلسل. وقولكم: إنه من وجه يشبه القديم ومن وجه يشبه
الحادث، فإنه ثابت متجدد أي هو ثابت التجدد متجدد الثبوت. فنقول: أهو مبدأ الحوادث
من حيث أنه ثابت أو من حيث أنه متجدد؟ فإن كان من حيث أنه ثابت فكيف صدر من ثابت
متشابه الأحوال شيء في بعض الأوقات دون بعض؟ وإن كان من حيث أنه متجدد فما سبب
تجدده في نفسه؟ فيحتاج إلى سبب آخر ويتسلسل، فهذا غاية تقرير الإلزام.
سيأتي الكلام عن ذلك ولهم في الخروج عن هذا الإلزام نوع
احتيال سنورده في بعض المسائل بعد هذه كيلا يطول كلام هذه المسألة بانشعاب شجون
الكلام وفنونه. على أنا سنبين أن الحركة الدورية لا يصلح أن تكون مبدأ الحوادث وأن
جميع الحوادث مخترعة لله ابتداءً، ونبطل ما قالوه من كون السماء حيوانًا متحركًا
بالاختيار حركة نفسية كحركاتنا.
Wallahu A’lam...
Artikel Terkait:
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Benarkah Allah Hanya
Mendahului Alam secara Zat, Bukan Waktu?

0 Komentar